Katakamidotcom News Indonesia

SBY Cukup Ajukan 1 Nama Calon Kapolri, Jusuf Mangga, Oegroseno Atau Timur Pradopo ?

 

 

DIMUAT JUGA DI KATAKAMI.COM

 

SBY Yang Tahu Misteri Kapolri Baru, Jusuf Mangga Atau Oegroseno ?

Anti Klimaks HANI, Datuk Gories Mere Siapkah Ditolak Ulama Islam Lagi ?

 

 

Jakarta 4/7/2010 (KATAKAMI)  Bisakah kita bayangkan, bagaimana respon dan penilaian dari aparat kepolisian di seluruh dunia sebulan terakhir ini ?

Maksud kami, respon dan penilaian mereka terhadap kinerja POLRI yang termonitor di berbagai media massa ?

Topiknya cuma itu-itu saja.

Menembak mati seenaknya terhadap orang yang dituduh teroris sehingga penegakan hukum dianggap tak perlu.

Atau, perseteruan dengan perwira tingginya sendiri.

Atau, pemberiaan gelar kehormatan dan penghargaan dari negara sahabat kepada perwira tinggi Polri dalam hal pemberantasan narkoba (padahal patut dapat diduga perwira tinggi ini justru terlibat dalam pembekingan kasus-kasus narkoba kelas kakap. Misalnya dugaan pembekingan terhadap bandar narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS).

Atau, ribut-ribut soal video porno dan penahanan artis yang terkenal (supaya laris manis pemberitaannya di media massa).

Atau, ribut-ribut soal rekening gendut.

Tidak ada satupun berita yang enak didengar, manis dilihat dan terhormat untuk dipandang sebagai sebuah prestasi yang membanggakan.

Ya, terserah saja kalau misalnya Polri merasa tidak malu atas semua pemandangan yang memalukan itu.

Tapi masyarakat Indonesia merasa lelah dan muak dipaksa untuk melahap pemberitaan-pemberitaan yang sangat berlebihan mengenai topik-topik yang itu-itu saja.

Polri tidak mau tahu, hajar terus kasus video.

Seakan-akan tugas utama Polri adalah mengurusi urusan syahwat masyarakat. Kasihan rakyat Indonesia, dipaksa oleh Polri untuk dibungkam dengan pemberitaan seputar video porno semata.

Sebulan terakhir ini, seakan terjadi perang media antara topik video porno dengan topik rekening gendut.

Balap-balapan, topik mana yang lebih menggigit dan sensasional.

Tapi baiklah, mari kita tinggalkan topik video porno dan rekening gendut.

Foto : Wakapolri Komjen Jusuf Manggabarani

Sisi Lain Wakapolri Jusuf Manggabarani Berwajah Tanpa Ekspresi

The Rising Star Itu Bernama Jusuf Manggabarani & Pantas Jadi Kapolri

Ada hal yang jauh lebih penting untuk dibahas demi kebaikan Polri sendiri yaitu proses regenerasi di pucuk pimpinan institusi ini.

Wacana terbaru yang mencuat ke permukaan dalam beberapa hari ini adalah perlunya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajukan lebih dari 1 nama calon Kapolri ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Alasannya, supaya sama dengan konsep Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) dan DPR bisa lebih leluasa memilih kandidat Tri Brata 1 (Kapolri).

Namanya negara demokrasi, setiap orang bebas berpendapat.

Silahkan saja mengusulkan pandangan yang demikian karena pasti tujuannya adalah untuk kebaikan institusi Polri sendiri.

Polri saat ini berada dalam titik terendah dalam mendapatkan kepercayaan dari rakyat Indonesia.

Kepercayaan dn respek dari rakyat Indonesia sudah amburadul dan hancur berantakan terhadap institusi Polri.

Sayang Polri belum menyadari hal ini karena tampaknya sedang konsentrasi untuk mati-matian mengurus dan menuntaskan urusan “syahwat artis”.

Dan situasi inilah yang membuat KRISIS KEPERCAYAAN terhadap Polri menjadi lebih parah.

Dan kalau bicara soal pengajuan nama calon Kapolri ke DPR, satu hal yang harus kita sadari adalah Presiden SBY punya hak prerogatif untuk memutuskan berapa atau siapa yang akan diajukannya menjadi kandidat pengganti Jenderal Bambang Hendarso Danuri.

Indonesia memang negara demokrasi dan siapapun bebas menyampaikan pendapatnya.

Tetapi, aturan dan ketentuan yang ada juga tidak bisa ditabrak begitu saja.

UU memberikan otoritas dan legitimasi kepada Presiden SBY untuk memutuskan sendiri mengenai pemilihan atau pengangkatan para pembantunya, termasuk Panglima TNI atau Kapolri.

Jika merujuk pada tradisi Kabinet Indonesia Bersatu dari jilid satu terdahulu, Presiden SBY selalu mengajukan 1 nama calon Kapolri ke DPR.

Bulan Juni 2005, Presiden SBY mengajukan nama KOMJEN SUTANTO untuk menjadi calon Kapolri menggantikan Jenderal Dai Bahtiar.

Bulan Juli 2005, Presiden SBY melantik Sutanto menjadi Kapolri baru dengan kenaikan pangkat menjadi Jenderal bintang 4 penuh.

Foto : Sertijab Kapolri dari Sutanto ke BHD (Oktober 2008)

Bulan September 2008, Presiden SBY mengajukan nama KOMJEN BAMBANG HENDARSO DANURI menjadi calon Kapolri menggantikan Sutanto.

Bulan September 2008, Presiden SBY melantik Bambang Hendarso Danuri menjadi Kapolri baru dengan kenaikan pangkat menjadi Jenderal bintang 4 penuh.

Dengan fakta-fakta seperti ini, tentu kita semua dapat melihat sebuah garis lurus yang ditarik oleh Presiden SBY dalam hal pengajuan nama calon Kapolri yaitu cukup 1 nama tetapi dipilih yang terbaik dari yang memang baik di jajaran Polri.

Presiden SBY tentu mendapat masukan mengenai nama-nama calon Kapolri dari Mabes Polri, yaitu surat pengajuan resmi dari Kapolri yang akan digantikan.

Kemudian, Presiden SBY bisa meminta masukan dan pandangan dari Menteri Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukkam) Marsekal Djoko Suyanto yang kebetulan menjadi Ketua Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas).

Lalu, Presiden SBY juga pasti akan meminta masukan dan pandangan dari Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) yang kebetulan adalah Mantan Kapolri Jenderal Polisi (Purn) Sutant0.

Tetapi seluruh masukan dan kritikan dari masyarakat, pasti ditampung dan didengar Presiden SBY melalui media massa atau laporan-laporan dari lingkaran kekuasaannya.

Dan kalau sekarang hangat diperbincangkan, siapa kira-kira pengganti Jenderal BHD untuk menjadi Kapolri (baru) maka lagi-lagi semua itu menjadi hak prerogatif Presidn SBY.

Foto : (Kiri ke Kanan) Menkopolhukkam Djoko Suyanto dan Kepala BIN Sutanto

Disini, peran dari Menkopolhukkam Djoko Suyanto dan Kepala BIN Sutanto sangat strategis dalam hal proses regenerasi di tubuh Polri.

Keduanya harus sangat mencermati aspirasi masyarakat yang menginginkan agar Polri dipimpin oleh seseorang yang memiliki tingkat profesionalisme yang sangat tinggi, teruji dalam hal kepemimpinan, tidak bercacat cela dalam rekam jejaknya, tidak terlibat atau patut dapat diduga “tersenggol” namanya dalam kasus-kasus hukum (termasuk kasus narkoba, pembunuhan atau korupsi).

Kalau ditanya, siapa yang ingin jadi Kapolri ?

Pasti tidak ada yang mau tunjuk tangan tetapi patut dapat diduga ada yang sudah sibuk kasak-kusuk bergerilya mencari peluang atau menggelindingkan berita-berita tertentu ke media massa agar namanya dibaca Presiden.

Dapat gelar kehormatan dari negara sahabat dalam hal prestasi pemberantasan narkoba misalnya (padahal patut dapat diduga perwira tinggi Polri yang semacam ini justru terlibat dalam pembekingan mafia-mafia narkoba).

Atau mencari cara-cara lain untuk melakukan pembunuhan karakter kepada sesama rekan sejawat agar peluangnya naik menjadi Kapolri menjadi kandas.

Bisa juga menjual prestasi lewat pemberitaan media massa agar kesannya sangat cakap dalam menjalankan tugas-tugas penegakan hukum.

Pokoknya, siapa cepat maka dialah yang menjadi “bintang pemberitaan”.

Semua kemungkinan bisa terjadi.

Sebab, pertarungan merebut kursi nomor satu di tubuh Polri memang menjadi ajang bergengsi yang sangat mendebarkan.

Foto : Sekretaris Satgas Mafia Pemberantasan Hukum Denny Indrayana & AAN

Di “Negeri Para Bedebah” Aan Menang Melawan Mafia Narkoba, Mantap !

Presiden SBY masih punya waktu untuk mempertimbangkan siapa yang akan dipilihnya untuk menjadi calon pengganti Jenderal BHD.

Kapolri Bambang Hendarso Danuri sendiri akan memasuki masa pensiun per tanggal 1 November 2010.

Tetapi paling tidak, antara bulan Agustus – September, nama calon Kapolri yang baru sudah baru dikantongi oleh Presiden SBY untuk diajukan ke DPR.

Apalagi bertepatan dengan itu, Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso juga akan memasuki masa pensiun per tanggal 1 Oktober 2010.

Maka, Presiden memiliki 2 tugas penting yaitu memilih nama-nama kandidat Panglima TNI dan Kapolri yang baru.

Kalau bicara soal nama-nama yang dianggap pantas untuk menjadi Kapolri baru, calonnya tidak jauh dari perwira tinggi Polri yang saat ini menduduki posisi-posisi strategis yaitu (misalnya) Wakapolri Komjen Jusuf Manggabarani (Lulusan Akpol Angkatan 1975), Kapolda Sumatera Utara Irjen Oegroseno (Angkatan 1978) dan Kapolda Metro Jaya Irjen Timur Pradopo (Angkatan 1978).

Tahun Angkatan kelulusan Komjen Jusuf Manggabarani (1975), bukan jadi alasan untuk mematikan kesempatan bagi perwira tinggi yang satu ini untuk masuk dalam bursa pemilihan Kapolri baru.

Sebab, sepanjang pemerintahan Presiden SBY, perpanjangan masa tugas pernah dilakukan yaitu kepada Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto.

Perpanjangan masa tugas selama 1,5 tahun itu akhirnya diakhiri setelah Presiden SBY memilih nama Djoko Suyanto untuk menjadi Panglima TNI bulan Februari 2006.

Bintang 2 yang disandang Oegroseno dan Timur Pradopo, tidak menjadi hambatan untuk pencalonan mereka.

Sebab, kalau memang Presiden SBY berkenan untuk memilih salah satu diantara 2 nama ini (Oegroseno atau Timur Pradopo) maka Mabes Polri harus cepat tanggap mencarikan posisi dan jabatan bintang 3 kepada Oegroseno dan Timur Pradopo.

Foto : (Dari Kiri) Menkopolhukkam Djoko Suyanto, Presiden SBY, Kapolri BHD & Panglima TNI Djoko Santoso

 

Jadi sekarang, tidak perlu terburu-buru mendesak Presiden untuk melakukan ini dan itu sesuai keinginan pihak tertentu di dalam internal Polri yang patut dapat diduga mengakalinya tercetus lewat media massa.

Mau satu atau dua calon Kapolri, itu terserah Presiden.

Mau Angkatan 1975 atau 1978, itu terserah Presiden.

Ada koridor-koridor yang tidak bisa di intervensi dari “hak veto” kepala negara dalam menentukan siapa yang dianggapnya layak dan pantas untuk memimpin Polri.

Yang justru sangat penting untuk diingatkan kepada Presiden SBY adalah jangan sampai salah pilih dalam menentukan Kapolri baru.

Jangan pilih yang bermasalah.

Jangan pilih yang bercacat cela dalam rekam jejaknya sebagai anggota kepolisian.

Periksa semua rekam jejak dari calon-calon Kapolri ini.

Proses seleksi yang sangat penting ini, membutuhkan kecermatan dan ketajaman Presiden SBY dalam melihat figur-figur yang paling tepat memimpin.

Presiden SBY juga diharapkan peka dan sensitif terhadap masukan-masukan masyarakat terkait penyimpangan, kekurangan dan kesalahan dari perwira tinggi manapun yang rekam jejaknya bermasalah (terutama dari sisi hukum dan HAM).

Jangankan untuk menjadi Kapolri, tahun 2006 yang lalu saja para Ulama Islam di Jabotabek ini pernah mengajukan PETISI PENOLAKAN kepada Kapolri Jenderal Sutanto sewaktu seorang perwira tinggi yang diduga sangat bermasalah hendak melaju sebagai Kapolda Metro Jaya.

Perwira Tinggi yang ditolak mentah-mentah ini memang diduga bermasalah dalam penanganan terorisme yang merugikan umat Islam.

Brutalisme penanganan terorisme itu menjadi catatan tersendiri bagi Kalangan Ulama Islam saat itu sehingga ambisi menjadi orang nomor satu di Polda Metro Jaya dari perwira tinggi itupun kandas sekandas-kandasnya.

Itulah sebabnya, Presiden SBY jangan sampai melakukan kekeliruan dalam memilih calon Kapolri yang baru.

Siap Pak Presiden, pilihlah yang terbaik.

Buka mata, buka telinga.

Dengarkan semua masukan dan kritikan terhadap nama-nama calon Kapolri baru.

Waspadai gerakan liar dari perwira tinggi Polri yang sibuk mencari akal agar namanya ikut “nyangkut” dalam bursa calon Kapolri.

Waspadai gerakan “mengharumkan nama, meninggikan prestasi dan mengharumkan citra” dari perwira tinggi tertentu agar dianggap kapabel menjadi calon Kapolri.

Iya kalau perwira tinggi model seperti ini pantas dicalonkan !

Bagaimana kalau rekam jejaknya yang sebenar-benarnya sangat bermasalah ?

Liriklah Komjen Jusuf Manggabarani.

Foto : Irjen Oegroseno (saat ini menjabat sebagai Kapolda Sumatera Utara)

Atau Irjen Oegroseno.

Atau (bisa juga) Irjen Timur Pradopo.

Tiga orang “THE RISING STAR” ini, sangat menonjol  dan menunggu jari telunjuk Presiden SBY untuk berhenti pada nama mereka saat sedang menimbang-nimbang baik buruk dari masing-masing kandidat.

Silahkan memilih Bapak Presiden, kepada siapa “hatimu” terpaut ?

Silahkan memilih Bapak Presiden, kepada siapa telunjukmu hendak tertuju diatas nama mereka ?

Jangan gunakan faktor like or dislike !

Jangan gunakan faktor kedekatan (pribadi) !

Sekali lagi, pilihlah yang profesional, berintegritas tinggi dan sangat cakap dalam penugasannya selama ini.

(MS)

July 4, 2010 Posted by | Uncategorized | , , , , | Comments Off

Tabik Medvedev, Sensasi FBI Dapat Hancurkan Diplomasi Burger Obama

http://cache.daylife.com/imageserve/0ab01o0gIA8oG/610x.jpg

Dimuat juga di KATAKAMINEWSINDONESIA.WORDPRESS.COM

Photostream : Behind The Scenes of Russia’s President Dmitry Medvedev

Photostream : Russia’s President Dmitry Medvedev and First Lady Svetlana in Toronto

Photostream : G-20 Summit

Jakarta 30/6/2010 (KATAKAMI)  Masing-masing kepala negara yang menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi G8 dan G20 di Canada, baru saja kembali ke negaranya masing-masing. Entah itu Presiden AS Barack Obama, Kanselir Jerman Angela Merkel, Perdana Menteri Inggris (yang baru) David Cameron, Presiden Perancis Nicolas Sarkozy, Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi dan yang lainnya. Termasuk diantaranya adalah Presiden Rusia Dmitry Medvedev.

Sebelum menginjakkan kakinya di Canada, Presiden Medvedev sempat “mampir” ke Washington DC untuk memenuhi undangan dari Presiden Obama.

Kunjungan Presiden Medvedev pekan lalu sempat menarik media massa (baik media massa Amerika, Rusia dan pers internasional) saat Obama dan Medvedev mengadakan makan siang bersama dengan memakan burger.

Bahkan dalam pertemuan bernuansa “diplomasi burger” itu, Obama & Medvedev membahas soal akun twitter mereka masing-masing.

Beberapa jam sebelum pertemuan itu berlangsung, Presiden Medvedev merilis secara resmi akun resmi twitternya.

Dan akun twitter Presiden Obama tercantum dalam daftar FOLLOWING dari Presiden Medvedev.

http://twitter.com/KremlinRussia_E

http://cache.daylife.com/imageserve/011k3VZ8uE6dl/610x.jpg

Presiden Obama & Presiden Medvedev makan burger bersama di Rays Hell Burger di Arlinton, Virginia (24 Juni 2010) 

 

Tapi kini, diplomasi burger yang menjadi kejutan manis tadi seakan bergetar, terguncang dan sangat memukul perasaan Rusia.

Apa pasalnya ?

Tak ada angin, tak ada hujan, Biro Investigasi Federal Amerika (FBI) mengumumkan penangkapan 10 agen mata-mata Rusia.

Salah seorang diantaranya adalah pengusaha perempuan yang sangat cantik sekali yang bernama ANNA CHAPMAN berusia 28 tahun.

Tuduhan kepada agen mata-mata ini tidak main-main !

Seperti yang diberitakan DETIK.COM (Rabu, 30/6/2010), kelompok tersebut melakukan pekerjaan penyamaran di AS untuk merekrut sumber-sumber politik dan mengumpulkan informasi untuk pemerintah Rusia. Kesepuluh orang itu ditangkap pada Minggu, 27 Juni waktu setempat di Boston, New York, New Jersey dan Virginia. Mereka yang dijuluki “Ilegal” dituduh ditugasi oleh badan intelijen Rusia, SVR untuk masuk ke AS, menggunakan identita palsu dan menjadi warga AS.

Demikian disampaikan Departemen Kehakiman AS dalam statemennya seperti dilansir kantor berita Reuters, Selasa (29/6/2010).

Tujuan mereka adalah menjadi “sangat Amerika” sehingga mereka bisa mengumpulkan informasi mengenai AS untuk Rusia dan bisa sukses merekrut sumber-sumber yang ada di dalam atau mampu menembus lingkaran pembuat kebijakan AS,” demikian menurut berkas hukum yang diajukan ke pengadilan federal AS.

Foto : ANNA CHAPMAN

 

Dan khusus mengenai perempuan yang sangat cantik bernama Anna Chapman tadi, wajahnya langsung menghiasi sejumlah pemberitaan di AS. Demikian seperti diberitakan harian Telegraph, Rabu (30/6/2010).
Foto-foto wanita cantik bermata hijau itu dimuat di halaman depan media New York Daily News menyusul penangkapan dirinya bersama anggota-anggota jaringan mata-mata Rusia yang berbasis di AS. Media New York Post bahkan menyebut Chapman sebagai “wanita menggoda yang berbahaya.”

Sebelum ditangkap, para agen FBI telah mengawasi Chapman antara Januari dan Juni 2010 saat dia melakukan ritual komunikasi dengan seorang pria Rusia. Menurut FBI, pria tersebut berulang kali dilihat agen FBI masuk ke kantor misi PBB untuk Rusia di Manhattan.

Pekan lalu seorang agen FBI yang menyamar sebagai pegawai konsulat Rusia, mengatur pertemuan penyamaran dengan Chapman di pusat kota Manhattan. Agen FBI tersebut mengatakan punya sesuatu yang harus diberikan segera pada Chapman. Selama pertemuan itu, Chapman diminta menyerahkan sebuah paspor palsu untuk agen Rusia lainnya.

http://cache.daylife.com/imageserve/0etMbnv4Ygf6E/x610.jpg

Foto : Obama & Medvedev (24 Juni 2010)

 

Berita penangkapan agen mata-mata Rusia ini juga menjadi berita utama di VOICE OF AMERIKA (Senin, 30/6/2010) yaitu memuat tanggapan resmi Gedung Putih (White Putih).

Gedung Putih mengatakan penangkapan 11 orang Rusia yang diduga melakukan kegiatan mata-mata bukan kemunduran bagi hubungan Amerika dan Rusia yang sudah baik.
Juru bicara Robert Gibbs hari Selasa mengatakan bahwa Presiden Barack Obama  mengetahui tentang adanya jaringan mata-mata yang dituduhkan itu sebelum ia menjamu Presiden Rusia Dmitri Medvedev minggu lalu. Namun Gibbs mengatakan Obama tidak mengangkat masalah itu dalam pembicaraan mereka.Gibbs mengatakan Rusia dan Amerika telah membuat kemajuan besar selama  satu setengah tahun penataan kembali hubungan, dan akan terus bekerja sama dalam masalah-masalah seperti Iran dan Korea Utara.

Di Moskow, Perdana Menteri Vladimir Putin yang bertemu dengan bekas Presiden Amerika Bill Clinton mengatakan ia yakin skandal tersebut tidak akan mengancam hubungan dengan Amerika. Ia berharap orang-orang yang menghargai hubungan ini akan memahaminya.

Pihak berwenang Amerika menangkap 10 warga negara Rusia hari Minggu. Polisi di Cyprus menangkap tersangka ke 11 hari Selasa.

Orang-orang yang ditangkap itu  dituduh mengumpulkan informasi untuk intelijen Rusia mengenai persenjataan nuklir Amerika, kebijakan luar negeri dan politik sambil tinggal dan bekerja di Amerika.

Foto : Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov di Israel (27 Juni 2010)

 

Lain Amerika, lain juga tanggapan dari Rusia.

Dari Israel, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov yang sedang berkunjung ke sana mengecam “sensasi” Washington yang mengumumkan kepada dunia internasional tentang penangkapan 10 agen mata-mata Rusia.

Menurut Lavrov, tuduhan Washington itu tidak berdasar dan Rusia menunggu penjelasan terkait klaim penangkapan agen mata-mata tadi.

Lalu Perdana Rusia Vladimir Putin juga menyampaikan komentarnya yaitu agar berita tentang penangkapan ini diharapkan tidak akan merusak hubungan baik Amerika dan Rusia yang sudah “membaik” belakangan ini.

Pertanyaannya sekarang, apa sebenarnya maksud dan tujuan dari FBI dengan aksi dan sensasi penangkapan agen mata-mata Rusia ini ?

Kalau memang agen mata-mata itu sudah “diawasi” dari periode Januari – Juni 2010, mengapa FBI tidak langsung berkoordinasi dengan Dinas Intelijen Amerika CIA atau Badan Intejlien apapun yang memiliki otoritas di Amerika untuk “mendiskusikannya” secara lebih santun ?

Jika memang perempuan cantik bernama ANNA CHAPMAN itu dianggap sangat berbahaya dengan trik “menggoda”, siapa yang mau digoda di jajaran pemerintahan Amerika ?

http://cache.daylife.com/imageserve/062Dg4b09NgaE/610x.jpg

Foto : Presiden Obama & First Lady Michelle Obama pada acara G-20 di Toronto (26 Juni 2010)

 

Presiden Obama ?

Wakil Presiden Joe Biden ?

Atau siapa ?

Tahukah FBI bahwa Presiden Rusia memang dijadwalkan untuk datang berkunjung ke White House atas undangan resmi dari Presiden Amerika Barack Obama ?

FBI tentu sudah tahu jadwal kunjungan Presiden Medvedev dari jauh-jauh hari sebelumnya !

Lalu, jika ada seorang kepala negara disertai ibu negara dari negara yang sama-sama punya pengaruh kuat di muka bumi ini, apakah dinas intelijen mereka tidak bergerak untuk mengumpulkan informasi dan mengamankan rangkaian kunjungan itu ?

Apakah kalau Presiden Barack Obama dan Ibu Negara Michelle Obama akan berkunjung ke sebuah negara di muka bumi ini, dinas intelijen Amerika akan ongkang-ongkang kaki di meja kerjanya masing-masing sambil makan burger alias tidak mau bekerja mencari data dan informasi terkait rencana kunjungan tadi ?

Dan apakah FBI mengenal dalil-dalil hukum secara fasih dan mendalam ?

http://pix.motivatedphotos.com/2009/4/9/633748811400885460-JUSTICELetsfaceitthepresumptionofinnocence.jpg

Hei, dalam penegakan hukum di negara manapun, dikenal yang namanya ASAS PRADUGA TIDAK BERSALAH atau presumption of innocence.

Artinya, tidak eloklah mengguncangkan panggung pemberitaan dunia dengan berita sensasi soal penangkapan agen mata-mata dari sebuah negara yang sedang sama-sama berupaya untuk meningkatkan hubungan baik dan kerjasama yang konstruktif (dimasa kini dan masa depan).

Sebagai aparat penegak hukum, FBI harus tahu bahwa sangat tidak pantas mereka langsung mengklaim bahwa manusia-manusia yang ditangkap itu agen mata-mata yang kurang kerjaan mencari informasi soal nuklir Amerika dan hendak menggoda figur pengambil kebijakan Amerika.

Siapa yang mau digoda ?

Sekali lagi, apakah seorang ANNA CHAPMAN bisa mendekati, memaksa untuk jatuh hati dan penuh nafsu birahi, atau moncer-moncer saja bisa merayu Presiden Barack Obama ?

Yang jelas kalau bicara di hadapan dunia internasional !

Sebagai aparat penegak hukum, FBI harusnya konsentrasi mengejar dan menangkap teroris-teroris AL QAEDA jaringan Osama Bin Laden.

Bukannya cari sensasi menggetarkan dan menghancurkan martabat sebuah negara sahabat di mata dunia internasional.

Sangat memprihatinkan klaim yang tidak senonoh ini.

http://cache.daylife.com/imageserve/09288pl6SLfX0/610x.jpg

Foto : Presiden Medvedev & PM Putin (28 Juni 2010)

 

Presiden Medvedev dan PM Putin pastilah sangat terpukul perasaannya.

Wajar kalau mereka sangat terpukul perasaannya.

Apakah mungkin seorang Medvedev atau Putin, mengeluarkan kebijakan yang radikal dengan cara mengutus agen mata-matanya untuk masuk ke Amerika untuk sebuah rencana serangan terorisme ?

Kalau maksud dan tujuan dari agen mata-mata itu sangat membahayakan Amerika, eh jangan diterima dong kunjungan resmi dari Presiden Medvedev !

Jangan dikarang-karang diplomasi burger antara Obama dan Medvedev !

Jangan dikarang-karang cara berjalan bersama dari kedua pemimpin ini dengan cara memegang jas masing-masing di pundak saat bertemu pekan lalu di Washington.

Kenapa tidak sekalian saja ditangkap Presiden Medvedev kalau Rusia bermaksud buruk pada Amerika ?

Kunjungan Presiden Medvedev, pastikan memiliki maksud dan tujuan yang sangat amat baik bagi kepentingan kedua negara.

http://farm4.static.flickr.com/3370/3484837696_710bd75f8f_o.jpg

Foto : Presiden Obama didampingi Menlu Hillary Clinton memimpin rapat mengenai Afghanistan

 

FBI masak tidak malu kepada Dinas Rahasia CIA yang terus meningkatkan kinerjanya untuk menyelesaikan misi kemenangan dalam perang di Afghanistan.

Direktur CIA Leon Panetta menyatakan bahwa sampai detik ini belum ada informasi yang berarti mengenai keberadaan pimpinan Al Qaeda Osama Bin Laden.

Dan menurut Panetta, misi di Afghan adalah sebuah misi yang sulit.

Tak cuma Leon Panetta, Menteri Pertahanan Robert Gates juga pasti sedang berkonsentrasi penuh mengamankan kelanjutan dan keberhasilan perang Afghan (pasca mundurnya Panglima Perang Amerika di Afghanistan Jenderal Stanley McChrystal).

Pergantingan Panglima Perang Amerika di Afghan yaitu dari Jenderal McChrystal kepada Jenderal David Petraeus, tentu tidak akan mengubah strategi dan taktik-taktik terbaik militer Amerika untuk memenangkan perang Afghan melawan TALIBAN.

Pertanyaannya, apakah Rusia bagian dari jaringan terorisme ?

Apakah Rusia adalah mata rantai dari jaringan terorisme Al Qaeda ?

Tolong dijawab !

Apakah pantas NEGARA SAHABAT yang begitu memberikan penghormatan dan kesungguhan bekerjasama yang sangat amat baik dengan Amerika pada era pemerintahan Presiden Barack Obama, dipermalukan seperti ini ?

http://cache.daylife.com/imageserve/0fOz6nY0kO41e/610x.jpg

Foto : Presiden Medvedev didampingi First Lady Svetlana Medvedeva & PM Vladimir Putin

 

Rusia bukan jaringan terorisme manapun.

Rusia bukan mata rantai dari Al Qaeda.

Rusia adalah NEGARA SAHABAT bagi Amerika dan negara lainnya di muka bumi ini.

Medvedev adalah sahabat dan mitra kerja bagi Obama dan kepala negara lainnya.

Termasuk juga bagi Indonesia, Presiden Medvedev dan PM Putin adalah SAHABAT BAIK yang terus diharapkan kerjasamanya yang jauh lebih baik dari hari-hari yang lalu.

Jadi, sebenarnya, jauh lebih baik kalau yang diumumkan penangkapannya secara sensasional oleh FBI adalah buronan paling dicari abad kini yaitu OSAMA BIN LADEN.

Jauh lebih baik, Amerika mengguncangkan panggung pemberitaan dunia dengan mengumumkan bahwa pada akhirnya OSAMA BIN LADEN – lah yang berhasil ditangkap hidup-hidup untuk diajukan ke meja peradilan.

Ribuan rakyat Amerika mati pada tanggal 11 September 2001 tetapi sampai saat ini tidak ada tanda-tanda keberhasilan untuk menemukan dan menangkap OSAMA BIN LADEN.

Lah kok, tiba-tiba yang dihajar dan digebuk secara keras justru Rusia.

Aneh sekali.

Betapa berat beban psikologis yang harus ditanggung Rusia atas berita sensasional yang sangat mengecewakan dan memalukan ini.

Presiden Obama tidak mempertimbangkan dampak dari semua ini.

Cobalah bayangkan kalau misalnya Presiden Obama yang diperlakukan seperti itu oleh negara lain.

Tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba diumumkan ada agen mata-mata Amerika yang menyusup ke negara lain.

Atau apakah Amerika menjadi satu-satunya negara didunia ini yang tidak memiliki DINAS INTELIJEN yang menyebarkan agen-agen mereka ke semua lini kehidupan di muka bumi ini ?

Intelijen adalah suatu wilayah yang sangat absurd sekali.

Intelijen adalah gerakan yang tak terdengar bunyinya dan tak terlihat cahayanya.

Semua bergerak dalam hening, senyap dan kebisuan yang sangat hampa secara kasat mata.

Begitu abu-abu dan tak terjamah.

UNCTOUCHABLE !

Tidak usah munafiklah bahwa semua negara pasti punya dinas intelijen dan agen mata-mata.

Hanya sekarang, tugas-tugas intelijen itu janganlah menggunakan intelijen hitam yang kotor dan menyalahi hukum yang berlaku di muka bumi ini.

Jika memang patut dapat diduga warga Rusia yang ditangkap itu melakukan tugas spionase (mata-mata), proseslah secara hukum dan biarkan hukum yang menentukan.

Bukan dengan cara sensasional seperti ini, Boss !

Dihajar dulu di pemberitaan yang gaungnya menggema ke seluruh dunia dalam hitungan detik dan menit.

http://cache.daylife.com/imageserve/06IDfaZ0es8Cl/610x.jpg

Foto : Presiden Medvedev

 

Rusia tak perlu berkecil hati.

Rusia tak perlu merasa terpukul dan terpuruk atas kejadian ini.

Di mata bangsa-bangsa lain di muka bumi ini, Rusia tetaplah sebuah NEGARA SAHABAT yang bersahaja dan diharapkan kerjasamanya secara baik.

Selesaikanlah masalah ini secara baik (seperti layaknya dua sahabat sedang berdiskusi dengan hangat sambil memakan burger toh ?).

Dan selesaikanlah masalah ini dengan sangat terhormat (tanpa perlu lagi cari-cari sensasi pemberitaan) yang dampaknya menjalar kemana-mana.

Bayangkan kalau Osama Bin Laden menyaksikan tayangan televisi sambil memakan “burger” mengikuti pemberitaan sensasional semacam ini.

Barangkali di tempatnya kini berada, Osama akan mengatakan, “Here I am, Baby !”

Sepuluh tahun dikejar, boss Al Qaeda ini ampuh tak bisa ditangkap.

Sementara yang diawasi dari periode Januari 2010 ke Juni 2010, secepat kilat bisa ditangkap.

O la la ….

Akhirnya, baik rasanya untuk menyapa Presiden Rusia agar tak merasa sendirian dan kesepian dihantam oleh badai yang sekeras ini.

Tabik Medvedev !

Salam hormat …

Jangan berkecil hati.

Pastilah & percayalah, Rusia akan tetap dihormati dan dihargai oleh negara-negara lain, termasuk INDONESIA.

(MS)

July 3, 2010 Posted by | news | , | Comments Off

Film "Obama Anak Menteng", Kado Buruk Untuk Obama Di Hari Kemerdekaan Amerika

 

Dimuat juga di KATAKAMINEWSINDONESIA.WORDPRESS.COM

Obama Elegan Wujudkan Impian Ras Hitam Terbelakang

Kenanglah Ann Dunham Obama, Pahlawan Kemanusiaan Tanpa Tanda Jasa

Jakarta 2/7/2010 (KATAKAMI)  Tanggal 4 Juli 2010 ini adalah kesempatan yang kedua bagi Presiden Barack Hussein Obama untuk merayakan Hari Kemerdekaan AS dalam kapasitasnya sebagai orang nomor satu di Amerika.

Obama tentu berbahagia.

Dan tentu akan lebih berbahagia lagi, sebab di tanggal yang sama putri sulungnya yaitu Malia Obama berulang tahun.

Malia dilahirkan tanggal 4 Juli 1998.

Menjelang perayaan Hari Kemerdekaan Amerika, di Indonesia mulai ditayangkan Film “OBAMA ANAK MENTENG”.

Buku dengan judul “OBAMA ANAK MENTENG” juga sudah diluncurkan dengan penulis Damien Dematra yang sudah lebih dahulu di launching pada bulan Maret 2010.

Foto : Ann Dunham

Seperti yang dilansir OKEZONE edisi 30 Juni 2010, Film Obama Anak Menteng (OAM) menceritakan kisah masa kecil Presiden Amerika Serikat Barack Obama mulai tayang di bioskop mulai tanggal Kamis, 1 Juli.

Sutradara Jhon De Rantau mengatakan pembuatan film ini terbilang sangat cepat, tapi bukan berarti mereka main-main. Pasalnya film ini mengangkat kisah masa kecil tokoh yang dipilih oleh rakyat Amerika Serikat dalam Pemilihan Presiden November 2008 silam.

“Memang banyak pressure, jadi saya harus hati-hati. Kebetulan saya penggemar berat Obama dan saya selalu membaca buku-buku Obama,” kata dia ditemui di FX Senayan, Jakarta, Selasa (29/6/2010) malam.

Jhon memberanikan diri menempuh risiko, karena dengan membuat film ini dia akan menjadi target buruan intelejen Amerika. Bayangkan saja, orang Indonesia memberanikan diri memvisualkan diri orang nomor satu di Amerika itu.

“Semoga saja film ini harus bisa diterima dengan sesederhana mungkin di tengah perbedaan dengan satu kata, yaitu memaafkan dan toleransi,” kata dia.

Film yang dibintangi oleh Hasan Faruq Ali (12) ini mengisahkan masa kecil Obama selama tinggal di Jakarta bersama ibu dan ayah tirinya dari usia 6 sampai 10 tahun. Film ini mengambil lokasi syuting di Bandung, untuk mendapatkan situasi Jakarta di tahun 1970an.

Dalam film Obama Anak Menteng, tidak satupun cerita menyinggung tentang isu politik dan semuanya murni tentang masa kecilnya. Film ini lebih banyak mengisahkan tentang persahabatan dan hobi Obama di masa kecil.

Film ini akan menceritakan tentang pertama kalinya Obama datang ke Indonesia, lalu berkisah tentang sekolahnya, dan tentang hubungannya dengan ibunya yaitu Stanley Ann Dunham, demikian dituliskan OKEZONE edisi 30 Juni 2010.

Foto : Lolo Soetoro, Ann Dunham, Obama (kecil) dan Maya (masih bayi)

KATAKAMI.COM menyempatkan diri untuk menonton film OBAMA ANAK MENTENG di Studio 21 Pondok Indal Mal (Kamis 1/7/2010).

Tidak terlalu banyak yang menonton film ini di hari pertama penayangannya.

Malah kalau boleh jujur, film ini kalah telak dari film dengan kategori UNTUK SEMUA UMUR lainnya.

Misalnya Tanah Air Beta karya Sutradara Ale Sihasale & Nia Zulkarnaen Silasale.

Yang sangat menolong dan memudahkan untuk bisa menikmati film ini bagi KATAKAMI.COM adalah karena kami sudah pernah membaca (satu-satunya buku) yang ditulis Obama sendiri mengenai kehidupannya berjudul, “DREAMS FROM MY FATHER”.

Boleh saja siapapun di dunia ini menuliskan dan menerbitkan buku tentang OBAMA.

Tetapi buku DREAMS OF MY FATHER adalah satu-satunya buku yang ditulis sendiri oleh Obama mengenai kehidupan pribadinya.

Sebanyak 27 halaman dari total 493 halaman dalam buku DREAM FROM MY FATHER (edisi terjemahan Bahasa Indonesia), mengisahkan pengalaman dan kenangan Obama tentang INDONESIA.

Obama begitu menjiwai kisah kehidupannya yang pernah dijalani di Indonesia.

“Akhirnya, kami terbang mengitari dunia dengan pesawat Pan Am. Aku mengenakan kaus putih berlengan panjang dan dasi abu-abu yang dipakai dengan cara menjepitkan. Dan para pramugari memberikan permainan teka-teki dan kacang yang lebih banyak serta satu set bros sayap pesawat berbahan logam yang kusematkan di kantong baju di dadaku. Begitu pesawat mendarat di Jakarta, aku menggenggam tangan ibuku, merasa harus melindunginya dari apapun yang mungkin akan terjadi.  Lolo (Lolo Soetoro, ayah tiri Obama) sudah berdiri disana untuk menyambut kami. Dia memeluk ibuku dan mengangkat tubuhku ke udara”.

Demikian yang ditulis Obama di Halaman 54 buku Dream Of My Father (edisi Bahasa Indonesia).

Mengapa bagian ini kami muat disini ?

Sebab peristiwa kedatangan Obama saat tiba di Jakarta dalam film OBAMA ANAK MENTENG, bertentangan dengan fakta yang memang terjadi dalam kehidupan Obama.

Dalam pembukaan film OBAMA ANAK MENTENG, dikisahkan Obama kecil membuka kaca mobil yang menjemputnya setibanya di Jakarta.

Lalu sang ibu (Stanley Ann Dunham) menunjuk ke sebuah gedung yang bertuliskan SD Negeri 1 Besoeki Jakarta.

“Disitulah nanti kamu bersekolah” demikian dituturkan Stanley Ann Dunham pada detik-detik awal saat Film OBAMA ANAK MENTENG ditayangkan.

Hei, baca dong referensi yang ada mengenai masa kecil Obama di Indonesia.

Jangan ngarang !

Jangan ngaco !

Bukan di SD Negeri 1 Besoeki Jakarta, Obama bersekolah di awal keberadaannya di Indonesia ini.

Tetapi di SD Fransiskus Asissi (Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan).

Di tahun ketiga menetap di Indonesia, barulah Obama dipindahkan sekolahnya ke SD Negeri 1 Besoeki (Menteng) Jakarta Pusat.

Foto : Obama semasa kecil di Jakarta (mengenakan baju hitam & tiduran)

 

Inilah kesalahan fatal yang sangat memalukan dari film OBAMA ANAK MENTENG.

Jangan memanipulasi fakta yang ada jika ingin mengangkat kisah nyata kehidupan tokoh.

Apalagi tokoh itu adalah figur yang sangat penting sekelas Barack Obama !

Kumpulkan semua data dan informasi.

Lalu lakukan riset yang sangat luas.

Ketika sebuah film menceritakan KISAH NYATA (BASED ON A TRUE STORY) maka pakem-pakemnya sudah sangat jelas yaitu ikutilah sejarah atau alur kehidupan yang sebenar-benarnya dari KISAH NYATA yang akan diangkat ke layar lebar itu.

Jangan dipadukan dengan FIKSI.

Kesalahan yang juga sangat fatal adalah tokoh LOLO SOETORO (ayah tiri Obama) yang dalam film OBAMA ANAK MENTENG dikisahkan bekerja sebagai seorang DOKTER.

Dalam bukunya berjudul DREAMS OF MY FATHER (edisi terjemahan Bahasa Indonesia) halaman 66, Obama menuliskan sebagai berikut mengenai pekerjaan LOLOE SOETORO :

“Lolo bekerja di militer sebagai seorang GEOLOG, meninjau jalan-jalan dan terowongan-terowongan, ketika Ibu tiba dari Amerika. Itu adalah pekerjaan yang membosankan yang tidak memberikan gaji besar” tulis Obama dalam bukunya.

Kenapa mesti diubah profesi LOLO SOETORO ?

Sebab ini toh film tentang perjalanan hidup Obama semasa kecilnya di Jakarta.

Sampaikan saja apa adanya.

Seperti Obama menyampaikan apa adanya didalam buku DREAMS OF MY FATHER.

Foto : Obama dan sang adik tercinta, Maya Soetoro

 

Ketika sebuah film bertemakan KISAH NYATA (True Story) maka pembelokan fakta adalah sebuah kesalahan fatal.

Tak diperlukan buku atau film yang mendongeng tentang MASA KECIL OBAMA di Indonesia sebab Obama sendiri sudah menceritakan (bahkan menuliskannya) secara langsung dalam buku DREAMS FROM MY FATHER.

Baca dulu buku yang dituliskan Obama.

Lalu kembangkan atau jadikanlah itu sebagai inspirasi utama (tanpa perlu menghilangkan potongan-potongan sejarah kehidupan Obama mengenai masa kecilnya di Indonesia).

Dalam film OBAMA ANAK MENTENG ini terkesan kuat, pesan terselubung yang ingin disampaikan adalah Obama bukan beragama ISLAM.

Berulang kali dalam film ini, disuguhkan pemandangan interaksi Barry — panggilan Obama — berdialog dengan (tokoh) Yuni dan Slamet yang merupakan tetangga sebelah rumahnya.

Setiap kali akan berpisah (setelah mereka bermain bersama), teman-teman Barry akan mengucapkan salam, “ASSALAMUALAIKUM”.

Dan setiap kali teman-temannya mengucapkan ASSALAMUALAIKUM, Barry tidak menjawab dengan jawaban “WASSALAMUALAIKUM”.

Dia akan menjawab dengan kata “Ya”.

Atau, “Oke, selamat malam”.

Barulah pada bagian kahir film ini (saat Obama akan dikirim oleh ibunya kembali ke Hawaii) Obama histeris memanggil nama sahabatnya yaitu Slamet yang berpapasan dengan mobil Obama.

“Wassalamualaikum Slamet” tutur Obama yang terus memandangi sahabatnya dari kaca mobil.

Slamet, tetangga Obama, memang dimunculkan sebagai keluarga Islam yang taat.

Yang ingin disampaikan disini, jika ingin menyampaikan “PESAN” bahwa Obama bukan beragama Islam maka jangan hilangkan bagian terpenting dalam kehidupan Obama bahwa ia pernah bersekolah di SEKOLAH KATOLIK semasa tinggal di Jakarta.

Jangan dibuang dong, penggalan masa kecil Obama yang satu ini.

Foto : Ann Dunham (Ibunda Obama)

 

Bagian lain dari Film OBAMA ANAK MENTENG yang melenceng dari kisah sebenarnya adalah saat Barry dikisahkan mengenai kecelakaan kecil yaitu tungkai kakinya sobek terkena kawat duri sehabis bermain bersama teman-temannya.

Sang Ibu yaitu Ann Dunham diceritakan membawa Barry ke rumah sakit dengan menggunakan BECAK.

Lalu sesampainya di rumah sakit, antrian sangat panjang tetapi karena merasa anaknya perlu segera mendapat pertolongan maka Ann Dunham menyerobot saja ke ruang dokter.

Bagian ini adalah bagian paling ngaco karena tidak sesuai dengan apa yang dituliskan Obama dalam buku DREAMS OF MY FATHER.

Pada halaman 72-73, Obama menceritakan tentang kejadian ini :

“Aku terluka” (kata Obama).

“Coba Ibu Lihat” jawab Ann Dunham.

“Tidak parah kok” sahut Obama.

“Barry, coba Ibu lihat” kata Ann Dunham lagi.

Aku memperlihatkan luka yang memanjang dari pergelangan tangan hingga sikuku. Luka itu hanya satu inci dari nadiku, namun hingga ke tulang.

Daging merah keluar dari balik kulit.

Lolo menyarankan agar menunggu hingga pagi untuk menjahit lukaku.

Ibu menakut-nakuti satu-satunya tetangga kami untuk mengantar kami dengan mobilnya ke rumah sakit. Ibuku ingat cahaya-cahaya yang bersinar di rumah sakit itu ketika kami tiba.

Tak ada satu orangpun resepsionis yang ada disana.

Ibu ingat bagaimana suara langkah kakinya yang ketakutan menggema di lorong rumah sakit.

Sampai akhirnya Ibu menemukan dua lelaki muda yang mengenakan celana pendek sedang bermain domino didalam suatu ruangan kecil dibelakang.

Ketika ibuku menanyakan dimana dokternya, mereka dengan tenang menjawab “Kami Dokternya”.

Demikian cuplikan tulisan Obama dalam buku DREAMS OF MY FATHER (edisi Bahasa Indonesia) pada halaman 72 – 73.

Foto : Ann Dunham dan Obama kecil

Di Indonesia ini, ada seorang wartawan senior yang menjadi sahabat dekat dari Maya Soetoro (adik Obama).

Dia adalah Teguh Santosa, Pemimpin Redaksi Rakyat Merdeka Online.

Teguh pernah mendapat beasiswa untuk bersekolah di Hawaii ( di kampus yang sama dengan Stanley Ann Dunham semasa hidupnya).

Teguh berkesempatan untuk berkenalan dan akhirnya menjadi sahabat dekat Maya Soetoro yang juga tinggal di Hawaii sampai saat ini.

Teguh punya cerita sendiri yang bisa menjadi masukan untuk pembuat film OBAMA ANAK MENTENG.

“Justru yang pernah diceritakan Maya ke saya, dulu ketika ibunya akan melahirkan Maya, Ann Dunham terpaksa naik becak untuk pergi ke rumah sakit. Maya mengingat betul cerita yang disampaikan oleh ibunya sampai saat ini”” kata Teguh Santosa kepada KATAKAMI.COM (Jumat, 2/7/2010).

Teguh juga mengkritik, besarnya porsi adegan-adegan yang menampilkan tokoh TURDI ( seorang banci ) yang ternyata menjadi pesuruh Keluarga Lolo Soetoro, yang bertugas mengantar jemput Obama kecil bersekolah.

“Ini tontonan yang tidak sehat untuk anak-anak. Saya sebagai orangtua yang mempunya anak lelaki, akan melarang anak saya menonton film seperti ini karena ditonjolkan sekali seorang lelaki berubah penampilan sebagai perempuan. Film ini maunya apa ? Ini Indonesia, tontonan seperti ini tidak sehat. Apakah maksud mereka mau membuat agar film ini lucu dan laku di pasaran ? Silahkan tapi tidak begitu caranya. Banyak sekali porsi tokoh Turdi dalam film ini ? Lebih baik film ini diganti judulnya menjadi TURDI ANAK MENTENG” lanjut Teguh Santosa.

Tak cuma itu, dalam film OBAMA ANAK MENTENG, tokoh TURDI dikisahkan “tidur sekamar dan seranjang” di kamar pembantu.

Inem, sang pembantu, sebenarnya tidak mau.

Tetapi tokoh TURDI memaksa dan mengatakan bahwa ia “tidak selera” kepada perempuan.

“Onderdil saya saja lelaki. Tetapi jiwa saya perempuan tulen, Nem !” kata Turdi dalam film OBAMA ANAK MENTENG.

Kritik dari sahabat baik Maya Soetoro ini tidak berlebihan.

Sebab dalam buku DREAMS OF MY FATHERS, Obama hanya menceritakan “sangat amat kecil” porsinya mengenai keberadaan seorang pembantu dalam keluarga mereka yang memiliki kelainan menjadi “TRANS GENDER”.

Dalam buku DREAMS OF MY FATHER halaman 62 (edisi terjemahan bahasa Indonesia), Obama menuliskan sebagai berikut :

“Selama setahun, Lolo mempekerjakan seorang lelaki yang sesungguhnya tampan, namun gemar mengenakan pakaian perempuan pada akhir pekan. Lolo sangat menyukai masakan lelaki itu”, demikian tulis Obama dalam bukunya.

 

Foto : Obama bersama sang ayah (pertemuan ini terjadi setelah Obama tidak tinggal di Indonesia) 

 

Teguh Santosa yang sampai saat ini terus rutin berkomunikasi dengan Maya Soetoro (adik Obama) juga mengkritik, adegan saat Obama kecil berada di kamarnya memegang foto dirinya bersama ayah kandungnya (Barack Hussein Obama Sr).

“Wah film ini ngaco. Foto itu justru dibuat setelah Obama tinggal di Indonesia. Jadi pada saat Obama sudah tidak tinggal di Indonesialah, Obama bertemu dengan ayah kandungnya di Bandara Hawaii. Bukan sebelum Obama tinggal di Indonesia. Jangan dong diputar-balikkan kisah hidup orang. Ini kan sama saja memutar-balikkan fakta mengenai perjalanna hidup seorang tokoh” ungkap Teguh Santosa seusai menonton film OBAMA ANAK MENTENG pada hari Jumat (2/7/2010).

Menurut Teguh, sangat disayangkan kalau ada potongan-potongan sejarah dari masa kecil Obama yang tidak ditayangkan sebagaimana mestinya.

“Ini kan kisah nyata dari kehidupan Obama. Tidak pantas digabungkan dengan fiksi. Darimana ceritanya, begitu tiba di Jakarta ini Obama bersekolah di SD Negeri Besoeki ? Dia sekolahnya di SD Asissi di tahun-tahun pertama kehidupannya di Indonesia” lanjut Teguh.

 

Foto : Obama junior dan Maya berpose bersama kakek mereka Stanley Armour Dunham di Hawaii

 

Bahkan Teguh menyayangkan potongan cerita yang tidak dimasukkan dalam film ini yaitu saat kakek dan nenek Obama datang dari Hawaii untuk mengunjungi Obama dan Maya (adiknya) yang baru lahir.

“Kedatangan kakek dan neneknya dari Hawaii itu adalah sebuah peristiwa besar juga dalam kehidupan Obama dan Maya saat berada di Indonesia. Kakek dan nenek mereka datang secara khusus ke Jakarta untuk melihat Maya yang baru dilahirkan. Jadi kalau dalam film ini ditunjukkan juga adegan Obama memegang foto kakek dan neneknya, salah besar itu. Foto itu dalam kisah kehidupan nyata Obama, justru dibuat setelah Obama dan Maya tinggal di Hawaii. Maya sudah lahir dan ikut tinggal di Hawaii saat foto itu dibuat. Dalam film ini, kok malah dipajang foto-foto yang harusnya belum terjadi dalam kisah nyata kehidupan Obama” kata Teguh Santosa.

Teguh juga mengkritik pemeran Ann Dunham dalam film ini yang sering ditampilkan memakai baju sangat minim dan “super seksi”.

“Wah, mengerikan sekali tokoh Ann Dunham ditampilkan seperti perempuan murahan begitu caranya berbusana. Tidak harus seperti itulah. Film ini terlalu berlebihan sekali” tutur Teguh.

 

Foto : Presiden Obama dan bersama kedua putrinya (Sasha disebelah kiri & Malia di sebelah kanan) 

 Teguh Santosa memang beruntung bisa menjadi sahabat dekat Maya Soetoro.

Teguh lah yang mendapatkan kehormatan untuk menuliskan kata pengantar dalam buku terjemahan Bahasa Indonesia dari DISERTASI Ann Dunham dari hasil risetnya di Indonesia yang berjudul : Pendekar-Pendekar Besi Nusantara: Kajian Antropologi tentang Pandai Besi Tradisional di Indonesia (Mizan, 2008).

Buku Ann Dunham ini diterjemahkan dari disertasinya.

Teguh memang pernah berkuliah di Universitas Hawaii dan di universitas inilah Ann Dunham serta Maya Soetoro pernah berkuliah pula.

Teguh Santosa memberikan pengantar-menarik dalam buku Ann Dunham edisi Indonesia tersebut. 

Ia yang membantu Penerbit Mizan sehingga disertasi Ann Dunham dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. “Untuk mempersiapkan buku ini,” tulis Teguh dalam pengantarnya, “penulis berdiskusi secara intensif dengan adik tiri Obama, Maya Soetoro-Ng, dan Profesor Alice Dewey dari Jurusan Antropologi UHM yang menjadi ketua komite disertasi Ann Dunham.”

Teguh Santosa menyelenggarakan Seminar Ekonomi Kerakyatan yang membahas tentang sepak terjang Ibunda Obama (Ann Dunham Soetoro) saat berada di Indonesia.

Seminar yang diadakan Maret 2010 itu, mendatangkan Prof Alice G. Dewey dari Hawaii.

Foto : Teguh Santosa (jongkok paling kanan berbaju batik) menyelenggarakan seminar tentang Ann Dunham (Maret 2010)

 

Yang ingin disampaikan disini adalah berhati-hatilah jika ingin membuat sebuah karya seni berbentuk film mengenai kisah nyata kehidupan seorang tokoh.

Tak berarti kalau sudah bisa membuat buku bertopik OBAMA, maka sudah paling tahu soal OBAMA.

Tak berarti kalau sudah bisa membuat film bertopik OBAMA, maka referensinya cukup dari data-data yang dikumpulkan secara serabutan dari sana-sini.

Cari tahulah siapa-siapa saja yang bisa memberikan masukan tentang masa kecil Obama di Indonesia.

Ibu dari Obama masih memiliki sahabat-sahabat dekat yang bisa membantu menuturkan kisah tentang masa kecil Obama.

Misalnya, JULIA SURYAKUSUMA (dalam foto diatas saat diadakan Seminar Ann Dunham, Julia Suryakusuma berdiri, nomor 3 dari kanan).

Sampai detik ini, Julia begitu rapi menyimpan semua surat-surat yang disampaikan dan dikirimkan Ann Dunham kepada dirinya.

Sepanjang Ann Dunham hidup di Indonesia, Julia adalah sahabat terdekat Ann Dunham.

Julia tahu banyak tentang masa-masa kehidupan Ann Dunham semasa tinggal di Indonesia.

Mengapa tidak meminta masukan dari sahabat terdekat Ann Dunham agar film OBAMA ANAK MENTENG tidak asal-asalan dibuat ?

Mengapa tidak datang dan ikut mendengarkan SEMINAR yang diadakan Rakyat Merdeka Online pada bulan Maret 2010 lalu, jika memang berencana untuk membuat buku atau film tentang (Masa Kecil OBAMA) ?

Foto : Maya Soetoro Ng (adik OBAMA)

 

Mengapa tidak mencari tahu, siapa sahabat atau akses yang bisa menghubungkan kepada Maya, adik dari Obama ?

Maya dilahirkan di Jakarta, 15 Agustus 1970

Sehingga, ia berhak “bicara” juga sebenarnya untuk melengkapi kisah masa kecil Obama di Indonesia ini.

Film OBAMA ANAK MENTENG adalah film yang miskin informasi mengenai Obama.

Film OBAMA ANAK MENTENG adalah film yang tidak murni mengisahkan kisah nyata kehidupan OBAMA semasa tinggal di Indonesia.

Dalam film, ada beberapa bagian dari kisah nyata kehidupan Obama yang justru diberi terlalu banyak bumbu dan improvisasi sehingga membelokkan fakta menjadi sebuah FIKSI semata.

Foto : Para pemain film OBAMA ANAK MENTENG

 

Sehingga, tak salah kalau ada penilaian yang menyebutkan bahwa film OBAMA ANAK MENTENG menjadi kado yang buruk dan mengecewakan untuk Obama dan Maya Soetoro.

Film ini dapat menjadi sangat bagus kalau memperkuat informasinya.

Ini film yang menuturkan tentang kisah nyata masa kecil seorang PRESIDEN dari sebuah negara adidaya.

Jangan dianggap sembarangan.

Jangan dibuat asal-asalan.

Bikin malu saja kalau membuat film yang awut-awutan kisahnya.

Padahal para pemain dalam film ini, sudah sangat bagus aktingnya dalam membawakan peran masing-masing.

Jadi dengan kata lain, film OBAMA ANAK MENTENG adalah sebuah kado yang buruk dan mengecewakan untuk Obama sekeluarga di Hari Kemerdekaan AS tanggal 4 Juli ini.

Maafkan Barry …

Maafkan Maya …

Ada atau tidak ada film ini, Indonesia tetaplah sebuah tempat yang menjadi saksi bisu masa kecil kalian di sebuah tempat yang sangat jauh bernama INDONESIA.

Sebuah negara yang menjadi bagian sejarah kehidupan ibu dari Obama dan Maya yaitu Almarhumah Stanley Ann Dunham semasa hidupnya.

Sekali lagi, maafkan Barry, maafkan Maya, film ini tak berhasil mengangkat kejujuran dan keaslian masa kecil kalian di Indonesia.

(MS)

July 2, 2010 Posted by | news | , , | Comments Off

Bersuara Tentang Ustadz Abu Bakar Baasyir, Mari Lawan Semua “Terorisme”

Oleh : Mega Simarmata, Pemimpin Redaksi KATAKAMI.COM

Dimuat juga di KATAKAMI.COM & KATAKAMINEWSINDONESIA.WORDPRESS.COM

Pesan Tulus Nan Sederhana Pada Ustadz Abu Bakar Baasyir

Jakarta 25/5/2010 (KATAKAMI) Nama saya Mega Simarmata. Seorang anak bangsa Indonesia yang secara total bekerja sebagai jurnalis independen.

Saya membenci semua aksi kekerasan di muka bumi ini.

Terutama kekerasan dan kejahatan kemanusiaan yang bernama TERORISME.

Uniknya, saya bisa bersahabat dengan sangat baik dan begitu menyentuh hati kepada orang yang paling dituding sebagai Bapaknya Teroris di Indonesia ini yaitu dengan Ustadz Abu Bakar Baasyir selaku Pemimpin Pondok Pesantren Islam Al Mukmin Ngruki Sukoharjo.

Saya memanggil beliau dalam kontak-kontak kami dengan panggilan Ustadz Abu.

Persahabatan yang unik inipun memang benar-benar unik karena dari sekian tahun kedekatan yang menyentuh hati itu, tak sekalipun kami pernah bertemu.

Komunikasi kami hanya lewat orang ketiga yang menjadi tangan kanan atau orang kepercayaan beliau.

Biasanya, saya mengirim pesan singkat SMS kepada Ustadz Abu Bakar Baasyir melalui tangan kanan dan atau orang kepercayaannya ini.

Begitu juga sebaliknya, Ustadz Abu juga kerap membalas pesan-pesan saya lewat orang ketiga yang begitu dipercayainya tadi.

Perjalanan waktu selama bertahun-tahun terakhir ini, persahabatan dan komunikasi antara kami sering ditandai dengan keluh kesah saya sebagai jurnalis tentang maraknya aksi-aksi terorisme di Indonesia.

http://undhimmi.com/wp-content/uploads/2009/07/abu-bakar_bashir.jpg
Foto : Ustadz Abu Bakar Baasyir
Diduga Noordin M. Top Atau Gories Mere Yang Kebelet Ingin Ngetop ?
Istana Mau Diledakkan ? Ngarang Aja, TNI Tidak Tidur Boss …
 

 

Insting saya sebagai jurnalis mencium gelagat bahwa target sesungguhnya yang ingin dibidik oleh Tim Anti Teror Polri adalah Ustadz Abu Bakar Baasyir.

Tetapi Tim Anti Teror Polri kesulitan mendapat indikasi keterlibatan (apalagi bukti-bukti yuridis) yang sangat kuat untuk bisa menjerat, menjebak dan menyeret Ustadz Abu ke muka Pengadilan.

Sebab Indonesia memang secara nyata tak mampu membuktikan tudingan bahwa Ustadz Abu adalah teroris.

Membuktikan Ustadz Abu sebagai teroris saja  tidak mampu.

Apalagi membuktikan bahwa Ustadz Abu adalah Bapaknya Teroris Indonesia.

Pada proses peradilan yang digelar beberapa tahun lalu, Majelis Halim menyatakan Ustadz Abu bersalah hanya dalam kesalahan administrasi menyangkut paspor yang dimiliki Ustadz Abu.

Dari perjalanan panjang periode tahun 2005- Desember 2006 terkait proses hukum yang ditimpakan kepada Abu Bakar Baasyir yaitu dari Pengadilan Tingkat Pertama di Pengadilan Negeri, Pengadilan Tingkat Banding di Pengadilan Tinggi hingga akhirnya tahapan PK atau Peninjauan Kembali di Mahkamah Agung, diputuskan bahwa Abu Bakar Baasyir dinyatakan tidak terlibat dalam kasus-kasus terorisme.

Kesalahan atau perbuatan melanggar hukumnya hanya sebatas pelanggaran imigrasi semata.

Tidak ada yang berbau terorisme.

Tidak terbukti secara legal di muka hukum bahwa Ustadz Abu adalah teroris.

Itu permasalahannya.

http://i284.photobucket.com/albums/ll30/jalakpengkor/cqb1.jpg

Foto : Satuan Penanggulangan Teror (Sat Gultor) Kopassus

Sehingga, penanganan terorisme harus didudukkan pada posisi yang sebenarnya yaitu jika memang patut dapat diduga ada seseorang yang diyakini merupakan bagian dari jaringan terorisme maka aparat kepolisian wajib menemukan dan mendapatkan bukti-bukti yuridis.

Jangan menuding seseorang secara berlebihan tetapi ketika orang tersebut digiring ke muka hukum, tak ada satupun tudingan tentang keterlibatan dalam jaringan terorisme itu yang terbukti.

Kalau memang benar Ustadz Abu adalah teroris maka carilah bukti-bukti yuridis yang sesungguhnya.

Jangan ada rekayasa.

Jangan ada pemaksaan kehendak bahwa manusia yang bernama Ustadz Abu Bakar Baasyir harus dan wajib diberi stigma sebagai teroris.

Indonesia adalah negara hukum.

Dan biarlah HUKUM menjadi PANGLIMA di negaranya masing-masing.

Yang sangat kuat tersirat, tersurat dan terucap dari figur Ustadz Abu Bakar Baasyir adalah kegigihannya untuk menerapkan syariat Islam sebagai fondasi yang kokoh bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ini dapat dipahami karena latar belakang Ustadz Abu sebagai Ulama Islam.

Tak cuma Ustadz Abu, beberapa partai politik yang berbasiskan nilai-nilai relijius juga berkehendak menjadikan syariat Islam sebagai dasar negara.

Apakah karena kehendak yang tulus dari mereka yang berbasiskan agama Islam ini, maka mereka akan mendapat stigma yang sama yaitu masuk dalam kategori teroris ?

Tidak samasekali !

Gerakan Islamisasi bukan bagian dari mata rantai terorisme.

Gerakan Islamisasi adalah sebuah niatan suci yang sah-sah saja diusulkan untuk diterapkan di sebuah Negara seperti Indonesia karena memang Indonesia adalah negara berpenduduk ISLAM terbesar di dunia.

http://pusdai.files.wordpress.com/2008/11/islam-is-not-the-enemy.jpg

Ilustrasi gambar

Tapi di Indonesia, gerakan Islamisasi itu akan sulit dijalankan karena para FOUNDING FATHER INDONESIA telah membangun dasar-dasar ideologi yang sangat kuat bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia ini yaitu Pancasila dan Undang Undang 1945.

Dan kembali pada sosok Ustadz Abu Bakar Baasyir.

Bisa jadi beliau tahu dan memang mendapatkan informasi bahwa ada PETINGGI POLRI yang mengaku paling hebat dalam penanganan terorisme di negara ini justru patut dapat diduga menjadi beking dari mata rantai mafia narkoba internasional.

Ustadz Abu juga pasti tahu bahwa dalam banyak operasi penanganan terorisme di Indonesia beberapa tahun terakhir ini memang terkesan membantai umat Islam.

Satu contoh nyata, penembakan brutal di malam takbiran tahun 2006 yaitu Densus 88 Anti Teror (atas perintah dari seorang petinggi Polri) menembaki sebuah Pondok Pesantren di Poso, Sulawesi Tengah.

Komnas HAM menyatakan POLRI secara nyata telah melakukan PELANGGARAN HAM pada peristiwa penembakan di malam takbiran tahun 2006 di Poso.

Bukan TNI yang dinyatakan melakukan PELANGGARAN HAM oleh Komnas HAM atas peristiwa brutalisme itu, melainkan POLRI atau tepatnya Densus 88 Anti Teror Polri.

Kemudian, atas perintah dari petinggi Polri yang sama maka Densus 88 Anti Teror juga menembaki perumahan warga sipil di Poso tanggal 22 Januari 2007 yang menewaskan belasan warga sipil.

Densus 88 Anti Teror yang mengaku hendak menangkap orang-orang yang dididuga teroris serta masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) justru menewaskan belasan umat Islam yang namanya tidak termasuk dalam DPO.

Komnas HAM juga menyatakan bahwa POLRI telah melakukan PELANGGARAN HAM pada peristiwa yang brutal dan sadis ini bulan Januari 2007.

Sekali lagi, bukan TNI yang dinyatakan melakukan PELANGGARAN HAM oleh Komnas HAM atas peristiwa brutalisme itu, melainkan POLRI atau tepatnya Densus 88 Anti Teror Polri.

Jujur saja, memang ada tindakan-tindakan Densus 88 Anti Teror yang sudah sangat berlebihan dan merugikan umat Islam di Indonesia.

Ini fakta.

Ini realita.

Salahkah kalau kalangan Ulama Islam dan Tokoh-Tokoh Islam merasa terpukul dan tidak senang atas brutalisme yang mengorbankan umat Islam  ?

http://katakamidotcomindonesianews.files.wordpress.com/2010/07/islamcover1.jpg?w=532&h=535

Islam bukanlah musuh dari setiap gerakan anti terorisme.

Islam adalah sebuah agama dan komunitas yang sangat terhormat di muka bumi ini.

Islam adalah sebuah agama dan komunitas yang memang mengajarkan kasih sayang kepada sesamanya manusia.

Islam adalah kekuatan terbesar yang memang nyata-nyata ada dan eksis di berbagai belahan dunia.

Sehingga dalam penanganan terorisme itu sendiri, banyak hal yang harus diluruskan dan dibenahi kembali.

Ustadz Abu Bakar Baasyir sibuk menjalani kegiatan dakwah dalam hari-hari beliau.

Dituding atau tidak dituding, yang dijalani oleh Ulama Islam yang sangat keras ini adalah konsisten melakukan kegiatan dakwah ke berbagai daerah.

Menyuarakan ajaran Islam tanpa henti.

Tetapi tanpa beliau sadari, kegigihan untuk melakukan gerakan Islamisasi di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini mendapat sebuah kejutan yang tak disadari oleh beliau sendiri yaitu “dipertemukan secara unik”, sangat terkesan dan memutuskan untuk mau bersahabat baik dengan seorang jurnalis (non Islam) yaitu saya sendiri.

Berkali-kali Ustadz Abu mengirimkan pesan agar saya masuk Islam.

Dan setiap kali Ustadz Abu menawarkan hal yang sangat mulia dan baik itu, maka saya juga akan mengirimkan jawaban yang sangat santun yaitu, “Pak Ustadz Abu yang saya hormati, marilah kita bersahabat tanpa mempermasalahkan agama masing-masing. Saya sudah sangat bahagia dan akan terus menjunjung tinggi iman kepercayaan saya sebagai umat katolik”.

Ustadz Abu tidak pernah tersinggung atas jawaban-jawaban saya.

Dan beliau sudah sangat terbiasa menerima dan membaca pesan-pesan saya yang mengeluhkan arogansi oknum perwira tinggi Kepolisian Indonesia yang sering menteror terkait pemberitaan di Situs Berita KATAKAMI.COM yang menyoroti masalah-masalah pembekingan narkoba dan dugaan rekayasa terorisme.

Yang sering menjadi jawaban dari Ustadz Abu bila saya mengeluhkan berbagai aksi kekerasan yang saya terima terkait pemberitaan penuh kritik tadi, Ustadz Abu selalu berusaha untuk menguatkan lewat nasihat yang penuh persahabatan.

“Sabar, sabarlah, sebab semua kejahatan akan ada akhirnya” kira-kira begitulah muara dari nasihat Ustadz Abu.

Dalam hampir semua pesan-pesan singkat saya kepada Ustadz Abu Bakar Baasyir, muara utamanya adalah ajakan untuk menjaga serta mendukung sekuat-kuatnya agar INDONESIA dan DUNIA secara keseluruhan selalu dalam keadaan aman, sejahtera dan sentosa.

Tanpa kekerasan.

Apalagi kejahatan TERORISME.

Dan Ustadz Abu selalu menjawab dengan tenang yaitu, “Insya Alloh (akan ikut mendukung Indonesia dan Dunia yang aman, sejahtera dan sentosa)”.

Bahkan dalam sebuah pesan singkatnya kepada diri saya, Ustadz Abu pernah mengatakan, “Ya Alloh, berkahilah sahabat baru kami ini yang menawarkan dan mengulurkan tangan persahabatan dan perdamaian kepada kami”.

Dan jika kita berbicara soal penanganan terorisme yang akhir-akhir ini marak dilakukan oleh Densus 88 Anti Teror Polri menjelang kunjungan kenegaraan Presiden AS Barack Obama ke Indonesia bulan Juni mendatang, semua pihak menjadi berpikir keras tentang kegarangan Densus 88 Anti Teror Polri mengangkat isu terorisme ke permukaan.

Ribuan amunisi, senjata-senjata curian, denah-denah peledakan dan target-target pembunuhan ke pejabat-pejabat penting, semua ini melekat erat dengan sosok-sosok teroris yang diklaim Polri kembali merajalela di Indonesia.

Pertanyaannya, apakah benar teroris yang diudak-udak Densus 88 Anti Teror Polri itu adalah teroris ?

Atau patutkah dapat diduga itu semua hanyalah rekayasa semata ?

Tak jelas.

 

 

 
http://dokterkafi.files.wordpress.com/2009/09/bangga-indonesia.jpg  

Satu hal yang sangat amat jelas adalah terorisme memang kejahatan kemanusiaan yang patut diperangi oleh semua bangsa di dunia.

Tetapi janganlah kiranya, terorisme itu dijadikan komoditi dagang untuk dijual ke negara adikuasa atau pihak manapun yang diyakini akan dapat mengucurkan aliran dana sederas-derasnya atas nama penanganan terorisme.

Tanganilah terorisme dengan sebenar-benarnya.

Jangan mau dipermainkan oleh kekuatan-kekuatan dunia yang bangga dengan label “super power” tetapi agar menjadi kelihatan “manis dan syahdu” maka label tadi kini telah diubah namanya menjadi “soft power”.

Menciptakan teror di tengah rakyat atau masyarakatnya sendiri adalah bagian dari terorisme itu sendiri.

Jadi, janganlah kiranya rakyat Indonesia terus ditakut-takuti dan dijejali dengan seribu satu macam kisah tentang terorisme yang sangat hiperbola dan berlebihan.

http://i640.photobucket.com/albums/uu129/indonesia_raya1945/anak_indonesia.jpg

Kekuatan di bidang pertahanan dan keamanan di Indonesia ini sangat kokoh bila dibangun kerjasama dan koordinasi antara Polri, TNI dan Badan Intelijen Negara atau BIN.

Marilah kita bangun bersama, Indonesia yang kuat, bermartabat dan sangat terhormat di bidang pertahanan dan keamanan ini.

Marilah kita bangun bersama, Indonesia yang punya harga diri dan tak suka mengemis ke pihak manapun yang tahu kelemahan instansi atau oknum tertentu di negara ini yang bisa diperbudak atau dipermainkan atas nama uang, uang dan uang.

Marilah kita bangun bersama, Indonesia yang sangat membanggakan yaitu disegani kawan dan ditakuti lawan.

Bukan justru kebalikannya, Indonesia mau dibuat jadi diperbudak kawan dan diremehkan lawan.

Ingatlah, lagu yang diciptakan Ismail Marzuki lewat gubahannya berjudul INDONESIA PUSAKA :

 
Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap di puja-puja bangsa

Reff :
Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Tempat akhir menutup mata
Sungguh indah tanah air beta
Tiada bandingnya di dunia
Karya indah Tuhan Maha Kuasa
Bagi bangsa yang memujanya
Reff :
Indonesia ibu pertiwi
Kau kupuja kau kukasihi
Tenagaku bahkan pun jiwaku
Kepadamu rela kuberi
(MS)

 

July 1, 2010 Posted by | news | | Comments Off

Jurus Polri Menutup Aib & Restrukturisasi, Pengalihan Isu Ke Video Porno?

Densus Bukan Likuidasi Tapi Ganti Nama, Akal-Akalan Merengek Ke Amerika?

Bersuara Tentang Ustadz Abu Bakar Baasyir, Mari Lawan Semua “Terorisme”

Jakarta 22/6/2010 (KATAKAMI)  Barangkali kalau tidak diwaspadai sungguh-sungguh, gunjang-ganjing video porno yang patut dapat diduga melibatkan penyanyi tenar Ariel Peterpan maka kita semua akan terkecoh.

Mengapa ?

Sebab saat ini ada ambisi besar dari MABES POLRI yang sedang diupayakan untuk disetujui oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama.

Khusus untuk Presiden SBY, ambisi besar MABES POLRI adalah meminta kenaikan anggaran tahun 2011 menjadi sekitar Rp. 30 Triliun (dari anggaran sekitar Rp. 27 Triliun). Dan diatas itu, ambisi paling mendesak lain dari MABES POLRI adalah restrukturisasi yang bertujuan men-jenderalkan lebih banyak lagi anggotanya.

Termasuk diantaranya berangan-angan membuat pos jabatan Kepala Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror menjadi pos jabatan untuk Jenderal bintang 2 alias Inspektur Jenderal.

Sebelumnya, jabatan Kepala Densus 88 Anti Teror dikepalai oleh Jenderal bintang 1.

Betapa tingginya dan sangat berlebihan menempatkan seorang Jenderal berbintang 2 menjadi kepal DETASEMEN KHUSUS 88 ANTI TEROR, sementara di jajaran TNI skup kecil setingkat Detasemen hanya dipimpin oleh sebatas perwira menengah.

Tiga sampai empat tingkat lebih tinggi tingkatan kepangkatan di Polri dibandingkan TNI (dan barangkali di negara-negara lain juga demikian).

Menempatkan seorang Jenderal berbintang 2 menjadi Kepala DETASEMEN KHUSUS 88 ANTI TEROR adalah seperti lucu-lucuan atau ibaratnya pelajaran mengarang bebas yang pantas untuk dikecam sekeras-kerasnya.

Kepala Densus mau dibuat menjadi job bagi Jenderal berbintang 2.

Lalu Densus dipisahkan dari Bareskrim.

Kemudian, pasukannya di daerah TIDAK ADA LAGI sebab di seluruh Polda sudah tidak ada anggota Densus.

Sehingga tugas si Kepala Densus (versi baru) tadi hanya sebatas pengambil kebijakan.

Pertanyaannya adalah kebijakan atas apa ?

Kebijakan atas penanganan terorisme di Indonesia ?

Oke, kalau tugasnya sebatas pengambil kebijakan maka secara hierarki siapa yang harus menjalankan kebijakan itu dengan menggunakan sistem komando ?

Tidak ada sebab Kepala Densus tidak punya pasukan.

Penanganan terorisme di Indonesia tidak bisa hanya diserahkan penggodokan kebijakan-kebijakannya kepada satu orang manusia saja yang bernama KEPALA DENSUS.

Tidak bisa !

Densus, di masa yang akan datang tidak akan lagi ada ditemukan di struktur kepolisian daerah (Polda).

Mereka akan ditarik ke Mabes Polri dan bertransformasi menjadi sebuah korps laiknya brigadir mobile (Brimob).

“Di wilayah nanti hanya ada CRT (crisis respond team), sebagai pemukul yang sudah dididik di Amerika. Nantinya (CRT) ada dibawah Dan Sat Brimobda (Komandan Satuan brigadir mobile daerah),” kata Kapolri Jenderal pol Bambang Hendarso Danuri, di Gedung Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Jakarta, Kamis (3/6/2010).

Densus akan dipimpin oleh jenderal bintang dua, bukan lagi jenderal bintang satu seperti yang sekarang ini.

Detasemen itu hanya akan mengurusi pengambilan kebijakan di pusat.

Namun, mereka akan flexibel jika suatu waktu diperlukan tenaganya.

Sehingga, patut dapat diduga gunjang ganjing video porno adalah pengalihan isu untuk mengaburkan ambisi-ambisi besar ini supaya selamat terlaksana sesuai harapan MABES POLRI (tanpa ada hambatan, kritikan dan pemberitaan media massa yang dapat mempengaruhi pemikiran Presiden SBY).

http://1.1.1.5/bmi/cache.daylife.com/imageserve/0fozelW5alcU4/610x.jpg

Foto : Presiden Barack Obama

Ambisi lain yang juga sedang diupayakan oleh MABES POLRI adalah turunnya bantuan dari Amerika Serikat terkait pembentukan CRISIS RESPOND TEAM (CRT) yang akan ditempatkan di sejumlah Polda di wilayah Indonesia untuk menggantikan Pasukan Densus 88 Anti Teror.

Sehingga, jika saat ini pemberitaan media massa dapat digiring dan dialihkan ke isu lain yang gaungnya bukan membuka borok-borok POLRI maka barangkali Presiden SBY dan Presiden Barack Hussein Obama bisa lebih “murah hati” untuk mempercepat kebaikan hati mereka mengabulkan permintaan-permintaan Polri dalam bentuk apapun.

Dugaan tentang adanya pengalihan isu ini adalah untuk mengikis habis resistensi yang dapat digelembungkan ke permukaan oleh kekuatan media massa.

Tampaknya, MABES POLRI menyadari kekuatan media massa dalam membentuk opini publik.

Padahal saat ini, Presiden SBY sedang mempertimbangkan usulan restrukturisasi itu.

http://katakamidotcom.files.wordpress.com/2010/03/neta-s-pane1.jpg?w=594

Foto : Neta S. Pane

Kepada KATAKAMI.COM Senin (22/6/2010), Neta S. Pane Ketua Presidium Indonesia Police Watch mengatakan bahwa usulan restrukturisasi yang diajukan Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri itu harus ditolak oleh Presiden SBY.

“Itu pemborosan bagi negara. Untuk apa Polri menghapus Polwil misalnya, tetapi strutur di atas dibuat menjadi sangat gemuk. Anggaran Polri akan terkuras untuk membayar gaji para jenderal itu. BHD sepertinya ingin berbaik hati kepada anggotanya sehingga pos-pos jabatan bagi para Jenderal diperbanyak” kata Neta S. Pane.

Neta S. Pane juga mengecam dengan keras rencana Kapolri Bambang Hendarso Danuri yang mau menempatkan Jenderal berbintang 2 memimpin Densus 88 Anti Teror.

“BHD ini semaunya sendiri saja merancang struktur organisasi Polri yang baru. Densus akan dipimpin Jenderal berbintang 2, lho untuk apa ? Pekerjaan Densus itu tidak setiap hari. Mereka hanya akan diturunkan kalau ada kasus terorisme. Densus memang harus ada di berbagai Polda agar ketika di daerah terjadi kasus terorisme maka anggota Densus dari Polda terdekat yang akan diterjunkan. Kalau sekarang Densus dibuat tidak punya pasukan di daerah, terlalu berlebihan dan terlalu besar jika posisi Kepala Densus diberikan kepada Jenderal berbintang 2″ kata Neta S. Pane.

Jadi menurut Neta S. Pane, draft perubahan struktur organisasi Polri yang baru memang harus ditolak dan jangan sampai disetujui oleh Presiden SBY.

“Kami mendapat copy dari draft susunan organisasi baru Polri yang dirancang BHD itu. Nanti akan ada 8 job untuk Jenderal berbintang 3 dan sedang dipertimbangkan untuk menempatkan Jenderal berbintang 3 juga untuk menjadi Staf Ahli. Selama ini Staf Ahli hanya untuk Jenderal berbintang 2. Kalau Staf Ahli untuk Jenderal berbintang 3 juga maka akan ada 9 kursi untuk Jenderal berbintang 3. Ini hanya akan memboroskan anggaran kepolisian jika terlalu banyak JENDERAL yang mau dibuat di Polri. Selama ini 60 persen anggaran Polri itu tersedot untuk operasional. Jika struktur baru yang akan menghasilkan sekitar 240 JENDERAL di tubuh Polri, maka nantinya anggaran Polri akan tersedot sebagai 80 %. Besar sekali pemborosannya !” lanjut Neta S. Pane.

Neta S. Pane juga mengkritik kebiasaan Polri meminta bantuan secara langsung dari AMERIKA SERIKAT.

“Ini tidak boleh dibiarkan oleh Pemerintah dan DPR. Polri tidak boleh seenaknya mengajukan proposal bantuan dalam bentuk apapun secara langsung kepada PEMERINTAH AMERIKA dan seluruh perangkatnya. Apalagi Densus 88 atau CRT yang sedang dipersiapkan itu. Kalau CRT juga atas didikan Amerika bahwa bisa-bisa CRT itu akan menjadi LASKAR AMERIKA yang tersusupkan di Indonesia. Harus ada kontrol yang kuat dari semua pihak bagi Polri jika hendak mendapatkan bantuan dari negara lain. Bahkan kalau perlu, tidak boleh lagi mengajukan secara langsung proposal bantuan apapun kepada AMERIKA. DPR harus mengawasi masalah ini. Apa-apaan itu, kalau cuma Polri saja yang mau menikmati semua bentuk bantuan dan pelatihan dari AMERIKA ?” ungkap Neta S. Pane.

Foto : (Kiri ke Kanan) Ariel Peterpan & Luna Maya

Sehingga kalau belakangan ini, gunjang ganjing video porno yang patut dapat diduga melibatkan sejumlah artis maka seluruh pemberitaan media massa saat ini tersedot pada 2 hal besar saja di tanah air tercinta ini yaitu Piala Dunia dan Video Porno.

Semua aib dan dugaan keterlibatan perwira tinggi Polri dalam sejumlah kasus pengemplangan pajak yang mencuatkan nama Gayus Tambunan, seakan tenggelam.

Raib di telan bumi.

Polri seakan menikmati tenggelamnya semua pemberitaan yang terus menerus menyudutkan mereka karena segala borok menjadi terpampang jelas di media massa.

Apalagi kekuatan-kekuatan Islam, misalnya Majelis Ulama Indonesia (MUI), Front Pembela Islam (FPI) dan berbagai unsur Islam lainnya, sangat keras mengecam gunjang ganjing video porno ini.

Densus 88 Anti Teror yang selama ini banyak terlibat dalam kasus-kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia yang mengorbankan umat Islam di Indonesia atas nama penanganan terorisme, seakan terselamatkan oleh situasi ini.

Contoh nyata adalah penembakan brutal di malam takbiran tahun 2006 yaitu Densus 88 Anti Teror (atas perintah dari seorang petinggi Polri) menembaki sebuah Pondok Pesantren di Poso, Sulawesi Tengah.

Komnas HAM menyatakan POLRI secara nyata telah melakukan PELANGGARAN HAM pada peristiwa penembakan di malam takbiran tahun 2006 di Poso.

Bukan TNI yang dinyatakan melakukan PELANGGARAN HAM oleh Komnas HAM atas peristiwa brutalisme itu, melainkan POLRI atau tepatnya Densus 88 Anti Teror Polri.

Kemudian, atas perintah dari petinggi Polri yang sama maka Densus 88 Anti Teror juga menembaki perumahan warga sipil di Poso tanggal 22 Januari 2007 yang menewaskan belasan warga sipil.

Densus 88 Anti Teror yang mengaku hendak menangkap orang-orang yang dididuga teroris serta masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) justru menewaskan belasan umat Islam yang namanya tidak termasuk dalam DPO.

Komnas HAM juga menyatakan bahwa POLRI telah melakukan PELANGGARAN HAM pada peristiwa yang brutal dan sadis ini bulan Januari 2007.

Sekali lagi, bukan TNI yang dinyatakan melakukan PELANGGARAN HAM oleh Komnas HAM atas peristiwa brutalisme itu, melainkan POLRI atau tepatnya Densus 88 Anti Teror Polri.

Jujur saja, memang ada tindakan-tindakan Densus 88 Anti Teror yang sudah sangat berlebihan dan merugikan umat Islam di Indonesia.

Ini fakta.

Ini realita.

Apa Kata Dunia Ada “Big Mafia” Di Indonesia, Sudah 2 Tahun Mejeng di BNN Copot Gories Mere

SBY Berantaslah Mafia Narkoba, GORIES MERE Buka Topengmu !

Jadi, jika memang saat ini ada ambisi tertentu dari Mabes Polri terkait restrukturisasi agar bisa mulus mendapat persetujuan Presiden SBY, ambisi itu tidak bisa dibiarkan melaju tanpa filter yang kuat dari fungsi kontrol sosial yang dimiliki oleh rakyat Indonesia lewat kekuatan media massa.

Presiden SBY jangan menyetujui usulan-usulan yang memang berpotensi untuk membebani bangsa dan negara.

Presiden SBY jangan menyetujui bagian-bagian tertentu dalam usulan restrukturisasi Polri, jika memang tidak tepat untuk difungsikan dalam organisasi Polri.

Polri juga jangan mengakal-akali gerak laju ambisi mereka ini dengan cara mengalihkan isu.

Bertugaslah dengan baik.

Jangan tutupi aib dan borok yang ada, dengan cara mengalihkan isu ke masalah-masalah pornografi.

Bereskan dan tertibkan dulu ke dalam organisasi Polri.

Bersihkan dulu dan tegakkan reformasi birokrasi di tubuh Polri, baru agresif menindak keluar.

Jadi jangan akal-akalan cari selamat dengan cara mengalihkan isu.

Apalagi mendramatisir isu pornografi. Dimana asas keadilan jika hanya satu sisi saja ingin menegakkan hukum ? Hendaklah Polri jangan seperti permainan sulap. SIM SALABIM .. hap, hilang semua pemberitaan negatif yang menyoroti semua aib dan borok anggota, dengan cara mengalihkan ke isu video porno.

Hap, hancurkan nama baik, karier dan reputasi artis-artis ternama, yang penting jenderal-jenderal Polri aman sentosa & selamat dari kejaran pemberitaan ?

Oh, malangnya para artis ternama ini.

Ini sama dengan tren menangkapi artis-artis lewat kasus-kasus narkoba tetapi POLRI tak berkutik dan tak bernyali menangkap PERWIRA TINGGI POLRI yang patut dapat diduga mencuri barang bukti narkoba dan menjadi beking MAFIA-MAFIA NARKOBA INTERNASIONAL di negeri ini ?

Memalukan …

(MS)

June 22, 2010 Posted by | news | | Comments Off

SBY Yang Tahu Misteri Kapolri Baru, Jusuf Mangga Atau Oegroseno ?

Dimuat juga di KATAKAMINEWSINDONESIA.WORDPRESS.COM

Jusuf Manggakah Kapolri Baru, Polri Percayalah Badai Pasti Berlalu

KOMJEN JUSUF MANGGA : TUGAS KAMI TINGKATKAN KESEJAHTERAAN

Oegroseno : Ada Pelanggaran Berat Kasus Aan, Polisi Tidak Boleh Melukai

Di “Negeri Para Bedebah” Aan Menang Melawan Mafia Narkoba, Mantap !

Jakarta 19/6/2010 (KATAKAMI) Sepekan terakhir ini, isu pergantian Kepala kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) mencuat ke permukaan. Terlebih karena Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) seolah “membocorkan” banyak Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri telah mengirimkan surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengajukan nama calon Kapolri sebagai penggantinya.

Publik mulai bertanya-tanya, siapakah Kapolri yang baru ?

Kapankah pergantian Kapolri dilakukan ?

Apakah pergantian itu dalam waktu dekat atau beberapa bulan ke depan ?

Rumors mengatakan bahwa pergantian Kapolri sepertinya akan dilakukan sekitar bulan Agustus mendatang.

Tapi rumors lain menyebutkan pergantian akan dilakukan sekitar bulan Oktober (bukan Agustus).

Informasinya memang simpang siur.

Tapi baiklah, isu seputar pergantian Kapolri ini menarik untuk dicermati.

Kebetulan, kami adalah salah satu media yang menyoroti secara tajam perkembangan di Kepolisian. Bahkan secara khusus telah memuat beberapa tulisan bahwa figur BHD hendaknya diberi kesempatan untuk menyelesaikan masa tugasnya di jajaran Kepolisian sampai memasuki masa purna bhakti (pensiun).

Foto : Kapolri BHD & Presiden SBY

BHD yang merupakan lulusan tahun 1974 ini akan resmi pensiun per tanggal 1 November 2010.

Artinya, ia memiliki waktu 5 bulan lagi untuk menjalankan amanahnya sebagai orang nomor 1 di jajaran Kepolisian Indonesia.

Jika BHD datang dari Angkatan 1974, orang berspekulasi bahwa penggantinya harus Angkatan yang jauh lebih muda.

Sebutlah misalnya dari Angkatan 1977 atau 1978.

Spekulasi tentang akan “berkibarnya” perwira tinggi dari Angkatan 1977 atau 1978 ini seakan menghapuskan peluang bagi Komjen Jusuf Manggabarani yang saat ini menjabat sebagai Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Wakapolri).

Komjen. Jusuf Manggabarani lulusan Angkatan Tahun 1975.

Secara administrasi, Komjen Jusuf Manggabarani akan pensiun per tanggal 1 Maret 2011.

Sempitnya masa tugas Komjen. Jusuf Manggabarabi dijadikan senjata pamungkas untuk memotong kesempatan bagi perwira tinggi yang dikenal sangat bersih, lurus, jujur dan berintegritas sangat tinggi ini.

“Wah jangan Jusuf Mangga yang jadi Kapolri, tahun depan dia sudah pensiun” begitu kira-kira bunyi komentar miring tersebut.

Foto : Wakapolri Jusuf Manggabarani (Angkatan 1975) yang dijagokan jadi Kapolri baru

Tapi ada fakta yang bisa mematahkan dan menghancurkan spekulasi alias komentar miring ini.

Hendarman Supandji yang saat ini menjabat sebagai Jaksa Agung, secara administrasi harusnya sudah memasuki masa pensiun pada bulan Mei 2007 yaitu semasa ia menjabat sebagai Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus).

Hendarman justru dipilih untuk menjadi Jaksa Agung menggantikan Abdul Rahman Saleh yang dicopot dari jabatannya.

Perpanjangan masa tugas Hendarman Supandji bukan cuma setahun.

Presiden SBY memperpanjang masa tugas Hendarman sampai 3 tahun berturut-turut yaitu periode 2007 ke 2008, 2008 ke 2009 dan 2009 ke 2010.

Perpanjangan masa tugas jabatan seperti itu juga pernah dilakukan Presiden SBY di jajaran Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Semasa Panglima TNI dijabat oleh Jenderal Endriartono Sutarto, masa tugasnya diperpanjang sampai 1,5 tahun.

Perpanjangan masa tugas itu dilakukan saat Presiden SBY memutuskan untuk tidak mencalonkan nama Jenderal Ryamizard Ryacudu selama calon Panglima TNI yang baru sehingga Jenderal Endriartono Sutarto yang diperpanjang masa tugasnya.

Perpanjangan masa tugas Panglima TNI selama 1,5 tahun itu (periode 2004-2006), akhirnya berakhir setelah nama Marsekal Djoko Suyanto ditunjuk untuk menjadi Panglima TNI yang baru.

Jadi tidak ada tradisi dalam kepemimpinan seorang SBY untuk tidak memperpanjang masa tugas bawahannya (jika memang menurut Presiden SBY masa tugas itu perlu diperpanjang demi kepentingan bangsa dan negara Indonesia).

Dan dalam sejarah perjalanan bangsa, pejabat Kapolri yang lama memang diberikan kesempatan untuk mengajukan nama calon penggantinya kepada Kepala Negara.

Pengajuan nama calon Kapolri tersebut, akan diajukan Kapolri yang masih bertugas secara tertulis kepada Presiden.

Tetapi, pengajuan nama calon Kapolri itu pernah ditolak oleh Presiden yang sedang berkuasa.

Foto : Neta S. Pane

Neta S. Pane selaku Ketua Presidium Indonesia Police Watch mengatakan kepada KATAKAMI.COM bahwa pengajuan nama calon kapolri itu tidak mutlak harus dituruti oleh Presiden.

“Dulu semasa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri, ada 3 nama calon Kapolri yang diajukan tetapi tidak ada satupun dari 3 nama itu yang disetujui oleh Presiden. Sehingga, Kapolri yang menjabat saat itu harus mengajukan 1 lagi nama baru sebagai calon Kapolri. Muncullah nama Dai Bahtiar. Akhirnya Presiden Megawati memilih Dai Bahtiar untuk menjadi Kapolri yang baru. Jadi, tidak ada jaminan bahwa nama-nama calon Kapolri yang diajukan oleh Kapolri yang lama akan dituruti” kata Neta S. Pane kepada KATAKAMI.COM dalam percakapan hari Sabtu (19/6/2010).

Sehingga kalau saat ini beredar kabar bahwa Kapolri Jenderal BHD sudah mengirimkan surat kepada Presiden SBY mengenai usulan nama-nama calon Kapolri yang baru, hal itu tidak menjadi jaminan yang resmi bahwa nama-nama itu otomatis akan terpilih.

Belum tentu terpilih.

Tetapi peluang untuk dipilih tetap terbuka lebar.

Foto : Presiden SBY

Paling tidak, kalau namanya sudah diusulkan untuk dipertimbangkan Kepala Negara menjadi (bakal) calon Kapolri maka Presiden SBY akan menimbang-nimbang semua aspek mengenai nama-nama yang diusulkan itu.

Jadi kalau sekarang ditanyakan, siapakah yang akan menjadi Kapolri yang baru menggantikan Jenderal Bambang Hendarso Danuri maka jawabannya sangat tegas dan lugas yaitu hanya Presiden SBY yang tahu.

Paling tidak, akan ada 3 pejabat tinggi negara yang akan diganti dalam beberapa bulan ini yaitu Jaksa Agung, Panglima TNI dan Kapolri.

Jaksa Agung diganti karena memang sudah saatnya ia diganti (sekali lagi, Hendarman Supandji merupakan satu-satunya ”penghuni” di Kabinet SBY yang telah diperpanjang masa tugasnya selama 3 tahun berturut-turut).

Panglima TNI yang saat ini dijabat Jenderal Djoko Santoso akan memasuki masa pensiun per tanggal 1 Oktober 2010.

Kapolri Jenderal BHD akan pensiun per tanggal 1 November 2010.

Tidak ada kewajiban bagi Presiden SBY untuk menunggu sampai masing-masing pejabat tersebut resmi pensiun.

Presiden SBY memiliki hak prerogatif untuk memberhentikan dan menunjuk pejabat baru kapanpun juga.

Sehingga kalau saat ini, ada 3 pejabat tinggi negara yang siap menunggu waktu yang paling tepat untuk “di eksekusi” masa jabatannya maka semua dikembalikan kepada Presiden SBY.

Foto : (Kiri ke Kanan) Hendarman Supandji, Jenderal Djoko Santoso & Jenderal BHD

Kapan, SBY merasa ingin mengganti ketiga pejabat penting itu ?

Apakah pergantian itu dilakukan satu per satu atau sekaligus dalam waktu yang bersamaan ?

Kalaupun Presiden SBY ingin mengganti salah satu dari ketiga pejabat itu dalam waktu dekat, siapakah yang akan diganti lebih dahulu ?

Jaksa Agung, Panglima TNI atau Kapolri ?

Khusus untuk Panglima TNI dan Kapolri, sesuai dengan UU maka Presiden harus mendapatkan PERSETUJUAN dari DPR jika hendak memberhentikan pejabat lama (Panglima TNI dan Kapolri) dan jika hendak mengangkat pejabat baru dari kedua instansi penting itu.

Tampaknya publik harus bersabar untuk menunggu kapan akan dilakukan pergantian di jajaran Kejaksaan Agung, TNI dan Polri.

Bahkan secara khusus, bersabar untuk mengetahui Angkatan berapa dari institusi Polri yang akan diberi kesempatan untuk menggantikan Jenderal BHD sebagai Tri Brata 1 (Kapolri).

Komjen Jusuf Manggabarani dari Angkatan 1975 kah ?

Foto : Irjen Oegroseno

Irjen Oegroseno dari Angkatan 1978 kah ?

Nama Irjen Oegroseno mulai jadi bahan “pergunjingan” yaitu berpeluang besar menjadi Kapolri.

Saat ini, Oegroseno menjabat sebagai Kapolda Sumatera Utara.

Sebelumnya, Oegroseno adalah Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri.

Ia figur yang sangat tenang tetapi tegas.

Ia tak segan-segan menyatakan bahwa Polri jangan melukai dan merugikan anggota masyarakat. Hal ini disampai Oegro saat menangani kasus rekayasa narkoba yang menimpa diri Aan.

Foto : Aan (berbaju kuning) korban rekayasa narkoba

 

BAP Cacat Hukum, Dakwaan Aan Dibatalkan

 

Aan adalah korban rekayasa narkoba yang dipukuli dan ditelanjangi di hadapan 3 oknum polisi di Gedung Artha Graha pada bulan Desember 2009.

Oegro dikenal sebagai muslim yang taat tetapi sangat “diterima” oleh anggota masyarakat yang non muslim.

Hal ini tampak jelas, saat ia menjabat sebagai Kapolda Sulawesi Tengah.

Jika Oegro yang berpeluang menjadi Kapolri maka perwira tinggi bintang 2 ini, harus dicarikan pos jabatan bintang 3 agar tahapan kenaikan pangkatnya menjadi bintang 4 bisa segera terlaksana.

Mari sama-sama kita menunggu, apakah nama Oegroseno akan masuk dalam daftar mutasi di tubuh Polri dalam waktu ke depan ini.

Tidak mungkin dari pangkat Irjen, bisa ujug-ujug alias tiba-tiba menjadi Jenderal bintang 4.

Kemanakah Oegro akan ditempatkan, jika langkah penugasannya memang akan dibukakan menuju kursi Tri Brata 1 ?

Bisik-bisik menyebutkan bahwa besar kemungkinan Oegro akan menjadi Kepala Badan Pembinaan & Keamanan (Babinkam) Polri menggantikan Komjen. Imam Haryatna.

Jika Oegro memang di plot menjadi Kababinkam Polri, pangkatnya akan menjadi Komisaris Jenderal (Komjen).

Oegro yang memang sangat tegas, berani tetapi mampu tetap tenang dalam menjalankan semua tugas-tugas pentingnya akan bersaing ketat dengan nama Komjen Jusuf Manggabarani menjadi Tri Brata 1.

Jusuf Mangga dan Oegroseno sama-sama tegas, lugas dan tak perlu diragukan lagi integritasnya.

Latar belakang keduanya yang pernah sama-sama menjadi pejabat di bidang pengawasan / pengamanan memang menjadi kunci penting keberhasilan mereka memimpin institusi sebesar Polri.

Jusuf Mangga pernah menjadi Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum).

Oegroseno pernah menjadi Kepala Divisi Propam Polri.

Jusuf Mangga pernah menjadi Kapolda (di Sulawesi Selatan).

Oegroseno saat ini masih menjalankan tugasnya sebagai Kapolda Sumatera Utara tetapi tahun 2006 ia sudah pernah menjadi Kapolda di Sulawesi Tengah.

Walau Jusuf Mangga dari Angkatan yang lebih senior yaitu 1975 (sedangkan Oegro dari Angkatan 1978), semua itu tergantung kepada Presiden SBY.

Tak ada jaminan bahwa yang lebih muda akan lebih besar peluangnya.

Tak ada aturan dan ketentuan tertulis yang mengkotak-kotakkan latar belakang Angkatan dari calon Kapolri yang akan dipilih.

Semua tergantung pada Presiden SBY, siapa yang akan dipilihnya menjadi Kapolri baru menggantikan Jenderal Bambang Hendarso Danuri ?

Jusuf Manggabarani ?

Atau Oegroseno ?

Kedua calon ini, sama-sama bagus.

Istilahnya, bibit bebet dan bobot dari kualitas diri dari kedua nama tersebut memang pantas diacungi jempol.

Polri membutuhkan pemimpin baru yang tegas, berani dan berintegritas tinggi.

Polri membutuhkan pemimpin baru yang sangat mampu menindak anggota-anggota atau bawahannya yang “nakal” dan “liar”.

Apalagi jika memang ada oknum polisi yang rakus mencari uang tambahan untuk kebutuhan hidupnya dari cara-cara yang tidak tepat.

Misalnya dari pembekingan kasus-kasus narkoba (seperti kasus Aan yang sempat di tangani Irjen Oegroseno di masa-masa akhir jabatannya sebagai Kadiv Propam Polri).

Semoga Presiden SBY mempertimbangkan betul-betul bibit bebet bobot dari calon Kapolri yang baru.

Pilihlah yang memiliki rekam jejak penugasan sangat bagus dan benar-benar tidak bermasalah sepanjang kariernya di Kepolisian.

Jangan salah pilih.

Jangan asal pilih.

Mau Jusuf Mangga atau Oegroseno, monggo silahkan Bapak Presiden.

Keduanya memang polisi-polisi terbaik yang dapat diandalkan memimpin Polri dan melanjutkan program reformasi birokrasi.

Apakah Oegro akan melanjutkan “tradisi” yang selama ini terjadi yaitu beberapa mantan Kapolda Sumatera Utara bisa menjadi Kapolri di puncak kariernya ?

Contoh yang sangat nyata adalah Jenderal Sutanto dan Jenderal Bambang Hendarso Danuri. Sutanto dan BHD, sama-sama pernah menjadi Kapolda Sumatera Utara.

Jika Oegro yang menjadi Kapolri maka “tradisi” dari Sumut ke Tri Brata 1 akan berulang kembali.

Tetapi, yang sulit ditandingi oleh Oegro dan perwira tinggi lainnya di jajaran kepolisian adalah faktor ketegasan dari figur Jusuf Manggabarani.

Walau Oegro dikenal tegas dan berani, kualitas dan kemampuan Jusuf Mangga masih jauh di atas Oegro.

Sehingga, Presiden SBY memang harus memilih yang terbaik dari yang memang baik dari kedua nama yang menguat peluangnya ini untuk menjadi Kapolri baru.

Ibarat menghitung kancing baju, Oegro, Jusuf Mangga, Oegro, Jusuf Mangga … ?

Jawabannya tergantung dari berapa buah “kancing baju” yang dikenakan Presiden SBY.

Pilihlah yang berkemampuan sangat tinggi membawa Polri ke arah yang jauh lebih baik dan bermartabat.

(MS)

June 19, 2010 Posted by | news | , , , | Comments Off

Jusuf Manggakah Kapolri Baru, Polri Percayalah Badai Pasti Berlalu

 

DIMUAT JUGA DI KATAKAMI.COM

 

WAWANCARA EKSKLUSIF KOMJEN JUSUF MANGGA : TUGAS KAMI TINGKATKAN KESEJAHTERAAN

The Rising Star Itu Bernama Jusuf Manggabarani & Pantas Jadi Kapolri

Anti Klimaks HANI, Datuk Gories Mere Siapkah Ditolak Ulama Islam Lagi ?

Jakarta 13/6/2010 (JAKARTA)  Salah satu jabatan penting yang akan segera di serah-terimakan dalam waktu dekat ini dalam struktur organisasi Polri adalah Metro 1.

Istilah Metro 1 (Satu) adalah istilah yang lazim untuk jabatan Kapolda Metro Jaya.

Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri mengeluarkan keputusan untuk mengangkat Irjen Timur Pradopo sebagai Kapolda Metro Jaya. 

Irjen Wahyono yang selama ini menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya, akan segera berpindah ke kantornya yang baru di Mabes Polri sebagai Kepala Badan Intelijen & Keamanan (Kabaintelkam).

Promosi bagi Wahyono ke Badan (Divisi) Intelijen & Keamanan sudah bisa ditebak oleh banyak pihak.

Sebab Wahyono memang berlatar belakang intelijen.

Foto kiri ke kanan : Irwasum Komjen Nanan Sukarna, Kabaintelkam Irjen Saleh Saaf & Kapolri BHD

 

Wahyono menggantikan pejabat lama yaitu Irjen. Saleh Saaf yang bersiap memasuki masa pensiun.

Tetapi sesungguhnya, jaringan yang selama ini sudah dibangun dengan sangat baik oleh Irjen Saleh Saaf selama memimpin Badan Intelijen & Keamanan Polri jangan disia-siakan begitu saja.

Saleh Saaf bisa diberdayakan oleh Badan Intelijen Negara (BIN) karena Kepala BIN Jenderal Polisi (Purn) Sutanto pasti akan sangat terbantukan oleh keberadaan dari “intel” sekelas Saleh Saaf.

BIN memang memungkinkan bagi perwira tinggi yang sudah purna bhakti untuk melanjutkan pengabdiannya kepada bangsa dan negara di instansi intelijen ini.

Intelijen Indonesia harus diperkuat oleh orang-orang memang menguasai bidang ini secara baik dan benar.

Sekarang kembali ke soal Irjen Wahyono.

Setelah sukses menjalankan tugasnya sebagai Kapolda Metro Jaya, Wahyono yang berkumis lebat ini akan mendapat tugas yang jauh lebih berat yaitu sebagai pimpinan bagi armada “intelijen” Kepolisian Indonesia.

Ini bukan tugas yang ecek-ecek.

Ini tugas yang sangat strategis.

 

Foto : Irjen Wahyono yang akan menjadi Kabaintelkam baru di Mabes Polri

Termasuk menjadi penentu, jadi atau akan tertunda lagikah kunjungan kenegaraan Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama pada bulan November 2010 mendatang.

Kalau selama ini, Obama sudah menunda sebanyak 3 kali rencana kedatangannya ke Indonesia maka pertanyaannya akan ditunda lagikah rencana kunjungan itu pada bulan November mendatang.

Penundaan kunjungan itu sudah dilakukan Obama pada bulan November 2009, Maret 2010 dan Juni 2010. 

Faktor keamanan adalah faktor kunci bagi terwujudnya rencana kunjungan Presiden Obama.

Obama adalah seorang kepala negara dari sebuah negara adidaya.

Sekecil apapun ancaman di negara yang akan dikunjunginya, perangkat keamanan dan dinas intelijen Amerika pastilah akan sangat memperhitungkan dan mempertimbangkan sedalam-dalamnya.

Foto : Presiden Barack Obama sekeluarga

Sehingga, Wahyono mendapat tugas yang tak ringan begitu menjabat sebagai Kepala Badan Intelijen & Keamanan (Kabaintelkam) di Mabes Polri.

Bukan Obama yang tak mau atau tak sudi datang.

Tetapi, negara sebesar AMERIKA pasti akan sangat mengedepankan faktor keamanan bagi keselamatan dan kelancaran kunjungan Kepala Negaranya ke manca negara.

Keselamatan dan kelancaran kunjungan Presiden Obama ke Indonesia, tidak tergantung dari seberapa banyak (orang yang diduga sebagai) teroris di udak-udak atau ditembak mati.

Bukan, pasti bukan tergantung pada faktor itu !

Justru kalau dibuat sangat heboh dan “berisik” sekali dengan gunjang ganjing terorisme, bisa-bisa rencana kunjungan kenegaraan ke Indonesia ini hanya tinggal angan-angan SBY saja.

Ini harus dicermati oleh BIN, TNI dan Mabes Polri.

Hingar bingar masalah terorisme, jangan lagi terlalu “merdu” bernyanyi di permukaan “pemberitaan” media massa dalam kehidupan kita sebangsa dan senegara.

Dibuat landai-landai sajalah.

Jadi khusus untuk penunjukan dan pengangkatan Irjen Timur Pradopo sebagai Kapolda Metro Jaya yang baru, mari kita berikan ucapan “selamat datang” kepada Metro Satu yang baru ini.

Timur Pradopo lulusan Akpol Angkatan 1978 ini  di spekulasikan menjadi cikal bakal Kapolri. Bahkan ada pendapat semacam ini, “Semakin jelas siapa Kapolri baru, dengan ditunjuk dan diangkatnya Irjen Timur Pradopo sebagai Kapolda Metro Jaya”.

Wah ?

Ya bolehlah pendapat seperti itu dikemukakan.

Foto : Irjen Timur Pradopo 

Sah sah saja. 

Sebab siapapun juga berpeluang menjadi Kapolri yang baru menggantikan Jenderal BHD yang bersiap memasuki masa purna bhakti dalam waktu beberapa bulan ke depan. 

Tetapi untuk menduduki jabatan Kapolri, haruslah yang sudah matang dalam perjalanan kariernya.

Jangan hanya karena memiliki kedekatan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) karena kabarnya pernah bersama-sama menjalankan tugas negara sebagai Pasukan Perdamaian Indonesia di kancah internasional di masa silam, maka faktor ini seakan “diaminkan” untuk menjadi jalan mulus Timur Pradopo sebagai Kapolri baru.

Sebab kalau hanya mengandalkan faktor “tak resmi” semacam itu, sistem kerja di Polri bisa acak-acakan.

Lagipula, penugasan terbaru bagi  Timur Pradoro didepan mata ini adalah sebagai Kapolda Metro Jaya.

Ini jabatan yang sangat amat penting sekali.

Ini jabatan yang begitu strategis dan benar-benar menantang.

Tunjukkan dan buktikan dulu bahwa Timur Pradopo bisa menjalankan tugas mulia ini dengan sebaik-baiknya.

Sebab orang akan berkata dengan sini, “Ya, jadi Kapolda Metro Jaya saja belum ada prestasinya, sudah mau jadi Kapolri ?

Foto : Irjen Timur Pradopo & Irjen Susno Duadji saat sertijab Kapolda Jawa Barat (2008)

Irjen. Timur Pradopo sudah membuktikan keberhasilannya menjadi Kapolda Jawa Barat.

Ia menjabat sebagai Kapolda Jawa Barat menggantikan seniornya dari Angkatan 1977 yaitu Komjen Susno Duadji yang kini mendekam di dalam penjara Mako Brimob.

Saat Susno menjabat sebagai Kapolda Jawa Barat, ia ditarik ke Mabes Polri dan di promosikan sebagai Kepala Badan Reserse & Kriminal (Kabareskrim) Mabes Polri.

Kini, tantangan baru yang lebih besar diberikan kepada Timur Pradopo untuk memimpin wilayah.

DKI Jakarta, tidak seperti Jawa Barat atau wilayah lainnya.

Dinamika dan tantangan tugas di wilayah ibukota ini dari sisi keamanan, jauh lebih kompleks dibanding wilayah-wilayah lain.

Saatnya Timur Pradopo membuktikan, ia mampu menjadi Metro Satu yang handal, profesional dan proporsional.

Jangan biarkan spekulasi berkembang bahwa kedekatan dan faktor kebetulan yang ia miliki yaitu pernah sama-sama bertugas dengan SBY di masa lalu dalam misi mulia Pasukan Perdamaian di sebuah negara asing, bukan menjadi faktor tunggal karier gemilangnya di masa kini dan masa depan.

Selamat datang Metro Satu yang baru.

Selamat datang Jenderal ! 

Selamat bertugas !

Foto : Pelantikan Komjen Jusuf Manggabarani sebagai Wakapolri yang baru (Januari 2010)

Dan kalau kita berbicara soal siapa figur tepat menjadi Kapolri baru untuk segera dipertimbangkan Presiden SBY menggantikan Jenderal BHD maka jawaban yang paling tepat adalah Komjen. Jusuf Manggabarani.

Jusuf Mangga lulusan Akpol Angkatan 1975 saat ini menjabat sebagai Wakil Kepala Kepolisian RI (Wakapolri).

Sebelum menjadi Wakapolri, Jusuf Mangga adalah Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum).

Ia dikenal sangat bersih, lurus, kaku, susah tersenyum, jujur dan memiliki integritas yang sangat tinggi.

Siapapun yang menjabat sebagai Kapolri, nama Jusuf Mangga selalu menjadi bawahan yang sangat diandalkan oleh masing-masing Kapolri untuk menjalankan tugas yang diberikan kepada Jusuf Mangga.

Jusuf Mangga memang sangat kaku dan susah tersenyum.

Padahal ia memiliki rasa humor yang cukup tinggi.

Kita bisa membayangkan raut wajah Jenderal BHD yang cencerung tampan, ramah dan “cukup manis” untuk di lihat.

Tetapi sesungguhnya kalau sedang berduaan, Wakapolri Jusuf Manggalah yang banyak melemparkan guyon sehingga membuat Kapolri BHD bisa tertawa setengah mati.

Foto : Komjen. Jusuf Manggabarani

Selain karena guyonan Jusuf Mangga memang lucu, Wakapolri ini bisa bergurau dengan wajah yang “tanpa ekspresi” yaitu tetap serius dan tanpa senyum.

Jusuf Manggalah yang saat ini paling senior di kalangan Perwira Tinggi Polri dari nama-nama yang bisa diperhitungkan sebagai kandidat Kapolri baru.

Rekam jejaknya yang terbukti sangat baik selama ini, pantas untuk dijadikan bahan pertimbangan bagi Presiden SBY untuk memilih dan memutuskan nama Jusuf Manggabarani sebagai satu- satunya calon Kapolri yang akan diajukan ke Dewal Perwakilan Rakyat (DPR).

Sesuai dengan UU Kepolisian, pemberhentian Kapolri lama dan pengangkatan Kapolri baru harus mendapatkan PERSETUJUAN dari DPR.

Sehingga, rasa penasaran tentang siapa calon terbaik yang bisa menjadi Kapolri baru sepertinya memang tertuju pada nama Jusuf Manggabarani.

Timur Pradopo boleh saja disiapkan sebagai Kapolri baru tetapi sebaiknya penunjukan atas diri Timur Pradopo ditentukan setelah melihat kinerja perwira tinggi yang satu ini dalam memimpin wilayah di ibukota Jakarta.

Mampu atau tidak menjadi Kapolda Metro Jaya.

Kalau mengamankan Jakarta tidak bisa, bagaimana mau mengamankan Indonesia ?

Lagipula tak cuma Timur Pradopo yang pernah menjadi rekan seperjalanan SBY dalam tugas menjalankan misi Pasukan Perdamaian puluhan tahun silam, ada nama lain yang juga bisa di timang-timang dan dipertimbangkan yaitu Kabareskrim Komjen Ito Sumardi.

Neta S. Pane selaku Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW) mengatakan, “Timur Pradopo dan Ito Sumardi kan dianggap kenal sama SBY karena mereka pernah menjadi rekan seperjalanan SBY waktu sama-sama jadi anggota Pasukan Perdamaian, jadi makanya nama-nama ini yang dianggap beruntung dalam masa pemerintahan SBY” kata Neta S. Pane kepada KATAKAMI.COM dalam sebuah percakapan beberapa waktu lalu. 

HUT Polri yang ke 64 tanggal 1 Juli 2010 ini adalah HUT Polri yang terakhir bagi Jenderal BHD sebagai KAPOLRI.

Inilah saat terakhir bagi BHD mengikuti HUT Polri atau Peringatan Hari Bayangkara dalam kapasitasnya sebagai Tri Brata 1 (Kapolri)

Tahun depan, BHD sudah tak lagi berdiri di mimbar kehormatan itu sebab juniornya yang akan mengambil alih tongkat kepimpinan sebagai Tri Brata 1.

Selamat menyambut Hari Bayangkara.

Dan selamat menyambut datangnya realisasi kebijakan RENUMERASI (kenaikan gaji berdasarkan prestasi kerja).

Kado yang terbaik bagi Polri bukan RENUMERASI ini tetapi kesungguhan untuk melakukan otokritik demi kemajuan Polri di masa yang akan datang.

Jadilah Bayangkara sejati yang profesional, proporsional, modern, bermoral dan bertanggung-jawab,.

Jadilah Bayangkara sejati yang mengedepankan kepentingan bangsa, negara dan rakyat Indonesia diatas kepentingan pribadi, kelompok dan golongan tertentu.

Indonesia dan seluruh rakyatnya pasti senantiasa mencintai Polri, sepanjang Polri bertugas demi kepentingan bangsa, negara dan rakyat Indonesia.

Polri yang berjanji untuk selalu menjadi pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat, harus benar-benar konsisten dalam upaya penegakan hukum dan memelihara kamtibmas dengan sebaik-baiknya.

Masa setahun belakangan ini adalah masa terberat bagi Polri.

Masa yang begitu kelam dalam sejarah perjalanan bangsa bagi Kepolisian secara institusi.

Dari mulai gunjang ganjing anekdot “CICAK BUAYA” sampai ke perseteruan institusi dengan perwira tingginya sendiri yaitu Komjen Susno Duadji.

Polri seakan “babak belur” di tengah minimnya gaji bagi para anggotanya yang seakan hidup dalam keterbatasan berkepanjangan.

Badai demi badai datang silih berganti menghantam Polri.

 

Foto : Kapolri BHD

Hidupkanlah kembali moral seluruh anggota Polri yang terombang-ambing dan ambruk karena hantaman-hantaman badai tadi.  

Presiden SBY perlu mempertimbangkan, apakah setuju atau tidak setuju dengan draft restrukturisasi Polri yang baru.

Setujuilah yang memang baik untuk Polri dan tidak membebani negara.

Tetapi bagian tertentu dalam setrukturisasi itu yang tidak perlu disetujui, jangan disetuju.

SBY harus mengingat bahwa sebagai kepala negara ia jangan pernah memberikan persetujuan untuk hal-hal yang belum saatnya disetujui atau yang tidak perlu disetujui (misalnya menjadikan jabatan Kepala Detasemen Khusus atau Densus 88 Anti Teror Polri dijabat oleh perwira tinggi berbintang 2).

Densus 88 Anti Teror ada sub unit yang terintegrasi dalam Bareskrim Polri.

Sudah, biarkan saja Densus 88 “duduk manis” disitu (didalam bagan organisasi Bareskrim Polri) dengan dipimpin oleh perwira tinggi berbintang 1.

Sudah bagus bisa jadi Jenderal dengan menjadi Kepala Densus 88 Anti Teror.

Di TNI, Komandan Satuan Penanggulangan Teror (Sat Gultor) bukan dari kalangan Perwira Tinggi.

Begitu juga Detasemen-Detasemen lain di militer.

Foto : Kapolri BHD bersalaman dengan Presiden SBY 

 

Jadi untuk Presiden SBY, jangan setujui sesuatu yang dapat menimbulkan masalah baru di kemudian hari.

Presiden SBY tampaknya juga tak perlu repot-repot mencari siapa pengganti Jenderal Polisi (Purn) Dai Bahtiar sebagai Duta Besar RI untuk Kerajaan Malaysia.

Jika nanti Jenderal BHD pensiun, perwira tinggi yang berpembawaan kalem ini bisa dipertimbangkan menjadi Duta Besar RI untuk Kerajaan Malaysia.

Jabatan Dubes RI di Kerajaan Malaysia ini, memang secara berturut-turut dipegang oleh para Mantan Kapolri yaitu Jenderal Polisi (Purn) Rusdihardjo dari tahun 2004-2006 dan Jenderal Polisi (Purn) Dai Bahtiar dari tahun 2006 sampai saat ini.

BHD yang baru-baru ini mendapat Gelar Kehormatan TAN SRI dari Kerajaan Malaysia, tentu akan sangat disambut dengan sangat baik dan hangat oleh pemerintah Malaysia jika ditunjuk sebagai Dubes disana.

BHD pasti akan sangat terharu menyambut dan mengikuti peringatan HUT Polri tahun ini.

Apalagi dari masa kepemimpinannya sebagai Kapolri sejak bulan Oktober 2008, masa setahun terakhir inilah masa terberat bagi Polri secara institusi.

Masa yang panen terhadap badai demi badai.

Segala jenis badai dihadapi dengan ragam tekanan yang sangat menekan dan begitu mengguncang bagi Polri secara institusi.

Tetapi percayalah, Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang tidak dapat ditanggung oleh umat ciptaan-Nya.

  

Dan percayalah juga bahwa setiap “BADAI PASTI AKAN BERLALU”.

Apa yang buruk dan memang menyalahi aturan, jangan diulangi.

Apa yang baik dan menjadi prestasi gemilang Polri selama ini, tingkatkanlah lebih giat lagi.

Selamat Hari Bayangkara, Polri.

Dirgahayu dan berjayalah selalu.

Selamat bertugas sambil menikmati alunan merdu lagu berjudul BADAI PASTI BERLALU ciptaan Erros Djarot  ini.

Percayalah bahwa setiap badai dalam kehidupan kita sebagai manusia, pasti akan berlalu !

(YOUTUBE) Berlian Hutauruk – Badai Pasti Berlalu

Awan hitam di hati yang sedang gelisah
Daun-daun berguguran
Satu satu jatuh ke pangkuan
Kutenggelam sudah ke dalam dekapan
Semusim yang lalu sebelum ku mencapai
Langkahku yang jauh

Kini semua bukan milikku
Musim itu telah berlalu
Matahari segera berganti

Gelisah kumenanti tetes embun pagi
Tak kuasa ku memandang dikau matahari

Kini semua bukan milikku
Musim itu telah berlalu
Matahari segera berganti

Badai pasti berlalu
Badai pasti berlalu

Badai pasti berlalu
Badai pasti berlalu

(MS)

June 13, 2010 Posted by | news, Uncategorized | , , | Comments Off

Anti Klimaks HANI, Datuk Gories Mere Siapkah Ditolak Ulama Islam Lagi ?

 

DIMUAT JUGA DI KATAKAMI.COM & KATAKAMINEWSINDONESIA.WORDPRESS.COM
Denny Indrayana tuding Komjen GM tak dukung kasus Aan diselesaikan
Denny Indrayana : Di Balik Kasus Aan Ada Big Mafia !

Jakarta 11/6/2010 (KATAKAMI) Barangkali ada yang bingung, apa yang dimaksud dengan HANI yang tertera pada judul tulisan ini. HANI adalah HARI ANTI NARKOBA INTERNASIONAL.

Lagi-lagi, puncak peringatan HARI ANTI NARKOBA INTERNASIONAL (HANI) tahun 2010 ini akan mengalami anti klimaks yang sangat memprihatinkan.

Sebab Presiden Susilo Bambang Yudhoyobo masih mempertahankan Komjen. Gories Mere sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN).

Puncak peringatan HANI akan diadakan setiap tanggal 26 Juni setiap tahunnya.

Yang menjadi pertanyaan, untuk apa Indonesia berpartisipasi merayakan Peringatan HARI ANTI NARKOBA INTERNASIONAL kalau patut dapat diduga pejabat yang ditunjuk memimpin BNN adalah orang yang dianggal sangat bermasalah dalam kasus-kasus narkoba di negeri ini ?

Untuk apa, Presiden SBY membentuk Satgas Pemberantasan Mafia Hukum kalau temuan-temuan mereka tentang indikasi pelanggaran hukum dari mata rantai kemafiaan, justru tidak didengar dan tidak ditanggapi ?

Presiden SBY hanya akan menjadi bahan olok-olok kalau orang yang dipertahankan dan dibiarkannya memimpin BNN adalah petinggi Polri yang namanya patut dapat diduga terkait pelanggaran-pelanggaran hukum di bidang narkoba.

undefined

Apa Kata Dunia Ada “Big Mafia” Di Indonesia, Sudah 2 Tahun Mejeng di BNN Copot Gories Mere

SBY Berantaslah Mafia Narkoba, Gories Mere Buka Topengmu !

Lalu, apa hubungannya Ulama Islam siap menghadang (Datuk) Gories Mere dengan Peringatan HARI ANTI NARKOBA INTERNASIONAL ?

Sabar, nanti akan dijelaskan satu persatu.

Dan kata “Datuk” kami cantumkan pada nama Komjen Gories Mere karena Perwira Tinggi Flores yang pernah diturunkan pangkatnya menjadi KOMBES kembali (dari Brigjen) di era Presiden Megawati karena dinilai tidak pantas menjadi perwira tinggi, beberapa hari lalu mendapat gelar kehormatan dari sebuah negara tetangga Indonesia.

Gelar Kehormatan “Datuk” diberikan atas JASA-JASA Gories Mere dalam kerjasaan di bidang narkoba.

Kasihan betul ya, oknum yang patut dapat diduga bermasalah dalam kasus-kasus narkoba justru diberi gelar kehormatan di bidang pemberantasan narkoba.

Baiklah, mari kita mulai satu persatu pembahasannya.

Kami sudah bolak-balik menuliskan lewat KATAKAMI.COM ini bahwa pemerintah harus tegas menangani dan menindak Perwira Tinggi Polri yang patut dapat diduga namanya memang tersangkut dalam kasus-kasus narkoba.

Apalagi kasus-kasusnya bukan kasus-kasus usang yang sudah berdebu dan lapuk.

Sampai langit runtuh, kami akan soroti masalah dugaan keterlibatan Komjen Gories Mere dalam mata rantai kasus-kasus narkoba di negeri ini.

Tidak ada unsur kebencian pada diri kami sebagai jurnalis sebab PERS NASIONAL juga berkewajiban melakukan kontrol sosial kepada para pejabat.

Mustahil dibiarkan merajalela oknum JENDERAL POLRI yang memang patut dapat diduga sangat bermasalah dalam hukum yaitu dalam kasus-kasus narkoba.

 

http://www.primaironline.com/images_content/2010224AAN%20Satgas.JPG 

Tamparan Keras Dari AMNESTY INTERNASIONAL Bagi POLRI

Inikah Kisah Klenik Selingkuh Polwan Vivick Tjangkung & Gories Mere?

Heboh Penjara Ayin & Cece, Reformasi BNN, Copot Gories Mere

 

Contoh nyata saja, bulan Januari 2010 Satgas Pemberantasan Mafia Hukum menyebut nama Gories Mere menghalangi (membekingi ?) agar kasus rekayasa narkoba yang menimpa diri Aan tidak bisa diselesaikan.

Tapi ternyata upaya ini sia-sia.

Kasus AAN tetap diproses secara hukum dan akhirnya “MENANG MUTLAK” di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan membatalkan seluruh dakwaan terhadap mantan karyawan PT Maritim Timur Jaya Susandhi bin Sukatna alias Aan. Hakim menilai BAP penggeledahan badan dan pakaian cacat hukum.

“Karena BAP cacat demi hukum, maka dakwaan haruslah dinyatakan dibatalkan demi hukum,” ungkap Hakim Ketua Artha Theresia, Senin (17/5/2010), di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Selanjutnya, Aan dibebaskan dari tahanan Polda Metro Jaya dan berkas dikembalikan ke jaksa penuntut umum dengan biaya perkara ditanggung negara.

Majelis hakim menemukan adanya kejanggalan dalam BAP yang diajukan jaksa, diantaranya tanggal dikeluarkannya BAP tercantum 15 Desember 2010 sementara penggeledahan sudah terlebih dulu dilakukan pada tanggal 14 Desember 2010. Selain itu, terdapat ketidaksesuaian BAP.

Dalam BAP disebutkan narkotika ditemukan di kantong celana belakang kanan, sementara dalam persidangan disebutkan di dalam dompet. “Sehingga BAP ini tidak dibuat dengan sebenarnya,” ujar majelis hakim yang diketuai Hakim Arta Theresia.

Aan merupakan korban penganiayaan oknum perusahaan tempatnya bekerja beserta oknum Polda Maluku. Awalnya, Aan dipukuli kelompok orang tersebut karena tidak mau memberikan keterangan palsu yang diminta oknum tersebut terkait kasus kepemilikan senjata atasannya. Namun, saat penganiayaan tersebut Aan tiba-tiba ditelanjangi dan dituduh memiliki narkoba oleh oknum Polda Maluku. Aan terpaksa mendekam di tahanan Polda Metro Jaya dari tanggal 15 Desember 2009.

Kasus Aan ditengarai sarat dengan rekayasa. Bahkan, satgas mafia hukum memantau jalannya kasus ini. Komnas Ham pun sempat mengunjungi Aan di tahanan mencari informasi atas kasusnya.

 

Foto : Sekretaris Satgas Mafia Denny Indrayana

  

Sekretaris Satgas Mafia Hukum, Denny Indrayana, mengaku dibalik kasus Aan ada big mafia yang bekerja. Ia mengapresiasi hasil putusan hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang membebaskan Aan dari dakwaan kepemilikan narkoba. “Saya ingin apresiasi pada putusan ini karena majelis yang sudah mengeluarkan putusan yang sejalan dengan semangat pemberantasan mafia hukum,” ujar Denny, Senin (17/5/2010), di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Ia juga menilai di balik kasus Aan uni ada mafia yang merekayasa perkara. “Hal ini sedikit banyak dibuktikan dalam putusan tadi,” ujarnya setelah mengikuti langsung sidang vonis kasus Aan, mantan karyawan PT Maritim Timur Jaya, yang dituduh memiliki narkoba setelah dianiaya oknum perusahaan dan polisi.

Oleh karena telah dibuktikannya ada praktik mafia dalam kasus ini, Satgab Mafia Hukum akan mengkaji dan menginvestigasi lebih lanjut. “Hal ini tidak mudah karena praktek mafia hukum mungkin saja dilindungi polisi,” ujarnya.

Denny juga meminta pihak kepolisian dan kejaksaan untuk melakukan evaluasi dan penegakan disiplin terkait profesionalitas kerja polisi dan jaksa. Aan adalah korban penganiayaan karena tidak mau membuat BAP palsu yang diperintah orang kantornya terkait kasus kepemilikan senjata tajam yang dialami bos Aan.

Entah bagaimana, Aan pun dipukul dan tiba-tiba oknum polisi dan karyawan perusahaan menemukan narkoba di badannya. Akibatnya, Aan pun masuk bui per tanggal 15 Desember 2009 di Polda Metro Jaya sebelum akhirnya dinyatakan bebas oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

http://ardiroyya.files.wordpress.com/2010/03/pidato-sby1.jpg

Foto : Presiden SBY

Sekarang, dikembalikan kepada Presiden SBY selaku orang nomor satu di negeri ini, apakah tetap mau ngotot mempertahankan seorang perwira tinggi yang patut dapat diduga sangat bermasalah dalam kasus-kasus narkoba ?

Selain karena nama “Datuk” Gories Mere berulang kali tersangkut dalam kasus-kasus narkoba, Gories Mere pernah ditolak mentah-mentah oleh kalangan Ulama Islam tahun 2006 lalu saat ia hendak berusaha menjadi Kapolda Metro Jaya.

Jadi tidak mustahil, penolakan itu akan berulang kembali saat ini jika hendak (bermimpi) menjadi pejabat yang tinggi kedudukannya dari yang sekarang dalam struktur organisasi Polri.

Kasus-kasus yang melibatkan nama Gories Mere selama beberapa tahun terakhir ini adalah :

Tahun 2005, nama Gories Mere dikaitkan dengan PEMBUNUHAN SADIS pada bandar narkoba Hans Philip yang ditembak mati di bagian kepala saat berada didalam mobilnya di kawasan Bogor Jawa Barat.

Tahun 2006, nama Gories Mere patut dapat diduga dikaitkan dengan kasus PENCURIAN barang bukti narkoba SABU seberat 13,5 kg (yang kalau dijual akan mendapatkan keuntungan senilai Rp, 13,5 Miliar).

Ketika kasus pencurian ini terjadi, Kapolri yang saat itu menjabat yaitu Jenderal Polisi Sutanto marah besar atas hilangnya barang bukti ini dan memerintahkan agar “siapapun yang lancang dan liar mencuri barang bukti SABU itu” harus mengembalikannya segera ke gudang penyimpanan.

Setelah mengetahui betapa marahnya Kapolri Sutanto pada saat itu, delapan bulan kemudian barang bukti 13,5 kg SABU ini bisa tiba-tiba kembali ke tempatnya semula di gudang penyimpanan.

Tahun 2008-2009, nama Gories Mere dikaitkan dengan pembekingan kasus rekayasa bandar narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS yang ditangkap oleh MABES POLRI di Apartemen Taman Anggrek bulan November 2007 dengan barang bukti 1 juta PIL EKSTASI (yang kalau dijual bisa jadi akan mendapatkan keuntungan Rp. 1 TRILIUN).

Dalam kasus Monas ini, diakal-akali agar dari 9 orang bandar narkoba internasional yang ditangkap di Apartemen Taman Anggrek itu, maka cukup 3 orang saja yang diajukan berkasnya ke Kejaksaan. Sehingga jangan heran, hanya 3 orang saja yang diadili untuk kasus Taman Anggrek ini. Sisanya yaitu 6 orang lagi (terutama Bandar Narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS, sengaja diloloskan dari jerat hukum. 

Tahun 2009, Jaksa Agung Muda Pidana Umum (Jampidum) yang saat itu masih dijabat oleh Abdul Hakim Ritonga mengatakan bahwa pihaknya dihubungi oleh Pihak BNN yang berjanji akan “menangkap kembali” Bandar Narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS untuk bisa diajukan ke Pengadilan sesuai dengan kasus hukumnya yaitu kasus Taman Anggrek.

Tetapi sampai detik ini, Monas bebas merdeka tanpa perlu diadili oleh kasus Taman Anggrek. Sementara isterinya yang ikut ditangkap bulan November 2007 di Apartemen Taman Anggrek, sudah mendapatkan VONIS MATI dari Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat.

Tahun 2010, Satgas Pemberantasan Mafia Hukum lewat Sekretarisnya yaitu DENNY INDRAYANA secara tegas mengkritik sekeras-kerasnya indikasi yang dilakukan Komjen Gories Mere menghalang-halangi kasus rekayasa narkoba yang menimpa diri AAN diselesaikan secara baik dan benar.

http://katakamidotcom.files.wordpress.com/2010/03/82973_pelantikan_wakapolri1.jpg

Foto : Kapolri BHD melantik Komjen Jusuf Mangga sebagai Wakapolri baru (Januari 2010)

  

The Rising Star Itu Bernama Jusuf Manggabarani & Pantas Jadi Kapolri

Komjen Jusuf Manggabarani Tak Ingin Ingkari Kebenaran & Terus Lakukan Yang Terbaik

Sehingga, dalam mempertimbangkan nama-nama kandidat atau calon Kapolri baru untuk menggantikan Jenderal Bambang Hendarso Danuri yang dalam waktu dekat akan memasuki masa pensiunnya, maka Presiden SBY harus sangat hati-hati.

Ingatlah satu kejadian fatal yang terjadi pada tahun 2006 lalu yaitu saat nama GORIES MERE ditolak mentah-mentah dan dihadang oleh ULAMA ISLAM di Jabotabek untuk menjadi Kapolda Metro Jaya.

Di tahun 2006 itu, santer terdengar kabar bahwa Gories Mere “berambisi” untuk menjadi Kapolda Metro Jaya.

Diam-diam, Gories Mere mengundang sejumlah wartawan senior untuk makan malam bersama di sebuah Restoran Jepang.

Akan tetapi, salah seorang yang diundangnya tidak berkenan untuk datang dan justru menghubungi Pemimpin Redaksi KATAKAMI.COM Mega Simarmata yang kebetulan mengenal baik Kapolri (saat itu) Jenderal Polisi Sutanto. 

Wartawan senior itu mengabarkan bahwa Gories Mere sedang kasak-kusuk di kalangan wartawan senior dalam kaitan ambisi menjadi Kapolda Metro Jaya.

Beberapa hari kemudian, Mega Simarmata juga dihubungi oleh wartawan senior lainnya yang mengabarkan manuver-manuver Gories Mere untuk bisa menjadi Kapolda Metro Jaya. Wartawan senior itu juga menceritakan bahwa ia akan datang ke kediamanan pribadi Jenderal Sutanto guna menceritakan bagaimana manuver Gories Mere di kalangan pers untuk mencapai ambisinya menjadi Kapolda Metro Jaya.

Informasi-informasi ini, disampaikan Mega Simarmata kepada Kapolri Jenderal Polisi Sutanto untuk menjadi informasi informal bagi pimpinan POLRI (saat itu).

Tapi sesuai dengan pepatah lama, “Untung Tak Dapat Diraih, Malang Tak Dapat Ditolak”, ambisi Gories Mere kandas di tengah jalan.

Bukan karena informasi dan laporan dari kalangan pers yang mencium gelagat busuknya, tetapi ternyata di tahun 2006 itu ULAMA ISLAM di Jabotabek membuat semacam PETISI PENOLAKAN kepada Kapolri Jenderal Polisi Sutanto untuk menolak nama Gories Mere menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya.

Jenderal Sutanto tidak bisa menolak atau mengabaikan petisi penolakan ULAMA-ULAMA ISLAM ini.

Memang nama Gories Mere sangat “bermasalah” di kalangan Ulama Islam karena tindakan-tindakannya yang sangat melebihi batas dalam penanganan terorisme di INDONESIA selama beberapa tahun terakhir ini.

Di tangan Gories Mere, penanganan terorisme berubah wujud menjadi PELANGGARAN HAM dan pembantaian terhadap umat Islam.

Contoh nyata saja, penembakan dan serangan brutal ke Pondok Pesantren Al Amanah persis pada MALAM TAKBIRAN tahun 2006.  

undefined

Ulama Islam terkemuka di POSO, Ustadz Adnan Arsal pemimpin Pondok Pesantren Al Amanah

Bersuara Tentang Ustadz Abu Bakar Baasyir, Mari Lawan Semua “Terorisme”

Istana Mau Diledakkan ? Ngarang Aja, TNI Tidak Tidur Boss …

Periksa Gories Mere Skandal Madrid Korupsi Alat Sadap Israel

Persis di saat masyarakat di Tebang Rejo- Poso (Sulawesi Tengah) sedang mengumandang takbir ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR sebagai tanda berakhirnya bulan ramadhan yang maha suci, Tim Anti Teror Polri (atas perintah dari Pimpinan Tim Anti Teror Polri ketika itu yaitu Irjen Gories Mere, saat ini telah menjadi Kepala Badan Narkotika Nasional atau BNN dan telah berpangkat Komjen) menembaki sebuah PONDOK PESANTREN AL AMANAH pimpinan Haji Adnan Arzal.

Hebatnya lagi, penembakan BRUTAL di malam takbiran itu disiarkan langsung di sebuah televisi atas kebaikan hati petinggi Polri tersebut.

Alasan Tim Anti Teror Polri menembaki secara BRUTAL Pondok Pesantren Al Amanah itu adalah untuk mencari buronan-buronan terorisme yang masuk dalam DAFTAR PENCARIAN ORANG atau DPO.

Ternyata yang dicari tidak ada disana tetapi nasi sudah menjadi bubur.

Penembakan BRUTAL itu dikecam oleh semua pihak dan secara otomatis membuat situasi keamanan di POSO menjadi panas membara.

Saat itu Brimob “di usir” dari Sulawesi Tengah oleh masyarakat setempat karena tersinggung atas brutalisme ini.

Akibat memanasnya situasi keamanan di Poso, Kepala Badan Intelijen Negara Sjamsir Siregar terpaksa turun tangan dan berangkat ke Poso menggunakan pesawat khusus persis di hari LEBARAN PERTAMA (Tahun 2006).

Di Poso, Sjamsir sempat “mencari” Gories Mere tetapi Perwira Tinggi Flores ini bersembunyi alias tidak berani menampakkan diri ke hadapan Kepala BIN.

Pasca penembalan brutal di malam takbiran itu, Tim Independen dari Komisi Nasional (Komnas) Hak Azasi Manusia turun langsung ke lokasi dan dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama setelah melakukan investigasi maka di umumkan POLRI (dalam hal ini Tim Anti Teror Polri) telah melakukan PELANGGARAN HAM.

http://www.indonesiamedia.com/2007/02/early/berta/images/berta/peta_poso_high.gif

Kasus kedua adalah penembakan BRUTAL (juga terjadi di POSO -SULAWESI TENGAH) tanggal 22 Januari 2007.

Alasan dari Tim Anti Teror Polri pada RAID atau operasi penyerangan ini adalah untuk mencari buronan terorisme yang masuk dalam DPO.

Dan hebatnya lagi, penembakan ini kembali dilakukan atas perintah dari Gories Mere yang saat itu berada di Washington DC untuk sebuah tugas mendampingi pimpinannya di Mabes Polri yang sedang berkunjung ke Amerika Serikat.

Penembakan brutal yang membabi buta dari Tim Anti Teror Polri tanggal 22 Januari 2007 ini menewaskan 13 orang UMAT ISLAM di TANAH RUNTUH – POSO yang tidak bersalah. Dari korban tewas sebanyak 13 orang itu, tidak ada satupun yang masuk dalam DPO terorisme versi Polri.

VIDEO A SUASANA TEMBAKAN BRUTAL POLISI DI TANAH RUNTUH POSO ( 22 JANUARI 2007)

VIDEO B SUASANA TEMBAKAN POLISI DI TANAH RUNTUH POSO ( 22 JANUARI 2007)

Nyawa UMAT ISLAM POSO kembali melayang secara sia-sia akibat brutalime aparat keamanan Indonesia.

Tragegi berdarah yang sangat mengerikan di POSO itu adalah klimak dari brutalisme dari operasi pendahuluannya. Sebab 11 hari sebelum RAID atau operasi penyerangan itu dilakukan, tanggal 11 Januari 2007 Tim Anti Teror Polri telah menembaki juga lokasi perumahan warga Poso. Tetapi RAID ini dilanjutkan 11 hari kemudian dan memakan korban jiwa yang sangat banyak sekali.

Tim Independen dari KOMNAS HAM kembali diturunkan ke lokasi dan dari hasil investigasi mereka dinyatakanlah bahwa Tim Anti Teror Polri atau Densus 88 Anti Teror Polri telah melakukan pelanggaran HAM.

http://www.kontras.org/poso/pers/foto/2007-01-23.jpg

Komisi Orang Hilang & Korban Kekerasan (KONTRAS) saat itu (Januari 2007) juga menggelar jumpa pers yang mengecam kegagalan Presiden SBY menangani POSO yang antara lain menegaskan sebagai berikut :

Kami menyesalkan jatuhnya 13 korban sipil dan 1 anggota polisi yang tewas dalam penyergapan yang dilakukan oleh Polda Sulteng di Poso kemarin (22/1/2007). Akibatnya masyarakat ketakutan dan mengungsi meninggalkan Poso Kota. Di sisi lain, keluarga mendapatkan kesulitan untuk mengakses informasi atas keberadaan korban yang meninggal dan luka-luka. Polisi juga tidak mengumumkan secara terbuka identifikasi korban yang telah meninggal dunia maupun luka-luka.

Jatuhnya korban ini seharusnya dapat dihindari bila polisi tidak melakukan penyerangan terbuka di wilayah padat, penduduk Poso kota serta di waktu dimana masyarakat mulai sibuk beraktivitas.  Tindakan ini tidak dapat dilihat hanya sebagai upaya penegakan hukum, namun juga dapat dikategorikan penyerangan terhadap warga sipil yang menjadi elemen penting dari pelanggaran berat HAM. Ditambah, pendekatan kekerasan ini justru gagal menangkap para DPO dilapangan. Hal ini juga membuktikan lemahnya aparat intelejen dalam mengantisipasi kekerasan.

Kekerasan yang terjadi Poso ini tidak hanya dapat dilihat dari sisi Polri semata. Kekerasan yang terus berlangsung ini sesungguhnya menunjukkan Negara tidak memiliki Peta Perdamaian yang kongkrit dan gagal mengkonsolidasi kekuatan negara yang ada bagi penciptaan rasa aman.

Polri memang mempunyai kewenangan untuk melakukan upaya paksa termasuk penggunaan kekerasan dengan senjata. Namun, penggunaan kekerasan dengan senjata api tersebut tetap harus tunduk pada persyaratan yang ketat pada kode etik aparatur penegak hukum (Code of Conduct for Law Enforcement Official) maupun prinsip dasar tentang penggunaan kekerasan dan senjata api (Basic Principles on the Use of Force and Firearmas by law Enforcement Officials)  yang menjamin kekerasan itu terarah pada pihak yang mengancam sesuai dengan tingkat ancamannya baik bagi polisi maupun warga sipil yang seharusnya dilindungi. 

 

Maret 2007, Kepala Badan Intelijen Negara Sjamsir Siregar mengkritik tindakan Gories Mere yang memerintahkan penangkapan teroris di DI Yogyakarta (padahal Gories Mere sedang berada di Canberra, Australia).

Hal ini disampaikan langsung oleh Sjamsir Siregar kepada Pemimpin Redaksi KATAKAMI.COM Mega Simarmata dalam sebuah percakapan ketika itu.

Kepala BIN Sjamsir Siregar mengecam dengan keras ulah Gories Mere ini karena perintah lisan melakukan operasi-operasi penangkapan terorisme (tanpa didampingi atasan yang bertanggung-jawab) adalah sebuah tindakan yang sangat fatal.

Setelah mengetahui bahwa Kepala BIN mengecam keras tindakannya memerintahkan penyerangan dan penangkapan teroris secara lisan via telepon  dari luar negeri, Gories Mere yang didampingi Komandan Satgas Bom Brigjen Surya Darma langsung terburu-buru untuk pulang ke tanah air dengan menggunakan pesawat tercepat.

 Setibanya di Jakarta, dari Bandar Soekarno Hatta kedua orang ini langsung menuju kediamana dinas Kapolri Sutanto untuk “meminta perlindungan”.

Sebagai upaya untuk “menyelamatkan muka” setelah sebelumnya petantang petenteng memerintahan operasi penangkapan teroris untuk anak buahnya di level-level bawah tanpa didampingi komandan-komandan yang memiliki legitimasi untuk memimpin operasi, Gories Mere menjanjikan kepada Kapolri Sutanto untuk menangkap pimpinan Al Jamaah Al Islamyah.

Itulah sebabnya, periode Maret 2007 sampai Juni 2007, dilakukan operasi penangkapan terhadap para pimpinan Al Jamaah Al Islamyah.

Juni 2007, Gories Mere memimpin penangkapan terhadap Abu Dujana selaku Panglima Militer Al Jamaah Al Islamyah dan Zarkasih selaku Amir (Pimpinan) Al Jamaah Al Islamyah.

Tetapi saat itu, diam-diam Gories Mere melaporkan penangkapan ini untuk pertama kalinya bukan kepada Pemerintah Indonesia, melainkan kepada Pemerintah Australia. Abu Dujana dan Zarkasih ditangkap 9 Juni 2007 tetapi rakyat Indonesia baru diberitahu tanggal 13 Juni 2007.

Itupun setelah Pemerintah Australia mengumumkan “ucapan selamat” beberapa hari sebelumnya.

Saat itu, sumber KATAKAMI.COM di lingkungan Istana Kepresidenan menyebutkan Presiden SBY sangat tersinggung atas tindakan Gories Mere.

Penangkapan terhadap Abu Dujana (Juni 2007) juga sangat bermasalah.

Densus 88 Anti Teror menembak secara brutal ke arah paha Abu Dujana di hadapan anaknya yang masih berumur di bawah lima tahun.

Di hadapan anak-anak kecil ini yang masih di bawah umur inilah, Abu Dujana dihajar secara sadis dengan tembakan-tembakan peluru tajam.

Semua pihak mengecam brutalisme itu.

http://blogwawancaraeksklusifkatakami.files.wordpress.com/2010/03/20091118kapolri2.jpeg

Foto : Kapolri BHD & Wakapolri Jusuf Mangga yang dijagokan ideal menjadi Kapolri baru 

Sehingga, Presiden SBY harus hati-hati dan sangat teliti dalam memilih siapa yang akan menjadi Kapolri baru menggantikan Jenderal Bambang Hendarso Danuri.

Pilihlah yang kredibel, profesional, memiliki integritas yang sangat tinggi, dapat diterima oleh semua kalangan (terutama oleh kalangan Umat Islam danULAMA-ULAMA ISLAM), tidak rasis dan tidak terlibat dalam kasus-kasus hukum apapun, terutama dalam kasus-kasus narkoba atau brutalisme penanganan terorisme.

Kepada KATAKAMI.COM dalam wawancara di hari Kamis (10/6/2010), salah seorang aktivis Islam yaitu Fauzan Al Anshari mengatakan bahwa sulit bagi Gories Mere untuk mengulangi manuvernya mencapai jabatan tertentu dalam tubuh Polri.

“Wah, bagaimana dia mau jadi pimpinan di Polri, dulu mau jadi Kapolda Metro Jaya saja, semua Ulama Islam sudah bangkit berdiri untuk melakukan penolakan. Apalagi sekarang kalau misalnya mimpi jadi Kapolri. Saya heran ya, kok sepertinya pada buta matanya melihat berbagai tindakan Gories Mere yang patut dapat diduga berlebihan sekali kepada umat Islam.” kata Fauzan Al Anshari.

Fauzan Al Anshari betul sekali.

Pemerintah tidak bisa lagi membiarkan dan mendiamkan siapapun di dalam tubuh Polri yang patut dapagt diduga dianggap rasis dan bermasalah dalam kasus-kasus hukum.

Berbagai tuduhan PELANGGARAN HAM telah dikumandangkan oleh KOMNAS HAM kepada Polri atas kesalahan yang wajib di pertanggung-jawabkan oleh GORIES MERE dalam penanganan terorisme selama beberapa tahun terakhir ini.

Belum termasuk, ditemukannya KASET REKAMAN yang berisi rekaman presentasi (ilegal) Gories Mere di hadapan sejumlah pihak yang mengusung isu penanganan terorisme pada bulan JULI 2007.

Presentasi ini disebut ilegal karena Gories Mere tidak meminta izin kepada para pimpinan Polri untuk menggelar “ceramah” ngalor ngidul soal terorisme ke pihak luar.

Dalam presentasi itu, Gories Mere menuding TNI di balik peledakan-peledakan bom di Indonesia.

Bahkan dengan sangat berani, ia menyebutkan nama 2 Jenderal TNI terkait dalam Al Jamaah Al Islamyah.

Pemimpin Redaksi KATAKAMI.COM Mega Simarmata yang mendapatkan langsung KASET REKAMAN itu memperdengarkan dan menyerahkannya ke salah seorang Jenderal yang namanya difitnah Gories Mere.

Jenderal itu marah besar dan beberapa jam kemudian menelepon langsung kepada Gories Mere.

Gories Mere langsung ketakutan dan meminta maaf kepada Jenderal TNI (Purnawirawan) tersebut.

Dalam KASET REKAMAN itu, Gories Mere juga mengejek Polda Jawa Barat sebagai POLISI-POLISI yang goblok dan sangat tolol sehingga tidak bisa menangkap buronan teroris Hambali.

Lalu didalam KASET REKAMAN itu, Brigjen Surya Darma selaku Komandan Satgas Bom Polri mengancam dengan kalimat sebagai berikut :

“Lihat saja ya, kalau saya dan Pak Gories Mere mogok, lihat saja, akan kami DOAKAN agar di Indonesia ini terjadi banyak peledakan bom karena di negara ini hanya kami berdua saja yang MAMPU menangani masalah terorisme. Yang lain tidak bisa !”.

Mengingat pentingnya isi KASET REKAMAN ini maka pada bulan Agustus 2007 copy dari KASET REKAMAN ini diserahkan kepada Menkopolhukkam ( saat itu) Widodo AS, Kapolri (saat itu) Jenderal Polisi Sutanto dan Kabareskrim (saat itu) Komjen Bambang Hendarso Danuri.

Jadi, sekali lagi, memang benar yang dikatakan pepatah, “Untung Tak Dapat Di Raih, Malang Tak Dapat Di Tolak”.

Jangan mimpi dan jangan berhalusinasilah, untuk memburu dan mendapatkan jabatan yang lebih tinggi jika patut dapat diduga memiliki sederetan daftar “kesalahan” yang sangat amat fatal sifatnya.

Jangan membuat kalangan ULAMA ISLAM marah kembali.

Jangan membuat UMAT ISLAM menjadi terancam lagi keselamatannya atas perintah-perintah penyerangan yang tidak bertanggung-jawab (apalagi perintah-perintah yang cukup disampaikan secara lisan via telepon tetapi mampu menewaskan 13 orang umat ISLAM di Poso tanggal 22 Januari 2007).

Sudah bagus masih boleh memimpin sebuah instansi.

Sebab sesungguhnya oknum yang dibahas dalam tulisan ini pantas secepatnya dicopot, ditangkap, dipenjarakan dan diseret ke Pengadilan sesuai dengan kejahatan-kejahatan serta pelanggaran-pelanggaran hukum yang patut dapat diduga dilakukannya selama bertahun-tahun ini.

Janganlah mimpi dan semakin parah berhalusinasi menjadi Kapolri.

Busyet deh.

Gak salah tuh ?

Sudah bagus tidak gelandang ke PENJARA !

Inilah yang namanya anti klimaks peringatan HANI, sebab patut dapat diduga Jenderal Polri yang patut dapat diduga bermasalah dalam kasus-kasus hukum narkoba justru masih diberi kesempatan memimpin BNN.

Malu dong, rakus benar sama jabatan.

Dor !

Ups, jangan ada lagi yang ditembak mati secara brutal di negeri ini.

Ingatlah selalu, bagaimana marah dan kerasnya ULAMA ISLAM menolak nama Gories Mere ini pada tahun 2006 lalu.

Kalau sekarang, diam-diam ada ambisi yang menari-nari di awang-awang yang seakan-akan menunggu durian jatuh, o o … hati-hati dan sadarlah segera.

Sudahlah, tahu diri sedikit.

 

Dan untuk menutup tulisan ini, tidak ada salahnya mengenang sosok peramal ulung Indonesia yaitu MAMA LAUREN yang wafat beberapa waktu lalu.

Kepada KATAKAMI.COM, seorang Ibu yang bersahabat sangat dekat dengan Almarhumah Mama Lauren bercerita bahwa ia sering berkomunikasi dengan Mama Lauren.

Bahkan 5 hari sebelum wafatnya, Mama Lauren masih sempat mengirim pesan singkat SMS kepada sahabat dekatnya ini.

“Saya sering mendapat sms dari Mama Lauren, terutama untuk sekedar menyapa saya atau memberitahukan sesuatu yang diterawang Mama Lauren untuk kebaikan saya sebagai sahabatnya” kata Ibu tersebut kepada KATAKAMI.COM baru-baru ini.

Dan kepada sahabatnya ini pula, Mama Lauren sering menceritakan bahwa dirinya rutin ditemui dan dimintai tolong oleh seorang Perwira Tinggi Polri yang bersuku etnis dari Indonesia Timur sana.

Selama 2 tahun berturut-turut, Perwira Tinggi tak henti-hentinya meminta tolong agar dirinya bisa diangkat oleh Presiden SBY sebagai Kapolri.

“Mama Lauren sering cerita kalau Bapak itu (mohon maaf nama tidak kami cantumkan secara jelas), dari mulai tahun 2008 sampai 2010 ini bolak balik minta dibantu supaya bisa jadi Kapolri. Tapi ke saya, Mama Lauren sudah bilang berkali-kali bahwa susah untuk Bapak itu jadi Kapolri. Sebab yang diramalkan oleh Mama Lauren justru lain, Bapak itu justru akan jatuh dari jabatannya” lanjut Ibu tersebut.

Rest in peace, Mama Lauren.

Terimakasih untuk ramalannya.

Biarlah kehendak Tuhan yang jadi didalam kehidupan ini.

Sebab jabatan itu adalah amanah dari Tuhan.

Tak akan bisa dipaksakan untuk dimiliki seseorang, walau sampai harus meminta tolong ke PARANORMAL segala.

(MS)

June 12, 2010 Posted by | news | , , , , | Comments Off

Apa Kata Dunia Ada “Big Mafia” Di Indonesia, Sudah 2 Tahun Mejeng di BNN Copot Gories Mere

undefined 

DIMUAT JUGA DI KATAKAMINEWSINDONESIA.WORDPRESS.COM

Denny Indrayana : Di Balik Kasus Aan Ada Big Mafia ! 
 
BAP Cacat Hukum, Dakwaan Aan Dibatalkan

SBY Berantaslah Mafia Narkoba, Gories Mere Buka Topengmu

Jakarta 29/5/2010 (KATAKAMI) Bulan segera berganti dan kita semua akan meninggalkan segala pernak pernik kehidupan yang menjadi rutinitas atau semarak di bulan Mei.

Hanya dalam waktu beberapa hari lagi, bulan Juni akan segera datang.

Ada yang cukup menarik di bulan Juni nanti.

Pertama adalah peringatan Hari Kesaktian Pancasila tanggal 1 Juni.

Kemudian kalau tidak ada aral melintang maka Presiden AS ke 44 Barack Obama akan berkunjung ke Indonesia (sekali lagi, ini kalau tidak ditunda kembali) tanggal 11 Juni. 

Dan satu lagi yang menarik untuk disimak adalah Peringatan HANI alias Hari Anti Narkoba Internasional yang diperingati setiap tanggal 26 Juni.

Jika momentum “HANI” dirayakan oleh semua bangsa didunia bahwa sudah layak dan sepantasnya Indonesia menutup muka rapat-rapat untuk menghilangkan rasa malu. Mengapa ?

Ya, karena patut dapat diduga Kepala Badan Narkotika Nasional atau BNN Komjen Polisi Gories Mere semakin hari semakin membusuk “bau” dari namanya akibat serentetan dugaan keterlibatan terkait kasus-kasus hukum seputar dunia hitam narkoba.

Tak cuma berpatokan pada masa lalu saja.

 Tetapi masa yang sangat kekinian, nama Gories Mere tetap di kaitkan dalam kasus narkoba yang sangat disorot oleh Satgas Pemberantasan Mafia Hukum.

Kasus hukum itu adalah kasus rekayasa narkoba yang menimpa seorang pegawai kecil tak berdaya bernama AAN.

 

http://www.primaironline.com/images_content/2010224AAN%20Satgas.JPG 

Di “Negeri Para Bedebah” Aan Menang Melawan Mafia Narkoba, Mantap !

Denny Indrayana tuding Komjen GM tak dukung kasus Aan diselesaikan
 

 

Sekretaris Satgas Pemberantasan Mafia Hukum Denny Indrayana secara terang-terangan sudah membidik dan menyebut nama Gories Mere sebagai orang yang hendak menghalangi penyelesaian kasus AAN (Januari 2010).

Tetapi upaya pria Flores yang satu ini ternyata gagal total sebab Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memberikan VONIS BEBAS MURNI kepada AAN.

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan membatalkan seluruh dakwaan terhadap mantan karyawan PT Maritim Timur Jaya Susandhi bin Sukatna alias Aan. Hakim menilai BAP penggeledahan badan dan pakaian cacat hukum.

“Karena BAP cacat demi hukum, maka dakwaan haruslah dinyatakan dibatalkan demi hukum,” ungkap Hakim Ketua Artha Theresia, Senin (17/5/2010), di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Selanjutnya, Aan dibebaskan dari tahanan Polda Metro Jaya dan berkas dikembalikan ke jaksa penuntut umum dengan biaya perkara ditanggung negara.

Majelis hakim menemukan adanya kejanggalan dalam BAP yang diajukan jaksa, diantaranya tanggal dikeluarkannya BAP tercantum 15 Desember 2010 sementara penggeledahan sudah terlebih dulu dilakukan pada tanggal 14 Desember 2010. Selain itu, terdapat ketidaksesuaian BAP.

Dalam BAP disebutkan narkotika ditemukan di kantong celana belakang kanan, sementara dalam persidangan disebutkan di dalam dompet. “Sehingga BAP ini tidak dibuat dengan sebenarnya,” ujar majelis hakim yang diketuai Hakim Arta Theresia.

Aan merupakan korban penganiayaan oknum perusahaan tempatnya bekerja beserta oknum Polda Maluku. Awalnya, Aan dipukuli kelompok orang tersebut karena tidak mau memberikan keterangan palsu yang diminta oknum tersebut terkait kasus kepemilikan senjata atasannya. Namun, saat penganiayaan tersebut Aan tiba-tiba ditelanjangi dan dituduh memiliki narkoba oleh oknum Polda Maluku. Aan terpaksa mendekam di tahanan Polda Metro Jaya dari tanggal 15 Desember 2009.

Kasus Aan ditengarai sarat dengan rekayasa. Bahkan, satgas mafia hukum memantau jalannya kasus ini. Komnas Ham pun sempat mengunjungi Aan di tahanan mencari informasi atas kasusnya.

Sebelumnya, nama Gories Mere juga patut dapat diduga membekingi mata rantai narkoba internasional yang dipimpin bandar kotor Liem Piek Kiong alias MONAS.

Bandar kotor Liem Piek Kiong alias MONAS ini sebenarnya sudah berhasil ditangkap oleh Mabes Polri pada bulan November 2007 (ada 9 orang yang ditangkap ketika itu, dengan barang bukti 1 Juta Pil Ekstasi).

Tetapi sampai detik ini yaitu sampai detik-detik menjelang peringatan HARI ANTI NARKOBA INTERNASIONAL 26 Juni 2010, dari 9 orang yang ditangkap di Apartemen Taman Anggrek hanya 3 orang saja yang diajukan ke Pengadilan yaitu Cece alias Jet Li (isteri dari Monas) serta kedua rekan senarkobanya.

Hasil tangkapan Polri yang 6 orang lagi, raib di telan bumi alias dibebas-merdekakan oleh orang-orang yang diduga menjadi BEKING bandar-bandar kotor narkoba kelas kakap ini.

Foto : Kapolri Sutanto sidak lokasi penangkapan Liem Piek Kiong (Nov 2007)

Patutkah Dapat Diduga Ada Filosofi “KURA-KURA DALAM PERAHU” Dibalik Pemeriksaan Skandal Hukum Paling Memalukan Bandar Narkoba MONAS ?

Jika Terbukti Bekingi Narkoba, Adili & Vonis Mati GORIES MERE

Pers Nasional di Indonesia, berhasil “menggedor” Mabes Polri pada periode Desember 2008 sampai Maret 2009 untuk kasus narkoba yang dipimpin Bandar Liem Piek Kiong alias MONAS ini.

Sebab Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri memerintahkan Tim Irwasum (yang ketika itu dipimpin langsung oleh Irwasum Komjen Jusuf Manggabarani) memeriksa puluhan polisi terkait kasus rekayasa BAP (Berita Acara Pemeriksaan) yang meloloskan Liem Piek Kiong alias MONAS sehingga berkas pemeriksaan bandar ini sengaja tidak dilimpahkan ke Kejaksaan.

Bila berkas (BAP) tidak dilimpahkan, maka bandit-bandit narkoba ini tidak perlu susah-susah menghadapi proses peradilan atas kejahatan narkoba mereka.

Akhirnya pada Februari 2009, Polri mengakui ada kesalahan dari anggota-anggota mereka dalam rekayasa BAP bandar narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS dan memecat 5 orang penyidik.

Sayangnya, pemeriksaan dan pemecatan itu tidak menyentuh ke substansi permasalahan yaitu tidak mengarahkan pemeriksaan kepada Gories Mere (padahal patut dapat diduga nama inilah yang sangat santer menjadi beking bandar kotor Liem Piek Kiong alias MONAS).

Tetapi ternyata Tuhan “tidak tidur”.

Nama Gories Mere yang patut dapat diduga melekat erat dengan gunjang ganjing kasus narkoba, tercium dan terbongkar oleh Satgas Pemberantasan Mafia Hukum yang dibentuk secara langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Januari 2010, Satgas Mafia ini mengecam keras tindakan Gories Mere yang dinilai menghalangi penyelesaian kasus AAN.

Mei 2010 (pasca keluarnya VONIS BEBAS untuk AAN dari Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan), Satgas Mafia menyindir secara sengit bahwa di balik kasus AAN ini ada BIG MAFIA.

Siapakah BIG MAFIA yang dimaksud oleh Satgas Mafia tersebut ?

Hebat sekali, jika di sebuah negara hukum yang merupakan negara berpenduduk Islam terbesar didunia ternyata ada BIG MAFIA yang bisa bercokol dengan senang, tenang dan terus malang melintang.

Yang disayangkan adalah sikap plin plan dan sinyalemen ketakutan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membereskan “GURITA NARKOBA” yang patut dapat diduga melibatkan Kepala BNN Gories Mere.

Jika memang seorang SBY sungguh plin plan dan (entah mengapa) “ketakutan” kepada Gories Mere, maka baiklah kita menyampaikan argumentasi yang satu ini sebagai desakan untuk segera mencopot Kepala BNN Gories Mere dari jabatannya.

Gories Mere resmi dilantik sebagai Kalakhar BNN pada tanggal 3 Juni 2008.

Sebelum resmi dilantik, sejak April 2008 pria Flores ini sudah menjadi Pejabat Pelaksana Kalakhar BNN menggantikan pejabat lama yaitu Komjen. I. Mangku Pastika yang mengundurkan diri karena mengikuti Pilkada di Bali.

Semua orang sama kedudukannya di muka hukum, siapapun yang patut dapat diduga terlibat (walaupun berpangkat Komisaris Jenderal), copot, tangkap, penjarakan & proses sesuai ketentuan hukum ! 

Sketsa Gories Mere 
 

 

Artinya, Gories Mere sudah 2 tahun 2 bulan alias 26 bulan memangku jabatan sebagai Kepala BNN (dari tahun 2008 sampai 2010).

Kurun waktu 2 tahun adalah perjalanan panjang yang sudah sangat lama bagi seorang perwira tinggi Polri menjabat di sebuah pos jabatan yang strategis.

Jika jabatan ini hanya dikuasai oleh satu orang saja, maka proses regenerasi dalam tubuh Polri akan mandeg.

Sebab, jabatan Kepala BNN adalah salah satu dari sedikit pos jabatan yang disediakan bagi perwira tinggi Polri (aktif) berbintang 3.

POLRI hanya memiliki sedikit sekali pos jabatan untuk perwira tinggi berbintang 3.

Pejabat teras Polri yang berbintang 3 adalah Wakil Kepala Kepolisian (Wakapolri), Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum), Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Kabareskrim), Kepala Badan Pembinaan Keamanan (Kababinkam) dan Kepala BNN.

Tapi berdasarkan peraturan yang baru, BNN sudah tidak lagi “satu atap” dengan Mabes Polri tetapi langsung berada di bawah Presiden RI.

Tetapi pejabat yang boleh menempati pos jabatan Kepala BNN, tetap perwira tinggi berbintang 3 (aktif) dari jajaran Kepolisian.

Dengan kata lain, hanya ada 5 orang saja yang boleh mendapat kesempatan menjadi perwira tinggi berbintang 3 dalam struktur organisasi Polri.

Jika kelima pos jabatan “bintang 3″ ini tidak dimutasi dan dirotasi, maka pertanyaan yang muncul adalah bagaimana caranya proses regenerasi itu bisa berjalan sebagaimana mestinya ?

Jika kelima pos jabatan “bintang 3″ ini tetap dikuasai selama lebih dari 2 tahun oleh orang yang sama, maka pertanyaan yang muncul adalah apakah tidak ada perwira tinggi lain yang pantas naik menjadi Komjen dalam instansi Polri ?

Dan jika ada pejabat teras berbintang 3 dalam instansi Polri yang patut dapat diduga namanya bolak balik terseret dalam kasus hukum narkoba, maka pertanyaan berikutnya yang paling pantas untuk diajukan adalah … apakah tidak ada JENDERAL POLRI yang lebih bersih, lebih kredibel, lebih pantas dan lebih bermoral untuk ditempatkan pada pos jabatan yang strategis ?

Copot Gories Mere karena angkatan-angkatan yang lebih muda dalam struktur organisasi Polri, perlu diberi kesempatan untuk naik menjadi bintang 3 atau Komisaris Jenderal.

Jangan ada dominasi.

Jangan ada diskriminasi.

Berikan kesempatan kepada Angkatan yang lebih muda dalam struktur organisasi Polri untuk maju ke garis terdepan membereskan semua pelanggaran hukum seputar narkoba.

Jika seorang SBY plin plan dan (entah mengapa) ketakutan mencopot Gories Mere, maka sebaiknya Presiden SBY tidak usah dan tidak perlu menghadiri puncak peringatan HARI alias HARI ANTI NARKOBA INTERNASIONAL tanggal 26 Juni 2010 mendatang.

Betapa malunya kita kepada dunia internasional jika patut dapat diduga seorang pejabat kepolisian yang namanya terlibat dalam serangkaian kasus narkoba terus dipertahankan.

Betapa malunya kita kepada Perserikatan Bangsa Bangsa (United Nations), khususnya kepada UNODC (United Nations Office on Drugs and Crime karena Indonesia sungguh tak serius melakukan reformasi birokrasi dan kesungguhan memberantas narkoba.

Kalau cuma bandar-bandar kelas RT / RW yang dibekingi, barangkali kita semua tidak perlu malu atas kondisi ini.

http://www.profilefiend.com/Images2/Mobster_Graphics/images/godfather_mafia_questions.png

Tetapi, yang patut dapat diduga dibekingi adalah “BIG MAFIA” — seperti istilah yang disampaikan sendiri oleh Satgas Pemberantasan Mafia Hukum.

Bayangkan, betapa terhinanya sebagai sebuah bangsa yang besar karena di negara hukum yang berpenduduk Islam terbesar didunia ini ternyata patut dapat diduga melindungi Jenderal Polri yang tidak tahu diri membekingi  ”BIG MAFIA kelas internasional.

Atau sebenarnya, jauh lebih terhormat kalau Gories Mere mundur dari jabatannya.

Sudahlah, tahu diri saja.

Untuk apa ngotot berkuasa dan menjabat (apalagi kalau patut dapat diduga menunggu “durian jatuh” menjadi Kepala Kepolisian Republik Indonesia atau Kapolri ?).

Belum menjadi Kapolri saja, beragam kasus-kasus pembunuhan dan kasus-kasus narkoba sudah dikait-kaitkan dengan nama Gories Mere.

Singkat kata, peringatilah HARI ANTI NARKOBA INTERNASIONAL (HANI) tanggal 26 Juni 2010 mendatang dengan suasana dan nuansa yang sangat baik yaitu mengganti terlebih dahulu Kepala BNN dengan pejabat Polri yang jauh lebih kredibel.

Copotlah Gories Mere.

Periksa, tangkap dan tahan Gories Mere agar dapat ditangani semua dugaan pelanggaran hukumnya dalam kasus-kasus narkoba.

POLRI jangan kura-kura dalam perahu terhadap sindiran dan sinyalemen yang disampaikan Satgas Pemberantasan Mafia Hukum.

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/ms/a/a0/Yudhoyono1.jpg

Foto : Presiden SBY

Dan yang terpenting, Presiden SBY jangan bersikeras dalam sikap ragu-ragu alias plin plan yang begitu akut alias kronis ini.

Untuk apa anda membentuk Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, wahai Bapak Presiden yang kami hormati, jika ternyata anda sebagai Kepala Negara mendiamkan temuan penting mereka tentang dugaan keterlibatan Kepala BNN dalam kasus narkoba ?

Kalau belum jelas juga saran dan masukan yang sangat baik ini maka akan diulangi lagi yaitu Copotlah Gories Mere.

Cari dan tunjuk Perwira Tinggi Polri yang memang benar-benar bersih, kredibel dan punya integritas tinggi untuk menjadi Kepala BNN yang baru.

Apa kata dunia kalau BIG MAFIA – BIG MAFIA masih bercokol seenak jidatnya di tanah air tercinta INDONESIA?

Indonesia adalah negara terhormat.

Republik yang punya nama harum di kancah dunia internasional.

Indonesia, bukan Republik BIG MAFIA.

Jadi, apa kata dunia kalau masih tetap … plin plan dan ketakutan ?

Oalah …. Oalah ….

Sekarang tinggal INDONESIA memilih, mau terus di cap dan dicurigai sebagai Republik Big Mafia Narkoba atau Republik (Terhomat) Indonesia yang benar-benar tidak akan pernah kalah melawan NARKOBA.

Lanjutkan !

Lanjutkan melawan narkoba dong, Pak Presiden !

Katakan pada mafia-mafia narkoba dan bekingnya itu, “SAPA TAKUT ?” 

(MS)

June 12, 2010 Posted by | news | , , | Comments Off

SBY Berantaslah Mafia Narkoba, GORIES MERE Buka Topengmu !

Oegroseno : Ada Pelanggaran Berat Kasus Aan, Polisi Tidak Boleh Melukai

Denny Indrayana tuding Komjen GM tak dukung kasus Aan diselesaikan

Heboh Penjara Ayin & Cece, Reformasi BNN, Copot Gories Mere

Jakarta 10/5/2010 (KATAKAMI) Alkisah dengan penangkapan dan penahanan Mantan Kabareskrim Komjen Susno Duadji oleh Mabes Polri, saat ini ramai diperbincangkan, Susno seakan menjadi pahlawan baru yang dielu-elukan. Padahal ia bukanlah pahlawan. Ia bukan HERO yang mendadak sontak muncul bagaikan staria piningit untuk menyelamatkan Indonesia.

 Sebab pertanyaannya kalau misalnya setelah dicopot sebagai Kabareskrim, Susno diberi jabatan tinggi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, apakah ia akan mau membuka rahasia ini dan itu ?

Susno hanya berani menentang dan melawan Mabes Polri.

Ia lupa bahwa titik fokus dari semua penderitaannya pasca pencopotan ini terfokus pada figur SBY.

 

http://news.okezone.com/images-data/content/2009/06/26/61/233095/3Y9dW4ysIo.jpg

Foto : Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

 

Skandal Hukum Bandar Narkoba Liem Piek Kiong Alias MONAS Yang Melibatkan GORIES MERE?

Hendarman Beraninya Sama Sheila Marcia, Tangkap Bandar Narkoba Monas & Periksa GORIES MERE

Sepanjang SBY tidak memberikan dan mengeluarkan perintah, maka Mabes Polri tentu tidak bisa berbuat apa-apa yaitu memberikan jabatan baru kepada Susno.

SBY seringkali sangat membingungkan sikap dan kebijakannya terkait institusi Polri.

Tapi baiklah, mari kita tinggalkan pembahasan soal Susno.

Sekarang kita beralih ke masalah lain yang sama pentingnya yaitu pembenahan dan pergantian tugas bagi Ketua (sebelumnya dikenal dengan istilah Kepala Pelaksana Harian atau Kalakhar) Badan Narkotika Nasional.

Pasca mundurnya Komjen I. Made Mangku Pastika (bulan April 2008) ketika memutuskan mengikuti Pilkada di Bali, Gories Mere digeser ke BNN untuk menggantikan Pastika.

Pastika saat ini menjabat sebagai Gubernur Bali.

Keputusan menggeser Gories Mere ke BNN bulan April 2008 memang sempat mengejutkan karena patut dapat diduga nama Gories Mere banyak dikaitkan dengan kasus-kasus pelanggaran hukum terkait narkoba.

Ibarat manusia-manusia bertopeng, patut dapat diduga ada topeng berbayang kasus-kasus narkoba yang mengiringi langkah Gories Mere.

 

Kita tentu kenal dengan baik, lagu yang dinyanyikan grup musik PETERPAN yang berjudul : TOPENG”  (YOUTUBE : PETERPAN)

Reff :
Tapi buka dulu topengmu
Buka dulu topengmu
Biar ku lihat warnamu
Kan kulihat warnamu

Bagaimana mungkin Indonesia bisa konsisten memberantas narkoba atau dalam jargon yang sering dikumandangkan Bapak Presiden bahwa NEGARA TIDAK BOLEH KALAH MELAWAN NARKOBA kalau oknum-oknum aparat KEPOLISIAN yang patut dapat diduga menjadi beking sindikat-sindikat, mafia-mafia serta kartel-kartel narkoba (apalagi yang bertarafkan internasional) tidak cepat dibersihkan dari sistem yang bekerja di negara ini memerangi barang haram narkoba.

Ibarat orang memakai topeng, memang sulit dibedakan mana POLISI yang benar dan mana oknum yang CARI MAKAN (seenaknya) dengan memanfaatkan lahan narkoba.

Sungguh rumit menembus jaringan kemafiaan narkoba jika didalamnya sudah kental dengan benteng-benteng kuat yang dibangun oleh oknum petinggi Polri yang merajalela dan pesta pora menikmati keuntungan dari narkoba.

Dan soal nama Gories Mere.

Gories Mere dikait-kaitkan alias patut dapat diduga terlibat dalam kasus pembunuhan bandar narkoba Hans Philip pada bulan Mei 2005.

Bayangkan, ada seorang gembong mafia narkoba internasional tiba-tiba ditemukan MATI secara mengerikan di wilayah Bogor.

Ia ditembak secara miserius di bagian kepala oleh Satgas BNN (tanpa alasan yang jelas).

Hans ditemukan terkapar berlumur darah di dalam mobilnya.

Jika memang ia seorang gembong mafia narkoba, mengapa ia ditembak mati ?

Indonesia negara hukum.

Harusnya Hans diseret ke Pengadilan agar diadili sesuai kejahatannya.

Ini kok ditembak mati ?

Apakah yang ditakutkan dan siapakah yang membungkam Hans dengan cara menembak mati seorang Hans Philip dengan cara-cara yang sadis mengerikan ?

DETIK.COM : Mengapa Hans Ditembak Mati?

Gories Mere juga di kait-kaitkan alias patut dapat diduga berada dibalik kasus pencurian barang bukti narkoba sabu seberat 13,5 kg pada tahun 2006.

Menurut informasi, 13,5 kg narkoba jenis sabu ini kalau di jual pasaran akan mendapatkan laba keuntungan senilai Rp. 13,5 MILIAR  !

Itu baru yang ketahuan, bagaimana kalau hal ihwal curi mencuri atau kleptomania khusus barbuk alias barang bukti narkoba ini diam-diam dilakukan selama ini tanpa bisa dicegah dan diketahui oleh POLRI ?

Bagaimana kalau sudah puluhan atau bahkan ratusan KG barang bukti narkoba yang hilang ?

Bisa saja keuntungan finansial itu tidak dimasukkan ke dalam rekening agar tidak dilacak oleh PPATK. Jadi semua serba uang tunai atau cash.

Rekening dari oknum petinggi POLRI yang namanya erat terkait dengan jaringan narkoba internasional inipun harus diperiksa. Dilacak sampai ke ujung dunia sekalipun.

Jangan cuma rekening yang terkait kasus pajak saja.

Enak betul yang cari makan lewat lahan-lahan narkoba.

Kasus pencurian barang bukti sabu 13,5 KG  itu sempat menggemparkan dan ramai diberitakan di hampir semua media massa di era tahun 2006.

Ketika kasus itu terjadi, Polri masih dipimpin oleh Jenderal Polisi Sutanto.

Kasus pencurian ini sempat menggemparkan dan ramai diberitakan di hampir semua media massa.

 

Foto : Jenderal Polisi Sutanto

Atas perintah Jenderal Sutanto, barang bukti yang dicuri dari gudang penyimpanan Polri itu harus segera dikembalikan.

Beberapa bulan kemudian atau tepatnya 8 bulan kemudian, bak sulap dari kalangan badut-badut lucu yang disukai anak-anak kecil, barang bukti narkoba yang dicuri oleh “tangan-tangan setan” itu mendadak bisa kembali ke tempat asalnya yaitu ke gudang penyimpanan.

Kasus 13,5 Kg Sabu, Propam Menduga ada Keganjilan
 

Namun rumors yang beredar ketika itu adalah patut dipertanyakan mengapa bisa dikbalikan barang bukti 13,5 kg ini ?

Apakah pengembalian ini hanya sebuah akal-akalan karena patut dapat diduga waktu itu didaerah ada yang mendadak hilang barang bukti narkoba di gudang penyimpanannya.

Jadi barangkali, untuk mengembalikan barang bukti yangh dicuri dari gudang penyimpanan di Jakarta maka dicuri barang bukti dari gudang penyimpanan daerah.

Atau istilah lazimnya, gali lubang tutup lubang.

Nama Gories Mere juga dikaitkan pada kasus narkoba lainnya.

Patut dapat diduga, pria NTT yang memakai nomor handphone (08**999999) atas nama Tommy Winata ini, merupakan beking dari bandar narkoba Liem Piek Kiong alias Monas.

Liem Piek Kiong alias Monas adalah bandar narkoba dari sindikat internasional yang ditangkap oleh jajaran Bareskrim Polri (ketika itu Kabareskrim-nya adalah Komjen Bambang Hendarso Danuri) di Apartemen Taman Anggrek pada bulan November 2007.

Sembilang orang dari sindikat Taman Anggrek ini diringkus oleh Mabes Polri dengan BARANG BUKTI 1 JUTA PIL EKSTASI.

Kami ulangi, barang bukti dari kasus Taman Anggrek ini adalah 1 JUTA PIL EKSTASI.

Bayangkan, betapa banyaknya BARANG BUKTI yang disita (dan apakah itu diam-diam dicuri juga atau ada oknum yang mengganti keaslian PIL SETAN ini) ?

 

Foto : Kapolri Sutanto saat sidak ke Apartemen Taman Anggrek (November 2007)

Bahkan ketika itu, Kapolri Jenderal Sutanto sampai datang melakukan sidak ke lokasi penangkapan di Apartemen Taman Anggrek.

Dan inilah permainan sulap berikutnya dari jajaran pembeking Liem Piek Kiong yaitu dari 9 orang yang ditangkap, hanya 3 orang saja yang diserahkan berkas pemeriksaannya (BAP) ke pihak Kejaksaan.

Itulah sebabnya, kasus ini dikenal dengan sebutan kasus rekayasa BAP bandar narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS.

Saat kasus ini ramai diperbincangkan di berbagai media massa yaitu periode Desember 2008 sampai Maret 2009, Kabareskrim Polri sudah dijabat oleh Komjen Susno Duadji.

Tapi apa yang maksimal bisa dilakukan Susno ketika menangani kasus Liem Piek Kiong alias Monas ?

Oh, Susno tidak berani membongkar kasus ini.

Siapa bilang, Susno adalah reformis dan merupakan sosok pemberani ?

Omong kosong karena saat menangani kasus bandar narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS, Komjen Susno Duadji hanya menindak dan mencopot 5 penyidik kelas teri saja.

Mabes Polri mengakui secara jujur (bahkan menyampaikannya secara khusus dalam keterangan pers), bahwa memang benar ada perbuatan melawan hukum dari segelintir oknum penyidik Bareskrim Polri saat menangani kasus bandar narkoba Liem Piek Kiong alias Monas.

 

Foto : Barang bukti sindikat narkoba Taman Anggrek

Para penyidik secara sistematis sengaja menyelamatkan Liem Piek Kiong dan 5 orang bandar yang ditangkap  di Apartemen Taman Anggrek.

Bayangkan, dari 9 orang yang ditangkap, hanya 3 orang saja yang diajukan ke Pengadilan (salah seorang diantaranya justru isteri dari bandar narkoba Liem Piek Kiong alias Monas).

Liem Piek Kong alias Monas sudah 3 kali berturut-turut diloloskan dari jerat hukum yaitu setiap kali dia ditangkap, maka dia akan diselamatkan oleh para pembekingnya di jajaran Polri.

Cece alias Jet Li (isteri dari bandar narkoba Monas) dan 2 rekannya yang ditangkap di Apartemen Taman Anggrek itu, sudah mendapatkan VONIS MATI dari Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat.

Bahkan di  tingkat banding, VONIS MATI ini diperkuat oleh Majelis Hakim. Hebatnya lagi, walaupun sudah di VONIS MATI tetapi Cece alias Jet Li masih bisa mengendalikan perdagangan gelap narkoba dari dalam penjara.

Dan ini ketahuan oleh PERS untuk diberitakan secara luas tahun 2009 lalu.

Singkat kata, Presiden SBY sudah tidak bisa lagi kura-kura dalam perahu alias pura-pura tidak tahu bahwa didalam INSTITUSI POLRI ada oknum liar yang patut dapat diduga merupakan beking mafia-mafia narkoba.

http://www.primaironline.com/images_content/2010224AAN%20Satgas.JPG 

Tantangan Satgas Mafia Hukum, BONGKAR Indikasi Kemafiaan Komjen GM
Satgas: Perekayasa Kasus Aan Harus Bertanggungjawab
Propam Polri: Jangan Ada Lagi Penjebakan Dalam Kasus Narkoba
Satgas: Perekayasa Kasus Aan Harus Bertanggungjawab   

 

Oknum itu adalah Komjen Gories Mere.

Patut dapat diduga kiprah Gories Mere sebagai beking mafia narkoba tergelincir juga yaitu saat  bulan Januari 2010 lalu, Satgas Pemberantasan Mafia Hukum mengincar namanya saat Gories Mere terang-terangan menghalangi penanganan kasus rekayasa narkoba yang menimpa diri Aan.

Denny Indrayana menyatakan secara terbuka kepada pers bahwa Komjen Gories Mere menghalangi penyelesaian kasus rekayasa narkoba yang menimpa AAN.

Tapi ternyata ini belum cukup ampuh untuk menyeret Gories Mere ke muka hukum.

Ia tetap “aman terkendali” bercokol dalam jabatannya di BNN.

Saatnya kini, mengingatkan dan mendorong Pesiden SBY agar mau membersihkan sebersih-bersihnya Indonesia ini dari tangan-tangan kotor narkoba.

Struktur Organisasi BNN saat ini sudah berada langsung dibawah Presiden.

Tidak lagi berada dalam struktur organisasi Polri alias sudah terpisah.

 

Demi alasan regenerasi, maka Ketua (Kalakhar BNN) saat ini yaitu Komjen Gories Mere sudah saatnya dicopot, digeser dan diganti dengan Perwira Tinggi Polri dari Angkatan yang lebih muda.

Sudah cukup lama Gories Mere menjabat di BNN (tanpa ada prestasi yang membanggakan), kecuali menyisakan dugaan-dugaan pelanggaran hukumnya yang seakan di peti-eskan.

Beri kesempatan kepada Angkatan yang lebih muda.

Beri kesempatan kepada Polisi yang jauh lebih bersih, lebih kredibel dan tidak terlibat dalam mata rantai kemafiaan kartel-kartel narkoba dari sindikat internasional.

Kalau Mabes Polri bisa menangkap dan menahan Komjen Susno Duadji, maka Mabes Polri juga harus bisa bersikap sama tegasnya kepada Komjen Gories Mere.

Buka semua dugaan pelanggaran hukumnya.

Tidak usah lagi didiamkan, dibiarkan dan dilindungi.

Cukup !

Sudah saatnya Polri dibersihkan dari antek-antek narkoba.

Dan kalau mau jujur, BNN tidak ada fungsinya di Indonesia ini.

Penanganan narkoba harus satu atap saja yaitu sepenuhnya berada di bawah otoritas POLRI sebagai institusi penegak hukum.

Kalau Indonesia mau meniru negara lain yang memiliki lembaga anti narkoba maka carilah pejabat yang bersih (dan sangat kredibel) untuk memimpin.

Buka semua dugaan pelanggaran hukum Komjen Gories Mere.

Tolonglah punya malu kepada aparat kepolisian di Indonesia kalau misalnya ada oknum pejabat yang sangat amat kotor bersembunyi dibalik topeng-topeng yang canggih.

http://i29.photobucket.com/albums/c276/summertyme79/Randon%20Shit/say-no-to-drugs.jpg

Tamparan Keras Dari AMNESTY INTERNASIONAL Bagi POLRI

Seperti kata lagu grup musik PETERPAN, “Buka Dulu Topengmu !”.

Ya, buka dulu topengmu Gories Mere.

Jangan bersembunyi di balik seragam kepolisian jika patut dapat diduga anda adalah beking dari mafia-mafia narkoba.

Bikin malu dan seakan kalap pada jabatan alias kekuasaan.

Tapi ternyata waktu begitu cepat berlalu.

Kalau sudah menjabat selama 2,5 tahun, saatnya kini diadakan pergantian.

Tidak ada kekuasaan yang bisa bersifat absolut di muka bumi ini.

Kita harusnya malu pada Amnesty Internasional sebab dari tahun 2009 lalu, mereka sudah “berteriak” tentang salah satu indikasi keburukan seputar pembekingan narkoba ini. Polri harus bersih dari segala pembekingan narkoba.  

Minggir, bagi siapapun yang sesungguhnya adalah serigala-serigala (buas) mencari makan lewat lahan kotor narkoba.

Jadi, sambil menunggu Presiden SBY merenungkan kembali apakah pantas mendiamkan, membiarkan dan (diduga) melindungi oknum JENDERAL POLRI yang membekingi jaringan narkoba, mari kita nikmati suara merdu ARIEL PETERPAN yang mengumandangkan lagu TOPENG :

Reff :
Tapi buka dulu topengmu
Buka dulu topengmu
Biar ku lihat warnamu
Kan kulihat warnamu

(MS)

June 12, 2010 Posted by | news | , | Comments Off

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.