Katakamidotcom News Indonesia

Bertanya Dibalik Tabir Teror 9/11, Como Esta Obama ?

https://i2.wp.com/d.yimg.com/a/p/ap/20100107/capt.8cf7004f60be455a85a9e7f90e8e1f4c.obama_airline_security_whgh112.jpg

DIMUAT JUGA DI KATAKAMIDOTCOM.WORDPRESS.COM

Al Qaeda, Teror Natal, Obama Ada Apa Dengan Dirimu ?

Ode Untuk Presiden Obama Yang Menghapuskan Motto Kalimat PERANG MELAWAN TEROR

Jakarta (18/2/2010) Como esta dalam bahasa Spanyol berarti “Apa Kabar ?”. Dari buku yang dituliskannya sendiri yang berjudul Dreams From My Father, dapat diketahui bahwa Presiden AS Barack Hussein Obama sangat fasih berbahasa Spanyol.

Barangkali itu jugalah sebabnya saat bertemu dengan Presiden Venezuela Hugo Chavez pada Konferensi Tingkat Tinggi Negara-Negara Amerika tahun 2009 lalu, “Barry” Obama menyapa terlebih dahulu dalam bahasa Spanyol dengan mengatakan “Como esta ?”.

Jadi, sangat wajar jika kita menyapa Presiden AS yang ke-44 ini dalam bahasa Spanyol pada peringatan 1 tahun pemerintahannya di bulan Januari 2010 ini.

Persis pada peringatan 1 tahun pemerintahannya inilah, “Barry” Obama mengingkari salah satu janji terpentingnya di awal menjabat yaitu menutup penjara Guantanamo (Gitmo, red) di Kuba.

http://katakamiindonesia.files.wordpress.com/2009/06/090121_ap_guantanamo_obama.jpg?w=600

Diduga Noordin M. Top Atau Gories Mere Yang Kebelet Ingin Ngetop ?

Periksa Gories Mere Skandal Madrid Korupsi Alat Sadap Israel

Padahal janji menutup penjara Gitmo adalah KEPRES atau Keputusan Presiden pertama yang dikeluarkan Obama di hari pertama ia mulai bekerja sebagai orang nomor satu di Amerika. Dan jika bicara soal penjara Gitmo maka harus bicara juga tentang Hambali — warga negara Indonesia yang dikerangkeng di Penjara Gitmo –.

Ya, karena Hambali sudah hampir 7 tahun menjadi penghuni penjara Gitmo.

Menurut kabar yang beredar di media massa periode 2009 lalu, Hambali akan dipindahkan ke penjara di Spanyol jika penjara Gitmo ditutup.

Jadi kalau ditanyakan sapaan yang sama kepada Hambali yaitu “Como Esta “, hal itu bukan untuk menyamakan level Obama dan Hambali.

Samasekali bukan !

Tapi ada benang merah antara penanganan terorisme yang sedang terus dilakukan Amerika dengan sosok Hambali.

Hambali dituding terlibat dalam serangan 11 September 2001 ( 9/11 ).

Dalam struktur organisasi Al Qaeda, posisi Hambali tidak main-main.

Ia direken atau diperhitungkan secara formal sebagai salah satu petingi dalam organisasi radikal ini.

Namun tudingan bahwa Hambali adalah petinggi Al Qaeda, dibantah oleh salah seorang aktivis Islam yang menjadi orang dekat Ustadz terkemuka Abu Bakar Baasyir yaitu Fauzan Al Anshari.

Menurutnya, Hambali bukan petinggi Al Qaeda tetapi cuma sekedar anggota biasa organisasi Al Jamaah Al Islamyah.

Fauzan mensinyalir, MABES POLRI — dalam hal ini Densus 88 Anti Teror Polri yang sengaja mengkatrol atau menaikkan “pangkat” Hambali dari JI ke Al Qaeda agar seolah-olah Hambali itu “teroris yang hebat”.

http://redaksikatakami.files.wordpress.com/2009/04/1-a-wtc-attack.jpg?w=600

Setelah tidak jadi menutup penjara Gitmo pada bulan Januari 2010 ini, Pemerintah AS berencana untuk mengadili Hambali di Pengadilan Amerika sendiri.

Sejak Hambali ditangkap di Thailand bulan Agustus 2003 – dan anehnya justru diekstradisi ke Amerika, bukan ke Indonesia sebagai negara asalnya – Pemerintah Indonesia cq. Kepolisian Republik Indonesia tidak bisa mendapatkan akses pemeriksaan terhadap Hambali.

Padahal Hambali dikabarkan terlibat dalam banyak sekali kasus-kasus pidana terorisme di Indonesia.

Dalam hukum dikenal sebuah asas yang lazim diberlakukan sebelum ada pembuktikan tentang bersalah atau tidaknya seseorang yaitu asas praduga tak bersalah atau PRESUMPTION OF INNOCENT.

Sehingga atas nama asas praduga tak bersalah ini, Hambali belum dibilang terbukti telah terlibat dalam kasus-kasus pidana terorisme.

Untuk bisa membuktikan itu pada proses persidangan di Pengadilan maka harus didahului dengan proses penyidikan dari pihak KEPOLISIAN.

Tetapi untuk melakukan proses penyidikan itu, POLRI terbentur pada masalah akses pemeriksaan terhadap diri Hambali.

Seyogyanya, jika ada seorang warga negara Indonesia yang terlibat dalam pelanggaran hukum di negara lain maka Pemerintah Indonesia – dalam hal ini salah satunya di jajaran diplomatik internasional adalah Departemen Luar Negeri – bisa diberi ruang dan waktu untuk berkomunikasi dengan Pihak Hambali.

Tetapi selama ini, POLRI dan Departemen Luar Negeri Indonesia seolah gagal menembus tembok kokoh pemerintah AS. Terutama karena Hambali seakan dipendam dalam keterasingan penahanan pada penjara Gitmo yang sepenuhnya berada dalam otoritas Dinas Rahasia CIA.

https://i1.wp.com/www.poskota.co.id/wp-content/uploads/2009/11/ito-s2.jpg

Photo : Kabareskrim Komjen. Pol. Ito Sumardi

Namun hal ini dibantah oleh Kepala Badan Reserse & Kriminal (Kabareskrim) Polri Komjen Ito Sumardi.

Kepada KATAKAMI.COM secara EKSKLUSIF di Jakarta (Senin, 18/1/2010), Komjen Ito Sumardi mengatakan bahwa MABES POLRI sudah mendapatkan akses itu.

“Akses pemeriksaan terhadap Hambali sudah kita dapatkan. Dalam hal ini Densus 88 Anti Teror yang berkoordinasi dengan Pihak AS. Jadi tidak benar kalau disebutkan bahwa Pemerintah AS menghambat atau melarang Indonesia mendapatkan akses pemeriksaan itu,” kata Komjen Ito Sumardi.

Ketika ditanya KATAKAMI.COM, bukankah sebaiknya Hambali diadili di Indonesia mengingat yang bersangkutan adalah Warga Negara Indonesia ?

Komjen Ito Sumardi menjawab, “Lho, siapa bilang Hambali warga negara Indonesia saja ? Dia punya banyak kewarga-negaraan. Sah saja jika Pemerintah AS yang akan mengadili Hambali. Tidak jadi masalah buat kita jika Hambali akan diadili di AS”.

Sementara itu dalam kesempatan terpisah, KATAKAMI.COM juga menghubungi Kepala Densus 88 Anti Teror POLRI Brigjen. Tito Karnavian tentang akses pemeriksaan terhadap Hambali.

https://i2.wp.com/matanews.com/wp-content/uploads/TitoKarnavian.jpg

Photo : Brigjen. Po. Tito Karnavian

“Kami menghargai akses yang diberikan pihak Amerika dalam hal pemeriksaan Hambali. Kerjasamanya tentu Police to Police. Sudah, sudah … POLRI sudah mendapat akses pemeriksaan terhadap Hambali. Tetapi mohon maaf, detail soal pemeriksaan dan hasilnya itu tidak harus disampaikan di media massa” kata Brigjen Tito Karnavian EKSKLUSIF kepada KATAKAMI.COM, Senin (18/1/2010).

Ketika “dikejar” oleh KATAKAMI.COM tentang proses pemeriksaan terhadap Hambali tersebut yaitu apakah POLRI sudah mendapatkan jawaban-jawaban yang cukup “memadai” dari Hambali – sebab Hambali sendiri berada di dalam penjara Guantanamo sejak Agustus 2003 – Kepala Densus 88 Anti Teror Brigjen Tito Karnavian menjawab bahwa sejauh ini hasil pemeriksaan itu cukup memuaskan.

“Ini wartawan memang pintar mengorek. Tapi seperti yang saya sampaikan tadi, kami sudah dapatkan aksesnya” lanjut Tito Karnavian.

Lalu terhadap tudingan aktivis Islam yaitu Fauzan Al Anshari bahwa POLRI memang sengaja merekayasa untuk seolah-olah menaikkan “pangkat” Hambali sebagai petinggi Al Qaeda – padahal Hambali hanya tercatat sebagai anggota Al Jamaah Al Islamyah saja – Kepala Densus 88 Anti Teror POLRI Brigjen Tito Karnavian membantah tudingan tersebut.

“Tidak benar kalau disebutkan kami merekayasa. Bagaimana bisa disebut rekayasa ? Sebab dari sejumlah bukti dan pemeriksaan terhadap saksi-saksi, Hambali memang terbukti sebagai salah seorang petinggi Al Qaeda. Salah satu bukti kuat yang didapat adalah rekening-rekening keuangan Hambali yang menerima kiriman uang dari Khalid Sheikh Mohammad. Hambali memang Al Qaeda. Dan itu bukan karangan kami tetapi dari hasil pemeriksaan saksi-saksi” jawab Tito Karnavian.

Terorisme Disokong Dana Al-Qaeda

https://i0.wp.com/www.muslimdaily.net/berita/fauzan.jpg

Photo : Fauzan Al Anshari

Keterangan Kepala Densus 88 Anti Teror POLRI ini bertentangan dengan keterangan dari aktivis Islam, Fauzan Al Anshari.

Kepada KATAKAMI.COM secara EKSKLUSIF di hari Senin (18/1/2010), Fauzan Al Anshari mengatakan bahwa Hambali bukan petinggi Al Qaeda.

“Dia bukan Al Qaeda, siapa bilang Hambali itu Al Qaeda ? Itu cuma karangan POLRI saja supaya bisa dicocokkan kepada keinginan Amerika. Kan lucu, ada warga negara Indonesia yang lahir di Cianjur Jawab Barat malah diadili di Amerika untuk kasus terorisme. Jangan mau menuliskan bahwa Hambali itu Al Qaeda, dia bukan Al Qaeda. Dia JI (Al Jamaah Al Islamyah, red)” kata Fauzan Al Anshari.

Fauzan Al Anshari juga mengkritik keras rencara peradilan Amerika terhadap Hambali dalam waktu dekat ini.

“Ada kabar, Amerika sebenarnya ingin mengekstradisi Hambali ke Arab Saudi kalau Guantanamo ditutup. Tetapi sekarang kabar lainnya, Hambali cukup diadili di Amerika. ” lanjut Fauzan Al Anshari.

https://katakamidotcomindonesianews.files.wordpress.com/2010/01/ust-abu-bakar.jpg?w=300

Pesan Tulus Nan Sederhana Pada Ustadz Abu Bakar Baasyir

Fauzan Al Anshari menjawab, “Saya luruskan disini bahwa tidak ada kaitannya Hambali dengan Ustadz Abu dalam urusan terorisme.” Jawab Fauzan Al Anshari.

Fauzan Al Anshari mengkritik secara sinis ketidak-berdayaan POLRI melawan ambisi Amerika yang hendak memaksakan kehendak mengadili Hambali secara langsung di Amerika.

“Itu kan bisa-bisanya Amerika. Kerjasama dengan BIN (Badan Intelijen Negara, red) dan POLRI agar seolah-olah Hambali ditangkap di Thailand agar lebih mudah diekstradisi ke Amerika.” tanya Fauzan Al Anshari.

Hambali, seorang warga negara Indonesia kelahiran Cianjur pasti akan sulit menjawab sebuah pertanyaan yang isinya “Como Esta, Hambali ?”.

Hambali akan lebih mudah memahami pertanyaannya jika disampaikan dalam bahasa Sunda yang menjadi bahasa lokal Cianjur (tanah kelahiran Hambali), “Kumaha Wartos na Hambali ? Damang ?”.

Jadi kesimpulannya, sederhana sekali !

Biarlah hukum ditegakkan secara apa adanya sesuai dengan ketentuan yang diatur di negara masing-masing.

https://i0.wp.com/i.thisislondon.co.uk/i/pix/2009/04/obama-panetta-415x276.jpg

Photo : Pres. Barack Obama & Direktur CIA Leon Panetta

Biarlah hukum bisa menjadi PANGLIMA di negaranya masing-masing.

Biarlah juga penegakan hukum itu dilakukan sesuai dengan pakem-pakem dan koridor yang berlaku.

Dan diatas semua itu, Pemerintah AS juga perlu memperkuat kerjasama di bidang penanganan TERORISME untuk membuka tabir rahasia gelap yang selama ini terjadi bahwa patut dapat dijuga seorang PERWIRA TINGGI POLRI yaitu KOMJEN GORIES MERE terlibat dalam sejumlah peledakan bom.

Bagaimana mungkin, patut dapat diduga ada seorang petinggi POLRI bermain mata dengan TERORIS paling berbahaya yaitu ALI IMRON — yang notabene merakit langsung bom yang meledak pada kasus BOM BALI I — dan untuk imbalannya ALI IMRON dibebaskan dari kewajibannya menjalani hukum berupa pidana kurungan seumur hidup. Ali Imron bahkan dibiayai untuk hidup di Hotel / Apartemen MEWAH.

Selain itu, Ali Imron juga dibuatkan buku BIOGRAFI yang sangat luks.

Apa-apaan ini !

Sejak VONIS dijatuhkan oleh Majelis Hakim Denpasar (Bali), Ali Imron tidak pernah sekalipun menjalani masa hukumannya didalam PENJARA.

Ali Imron pura-pura dipinjam saja.

http://katakamiindonesia.files.wordpress.com/2009/07/plorez.jpg

Dan semua itu adalah ulah KOMJEN GORIES MERE yaitu meniadakan kewajiban hukum yang harus dijalani Ali Imron.

Dalam sebuah forum terbuka, KOMJEN GORIES MERE pernah mencaci maki POLRI sebagai polisi-polisi yang TOLOL (Terutama POLDA JAWA BARAT diejeknya GOBLOK) karena dianggapnya tidak becus menangi HAMBALI.

Omongan KOMJEN GORIES MERE ini ternyata direkam pihak tertentu dan kasetnya jatuh ke tangan Pimpinan POLRI pada waktu itu yaitu Jenderal POLISI SUTANTO.

KOMJEN GORIES MERE juga menuduh TNI terlibat dalam seluruh peledakan BOM di INDONESIA.

Bahkan ia menyebut nama 2 Jenderal TNI sebagai bagian dari organisasi Al Jamaah Al Islamyah.

Akibat omongannya yang asal bunyi alias ASBUN ini, KOMJEN GORIES MERE ditegur keras oleh seorang Jenderal Purnawirawan TNI.

Sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan dan MEMFITNAH TNI, KOMJEN GORIES MERE menyampaikan PERMOHONAN MAAF kepada Jenderal Purnawirawan itu.

KOMJEN GORIES tidak sadar dan tidak malu, bahwa bukan POLRI secara INSTITUSI yang TOLOL atau GOBLOK menangani masalah terorisme.

Lucu, jika ada POLISI yang mengejek institusinya sebagai POLISI yang TOLOL & GOBLOK.

Kalau mau jujur, yang jauh lebih tidak becus menangani masalah TERORISME adalah KOMJEN GORIES MERE karena Indonesia bisa diguncang BOM yang sangat dashyat lewat bom JW MARRIOT tahun 2003 — sementara HAMBALI yang dikabarkan mendalangi aksi peledakan bom ini JUSTRU sudah berada di Thailand dan hanya dalam hitungan hari sudah diserahkan Pemerintah THAILAND kepada Pemerintah AS.

Darimana ceritanya HAMBALI mendalangi peledakan bom Hotel JW Marriot tahun 2003 ?

https://i1.wp.com/www.apples4theteacher.com/images/icons/animated-letters/g.gif https://i2.wp.com/www.apples4theteacher.com/images/icons/animated-letters/m.gif

https://i1.wp.com/www.apples4theteacher.com/images/icons/animated-letters/g.gif https://i2.wp.com/www.apples4theteacher.com/images/icons/animated-letters/m.gif

Siapa sebenarnya yang mendalangi Bom JW Marriot tahun 2003 ?

Buka dong secara transparan.

Jangan lempar batu sembunyi tangan !

Siapa yang berbuat maka ia harus berani bertanggung-jawab.

Ini “pertanyaan serius” kepada KOMJEN GORIES MERE karena ketika itu ia yang memimpin langsung TIM ANTI TEROR POLRI.

Terlalu banyak REKAYASA & PERMAINAN-PERMAINAN kotor yang patut dapat diduga dilakukan KOMJEN GORIES MERE mengatasnamakan penanganan TERORISME sejak penanganan kasus peledakan BOM MALAM NATAL tahun 2000.

Betapa memalukan, jika ada oknum petinggi POLRI yang patut dapat diduga MENGAIS UNTUNG hanya dengan menjadikan isu TERORISME menjadi komoditi dagangan.

Harusnya oknum ini dipenjara saja bersama-sama dengan HAMBALI di Guantanamo sana atas kekejamannya yang patut dapat diduga menjual isu TERORISME menjadi sebuah komoditi dagangan yang sangat laris manis untuk meraup keuntungan.

(MS)

January 23, 2010 - Posted by | Uncategorized

Sorry, the comment form is closed at this time.

%d bloggers like this: