Katakamidotcom News Indonesia

Pesona Diam Megawati Yang Dicurangi Tapi Berbesar Hati

Dimuat juga di WWW.KATAKAMIDOTCOM.WORDPRESS.COM

Megawati Soekarnoputri : Hati Saya Perih Dicurangi

Jakarta 17/10/2009 (KATAKAMI) Bagi yang terpilih kembali menjadi Menteri untuk mengisi kabinet baru Susilo Bambang Yudhoyono yang berhasil memperpanjang MASA KEKUASAAN di Indonesia 5 tahun berikutnya, pasti akan menganggap bahwa akhir pekan ini adalah akhir pekan (weekend) sangat membahagiakan.

https://i1.wp.com/www.qbheadlines.com/img/uploaded/thumbs/5957jpgmega_sby.jpg

Sedangkan bagi yang tidak terpilih kembali, bisa jadi ada yang kecewa atau justru tidak kecewa samasekali. Toh selama 5 tahun terakhir ini, sudah pernah diberi kesempatan untuk mengabdikan diri kepada bangsa, negara dan rakyat Indonesia.

Yang kini jadi pertanyaan, apakah PDI Perjuangan akan berkoalisi dan Sang Ketua Umum yaitu Megawati Soekarnoputri akan mengiklaskan kader partainya menjadi Menteri ?

Dari perkembangan di media massa, kita semua tahu bahwa SBY ingin memberikan jatah kursi menteri untuk kader PDIP. Sekarang tinggal bagaimana Megawati merespon, apakah tawaran dari bekas anak buahnya yang patut dapat diduga melakukan KECURANGAN dalam Pemilu 2009 ini akan diterima dengan tangan terbuka ?

Jika melihat dari kepribadian Megawati, tawaran SBY tidak akan alias sangat mustahil mendapatkan sambutan positif alias lampu hijau dari Megawati.

Patut dapat diduga, Megawati akan konsisten menjadi partai oposisi setelah ia berturut-turut dicurangi dalam 2 kali penyelenggaraan Pemilu sepanjang tahun 2009 ini yaitu Pemilu Legislatif dan Pemilu Pilpres.

Kalau mau jujur, siapakah yang paling dirugikan dari kecurangan demi kecurangan yang patut dapat diduga dilakukan SBY dalam Pemilu 2009 ?

Jawabannya adalah MEGAWATI !

https://i0.wp.com/www.sripoku.com/foto/berita/2009/5/12/12-5-2009-utamaMegawatiSukarnoPutri.jpg

Sekarang kalau ada yang bertanya kepada SBY, “Saudara SBY … jika anda dicurangi secara sangat menyakitkan dan sulit dibuktikan karena kecanggihan perangkat IT yang patut dapat diduga memanipulasi perolehan suara, apakah dengan mudah anda bisa melupakan dan ENJOY LIFE menyikapi kekalahan yang lahir secara terpaksa akibat kecurangan-kecurangan itu ?”

Sulit terima dengan akal sehat, kalau misalnya ada yang “HAPPY-HAPPY SAJA” menerima kekalahan akibat kecurangan yang sangat menyakitkan itu.

Bayangkan, patut dapat diduga kecurangannya bukan kecurangan yang biasa-biasa saja tetapi kecurangan yang sudah sangat mengerikan sekali.

Pemimpin Redaksi KATAKAMI Mega Simarmata bertemu dan berbicara banyak dengan MEGAWATI SOEKARNOPUTRI pada hari pertama Lebaran bulan September 2009 lalu.

Salah satu yang sempat kami tanyakan adalah bagaimana soal kemungkinan kader PDI Perjuangan mengisi kursi menteri dalam kabinet SBY 5 tahun ke depan ?

Kami kutip cuplikan hasil wawancara eksklusif KATAKAMI dengan Megawati mengenai hal itu :

(K) Apa benar ada tawaran kursi menteri dari SBY untuk kader PDIP ?

(MS) Siapa bilang ada tawar-menawar kursi menteri ? Saya jawab sekarang, tidak ada samasekali pembicaraan soal kursi menteri. Mana berani dia dan mana punya muka datang ke saya untuk menawar-nawarkan kursi menteri kepada kader saya setelah melakukan KECURANGAN !

https://i1.wp.com/papernas.org/berdikari/images/stories/kpu_curang.jpg

Kehidupan berbangsa dan bernegara di negara mana saja akan sangat sia-sia kalau dalam perkembangan demokratisasi yang tumbuh dan berakar di tengah rakyatnya, justru dikebiri.

Sangat wajar jika MEGAWATI menghindar untuk beberapa hari ini. Jangan ada yang mengartikan bahwa MEGAWATI tidak menghormati atau menerima HASIL Pemilu Pilpres 2009.

Beliau pasti menerima. Walaupun dengan hati yang sangat perih sekali akibat kecurangan-kecurangan melembaga dan berjamaah ini.

Tapi jangan paksa beliau untuk mau bermanis muka & bermanis tutur kata, untuk berpura-pura akrab agar kadernya bisa mendapatkan kursi menteri dalam kabinet baru SBY.

http://www.post-mortem.info/cgi-bin/miscopolemammediquellidiinfocamere.pl/000010A/687474703a2f2f6170706175782e766976616e6577732e636f6d2f736f726f742f696d616765732f736f726f7432312e6a7067

Presiden Tunggu Sikap PDIP Sampai Selasa

SBY salah besar kalau sangat percaya diri bahwa MEGAWATI akan mudah ditundukkan, dijinakkan dan dibungkam, hanya dengan menawari jatah kursi menteri — misalnya dengan syarat yang tersirat, MEGAWATI harus melupakan semua memori dan fakta-fakta dengan kecurangan itu –.

Hidup tak harus diisi dengan kerakusan jabatan.

Tapi yang terpenting diatas segalanya bagi MEGAWATI adalah memberikan pembelajaran politik kepada rakyat Indonesia.

MEGAWATI yang dipaksa untuk menerima kekalahan akibat kecurangan Pemilu di Indonesia secara tegas menghindari semua potensi perpecahan dan protes berisi anarkisme dari puluhan juta pendukungnya pasca kekalahan akibat kecurangan Pemilu.

http://sale
hmukadar.com/portal/sites/default/files/photos/image_1/smcomm-megapresidenkita.jpg

MEGAWATI anti kekerasan.

MEGAWATI tak ingin masa depan Indonesia menjadi porak-poranda dan hancur berantakan jika ia memimpin di garis terdepan untuk memprotes secara nyata semua fakta-fakta yang patut dapat diduga berbentuk kecurangan dan kejahatan IT.

Janganlah ada yang sangat merendahkan MEGAWATI dengan cara-cara yang tidak santun. Jadikanlah Indonesia ini sebagai negara demokrasi yang bermartabat.

Saat ini MEGAWATI sedang berada di Singapura untuk melakukan “check up” kesehatan.

Banyak yang bertanya-tanya, apakah MEGAWATI akan datang menghadiri pelantikan Presiden SBY awal pekan depan ?

Tapi banyak juga yang berspekulasi bahwa MEGAWATI tidak akan menghadiri pelantikan itu. SBY sendiri kabarnya masih akan tetap menunggu respon dari MEGAWATI sampai hari Selasa pekan depan — apakah mau menerima tawaran koalisi dan jatah kursi bagi kader PDIP –.

Sesungguhnya, yang terbaik dilakukan adalah menghormati apapun sikap dan keputusan yang sedang dijalankan dan sudah ditentukan oleh MEGAWATI.

Biarkanlah MEGAWATI diam dalam keheningan saat Saudara Susilo Bambang Yudhoyono dilantik sebagai Presiden Terpilih oleh Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Haji Taufiq Kiemas — yang notabene adalah suami dari MEGAWATI.

Dalam diamnya, MEGAWATI ingin menunjukkan kematangan jiwanya untuk memaafkan dan mengiklaskan kemenangan yang harusnya jatuh ke tangan MEGAWATI, bukan SBY — jika Pemilu 2009 berlangsung dengan jujur dan adil.

Pesona diam Megawati yang berbesar hati walau dicurangi !

(MS)

Advertisements

October 23, 2009 Posted by | Uncategorized | Comments Off on Pesona Diam Megawati Yang Dicurangi Tapi Berbesar Hati

Patutkah Dapat Diduga POLRI Sembunyikan Dosa Bom GORIES MERE ?

https://i0.wp.com/data5.blog.de/media/888/3412888_6c8bb45a3b_m.gif

DIMUAT JUGA DI WWW.KATAKAMIDOTCOM.WORDPRESS.COM

IKUTI JUGA PERKEMBANGAN KATAKAMI DI WWW.TWITTER.COM/KATAKAMIDOTCOM


Jakarta 8/8/2009 (KATAKAMI) Tahukah anda film terbaru berjudul TRANSFORMERS yang sejak beberapa pekan ini ikut menghiasi kancah perfilman yang diputar di berbagai bioskop ? Trans Formers yang identik dengan MAHLUK ROBOT seakan mengilhami Detasemen Khusus (Densus) 88 yang memamerkan aksinya yang “ceritanya” atau “naga-naganya” hendak menangkap teroris NOORDIN M TOP.
Hebatnya lagi, Densus 88 seakan kumat alias kambuh dengan cara memberikan EKSKLUSIF PEMBERITAAN kepada sebuah televisi swasta nasional.

Dulu, selama kurang lebih 5 tahun — saat Komisaris Jenderal GORIES MERE memimpin Tim Anti Teror POLRI — dilakukan juga dengan sangat liar, lancang, licik dan sangat tidak tahu malu perbuatan tak pantas berupa EKSKLUSIF PEMBERITAAN hanya kepada satu televisi swasta yang dipimpin seorang sahabat dekat Gories Mere.

https://i1.wp.com/www.whisperingwoodstrails.com/Animated%20-%20Wolf.gif

Patut dapat diduga, dari pemberian EKSKLUSIF PEMBERITAAN selama bertahun-tahun itu aada aliran dana yang dinikmati sendirian oleh kubu (sok) eksklusif GORIES MERE. Kini, Densus “TRANSFORMERS” 88 Anti Teror POLRI kembali kumat dan kambuh memberikan EKSKLUSIF PEMBERITAAN itu.

Hebatnya lagi, kok bangga memamerkan kepada publik aksi yang patut dapat diduga bau terasi karena mengandalkan ROBOT dalam menangani terorisme. Bubarkan saja Densus 88 Anti Teror dan ganti menjadi Detasemen Robot Anti Teror POLRI. Memalukan jika praktek penanganan yang sok canggih ala ROBOT TRANSFORMERS dibuka dan dibanggakan kepada publik.

Pada era kepemimpinan Sutanto selama 38 bulan menjadi KAPOLRI, Jenderal kelahiran Comal (Pemalang) itu seakan tak berwibawa dan sangat tidak bergigi untuk bisa mengendalikan perilaku yang sangat liar, lancang, licik dan tidak tahu malu dari kubu GORIES MERE.

Sehingga, pada era Sutanto aksi EKSKLUSIVITAS PEMBERITAAN itu merajalela dengan sangat kesetanan dan menganggap bahwa PERS NASIONAL adalah anak tiri alias warga negara kelas dua alias sampah yang tak perlu di gubris oleh POLRI.

http://katakamiklik.files.wordpress.com/2009/03/1-sutanto-bhd.jpg

Setelah diprotes dengan sangat keras, akhirnya pertengahan Juli 2007 aksi EKSKLUSIVITAS PEMBERITAAN ala Gories Mere and the gang resmi dilarang dan dinyatakan sebagai PERBUATAN TERLARANG di dalam seluruh aktivitas penanganan terorisme.

Kini, Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri kembali menunjukkan ketidak-mampuannya dan ketidakberdayaannya mengendalikan Densus 88 Anti Teror POLRI yang patut dapat diduga mengais untung dan haus materi dengan cara memberikan EKSKLUSIVITAS PEMBERITAAN.

Hanya satu televisi yang dibiarkan meliput dan menyiarkan “sok eksklusif” dengan memamerkan anak bawang yang sama — yang di era GORIES MERE memimpin langsung Tim Anti Teror — mendapatkan kekhususan.

http://albavitcom.files.wordpress.com/2009/07/grace-natalie.jpg

Tampaknya, patut dapat diduga GORIES MERE sangat ingin agar reporter perempuan muda yang seumur dengan anaknya ini, bisa naik daun dan menunjukkan eksistensi patut dapat diduga hendak dikarbit untuk bisa menjadi JURNALIS handal yang mengerti terorisme.

Aduh, kasihan deh lo !

https://i1.wp.com/i.peperonity.com/c/A50E1E/948620/ssc3/home/054/chavroel/mabes_polri_15227.jpg_320_320_0_9223372036854775000_0_1_0.jpg

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, juga Menko Polhukkam Widodo Adi Sucipto harusnya memiliki rasa malu dan kesadaran yang tinggi bahwa PEMERINTAH menjadi sangat tertampar dan ikut dipermalukan dengan aksi DISKRIMINASI dari POLRI dan Densus 88 Anti Teror kali ini yaitu dengan mengulangi PENYAKIT LAMA menempatkan PERS NASIONAL sebagai anak tiri alias warga negara kelas dua alias tidak adanya asas keadilan kepada seluruh wartawan dan seluruh media massa untuk mendapatkan akses dan bahan pemberitaan yang sama.

Densus 88 bukan didirikan oleh dengan menggunakan otoritas dan keuangan dari nenek moyang Jenderal BHD, Komjen Gories Mere ataupun oknum pejabat POLRI lainnya.

https://i1.wp.com/photos.friendster.com/photos/group/46/93/503964/163113645465s.jpg

Densus 88 adalah sebuah Detasemen Khusus Anti Teror yang didirikan dengan menggunakan uang rakyat lewat anggaran negara serta dengan adanya bantuan dari Pemerintah AMERIKA SERIKAT.

Darimana ceritanya, sepanjang Densus 88 didirikan maka bisa seenak jidatnya saja GORIES MERE mengkomersialisasikan Densus 88 Anti Teror untuk kepentingan pribadinya dan untuk menjabarkan perintah pribadinya ?

Patut dapat diduga, POLRI sudah semakin tidak fokus dan hilang arah menangani bom MEGA KUNINGAN sehingga ada saja akal-akalan untuk mencari kambing hitam dan kesibukan yang dibuat-buat untuk menutupi kesalahan GORIES MERE yang terindikasi terlibat dalam BOM MEGA KUNINGAN !

Kapolri BHD jangan mengulangi aksi tidak berbobot dari Jendearl SUTANTO saat menjabat dulu ketika gembong teroris dr Azhari dikabarkan meninggal dunai di Batu Malang (November 2005).

Patut dapat diduga ada kebohongan publik yang telah dilakukan KAPOLRI SUTANTO dan GORIES MERE !

Patut dapat diduga gembong teroris dr Azhari belum mati alias tidak benar mati tertembak.

http://redaksikatakami.files.wordpress.com/2009/03/1-ryamizard1.jpg

Ini terkuak saat Jenderal Ryamizard Ryacudu — Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat — menerima informasi dari seorang sahabat dekatnya yang menimba ilmu di Malaysia dan mendapat informasi dari sumber terpercaya di Malaysia bahwa patut dapat diduga dr Azhari masih hidup alias TIDAK BENAR KLAIM dari Indonesia gembong teroris itu sudah ditewaskan.

Ini berkaitan erat dengan informasi yang diterima KATAKAMI dari seorang wartawan senior dari Kantor Berita ANTARA.

https://i2.wp.com/www.balipost.co.id/balipostcetak/2002/11/8/BAHTIAR.gif

Menurutnya, Mantan Kapolri Dai Bahtiar sempat menghubungi Sutanto lewat telepon untuk mengingatkan bahwa keputusan Sutanto untuk tidak perlu melakukan otopsi terhadap JENAZAH yang diklaim sebagai dr Azhari, akan menjadi bumerang dan ditertawakan oleh POLISI sedunia jika kematian “dr Azhari” itu tidak disertai OTOPSI.

Kapolri BHD juga perlu diingatkan tentang aksi Densus 88 Anti Teror dibawah kendali GORIES MERE saat mengepung dan menyerang sebuah rumah di Wonosobo ala film action. Berjam-jam dikepung dan ditembaki karena konon kabarnya ada NOORDIN M TOP, ternyata nihil alias OMDO (Omong Doang !). Kumatnya POLRI memberikan EKSKLUSIVITAS PEMBERITAAN kepada sebuah media televisi saja, sangat mengecewakan dan pantas untuk dikutuk sekeras-kerasnya oleh PERS NASIONAL. Ini menjadi tren yang tidak sehat, tidak adil dan tidak pantas ditolerir oleh PEMERINTAH — yakni Presiden SBY dan Wapres JK –.

Copot Kapolri BHD, Kabareskrim Polri Komjen Susno Duadji dan Kepala Densus 88 Anti Teror Brigjen Saut Usman Nasution.

Memalukan sekali pada era keterbukaan dan transparansi seperti ini, masih punya muka dan masih punya nyali untuk menginjak-injak PERS NASIONAL. Mematut dirilah BHD, Susno dan Densus 88, pantaskah anda sekalian menganak-tirikan dan menempatkan PERS NASIONAL sebagai warga negara kelas dua ?

Memangnya anda-anda itu siapa ?

Hentikan EKSKLUSIVITAS PEMBERITAAN itu.

Kasihan sekali, patut dapat diduga dampak dari semuanya itu adalah INDONESIA bisa dianggap sebagai warisan nenek moyang manusia bernama GORIES MERE karena masih tetap merajalela mendikte KAPOLRI, KABARESKRIM dan DENSUS 88 ANTI TEROR POLRI.

(MS)

October 23, 2009 Posted by | Uncategorized | Comments Off on Patutkah Dapat Diduga POLRI Sembunyikan Dosa Bom GORIES MERE ?

Munir Cahaya Yang Tak Pernah Padam

Munir

Oleh : SUCIWATI, Isteri Alm. Munir.

BAGIAN PERTAMA

“Kenapa Abah dibunuh, Bu?” Mulut mungil itu tiba-tiba bersuara bak godam menghantam ulu hatiku. Gadis kecilku, Diva Suukyi, saat itu masih 2 tahun, menatap penuh harap. Menuntut penjelasan.

Suaraku mendadak menghilang. Airmataku jatuh. Sungguh, seandainya boleh memilih, aku akan pergi jauh. Tak kuasa aku menatap mata tanpa dosa yang menuntut jawaban itu. Terlalu dini, sayang. Belum saatnya kau mengetahui kekejian di balik meninggalnya ayahmu, suamiku, Munir. Seolah tahu lidah ibunya kelu, Diva memelukku. Tangan kecilnya melingkari tubuhku. ”Ibu jangan menangis…Jangan sedih,” kata-kata itu terus mengiang di telingaku.

Pada 7 September 2004, sejarah kelam itu tertoreh. Munir, suami dan ayah dua anakku –Alif Allende (10) dan Diva Suukyi (6)—meninggal. Siang itu, pukul 2.

Usman Hamid dari KontraS menelepon ke rumah. “Mbak Suci ada di mana?” Firasatku langsung berkata ada yang tidak beres. Pasti ada hal yang begitu besar terjadi sampai Usman begitu bingung. Jelas dia menelepon ke rumah, kok masih bertanya aku di mana.

Benar saja. Tergagap Usman bertanya, “Mbak, apa sudah mendengar kabar bahwa Cak Munir sudah meninggal?”

Tertegun aku mendengarnya. Seolah aku berada di awang-awang dan kemudian langsung dibanting ke tanah dengan keras. Kehidupan seolah berhenti. Seseorang yang menjadi bagian jiwaku, nyawaku, telah tiada. Kegelapan itu mencengkeram dan menghujamku dalam duka yang tak terperi.

Nyatakah ini? Air mata membanjir. Tubuhku limbung. Perlu beberapa saat bagiku untuk mengumpulkan tenaga dan akal sehat. Aku harus segera mencari informasi tentang Munir. Ya Tuhan, apa yang terjadi pada dia?

Begitu kesadaranku hadir, segera kutelepon berbagai lembaga seperti Imparsial dan kantor Garuda di Jakarta dan di Schipol (Belanda). Begitu pula teman-teman Munir di Belanda. Aku segera mencari kabar lebih lanjut dari kawan-kawan aktivis. Tak ada yang bisa memberikan keterangan memuaskan.

Orang-orang mulai berdatangan untuk menyampaikan bela sungkawa. Aku masih sibuk mencari informasi kesana-kemari. Sebagian diriku masih ngeyel, berharap berita itu bohong semata. Aku hanya akan percaya jika melihat langsung jenazah almarhum.

Pada tragedi ini, pihak Garuda amat tidak bertanggungjawab. Tiga kali aku menelepon kantor mereka di Jakarta, tapi tak satu pun keterangan didapat. Mereka bahkan bilang tidak tahu-menahu soal kabar kematian Munir. Sungguh menyakitkan, pihak maskapai penerbangan Garuda harusnya yang paling bertanggungjawab tidak sekali pun menghubungiku untuk memberi informasi. Padahal, Munir meninggal di pesawat Garuda 974.

Kantor Garuda di Schipol pun sama saja. Pada telepon ketiga, dengan marah aku menyatakan berhak mendapat kabar yang jelas menyangkut suamiku. Barulah informasi itu datang. Yan, nama karyawan Garuda itu, menjelaskan bahwa memang Munir telah meninggal dan dia menyaksikan secara langsung. Yan bahkan berpesan jangan sampai orang mengetahui kalau dia yang memberi kabar itu kepadaku. Ah, apa pula ini? Tuhan, beri aku kekuatan-Mu.

Aku hanya bisa menangis. Si sulung Alif, saat itu baru 6 tahun, melihatku dengan sedih dan ikut menangis. Diva terus bertanya dalam ketidak mengertiannya, “Kenapa Ibu menangis?” Aku merasa seolah jauh dari dunia nyata. Kosong.

Jiwaku hampa. Saat itu, dengan kedangkalanku sebagai manusia, sejuta pertanyaan dan gugatan terlontar kepada Tuhan. “Kenapa bukan aku saja yang Engkau panggil, Ya Allah? Mengapa harus dia? Mengapa dengan cara seperti ini? Mengapa harus saat ini? Mengapa? Ya Allah, Kau boleh ambil nyawaku,hamba siap menggantikannya. Dia masih sangat kami butuhkan, negara ini butuh dia.”

Rumah tiba-tiba dibanjiri manusia. Teman, kerabat, tetangga berdatangan. Bunga berjajar dari ujung jalan sampai ujung satunya. Alif bertanya, “Kenapa bunga itu tulisannya turut berduka cita untuk Abah?” Anakku, aku peluk dia, kukatakan bahwa Abah tidak akan pernah kembali lagi dari Belanda. Abah telah meninggal dan kita tidak akan pernah bertemu lagi dengannya.

Alif menangis dan protes, “Bukannya Abah hanya sekolah? Bukannya Abah akan pulang Desember? Kenapa kita tidak akan ketemu lagi?” Amel, guru yang selama ini melakukan terapi untuk Alif yang cenderung hiperaktif, segera menggendong dan membawa Alif keluar. Maafkan, Nak. Aku tak berdaya bahkan untuk sekedar menjawab pertanyaanmu. Aku tidak mampu.

Teman-teman dari berbagai lembaga juga datang. Antara lain dari Kontras, Imparsial, Infid, HRWG, dan banyak lagi yang tak mungkin aku mengingatnya satu persatu. Semua tumpah ruah.

Puluhan wartawan juga datang, tapi aku tak mau diwawancarai mereka. Biarlah kesedihan ini mutlak jadi milikku. Meskipun aku yakin bahwa keluarga korban yang selama ini didampingi almarhum pasti tidak kalah sedih. Sebagian mereka datang dan histeris menangisi kehilangan Munir.

PADA 8 September 2004, aku menjemput jenazah suamiku. Bersama Poengky dan Ucok dari Imparsial, Usman dari KontraS, dan Rasyid kakak Munir, aku berangkat ke Belanda. Ya Tuhan, beri aku kekuatan-Mu, begitu doaku sepanjang perjalanan.

Di ruang Mortuarium Schipol, jasad Munir terbujur kaku. Kami tiada tahan untuk tidak histeris. Usman melantunkan doa-doa yang membuat kami tenang kembali.

Sejenak aku ingin hanya berdua dengan suami tercintaku. Aku meminta teman-teman keluar dari ruangan. Aku pandangi Munir dalam derai air mata. Tak tahu lagi apa yang kurasakan saat itu. Sedih, hampa, kosong.

Lalu, kupegang tangannya. Kupandangi dia. Teringat saat-saat indah ketika kami bersama. Tiba-tiba ada rasa lain yang membuat aku menerima kenyataan ini. Aku harus merelakan kepergiannya. Doa-doa kupanjatkan. Ya Allah, berilah suamiku tempat terhomat disisi-Mu. Amien.

Suciwati

Di Batu, 12 September 2004, kota kelahirannya, Munir disemayamkan. Pelayat seolah tiada habisnya datang. Handai taulan, sahabat, teman-teman buruh, petani, mahasiswa, aktivis, wartawan semua ada. Banyak yang tidak tidur menunggu esok hari, saat pemakaman Munir. Umik, ibu Munir, begitu sedih. Aku bahkan tak sanggup melihat kesedihan yang membayang di wajahnya.

Hari itu, masjid terbesar di Batu, tempat Munir disholati, tidak sanggup menampung semua yang hadir. Perlu antre bergantian untuk sholat jenazah. Kota Batu yang selama ini sepi mendadak dipadati manusia. Melimpahnya “tamu” Munir ini bagai suntikan semangat bagiku. Bahwa ternyata bukan aku dan keluarga saja yang merasakan kedukaan ini. Dukungan yang mereka berikan membuatku kuat.

Seperti menanam sesuatu maka kamu akan memanennya,itulah yang aku buktikan hari ini. Aku melihat yang dilakukan Munir selama ini membuktikan apa yang dia perbuat.

Munir selalu mencoba berjuang bagi tegaknya keadilan dan perdamaian. Dia berteriak lantang menyuarakan keadilan bagi korban, baik di Aceh,Papua,Ambon dan dimana saja. Keberanian dan sikap kritisnya terhadap penguasa memang harus dibayar mahal oleh nyawanya sendiri dan juga oleh keluarga yang ditinggalkannya ‘anak dan istrinya’.

TAK MUDAH bagiku mencerna kehilangan ini. Perlu proses untuk menerima, mengikhlaskan kepergian Munir, dan menerima bahwa ini adalah kehendakNya. Jika Tuhan sudah berkehendak, maka siapa pun dan dengan cara apa pun tidak akan mampu mengelak. Keyakinan bahwa hidup-mati manusia adalah kehendak-Nya itu membuat aku bangkit lagi.

Munir adalah manusia, sama sepertiku dan yang lainnya, yang bisa mati. Kemarin, sekarang atau besok, itu hanya persoalan waktu. Sakit, diracun, atau ditembak itu hanya persoalan cara. Kematian adalah keniscayaan. Suka atau tidak suka, kita tetap harus menghadapinya. Dan kehidupan tidak berhenti. Air mata kepedihan tidak akan pernah mengembalikannya.

Sepenggal doa Sayyidina Ali, sahabat Nabi Muhammad SAW, membuatku bertambah yakin bahwa aku harus bangkit:

“Ketika kumohon kekuatan, Allah memberiku kesulitan agar aku menjadi kuat. Ketika kumohon kebijaksanaan, Allh memberiku masalah untuk kupecahkan. Ketika kumohon kesejahteraan, Allah memberikan aku akal untuk berpikir. Ketika kumohon keberanian, Allah memberiku kondisi bahaya untuk kuatasi. Ketika kumohon sebuah cinta, Allah memberiku orang-orang bermasalah untuk kutolong. Ketika kumohon bantuan, Allah memberiku kesempatan. Aku tidak pernah menerima apa yang kupinta, tapi aku menerima segala yang kubutuhkan.”

Kucoba untuk merenung. Kuteguhkan hati bahwa ini bukan sekedar takdir, tapi ada misteri yang menyelubungi. Misteri yang harus diungkap. Aku harus berbuat sesuatu. Bersyukur, aku tidak sendirian dalam kedukaan ini. Banyak teman-teman yang peduli kepada kami sekeluarga.

  • BAGIAN KEDUA

  • DUA bulan kemudian, tepatnya 11 November 2004, Rachland dari Imparsial menghubungiku. Dia mengabarkan ada wartawan dari Belanda ingin mewawancarai. Dia juga bertanya, apakah aku sudah mengetahui hasil otopsi yang dilakukan pihak Belanda terhadap almarhum Munir. Hasil otopsi itu kabarnya diserahkan kepada pemerintah Indonesia melalui Departemen Luar Negeri.

    Aku berharap teman-teman memiliki jaringan ke Departemen Luar Negeri. Tapi, rupanya tidak. Aku pun menelepon 108 –nomor informasi—untuk meminta nomer telepon kantor Departemen Luar Negeri.

    Teleponku ditanggapi seperti ping-pong. Dioper sana-sini. Sampai akhirnya aku berbicara via tel
    epon dengan Pak Arizal. Dia menjelaskan bahwa semua dokumen otopsi telah diserahkan kepada Kepala Polri, dengan koordinasi Menteri Koordinator Politik dan Keamanan.

    Entah, keberanian dari mana yang menyusup dalam diriku pada waktu itu. Aku tanpa ragu menghubungi dan berbicara dengan mereka, semua pejabat itu. Kebetulan, semua nomor telepon pejabat-pejabat penting itu terekam dalam telepon genggam suamiku.

    Kepada para petinggi itu, aku bertanya, “Kenapa aku sebagai orang terdekat almarhum tidak diberitahu tentang otopsi? Apa yang terjadi padanya? Apa hasilnya?” Mereka tidak memberikan jawaban. Padahal, sebagai istri korban, aku memiliki hak yang tak bisa diabaikan begitu saja.

    Pukul 10.00 malam, Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Pak Widodo AS meneleponku. Menurut dia, hasil otopsi telah diserahkan kepada Kepala Bagian Reserse dan Kriminal (Kabareskrim) Pak Suyitno Landung, Markas Besar Polri. Malam itu juga aku menelepon Kabareskrim. Aku meminta bertemu dengan dia esok paginya.

    Bersama Al Ar’af dari Imparsial,dan Usman Hamid dari KontraS, Binny Buchori dari Infid, Smita dari Cetro dan beberapa kawan, esok paginya tanggal 12 November 2004 aku mendatangi kantor Kabareskrim.

    Pagi itu aku menghadapi kenyataan yang menyakitkan. Benarlah dugaanku bahwa ada yang aneh pada kematian Munir. Hasil otopsi itu menjelaskan dengan gamblang bahwa kematian almarhum adalah lantaran racun arsenik. Racun itu ditemukan di lambung, urine, dan darahnya. Ternyata dia memang dibunuh…!

  • KELUAR dari Mabes Polri, kami sudah diserbu wartawan. Siaran pers pun digelar bersama sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) di kantor KontraS.

    Isinya, mendesak pemerintah untuk segera melakukan investigasi, menyerahkan hasil otopsi kepada keluarga, dan membentuk tim penyelidikan independen yang melibatkan kalangan masyarakat sipil. Desakan serupa dikeluarkan oleh tokoh-tokoh masyarakat di berbagai daerah. Desakan yang ditanggapi dengan janji Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengusut kasus pembunuhan Munir.

    Tak lama pula kami membentuk KASUM (Komite Aksi Solidaritas Untuk Munir). Banyak organisasi dan individu yang punya komitmen akan pengungkapan kasus ini bergabung. Ini memang bukan hanya persoalan kematian seorang Munir. Lebih dari itu, ini persoalan kemanusiaan yang dihinakan dan kita tidak mau ada orang yang diperlakukan sama seperti dia hanya karena perbedaan pikiran.

    Rapat paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pun sepakat untuk meminta pemerintah membentuk tim independen kasus Munir. DPR juga mendesak pemerintah segera menyerahkan hasil autopsi kepada keluarga almarhum. Pada November 2004, DPR membentuk tim pencari fakta untuk mengusut kasus pembunuhan Munir.

    PADA 24 November 2004, Presiden Yudhoyono bertemu denganku. Teman-teman dari Kontras, Imparsial, Demos menemaniku bertemu Presiden. Satu bulan kemudian tepatnya tanggal 23 Desember 2004 Presiden mengeluarkan Keputusan Presiden untuk pembentukan Tim Pencari Fakta (TPF) Munir yang dipimpin oleh Brigjen pol. Marsudi Hanafi.

    Tim ini, di luar dugaan, bekerja efektif menemukan kepingan-kepingan puzzle siapa dibalik pembunuhan Munir. Fakta-fakta temuan tim ini cukup mencengangkan. Fakta yang menunjukkan benang merah pembunuhan keji penuh konspirasi dan penyalahgunaan kekuasaan serta kewenangan di Badan Intelejen Nasional (BIN). Sayangnya TPF tidak diperpanjang lagi setelah dua kali(6 bulan)masa kerjanya.

    Adalah Pollycarpus, pilot Garuda, benang merah yang mengurai jaring laba-laba kebekuan dan kerahasiaan yang melingkupi BIN. Polly, sebuah nama yang sangat melekat dibenakku. Sangat dalam maknanya dalam perjalanan menguak kebenaran siapa dibalik kematian Munir, suamiku.

    Dia adalah orang yang menelepon suamiku dua hari sebelum berangkat ke Belanda. Polly menanyakan jadwal keberangkatan suamiku dan dia mau mengajak berangkat bersama. Kebetulan waktu itu aku yang menerima telepon itu. Jika tidak, barangkali aku tidak akan pernah tahu keberadaan Polly. Munir mengatakan Polly adalah orang aneh dan sok akrab. “Dia itu orang tidak dikenal tapi tiba-tiba menitipkan surat untuk diposkan di bandara setempat ketika aku hendak ke Swiss,” begitu kata Munir

    Terungkap dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, sang pilot tidak hanya menerbangkan pesawat. Dia adalah orang yang mempunyai hubungan dengan agen BIN seperti halnya Mayor Jenderal TNI Muchdi PR, Deputi V BIN. Polly disebut sebagai agen non organik BIN yang langsung berada di bawah kendali Muchdi. Berkas dakwaan tersebut juga menyebut adanya pembunuhan berencana terhadap Munir.

    Tercatat pula dalam berkas dakwaan untuk Muchdi PR, keduanya –Polly dan Muchdi—berhubungan intensif melalui telepon. Paling tidak 41 kali hubungan telepon antara Muchdi dan Polly yang terjadi menjelang, saat dan sesudah tanggal kematian Munir. Bisa diduga, keduanya berhubungan terkait dengan perencanaan, eksekusi, dan pembersihan jejak.

  • KAMI, aku dan teman-teman KASUM, juga melakukan investigasi. Kami berusaha memetakan jejak sang pilot. Melalui berbagai penelusuran, terungkap bahwa Pol
    lycarpus memiliki hubungan dengan para pejabat BIN. Sosok satu ini diketahui berada di berbagai daerah titik panas seperti Papua, Timor Leste, dan Aceh. Sebuah fakta yang tidak biasa dalam dunia profesi pilot.

  • Polly sendiri, dalam persidangan, mengaku bahwa dia pernah tinggal cukup lama di Papua. Katanya, dia bertugas sebagai pilot misionaris sebelum bekerja di Garuda. Mungkin kebetulan, mungkin juga tidak, keberadaan Polly di Papua ternyata bersamaan dengan Muchdi PR yang waktu itu menjadi Komandan KODIM 1701 Jayapura pada tahun 1988-1993. Lalu, Muchdi menjadi Kasrem Biak 173/ 1993-1995. Melihat rekam jejak ini, patut diduga, pada periode itulah perkenalan pertama sang pilot dengan sang jenderal.

    Indra Setiawan, saat itu menjabat Direktur Utama Garuda, mengakui mengingat nama Pollycarpus karena khas dan unik. Pada 22 November 2004, ketika kami meminta keterangan kepada Indra,

    Aku: Apakah ada yang namanya Polly di Garuda?
    Indra (menjawab dengan cepat) : Oh ya. Ada. Namanya Pollycarpus.
    Aku : Bapak kok hafal padahal karyawan bapak lebih dari 7000 ?
    Indra : Ya, soalnya namanya khas dan unik. Kalau namanya Slamet, saya pasti lupa.

    Belakangan, dalam persidangan, baik sebagai saksi atau pun ketika ditetapkan sebagai terdakwa pada tahun 2007, terungkap bahwa Indra mengingat Polly karena alasan khusus. Alasan yang berkaitan dengan BIN. Polly merangkap pilot dan bagian pengamanan penerbangan (aviation security) atas permintaan BIN. Sebuah alasan yang masuk akal. Jika BIN yang meminta, kendati tidak benar secara prosedur, maka pihak Garuda tidak bisa menolak.

    BIN mengeluarkan permintaan tersebut dalam surat yang ditandatangani Wakil Kepala BIN As’ad Said Ali. Pada saat itu Kepala BIN dijabat oleh Hendropriyono –sosok yang selama ini sangat dekat dengan berbagai kasus yang diadvokasi almarhum.

    Surat yang diteken As’ad patut diduga menjadi petunjuk bahwa rencana pembunuhan Munir melibatkan para petinggi BIN, bukan hanya Muchdi , tapi juga Hendropriyono. Apalagi, sesuai pengakuan agen BIN Ucok alias Empi alias Raden Patma dalam persidangan Peninjauan Kembali, Deputi II Manunggal Maladi dan Deputi IV Johannes Wahyu Saronto BIN juga diduga terlibat.

  • Irjen YWS yang ditulis Suciwati dalam tulisannya sebagai orang yang patut dapat diduga ikut terlibat dalam rencana MEMBUNUH Munir

    Irjen YWS yang ditulis Suciwati dalam tulisannya sebagai orang yang patut dapat diduga ikut terlibat dalam rencana MEMBUNUH Munir

    BAGIAN KETIGA

    SERANGKAIAN persidangan kasus pembunuhan Munir begitu melelahkan. Tak hanya secara fisik tetapi juga secara mental. Betapa tidak, pada tingkat Mahkamah Agung, Pollycarpus hanya dihukum dua tahun. Polly hanya dinyatakan bersalah melakukan pemalsuan surat, bukan pembunuhan. Semua ini tentu merupakan pukulan sendiri buatku.

    Jantungku sakit sekali ketika aku mendengar putusan untuk Polly. Aku merasa kehilangan untuk yang kedua kalinya, kehilangan Munir dan kehilangan keadilan itu sendiri.

    Bagaimana mungkin fakta-fakta yang begitu mencolok diabaikan begitu saja oleh hakim-hakim itu? Bagaimana mungkin keadilan hukum bisa kuraih jika dipenuhi oleh manusia tanpa hati nurani?

    Dua dari tiga hakim yang membebaskan Pollycarpus dari dakwaan pembunuhan itu memiliki latar belakang sebagai tentara. Keduanya adalah purnawirawan TNI dengan pangkat terakhir mayor jenderal. Tak heran, beberapa pihak menduga, ada semangat korps dalam menangani kasus ini yang menguntungkan Pollycarpus.

    Kesedihan sama sekali tidak membuatku surut. Aku yakin pasti masih banyak aparat penegak hukum mempunyai hati nurani. Masih banyak yang peduli pada keadilan dan kebenaran. Ini terbukti dalam putusan pengadilan kasasi pada tanggal 25 Januari 2008 Polycarpus dijatuhi hukuman penjara selama 20 tahun atas dakwaan pembunuhan berencana dan pemalsuan surat tugas.

    Selesai? Belum. Misteri pembunuhan Munir masih jauh dari terungkap. Terungkap dari persidangan, juga keputusan pemidanaan Polly, ada mesin intelejen yang bekerja dengan jahat menghabisi nyawa Munir. Ini jauh lebih penting ketimbang sekadar menghukum Polly. Dia hanya pelaku lapangan, bukan orang yang secara sistematis menggunakan kekuasaan dan kewenangan dalam melakukan pembunuhan ini.

    Tragisnya, sampai hari ini proses meraih kebenaran dan keadilan siapa di balik pembunuhan Munir masih terseok-seok. Tabir misteri belum tersingkap.

    Benar, ada perkembangan baru dengan ditangkapnya Muchdi Purwopranjono 19 Juni 2008. Jenderal bintang dua ini diduga kuat berada di balik pembunuhan Cak Munir. Saat ini proses persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan sedang berlangsung untuk membuktikan dugaan tersebut.

    Yah, aku berharap persidangan ini berlangsung adil. Kejahatan para pelaku pelanggar HAM selayaknya dibawa ke pengadilan. Namun, kecemasan selalu hadir. Adakah keadilan akan berpihak kepadaku?

    Aku berharap masih ada jaksa dan hakim handal yang mengedepankan hati nurani ada di pengadilan ini. Tentu saja aku juga berharap pelaku sesungguhnya juga segera ditangkap, siapa pun dia.

    PERJALANAN meraih keadilan begitu berliku. Satu hal yang paling aku syukuri adalah begitu banyak sahabat yang mendukung perjuangan pencarian keadilan ini. Teman-teman di KASUM dan tak sedikit sahabat yang secara pribadi memberiku kekuatan untuk terus berjuang.

    Tak jarang teror hadir. Ada ancaman datang dari mereka yang ingin memadamkan pencarian keadilan ini. Bahkan statusku sebagai ibu juga menjadi bagian empuk untuk diserang oleh mereka. Syukurlah, di saat-saat begini, sahabat-sahabatku setia mendampingi dan menguatkanku.

    Desakan penuntasan kasus Munir dari dalam negeri cukup kuat. Pada 7 Desember 2006, Tim Munir DPR RI mengeluarkan rekomendasi agar Presiden membentuk Tim Pencari Fakta yang baru. Berbagai kelompok masyarakat sipil pun terus mempertanyakan kasus Munir. Mereka datang dari berbagai kalangan, antara lain LSM, akademisi, petani, buruh, seniman,wartawan dan berbagai profesi lainnya.

    Tak hanya dari dalam negeri, dukungan juga datang dari segala penjuru dunia. Pada 9 November 2005, misalnya, 68 anggota Kongres Amerika Serikat mengirimkan surat kepada Presiden Yudhoyono agar segera mempublikasikan laporan TPF. Anggota Kongres AS tersebut mempertanyakan keseriusan pemerintah Indonesia dalam menuntaskan kasus Munir.

    Pada September 2006, saat KTT ke-6 ASEM (The Asia-Europe Meeting) di Helsinki, Finlandia, kasus Munir menjadi salah satu sorotan peserta. Presiden Komisi Eropa Jose Manuel Barroso, peserta penting dalam konferensi tersebut, mempertanyakan kelanjutan pengusutan kasus Munir langsung kepada Presiden Yudhoyono.

    Philip Alston, UN Special Rapporteur on Extrajudicial, Summary or Arbitrary Executions, juga telah menyatakan kesediaannya untuk ikut membantu pemerintah Indonesia dalam mengusut kasus Munir.

    Pelapor khusus, yakni Hina Jilani (Human Rights Defender) dan Leandro Despouy (Kemandirian Hakim dan Pengacara), juga telah menyatakan keprihatinan akan kasus Munir di hadapan Dewan Hak Asasi Manusia Persatuan Bangsa-Bangsa.

    Pada 26 Februari 2008, Deklarasi Parlemen Uni Eropa meminta pemerintah Indonesia serius dalam menuntaskan kasus Munir. Bahkan, 412 anggota parlemen yang menandatangani deklarasi ini meminta Uni Eropa memonitor kasus ini sampai tuntas.

    Mengalirnya dukungan tersebut mestinya membuat pemerintah tidak usah ragu. Siapa pun di balik kekejian ini harus diungkap, tak peduli jika penjahatnya itu adalah orang kuat.

    Dukungan bagi pemerintah telah mengalir, secara hukum dan politik. Tinggal perintah dari sang presiden untuk memastikan kepolisian tetap bekerja mengusut kasus ini sampai terungkapnya sang aktor utama. Presiden juga hanya perlu memerintahkan Jaksa Agung untuk bekerja profesional. Hanya itu….

    Presiden Yudhoyono pernah menyatakan bahwa pengusutan kasus pembunuhan Munir adalah ujian bagi sejarah bangsa. “Test of our history,” kata Pak Presiden.

    Jadi, aku,rakyat Indonesia dan komunitas internasional menunggu bukti perkataan itu. Aku menunggu pengusutan misteri ini sampai pada aktor utamanya, bukan hanya aktor pinggiran saja. Negara harus bertanggung jawab atas semua pelanggaran HAM yang telah terjadi.

    BAGIKU, Munir adalah cahaya yang tidak pernah padam. Kesan ini semakin mendalam terasa setelah kepergiannya. Munir beserta semangatnya telah memecahkan ketakutan yang mencekam, menciptakan budaya demokrasi, memberi harapan penegakan HAM. Semua yang Munir lakukan menjadi inspirasi bagiku dan teman-teman penggerak demokrasi di negeri ini. Niscaya, semangat itu diteruskan oleh para pencinta keadilan dan kebenaran dengan tanpa henti.

    Ya Allah, aku bukan Sayidina Ali yang Kau beri kemuliaan. Aku hanya manusia biasa dan aku memohon kepadaMu sebab aku meyakiniMu. Berilah kemudahan bagi kami untuk mengungkap pembunuhan ini. Beri kami kekuatan untuk menjadikan kebenaran sebagai kebenaran sesuai perintahMu. Menjadikan keadilan sebagai tujuanku seperti tujuan menurutMu.

    Ya Allah, aku tidak menjadi manusia yang lebih dari yang lain dengan berbagai ujian yang Kau berikan, seperti Kau muliakan Nabi Muhammad dengan berbagai ujianMu. Aku hanya minta menjadi manusia biasa dan dapat mengungkap kasus ini. Amin.

    Bekasi, September 2008.

    (Tamat)

    LAMPIRAN (BERITA YANG DIMUAT DI WWW.KOMPAS.COM )

    http://www.kompas.com/read/xml/2008/09/25/11182561/santet.jadi.alternatif.bunuh.munir

    SANTET JADI ALTERNATIF BUNUH MUNIR
    Kamis, 25 September 2008 | 11:18 WIB

    JAKARTA, KAMIS — Santet ternyata m
    enjadi salah satu cara atau intrik yang akan digunakan untuk membunuh aktivis HAM Munir pada tahun 2004. Hal ini terungkap dalam sidang lanjutan pembunuhan Munir dengan terdakwa Muchdi Pr di PN Jakarta Selatan, Kamis (25/9/2008), dari kesaksian aktivis Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia (PBHI) Hendardi.

    Alternatif intrik ini merupakan petunjuk dari dokumen yang diperoleh Tim Pencari Fakta (TPF) Munir sekitar tahun 2005. Menurut Hendardi, dokumen tersebut diterima Ketua TPF Marsudi Hanafi. Namun, mereka tidak mengetahui dari siapa dokumen tersebut berasal.

    Dokumen tersebut merupakan hasil tulisan seseorang atau sejumlah orang yang tidak diketahui mengenai skenario pembunuhan yang akan dipakai untuk membunuh Munir. Skenario tersebut memuat pengetahuan dan analisis orang-orang tersebut mengenai siapa yang terlibat, tempat dan waktu pertemuan, perencanaan cara dan intrik alternatif pembunuhan dilangsungkan.

    Di dalamnya juga memuat nama target lain selain Munir serta eksekutornya, tapi Hendardi mengaku lupa. “Tapi karena terakhir masa TPF tak kami jadikan data primer,” ujar Hendardi.

    Selain intrik pembunuhan dengan santet, intrik pembunuhan dengan racun juga tercantum di dalamnya. Bahkan dituliskan telah dicobakan kepada hewan hingga hewan itu mati.

    October 23, 2009 Posted by | Uncategorized | Comments Off on Munir Cahaya Yang Tak Pernah Padam

    Jika Terlibat Bekingi Narkoba, Adili & Vonis MATI Komjen GORIES MERE

    October 23, 2009 Posted by | Uncategorized | Comments Off on Jika Terlibat Bekingi Narkoba, Adili & Vonis MATI Komjen GORIES MERE

    McChrystal: Getting bin Laden key to defeating al Qaida

    President Obama Meets with Ambassador to Afghanistan Karl Eikenberry and General Stanley McChrystal
    President Barack Obama meets with United States Ambassador to Afghanistan Karl Eikenberry, left, and General Stanley McChrystal, Commander, International Security Assistance Force, in the Oval Office, Dec. 7, 2009. (Official White House Photo by Pete Souza)

    WASHNGTON (KATAKAMI / McClatchy)  — Days after his boss said that there was no new intelligence on the whereabouts of al Qaida leader Osama bin Laden , the top U.S. commander in Afghanistan told Congress Tuesday that killing or capturing bin Laden is critical to defeating the terrorist organization.

    Army Gen. Stanley McChrystal , the top Afghanistan commander, said, however, that he could not promise that his new military strategy would lead to bin Laden’s capture because when the al Qaida leader moves outside of Afghanistan , chasing after him “is outside my mandate.”

    McChrystal’s comments underscored a key contradiction in President Barack Obama’s new Afghanistan strategy: While it dedicates thousands of additional troops to combating the Taliban in Afghanistan , it adds few resources aimed at the policy’s stated goal: “disrupting, dismantling and defeating” al Qaida .

    “I believe he is an iconic figure at this point whose survival emboldens al Qaida as a franchise organization across the world,” McChrystal told the Senate Armed Services committee . “I don’t think we can defeat him until he is captured or killed.”

    In the last week top administration officials have offered conflicting statements about what the United States knows about bin Laden’s whereabouts. While McChrystal suggested Tuesday that bin Laden is in neighboring Pakistan , retired Marine Gen. Jim Jones , Obama’s national security advisor, said Sunday that bin Laden sometimes crosses the Afghan-Pakistan border.

    And over the weekend, Secretary of Defense Robert Gates told ABC’s “This Week” that the United States had not had strong intelligence on bin Laden’s whereabouts for years.

    Bin Laden has eluded U.S. capture since the Sept. 11, 2001 attacks, most notably at the battle of Tora Bora in Afghanistan in late 2001. The special operations task force assigned exclusively to find bin Laden was disbanded by 2005.

    “If, as we suspect, he is in North Waziristan, it is an area that the Pakistani government has not had a presence in, in quite some time,” Gates told ABC .

    McChrystal and Karl Eikenberry , the U.S. envoy in Afghanistan , appeared before the House and Senate Armed Services Committees on Tuesday to answer questions about the Obama administration’s new Afghanistan strategy, which calls for the deployment of between 30,000-35,000 additional U.S. troops to Afghanistan by next summer. Most of those troops are to be assigned to southern Afghanistan , where the Taliban controls large swaths of the county.

    Besides improving security, those forces are expected to train Afghan security forces to take over. McChrystal said that he expects the Afghan security forces — police and army — to expand to 300,000 by July 2011 — when Obama said U.S. troops would begin to withdraw. The total currently is about 188,000, with 96,000 of those belonging to the army.

    McChrystal said he had not recommended July 2011 as the date to start the withdrawal. But he said that that date provides the United States enough time to weaken the Taliban’s hold and build up the Afghan security forces. He did not say what the United States would do if U.S. forces hadn’t made that kind of progress by then.

    Eikenberry, who had expressed doubts about the strategy during the administration’s three-month deliberation, said Tuesday he supported the strategy.

    Military officials believe a Taliban -controlled Afghanistan will provide safe haven to al Qaida and its leadership. McChrystal estimated that between 24,000-27,000 full-time Taliban fighters operate in Afghanistan .

    In the past, officials have said that killing bin Laden is not critical to defeating al Qaida , saying that they believe al Qaida’s leadership is decentralized and that stabilizing the countries where they operate is a more attainable goal.

    On Tuesday, however, McChrystal said that the goals are interlinked. “Rolling back the Taliban is a prerequisite to the ultimate defeat of al Qaida ,” he said.

    There are currently 69,000 U.S. troops and 41,000 coalition troops in Afghanistan . The first of the surge troops are slated to arrive by Christmas.

    October 12, 2009 Posted by | Uncategorized | Comments Off on McChrystal: Getting bin Laden key to defeating al Qaida

    Gates Cites Arab-Kurd Progress in Iraq

    Secretary Gates speaks to US troops at Forward Operating Base Warrior, 11 Dec 2009


    (KATAKAMI / VOA) U.S. Defense Secretary Robert Gates says Iraqi Arab and Kurdish leaders have made progress in recent weeks toward resolving their differences over power sharing and the status of the city of Kirkuk. Gates met Friday with Iraqi Prime Minister Nouri al-Maliki in Baghdad and with Kurdish President Masoud Barzani at his regional capital, Irbil.

    U.S. Defense Secretary Robert Gates says Iraqi Arab and Kurdish leaders have made progress in recent weeks toward resolving their differences over power sharing and the status of the city of Kirkuk. Gates met Friday with Iraqi Prime Minister Nouri al-Maliki in Baghdad and with Kurdish President Masoud Barzani at his regional capital, Irbil.

    In-between the meetings in Baghdad and Irbil, Secretary Gates stopped at a U.S. airbase near the disputed city of Kirkuk, where he told several hundred American troops he sees signs of progress toward resolving Iraq’s Arab-Kurd dispute.  “I actually think they’ve made some real headway in recent weeks,” he said.

    Answering a question from one of the American soldiers, Gates called Iraq’s Arab-Kurd issue “perhaps the most worrisome” in the country.  But he said he believes it can be resolved without violence. “There is no question that the Kurds see their future as part of a unified Iraq.  And what’s at issue is the terms on which that goes forward.  That’s negotiable.  And we’ll do what we can.  But at this point, all the evidence that we see indicates that they will work out these differences.  And to the degree we can help, we will do that,” he said.

    U.S. officials who attended the meetings say Secretary Gates urged Prime Minister Maliki and regional President Barzani to ensure the new parliament forms a government in a “timely and inclusive” manner after the March 7 election.  Pentagon Press Secretary Geoff Morrell says Gates urged both leaders to avoid a repetition of the “painful memory” of the five-month government formation process in 2005.  U.S. officials are concerned such a prolonged political process will create an opening for al-Qaida to try to foment ethnic strife, just as tens of thousands of U.S. troops are scheduled to be leaving Iraq.

    Morrell quoted Gates as telling President Barzani the United States has a long-term commitment to Kurdish “security, prosperity and autonomy within a united Iraq.”  And he urged the Kurdish leader to continue to pursue improved relations with Baghdad.

    On Thursday, the number two U.S. commander in Iraq, Lieutenant General Charles Jacoby, said the improved cooperation between Prime Minister Maliki and President Barzani has led to reduced tension between the Iraqi Army and the Kurdish Peshmerga force. “The act of interest and trust of those two leaders has led to greater cooperation within the disputed internal boundaries amongst all parties.  And we have not had the kinds of friction that’s been seen in the past.  In fact, it’s been a very solid relationship,” he said.

    General Jacoby says the Iraqi and Kurdish forces have begun to put aside political differences and, with American help, start to build what he called “a security architecture.”

    U.S. officials say they are in a better position to mediate and press for the resolution of difficult issues while the United States has a sizable military force in Iraq.

    That force is scheduled to be reduced from nearly 120,000 now to 50,000 by next October, and to zero by the end of 2011, although Secretary Gates said Friday there could be a follow-on agreement for some U.S. troops to stay, particularly elements of the Air Force.  Gates said he expects the Iraqi Arab and Kurdish leaders to settle their disagreements in what he called a “timely fashion,” that will not affect the U.S. withdrawal timeline.

    October 12, 2009 Posted by | Uncategorized | Comments Off on Gates Cites Arab-Kurd Progress in Iraq

    Gen McChrystal : Bin Laden capture vital for Afghanistan

    https://i0.wp.com/blog.prospect.org/blog/weblog/obama_mcchrystal.jpg

    Photo : President Barack Obama & Gen. McChrystal

    (KATAKAMI / BBC) The top US commander in Afghanistan has said al-Qaeda will not be defeated unless its leader, Osama Bin Laden, is captured or killed. Testifying to US Congress, Gen Stanley McChrystal said Bin Laden had become an “iconic figure”.

    But he said the mission was “undeniably difficult” and the next 18 months would be crucial.

    “I don think that we can finally defeat al Qaeda until hes captured or killed,” said Gen McChrystal of Bin Laden.

    “I believe he is an iconic figure at this point, whose survival emboldens al-Qaeda as a franchising organization across the world,” he said.

    The general said that killing or capturing Bin Laden would not spell the end of al-Qaeda but that the movement could not be eradicated while Bin Laden remained at large.

    The militant leader is believed to be living in the border region between Pakistan and Afghanistan.

    US Secretary of Defense Robert Gates said last week that officials have had no reliable information on Bin Ladens whereabouts for “years”.

    Significant costs

    Gen McChrystal told the Congressional hearing the next 18 months would be crucial in Afghanistan, but that he did not expect to need more troops to get the job done.

    He said coalition forces faced “a complex and resilient insurgency” and that Afghans lacked confidence in their government.

    “Success will require steadfast commitment and incur significant costs,” he told the House Armed Services Committee.

    MARDELLS AMERICA
    Mark Mardell
    Beating the Taliban, he told the politicians, was a bit like defeating a political opponent: it didn mean they had to be destroyed to the last man but were rendered incapable of accomplishing their mission

    The commander said the 30,000 US reinforcements would “provide us the ability to reverse insurgent momentum and deny the Taliban the access to the population they require to survive”.

    He said he did not think he would need to ask for any more troops in a years time, but would not hesitate to recommend more if circumstances changed.

    The US ambassador to Afghanistan, Karl Eikenberry, who reportedly questioned the troop build-up during White House deliberations last month, also endorsed the new approach as “the best path to stabilise Afghanistan”.

    Mr Eikenberry agreed with Gen McChrystal that Bin Laden was key that process.

    He said it was “important to the American people – indeed, the people of the world – that one day Osama bin Laden is either captured or killed, brought to justice”.

    The new battle plan includes an 18-month timeline before the first US troops would begin to come home.

    US committed

    Hours before the panel convened, Mr Gates held talks with Afghan President Hamid Karzai in the capital, Kabul.

    Speaking at a joint news conference afterwards, President Karzai warned that it would take 15 years before Afghanistan was able to pay for the cost of its own security forces, which the US wants to quadruple in size to 400,000 troops by 2013.

    “We hope that the international community and the United States, as our first ally, will help Afghanistan reach the ability to sustain a force,” he said.

    For his part, Mr Karzai said he hoped the US and the international community would continue funding them, adding the US would not abandon Afghanistan.

    The two countries would need to be long-term partners, he said.

    The defence secretary said Mr Karzai needed to take a tougher line on corruption, but added that many ministers were competent and did not need to be replaced when a new cabinet is announced in the coming days.

    Mr Karzai said he was committed to doing so and that he would inform parliament of the names of a number of proposed ministers.

    Both men then agreed that it was a priority to strengthen the Afghan security forces in order to help international troops tackle insurgents.

    But Mr Karzai was also cautiously optimistic that his country would be able to begin taking over responsibility for security in some “critical” parts of the country within two years, before taking charge nationwide in five years time.

    Civilians martyred

    The president later condemned what his office said was the killing of six civilians in an overnight operation by Nato-led forces in the eastern province of Laghman.

    Robert Gates: “We know that you prefer to have Afghans protecting Afghans”

    Local residents have protested against the reported civilian deaths, which they and provincial officials say number 12.

    The Nato-led International Security Assistance Force (Isaf) said its troops killed seven militants and detained another four after coming under hostile fire while pursuing a member of the Taliban responsible for suicide bombings in the area.

    Meanwhile, in a sign of the countrys security difficulties, there were reports on Tuesday that Afghan officers had opened fire during a protest by villagers over the deaths of civilians, which they say occurred during a Nato operation.

    According to one report, the Afghan soldiers fired into the air, but at least one person was killed.

    October 9, 2009 Posted by | Uncategorized | Comments Off on Gen McChrystal : Bin Laden capture vital for Afghanistan