Katakamidotcom News Indonesia

Cicit Kandung Raja Sisingamangaraja Ke-12 Terkesan &Titip Salam Hormat & Pesan Untuk Jenderal Sutanto

Jenderal Sutanto & Jenderal BHD pada acara sertijab KAPOLRIJenderal Sutanto & Jenderal BHD pada acara sertijab KAPOLRI
 


JAKARTA (DOKUMENTASI KATAKAMI FEBRUARI 2009)  Barangkali mantan Kapolri Jenderal Sutanto tidak menyadari bahwa masa kepemimpinannya semasa menjadi KAPOLDA SUMUT ternyata meninggalkan kesan yang sangat mendalam dan sungguh istimewa.  Saat menjabat Kapolda Sumut (2000), dia berupaya secara gigih memerangi perjudian, premanisme, dan peredaran narkoba di provinsi itu. Sutanto hadapi apa pun risikonya, baik dari para bandar judi dan internal Polri sendiri. Mereka yang tidak senang judi diberantas di daerah itu tidak suka Sutanto berlama-lama di Medan.

Mereka ingin Sutanto cepat pindah. Memang pada akhirnya, Sutanto hanya tujuh bulan menjadi Kapolda Sumut (Maret sampai Oktober 2000). Dia dipindah menjadi Kapolda Jawa Timur.

Salah satu pihak yang sangat terkesan dan begitu respek pada SUTANTO adalah Cicit Kandung RAJA SISINGAMANGARAJA Ke-12 yaitu Saur Sinar Romauli Sinambela.

Saur Sinar Romauli Sinambela, adalah puteri sulung dari Almarhum Raja Patuan Sori Sinambela dan Almarhumah Maria Magdalena Pasaribu. Almarhum Raja Patuan Sori adalah anak tunggal dari Almarhum Raja Patuan Karel Buntal (anak kandung Raja Sisingamangaraja Ke-XII) & Almarhumah Boru Sembiring.  Saur memiliki 1 orang adik lagi yaitu Raja Tonggo Tua Sinambela yang oleh para Ahli Sejarah (terutama dari kalangan Ahli Sejarah Dunia) disebut sebagai Raja Sisingamangaraja Ke-15. Saur menikah dengan Bangun Oloan Sitorus, pegawai Kantor BPKP Samarinda – Kalimantan Timur.  Saur (41 tahun) saat ini sedang berada di Jakarta, sepulang mengunjungi sang suami yang baru dipindahkan dari BPKP Medan ke Samarinda.

Raja Sisingamangaraja XII

Kepada KATAKAMI Selasa (24/3/2009), Saur Sinambela mengatakan bahwa sebagai salah seorang warga Medan (SUMUT) yang sangat ia dambakan adalah situasi yang aman dan terkendali.

“Yang aku ingat sampai sekarang ya, cuma SUTANTO yang berhasil sebagai Kapolda. Jaman SUTANTO jadi Kapolda Sumut, aman Medan itu. Enak kalilah waktu SUTANTO yang pimpin. Takut bandar judi sama SUTANTO” kata Saur kepada KATAKAMI menceritakan perkembangan terakhir di Medan, pasca demo anarkis yang menewaskan Ketua DPRD Sumut H. Azis Angkat awal Februari 2009 lalu.

Lebih lanjut, Saur mengharapkan Pejabat POLDA SUMUT yang saat ini menjabat bisa meneladani kepemimpinan SUTANTO dulu.

“Kapolda yang dicopot itu (Irjen Nanan Soekarna, redaksi), entah apa kerjanya waktu ada demo itu. Masak tak ada polisi waktu demo di DPRD. Lucu kali. Kudengar, Pak Azis itu diangkut naik truk sama polisi waktu mau dilarikan ke rumah sakit. Menghina kali polisi itu. Setelah Ketua DPRD mati, dibikin polisilah situasi di Medan itu SIAGA 1. Semua jadi takut kemana-mana. Kalau aku tak mau kayak gitu, aku malah keluar. Enak kalipun, dimana-mana ada polisi. Amanlah kita kalau dijaga sama polisi dimana-mana kan” kata Saur dengan nada bicara yang sangat “Medan”.

Jenderal Sutanto

Kepemimpinan SUTANTO sebagai Kapolda Sumut yang hanya 7 bulan itu, benar-benar memberikan sangat kesan sangat dalam dan istimewa bagi masyarakat Medan.
Jenderal Sutanto

“Yang aku tahu cuma SUTANTO yang berhasil. Sayang kali cuma sebentar. Dimana SUTANTO itu sekarang ? Awak (saya, redaksi) dengar sudah pensiun ya ? Dulu waktu jadi Kapolda, mau SUTANTO itu datang ke acara-acara yang dibuat Keluarga Besar Raja Sisisngamangaraja Ke-12. Ada foto kami sama SUTANTO. Jadi memang perhatiannya sama kami. Kalau yang kali, entah macam manapun mereka ini.” lanjut Saur.

Cicit Kandung Raja Sisingamangaraja Ke-12 inipun menyampaikan salam hormatnya kepada mantan Kapolri SUTANTO.

“Kalau kenal kau, sampaikanlah salam kami untuk SUTANTO. Kami dengar-dengar, adalah isu di Medan kalau SUTANTO ini bakal dijadikan Cawapres-nya SBY (Susilo Bambang Yudhoyono, redaksi). Ah, ngapain jadi Cawapres. Kalau menurut aku, SUTANTO itu pantas jadi CAPRES. Cemana parpol-parpol ini, apa tak tahu mereka kalau ada orang yang sebagus SUTANTO itu kalau memimpin ya ? Kalau memang ada peluangnya, SUTANTO itu mesti dimajukan jadi CAPRES.” ungkap Saur.

Saur, Insiniur Pertanian dari Universitas Sisingamangaraja Ke-12 ini, juga menyebut nama lain yang dianggapnya berhasil sebagai KAPOLDA SUMUT.

“Selain itu, ada juga yang bagus. Si Bambang namanya. Awak lupa namanya” kata Saur dengan polos.
Saat diberitahu oleh KATAKAMI, bahwa KAPOLDA SUMUT — yang dinilainya bisa meneladani kepemimpinan SUTANTO — sekarang ini sudah menjadi KAPOLRI, Saur terkejut.

“Oh, KAPOLRI yang sekarang itu yang dulu di Medan ? Kalau orang Medan, kenalnya cuma Bambang. Pak Bambang, jadi tak disingkat BHD. Diapun bagus memimpin, cuma kalau buat orang Medan ya tetap SUTANTO yang paling berkesan. Jadi, mantap kalilah ya kalau bekas-bekas Kapolda Sumut semua yang jadi-jadi Kapolri” kata Saur.

Ia berharap, KAPOLRI BHD memerintahkan secara tegas kepada Jajaran POLDA SUMUT untuk bertindak tegas menangani aksi demo anarkis di DPRD Sumut awal Februari 2009.

“Kami sebagai cicit Ompung Raja (Raja Sisingamangaraja Ke-12, redaksi) marah sama aksi demo itu. Masak nama Ompung Raja dibawa-bawa. Si Tonggo (adiknya) sampai bikin jumpa pers waktu itu untuk menjelaskan bahwa tidak ada hubungannya demo anarkis itu dengan Ompung Raja. Kurang ajar kali, dibawa-bawa simbol dan atribut Ompung Raja. Kami tak suka kalau nama Ompung Raja jadi jelek. Kalau kau kenal sama KAPOLRI, bilanglah sama Pak Bambang supaya ditindak tegas aja semuanya itu. Kurang ajar” ungkap Saur.

Raja Tonggo Tua Sinambela, Cicit Kandung Raja Sisingamangaraja Ke-12Raja Tonggo Tua Sinambela, Cicit Kandung Raja Sisingamangaraja Ke-12

Saur juga menyampaikan kekecewaannya yang sangat dalam terhadap figur GM Panggabean, yang termasuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) dalam kasus demo anarkis tersebut.

“Kami kecewa sama GM Panggabean. Kami merasa dimanfaatkan. Sejak 2 tahun lalu, Si Tonggo (Raja Tonggo Tua Sinambela, red) sudah berkali-kali mendatangi dan menyurati GM Panggabean untuk mencabut mandat dari Pihak Keluarga Raja Sisingamangaraja Ke-12. Kan ada Lembaga yang dibentuk GM Panggabean, Lembaga Raja Sisingamangaraja Ke-12. Sudah puluhan tahun dikelolanya sendiri. Apa saja kegiatan atau keuangannya, tak ada laporannya sama Pihak Keluarga. Kami tak tahu apa-apa. Kami merasa dimanfaatkan saja, khususnya memanfaatkan nama Ompung Raja. Itu kan Ompung kami, kok malah orang lain yang tak ada sangkut pautnya sama KELUARGA … eh, malah dia yang enak-enakan menikmati nama besar Ompung Raja” lanjut Saur.

Saur sangat kecewa atas gaya GM Panggabean sekeluarga. Adik dari Saur yaitu Raja Tonggo Tua Sinambela, saat berusia 6 tahun diminta ikut men
anda-tangani MANDAT untuk memberikan WEWENANG kepada GM Panggabean untuk mendirikan dan mengelola LEMBAGA RAJA SISINGAMANGARAJA KE-12.

Selama 30 tahun ini, Saur dan Tonggo mendengar kabar bahwa ada banyak “bantuan” dari sejumlah pihak, khususnya dari LEMBAGA / NEGARA ASING terkait bidang usaha yang “membonceng” nama RAJA SISINGAMANGARAJA KE-12; Tetapi, sebagai CICIT KANDUNG yang jauh lebih berhak untuk mendapatkan BANTUAN APAPUN yang ditujukan kepada kebesaran nama RAJA SISINGAMANGARAJA KE-12, Saur dan Tonggo tak pernah sekalipun menerima dan merasakan bantuan dari “sana-sini” yang datang sebagai atensi terhadap nama besar dan jasa dari RAJA SISINGAMANGARAJA KE-12.

“Kau bayangkanlah, kami ini keturunan langsung. Cicit kandung dari Ompung Raja Sisingamangaraja Ke-12. Dua tahun lalu waktu mau kami cabut mandat untuk membuat LEMBAGA itu, anaknya GM Panggabean itu yang menyurati kami. Isinya kurang ajar, mohon maaf karena tak sempat menerima Pihak Keluarga Raja Sisingamangaraja Ke-12. Tak mau mereka menjumpai. Soalnya mereka ngotot mau mempertahankan nama LEMBAGA RAJA SISINGAMANGARAJA Ke-12. Kalau aku kenal sama Kapolri itu … bisa misalnya ketemu, aku mau bilang sama Pak Bambang itu, jangan dikasihani. Sejak dikejar POLISI, dibilanglah sedang sakitlah … sedang berobatlah … sedang inilah, sedang itulah. Tak ada itu. Sebelum ada kejadian di DPRD Sumut itu, sering kalipun muncul GM Panggabean itu dimana-mana, nampang dimana-mana” pungkas Saur dengan nada yang sangat kecewa.

Percakapan dengan Cicit Kandung Raja Sisigamangaraja Ke-12 ini memang terasa menjadi sangat memprihatinkan.

Ibarat pepatah lama, “Seakan menari-nari diatas penderitaan orang lain”.

Bayangkan, ada ORANG ASING yang samasekali tidak ada sangkut pautnya secara garis kekeluargaan dengan PAHLAWAN NASIONAL RAJA SISINGAMANGARAJA KE-12, selama puluhan tahun menikmati secara luar biasa manfaat dari menyandang nama sebagai Pimpinan Lembaga Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja Ke-12.

Ketika mandat itu diminta kepada Pihak Keluarga, CICIT KANDUNG RAJA SISINGAMANGARAJA Ke-12 in masih dibawah umur.

Salahkah mereka, jika di usia yang sudah dewasa ini merasa sangat terpanggil untuk membela dan menjaga secara “hebat” nama baik dan keharuman dari nilai-nilai kepahlawanan dari Pahlawan Nasional Raja Sisingmangaraja Ke-12 ?

Salahkah mereka, jika merasa sangat tersinggung dan begitu terlukai hatinya sebab sebagai ANAK YATIM PIATU dalam menjalani kehidupan yang fana ini, tidak ada bantuan atau perhatian yang sangat signifikan dari PEMERINTAH atau Pejabat manapun di Sumatera Utara, sementara ORANG ASING yang tak ada sama sekali ikatan darahnya dengan Raja Sisingamangaraja Ke-12 terus menerus selama puluhan tahun menikmati semua usaha bisnis, keistimewaan dan berbagai keutamaan hanya dengan menyandang nama sebagai Pimpinan Lembaga Raja Sisingamangaraja Ke-12 ?

Ini menjadi sebuah ironi yang sangat memilukan hati.

Mengapa tega memanfaatkan situasi dan pihak-pihak lain yang lebih berhak untuk mendapat penghargaan, bantuan dan seluruh perhatian sebagai keturunan langsung dari RAJA SISINGAMANGARAJA Ke-12 ?
Mengapa tega memanfaatkan dan mengambil keuntungan dari semua situasi, padahal kedua CICIT KANDUNG RAJA SISINGAMANGARAJA Ke-12 ini adalah anak YATIM PIATU ?

Raja Patuan Sori Sinambela meninggal dunia akibat kecelakaan lalulintas tahun 1971. Sedangkan Maria Magdalena Boru Pasaribu meninggal dunia akibat sakit yang dideritanya pada tahun 1993.

Dan kepada PIHAK kemanapun, khususnya kepada PEMERINTAH INDONESIA (di pusat dan didaerah) yang selama ini ikut memberikan perhatian dan bantuan kepada pihak tertentu yang “memanfaatkan” nama besar Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja Ke-12 itu, harus menyadari bahwa sebenarnya selama ini mereka telah memberikan perhatian dan bantuan kepada “orang dan pihak yang salah”.

(MS)

November 10, 2009 - Posted by | Uncategorized

Sorry, the comment form is closed at this time.

%d bloggers like this: