Katakamidotcom News Indonesia

Secercah Harapan Koalisi Merah Putih Megawati, Wiranto, Prabowo, Soetrisno Bachir, Rizal Ramli & Suryadharma Ali. Awas Terkecoh Untuk Golkar – PKS !

 We Say No To Cyber Crime 1 a NEW041 a flags_135

Dimuat juga di WWW.KATAKAMI.COM dan WWW.REDAKSIKATAKAMI.WORDPRESS.COM

JAKARTA 13 APRIL 2009 (KATAKAMI)  Entah darimana asalnya istilah Golden Brigde dan Golden Triangle yang menggambarkan koalisi dari dua kubu yang diperkirakan akan mendominasi percaturan politik nasional. Dan rasanya, menggunakan istilah ini saja agak kurang sreg dihati. Selain karena terlalu berbau kebarat-baratan, julukan inipun tak jelas kemana arahnya.

Kami lebih suka menggunakan istilah Koalisi Merah Putih dan Koalisi Merah Putih Plus untuk menggambarkan peta kekuatan politik pasca pelaksanaan Pemilu Legislatif 2009. Dan kami lebih fokus untuk mengulas perkembangan dari pergerakan para tokoh nasional yang dispekulasikan memang “berjodoh” untuk bergabung dalam Koalisi Merah Putih yaitu Megawati, Prabowo, Wiranto, Rizal Ramli, Soetrisno Bachir dan Suryadharma Ali.

Sejak akhir pekan lalu, komunikasi politik terus dijalin oleh sejumlah tokoh nasional yaitu Megawati Soekarnoputri, Wiranto, Prabowo Subianto, M. Jusuf Kalla, Suryadharma Ali, Rizal Ramli dan lainnya.

Inilah sejumlah tokoh yang diharapkan bisa secara cepat melakukan penjajakan untuk merintis perjodohan “KOALISI MERAH PUTIH”

Prabowo Subianto bertemu Wiranto, Senin (13/4/2009)

Kalau akhir pekan lalu, Wiranto bertemu Megawati maka hari Senin (13/4/2009) ini Wiranto bertemu Prabowo Subianto dari Partai Gerindra.

Lalu, hari Senin inipun Megawati telah bertemu dengan Rizal Ramli.

Semua komunikasi politik ini begitu dinamis, sehat dan  menumbuhkan secercah harapan di hati rakyat Indonesia.

Yaitu, harapan agar semua pertemuan itu tak sekedar hanya basa-basi yang tak bermakna dan tak mendatangkan manfaat apapun untuk Indonesia.

Pada barisan KOALISI MERAH PUTIH inilah, diharapkan ada spirit untuk melanjutkan visi dan misi tentang perlunya PERUBAHAN ke arah yang jauh lebih baik untuk INDONESIA.

A cheering crowd in Strasbourg, France, reaches out to shake hands April 3, 2009, with Pres. ObamaPresident Barack Obama lifts up a baby during his visit with U.S. Embassy staff and their families

CHANGE, We Can ?

Kalau Obama tidak mencantumkan tanda tanya dibelakang slogan “YES,WE CAN CHANGE” pada saat maju mengikuti Pilpres 2008 di AS maka tidak demikian di Indonesia.

PERUBAHAN, emangnya (kita) bisa ?

 slogan presiden barack obama saat mengikuti pilpres 2008 di as,  yes we can change1 a we want change

Kenapa Tidak ? PERUBAHAN yang niatnya memang baik untuk mensejahterakan dan membuat rakyat Indonesia menjadi lebih bahagia, maka segala langkah yang memang positif patut didukung dan direalisasikan.

Prosentase perolehan suara yang diraih masing-masing parpol menentukan posisi tawar dalam menjalin KOALISI. Tetapi melihat kecilnya “NASIB” dari perolehan suara sejumlah parpol pada Pemilu Legislatif 2009 maka realita ini memupuskan harapan dari sejumlah tokoh untuk menjadi CAPRES.

Ketentuan atau syarat perolehan suara 20% untuk bisa mengajukan CAPRES – CAWAPRES dari masing-masing parpol, memaksa parpol-parpol untuk aktif merintis terjalinkan KOALISI tadi.

MegawatiMegawati Soekarnoputri

Besar kemungkinan, Megawati akan menjadi figur terkuat yang bisa dicalonkan sebagai CAPRES. Disini dibutuhkan dukungan dari parpol-parpol yang visi dan misinya sama bagi terwujudnya potret Indonesia yang jauh lebih baik di masa depan.

Dimajukannya Megawati sebagai CAPRES 2009 dari gabungan sejumlah parpol, hendaknya jangan membuat tokoh lain menjadi terusik kejernihan dan ketenangan hatinya karena ambisi politik mereka tak kesampaian.

Mari, merapatkan barisan demi mencapai sebuah tujuan yang jauh lebih besar dan berarti bagi kepentingan bangsa, negara dan rakyat Indonesia.

Jangan ada ganjalan apapun dalam merintis KOALISI tersebut.

WirantoPrabowoSoetrisno BachirPPP

Peran dan keberadaan Wiranto, Prabowo Subianto, Soetrisno Bachir, Rizal Ramli dan sebenarnya termasuk JK, sangat strategis.

Wiranto dan Prabowo Subianto, dua figur yang mutlak mengapit langkah Megawati menapaki tangga Pemilu Pilpres 2009.

Wiranto dan Prabowo Subianto harus cermat dan jeli sekali dalam membuat hitung-hitungan politik. Jangan ragu untuk mengalah atau mengorbankan sedikit saja dari ambisi politik pribadi.

Ingat, ambisi itu jangan diartikan secara sempit atau negatif.

Setiap politisi memang harus punya ambisi. Dan ambisi adalah sesuatu yang sah dan wajib dimiliki oleh masing-masing politisi. Tetapi, kadarnya yang tidak boleh dibiarkan menjadi sangat berlebihan.

Lobi politik harus dilakukan secara terbuka dan sehat.  

Megawati dalam kampanye PDI Perjuangan

Megawati harus menyadari tingginya peran dari sejumlah parpol untuk memperkuat barisan PDI Perjuangan menyongsong Pilpres 2009. Sehingga, jangan ada sekat-sekat yang menjadi penghambat tercapainya KOALISI tadi.

Setiap KOALISI, memerlukan kesepakatan tertentu yang menjadi “win win solution”.

Berikan, yang memang diminta dan wajar untuk diberikan (tanpa harus menjadi beban yang akan merugikan Megawati jika terpilih menjadi Presiden periode 2009-2014).

JK dalam kampanye Partai Golkar

Sayang, Ketua Umum DPP Partai Golkar M. Jusuf Kalla kini terpaksa berada di persimpangan jalan. Dengan perolehan suara yang hampir menembus angka 15 %, sebenarnya JK tinggal meminang satu parpol yang bisa menambah persyaratan untuk bisa mengajukan CAPRES – CAWAPRES dari Partai Golkar.

Tetapi dari berbagai pemberitaan media massa, patut dapat diduga Partai Golkar akan merapat kepada “jodohnya” yang lama.

Tanda-tanda ke arah sana sudah ada !

Belum apa-apa, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang sudah terlanjur gegap gempita mengumumkan penegasan mereka bahwa PKS akan KOALISI hanya dengan Partai Demokrat, tiba-tiba hari Senini (13/4/2009) ini mengisyaratkan sebuah ancaman yang serius yaitu mundur dari KOALISI dengan Partai Demokrat jika Partai Golkar masuk dalam koalisi dengan Partai Demokrat.

Disinilah dibutuhkan kematangan dalam berpolitik !

Disinilah dibutuhkan kecerdikan dalam berpolitik !

Disinilah dibutuhkan pengalaman dalam berpolitik (terutama untuk menyadari apakah pihak lain adalah kawan yang sesungguhnya dalam politik itu sendiri, atau hanya basa-basi saja untuk menjadi kawan agar jangan “kalah set” dengan pihak oposisi yang mulai merapatkan barisan dengan parpol lain).

Patut dapat diduga, ambisi politik PKS adalah mengantarkan figur Hidayat Nur Wahid menjadi CAWAPRES untuk SBY.

Ya, boleh-boleh saja berambisi seperti itu !

Tetapi yang harus disadari oleh PKS adalah prosentase suara mereka jauh dibawah Partai Golkar.

Siapapun juga parpol yang menghadapi situasi yang seperti berada di persimpangan jalan, akan sangat WELCOME menyambut koalisi dengan Partai Golkar.

Patut dapat diduga, Partai Demokrat tidak akan berani hanya BERKOALISI Dengan PKS yang memang sudah diketahui sebagai Partai Berbasis Religius. Terlalu riskan buat Demokrat untuk mau hanya berjodoh dengan PKS, walaupun nama Hidayat Nur Wahid dipasangkan sebagai CAWAPRES bagi SBY.

Indonesia, sebagai negara yang berpenduduk muslim terbesar didunia ini sangat majemuk sifat dan keberadaaannya. Warna keagamaan yang sangat kental dan kuat dari tampilan PKS, patut dapat diduga akan sangat sulit diterima oleh mayoritas rakyat Indonesia yang datang dari beraneka ragam suku, agama, ras dan golongan.

Dan kalau PKS ngotot agar Partai Demokrat hanya berkoalisi dengan mereka, maka sebaiknya disarankan agar tidak terlalu polos-polos amat dalam berpolitik.

 

 

Patut dapat diduga, akan ada 3 kandidat CAWAPRES yang akan dipertimbangkan SBY yaitu M. JUSUF KALLA, Hidayat Nur Wahid atau Sri Mulyani.

Ya, SBY berada di persimpangan jalan untuk menentukan bakal calon orang nomor dua yang akan dipimpinnya. Nama Sri Mulyani mendadak dilempar ke bursa pencalonan beberapa bulan terakhir ini. Walau sebenarnya kalau mau jujur, patut dapat diduga nama Seri Mulyani ini tidak akan laku dijual sebagai kandidat CAWAPRES. Tetapi sejumlah kangan, mendukung duet SBY – Ani (Menteri).

Kans menjadi CAWAPRES itu sangat kuat pada figur JK atau Hidayat Nur Wahid.

Tetapi ini memang benar akan menjadi figur yang paling kuat peluangnya menjadi CAWAPRES SBY, kalau KOALISI MERAH PUTIH PLUS memang bisa direalisasikan.

Agar tidak kehilangan dukungan dari Partai Golkar dan PKS pagi-pagi buta seperti ini, patut dapat diduga SBY akan manggut sana manggut sini dalam memberikan sinyal perjodohan politik kepada JK dan Hidayat.

Patut dapat diduga, kepada JK diberikan isyarat berjodoh kembali, dan kepada Hidayat diberikan isyarat untuk meminang Ketua MPR-RI ini menjadi CAWAPRES SBY.

Patut dapat diduga, SBY tak akan pernah berani menunjukkan ketegasan bahwa ia tak bersedia koalisi dengan JK atau tak bersedia berkoalisi dengan PKS.

Patut dapat diduga, SBY sekarang ketakutan jika barisannya GEMBOS di tengah jalan seandainya ada parpol yang sudah “dielus-elus” untuk mau berkoalisi tetapi mendadak mengundurkan diri.

Patut dapat diduga, sampai detik terakhir didaftarkannya nama CAPRES – CAWAPRES dari Partai Demokrat, maka sampai detik itu pulalah SBY baru akan mengambil sikap.

Tinggallah disini, JK dan Hidayat Nur Wahid yang digantung nasibnya.

Bersiap-siaplah, JK dan Hidayat Nur Wahid dibuat mengawang-awang peluangnya.

Jangan katakan bahwa SBY tidak pernah mengingkari janji. SBY pernah mengingkari janji. Jangan katakan bahwa SBY tidak berani membatalkan janjinya di tengah jalan secara mendadak dan sepihak.

Sumber KATAKAMI menyebutkan bahwa saat pemilihan Kepala Staf TNI Angkatan Darat pada akhir bulan Desember 2007 misalnya, SBY berjanji kepada Wapres JK bahwa Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin yang akan menjadi KSAD.

Sumber KATAKAMI menyebutkan juga bahwa kepada Letjen. Sjafrie Sjamsoeddin pun, tanda-tanda untuk dipilih menjadi KSAD itu diberikan.

Tetapi apa yang terjadi ? Menit-menit terakhir, SBY memilih Agustadi Sasongko Purnomo yang menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Darat. Dan SBY, hanya mengutus “orang kepercayaannya” untuk datang ke rumah dinas Wapres JK guna menyampaikan keputusan SBY yang berubah dari kesepakatan semula.

SBY tidak menelepon JK secara langsung !

Sumber KATAKAMI menyebutkan, SBY juga pernah berjanji untuk memberikan dukungan kepada Wiranto guna menjadi Ketua Umum Partai Golkar. Dan itu disampaikannya secara langsung kepada Wiranto, pasca terpilihnya SBY sebagai Presiden RI periode 2004-2009.

Tetapi apa yang terjadi ? Janji-janji ternyata tinggal janji.

SBY pernah menjanjikan langsung kepada Jenderal Ryamizard Ryacudu untuk menjadi Panglima TNI, pasca terpilihnya SBY sebagai Presiden RI.

Jenderal Ryamizard Ryacudu menyampaikan langsung kepada Pemimpin Redaksi KATAKAMI Mega Simarmata pada bulan November 2004 bahwa ia telah diundang datang ke Istana Kepresidenan untuk bertemu dengan SBY.

Dalam pertemuan itu, SBY memeluk Ryamizard dan mengatakan bahwa SBY tetap seperti yang dulu yaitu sebagai sahabat baik Ryamizard. Lalu SBY menegaskan kepada Ryamizard bahwa Ryamizard yang tetap akan didukung menjadi Panglima TNI.

Tetapi apa yang terjadi ? Setelah pertemuan itu, tidak ada lagi konfirmasi lebih lanjut dari SBY kepada Ryamizard. Ryamizard digantung nasibnya selama 1,5 tahun dan akhirnya SBY memilih Marsekal Djoko Suyanto untuk menjadi PANGLIMA TNI.

Lalu kalau kita simak pernyataan dari SBY baru-baru ini bahwa dibutuhkan KONTRAK POLITIK dalam menjalin KOALISI, maka patut dapat diduga KONTRAK POLITIK itu tak akan ada gunanya bagi seorang SBY.

Mengapa ?

Ketika SBY sepakat berpasangan dengan JK menjadi CAPRES – CAWAPRES, kedua tokoh ini membuat KONTRAK POLITIK yang wajib disepakati bila mereka menang.

Tetapi apa yang terjadi ? JK pernah sangat tidak enak hati kepada SBY karena pada suatu periode, JK merasa dikhianati karena SBY memasuki wilayah tugas yang sudah disepakati dalam KONTRAK POLITIK mereka.

Jusuf Kalla dengan para Petinggi Partai Golkar

JK sampai harus membawa KONTRAK POLITIK itu, saat datang menemui SBY di Kantor Kepresidenan beberapa tahun lalu untuk memprotes tindakan SBY.

Artinya, bukan tidak pernah SBY mengingkari janji tetapi patut dapat diduga CAPRES yang akan maju untuk MASA KEKUASAAN yang kedua – dimana pada MASA KEKUASAAN yang kedua itu akan mengantarkan SBY memerintah selama 10 TAHUN di negara ini – tetapi dalam realitanya patut dapat diduga SBY memang pernah ingkar janji.

Kurang apalagi JK, dalam menjalin koalisi dengan SBY selama 5 tahun terakhir ini ? JK, sebagai Ketua Umum Partai Golkar, patut dapat diduga kerap kali harus tampil sebagai “dewa penyalamat untuk mengamankan kebijakan-kebijakan PEMERINTAH yang dipertentangkan atau dipermasalahkan di LEGISLATIF.

Dengan posisi tawar yang sangat kuat seperti itupun, patut dapat diduga SBY berani ingkar janji.

Kurang apalagi Wiranto ?

Sebab secara history atau lembaran sejarah pengabdian Wiranto  – SBY sebagai prajurit TNI, Wiranto adalah SENIOR dan mantan atasan dari SBY. Tetapi, patut dapat diduga rekam jejak yang menempatkan Wiranto sebagai SENIOR dan mantan atasan saja bisa dikhianati terkait janji dukungan bagi Wiranto untuk menjadi Ketua Umum Partai Golkar.

Itulah sebabnya, kami sempat menyinggung diatas bahwa dalam berpolitik dengan SBY maka patut dapat diduga semua kemungkinan terburuk bisa terjadi.

Entah itu terhadap Partai Golkar atau PKS !

Sehingga, pandai-pandailah mengambil keputusan yang besar pasca pelaksanaan Pemilu Legislatif 2009.

Kalau posisi tawar PKS adalah WAJIB HUKUM-nya bagi SBY untuk memilih Hidayat Nur Wahid sebagai CAWAPRES bagi SBY kalau mau berkoalisi maka patut dapat diduga PKS harus bersiap-siap untuk terkejut jika ada sesuatu yang bertolak-belakang terjadi yaitu SBY tidak akan memilih Hidayat Nur Wahid sebagai CAWAPRES.

Tetapi, karena kuatir terhadap larinya PKS ke kubu lain atau PKS berkoalisi secara cerdas dengan parpol tertentu agar bisa mencalonkan CAPRES – CAWAPRES yang berbeda, maka patut dapat diduga SBY memang sengaja mengelus-elus PKS agar jinak dan duduk manis menunggu keputusan SBY sampai batas waktu yang terakhir pendaftaran CAPRES – CAWAPRES ke KPU.

Begitupun sebaliknya dengan Partai Golkar, harus sangat siap-siap jika ada keputusan yang mengecewakan bahwa JK tidak akan dipilih sebagai CAWAPRES walaupun prosentase suara Partai Golkar sangat besar dibandingkan PKS.

1 sangdwiwarna

Percaturan politik memang akan semakin panas beberapa waktu ke depan ini.

Kami tetap mendukung dijalinnya KOALISI MERAH PUTIH antara PDI Perjuangan, dengan Partai Gerindra, Partai Hanura dan sejumlah PARPOL lain yang sama visi serta misinya dengan PDIP.

Megawati bukan tipe yang suka umbar janji atau ingkar janji.

Putri sulung Bung Karno ini, setahu kami sangat konsisten dengan janji-janjinya. Ia tak pernah mau mempermainkan perasaan atau ambisi politik pihak manapun dengan cara menggunting dalam lipatan.

Sehingga akan sangat aman bagi siapapun dalam berkoalisi dengan Megawati bersama PDI Perjuangan. Jika ada kesungkanan untuk tawar-menawar politik dengan Megawati secara langsung, tokoh-tokoh semacam Prabowo, Wiranto, Rizal Ramli, Soetrisno Bachir, Suryadharma Ali dan siapapun juga, bisa melakukan komunikasi politik lewat Taufiq Kiemas selaku Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDI Perjuangan – yang juga merupakan suami dari Megawati sendiri -.

Gentlement Agreement !

Ya, dalam berpolitik dibutuhkan kesepakatan yang teguh berkibar dan wajib ditepati.

Maka dari itu, semua tokoh dan parpol yang menjalin komunikasi politik harus pandai-pandai mencermati perkembangan zaman dan banyak menerima referensi yang menyeluruh mengenai pihak yang sedang dijajaki koalisinya.

Jangan terkecoh. Jangan kecewakan suara pemilih anda di seluruh Indonesia. Sudah capek-capek membesarkan parpol dan mendapatkan hasil terbaik dalam Pemilu Legislatif 2009 misalnya, ternyata ambisi politik untuk duduk dalam KEKUASAAAN mendadak kandas karena ada yang ingkar janji.

Paling banter, akan diberi beberapa kursi dalam KABINET.

Jadi bayangkan, sudah susah payah membesarkan partai dan kerja keras memperoleh hasil yang maksimal dalam Pemilu Legislatif 2009, ternyata patut dapat diduga hanya untuk mengantar segelintir orang per orang saja menjadi MENTERI dan pengurus parpol yang lain hanya GIGIT JARI.

Bayangkan, betapa nikmatnya menjadi MENTERI. Hidup mewah, gaji tinggi, fasilitas sangat lengkap dan penuh dengan berbagai nuansa kehidupan yang sangat “adem” di pusat kekuasaan.

Iya kalau dari hasil gaji sebagai MENTERI itu, pengurus parpol kecipratan rezeki setiap bulannya selama masa bakti 5 tahun di kabinet.

Iya kalau dari hasil gaji sebagai MENTERI itu, ada sumbangan rutin kepada kas PARPOL minimal 50 persen dari GAJI “take home pay” sebagai MENTERI.

Bagaimana kalau misalnya patut dapat diduga KADER PARPOL yang direferensikan sebagai MENTERI itu, justru menikmati sendiri kenikmatan sebagai bagian dari eksekutif ?

Jadi, janganlah ada yang terlalu polos-polos amat atau lugu-lugu amat dalam berpolitik. Politik itu kejam. Dan didunia ini, tidak ada yang abadi. Sebab, yang abadi itu hanyalah KEPENTINGAN.

Lanjutkanlah berbagai komunikasi politik yang terbaik dengan muara yang fokusnya pada keteguhan sikap untuk mengedepankan kepentingan bangsa diatas segala-galanya. Tetapi, tetaplah mencermati semua kemungkinan dan kabar apapun yang sangat signifkan untuk didengar. Sebab patut dapati diduga PEMILU LEGISLATIF 2009 ini memang penuh kecurangan yang sangat menyakitkan hati dan mencoreng proses demokratisasi di Indonesia.

Waspadai terjadinya kejahatan teknologi dan berbagai bentuk pelanggaran saat dilaksanakannya PEMILU LEGISLATIF 2009 karena patut dapat diduga ada pihak tertentu yang memang dimungkinkan menghalalkan segala cara.

Jangan tutup semua peluang bagi siapapu juga yang memiliki informasi sangat berharga untuk diketahui oleh RAKYAT INDONESIA.

Katakan tidak pada cara-cara berpolitik yang kotor, curang dan sangat tidak kredibel.

Katakan YA, pada PERUBAHAN kepada INDONESIA YANG LEBIH lewat cara-cara berpolitik yang sportif, jujur, adil dan bermoral.

 

 

(MS) 

ilustration pictureilustration picture

April 13, 2009 - Posted by | Uncategorized | , , , ,

Sorry, the comment form is closed at this time.

%d bloggers like this: