Katakamidotcom News Indonesia

BIN & POLRI Pasang Badan, SBY Dengarkanlah Suara Rakyat

https://katakamidotcomindonesianews.files.wordpress.com/2010/01/undangan2bpilpres_01k.jpg?w=300

DIMUAT JUGA KATAKAMI.COM

Jakarta 29/1/2010 (KATAKAMI) Beberapa tahun yang lalu ketika Muhammad Jusuf Kalla (JK) masih menjabat sebagai Wakil Presiden RI, pernah suatu ketika Sang Wapres membuat wartawan tertawa terpingka-pingkal. Apa sebabnya ? Saat itu sebenarnya akan ada aksi unjuk rasa dari kaum buruh dalam peringatan Hari Buruh Sedunia (May Day) tanggal 1 Mei.

Yang menggelikan bagi Wapres dan seluruh wartawan yang biasa meliput di Istana Wakil Presiden adalah saat Wakil Presiden melongok sesaat ke lobi Istana Wakil Presiden selama beberapa menit.

Hal ini diceritakan sendiri oleh JK kepada para wartawan saat menggelar jumpa pers.

Mantan Ketua Umum Partai Golkar ini mengatakan bahwa seorang petinggi aparat keamanan melaporkan kepada dirinya bahwa sudah ada puluhan orang pawang hujan yang dikerahkan beberapa instansi pemerintah yang “bersatu” mengerahkan pawang hujan agar pada hari pelaksanaan unjuk rasa buruh, bisa diturunkan hujan sederas-derasnya.

http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:iHyJfSFY2Kb5_M

Akan tetapi, “hujan” yang direncanakan akan turun pada aksi unjuk rasa itu ternyata tidak turun sebagaimana mestinya.

“Biasanya pawang hujan untuk menghentikan datangnya air hujan. Ini pawang justru untuk mendatangkan hujan” kelakar JK di hadapan wartawan.

Puluhan pawang yang kabarnya sudah disewa oleh beberapa INSTANSI penting untuk mendatangkan hujan guna menangkal para pendemo ternyata tidak berhasil mendatangkan HUJAN DERAS.

Demo tetap berjalan sebagaimana yang direncanakan para buruh secara damai.

Mendengar JK berkelakar tentang PAWANG HUJAN tadi, semua wartawan yang hadir dalam acara jumpa pers itu tertawa terpingkal-pingkal.

Aksi unjuk rasa kalangan buruh tetap berjalan seperti yang direncanakan kalangan buruh – bahkan Wapres mengizinkan para pengunjuk rasa melintas di hadapan Istana Wakil Presiden.

https://i1.wp.com/matanews.com/wp-content/uploads/RakorPolhukam.jpg

Photo : (Ki-Ka) MengkopolhukkamDjoko Suyanto, Panglima TNI Djoko Santoso, Kapolri BHD, Kepala BIN Sutanto & Jaksa Agung Hendarman Supandji

Pada periode 100 hari pertama masa kekuasaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono babak kedua ini, setidaknya ada 2 aksi unjuk rasa besar yang disiapkan oleh kalangan pendemo.

Masa kekuasaan SBY babak kedua ini, sempat juga akan digoyang demo besar pada peringatan HARI ANTI KORUPSI SEDUNIA tanggal 9 Desember 2009.

Beberapa hari sebelumnya, Kepala BIN Jenderal Polisi Sutanto “bersuara” mempersilahkan para pengunjuk rasa menyampaikan aspirasi dan pendapatnya.

Tetapi Jenderal Sutanto mewanti-wanti agar AKSI DEMO ANTI KORUPSI SEDUNIA itu dilaksanakan dengan aman, tertib dan damai agar berjalan dengan baik — terhindar dari aksi anarkis dan menyusupny
a para penumpang gelap –.

Begitu juga Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri, setiap kali akan ada DEMO BESAR maka Tri Brata 1 ini harus “berbicara pada publik” bahwa para pengunjuk rasa dipersilahkan berunjuk rasa dengan aman, tertib dan damai (sehingga demo itu tidak berjalan dengan ANARKIS).

Setelah DEMO BESAR yang digembar-gemborkan akan menggoyang pemerintah tak sesuai dengan kenyataannya pada peringatan HARI ANTI KORUPSI SEDUNIA tanggal 9 Desember 2009 lalu, demo peringatan 100 hari SBY – Boediono dikabarkan akan sangat “BESAR” jumlah peserta dan kekuatannya tanggal 28 Januari 2010.

Tetapi ternyata kedua aksi unjuk rasa itu berjalan dengan “biasa-biasa saja” alias tidak seheboh dan tidak setragis yang digembar-gemborkan bahwa unjuk rasa itu akan dapat menurunkan Presiden SBY dari kursi kekuasaannya.

https://katakamidotcomindonesianews.files.wordpress.com/2010/01/satukatalawan.jpg?w=200

Dua instansi tadi yaitu BIN dan MABES POLRI memang patut diacungi jempol dalam menjaga situasi keamanan agar tetap dapat terkendali – setiap kali ada aksi unjuk rasa yang dikabarkan akan sangat SPEKTAKULER — (bila merujuk pada dua aksi besar yang sempat diisukan akan menggoyang pemerintahan).

Kenapa TNI tidak disebut ?

Sebab keberadaan TNI – baru akan dibutuhkan untuk ikut berkontribusi menjaga situasi keamanan – kalau memang POLRI berinisiatif meminta bantuan.

Presiden SBY harus berterimakasih kepada kedua instansi yang disebutkan tadi yaitu kepada BIN dan MABES POLRI.

Kalau saja kedua instansi penting ini mau bersikap sangat “tidak biasanya”, maka bisa jadi para penumpang gelap dan penyusup merajalela memanfaatkan aksi unjuk rasa apapun yang akan digelar menjadi sarana paling ampuh untuk melengserkan pemerintah yang sah.

Terlihat betul prinsip dan sikap dari BIN dan MABES POLRI bahwa mereka menyadari bahwa setiap aksi unjuk rasa tidak bisa dilarang sebab memiliki payung hukum yaitu UU Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyatakan Pendapat Di Depan Umum.

Setiap warga negara berhak menyampaikan aspirasi dan pendapatnya.

Mau seribu, duaribu, sepuluh ribu atau 1 juta orangpun yang dikerahkan dalam aksi unjuk rasa, aparat keamanan TIDAK BISA menghalangi atau membatalkan aksi damai rakyat Indonesia untuk mengeluarkan uneg-uneg dan isi hati mereka.

https://i2.wp.com/politikana.com/images/large/pak-boed-dan-bu-sri-mulyani.jpg

BIN dan MABES POLRI menjadi penjaga gawang yang harus pintar-pintar menempatkan diri mereka yaitu di satu pihak bagaimana caranya agar rakyat tetap tersalurkan aspirasinya sesuai dengan UU – jika ingin berunjuk rasa –.

Tetapi di pihak lain bagaimana caranya agar aksi unjuk rasa itu tidak anarkis yang berujung pada agenda pelengseran pemerintah.

Pasti ada yang diam-diam berharap agar aksi unjuk rasa apapun yang akan digelar untuk mengkritisi pemerintah, bisa sangat keras dan kuat pengaruhnya untuk menghantam pemerintah.

Terutama jika rakyat sudah mulai galau dan sangat tajam menyoal konsistensi pemerintahan yang bersih dan baik (clean and good governance).

Suara rakyat adalah suara Tuhan.

http://fasiljabar.files.wordpress.com/2009/02/kejatuhan-orde-baru2.jpg

Photo : Aksi demo mahasiswa tahun 1998

Yang ingin disampaikan disini adalah jangan menunggu sampai rakyat benar-benar marah danmengamuk.

Jangan juga menyalahkan rakyat jika ternyata kemarahan dan amukan itu sudah sangat tidak tertahankan lagi karena harapan mereka dilukai oleh penguasa.

Dan jangan terus menerus membebani aparat keamanan – yaitu BIN dan MABES POLRI – untuk berhadap-hadapan dengan rakyatnya sendiri.

Pawang demi pawang juga tak perlu dibuat saling beradu ilmu dengan sesama pawang dalam setiap aksi unjuk rasa.

Yang satu meminta hujan diturunkan agar para pengunjuk rasa tidak bisa demo.

Yang satunya meminta hujan ditangkal agar cuaca terang benderang sepanjang melaksanakan aksi demo.

http://syamsahawa.files.wordpress.com/2009/06/lanjutkan.jpg

Mari kita jaga Indonesia ini dari semua ancaman perpecahan dan kehancuran yang sangat mengerikan.

Mari kita buka juga hati dan telinga selebar-lebarnya agar apapun harapan, keinginan dan tuntutan rakyat diterima secara riil.

Jangan cuma masuk telinga kiri dan keluar lagi dari telinga kanan jika rakyat berteriak-teriak mengkritisi sesuatu permasalahan atau keadaan yang dinilai sudah melenceng jauh dari nilai-nilai hukum, kebenaran dan keadilan.

Tetapi yang juga perlu disampaikan disini, janganlah juga ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan aksi unjuk rasa untuk menggoyang dan mengguncang situasi keamanan di Indonesia untuk mendatangkan MALAPETAKA.

Jangan paksa dan jangan seret Indonesia untuk hancur-hancuran seperti dulu.

https://katakamidotcomindonesianews.files.wordpress.com/2010/01/sbyandboediono.jpg?w=300

Jangan menyulap dan bermimpi untuk membuat Indonesia yang sudah banyak mengalami kemajuan serta perbaikan-perbaikan ini menjadi tamat riwayatnya.

Jangan juga menjadikan kaum minoritas – seperti misalnya kalangan etnis Cina atau kalangan NON MUSLIM – untuk menjadi target sasaran aksi anarkisme dalam demo-demo buatan yang didanai pihak donatur liar.

Rela buang-buang duit seolah untuk UJI NYALI pemerintah, bisa tetap bertahan atau tidak jika digebuk lewat demo besar.

Indonesia, tanah air kita ini, sekarang sudah cukup jauh melangkah dari era keterpurukan di masa lalu.

Indonesia, tanah air kita ini, sekarang sudah cukup kondusif bila dibandingkan masa kelam penuh kondisi yang sangat babak belur di masa lalu.

Biarlah Indonesia menjadi semakin baik dan kuat sebagai sebuah Negara. Jika memang ada rakyat yang ingin menyampaikan aspirasi dan pendapatnya lewat aksi unjuk rasa, berikan jalan dan kesempatan.

Sebab UU memang memungkinkan itu terjadi secara sah dan legal.

https://i2.wp.com/foto.detik.com/images/content/2009/06/30/157/bhd06.jpg

Photo : Jenderal Sutanto & Jenderal BHD

BIN dan POLRI, sejauh ini sudah menjalankan tugasnya secara baik dan benar.

Walaupun memang ada sebuah kelakar di kalangan FACEBOOKER bahwa dibandingkan para pengunjuk rasa, jumlah APARAT KEAMANAN justru jauh lebih banyak dari para pengunjuk rasa.

Sehingga patut dipertanyakan, sebenarnya yang terjadi itu Istana Presiden dikepung pengunjuk rasa atau Pengunjuk rasa yang “dikepung” aparat keamanan ?

Tapi apapun yang terjadi, semua pihak harus menghargai kerja keras dari aparat keamanan dalam menjadi situasi dan keamanan ini agar tetap kondusif.

Tetapi, besar dan kuatnya suatu Negara, akan sangat mustahil diwujudkan jika rakyatnya tetap dibohongi, disakiti atau dianggap angin lalu.

https://i1.wp.com/www2.inilah.com/data/berita/foto/125285.jpg

Hendaklah yang punya mata melihat dan yang punya telinga mendengar — dari kalangan PEMERINTAH ini –.

Jangan takut pada setiap TERIAKAN rakyat yang sebenarnya sudah sangat tidak tahan melihat situasi yang blunder di negeri ini.

Anggaplah teriakan-teriakan rakyat ini sepenuhnya karena merindukan republik ini bisa menjadi aman dan sejahtera :

SBY, DENGARKANLAH SUARA RAKYAT.

Seperti dalam sebuah kalimat terkenal, VOX POPULI VOX DEI.

Suara Rakyat adalah Suara Tuhan !

(MS)

January 29, 2010 Posted by | Uncategorized | Comments Off on BIN & POLRI Pasang Badan, SBY Dengarkanlah Suara Rakyat

Kombes Wiliardi : Mohon Hakim Objektif, Jaksa Mengada-Ada

https://katakamidotcomindonesianews.files.wordpress.com/2010/01/wiliardiwizard2.jpg?w=235

WAWANCARA EKSKLUSIF

DIMUAT JUGA DI KATAKAMI.COM

SEPUCUK SURAT UNTUK KOMBES WILIARDI WIZARD


Jakarta (19/1/2010) Salah seorang terdakwa kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen yaitu Kombes Wiliardi Wizard tampak begitu kecewa tetapi tetap berusaha tenang saat Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) membacakan tuntutannya hari Selasa (19/1/2010) di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yaitu berupa tuntutan MATI.

Tak cuma Willy – demikian panggilan Kombes Wiliardi Wizard –, sang isteri tercinta Novarina Wiliardi juga sangat terpukul atas tuntutan MATI tersebut.

Namun ketabahan tampak jelas dari raut wajah Novarina.

Dan dengan penuh kasih sayang, ia terus menerus memberikan kata-kata yang sejuk dan relijius untuk menguatkan hati dan menambahkan ketabahan sang suami.

Seusai persidangan di PN Jakarta Selatan, Kombes Wiliardi Wizard menerima kunjungan besuk KATAKAMI.COM di Rutan Bareskrim POLRI – yang memang memberikan kesempatan besuk 2 kali dalam seminggu yaitu Selasa dan Jumat –.

Pada pertemuan dengan KATAKAMI.COM di ruang besuk Rutan Bareskrim POLRI, Kombes Wiliardi Wizard memberikan WAWANCARA EKSKLUSIF kepada Pemimpin Redaksi KATAKAMI.COM Mega Simarmata.

Dan inilah WAWANCARA EKSKLUSIF kami dengan Kombes Wiliardi Wizard :

https://i2.wp.com/www.kompas.com/data/photo/2009/12/16/3618461p.jpg

Wiliardi Dituntut Hukuman Mati

Antasari Dituntut Hukuman Mati, Sigid Haryo Idem

KATAKAMI (K) : Jaksa Penuntut Umum atau JPU sudah membacakan tuntutan mereka pada persidangan hari Selasa (19/1/2010) ini yaitu tuntuan MATI. Boleh tahu Pak Willy, bagaimana perasaan anda saat mendengar tunutan MATI itu ?

WILIARDI WIZARD (WW) : (Terdiam agak lama sambil menunduk). Tentu saya tidak menduga samasekali Mbak, akan mendapatkan tuntutan MATI seperti ini. Bagaimana mungkin saya bisa menduga akan mendapatkan tuntutan seberat ini karena dari awal sampai akhir proses persidangan dihadirkan 34 orang saksi dan barang-barang bukti tidak ada yang mengarah kepada keterlibatan saya. Fakta persidangan saja dilihat, ada atau tidak bukti-bukti yang menunjukkan bahwa saya terlibat. Tidak ada !

(K) : Artinya anda merasa tuntutan MATI ini terlalu dipaksakan oleh JPU ya ?

(WW) : Jujur saja Mbak, tuntutan MATI seperti ini buat saya benar-benar luar biasa. Saya jadi bertanya-tanya, ada apa sebenarnya dibalik ini semua ? Ini menjadi tanda tanya bagi kita semua.

(K) : Maksud Pak Willy, fakta-fakta di persidangan yang samasekali tidak bisa membuktikan bahwa Pak Willy terlibat, ternyata tidak diakomodir oleh JPU ?

(WW) : Tidak ada samasekali fakta-fakta persidangan yang diakomodir. Semua yang mengikuti persidangan ini bisa melihat dan mendengar langsung kan. Dari seluruh saksi yang dihadirkan, tidak ada satupun yang menyebutkan bahwa saya terlibat. Bayangkan, tidak cuma saksi-saksi yang saya hadirkan. Yang dihadirkan oleh Pihak Jaksa dalam persidangan saya, tidak ada yang menyebutkan keterlibatan saya. Tidak ada satupun yang mendukung dakwaan Jaksa. Kan jadi aneh, kok tiba-tiba sekarang saya mendapat tuntutan MATI. Kita harus jujur dan menyimak fakta-fakta persidangan. Tidak ada samasekali yang menguatkan dakwaan Jaksa.

https://i0.wp.com/data5.blog.de/media/307/3479307_3965858aef_m.jpg

Photo : Mesjid Abu Wizard yang didirikan Wiliardi Wizard Di Polres Jaksel

(K) : Tuntutan MATI ini, buat Pak Willy terlalu sadis ?

(WW) : Mbak, ini bukan lagi soal sadis atau tidak sadis. Tuntutan MATI ini terlalu dipaksakan oleh Jaksa. Sungguh … saya tidak habis pikir Mbak. Ada apa ini ?

(K) Tetapi sepanjang persidangan saat tuntutan MATI itu dibacakan, Pak Willy kelihatan tetap tenang dan tabah …

(WW) : Ya, tenang sajalah Mbak. Mau diapakan lagi karena Jaksa sudah menentukan begitu. Apa dikira saya mau memberontak ? Saya tidak akan memberontak. Saya pasrah kepada Tuhan. Walaupun saya benar-benar tidak mengerti atas semua ini.

(K) : Oke, sekarang ada waktu 8 hari yang diberikan untuk terdakwa dan tim penasehat hukumnya untuk menyusun pembelaan atau PLEDOI. Bagaiman persiapan untuk PLEDOI anda, Pak Willy ?

(WW) : Pledoi akan saya rapatkan dengan Tim Penasehat Hukum karena saya akan mengungkapkan lagi fakta-fakta persidangan itu dalam pledoi saya nanti. Rencananya akan disampaikan dalam persidangan tanggal 28 Januari mendatang. Kalau pledoi sudah tersusun, nah semoga jaksa-jaksa itu terbuka matanya. Bayangkan Mbak, satupun dari semua saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum tidak ada yang mengarah pada keterlibatan saya. Coba tunjukkan kepada saya, saksi fakta ya … saksi yang ada di Pengadilan. Coba tunjukkan … mana yang mengatakan saya terlibat ? Ada gak ? Tidak ada Mbak ! Tidak ada satupun yang memberatkan saya.

http://image.tempointeraktif.com/?id=10877

(K) : Pak Willy, bolak-balik yang diblow-up di media massa adalah hembusan informasi bahwa seolah-seolah anda mau membunuh karena ingin naik pangkat. Bagaimana cerita yang sebenarnya ?

(WW) : Saya jadi balik bertanya Mbak, itu yang ngomong seperti itu siapa ? Kecuali misalnya, dari mulut saya sendiri terucap kata-kata bahwa saya minta dibantu agar naik pangkat. Itu omongan orang dan bukan omongan saya. Lalu kenapa saya yang harus menanggung dampak dari omongan yang tidak jelas itu ? Kalau jaksa mengatakan demikian … nah, mana buktinya kalau saya membunuh untuk mendapat kenaikan pangkat. Rendah sekali saya ini dinilai demikian. Jaksa tidak bisa membuktikan bahwa saya berbicara seperti itu. Masak orang yang ngomong tetapi saya yang harus dijadikan korban ? Saya tidak ada bicara seperti itu dan fakta di persidangan juga demikian.

(K) : Jadi apa hikmahnya buat anda, Pak Willy ?

(WW) : Ya sekarang … kita harus hati-hati kalau bertamu ke rumah orang. Kita tidak bermaksud apapun yang buruk. Kalau saya tahu ini untuk maksud yang buruk, saya tidak bakalan mau. Saya berniat baik tetapi dipolitisir. Disalah-artikan. Saya cuma bertamu biasa kok dibilang terlibat dan berambisi pada jabatan. Apakah pak Antasari itu cuma bertemu saya terus menerus ? Kan tidak !

(K) Pak Willy ingin mengatakan bahwa sebagai seorang polisi yang sudah berpengalaman, tidak mungkin mau melakukan pembunuhan hanya untuk sekedar naik pangkat ?

(WW) : Tidak mungkin Mbak ! Saya cuma tenang-tenang saja pun, saya dapat jabatan kok. Siapa yang bilang saya tidak dapat jabatan ? Ngapain saya uber-uber jabatan ? Saya sudah menyelesaikan sekolah saya. Sudah segala-galanya. Saya juga sudah 4 kali jadi Kapolres. Coba … apa mungkin saya mau membunuh hanya untuk sekedar naik pangkat ? Kok bodoh sekali kalau misalnya saya mau membunuh hanya untuk sekedar naik pangkat. Tidak mungkin saya membunuh.

https://i2.wp.com/news.okezone.com/images-data/content/2009/11/11/339/274294/TxWlbWt1fA.jpg

(K) Dakwaan yang menyebutkan anda mengejar jabatan, itu cuma tudingan jaksa yang tidak bisa mereka buktikan di persidangan ?

(WW) : Mbak … saya sudah 4 kali menjadi Kapolres. Hidup saya sudah tenang. Masuk akal gak tuh, orang lain yang ngomong bahwa katanya saya minta jabatan tetapi saya yang jadi kena getahnya. Itu kan tidak adil ! Ada gak keluar dari mulut saya masalah jabatan tadi ? Gak ada dan gak pernah minta-minta jabatan.

(K) Apa harapan anda sekarang Pak Willy setelah mendapatkan tuntutan MATI seperti ini dari Jaksa Penuntut Umum ?

(WW) : (Terdiam agak lama dengan raut wajah yang sangat memelas sekali). Harapan saya, saya memohon dengan sangat agar Majelis Hakim berkenan menilai dan memberikan vonis yang objektif. Saya benar-benar memohon, tolong objektif. Jangan dipaksakan seperti sekarang ini. Tolong, riil sajalah ! Masyarakat kan semua melihat. Tidak ada yang ditutup-tutupi di persidangan. Jaksa tidak bisa membuktikan tetapi tetap memaksakan dakwaan mereka. Main kacamata kuda bahwa saya bersalah. Bagaimana sih … ! Saya tidak mengerti Mbak.

(K) Baiklah Pak Willy, kami ikut prihatin. Semoga Pak Willy sekeluarga tabah.

(WW) Terimakasih Mbak, saya mohon doa restu dari seluruh masyarakat agar hukum dan keadilan ini ditegakkan. Jadi jangan terus menerus mengada-ada. Lihat dong fakta persidangannya.

(MS)

January 25, 2010 Posted by | Uncategorized | Comments Off on Kombes Wiliardi : Mohon Hakim Objektif, Jaksa Mengada-Ada

Al Qaeda, Teror Natal, Obama Ada Apa Dengan Dirimu ?

https://i2.wp.com/images.nymag.com/images/2/daily/intel/08/06/27_obama_lg.jpg

DIMUAT JUGA DI KATAKAMI.COM

Misteri Dibalik Musibah Pesawat Air France 774, Inikah Teror Gaya Baru ?

https://i0.wp.com/www.girlsareit.org/Images/User_Scans/Graphics/Animated_Star.gif

Jakarta 9/1/2010 (KATAKAMI) Harusnya bulan Januari 2010 ini, Pemerintah Amerika Serikat menutup secara resmi penjara Guantanamo (Gitmo) sesuai dengan janji Presiden Barack Hussein Obama. Obama menyampaikan janji penutupan Gitmo, di hari pertama ia mulai bekerja di Gedung putih (Januari 2009).

Janji untuk menutup penjara Gitmo adalah kelanjutan dari janji sebelumnya yang sudah lebih dulu disampaikan Presiden Obama dimasa-masa kampanye kepresidenannya. Janji ternyata tinggal janji.

Seorang Obama yang terpilih secara mengesankan dunia internasional, terpaksa mengingkari janji penutupan Gitmo yang diucapkannya sendiri di hari pertama kekuasaannya.

Berdasarkan informasi terakhir, penutupan Gitmo diperkirakan memakan waktu setahun ke depan.

Hikmah yang perlu diambil oleh Presiden Obama dari kejadian ini adalah konsistensi seorang pemimpin dalam menyampaikan sebuah janji yang terekspos secara luas kepada publik – yaitu kepada warga dunia – harusnya ditepati.

Bukan diingkari, apapun resikonya.

https://i0.wp.com/www.bittenandbound.com/wp-content/uploads/2009/12/Barack-Obama-Accepts-Nobel-Peace-Prize.jpg

Photo : Presiden Obama menerima penghargaan Nobel Perdamaian (Desember 2009) di Oslo

Erat kaitan antara kemenangan Presiden Obama dalam meraih Nobel Perdamaian 2009 dengan realisasi penutupan penjara Gitmo.

Penjara inilah yang dikecam banyak pihak akan banyak tindak kekerasan terhadap sekitar 200 orang yang ditahan di penjara Gitmo dengan tuduhan (tak jelas) keterlibatan mereka dalam kasus-kasus terorisme.

Oke kalau memang terlibat, mana proses hukumnya terhadap semua tahanan itu ?

Jika memang mereka tidak terlibat dan penjara Gitmo pun tak jadi ditutup, kembalikan tahanan itu ke negara mereka masing-masing.

Agak rumit situasi di Amerika belakangan ini.

Rumit dalam hal apa ?

Kami menggaris-bawahi sebuah peristiwa yang agak sulit diterima oleh akal sehat yaitu ancaman bom yang nyaris terjadi dalam penerbangan Northwest Airlines Flight 253 dengan rute dari Amsterdam ke Detroit (Michigan) persis di hari Natal (25 Desember 2009) oleh seorang pemuda Nigeria bernama Umar Farouk Abdulmutallab (23 tahun).

Tidak usah terlalu banyak contoh yang diambil tapi cukup dari contoh kejadian ini, Presiden Obama langsung menyalahkan perangkat INTELIJEN-nya.

Siapa di dunia ini yang tidak menyepakati bahwa salah satu negara terkuat di muka bumi ini adalah Amerika Serikat.

https://i2.wp.com/www.archive-news.net/Photos/911/01Attack/plane2b.jpg

Serangan 9/11 yang terjadi tahun 2001 saja, sampai saat ini masih menjadi sebuah kontroversi yang tak berkesudahan bahwa apakah benar serangan keji itu memang perbuatan teroris ?

Pasca serangan 9/11, semua sistem keamanan di seluruh dunia – terutama di negara-negara barat diperketat secara berlapis-lapis –.

Lalu, jika tiba-tiba warga dunia dikejutkan dengan peristiwa ancaman bom di Northwest Airlines maka yang muncul adalah tanda tanya besar ?

Obama, ada apa dengan dirimu ?

Atau, pertanyaan yang lebih besar lagi, Amerika apa apa dengan diri kalian ?

Apakah semua ini hanyalah permainan intelijen ?

Apakah mungkin sistem pengamanan di Bandara Bandara Eropa dan Amerika melonggar — padahal AS punya pengalaman sangat buruk terkait tragedi 9/11 ?

Kalau memang melonggar, mengapa bisa menjadi longgar ?

Sudah lupakah Amerika atas tragedi yang sangat mengerikan tanggal 9 September 2001 yang menewaskan ribuan orang akibat serangan teror Al Qaeda ?

https://i0.wp.com/www.cbc.ca/news/background/osamabinladen/gfx/titlephoto2.jpg

Jika dikatakan, Al Qaeda yang berada dibalik percobaan peledakan bom di Northwest Airlines pada hari Natal 2009 maka itupun menjadi sebuah tanda tanya besar ?

Apakah mungkin, Al Qaeda merancang sebuah rencana peledakan bom dengan cara-cara yang sangat mudah dipatahkan dan digagalkan ?

Nyaris tidak ada peledakan-peledakan bom dari Al Qaeda yang bisa dideteksi dan digagalkan.

Warga dunia hanya bisa mengetahui peledakan-peledakan bom rancangan Al Qaeda, bila bom itu sudah meledak dengan dasyat dan menewaskan korban jiwa yang tak sedikit.

Dan bila dicermati dengan seksama, ciri khas bom-bom Al Qaeda adalah bom-bom bunuh diri dengan daya ledak tinggi (high explosive).

Biasanya, petinggi Al Qaeda akan mengumumkan lewat dunia maya (internet) klaim keterlibatan mereka dibalik bom-bom rancangan mereka di belahan dunia manapun.

Artinya, publik hanya bisa mengetahui bahwa Al Qaeda kembali meledakkan bom jika Al Qaeda sendiri yang mengumumkan klaim keterlibatan mereka.

https://i2.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/9/9d/Umar_Mutallab_crop_and_contrast.png/160px-Umar_Mutallab_crop_and_contrast.png

Photo : Umar Farouk Abdulmutallab

Sehingga kalau tiba-tiba ada ancaman peledakan bom di dalam Northwest Airlines dan disebutkan bahwa rakitan bom itu ditaruh di bagian kaki, ini kok terdengar sangat aneh.

Mengacu pada ciri-ciri khas bom ala Al Qaeda, sulit dipercaya bahwa kali ini Al Qaeda merancang sebuah peledakan bom dengan cara sembrono.

Sulit untuk diterima oleh akal sehat bahwa rencana peledakan bom Al Qaeda bisa digagalkan sebab selama ini mereka tak pernah gagal.

Sehingga kalau diberitakan bahwa Obama memarahi perangkat INTELIJEN-nya, maka yang harus ditanyakan kembali kepada ayah dari 2 orang putri ini mengapa ia terkesan emosional terhadap bawahannya ?

Obama, ada apa dengan dirimu ?

Obama tidak bisa dengan sangat telanjang memarahi perangkat INTELIJEN-nya di hadapan warga dunia.

Obama tidak bisa dengan sangat jujur menyebutkan INTELIJEN-nya gagal dalam menindak-lanjuti data-data intelijen sehingga terjadilah percobaan peledakan bom di Northwest Airlines.

Obama harus menjaga betul kerahasiaan pemerintahannya.

Tidak pada tempatnya jika Obama memarahi perangkat INTELIJEN-nya untuk sebuah peristiwa yang belum tentu menjadi kesalahan INTELIJEN.

Teguran Obama yang disampaikan di media massa, bisa membuat moral anak buahnya jatuh.

Tidakkah Obama menyadari itu ?

http://therealbarackobama.files.wordpress.com/2009/05/panetta-leon-w-b.jpg

Photo : Direktur Dinas Rahasia CIA Leon Panetta

Dalam periode setahun pemerintahannya, berulang kali Obama menghardik perangkat INTELIJEN-nya.

Ya betul, ada hal-hal yang sangat mendasar perlu dikoreksi dari sistem penanganan terorisme dibawah otoritas Dinas Rahasia CIA.

Koreksi pertama dari Obama adalah cara-cara penyidikan terhadap tersangka-tersangka kasus terorisme yang menggunakan kekerasan (water boarding).

Koreksi kedua dari Obama adalah ketika ia membuka catatan resmi berupa memo dari Gedung Putih yang secara langsung memerintahkan tindak kekerasan dalam proses penanganan kasus-kasus terorisme.

Sehingga, jika beberapa hari belakangan ini diberitakan bahwa Obama menyalahkan perangkat INTELIJEN-nya atas kasus percobaan peledakan bom di Northwest Airlines pada hari Natal Desember 2009 lalu maka itu menjadi koreksi yang ke SEKIAN kalinya untuk perangkat INTELIJEN AS.

Presiden Obama perlu lebih fleksibel menentukan sistem buka tutup dalam menyampaikan pernyataan-pernyataan terbuka kepada publik.

https://i0.wp.com/d.yimg.com/a/p/rids/20100108/i/r452040985.jpg

Ia harus lebih selektif.

Ia harus lebih bijaksana.

Ia harus lebih waspada.

Obama memang berhak menegur bawahannya. Apapun yang menyangkut penanganan terorisme, cegah tangkalnya adalah urusan INTELIJEN.

Tetapi Obama tak boleh lagi menjatuhkan moral anak buahnya secara TERBUKA kepada publik — terutama yang diekspos mendunia lewat MEDIA MASSA –.

Sebab AMERIKA sebagai sebuah negara masih sangat dibutuhkan oleh banyak pihak untuk mendukung terciptanya keamanan dan perdamaian dunia.

Perang terhadap teror memang harus tetap dilanjutkan sebab terorisme adalah sebuah kejahatan kemanusiaan yang harus tetap diperangi hingga akhir zaman.

Yang menjadi permasalahan adalah sistem cegah dini dan deteksi dini terhadap ancaman terorisme itu harus dipastikan memang dilaksanakan oleh semua negara secara baik dan benar.

Semua negara harus meningkatkan sistem peringatan dini (Early Warning System) terkait masalah terorisme.

Bukanlah sebuah keberhasilan namanya kalau ancaman bom itu bisa lolos sampai ke dalam cabin pesawat misalnya !

https://i0.wp.com/msnbcmedia2.msn.com/i/msnbc/Sections/Newsweek/Components/Photos/060919_060925/060922_BarackObama_Xtrawide.jpg

Lolosnya seseorang yang diindikasikan akan meledakkan sebuah pesawat bisa masuk sampai ke dalam cabin pesawat, bukan salah INTELIJEN !

Apalagi sebenarnya, yang bisa dipersalahkan dan dituding KECOLONGAN bukan Pihak Amerika.

Sebab tujuan dari rute penerbangan itu dari negara lain masuk ke wilayah Amerika.

Nah, kesalahan awal ada pada pihak negara lain — yang menjadi tempat pemberangkatan penerbangan Northwest Airlines.

Sehingga kalau ada yang mau dipersalahkan, maka silahkan dipersalahkan pihak petugas di Bandara tempat pemberangkatan.

Dan harus di cek kembali apakah semua peralatan pengamanan didalam Bandara itu masih tetap berfungsi secara baik ?

Sinar X-ray, Body Scanner dan semua sistem pengamanan ala metal detector pasti ada didalam semua Bandara.

Nah, mengapa bisa lolos seseorang yang menaruh rakitan bom di kaki dan leluasa masuk ke dalam cabin pesawat ?

Dan kalau modus serangan teror itu dimanfaatkan dari negara yang ada diluar Amerika — lewat penerbangan-penerbangan internasional yang akan masuk ke dalam wilayah Amerika — maka semua penerbangan bertaraf internasional di seluruh Bandara Amerika harus sangat ketat pengawasannya mulai saat ini.

Dan semua negara juga harus mempelajari modus seperti ini.

Lengah sedikit saja maka ancaman terorisme itu bisa masuk dan MENGHANCURKAN apa saja yang bisa dihancurkan kejahatan-kejahatan terorisme.

Bayangkan, ancaman bom di hari Natal itu baru bisa dideteksi persis didalam cabin pesawat. Betapa paniknya seluruh penumpang, jika penerbangan yang membawa mereka disusupi teroris.

Sekarang kembali ke Obama.

Singkat kata, ingin sebenarnya bertanya mengapa Obama agak membingungkan akhir-akhir ini karena terkesan tak kuasa menutupi emosinya — walaupun tetap luapan emosi itu disampaikan dengan “ketenangan” khas Obama bila berhadapan dengan PERS ?

Jika dihitung dengan jari, tegurannya yang keras kepada perangkat keamanannya – khususnya perangkat INTELIJEN – sudah terjadi berulang kali.

https://i1.wp.com/d.yimg.com/a/p/ap/20100108/capt.7031066b301949b0b2f13e58507477d4.obama_gates_ny143.jpg

Photo : Menteri Pertahanan Robert Gates & Presiden Obama

Jadi, walau penutupan penjara Gitmo diingkari oleh Obama jadwal pelaksanaannya tetapi hendaknya kewaspadaan Amerika terhadap teror tetap sangat tinggi.

Obama juga jangan terlalu cepat menyalahkan perangkatnya sendiri ke hadapan publik.

Jika Amerika sebagai sebuah negara yang termasuk sangat terkuat di dunia bisa dijebol lagi oleh kaki tangan terorisme, bagaimana dengan negara lainnya ?

Untuk apa Obama mengambil keputusan menyangkut penambahan 30 ribu pasukan untuk perang di Afghanistan memerangi Taliban yang sistem hirarkinya adalah kepada Al Qaeda, jika tiba-tiba kecolongan seseorang yang diancam membawa ancaman bom ke dalam cabin pesawat ?

Tukar menukar informasi (data intelijen) dengan negara-negara lain harus sangat ditingkatkan.

https://i0.wp.com/d.yimg.com/a/p/afp/20100108/capt.photo_1262901848400-6-0.jpg

Walau hanya sedetik, jangan berikan peluang terhadap teror itu sendiri menyelinap masuk ke semua lini sebab taruhannya sangat besar.

Perang terhadap teror, memang tidak boleh disalah-artikan dan disalah-gunakan !

Tetapi perang terhadap teror itu, jangan pernah dipadamkan, terpinggirkan atau terabaikan.

Jadi seperti yang sudah dituliskan di bagian atas, untuk menutup tulisan ini ingin rasanya bertanya kepada Obama secara sederhana.

Obama, ada apa dengan dirimu ?

Amerika, ada apa dengan diri kalian ?

Jangan kendurkan kewaspadaan terhadap teror.

(MS)

January 25, 2010 Posted by | Uncategorized | Comments Off on Al Qaeda, Teror Natal, Obama Ada Apa Dengan Dirimu ?

Bertanya Dibalik Tabir Teror 9/11, Como Esta Obama ?

https://i2.wp.com/d.yimg.com/a/p/ap/20100107/capt.8cf7004f60be455a85a9e7f90e8e1f4c.obama_airline_security_whgh112.jpg

DIMUAT JUGA DI KATAKAMIDOTCOM.WORDPRESS.COM

Al Qaeda, Teror Natal, Obama Ada Apa Dengan Dirimu ?

Ode Untuk Presiden Obama Yang Menghapuskan Motto Kalimat PERANG MELAWAN TEROR

Jakarta (18/2/2010) Como esta dalam bahasa Spanyol berarti “Apa Kabar ?”. Dari buku yang dituliskannya sendiri yang berjudul Dreams From My Father, dapat diketahui bahwa Presiden AS Barack Hussein Obama sangat fasih berbahasa Spanyol.

Barangkali itu jugalah sebabnya saat bertemu dengan Presiden Venezuela Hugo Chavez pada Konferensi Tingkat Tinggi Negara-Negara Amerika tahun 2009 lalu, “Barry” Obama menyapa terlebih dahulu dalam bahasa Spanyol dengan mengatakan “Como esta ?”.

Jadi, sangat wajar jika kita menyapa Presiden AS yang ke-44 ini dalam bahasa Spanyol pada peringatan 1 tahun pemerintahannya di bulan Januari 2010 ini.

Persis pada peringatan 1 tahun pemerintahannya inilah, “Barry” Obama mengingkari salah satu janji terpentingnya di awal menjabat yaitu menutup penjara Guantanamo (Gitmo, red) di Kuba.

http://katakamiindonesia.files.wordpress.com/2009/06/090121_ap_guantanamo_obama.jpg?w=600

Diduga Noordin M. Top Atau Gories Mere Yang Kebelet Ingin Ngetop ?

Periksa Gories Mere Skandal Madrid Korupsi Alat Sadap Israel

Padahal janji menutup penjara Gitmo adalah KEPRES atau Keputusan Presiden pertama yang dikeluarkan Obama di hari pertama ia mulai bekerja sebagai orang nomor satu di Amerika. Dan jika bicara soal penjara Gitmo maka harus bicara juga tentang Hambali — warga negara Indonesia yang dikerangkeng di Penjara Gitmo –.

Ya, karena Hambali sudah hampir 7 tahun menjadi penghuni penjara Gitmo.

Menurut kabar yang beredar di media massa periode 2009 lalu, Hambali akan dipindahkan ke penjara di Spanyol jika penjara Gitmo ditutup.

Jadi kalau ditanyakan sapaan yang sama kepada Hambali yaitu “Como Esta “, hal itu bukan untuk menyamakan level Obama dan Hambali.

Samasekali bukan !

Tapi ada benang merah antara penanganan terorisme yang sedang terus dilakukan Amerika dengan sosok Hambali.

Hambali dituding terlibat dalam serangan 11 September 2001 ( 9/11 ).

Dalam struktur organisasi Al Qaeda, posisi Hambali tidak main-main.

Ia direken atau diperhitungkan secara formal sebagai salah satu petingi dalam organisasi radikal ini.

Namun tudingan bahwa Hambali adalah petinggi Al Qaeda, dibantah oleh salah seorang aktivis Islam yang menjadi orang dekat Ustadz terkemuka Abu Bakar Baasyir yaitu Fauzan Al Anshari.

Menurutnya, Hambali bukan petinggi Al Qaeda tetapi cuma sekedar anggota biasa organisasi Al Jamaah Al Islamyah.

Fauzan mensinyalir, MABES POLRI — dalam hal ini Densus 88 Anti Teror Polri yang sengaja mengkatrol atau menaikkan “pangkat” Hambali dari JI ke Al Qaeda agar seolah-olah Hambali itu “teroris yang hebat”.

http://redaksikatakami.files.wordpress.com/2009/04/1-a-wtc-attack.jpg?w=600

Setelah tidak jadi menutup penjara Gitmo pada bulan Januari 2010 ini, Pemerintah AS berencana untuk mengadili Hambali di Pengadilan Amerika sendiri.

Sejak Hambali ditangkap di Thailand bulan Agustus 2003 – dan anehnya justru diekstradisi ke Amerika, bukan ke Indonesia sebagai negara asalnya – Pemerintah Indonesia cq. Kepolisian Republik Indonesia tidak bisa mendapatkan akses pemeriksaan terhadap Hambali.

Padahal Hambali dikabarkan terlibat dalam banyak sekali kasus-kasus pidana terorisme di Indonesia.

Dalam hukum dikenal sebuah asas yang lazim diberlakukan sebelum ada pembuktikan tentang bersalah atau tidaknya seseorang yaitu asas praduga tak bersalah atau PRESUMPTION OF INNOCENT.

Sehingga atas nama asas praduga tak bersalah ini, Hambali belum dibilang terbukti telah terlibat dalam kasus-kasus pidana terorisme.

Untuk bisa membuktikan itu pada proses persidangan di Pengadilan maka harus didahului dengan proses penyidikan dari pihak KEPOLISIAN.

Tetapi untuk melakukan proses penyidikan itu, POLRI terbentur pada masalah akses pemeriksaan terhadap diri Hambali.

Seyogyanya, jika ada seorang warga negara Indonesia yang terlibat dalam pelanggaran hukum di negara lain maka Pemerintah Indonesia – dalam hal ini salah satunya di jajaran diplomatik internasional adalah Departemen Luar Negeri – bisa diberi ruang dan waktu untuk berkomunikasi dengan Pihak Hambali.

Tetapi selama ini, POLRI dan Departemen Luar Negeri Indonesia seolah gagal menembus tembok kokoh pemerintah AS. Terutama karena Hambali seakan dipendam dalam keterasingan penahanan pada penjara Gitmo yang sepenuhnya berada dalam otoritas Dinas Rahasia CIA.

https://i1.wp.com/www.poskota.co.id/wp-content/uploads/2009/11/ito-s2.jpg

Photo : Kabareskrim Komjen. Pol. Ito Sumardi

Namun hal ini dibantah oleh Kepala Badan Reserse & Kriminal (Kabareskrim) Polri Komjen Ito Sumardi.

Kepada KATAKAMI.COM secara EKSKLUSIF di Jakarta (Senin, 18/1/2010), Komjen Ito Sumardi mengatakan bahwa MABES POLRI sudah mendapatkan akses itu.

“Akses pemeriksaan terhadap Hambali sudah kita dapatkan. Dalam hal ini Densus 88 Anti Teror yang berkoordinasi dengan Pihak AS. Jadi tidak benar kalau disebutkan bahwa Pemerintah AS menghambat atau melarang Indonesia mendapatkan akses pemeriksaan itu,” kata Komjen Ito Sumardi.

Ketika ditanya KATAKAMI.COM, bukankah sebaiknya Hambali diadili di Indonesia mengingat yang bersangkutan adalah Warga Negara Indonesia ?

Komjen Ito Sumardi menjawab, “Lho, siapa bilang Hambali warga negara Indonesia saja ? Dia punya banyak kewarga-negaraan. Sah saja jika Pemerintah AS yang akan mengadili Hambali. Tidak jadi masalah buat kita jika Hambali akan diadili di AS”.

Sementara itu dalam kesempatan terpisah, KATAKAMI.COM juga menghubungi Kepala Densus 88 Anti Teror POLRI Brigjen. Tito Karnavian tentang akses pemeriksaan terhadap Hambali.

https://i2.wp.com/matanews.com/wp-content/uploads/TitoKarnavian.jpg

Photo : Brigjen. Po. Tito Karnavian

“Kami menghargai akses yang diberikan pihak Amerika dalam hal pemeriksaan Hambali. Kerjasamanya tentu Police to Police. Sudah, sudah … POLRI sudah mendapat akses pemeriksaan terhadap Hambali. Tetapi mohon maaf, detail soal pemeriksaan dan hasilnya itu tidak harus disampaikan di media massa” kata Brigjen Tito Karnavian EKSKLUSIF kepada KATAKAMI.COM, Senin (18/1/2010).

Ketika “dikejar” oleh KATAKAMI.COM tentang proses pemeriksaan terhadap Hambali tersebut yaitu apakah POLRI sudah mendapatkan jawaban-jawaban yang cukup “memadai” dari Hambali – sebab Hambali sendiri berada di dalam penjara Guantanamo sejak Agustus 2003 – Kepala Densus 88 Anti Teror Brigjen Tito Karnavian menjawab bahwa sejauh ini hasil pemeriksaan itu cukup memuaskan.

“Ini wartawan memang pintar mengorek. Tapi seperti yang saya sampaikan tadi, kami sudah dapatkan aksesnya” lanjut Tito Karnavian.

Lalu terhadap tudingan aktivis Islam yaitu Fauzan Al Anshari bahwa POLRI memang sengaja merekayasa untuk seolah-olah menaikkan “pangkat” Hambali sebagai petinggi Al Qaeda – padahal Hambali hanya tercatat sebagai anggota Al Jamaah Al Islamyah saja – Kepala Densus 88 Anti Teror POLRI Brigjen Tito Karnavian membantah tudingan tersebut.

“Tidak benar kalau disebutkan kami merekayasa. Bagaimana bisa disebut rekayasa ? Sebab dari sejumlah bukti dan pemeriksaan terhadap saksi-saksi, Hambali memang terbukti sebagai salah seorang petinggi Al Qaeda. Salah satu bukti kuat yang didapat adalah rekening-rekening keuangan Hambali yang menerima kiriman uang dari Khalid Sheikh Mohammad. Hambali memang Al Qaeda. Dan itu bukan karangan kami tetapi dari hasil pemeriksaan saksi-saksi” jawab Tito Karnavian.

Terorisme Disokong Dana Al-Qaeda

https://i0.wp.com/www.muslimdaily.net/berita/fauzan.jpg

Photo : Fauzan Al Anshari

Keterangan Kepala Densus 88 Anti Teror POLRI ini bertentangan dengan keterangan dari aktivis Islam, Fauzan Al Anshari.

Kepada KATAKAMI.COM secara EKSKLUSIF di hari Senin (18/1/2010), Fauzan Al Anshari mengatakan bahwa Hambali bukan petinggi Al Qaeda.

“Dia bukan Al Qaeda, siapa bilang Hambali itu Al Qaeda ? Itu cuma karangan POLRI saja supaya bisa dicocokkan kepada keinginan Amerika. Kan lucu, ada warga negara Indonesia yang lahir di Cianjur Jawab Barat malah diadili di Amerika untuk kasus terorisme. Jangan mau menuliskan bahwa Hambali itu Al Qaeda, dia bukan Al Qaeda. Dia JI (Al Jamaah Al Islamyah, red)” kata Fauzan Al Anshari.

Fauzan Al Anshari juga mengkritik keras rencara peradilan Amerika terhadap Hambali dalam waktu dekat ini.

“Ada kabar, Amerika sebenarnya ingin mengekstradisi Hambali ke Arab Saudi kalau Guantanamo ditutup. Tetapi sekarang kabar lainnya, Hambali cukup diadili di Amerika. ” lanjut Fauzan Al Anshari.

https://katakamidotcomindonesianews.files.wordpress.com/2010/01/ust-abu-bakar.jpg?w=300

Pesan Tulus Nan Sederhana Pada Ustadz Abu Bakar Baasyir

Fauzan Al Anshari menjawab, “Saya luruskan disini bahwa tidak ada kaitannya Hambali dengan Ustadz Abu dalam urusan terorisme.” Jawab Fauzan Al Anshari.

Fauzan Al Anshari mengkritik secara sinis ketidak-berdayaan POLRI melawan ambisi Amerika yang hendak memaksakan kehendak mengadili Hambali secara langsung di Amerika.

“Itu kan bisa-bisanya Amerika. Kerjasama dengan BIN (Badan Intelijen Negara, red) dan POLRI agar seolah-olah Hambali ditangkap di Thailand agar lebih mudah diekstradisi ke Amerika.” tanya Fauzan Al Anshari.

Hambali, seorang warga negara Indonesia kelahiran Cianjur pasti akan sulit menjawab sebuah pertanyaan yang isinya “Como Esta, Hambali ?”.

Hambali akan lebih mudah memahami pertanyaannya jika disampaikan dalam bahasa Sunda yang menjadi bahasa lokal Cianjur (tanah kelahiran Hambali), “Kumaha Wartos na Hambali ? Damang ?”.

Jadi kesimpulannya, sederhana sekali !

Biarlah hukum ditegakkan secara apa adanya sesuai dengan ketentuan yang diatur di negara masing-masing.

https://i2.wp.com/i.thisislondon.co.uk/i/pix/2009/04/obama-panetta-415x276.jpg

Photo : Pres. Barack Obama & Direktur CIA Leon Panetta

Biarlah hukum bisa menjadi PANGLIMA di negaranya masing-masing.

Biarlah juga penegakan hukum itu dilakukan sesuai dengan pakem-pakem dan koridor yang berlaku.

Dan diatas semua itu, Pemerintah AS juga perlu memperkuat kerjasama di bidang penanganan TERORISME untuk membuka tabir rahasia gelap yang selama ini terjadi bahwa patut dapat dijuga seorang PERWIRA TINGGI POLRI yaitu KOMJEN GORIES MERE terlibat dalam sejumlah peledakan bom.

Bagaimana mungkin, patut dapat diduga ada seorang petinggi POLRI bermain mata dengan TERORIS paling berbahaya yaitu ALI IMRON — yang notabene merakit langsung bom yang meledak pada kasus BOM BALI I — dan untuk imbalannya ALI IMRON dibebaskan dari kewajibannya menjalani hukum berupa pidana kurungan seumur hidup. Ali Imron bahkan dibiayai untuk hidup di Hotel / Apartemen MEWAH.

Selain itu, Ali Imron juga dibuatkan buku BIOGRAFI yang sangat luks.

Apa-apaan ini !

Sejak VONIS dijatuhkan oleh Majelis Hakim Denpasar (Bali), Ali Imron tidak pernah sekalipun menjalani masa hukumannya didalam PENJARA.

Ali Imron pura-pura dipinjam saja.

http://katakamiindonesia.files.wordpress.com/2009/07/plorez.jpg

Dan semua itu adalah ulah KOMJEN GORIES MERE yaitu meniadakan kewajiban hukum yang harus dijalani Ali Imron.

Dalam sebuah forum terbuka, KOMJEN GORIES MERE pernah mencaci maki POLRI sebagai polisi-polisi yang TOLOL (Terutama POLDA JAWA BARAT diejeknya GOBLOK) karena dianggapnya tidak becus menangi HAMBALI.

Omongan KOMJEN GORIES MERE ini ternyata direkam pihak tertentu dan kasetnya jatuh ke tangan Pimpinan POLRI pada waktu itu yaitu Jenderal POLISI SUTANTO.

KOMJEN GORIES MERE juga menuduh TNI terlibat dalam seluruh peledakan BOM di INDONESIA.

Bahkan ia menyebut nama 2 Jenderal TNI sebagai bagian dari organisasi Al Jamaah Al Islamyah.

Akibat omongannya yang asal bunyi alias ASBUN ini, KOMJEN GORIES MERE ditegur keras oleh seorang Jenderal Purnawirawan TNI.

Sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan dan MEMFITNAH TNI, KOMJEN GORIES MERE menyampaikan PERMOHONAN MAAF kepada Jenderal Purnawirawan itu.

KOMJEN GORIES tidak sadar dan tidak malu, bahwa bukan POLRI secara INSTITUSI yang TOLOL atau GOBLOK menangani masalah terorisme.

Lucu, jika ada POLISI yang mengejek institusinya sebagai POLISI yang TOLOL & GOBLOK.

Kalau mau jujur, yang jauh lebih tidak becus menangani masalah TERORISME adalah KOMJEN GORIES MERE karena Indonesia bisa diguncang BOM yang sangat dashyat lewat bom JW MARRIOT tahun 2003 — sementara HAMBALI yang dikabarkan mendalangi aksi peledakan bom ini JUSTRU sudah berada di Thailand dan hanya dalam hitungan hari sudah diserahkan Pemerintah THAILAND kepada Pemerintah AS.

Darimana ceritanya HAMBALI mendalangi peledakan bom Hotel JW Marriot tahun 2003 ?

https://i1.wp.com/www.apples4theteacher.com/images/icons/animated-letters/g.gif https://i0.wp.com/www.apples4theteacher.com/images/icons/animated-letters/m.gif

https://i1.wp.com/www.apples4theteacher.com/images/icons/animated-letters/g.gif https://i0.wp.com/www.apples4theteacher.com/images/icons/animated-letters/m.gif

Siapa sebenarnya yang mendalangi Bom JW Marriot tahun 2003 ?

Buka dong secara transparan.

Jangan lempar batu sembunyi tangan !

Siapa yang berbuat maka ia harus berani bertanggung-jawab.

Ini “pertanyaan serius” kepada KOMJEN GORIES MERE karena ketika itu ia yang memimpin langsung TIM ANTI TEROR POLRI.

Terlalu banyak REKAYASA & PERMAINAN-PERMAINAN kotor yang patut dapat diduga dilakukan KOMJEN GORIES MERE mengatasnamakan penanganan TERORISME sejak penanganan kasus peledakan BOM MALAM NATAL tahun 2000.

Betapa memalukan, jika ada oknum petinggi POLRI yang patut dapat diduga MENGAIS UNTUNG hanya dengan menjadikan isu TERORISME menjadi komoditi dagangan.

Harusnya oknum ini dipenjara saja bersama-sama dengan HAMBALI di Guantanamo sana atas kekejamannya yang patut dapat diduga menjual isu TERORISME menjadi sebuah komoditi dagangan yang sangat laris manis untuk meraup keuntungan.

(MS)

January 23, 2010 Posted by | Uncategorized | Comments Off on Bertanya Dibalik Tabir Teror 9/11, Como Esta Obama ?

BHD Berjodoh Baru, Tapi Gaji POLRI Di 2010 Tetap Pilu

https://i1.wp.com/thejakartaglobe.com/media/images/large/20091015134058124.jpg

Dimuat juga di KATAKAMIDOTCOM.WORDPRESS.COM & KATAKAMIINDONESIA.WORDPRESS.COM

Jakarta 31/12/2009 (KATAKAMI) Berjodoh baru untuk Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri menyambut tahun baru 2010 adalah mendapatkan seorang wakil yang baru dari jajaran stok lama yang ada dalam struktur organisasi POLRI.

Persis di penghujung tahun 2009, POLRI memutuskan lewat rapat Wanjak (Dewan Kepangkatan & Jabatan) bahwa pengganti Komjen Makbul Padmanegara adalah Komjen. Jusuf Manggabarani.

Jusuf Mangga yang saat ini menjabat sebagai Inspektur Jenderal Pengawasan Umum (Irwasum) akan segera dilantik tanggal 4 Januari 2010 menjadi Wakapolri.

https://i0.wp.com/matanews.com/wp-content/uploads/IrwasumPolri071009-3-590x416.jpg

Ini perjodohan yang berakhir dengan perkawinan jabatan dari Angkatan kakak adik yaitu 1974 (BHD) dan Jusuf Mangga (1975).

Setelah mengabdikan dirinya selama 35 tahun sebagai Bayangkara Negara, Komjen Makbul Padmanegara akan resmi memasuki masa purna baktinya setelah nanti jabatan Wakapolri diserah-terimakan secara resmi.

Keputusan mengangkat Jusuf Manggabarani sebenarnya sudah bisa diperkirakan sebelumnya.

Nyaris tak ada yang bisa mengimbangkan “sinar terang” dibalik nama Jusuf Manggabarani .

Jusuf Mangga adalah salah seorang yang dijadikan tangan kanan BHD dalam mengawasi kinerja POLRI. Jusuf Mangga menjadi “mata dari segala mata dan telinga dari segala telinga” bagi Kapolri untuk memastikan bahwa POLRI tetap bekerja secara proporsional dan prosefional.

Sehingga dengan adanya perjodohan BHD dan Jusuf Mangga di kursi pelaminan Tri Brata 1 dan Tri Brata 2, hal ini menjadi sebuah pemandangan yang nyaman untuk dilihat.

http://www.antarafoto.com/dom/prevw/grab.php?id=1228894798

Masuknya Jusuf Mangga ke kursi Tri Brata 2, harus menjadi jaminan yang lebih kuat mendorong perubahan dan laju reformasi birokrasi POLRI ke arah yang lebih baik.

Tetapi ada sebuah ironi yang tak bisa dihindari oleh Kapolri BHD dan Wakapolri (baru) Jusuf Manggabarani bahwa duet kepemimpinan mereka tak mampu berbuat banyak untuk mengubah nasib seluruh anggota POLRI dan keluarganya menjadi lebih sejahtera di tahun 2010.

Tidak usahlah berbicara yang muluk-muluk.

Untuk tahun 2010 yang sudah didepan mata saja, tingkat kesejahteraan POLRI masih berada dibawah garis kesejahteraan yang sesungguhnya.

Gaji atau kesejahteraan Anggota POLRI, tetap sendu, tetap mengharu-biru, tetap PILU !

Mengapa disebut PILU ?

Ya, karena gaji anggota yang berpangkat terendah sampai menengah sungguh menjadi tolak ukur bahwa kehidupan para abdi negara ini akan tetap KELABU.

Memang, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah memutuskan untuk menaikkan gaji TNI / POLRI sebesar 5 % per tahun 2010.

Dengan gaji bersih (take home pay) untuk tingkat bintara yang rata-rata bernominal Rp. 3.000.000 maka kenaikan gaji sebesar 5 % itu, harus dikalikan dari angka gaji pokok mereka yang tak jauh-jauh dari kisaran angka Rp. 1 jutaan.

Maka kenaikan itu hanya sebesar Rp. 50 ribu saja.

http://i673.photobucket.com/albums/vv93/kresnoyoyok/Synergy/Kaskus/Resizeof21102009054.jpg

Bandingkan dengan kebaikan dan kemurahan hati Presiden SBY membelikan mobil dinas baru (TOYOTA CROWN ROYAL SALOON) untuk barisan para Menteri dan Pejabat-Pejabat Tingggi Negara yang harganya mencapai Rp. 1,3 M per 1 unit mobil.

Mobil yang serba otomatis, ada alat pemijat di kursi dan kulkas kecil di jok kursi mewahnya, seakan menjadi belati tajam yang menikam kalbu anggota TNI dan POLRI yang cuma mendapat kenaikan gaji Rp. 50 ribu tadi untuk tahun 2010 ini.

Sulit untuk dimengerti, kemana rasionalitas dari seorang SBY ?

Jika sudah menyangkut isu aliran dana Bank Century, seorang SBY akan cepat sekali memberikan respon.

Tapi bandingkan jika menyangkut tingkat kesejahteraan anggota TNI / POLRI yang sangat minim dan memprihatinkan !

https://katakamidotcomindonesianews.files.wordpress.com/2010/01/142435p.jpg?w=298

SBY seakan mati rasa.

SBY seakan tak mau tahu, betapa sendu dan pilunya hidup sebagai anggota TNI / POLRI yang sudah sangat kenyang dengan penderitaan panjang tak berkesudahan.

Lihatlah drama-drama kehidupan yang sebenarnya dari keluarga-keluarga TNI / POLRI.

Lihatlah bagaimana realita kehidupan yang serba pahit dari belenggu keterbatasan dari pundi-pundi anggota TNI / POLRI.

Sudah naiknya cuma sedikit, kenaikan gaji yang cuma seuprit yaitu sebesar 5 % tadi tak jelas efektifnya mulai tanggal atau bulan berapa tahun 2010 nanti. Renumerisasi bagi anggota TNI / POLRI masih akan dihitung.

Kritikan tajam dari berbagai pihak bahwa gaji atau tingkat kesejahteraan anggota TNI / POLRI masih tetap kecil, dikomentari berbeda oleh para anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

https://i1.wp.com/mediaindonesia.com/spaw/uploads/images/article/head/20091110_115044_bennyharmanB9-mi-susanto.jpg

Benny K. Harman, Ketua Komisi III DPR dari Fraksi Partai Demokrat mengatakan bahwa setiap tahun pasti ada peningkatan dari gaji POLRI.

“Sudah menjadi kemauan politik dari Pemerintah dan DPR tentang adanya peningkatan kesejahteraan dari lembaga-lembaga penegak hukum kita dalam rangka peningkatan juga terhadap pelayanan publik. Yang harus diingat oleh POLRI adalah kenaikan gaji itu harus diimbangi dengan reformasi internal di lembaga mereka masing-masing” demikian diungkapkan Benny K. Harman kepada KATAKAMI.COM Kamis (31/12/009).

Menurutnya, kenaikan gaji dari lembaga-lembaga penegak hukum memang tidak bisa langsung dalam jumlah yang besar karena harus disesuaikan dengan kemampuan keuangan negara.

Sementara itu, menurut Yorrys Raweyai, anggota Komisi 1 DPR-RI dari Fraksi Partai Golkar, Komisi 1 DPR-RI terus mendorong peningkatan kesejahteraan anggota TNI.

https://i0.wp.com/media.vivanews.com/thumbs2/2008/10/15/55748_yorrys_raweyai_300_225.jpg

“Kenaikan gaji atau kesejahteraan itu terus dilakukan selama 5 tahun terakhir ini tetapi harus disesuaikan dengan kemampuan APBN. Kita berupaya agar terus terjadi peningkatan gaji mereka. Malah kami usahakan agar diberikan tunjangan khusus bagi anggota TNI yang bertugas di perbatasan dan daerah-daerah terpencil” ungkap Yorrys Raweyai.

Yorrys Raweyai menambahkan bahwa untuk uang lauk-pauk TNI / POLRI sudah jauh lebih baik dari beberapa tahun terakhir ini.

“Jangan dibilang bahwa tidak ada perhatian atau tidak ada kenaikan. Kenaikan itu ada. Coba saja lihat dari uang lauk pauk. Dulu, uang lauk pauk itu hanya Rp. 15 ribu per hari. Sekarang TNI / POLRI menerima uang lauk pauk sebesar Rp. 40 ribu per hari. Memang idealnya uang lauk itu adalah Rp. 70 ribu sehari. Tapi sekali lagi, kita kan harus menyesuaikan dengan kemampuan negara” tegas Yorrys Raweyai yang saat ini berada Hongkong lewat percakapan khusus dengan KATAKAMI.COM yang menghubunginya lewat sambungan telepon jarak jauh.

https://i2.wp.com/thejakartaglobe.com/media/images/large/20091030182249587.jpg

Sementara itu, Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri mengatakan POLRI akan menyesuaikan dan menerima apapun yang ditetapkan oleh PEMERINTAH terkait masalah kesejahteraan. “Untuk masalah gaji, POLRI menyesuaikan dengan kemampuan NEGARA. Kemampuan NEGARA ini harus dipahami oleh kita semua. Untuk Bintara yang baru lulus, apa yang diperolehnya sudah lebih baik dari yang dulu-dulu” demikian dikatakan Kapolri BHD menjawab pertanyaan KATAKAMI.COM dalam acara keterangan pers akhir tahun POLRI pada hari Rabu (30/12/2009) di Mabes POLRI.

Kapolri BHD menambahkan bahwa gaji diperoleh oleh para pejabat POLRI juga tidak sebesar yang diperkirakan oleh banyak pihak. “Sampai kepada pejabat yang tertinggipun di Kepolisian, kondisinya sama. Baik yang bintang 4, atau yang bintang 3. Tunjangan yang diperoleh tidak terlalu besar. Dan kalau bicara soal peningkatan kesejahteraan, secara periodik tetap ada peningkatan secara terus menerus. Bahkan uang lauk pauk dari Rp. 35 ribu sekarang sudah meningkat jadi Rp. 40 ribu” lanjut Kapolri BHD.

Menurut Kapolri BHD, dengan adanya kebijakan renumerisasi atau kebijakan reformasi yang dijadwalkan pemerintah agar untuk meningkatkan kesejahetaraan anggota-anggota di lapangan.

http://1.bp.blogspot.com/_ecmvI8UPFV0/SxE47UbUJGI/AAAAAAAABx8/o891m43v
xU8/s400/2010blue.jpg

Kembali ke masalah jodoh baru Kapolri BHD menyambut tahun 2010 ini.

Semoga duet kepemimpinan baru antara BHD dan Jusuf Mangga bisa memberikan angin segar bagi kelanjutan reformasi birokrasi POLRI.

Apa yang menjadi kekurangan, kesalahan dan pelanggaran di internal POLRI janganlah lagi di ulangi.

Target-target atau sasaran kerja juga harus tercapai sesuai dengan yang diharapkan.

Sebagai PIMPINAN, janganlah orientasinya hanya kepada KEKUASAAN atau pasrah oleh tekanan KEKUASAAN.

Jadikanlah POLRIsebagai INSTITUSIPENEGAKAN HUKUM yang membanggakan untuk Indonesia.

Perhatikan semua anggota atau bawahan.

Kasihani mereka. Kasihani keluarga mereka.

Dengarkanlah jeritan PILU dari semua bawahan yang tak kuasa menghindar dari kekejaman hidup yang menuntut angka pengeluaran yang tak sedikit.

Semoga jodoh baru bagi Kapolri BHD ini, tak justru membuat anggota POLRI semakin memiliki hidup yang sama atau lebih PILU dari sebelumnya.

Dan diatas semua itu, semoga telinga Presiden SBY masih bisa berfungsi sebagaimana mestinya.

Dengarkanlah nyanyian-nyanyian IRONI anggota TNI / POLRI yang hidupnya dijejali dengan seribu macam pendeirtaan.

(MS)

January 21, 2010 Posted by | Uncategorized | Comments Off on BHD Berjodoh Baru, Tapi Gaji POLRI Di 2010 Tetap Pilu

Copot, Tangkap & Adili Komjen Gories Mere Karena Patut Dapat Diduga Menjadi BEKING Bandar Narkoba Liem Piek Kiong (MONAS) Pada Kasus Narkoba Taman Anggrek Dengan Barang Bukti 1 Juta Pil Ekstasi

January 21, 2010 Posted by | Uncategorized | Comments Off on Copot, Tangkap & Adili Komjen Gories Mere Karena Patut Dapat Diduga Menjadi BEKING Bandar Narkoba Liem Piek Kiong (MONAS) Pada Kasus Narkoba Taman Anggrek Dengan Barang Bukti 1 Juta Pil Ekstasi

Munir Cahaya Yang Tak Pernah Padam

http://ayomerdeka.files.wordpress.com/2008/11/munir1.jpg

Oleh : SUCIWATI, Isteri Alm. Munir.

BAGIAN PERTAMA

“Kenapa Abah dibunuh, Bu?” Mulut mungil itu tiba-tiba bersuara bak godam menghantam ulu hatiku. Gadis kecilku, Diva Suukyi, saat itu masih 2 tahun, menatap penuh harap. Menuntut penjelasan.

Suaraku mendadak menghilang. Airmataku jatuh. Sungguh, seandainya boleh memilih, aku akan pergi jauh. Tak kuasa aku menatap mata tanpa dosa yang menuntut jawaban itu. Terlalu dini, sayang. Belum saatnya kau mengetahui kekejian di balik meninggalnya ayahmu, suamiku, Munir. Seolah tahu lidah ibunya kelu, Diva memelukku. Tangan kecilnya melingkari tubuhku. ”Ibu jangan menangis…Jangan sedih,” kata-kata itu terus mengiang di telingaku.

Pada 7 September 2004, sejarah kelam itu tertoreh. Munir, suami dan ayah dua anakku –Alif Allende (10) dan Diva Suukyi (6)—meninggal. Siang itu, pukul 2.

Usman Hamid dari KontraS menelepon ke rumah. “Mbak Suci ada di mana?” Firasatku langsung berkata ada yang tidak beres. Pasti ada hal yang begitu besar terjadi sampai Usman begitu bingung. Jelas dia menelepon ke rumah, kok masih bertanya aku di mana.

Benar saja. Tergagap Usman bertanya, “Mbak, apa sudah mendengar kabar bahwa Cak Munir sudah meninggal?”

Tertegun aku mendengarnya. Seolah aku berada di awang-awang dan kemudian langsung dibanting ke tanah dengan keras. Kehidupan seolah berhenti. Seseorang yang menjadi bagian jiwaku, nyawaku, telah tiada. Kegelapan itu mencengkeram dan menghujamku dalam duka yang tak terperi.

Nyatakah ini? Air mata membanjir. Tubuhku limbung. Perlu beberapa saat bagiku untuk mengumpulkan tenaga dan akal sehat. Aku harus segera mencari informasi tentang Munir. Ya Tuhan, apa yang terjadi pada dia?

Begitu kesadaranku hadir, segera kutelepon berbagai lembaga seperti Imparsial dan kantor Garuda di Jakarta dan di Schipol (Belanda). Begitu pula teman-teman Munir di Belanda. Aku segera mencari kabar lebih lanjut dari kawan-kawan aktivis. Tak ada yang bisa memberikan keterangan memuaskan.

Orang-orang mulai berdatangan untuk menyampaikan bela sungkawa. Aku masih sibuk mencari informasi kesana-kemari. Sebagian diriku masih ngeyel, berharap berita itu bohong semata. Aku hanya akan percaya jika melihat langsung jenazah almarhum.

Pada tragedi ini, pihak Garuda amat tidak bertanggungjawab. Tiga kali aku menelepon kantor mereka di Jakarta, tapi tak satu pun keterangan didapat. Mereka bahkan bilang tidak tahu-menahu soal kabar kematian Munir. Sungguh menyakitkan, pihak maskapai penerbangan Garuda harusnya yang paling bertanggungjawab tidak sekali pun menghubungiku untuk memberi informasi. Padahal, Munir meninggal di pesawat Garuda 974.

Kantor Garuda di Schipol pun sama saja. Pada telepon ketiga, dengan marah aku menyatakan berhak mendapat kabar yang jelas menyangkut suamiku. Barulah informasi itu datang. Yan, nama karyawan Garuda itu, menjelaskan bahwa memang Munir telah meninggal dan dia menyaksikan secara langsung. Yan bahkan berpesan jangan sampai orang mengetahui kalau dia yang memberi kabar itu kepadaku. Ah, apa pula ini? Tuhan, beri aku kekuatan-Mu.

Aku hanya bisa menangis. Si sulung Alif, saat itu baru 6 tahun, melihatku dengan sedih dan ikut menangis. Diva terus bertanya dalam ketidak mengertiannya, “Kenapa Ibu menangis?” Aku merasa seolah jauh dari dunia nyata. Kosong.

Jiwaku hampa. Saat itu, dengan kedangkalanku sebagai manusia, sejuta pertanyaan dan gugatan terlontar kepada Tuhan. “Kenapa bukan aku saja yang Engkau panggil, Ya Allah? Mengapa harus dia? Mengapa dengan cara seperti ini? Mengapa harus saat ini? Mengapa? Ya Allah, Kau boleh ambil nyawaku,hamba siap menggantikannya. Dia masih sangat kami butuhkan, negara ini butuh dia.”

Rumah tiba-tiba dibanjiri manusia. Teman, kerabat, tetangga berdatangan. Bunga berjajar dari ujung jalan sampai ujung satunya. Alif bertanya, “Kenapa bunga itu tulisannya turut berduka cita untuk Abah?” Anakku, aku peluk dia, kukatakan bahwa Abah tidak akan pernah kembali lagi dari Belanda. Abah telah meninggal dan kita tidak akan pernah bertemu lagi dengannya.

Alif menangis dan protes, “Bukannya Abah hanya sekolah? Bukannya Abah akan pulang Desember? Kenapa kita tidak akan ketemu lagi?” Amel, guru yang selama ini melakukan terapi untuk Alif yang cenderung hiperaktif, segera menggendong dan membawa Alif keluar. Maafkan, Nak. Aku tak berdaya bahkan untuk sekedar menjawab pertanyaanmu. Aku tidak mampu.

Teman-teman dari berbagai lembaga juga datang. Antara lain dari Kontras, Imparsial, Infid, HRWG, dan banyak lagi yang tak mungkin aku mengingatnya satu persatu. Semua tumpah ruah.

Puluhan wartawan juga datang, tapi aku tak mau diwawancarai mereka. Biarlah kesedihan ini mutlak jadi milikku. Meskipun aku yakin bahwa keluarga korban yang selama ini didampingi almarhum pasti tidak kalah sedih. Sebagian mereka datang dan histeris menangisi kehilangan Munir.

PADA 8 September 2004, aku menjemput jenazah suamiku. Bersama Poengky dan Ucok dari Imparsial, Usman dari KontraS, dan Rasyid kakak Munir, aku berangkat ke Belanda. Ya Tuhan, beri aku kekuatan-Mu, begitu doaku sepanjang perjalanan.

Di ruang Mortuarium Schipol, jasad Munir terbujur kaku. Kami tiada tahan untuk tidak histeris. Usman melantunkan doa-doa yang membuat kami tenang kembali.

Sejenak aku ingin hanya berdua dengan suami tercintaku. Aku meminta teman-teman keluar dari ruangan. Aku pandangi Munir dalam derai air mata. Tak tahu lagi apa yang kurasakan saat itu. Sedih, hampa, kosong.

Lalu, kupegang tangannya. Kupandangi dia. Teringat saat-saat indah ketika kami bersama. Tiba-tiba ada rasa lain yang membuat aku menerima kenyataan ini. Aku harus merelakan kepergiannya. Doa-doa kupanjatkan. Ya Allah, berilah suamiku tempat terhomat disisi-Mu. Amien.

http://mysoo.files.wordpress.com/2009/08/munir.jpg

Di Batu, 12 September 2004, kota kelahirannya, Munir disemayamkan. Pelayat seolah tiada habisnya datang. Handai taulan, sahabat, teman-teman buruh, petani, mahasiswa, aktivis, wartawan semua ada. Banyak yang tidak tidur menunggu esok hari, saat pemakaman Munir. Umik, ibu Munir, begitu sedih. Aku bahkan tak sanggup melihat kesedihan yang membayang di wajahnya.

Hari itu, masjid terbesar di Batu, tempat Munir disholati, tidak sanggup menampung semua yang hadir. Perlu antre bergantian untuk sholat jenazah. Kota Batu yang selama ini sepi mendadak dipadati manusia. Melimpahnya “tamu” Munir ini bagai suntikan semangat bagiku. Bahwa ternyata bukan aku dan keluarga saja yang merasakan kedukaan ini. Dukungan yang mereka berikan membuatku kuat.

Seperti menanam sesuatu maka kamu akan memanennya,itulah yang aku buktikan hari ini. Aku melihat yang dilakukan Munir selama ini membuktikan apa yang dia perbuat.

Munir selalu mencoba berjuang bagi tegaknya keadilan dan perdamaian. Dia berteriak lantang menyuarakan keadilan bagi korban, baik di Aceh,Papua,Ambon dan dimana saja. Keberanian dan sikap kritisnya terhadap penguasa memang harus dibayar mahal oleh nyawanya sendiri dan juga oleh keluarga yang ditinggalkannya ‘anak dan istrinya’.

TAK MUDAH bagiku mencerna kehilangan ini. Perlu proses untuk menerima, mengikhlaskan kepergian Munir, dan menerima bahwa ini adalah kehendakNya. Jika Tuhan sudah berkehendak, maka siapa pun dan dengan cara apa pun tidak akan mampu mengelak. Keyakinan bahwa hidup-mati manusia adalah kehendak-Nya itu membuat aku bangkit lagi.

Munir adalah manusia, sama sepertiku dan yang lainnya, yang bisa mati. Kemarin, sekarang atau besok, itu hanya persoalan waktu. Sakit, diracun, atau ditembak itu hanya persoalan cara. Kematian adalah keniscayaan. Suka atau tidak suka, kita tetap harus menghadapinya. Dan kehidupan tidak berhenti. Air mata kepedihan tidak akan pernah mengembalikannya.

Sepenggal doa Sayyidina Ali, sahabat Nabi Muhammad SAW, membuatku bertambah yakin bahwa aku harus bangkit:

“Ketika kumohon kekuatan, Allah memberiku kesulitan agar aku menjadi kuat. Ketika kumohon kebijaksanaan, Allh memberiku masalah untuk kupecahkan. Ketika kumohon kesejahteraan, Allah memberikan aku akal untuk berpikir. Ketika kumohon keberanian, Allah memberiku kondisi bahaya untuk kuatasi. Ketika kumohon sebuah cinta, Allah memberiku orang-orang bermasalah untuk kutolong. Ketika kumohon bantuan, Allah memberiku kesempatan. Aku tidak pernah menerima apa yang kupinta, tapi aku menerima segala yang kubutuhkan.”

Kucoba untuk merenung. Kuteguhkan hati bahwa ini bukan sekedar takdir, tapi ada misteri yang menyelubungi. Misteri yang harus diungkap. Aku harus berbuat sesuatu. Bersyukur, aku tidak sendirian dalam kedukaan ini. Banyak teman-teman yang peduli kepada kami sekeluarga.

https://katakamidotcomindonesianews.files.wordpress.com/2009/10/62839_istri_mendiang_munir_suciwati_thumb_300_225.jpg?w=300

BAGIAN KEDUA

DUA bulan kemudian, tepatnya 11 November 2004, Rachland dari Imparsial menghubungiku. Dia mengabarkan ada wartawan dari Belanda ingin mewawancarai. Dia juga bertanya, apakah aku sudah mengetahui hasil otopsi yang dilakukan pihak Belanda terhadap almarhum Munir. Hasil otopsi itu kabarnya diserahkan kepada pemerintah Indonesia melalui Departemen Luar Negeri.

Aku berharap teman-teman memiliki jaringan ke Departemen Luar Negeri. Tapi, rupanya tidak. Aku pun menelepon 108 –nomor informasi—untuk meminta nomer telepon kantor Departemen Luar Negeri.

Teleponku ditanggapi seperti ping-pong. Dioper sana-sini. Sampai akhirnya aku berbicara via telepon dengan Pak Arizal. Dia menjelaskan bahwa semua dokumen otopsi telah diserahkan kepada Kepala Polri, dengan koordinasi Menteri Koordinator Politik dan Keamanan.

Entah, keberanian dari mana yang menyusup dalam diriku pada waktu itu. Aku tanpa ragu menghubungi dan berbicara dengan mereka, semua pejabat itu. Kebetulan, semua nomor telepon pejabat-pejabat penting itu terekam dalam telepon genggam suamiku.

Kepada para petinggi itu, aku bertanya, “Kenapa aku sebagai orang terdekat almarhum tidak diberitahu tentang otopsi? Apa yang terjadi padanya? Apa hasilnya?” Mereka tidak memberikan jawaban. Padahal, sebagai istri korban, aku memiliki hak yang tak bisa diabaikan begitu saja.

Pukul 10.00 malam, Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Pak Widodo AS meneleponku. Menurut dia, hasil otopsi telah diserahkan kepada Kepala Bagian Reserse dan Kriminal (Kabareskrim) Pak Suyitno Landung, Markas Besar Polri. Malam itu juga aku menelepon Kabareskrim. Aku meminta bertemu dengan dia esok paginya.

Bersama Al Ar’af dari Imparsial,dan Usman Hamid dari KontraS, Binny Buchori dari Infid, Smita dari Cetro dan beberapa kawan, esok paginya tanggal 12 November 2004 aku mendatangi kantor Kabareskrim.

Pagi itu aku menghadapi kenyataan yang menyakitkan. Benarlah dugaanku bahwa ada yang aneh pada kematian Munir. Hasil otopsi itu menjelaskan dengan gamblang bahwa kematian almarhum adalah lantaran racun arsenik. Racun itu ditemukan di lambung, urine, dan darahnya. Ternyata dia memang dibunuh…!

https://i2.wp.com/www.tabloidkampus.com/imagesberita/Munir.jpg

KELUAR dari Mabes Polri, kami sudah diserbu wartawan. Siaran pers pun digelar bersama sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) di kantor KontraS.

Isinya, mendesak pemerintah untuk segera melakukan investigasi, menyerahkan hasil otopsi kepada keluarga, dan membentuk tim pen
yelidikan independen yang melibatkan kalangan masyarakat sipil. Desakan serupa dikeluarkan oleh tokoh-tokoh masyarakat di berbagai daerah. Desakan yang ditanggapi dengan janji Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengusut kasus pembunuhan Munir.

Tak lama pula kami membentuk KASUM (Komite Aksi Solidaritas Untuk Munir). Banyak organisasi dan individu yang punya komitmen akan pengungkapan kasus ini bergabung. Ini memang bukan hanya persoalan kematian seorang Munir. Lebih dari itu, ini persoalan kemanusiaan yang dihinakan dan kita tidak mau ada orang yang diperlakukan sama seperti dia hanya karena perbedaan pikiran.

Rapat paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pun sepakat untuk meminta pemerintah membentuk tim independen kasus Munir. DPR juga mendesak pemerintah segera menyerahkan hasil autopsi kepada keluarga almarhum. Pada November 2004, DPR membentuk tim pencari fakta untuk mengusut kasus pembunuhan Munir.

PADA 24 November 2004, Presiden Yudhoyono bertemu denganku. Teman-teman dari Kontras, Imparsial, Demos menemaniku bertemu Presiden. Satu bulan kemudian tepatnya tanggal 23 Desember 2004 Presiden mengeluarkan Keputusan Presiden untuk pembentukan Tim Pencari Fakta (TPF) Munir yang dipimpin oleh Brigjen pol. Marsudi Hanafi.

Tim ini, di luar dugaan, bekerja efektif menemukan kepingan-kepingan puzzle siapa dibalik pembunuhan Munir. Fakta-fakta temuan tim ini cukup mencengangkan. Fakta yang menunjukkan benang merah pembunuhan keji penuh konspirasi dan penyalahgunaan kekuasaan serta kewenangan di Badan Intelejen Nasional (BIN). Sayangnya TPF tidak diperpanjang lagi setelah dua kali(6 bulan)masa kerjanya.

Adalah Pollycarpus, pilot Garuda, benang merah yang mengurai jaring laba-laba kebekuan dan kerahasiaan yang melingkupi BIN. Polly, sebuah nama yang sangat melekat dibenakku. Sangat dalam maknanya dalam perjalanan menguak kebenaran siapa dibalik kematian Munir, suamiku.

Dia adalah orang yang menelepon suamiku dua hari sebelum berangkat ke Belanda. Polly menanyakan jadwal keberangkatan suamiku dan dia mau mengajak berangkat bersama. Kebetulan waktu itu aku yang menerima telepon itu. Jika tidak, barangkali aku tidak akan pernah tahu keberadaan Polly. Munir mengatakan Polly adalah orang aneh dan sok akrab. “Dia itu orang tidak dikenal tapi tiba-tiba menitipkan surat untuk diposkan di bandara setempat ketika aku hendak ke Swiss,” begitu kata Munir

Terungkap dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, sang pilot tidak hanya menerbangkan pesawat. Dia adalah orang yang mempunyai hubungan dengan agen BIN seperti halnya Mayor Jenderal TNI Muchdi PR, Deputi V BIN. Polly disebut sebagai agen non organik BIN yang langsung berada di bawah kendali Muchdi. Berkas dakwaan tersebut juga menyebut adanya pembunuhan berencana terhadap Munir.

Tercatat pula dalam berkas dakwaan untuk Muchdi PR, keduanya –Polly dan Muchdi—berhubungan intensif melalui telepon. Paling tidak 41 kali hubungan telepon antara Muchdi dan Polly yang terjadi menjelang, saat dan sesudah tanggal kematian Munir. Bisa diduga, keduanya berhubungan terkait dengan perencanaan, eksekusi, dan pembersihan jejak.

https://i2.wp.com/www.munyie.com/picture/1153/1/munir.jpg

KAMI, aku dan teman-teman KASUM, juga melakukan investigasi. Kami berusaha memetakan jejak sang pilot. Melalui berbagai penelusuran, terungkap bahwa Pollycarpus memiliki hubungan dengan para pejabat BIN. Sosok satu ini diketahui berada di berbagai daerah titik panas seperti Papua, Timor Leste, dan Aceh. Sebuah fakta yang tidak biasa dalam dunia profesi pilot.

Polly sendiri, dalam persidangan, mengaku bahwa dia pernah tinggal cukup lama di Papua. Katanya, dia bertugas sebagai pilot misionaris sebelum bekerja di Garuda. Mungkin kebetulan, mungkin juga tidak, keberadaan Polly di Papua ternyata bersamaan dengan Muchdi PR yang waktu itu menjadi Komandan KODIM 1701 Jayapura pada tahun 1988-1993. Lalu, Muchdi menjadi Kasrem Biak 173/ 1993-1995. Melihat rekam jejak ini, patut diduga, pada periode itulah perkenalan pertama sang pilot dengan sang jenderal.

Indra Setiawan, saat itu menjabat Direktur Utama Garuda, mengakui mengingat nama Pollycarpus karena khas dan unik. Pada 22 November 2004, ketika kami meminta keterangan kepada Indra,

Aku: Apakah ada yang namanya Polly di Garuda?

Indra (menjawab dengan cepat) : Oh ya. Ada. Namanya Pollycarpus.

Aku : Bapak kok hafal padahal karyawan bapak lebih dari 7000 ?

Indra : Ya, soalnya namanya khas dan unik. Kalau namanya Slamet, saya pasti lupa.

Belakangan, dalam persidangan, baik sebagai saksi atau pun ketika ditetapkan sebagai terdakwa pada tahun 2007, terungkap bahwa Indra mengingat Polly karena alasan khusus. Alasan yang berkaitan dengan BIN. Polly merangkap pilot dan bagian pengamanan penerbangan (aviation security) atas permintaan BIN. Sebuah alasan yang masuk akal. Jika BIN yang meminta, kendati tidak benar secara prosedur, maka pihak Garuda tidak bisa menolak.

BIN mengeluarkan permintaan tersebut dalam surat yang ditandatangani Wakil Kepala BIN As’ad Said Ali. Pada saat itu Kepala BIN dijabat oleh Hendropriyono –sosok yang selama ini sangat dekat dengan berbagai kasus yang diadvokasi almarhum.

Surat yang diteken As’ad patut diduga menjadi petunjuk bahwa rencana pembunuhan Munir melibatkan para petinggi BIN, bukan hanya Muchdi , tapi juga Hendropriyono. Apalagi, sesuai pengakuan agen BIN Ucok alias Empi alias Raden Patma dalam persidangan Peninjauan Kembali, Deputi II Manunggal Maladi dan Deputi IV Johannes Wahyu Saronto BIN juga diduga terlibat.

http://redaksikatakami2.files.wordpress.com/2009/03/1-skeetsaaa.gif

Irjen JWS yang ditulis Suciwati

BAGIAN KETIGA

SERANGKAIAN persidangan kasus pembunuhan Munir begitu melelahkan. Tak hanya secara fisik tetapi juga secara mental. Betapa tidak, pada tingkat Mahkamah Agung, Pollycarpus hanya dihukum dua tahun. Polly hanya dinyatakan bersalah melakukan pemalsuan surat, bukan pembunuhan. Semua ini tentu merupakan pukulan sendiri buatku.

Jantungku sakit sekali ketika aku mendengar putusan untuk Polly. Aku merasa kehilangan untuk yang kedua kalinya, kehilangan Munir dan kehilangan keadilan itu sendiri.

Bagaimana mungkin fakta-fakta yang begitu mencolok diabaikan begitu saja oleh hakim-hakim itu? Bagaimana mungkin keadilan hukum bisa kuraih jika dipenuhi oleh manusia tanpa hati nurani?

Dua dari tiga hakim yang membebaskan Pollycarpus dari dakwaan pembunuhan itu memiliki latar belakang sebagai tentara. Keduanya adalah purnawirawan TNI dengan pangkat terakhir mayor jenderal. Tak heran, beberapa pihak menduga, ada semangat korps dalam menangani kasus ini yang menguntungkan Pollycarpus.

Kesedihan sama sekali tidak membuatku surut. Aku yakin pasti masih banyak aparat penegak hukum mempunyai hati nurani. Masih banyak yang peduli pada keadilan dan kebenaran. Ini terbukti dalam putusan pengadilan kasasi pada tanggal 25 Januari 2008 Polycarpus dijatuhi hukuman penjara selama 20 tahun atas dakwaan pembunuhan berencana dan pemalsuan surat tugas.

Selesai? Belum. Misteri pembunuhan Munir masih jauh dari terungkap. Terungkap dari persidangan, juga keputusan pemidanaan Polly, ada mesin intelejen yang bekerja dengan jahat menghabisi nyawa Munir. Ini jauh lebih penting ketimbang sekadar menghukum Polly. Dia hanya pelaku lapangan, bukan orang yang secara sistematis menggunakan kekuasaan dan kewenangan dalam melakukan pembunuhan ini.

Tragisnya, sampai hari ini proses meraih kebenaran dan keadilan siapa di balik pembunuhan Munir masih terseok-seok. Tabir misteri belum tersingkap.

Benar, ada perkembangan baru dengan ditangkapnya Muchdi Purwopranjono 19 Juni 2008. Jenderal bintang dua ini diduga kuat berada di balik pembunuhan Cak Munir. Saat ini proses persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan sedang berlangsung untuk membuktikan dugaan tersebut.

Yah, aku berharap persidangan ini berlangsung adil. Kejahatan para pelaku pelanggar HAM selayaknya dibawa ke pengadilan. Namun, kecemasan selalu hadir. Adakah keadilan akan berpihak kepadaku?

Aku berharap masih ada jaksa dan hakim handal yang mengedepankan hati nurani ada di pengadilan ini. Tentu saja aku juga berharap pelaku sesungguhnya juga segera ditangkap, siapa pun dia.

https://i1.wp.com/data5.blog.de/media/873/3446873_295665001c_s.gif

PERJALANAN meraih keadilan begitu berliku. Satu hal yang paling aku syukuri adalah begitu banyak sahabat yang mendukung perjuangan pencarian keadilan ini. Teman-teman di KASUM dan tak sedikit sahabat yang secara pribadi memberiku kekuatan untuk terus berjuang.

Tak jarang teror hadir. Ada ancaman datang dari mereka yang ingin memadamkan pencarian keadilan ini. Bahkan statusku sebagai ibu juga menjadi bagian empuk untuk diserang oleh mereka. Syukurlah, di saat-saat begini, sahabat-sahabatku setia mendampingi dan menguatkanku.

Desakan penuntasan kasus Munir dari dalam negeri cukup kuat. Pada 7 Desember 2006, Tim Munir DPR RI mengeluarkan rekomendasi agar Presiden membentuk Tim Pencari Fakta yang baru. Berbagai kelompok masyarakat sipil pun terus mempertanyakan kasus Munir. Mereka datang dari berbagai kalangan, antara lain LSM, akademisi, petani, buruh, seniman,wartawan dan berbagai profesi lainnya.

Tak hanya dari dalam negeri, dukungan juga datang dari segala penjuru dunia. Pada 9 November 2005, misalnya, 68 anggota Kongres Amerika Serikat mengirimkan surat kepada Presiden Yudhoyono agar segera mempublikasikan laporan TPF. Anggota Kongres AS tersebut mempertanyakan keseriusan pemerintah Indonesia dalam menuntaskan kasus Munir.

Pada September 2006, saat KTT ke-6 ASEM (The Asia-Europe Meeting) di Helsinki, Finlandia, kasus Munir menjadi salah satu sorotan peserta. Presiden Komisi Eropa Jose Manuel Barroso, peserta penting dalam konferensi tersebut, mempertanyakan kelanjutan pengusutan kasus Munir langsung kepada Presiden Yudhoyono.

Philip Alston, UN Special Rapporteur on Extrajudicial, Summary or Arbitrary Executions, juga telah menyatakan kesediaannya untuk ikut membantu pemerintah Indonesia dalam mengusut kasus Munir.

Pelapor khusus, yakni Hina Jilani (Human Rights Defender) dan Leandro Despouy (Kemandirian Hakim dan Pengacara), juga telah menyatakan keprihatinan akan kasus Munir di hadapan Dewan Hak Asasi Manusia Persatuan Bangsa-Bangsa.

Pada 26 Februari 2008, Deklarasi Parlemen Uni Eropa meminta pemerintah Indonesia serius dalam menuntaskan kasus Munir. Bahkan, 412 anggota parlemen yang menandatangani deklarasi ini meminta Uni Eropa memonitor kasus ini sampai tuntas.

Mengalirnya dukungan tersebut mestinya membuat pemerintah tidak usah ragu. Siapa pun di balik kekejian ini harus diungkap, tak peduli jika penjahatnya itu adalah orang kuat.

Dukungan bagi pemerintah telah mengalir, secara hukum dan politik. Tinggal perintah dari sang presiden untuk memastikan kepolisian tetap bekerja mengusut kasus ini sampai terungkapnya sang aktor utama. Presiden juga hanya perlu memerintahkan Jaksa Agung untuk bekerja profesional. Hanya itu….

Presiden Yudhoyono pernah menyatakan bahwa pengusutan kasus pembunuhan Munir adalah ujian bagi sejarah bangsa. “Test of our history,” kata Pak Presiden.

Jadi, aku,rakyat Indonesia dan komunitas internasional menunggu bukti perkataan itu. Aku menunggu pengusutan misteri ini sampai pada aktor utamanya, bukan hanya aktor pinggiran saja. Negara harus bertanggung jawab atas semua pelanggaran HAM yang telah terjadi.

BAGIKU, Munir adalah cahaya yang tidak pernah padam. Kesan ini semakin mendalam terasa setelah kepergiannya. Munir beserta semangatnya telah memecahkan ketakutan yang mencekam, menciptakan budaya demokrasi, memberi harapan penegakan HAM. Semua yang Munir lakukan menjadi inspirasi bagiku dan teman-teman penggerak demokrasi di negeri ini. Niscaya, semangat itu diteruskan oleh para pencinta keadilan dan kebenaran dengan tanpa henti.

Ya Allah, aku bukan Sayidina Ali yang Kau beri kemuliaan. Aku hanya manusia biasa dan aku memohon kepadaMu sebab aku meyakiniMu. Berilah kemudahan bagi kami untuk mengungkap pembunuhan ini. Beri kami kekuatan untuk menjadikan kebenaran sebagai kebenaran sesuai perintahMu. Menjadikan keadilan sebagai tujuanku seperti tujuan menurutMu.

Ya Allah, aku tidak menjadi manusia yang lebih dari yang lain dengan berbagai ujian yang Kau berikan, seperti Kau muliakan Nabi Muhammad dengan berbagai ujianMu. Aku hanya minta menjadi manusia biasa dan dapat mengungkap kasus ini. Amin.

Bekasi, September 2008.

(Tamat)

https://i1.wp.com/www.uselessgraphics.com/DEVIL3.gif

LAMPIRAN (BERITA YANG DIMUAT DI WWW.KOMPAS.COM )

http://www.kompas.com/read/xml/2008/09/25/11182561/santet.jadi.alternatif.bunuh.munir

SANTET JADI ALTERNATIF BUNUH MUNIR

Kamis, 25 September 2008 | 11:18 WIB

JAKARTA, KAMIS — Santet ternyata menjadi salah satu cara atau intrik yang akan digunakan untuk membunuh aktivis HAM Munir pada tahun 2004. Hal ini terungkap dalam sidang lanjutan pembunuhan Munir dengan terdakwa Muchdi Pr di PN Jakarta Selatan, Kamis (25/9/2008), dari kesaksian aktivis Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia (PBHI) Hendardi.

Alternatif intrik ini merupakan petunjuk dari dokumen yang diperoleh Tim Pencari Fakta (TPF) Munir sekitar tahun 2005. Menurut Hendardi, dokumen tersebut diterima Ketua TPF Marsudi Hanafi. Namun, mereka tidak mengetahui dari siapa dokumen tersebut berasal.

Dokumen tersebut merupakan hasil tulisan seseorang atau sejumlah orang yang tidak diketahui mengenai skenario pembunuhan yang akan dipakai untuk membunuh Munir. Skenario tersebut memuat pengetahuan dan analisis orang-orang tersebut mengenai siapa yang terlibat, tempat dan waktu pertemuan, perencanaan cara dan intrik alternatif pembunuhan dilangsungkan.

Di dalamnya juga memuat nama target lain selain Munir serta eksekutornya, tapi Hendardi mengaku lupa. “Tapi karena terakhir masa TPF tak kami jadikan data primer,” ujar Hendardi.

Selain intrik pembunuhan dengan santet, intrik pembunuhan dengan racun juga tercantum di dalamnya. Bahkan dituliskan telah dicobakan kepada hewan hingga hewan itu mati.

January 21, 2010 Posted by | Uncategorized | Comments Off on Munir Cahaya Yang Tak Pernah Padam

Mengenang Sang Guru Bangsa, Ya Halo Disini Gus Dur !

https://katakamidotcomindonesianews.files.wordpress.com/2010/01/dsc7322.jpg?w=300

Oleh : MEGA SIMARMATA, Pemimpin Redaksi

Jakarta 31/12/2009 (KATAKAMI) Innalillahi wa inna ilaihi raajiun. Di hari terakhir tahun 2009 ini adalah hari ulang tahun Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Taufiq Kiemas. Dan persis di hari ulang tahunnya itulah, TK – begitu Taufiq Kiemas sering dijuluki – ia harus menjadi Inspektur Upacara Penyerahan jenazah Mantan Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) daru pihak keluarga kepada Pemerintah yang berlangsung di rumah duka Jalan Warung Silah Ciganjur Jakarta Selatan pada Jumat (31/12/2009) pagi.

Tak banyak yang tahu, siapa yang berperan besar dalam mendamaikan Gus Dur dan Megawati Soekarnoputeri pasca jatuhnya Gus Dur 21 Juli 2001.

Yang berjasa mendamaikan adalah Taufiq Kiemas !

http://pemilu.antara.co.id/module/getphoto_news.php?f=taufiq-kiemas-110609.jpg

Kepada KATAKAMI.COM dalam sebuah kesempatan, TK menceritakan bahwa ia datang kepada Gus Dur untuk menwujudkan proses damai tadi,

“Aku katakan pada Gus Dur … Mas Dur, Tuhan saja permaaf” begitu ungkap TK.

Dan upaya TK itu membuahkan hasil.

Gus Dur dan Megawati bisa kembali berdamai dan kembali bersahabat seperti biasanya (setelah sempat saling mendiamkan, pasca lengsernya Gus Dur sebagai Presiden RI ke-4).

http://sufimatre.files.wordpress.com/2008/04/gus-dur1.jpg

Saya pribadi sebagai JURNALIS, mengenal dan bersahabat sangat baik dengan Gus Dur secara pribadi sejak 15 tahun lalu. Jauh sebelum Gus Dur menjadi Presiden RI.

Sehingga, bagi saya pribadi, sungguh sedih dan sangat kuat rasa kehilangan yang mengusik hati atas kepergian Gus Dur.

Ayah dari 4 orang puteri ini, meninggal dunia di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) karena komplikasi berbagai penyakit pada pukul 18.45 di hari Rabu (30/12/2009) dalam usia 69 tahun.

Di era kepemimpinan Gus Dur sebagai PRESIDEN-lah, pertama kali saya menjadi WARTAWAN ISTANA tahun 1999.

Dan walaupun Gus Dur menjadi Presiden, ia tetap mengingat secara baik persahabatan kami dan saya termasuk wartawati yang kerap kali mendapat perhatian.

Misalnya, jika Gus Dur melintas diantara wartawan dan ia mendengar suara saya menyapa, Gus Dur pasti berhenti sejenak dan langsung mengajak ngobrol.

Sehingga, saya pernah ditegur Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres) agar setiap Gus Dur lewat saya mesti diam.

Sebab, Gus Dur pasti hapal suara saya dan menghentikan langkahnya jika sudah mendengar suara saya menyapa.

Bukan apa-apa, jika obrolan kami terjalin disaat Gus Dur akan berangkat ke suatu tempat maka obrolan itu akan membuat kondisi jalanan menjadi lebih macet.

https://i2.wp.com/baltyra.com/wp-content/uploads/2009/10/istana.jpg

Jika iring-iringan mobil Kepresidenan akan keluar Istana Presiden, maka jalan-jalan yang akan dilintasi sudah dihentikan oleh POLISI yang ada di jalan raya untuk memberikan “jalan” bagi rombongan VVIP yang akan lewat.

Jadi kalau Gus Dur memutuskan untuk ngobrol sejenak dengan saya misalnya sebelum berangkat, POLISI kesulitan melakukan buka tutup jalanan yang akan dilewati Gus Dur.

Dan kepada sejumlah orang terdekatnya, Presiden Gus Dur menjelaskan mengapa ia selalu menyapa dan menyempatkan ngobrol dengan wartawati bernama MEGA SIMARMATA.

“Mega Simarmata itu sahabat lama saya. Dia sudah saya kenal sejak lama” begitu ungkap Gus Dur.

Gus Dur tidak akan pernah melupakan sahabat-sahabatnya.

Misalnya, pernah satu kali Presiden Gus Dur dijadwalkan untuk menghadiri sebuah acara di kawasan Kuningan (Jalan HR Rasuna Said Jakarta Selatan).

Tiba-tiba Gus Dur meminta kepada sang ajudan agar iring-iringan mobil Presiden singgah ke RS MMC Jakarta Selatan (yang memang terletak di kawasan Kuningan). Usut punya usut, Gus Dur ternyata ingat bahwa seorang WARTAWATI yang juga dekat dan bersahabat baik dengan dirinya sedang diopname di RS MMC.

Wartawati itu adalah WARTAWATI SENIOR dari sebuah surat kabar terbesar di INDONESIA. Kebetulan ada jadwal kegiatan di kawasan Kuningan, maka Gus Dur menyempatkan diri untuk membesuk sahabatnya yang sedang opname.

Itulah Gus Dur, dia sahabat yang sangat hangat dan perhatiannya sering menyentuh hati.

Ia pribadi yang sangat membumi dan memanusiakan siapa saja.

Ia begitu total dan sempurna dalam mencintai keluarga.

https://katakamidotcomindonesianews.files.wordpress.com/2010/01/pernikahananakgusdur4.jpg?w=300

Ia bangga terhadap ketabahan, kecerdasan dan kemandirian sang isteri yaitu Sinta Nuriyah.

Ia juga bangga terhadap ke-empat puterinya.

Gus Dur tidak pernah kehabisan joke (lelucon).

Mantan Ketua Umum PBNU ini juga sangat tajam dalam mengkritik.

Ia tokoh yang sangat menjunjung tinggi pluralisme.

Gus dur anti kekerasan, anti diskriminasi, anti arogansi, anti korupsi dan anti poligami.

Gus Dur yang saya kenal selama 15 tahun adalah seorang abang, guru dan sahabat adalah pribadi yang gila bola dan sangat luas pengetahuannya.

Ia punya six sense atau panca indera ke-6.

Salah satu contoh yang sangat menggelikan adalah kebiasaan Gus Dur yang harus rutin dibacakan suratkabar.

http://generasipkb.files.wordpress.com/2008/05/gd63.jpg

Oh ya, Gus Dur memang sering dan memang hobi “tidur”.

Tapi kejadian ini menjadi peringatan bagi para pembantunya bahwa tidur ala Gus Dur bukanlah tidur pulas dalam arti yang sebenarnya.

Ia bisa tahu apa saja dan seolah mendengar apapun juga suara di kelilingnya.

Pada suatu hari, Gus Dur meminta agar dibacakan berita-berita terakhir dari surat kabar.

Salah seorang pembantunya (tidak perlu disebutkan disini namanya), buru-buru membacakan sebuah judul-judul berita di sebuah surat kabar.

Biasanya, Gus Dur yang akan menentukan judul mana yang ingin ia dengarkan isi tulisannya. Setelah Gus Dur menyebutkan, judul mana yang ia ingin ia dengar beritanya maka si pembantu tadi mulai membacakan. Beberapa detik kemudian, sang pembantu melihat bahwa Gus Dur tertidur “pulas” sehingga berita yang dibacakan itu langsung diloncak ke alinea terakhir saja.

Sebab pikir sang pembantu, buat apa dibaca kalau tidak didengar (toh Gus Dur sudah tidur !).

Tapi ternyata Gus Dur tahu bahwa pembantunya “nakal”.

Tiba-tiba Gus Dur mengatakan, “Jangan dilompat bacanya, ulang lagi dari bagian yang awal !”.

Dan sang pembantu langsung terkejut ditegur begitu oleh GUS DUR !!!

Seingat saya, sebelum Gus Dur menjadi Presiden RI, telepon di rumah pribadi Gus Dur itu ada yang terpasang ke kamar tidur Gus Dur.

Dan biasanya, telepon itu diletakkan di posisi terdekat tempat tidur Gus Dur.

https://i1.wp.com/www.mediaindonesia.com/spaw/uploads/images/article/image/20091010_123927_y2.gif

Pada suatu ketika, saya sedang melakukan wawancara dengan Gus Dur dengan didampingi pembantu terdekat Gus dur.

Tiba-tiba telepon berbunyi. Gus Dur meminta wawancara dihentikan sejenak karena beliau ingin mengangkat telepon.

“Halo, ya disini Gus Dur. Ya Halo …. disini Gus Dur. Lho … ya ini, saya Gus Dur ! GOBLOK !”.

Gus Dur terlihat kesal dan menutup telepon.

Saya bertanya, “Kenapa dimatikan Gus, ada apa ?”

Gus Dur menjawab dengan kesal tapi sambil tertawa terpingkal-pingkal.

“Itu lho, yang diseberang telepon tanya, bisa bicara dengan Bapak Abdurrahman Wahid ? Saya jawab ya disini Gus Dur. Dia bilang lagi, bisa bicara
dengan Bapak Abdurrahman Wahid ? Saya jawab, ya disini Gus Dur. Masih tanya juga, Pak Abdurrahman Wahidnya ada ? Wis goblok, Abdurrahman Wahid itu kan Gus Dur. Piye toh ?” kata Gus Dur sambil tertawa terpingkal-pingkal.

Gus Dur adalah tokoh yang sangat humanis.

Kalangan wartawan istana saat Gus Dur menjabat, pasti akan tahu kejadian unik nan lucu ini.

Di malam pertama Gus Dur menjadi PRESIDEN, Paspampres disibukkan oleh permintaan SANG PRESIDEN.

Mengapa sibuk ?

Sebab Gus Dur minta dibelikan KACANG SUKRO !

Bayangkan, Gus Dur meminta kacang SUKRO di tengah malam.

Padahal pihak rumah tangga kepresidenan tidak punya stok makanan cemilan bernama KACANG SUKRO !

https://i0.wp.com/www.detiknews.com/images/content/2009/12/31/10/inayah.jpg

Putri bungsu Gus Dur yaitu INAYAH, pernah menceritakan kepada KATAKAMI.COM tentang sebuah pembelaan Gus Dur kepada putri bungsunya yang suka mengubah warna rambut.

Sang Ibu yaitu Sinta Nuriyah memarahi Inayah karena gonta-ganti cat rambut itu bisa merusak rambut Inayah. Gus Dur yang ketika itu berada didekat Ibu Sinta Nuriyah saat memarahi Inayah, dengan tenang membela putri bungsunya dengan mengatakan, “Biarin aja, kalau rambutnya rusak ya dibotakin aja !”

Gus Dur tidak tega jika putri bungsunya “dimarahi” oleh sang bunda dan pembelaan yang dilakukan Gus Dur sungguh sangat spontan.

Masih cerita dari Inayah, ia menyampaikan sebuah kejadian lucu lainnya saat Sang Ayah menjabat sebagai PRESIDEN.

Pada suatu hari, Gus Dur ingin bicara lewat telepon dengan Presiden Timor Leste Xanana Gusmao.

Tetapi saat itu, Gus Dur cuma mengatakan dengan singkat bahwa ia ingin bicara dengan GUS MAO.

Namanya juga PRESIDEN, barangkali karena kedudukan Gus Dur yang relatif sangat tinggi itulah maka bawahan takut menanyakan lebih lanjut identitas GUS MAO mana yang dimaksud Gus Dur.

https://i0.wp.com/www.etan.org/estafeta/00/spring/capt.indonesia_east_timor_fsj.jpg

Sehingga ketika itu, protokol Istana sempat pontang panting mencari Pimpinan Pondok Pesantren mana yang pimpinannya bernama GUS MAO.

Akhirnya karena sudah menunggu lama, Gus Dur menanyakan lagi mengapa belum disambungkan juga dirinya dengan GUSMAO.

Ketika itu, Gus Dur lantas mencium gelagat yang tidak “baik”.

Gus Dur sendiri yang menjelaskan permintaan misteriusnya. “Itu lho, saya mau bicara dengan XANANA. XANANA GUSMAO !”.

Masih sangat banyak cerita yang bisa disampaikan.

Dan sahabat-sahabat Gus Dur yang tersebar diseluruh Indonesia dan diseluruh dunia, pasti punya kenangan serta cerita tersendiri mengenai Gus Dur.

http://menjawabdenganhati.files.wordpress.com/2009/10/buku-islam.jpg

Gus Dur adalah Budayawan.

Gus Dur adalah Negarawan.

Gus Dur adalah Pahlawan Kemanusiaan.

Gus Dur adalah Pejuang demokrasi dan HAM.

Gus Dur adalah anak bangsa Indonesia yang mencintai sesamanya tanpa membedakan Suku, Agama, Ras dan Golongan.

Ia anti kekerasan.

Ia anti terhadap aliran Islam keras yang mengatas-namakan JIHAD untuk melakukan peledakan-peledakan bom.

https://katakamidotcomindonesianews.files.wordpress.com/2010/01/2847747p.jpg?w=300

Kepada KATAKAMI.COM, Gus Dur mengatakan bahwa ISLAM adalah agama yang penuh KASIH SAYANG.

ISLAM tidak mengajarkan dan tidak membenarkan KEKERASAN.

Walau atas nama JIHAD, Islam tidak membenarkan kekerasan dan pembunuhan terhadap sesamanya yang tidak berdosa.

Mengenang Gus Dur adalah mengenang seseorang yang begitu tinggi tingkatan moralitasnya dalam memandang kehidupan secara tulus, sederhana, jujur dan penuh kebersahajaan.

Mengenang Gus Dur adalah mengenang seorang GURU BANGSA yang merupakan fenomena terindah dalam kehidupan berdemokrasi di Indonesia.

Mengenang Gus Dur adalah mengenang seorang KEPALA NEGARA yang menginginkan POLRI menjadi mandiri dan profesional, sehingga DWIFUNGSI ABRI dipangkas kekuatan dan kekuasaannya yang sangat dominan di rezim Orde Baru.

Mengenang Gus Dur adalah mengenang seorang sahabat yang hangat menyapa, lucu dalam canda yang tak berkesudahan dan murah hati kepada sesama yang membutuhkan.

Selamat Jalan Gus Dur !

Sungguh sedih dan terasa sangat kuat rasa KEHILANGAN di hati kami.

Tidurlah dengan lelap di pangkuan ILAHI.

Beristirahatlah dengan tenang.

Dan di RUMAH ABADI-mu, pasti akan leluasa untuk ngobrol dan becanda lagi dengan para sahabat-sahabat lamamu yaitu Romo YB Mangunwijaya dan Jenderal LB Moerdani.

Sekali lagi, Selamat Jalan GUS DUR !

Sebab jarak kita hanyalah persoalan waktu.

Terimakasih Gus, untuk persahabatan yang begitu mengharu-biru dan menyentuh hati saya.

Terimakasih untuk semua teladan dan hal-hal baik yang diajarkan selama ini.

Indonesia kehilangan anda, Gus.

Tidurlah Guru Bangsa yang baik.

Tidurlah di pangkuan ILAHI.

Rest in peace.

(MS)

January 20, 2010 Posted by | Uncategorized | Comments Off on Mengenang Sang Guru Bangsa, Ya Halo Disini Gus Dur !

MUNIR, CAHAYA YANG TAK PERNAH PADAM (Tulisan Suciwati)

Munir

Oleh : SUCIWATI, Isteri Alm. Munir.

BAGIAN PERTAMA

“Kenapa Abah dibunuh, Bu?” Mulut mungil itu tiba-tiba bersuara bak godam menghantam ulu hatiku. Gadis kecilku, Diva Suukyi, saat itu masih 2 tahun, menatap penuh harap. Menuntut penjelasan. 

Suaraku mendadak menghilang. Airmataku jatuh. Sungguh, seandainya boleh memilih, aku akan pergi jauh. Tak kuasa aku menatap mata tanpa dosa yang menuntut jawaban itu. Terlalu dini, sayang. Belum saatnya kau mengetahui kekejian di balik meninggalnya ayahmu, suamiku, Munir. Seolah tahu lidah ibunya kelu, Diva memelukku. Tangan kecilnya melingkari tubuhku. ”Ibu jangan menangis…Jangan sedih,” kata-kata itu terus mengiang di telingaku. 

Pada 7 September 2004, sejarah kelam itu tertoreh. Munir, suami dan ayah dua anakku –Alif Allende (10) dan Diva Suukyi (6)—meninggal. Siang itu, pukul 2. 

Usman Hamid dari KontraS menelepon ke rumah. “Mbak Suci ada di mana?” Firasatku langsung berkata ada yang tidak beres. Pasti ada hal yang begitu besar terjadi sampai Usman begitu bingung. Jelas dia menelepon ke rumah, kok masih bertanya aku di mana. 

Benar saja. Tergagap Usman bertanya, “Mbak, apa sudah mendengar kabar bahwa Cak Munir sudah meninggal?” 

Tertegun aku mendengarnya. Seolah aku berada di awang-awang dan kemudian langsung dibanting ke tanah dengan keras. Kehidupan seolah berhenti. Seseorang yang menjadi bagian jiwaku, nyawaku, telah tiada. Kegelapan itu mencengkeram dan menghujamku dalam duka yang tak terperi. 

Nyatakah ini? Air mata membanjir. Tubuhku limbung. Perlu beberapa saat bagiku untuk mengumpulkan tenaga dan akal sehat. Aku harus segera mencari informasi tentang Munir. Ya Tuhan, apa yang terjadi pada dia? 

Begitu kesadaranku hadir, segera kutelepon berbagai lembaga seperti Imparsial dan kantor Garuda di Jakarta dan di Schipol (Belanda). Begitu pula teman-teman Munir di Belanda. Aku segera mencari kabar lebih lanjut dari kawan-kawan aktivis. Tak ada yang bisa memberikan keterangan memuaskan. 

Orang-orang mulai berdatangan untuk menyampaikan bela sungkawa. Aku masih sibuk mencari informasi kesana-kemari. Sebagian diriku masih ngeyel, berharap berita itu bohong semata. Aku hanya akan percaya jika melihat langsung jenazah almarhum. 

Pada tragedi ini, pihak Garuda amat tidak bertanggungjawab. Tiga kali aku menelepon kantor mereka di Jakarta, tapi tak satu pun keterangan didapat. Mereka bahkan bilang tidak tahu-menahu soal kabar kematian Munir. Sungguh menyakitkan, pihak maskapai penerbangan Garuda harusnya yang paling bertanggungjawab tidak sekali pun menghubungiku untuk memberi informasi. Padahal, Munir meninggal di pesawat Garuda 974. 

Kantor Garuda di Schipol pun sama saja. Pada telepon ketiga, dengan marah aku menyatakan berhak mendapat kabar yang jelas menyangkut suamiku. Barulah informasi itu datang. Yan, nama karyawan Garuda itu, menjelaskan bahwa memang Munir telah meninggal dan dia menyaksikan secara langsung. Yan bahkan berpesan jangan sampai orang mengetahui kalau dia yang memberi kabar itu kepadaku. Ah, apa pula ini? Tuhan, beri aku kekuatan-Mu. 

Aku hanya bisa menangis. Si sulung Alif, saat itu baru 6 tahun, melihatku dengan sedih dan ikut menangis. Diva terus bertanya dalam ketidak mengertiannya, “Kenapa Ibu menangis?” Aku merasa seolah jauh dari dunia nyata. Kosong. 

Jiwaku hampa. Saat itu, dengan kedangkalanku sebagai manusia, sejuta pertanyaan dan gugatan terlontar kepada Tuhan. “Kenapa bukan aku saja yang Engkau panggil, Ya Allah? Mengapa harus dia? Mengapa dengan cara seperti ini? Mengapa harus saat ini? Mengapa? Ya Allah, Kau boleh ambil nyawaku,hamba siap menggantikannya. Dia masih sangat kami butuhkan, negara ini butuh dia.” 

Rumah tiba-tiba dibanjiri manusia. Teman, kerabat, tetangga berdatangan. Bunga berjajar dari ujung jalan sampai ujung satunya. Alif bertanya, “Kenapa bunga itu tulisannya turut berduka cita untuk Abah?” Anakku, aku peluk dia, kukatakan bahwa Abah tidak akan pernah kembali lagi dari Belanda. Abah telah meninggal dan kita tidak akan pernah bertemu lagi dengannya. 

Alif menangis dan protes, “Bukannya Abah hanya sekolah? Bukannya Abah akan pulang Desember? Kenapa kita tidak akan ketemu lagi?” Amel, guru yang selama ini melakukan terapi untuk Alif yang cenderung hiperaktif, segera menggendong dan membawa Alif keluar. Maafkan, Nak. Aku tak berdaya bahkan untuk sekedar menjawab pertanyaanmu. Aku tidak mampu. 

Teman-teman dari berbagai lembaga juga datang. Antara lain dari Kontras, Imparsial, Infid, HRWG, dan banyak lagi yang tak mungkin aku mengingatnya satu persatu. Semua tumpah ruah. 

Puluhan wartawan juga datang, tapi aku tak mau diwawancarai mereka. Biarlah kesedihan ini mutlak jadi milikku. Meskipun aku yakin bahwa keluarga korban yang selama ini didampingi almarhum pasti tidak kalah sedih. Sebagian mereka datang dan histeris menangisi kehilangan Munir. 


PADA 8 September 2004, aku menjemput jenazah suamiku. Bersama Poengky dan Ucok dari Imparsial, Usman dari KontraS, dan Rasyid kakak Munir, aku berangkat ke Belanda. Ya Tuhan, beri aku kekuatan-Mu, begitu doaku sepanjang perjalanan. 

Di ruang Mortuarium Schipol, jasad Munir terbujur kaku. Kami tiada tahan untuk tidak histeris. Usman melantunkan doa-doa yang membuat kami tenang kembali. 

Sejenak aku ingin hanya berdua dengan suami tercintaku. Aku meminta teman-teman keluar dari ruangan. Aku pandangi Munir dalam derai air mata. Tak tahu lagi apa yang kurasakan saat itu. Sedih, hampa, kosong.
Lalu, kupegang tangannya. Kupandangi dia. Teringat saat-saat indah ketika kami bersama. Tiba-tiba ada rasa lain yang membuat aku menerima kenyataan ini. Aku harus merelakan kepergiannya. Doa-doa kupanjatkan. Ya Allah, berilah s
uamiku tempat terhomat disisi-Mu. Amien. 

Suciwati

Di Batu, 12 September 2004, kota kelahirannya, Munir disemayamkan. Pelayat seolah tiada habisnya datang. Handai taulan, sahabat, teman-teman buruh, petani, mahasiswa, aktivis, wartawan semua ada. Banyak yang tidak tidur menunggu esok hari, saat pemakaman Munir. Umik, ibu Munir, begitu sedih. Aku bahkan tak sanggup melihat kesedihan yang membayang di wajahnya.

Hari itu, masjid terbesar di Batu, tempat Munir disholati, tidak sanggup menampung semua yang hadir. Perlu antre bergantian untuk sholat jenazah. Kota Batu yang selama ini sepi mendadak dipadati manusia. Melimpahnya “tamu” Munir ini bagai suntikan semangat bagiku. Bahwa ternyata bukan aku dan keluarga saja yang merasakan kedukaan ini. Dukungan yang mereka berikan membuatku kuat. 

Seperti menanam sesuatu maka kamu akan memanennya,itulah yang aku buktikan hari ini. Aku melihat yang dilakukan Munir selama ini membuktikan apa yang dia perbuat. 

Munir selalu mencoba berjuang bagi tegaknya keadilan dan perdamaian. Dia berteriak lantang menyuarakan keadilan bagi korban, baik di Aceh,Papua,Ambon dan dimana saja. Keberanian dan sikap kritisnya terhadap penguasa memang harus dibayar mahal oleh nyawanya sendiri dan juga oleh keluarga yang ditinggalkannya ‘anak dan istrinya’. 

TAK MUDAH bagiku mencerna kehilangan ini. Perlu proses untuk menerima, mengikhlaskan kepergian Munir, dan menerima bahwa ini adalah kehendakNya. Jika Tuhan sudah berkehendak, maka siapa pun dan dengan cara apa pun tidak akan mampu mengelak. Keyakinan bahwa hidup-mati manusia adalah kehendak-Nya itu membuat aku bangkit lagi.

Munir adalah manusia, sama sepertiku dan yang lainnya, yang bisa mati. Kemarin, sekarang atau besok, itu hanya persoalan waktu. Sakit, diracun, atau ditembak itu hanya persoalan cara. Kematian adalah keniscayaan. Suka atau tidak suka, kita tetap harus menghadapinya. Dan kehidupan tidak berhenti. Air mata kepedihan tidak akan pernah mengembalikannya. 

Sepenggal doa Sayyidina Ali, sahabat Nabi Muhammad SAW, membuatku bertambah yakin bahwa aku harus bangkit: 

“Ketika kumohon kekuatan, Allah memberiku kesulitan agar aku menjadi kuat. Ketika kumohon kebijaksanaan, Allh memberiku masalah untuk kupecahkan. Ketika kumohon kesejahteraan, Allah memberikan aku akal untuk berpikir. Ketika kumohon keberanian, Allah memberiku kondisi bahaya untuk kuatasi. Ketika kumohon sebuah cinta, Allah memberiku orang-orang bermasalah untuk kutolong. Ketika kumohon bantuan, Allah memberiku kesempatan. Aku tidak pernah menerima apa yang kupinta, tapi aku menerima segala yang kubutuhkan.” 

Kucoba untuk merenung. Kuteguhkan hati bahwa ini bukan sekedar takdir, tapi ada misteri yang menyelubungi. Misteri yang harus diungkap. Aku harus berbuat sesuatu. Bersyukur, aku tidak sendirian dalam kedukaan ini. Banyak teman-teman yang peduli kepada kami sekeluarga. 

  • BAGIAN KEDUA
  • DUA bulan kemudian, tepatnya 11 November 2004, Rachland dari Imparsial menghubungiku. Dia mengabarkan ada wartawan dari Belanda ingin mewawancarai. Dia juga bertanya, apakah aku sudah mengetahui hasil otopsi yang dilakukan pihak Belanda terhadap almarhum Munir. Hasil otopsi itu kabarnya diserahkan kepada pemerintah Indonesia melalui Departemen Luar Negeri. 

    Aku berharap teman-teman memiliki jaringan ke Departemen Luar Negeri. Tapi, rupanya tidak. Aku pun menelepon 108 –nomor informasi—untuk meminta nomer telepon kantor Departemen Luar Negeri. 

    Teleponku ditanggapi seperti ping-pong. Dioper sana-sini. Sampai akhirnya aku berbicara via telepon dengan Pak Arizal. Dia menjelaskan bahwa semua dokumen otopsi telah diserahkan kepada Kepala Polri, dengan koordinasi Menteri Koordinator Politik dan Keamanan. 

    Entah, keberanian dari mana yang menyusup dalam diriku pada waktu itu. Aku tanpa ragu menghubungi dan berbicara dengan mereka, semua pejabat itu. Kebetulan, semua nomor telepon pejabat-pejabat penting itu terekam dalam telepon genggam suamiku. 

    Kepada para petinggi itu, aku bertanya, “Kenapa aku sebagai orang terdekat almarhum tidak diberitahu tentang otopsi? Apa yang terjadi padanya? Apa hasilnya?” Mereka tidak memberikan jawaban. Padahal, sebagai istri korban, aku memiliki hak yang tak bisa diabaikan begitu saja. 

    Pukul 10.00 malam, Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Pak Widodo AS meneleponku. Menurut dia, hasil otopsi telah diserahkan kepada Kepala Bagian Reserse dan Kriminal (Kabareskrim) Pak Suyitno Landung, Markas Besar Polri. Malam itu juga aku menelepon Kabareskrim. Aku meminta bertemu dengan dia esok paginya. 

    Bersama Al Ar’af dari Imparsial,dan Usman Hamid dari KontraS, Binny Buchori dari Infid, Smita dari Cetro dan beberapa kawan, esok paginya tanggal 12 November 2004 aku mendatangi kantor Kabareskrim.
    Pagi itu aku menghadapi kenyataan yang menyakitkan. Benarlah dugaanku bahwa ada yang aneh pada kematian Munir. Hasil otopsi itu menjelaskan dengan gamblang bahwa kematian almarhum adalah lantaran racun arsenik. Racun itu ditemukan di lambung, urine, dan darahnya. 

    Ternyata dia memang dibunuh…!

  • KELUAR dari Mabes Polri, kami sudah diserbu wartawan. Siaran pers pun digelar bersama sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) di kantor KontraS.

    Isinya, mendesak pemerintah untuk segera melakukan investigasi, menyerahkan hasil otopsi kepada keluarga, dan membentuk tim penyelidikan independen yang melibatkan kalangan masyarakat sipil. Desakan serupa dikeluarkan oleh tokoh-tokoh masyarakat di berbagai daerah. Desakan yang ditanggapi dengan janji Presiden Susilo Bambang Yudho
    yono untuk mengusut kasus pembunuhan Munir.

    Tak lama pula kami membentuk KASUM (Komite Aksi Solidaritas Untuk Munir). Banyak organisasi dan individu yang punya komitmen akan pengungkapan kasus ini bergabung. Ini memang bukan hanya persoalan kematian seorang Munir. Lebih dari itu, ini persoalan kemanusiaan yang dihinakan dan kita tidak mau ada orang yang diperlakukan sama seperti dia hanya karena perbedaan pikiran.

    Rapat paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pun sepakat untuk meminta pemerintah membentuk tim independen kasus Munir. DPR juga mendesak pemerintah segera menyerahkan hasil autopsi kepada keluarga almarhum. Pada November 2004, DPR membentuk tim pencari fakta untuk mengusut kasus pembunuhan Munir.

    PADA 24 November 2004, Presiden Yudhoyono bertemu denganku. Teman-teman dari Kontras, Imparsial, Demos menemaniku bertemu Presiden. Satu bulan kemudian tepatnya tanggal 23 Desember 2004 Presiden mengeluarkan Keputusan Presiden untuk pembentukan Tim Pencari Fakta (TPF) Munir yang dipimpin oleh Brigjen pol. Marsudi Hanafi.

    Tim ini, di luar dugaan, bekerja efektif menemukan kepingan-kepingan puzzle siapa dibalik pembunuhan Munir. Fakta-fakta temuan tim ini cukup mencengangkan. Fakta yang menunjukkan benang merah pembunuhan keji penuh konspirasi dan penyalahgunaan kekuasaan serta kewenangan di Badan Intelejen Nasional (BIN). Sayangnya TPF tidak diperpanjang lagi setelah dua kali(6 bulan)masa kerjanya.
    Adalah Pollycarpus, pilot Garuda, benang merah yang mengurai jaring laba-laba kebekuan dan kerahasiaan yang melingkupi BIN. Polly, sebuah nama yang sangat melekat dibenakku. Sangat dalam maknanya dalam perjalanan menguak kebenaran siapa dibalik kematian Munir, suamiku.

    Dia adalah orang yang menelepon suamiku dua hari sebelum berangkat ke Belanda. Polly menanyakan jadwal keberangkatan suamiku dan dia mau mengajak berangkat bersama. Kebetulan waktu itu aku yang menerima telepon itu. Jika tidak, barangkali aku tidak akan pernah tahu keberadaan Polly. Munir mengatakan Polly adalah orang aneh dan sok akrab. “Dia itu orang tidak dikenal tapi tiba-tiba menitipkan surat untuk diposkan di bandara setempat ketika aku hendak ke Swiss,” begitu kata Munir

    Terungkap dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, sang pilot tidak hanya menerbangkan pesawat. Dia adalah orang yang mempunyai hubungan dengan agen BIN seperti halnya Mayor Jenderal TNI Muchdi PR, Deputi V BIN. Polly disebut sebagai agen non organik BIN yang langsung berada di bawah kendali Muchdi. Berkas dakwaan tersebut juga menyebut adanya pembunuhan berencana terhadap Munir.
    Tercatat pula dalam berkas dakwaan untuk Muchdi PR, keduanya –Polly dan Muchdi—berhubungan intensif melalui telepon. Paling tidak 41 kali hubungan telepon antara Muchdi dan Polly yang terjadi menjelang, saat dan sesudah tanggal kematian Munir. Bisa diduga, keduanya berhubungan terkait dengan perencanaan, eksekusi, dan pembersihan jejak.

  • KAMI, aku dan teman-teman KASUM, juga melakukan investigasi. Kami berusaha memetakan jejak sang pilot. Melalui berbagai penelusuran, terungkap bahwa Pollycarpus memiliki hubungan dengan para pejabat BIN. Sosok satu ini diketahui berada di berbagai daerah titik panas seperti Papua, Timor Leste, dan Aceh. Sebuah fakta yang tidak biasa dalam dunia profesi pilot.
  • Polly sendiri, dalam persidangan, mengaku bahwa dia pernah tinggal cukup lama di Papua. Katanya, dia bertugas sebagai pilot misionaris sebelum bekerja di Garuda. Mungkin kebetulan, mungkin juga tidak, keberadaan Polly di Papua ternyata bersamaan dengan Muchdi PR yang waktu itu menjadi Komandan KODIM 1701 Jayapura pada tahun 1988-1993. Lalu, Muchdi menjadi Kasrem Biak 173/ 1993-1995. Melihat rekam jejak ini, patut diduga, pada periode itulah perkenalan pertama sang pilot dengan sang jenderal. 

    Indra Setiawan, saat itu menjabat Direktur Utama Garuda, mengakui mengingat nama Pollycarpus karena khas dan unik. Pada 22 November 2004, ketika kami meminta keterangan kepada Indra,

    Aku: Apakah ada yang namanya Polly di Garuda?
     

    Indra (menjawab dengan cepat) : Oh ya. Ada. Namanya Pollycarpus.
     

    Aku : Bapak kok hafal padahal karyawan bapak lebih dari 7000 ?
     

    Indra : Ya, soalnya namanya khas dan unik. Kalau namanya Slamet, saya pasti lupa.
    Belakangan, dalam persidangan, baik sebagai saksi atau pun ketika ditetapkan sebagai terdakwa pada tahun 2007, terungkap bahwa Indra mengingat Polly karena alasan khusus. Alasan yang berkaitan dengan BIN. Polly merangkap pilot dan bagian pengamanan penerbangan (aviation security) atas permintaan BIN. Sebuah alasan yang masuk akal. Jika BIN yang meminta, kendati tidak benar secara prosedur, maka pihak Garuda tidak bisa menolak.

    BIN mengeluarkan permintaan tersebut dalam surat yang ditandatangani Wakil Kepala BIN As’ad Said Ali. Pada saat itu Kepala BIN dijabat oleh Hendropriyono –sosok yang selama ini sangat dekat dengan berbagai kasus yang diadvokasi almarhum.

    Surat yang diteken As’ad patut diduga menjadi petunjuk bahwa rencana pembunuhan Munir melibatkan para petinggi BIN, bukan hanya Muchdi , tapi juga Hendropriyono. Apalagi, sesuai pengakuan agen BIN Ucok alias Empi alias Raden Patma dalam persidangan Peninjauan Kembali, Deputi II Manunggal Maladi dan Deputi IV Johannes Wahyu Saronto BIN juga diduga terlibat.

  • Irjen YWS yang ditulis Suciwati dalam tulisannya sebagai orang yang patut dapat diduga ikut terlibat dalam rencana MEMBUNUH MunirIrjen YWS yang ditulis 
     
    Suciwati dalam tulisannya sebagai orang yang patut dapat diduga ikut terlibat dalam rencana MEMBUNUH Munir

    BAGIAN KETIGA
    SERANGKAIAN persidangan kasus pembunuhan Munir begitu melelahkan. Tak hanya secara fisik tetapi juga secara mental. Betapa tidak, pada tingkat Mahkamah Agung, Pollycarpus hanya dihukum dua tahun. Polly hanya dinyatakan bersalah melakukan pemalsuan surat, bukan pembunuhan. Semua ini tentu merupakan pukulan sendiri buatku.

    Jantungku sakit sekali ketika aku mendengar putusan untuk Polly. Aku merasa kehilangan untuk yang kedua kalinya, kehilangan Munir dan kehilangan keadilan itu sendiri.

    Bagaimana mungkin fakta-fakta yang begitu mencolok diabaikan begitu saja oleh hakim-hakim itu? Bagaimana mungkin keadilan hukum bisa kuraih jika dipenuhi oleh manusia tanpa hati nurani?

    Dua dari tiga hakim yang membebaskan Pollycarpus dari dakwaan pembunuhan itu memiliki latar belakang sebagai tentara. Keduanya adalah purnawirawan TNI dengan pangkat terakhir mayor jenderal. Tak heran, beberapa pihak menduga, ada semangat korps dalam menangani kasus ini yang menguntungkan Pollycarpus.

    Kesedihan sama sekali tidak membuatku surut. Aku yakin pasti masih banyak aparat penegak hukum mempunyai hati nurani. Masih banyak yang peduli pada keadilan dan kebenaran. Ini terbukti dalam putusan pengadilan kasasi pada tanggal 25 Januari 2008 Polycarpus dijatuhi hukuman penjara selama 20 tahun atas dakwaan pembunuhan berencana dan pemalsuan surat tugas.

    Selesai? 

    Belum. 

    Misteri pembunuhan Munir masih jauh dari terungkap. Terungkap dari persidangan, juga keputusan pemidanaan Polly, ada mesin intelejen yang bekerja dengan jahat menghabisi nyawa Munir. Ini jauh lebih penting ketimbang sekadar menghukum Polly. Dia hanya pelaku lapangan, bukan orang yang secara sistematis menggunakan kekuasaan dan kewenangan dalam melakukan pembunuhan ini.
    Tragisnya, sampai hari ini proses meraih kebenaran dan keadilan siapa di balik pembunuhan Munir masih terseok-seok. Tabir misteri belum tersingkap.

    Benar, ada perkembangan baru dengan ditangkapnya Muchdi Purwopranjono 19 Juni 2008. Jenderal bintang dua ini diduga kuat berada di balik pembunuhan Cak Munir. Saat ini proses persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan sedang berlangsung untuk membuktikan dugaan tersebut.

    Yah, aku berharap persidangan ini berlangsung adil. Kejahatan para pelaku pelanggar HAM selayaknya dibawa ke pengadilan. Namun, kecemasan selalu hadir. Adakah keadilan akan berpihak kepadaku?
    Aku berharap masih ada jaksa dan hakim handal yang mengedepankan hati nurani ada di pengadilan ini. 

    Tentu saja aku juga berharap pelaku sesungguhnya juga segera ditangkap, siapa pun dia. 

    PERJALANAN meraih keadilan begitu berliku. Satu hal yang paling aku syukuri adalah begitu banyak sahabat yang mendukung perjuangan pencarian keadilan ini. Teman-teman di KASUM dan tak sedikit sahabat yang secara pribadi memberiku kekuatan untuk terus berjuang.

    Tak jarang teror hadir. Ada ancaman datang dari mereka yang ingin memadamkan pencarian keadilan ini. Bahkan statusku sebagai ibu juga menjadi bagian empuk untuk diserang oleh mereka. Syukurlah, di saat-saat begini, sahabat-sahabatku setia mendampingi dan menguatkanku.

    Desakan penuntasan kasus Munir dari dalam negeri cukup kuat. Pada 7 Desember 2006, Tim Munir DPR RI mengeluarkan rekomendasi agar Presiden membentuk Tim Pencari Fakta yang baru. Berbagai kelompok masyarakat sipil pun terus mempertanyakan kasus Munir. Mereka datang dari berbagai kalangan, antara lain LSM, akademisi, petani, buruh, seniman,wartawan dan berbagai profesi lainnya.

    Tak hanya dari dalam negeri, dukungan juga datang dari segala penjuru dunia. Pada 9 November 2005, misalnya, 68 anggota Kongres Amerika Serikat mengirimkan surat kepada Presiden Yudhoyono agar segera mempublikasikan laporan TPF. Anggota Kongres AS tersebut mempertanyakan keseriusan pemerintah Indonesia dalam menuntaskan kasus Munir.

    Pada September 2006, saat KTT ke-6 ASEM (The Asia-Europe Meeting) di Helsinki, Finlandia, kasus Munir menjadi salah satu sorotan peserta. Presiden Komisi Eropa Jose Manuel Barroso, peserta penting dalam konferensi tersebut, mempertanyakan kelanjutan pengusutan kasus Munir langsung kepada Presiden Yudhoyono. 

    Philip Alston, UN Special Rapporteur on Extrajudicial, Summary or Arbitrary Executions, juga telah menyatakan kesediaannya untuk ikut membantu pemerintah Indonesia dalam mengusut kasus Munir.
    Pelapor khusus, yakni Hina Jilani (Human Rights Defender) dan Leandro Despouy (Kemandirian Hakim dan Pengacara), juga telah menyatakan keprihatinan akan kasus Munir di hadapan Dewan Hak Asasi Manusia Persatuan Bangsa-Bangsa.

    Pada 26 Februari 2008, Deklarasi Parlemen Uni Eropa meminta pemerintah Indonesia serius dalam menuntaskan kasus Munir. Bahkan, 412 anggota parlemen yang menandatangani deklarasi ini meminta Uni Eropa memonitor kasus ini sampai tuntas.

    Mengalirnya dukungan tersebut mestinya membuat pemerintah tidak usah ragu. Siapa pun di balik kekejian ini harus diungkap, tak peduli jika penjahatnya itu adalah orang kuat.

    Dukungan bagi pemerintah telah mengalir, secara hukum dan politik. Tinggal perintah dari sang presiden untuk memastikan kepolisian tetap bekerja mengusut kasus ini sampai terungkapnya sang aktor utama. Presiden juga hanya perlu memerintahkan Jaksa Agung untuk bekerja profesional. Hanya itu….
    Presiden Yudhoyono pernah menyatakan bahwa pengusutan kasus pembunuhan Munir adalah ujian bagi sejarah bangsa. “Test of our history,” kata Pak Presiden.

    Jadi, aku,rakyat Indonesia dan komunitas internasional menunggu bukti perkataan itu. Aku menunggu pengusutan misteri ini sampai pada aktor utamanya, bukan hanya aktor pinggiran saja. Negara harus bertanggung jawab atas semua pelanggaran HAM yang telah terjadi.

    BAGIKU, Munir adalah cahaya yang tidak pernah padam. Kesan ini semakin mendalam terasa setelah kepergiannya. Munir beserta semangatnya telah memecahkan ketakutan yang mencekam, menciptakan budaya demokrasi, memberi harapan penegakan HAM. Semua yang Munir lakukan menjadi inspirasi bagiku dan teman-teman penggerak demokrasi di negeri ini. Niscaya, semangat itu diteruskan oleh para pencinta keadilan dan kebenaran dengan tanpa henti.

    Ya Allah, aku bukan Sayidina Ali yang Kau beri kemuliaan. Aku hanya manusia biasa dan aku memohon kepadaMu sebab aku meyakiniMu. Berilah kemudahan bagi kami untuk mengungkap pembunuhan ini. Beri kami kekuatan untuk menjadikan kebenaran sebagai kebenaran sesuai perintahMu. Menjadikan keadila
    n sebagai tujuanku seperti tujuan menurutMu.

    Ya Allah, aku tidak menjadi manusia yang lebih dari yang lain dengan berbagai ujian yang Kau berikan, seperti Kau muliakan Nabi Muhammad dengan berbagai ujianMu. Aku hanya minta menjadi manusia biasa dan dapat mengungkap kasus ini. Amin.

    Bekasi, September 2008.

    (Tamat)


    LAMPIRAN (BERITA YANG DIMUAT DI WWW.KOMPAS.COM )
    http://www.kompas.com/read/xml/2008/09/25/11182561/santet.jadi.alternatif.bunuh.munir

     
    SANTET JADI ALTERNATIF BUNUH MUNIR
    Kamis, 25 September 2008 | 11:18 WIB
    JAKARTA, KAMIS — Santet ternyata menjadi salah satu cara atau intrik yang akan digunakan untuk membunuh aktivis HAM Munir pada tahun 2004. Hal ini terungkap dalam sidang lanjutan pembunuhan Munir dengan terdakwa Muchdi Pr di PN Jakarta Selatan, Kamis (25/9/2008), dari kesaksian aktivis Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia (PBHI) Hendardi.

    Alternatif intrik ini merupakan petunjuk dari dokumen yang diperoleh Tim Pencari Fakta (TPF) Munir 
    sekitar tahun 2005. Menurut Hendardi, dokumen tersebut diterima Ketua TPF Marsudi Hanafi. Namun, mereka tidak mengetahui dari siapa dokumen tersebut berasal.

    Dokumen tersebut merupakan hasil tulisan seseorang atau sejumlah orang yang tidak diketahui mengenai skenario pembunuhan yang akan dipakai untuk membunuh Munir. Skenario tersebut memuat pengetahuan dan analisis orang-orang tersebut mengenai siapa yang terlibat, tempat dan waktu pertemuan, perencanaan cara dan intrik alternatif pembunuhan dilangsungkan.

    Di dalamnya juga memuat nama target lain selain Munir serta eksekutornya, tapi Hendardi mengaku lupa. 

    “Tapi karena terakhir masa TPF tak kami jadikan data primer,” ujar Hendardi.

    Selain intrik pembunuhan dengan santet, intrik pembunuhan dengan racun juga tercantum di dalamnya. 

    Bahkan dituliskan telah dicobakan kepada hewan hingga hewan itu mati.

    

    January 19, 2010 Posted by | Uncategorized | Comments Off on MUNIR, CAHAYA YANG TAK PERNAH PADAM (Tulisan Suciwati)

    Jangan Ada Lagi Kekerasan, Selamat Hari Ibu !

    https://i0.wp.com/www.sl-designs.com/images/free-backgrounds/mothers-day1.gif

    Oleh : Mega Simarmata, Pemimpin Redaksi

    DIMUAT JUGA DI WWW.KATAKAMI.COM

    Jakarta 21/12/2009 (KATAKAMI) Indonesia akan memperingati HARI IBU pada tanggal 22 Desember 2009 besok. Peringatan rutin ini memang akan sangat spesial bagi kaum perempuan yang sudah berstatus IBU atau berprofesi sebagai seseorang yang pantas dipanggil IBU.

    Bisa IBU GURU, IBU ATASAN, IBU MENTERI atau IBU-IBU lainnya.

    Menarik untuk mencermati betapa mulia dan strategisnya posisi seorang IBU. Baik dalam lingkungan KELUARGA atau MASYARAKAT disekitarnya.

    https://i2.wp.com/4.bp.blogspot.com/_69afOHQ42c4/R0f9NGaOzLI/AAAAAAAAAUw/r5EC5dE4e8A/s200/women-violence_26.jpg

    Kerap kali, perempuan — terutama sosok IBU — diposisikan sangat terpojok, tersudutkan dan ternistakan secara sistematis.

    Kita masih sering mendengar kejahatan yang banyak menghiasi keluarga-keluarga INDONESIA yaitu Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

    Main pukul, main tampar, main tendang dan seribu satu macam tindak kekerasan lainnya seakan-akan menjadi santapan harian bagi para isteri atau kalangan IBU.

    Tidak cuma itu saja.

    Jika KEKERASAN itu melebar kepada anak-anak mereka, itupun menjadi mata rantai dari KDRT.

    Untunglah, kaum IBU sudah cukup banyak yang menyadari bahwa KDRT bukanlah sesuatu yang tabu untuk dilaporkan kepada pihak aparat keamanan.

    Dari pemberitaan media massa, kita banyak mendengar bahwa KDRT menjadi bahan pelaporan para isteri ke aparat KEPOLISIAN.

    https://i2.wp.com/muhanifa.com/wp-content/uploads/2009/06/foto-penganiayaan-cici-paramida.jpg

    Photo : Artis Cici Paramida, korban KDRT

    Termasuk kalangan artis, ada diantara mereka yang juga mengalami KDRT. Misalnya pedangdut cantik Cici Paramida.

    Itulah sebabnya, NEGARA harus lebih membentengi keluarga-keluarga Indonesia dari kejahatan yang bernama KDRT tadi. Jerat hukum yang bagaimana dan seperti apa saja yang dianggap ampuh untuk mengurangi angka kekerasan dalam keluarga-keluarga Indonesia ?

    Sebenarnya, yang bisa menjadi landasan kuat mengurangi kejahatan KDRT tadi adalah agama dan keyakinan yang dianut oleh kita sebagai sesama anak bangsa Indonesia yang menjadi bagian tak terpisahkan dari komunitas dunia.

    Pantaskah menyakiti pasangan hidup secara jasmani dan rohani ?

    Pantaskah menyakiti anak-anak dibawah umur, baik itu anak biologis atau anak-anak kecil dibawah umur secara keseluruhan.

    Sosok ibu, memang tak semuanya sempurna.

    Tetapi berdasarkan totalitas kehidupan kita di muka bumi ini, sosok Ibulah yang dengan tulus dan penuh cinta melindungi anak-anak mereka.

    Lihatlah bagaimana tingginya tingkat kepercayaan para orangtua dalam mempercayakan anak-anak mereka untuk dididik oleh kalangan pengajar – terutama oleh para IBU GURU –.

    https://i0.wp.com/www.dolcesinfonia.com/FLASH%20MENU/Animation34crown.gif

    Photo (Ilustrasi) : Mahkota

    Perempuan yang bernama IBU adalah mahkota kehidupan.

    Perempuan yang bernama IBU adalah permata kehidupan.

    Perempuan yang bernama IBU adalah bunga-bunga indah yang mekarnya sepanjang masa.

    Bahkan di tingkat dunia internasional, kalangan elite dunia juga sangat kental kecintaannya pada SOSOK IBU.

    https://i2.wp.com/www.ladydiana365.com/uploaded_images/messages-from-lady-diana-774995.jpg

    Contoh kecil yang sangat melekat kuat dalam ingatan adalah saat Princess of Wales atau Puteri Diana meninggal dunia akibat kecelakaan mobil di Paris, Perancis tanggal 31 Agustus 1997.

    Lepas dari gunjang ganjing rumah tangganya dengan Pangeran Charles, Puteri Diana sangat dicintai oleh kedua anak lelakinya (Pangeran William dan Pangeran Harry).

    Sepucuk surat disertai karangan bunga dari Pangeran Harry diletakkan diatas peti mati Puteri Diana sesaat sebelum upacara pemakaman.

    https://i0.wp.com/www.unicornlady.net/diana/images/mummy.jpg

    Surat itu bertuliskan, “MUMMY”.

    Inti dari peringatan HARI IBU yang perlu ditekankan adalah ketulusan dalam menghormati dan menghargai segala perjuangan serta pengorbanan dari kaum IBU – dimasa lalu, masa kini dan masa depan – dari kehidupan dari kita semua.

    Janganlah ada lagi yang dengan mudah melakukan KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA.

    Jangan nikahi anak perempuan orang, jika hanya untuk dipukuli secara sadis dan brutal.

    Jangan nikahi anak perempuan orang, jika hanya untuk disakiti dan direndahkan.

    Jangan nikahi anak perempuan orang, jika hanya untuk disiksa dan disamakan dengan binatang yang hendak dibantai.

    http://serikatperempuan.files.wordpress.com/2009/08/20090618kdrt.jpg

    Setiap laki-laki yang melakukan KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA – termasuk juga yang dengan mudah melakukan kekerasan terhadap kaum perempuan dan anak-anak kecil – adalah laki-laki pengecut yang menderita kelainan jiwa dan pantas dicurigai sebagai manusia psikopat.

    Betapa memalukan kecenderungan melakukan KEKERASAN terhadap perempuan dan anak-anak.

    Itu adalah kejahatan kemanusiaan yang sulit diterima oleh akal sehat manusia manapun di muka bumi ini.

    Termasuk misalnya, ada yang tertarik atau terobsesi terhadap ISTERI orang lain dan mati-matian ingin mendapatkan atau memiliki pasangan hidup orang lain.

    Kasihan sekali jika pada kehidupan yang nyata, ada realita yang seburuk dan sekotor ini karena bisa jadi lelaki yang terobsesi tadi melakukan atau menghalalkan segala cara untuk melampiaskan hawa nafsu atau permainan emosinya yang sesat.

    Dan lagi-lagi, PEREMPUAN yang menjadi korban dari kejahatan kemanusiaan yang semacam ini.

    Pendekar – Pendekar Besi Nusantara

    Foto VOA Indonesia – Kunjungan Maya Soetoro-Ng ke Kantor VOA

    MAWAR SURGA ITU BERNAMA STANLEY ANN DUNHAM

    Dalam rangka HARI IBU yang diperingati di Indonesia tanggal 22 Desember 2009, yang juga menyentuh hati adalah salah satu kegiatan yang dilakukan oleh adik tiri dari Presiden AS Barack Obama yaitu MAYA SOETORO Ng.

    Maya dilahirkan di Indonesia, dari seorang ayah (Lolo Soetoro) yang berkewarganegaraan Indonesia dan dari seorang ibu (Stanley Ann Dunham) yang berkewarganegaraan AS tetapi sangat MENCINTAI INDONESIA.

    Beberapa hari lalu, Maya datang berkunjung ke redaksi Voice Of America (VOA) Seksi Indonesia di WASHINGTON DC tanggal 14 Desember 2009 lalu.

    Maya datang memang bukan dalam rangka peringatan HARI IBU di Indonesia. Tetapi ia datang untuk mempromosikan buku yang menjadi karya SANG IBU semasa hidupnya dulu.

    Maya memperkenalkan buku yang diterbitkannya sebagai dedikasi atas aktivitas dan perjuangan SANG IBU semasa di INDONESIA.

    https://i2.wp.com/imgs.sfgate.com/c/pictures/2008/03/15/mn_obama_family.jpg

    Ada sebuah penghormatan kepada sosok IBU yang tak bisa ditutupi atau dihilangkan.

    Ada kebanggaan dan kenangan yang sempurna keindahannya bila mengenai sosok IBU.

    Disini yang hendak disampaikan, siapapun itu yang menjadi figur IBU, ia akan dengan sangat abadi melekat kuat dalam ingatan dan kenangan anak-anaknya.

    Masih banyak dan pasti akan sangat beragam, cara dari setiap anak untuk menghormati dan menyampaikan ekspresi diri mereka untuk menyampaikan betapa mereka sangat mencintai SANG IBU.

    Bisa berbentuk kartu ucapan, karangan bunga atau hadiah istimewa.

    https://i1.wp.com/www.freefever.com/animatedgifs/animated/mothersday.gif

    Dan saya pribadi, juga mendapatkan sebuah kejutan yang manis di HARI IBU.

    Ketiga puteri saya (Tika 9 tahun, Mika 7 tahun dan Nika 4 tahun) memberikan hadiah sederhana yang sangat menyentuh hati.

    Walau masih kurang satu hari, hadiah itu sudah mereka sampaikan kepada diri saya.

    Mika, anak kedua saya, yang saat ini duduk di kelas 2 Sekolah Dasar membelikan sebuah gelang manik-manik berwarna hijau.

    Untuk anak SD seumuran Mika, gelang seharga Rp. 115.ooo itu pasti sangat mahal karena ia membeli dari hasil tabungannya sendiri.

    Mika menuliskan ucapan yang sangat jujur dalam kartu ucapannya, “Mama … gelang dari aku, dipakai terus ya. Aku sayang banget sama Mama. I love you Mom. Selamat Hari Ibu MAMA, 22 Desember 2009. Salam manis dari MIKA”.

    Sedangkan puteri sulung dan puteri bungsu saya patungan untuk membeli sebuah dompet yang juga sangat mahal untuk ukuran anak dibawah umur seperti mereka.

    Nika Siagian

    Photo : Nika

    Apalagi, anak bungsu saya Nika (4 tahun) sebenarnya pada saat ini sedang diopname di rumah sakit sejak 2 hari lalu.

    Tetapi ia sudah mengerti bahwa berdasarkan “rumpian” kedua kakaknya seminggu terakhir, akan ada peringatan IBU dan semua bersemangat memberikan hadiah untuk MAMA.

    Nika — yang biasa kami panggil dengan DORA, diam-diam sudah memberikan uang tabungannya selama ini (jika ia diberi uang oleh papa atau neneknya).

    Dalam kartu ucapan mereka, tertulis ucapan yang sangat menyentuh hati yaitu, “Selamat Hari Ibu, MAMA. Kami sayang sama Mama”.

    Ibu manapun didunia ini, pasti akan sangat tersentuh hatinya jika menerima sebuah perhatian dari anak-anak dengan cara yang begitu sederhana tetapi sangat amat tulus.

    https://i2.wp.com/s4.photobucket.com/albums/y143/cute-spot/site-graphics/mothers_day/happy-mothers-day-sunflower.gif

    SELAMAT HARI IBU untuk semua kaum IBU di INDONESIA.

    Mari kita terus mengabdikan diri kepada keluarga, bangsa dan negara dalam kapasitas kita sebagai IBU.

    Dimanapun kita berada, jangan pernah berhenti untuk berbuat baik.

    Jangan pernah menyerah untuk menyuarakan kebenaran dan keadilan, dengan diawali dari keluarga kita masing-masing.

    Dan meminjam ucapan dari ketiga puteri saya, saya juga ingin menyampaikan ucapan yang sama kepada ibu saya sendiri — RUSLI AMINAH PASARIBU — yang sudah sangat sepuh.

    SELAMAT HARI IBU, MAMA. (Betapa saya sangat menyayangimu sebagai ibu yang sempurna dalam memberikan cinta).

    Indah rasanya, menyambut hari ibu sambil menikmati lantunan lagu. “MOTHER, HOW ARE YOU TODAY ?” yang liriknya sebagai berikut : (YOUTUBE : MAYWOOD) :

    https://i1.wp.com/www.hellasmultimedia.com/webimages/mother-htm/mother/animated/mom.gif

    Mother, how are you today?Here is a note from your daughter.With me everything is ok.Mother, how are you today?Mother, don worry, Im fine.Promise to see you this summer.This time there will be no delay.Mother, how are you today?Verse :

    I found the man of my dreams.

    Next time you will get to know him.

    Many things happened while I was away.

    Mother, how are you today?

    https://i1.wp.com/www.hellasmultimedia.com/webimages/mother-htm/mother/animated/mom.gif

    Atau, bisa juga kita nikmati lagu MOTHER dari John Lennon yang liriknya sebagai berikut (YOUTUBE : JOHN LENNON) :

    Mother, you had me, but I never had you
    I wanted you, you didnt want me
    So i, I just got to tell you
    Goodbye, goodbye
    Father, you left me, but I never left you
    I needed you, you didnt need me
    So i, I just got to tell you
    Goodbye, goodbyeCh
    ildren, dont do what I have done
    I couldnt walk and I tried to run
    So i, I just got to tell you
    Goodbye, goodbyeMama dont go
    Daddy come home
    (repeat 9 more times)

    https://i1.wp.com/www.hellasmultimedia.com/webimages/mother-htm/mother/animated/mom.gif

    Sekali lagi, SELAMAT HARI IBU wahai perempuan-perempuan INDONESIA yang hebat dan sungguh penuh cinta mengasihi, berkarya dan mengabdikan totalitas dirinya masing-masing — terutama kemampuan, talenta dan prestasi dirinya — kepada keluarga serta sesama manusia !

    (MS)

    January 17, 2010 Posted by | Uncategorized | Comments Off on Jangan Ada Lagi Kekerasan, Selamat Hari Ibu !