Katakamidotcom News Indonesia

BIN & POLRI Pasang Badan, SBY Dengarkanlah Suara Rakyat

https://katakamidotcomindonesianews.files.wordpress.com/2010/01/undangan2bpilpres_01k.jpg?w=300

DIMUAT JUGA KATAKAMI.COM

Jakarta 29/1/2010 (KATAKAMI) Beberapa tahun yang lalu ketika Muhammad Jusuf Kalla (JK) masih menjabat sebagai Wakil Presiden RI, pernah suatu ketika Sang Wapres membuat wartawan tertawa terpingka-pingkal. Apa sebabnya ? Saat itu sebenarnya akan ada aksi unjuk rasa dari kaum buruh dalam peringatan Hari Buruh Sedunia (May Day) tanggal 1 Mei.

Yang menggelikan bagi Wapres dan seluruh wartawan yang biasa meliput di Istana Wakil Presiden adalah saat Wakil Presiden melongok sesaat ke lobi Istana Wakil Presiden selama beberapa menit.

Hal ini diceritakan sendiri oleh JK kepada para wartawan saat menggelar jumpa pers.

Mantan Ketua Umum Partai Golkar ini mengatakan bahwa seorang petinggi aparat keamanan melaporkan kepada dirinya bahwa sudah ada puluhan orang pawang hujan yang dikerahkan beberapa instansi pemerintah yang “bersatu” mengerahkan pawang hujan agar pada hari pelaksanaan unjuk rasa buruh, bisa diturunkan hujan sederas-derasnya.

http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:iHyJfSFY2Kb5_M

Akan tetapi, “hujan” yang direncanakan akan turun pada aksi unjuk rasa itu ternyata tidak turun sebagaimana mestinya.

“Biasanya pawang hujan untuk menghentikan datangnya air hujan. Ini pawang justru untuk mendatangkan hujan” kelakar JK di hadapan wartawan.

Puluhan pawang yang kabarnya sudah disewa oleh beberapa INSTANSI penting untuk mendatangkan hujan guna menangkal para pendemo ternyata tidak berhasil mendatangkan HUJAN DERAS.

Demo tetap berjalan sebagaimana yang direncanakan para buruh secara damai.

Mendengar JK berkelakar tentang PAWANG HUJAN tadi, semua wartawan yang hadir dalam acara jumpa pers itu tertawa terpingkal-pingkal.

Aksi unjuk rasa kalangan buruh tetap berjalan seperti yang direncanakan kalangan buruh – bahkan Wapres mengizinkan para pengunjuk rasa melintas di hadapan Istana Wakil Presiden.

https://i0.wp.com/matanews.com/wp-content/uploads/RakorPolhukam.jpg

Photo : (Ki-Ka) MengkopolhukkamDjoko Suyanto, Panglima TNI Djoko Santoso, Kapolri BHD, Kepala BIN Sutanto & Jaksa Agung Hendarman Supandji

Pada periode 100 hari pertama masa kekuasaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono babak kedua ini, setidaknya ada 2 aksi unjuk rasa besar yang disiapkan oleh kalangan pendemo.

Masa kekuasaan SBY babak kedua ini, sempat juga akan digoyang demo besar pada peringatan HARI ANTI KORUPSI SEDUNIA tanggal 9 Desember 2009.

Beberapa hari sebelumnya, Kepala BIN Jenderal Polisi Sutanto “bersuara” mempersilahkan para pengunjuk rasa menyampaikan aspirasi dan pendapatnya.

Tetapi Jenderal Sutanto mewanti-wanti agar AKSI DEMO ANTI KORUPSI SEDUNIA itu dilaksanakan dengan aman, tertib dan damai agar berjalan dengan baik — terhindar dari aksi anarkis dan menyusupny
a para penumpang gelap –.

Begitu juga Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri, setiap kali akan ada DEMO BESAR maka Tri Brata 1 ini harus “berbicara pada publik” bahwa para pengunjuk rasa dipersilahkan berunjuk rasa dengan aman, tertib dan damai (sehingga demo itu tidak berjalan dengan ANARKIS).

Setelah DEMO BESAR yang digembar-gemborkan akan menggoyang pemerintah tak sesuai dengan kenyataannya pada peringatan HARI ANTI KORUPSI SEDUNIA tanggal 9 Desember 2009 lalu, demo peringatan 100 hari SBY – Boediono dikabarkan akan sangat “BESAR” jumlah peserta dan kekuatannya tanggal 28 Januari 2010.

Tetapi ternyata kedua aksi unjuk rasa itu berjalan dengan “biasa-biasa saja” alias tidak seheboh dan tidak setragis yang digembar-gemborkan bahwa unjuk rasa itu akan dapat menurunkan Presiden SBY dari kursi kekuasaannya.

https://katakamidotcomindonesianews.files.wordpress.com/2010/01/satukatalawan.jpg?w=200

Dua instansi tadi yaitu BIN dan MABES POLRI memang patut diacungi jempol dalam menjaga situasi keamanan agar tetap dapat terkendali – setiap kali ada aksi unjuk rasa yang dikabarkan akan sangat SPEKTAKULER — (bila merujuk pada dua aksi besar yang sempat diisukan akan menggoyang pemerintahan).

Kenapa TNI tidak disebut ?

Sebab keberadaan TNI – baru akan dibutuhkan untuk ikut berkontribusi menjaga situasi keamanan – kalau memang POLRI berinisiatif meminta bantuan.

Presiden SBY harus berterimakasih kepada kedua instansi yang disebutkan tadi yaitu kepada BIN dan MABES POLRI.

Kalau saja kedua instansi penting ini mau bersikap sangat “tidak biasanya”, maka bisa jadi para penumpang gelap dan penyusup merajalela memanfaatkan aksi unjuk rasa apapun yang akan digelar menjadi sarana paling ampuh untuk melengserkan pemerintah yang sah.

Terlihat betul prinsip dan sikap dari BIN dan MABES POLRI bahwa mereka menyadari bahwa setiap aksi unjuk rasa tidak bisa dilarang sebab memiliki payung hukum yaitu UU Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyatakan Pendapat Di Depan Umum.

Setiap warga negara berhak menyampaikan aspirasi dan pendapatnya.

Mau seribu, duaribu, sepuluh ribu atau 1 juta orangpun yang dikerahkan dalam aksi unjuk rasa, aparat keamanan TIDAK BISA menghalangi atau membatalkan aksi damai rakyat Indonesia untuk mengeluarkan uneg-uneg dan isi hati mereka.

https://i2.wp.com/politikana.com/images/large/pak-boed-dan-bu-sri-mulyani.jpg

BIN dan MABES POLRI menjadi penjaga gawang yang harus pintar-pintar menempatkan diri mereka yaitu di satu pihak bagaimana caranya agar rakyat tetap tersalurkan aspirasinya sesuai dengan UU – jika ingin berunjuk rasa –.

Tetapi di pihak lain bagaimana caranya agar aksi unjuk rasa itu tidak anarkis yang berujung pada agenda pelengseran pemerintah.

Pasti ada yang diam-diam berharap agar aksi unjuk rasa apapun yang akan digelar untuk mengkritisi pemerintah, bisa sangat keras dan kuat pengaruhnya untuk menghantam pemerintah.

Terutama jika rakyat sudah mulai galau dan sangat tajam menyoal konsistensi pemerintahan yang bersih dan baik (clean and good governance).

Suara rakyat adalah suara Tuhan.

http://fasiljabar.files.wordpress.com/2009/02/kejatuhan-orde-baru2.jpg

Photo : Aksi demo mahasiswa tahun 1998

Yang ingin disampaikan disini adalah jangan menunggu sampai rakyat benar-benar marah danmengamuk.

Jangan juga menyalahkan rakyat jika ternyata kemarahan dan amukan itu sudah sangat tidak tertahankan lagi karena harapan mereka dilukai oleh penguasa.

Dan jangan terus menerus membebani aparat keamanan – yaitu BIN dan MABES POLRI – untuk berhadap-hadapan dengan rakyatnya sendiri.

Pawang demi pawang juga tak perlu dibuat saling beradu ilmu dengan sesama pawang dalam setiap aksi unjuk rasa.

Yang satu meminta hujan diturunkan agar para pengunjuk rasa tidak bisa demo.

Yang satunya meminta hujan ditangkal agar cuaca terang benderang sepanjang melaksanakan aksi demo.

http://syamsahawa.files.wordpress.com/2009/06/lanjutkan.jpg

Mari kita jaga Indonesia ini dari semua ancaman perpecahan dan kehancuran yang sangat mengerikan.

Mari kita buka juga hati dan telinga selebar-lebarnya agar apapun harapan, keinginan dan tuntutan rakyat diterima secara riil.

Jangan cuma masuk telinga kiri dan keluar lagi dari telinga kanan jika rakyat berteriak-teriak mengkritisi sesuatu permasalahan atau keadaan yang dinilai sudah melenceng jauh dari nilai-nilai hukum, kebenaran dan keadilan.

Tetapi yang juga perlu disampaikan disini, janganlah juga ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan aksi unjuk rasa untuk menggoyang dan mengguncang situasi keamanan di Indonesia untuk mendatangkan MALAPETAKA.

Jangan paksa dan jangan seret Indonesia untuk hancur-hancuran seperti dulu.

https://katakamidotcomindonesianews.files.wordpress.com/2010/01/sbyandboediono.jpg?w=300

Jangan menyulap dan bermimpi untuk membuat Indonesia yang sudah banyak mengalami kemajuan serta perbaikan-perbaikan ini menjadi tamat riwayatnya.

Jangan juga menjadikan kaum minoritas – seperti misalnya kalangan etnis Cina atau kalangan NON MUSLIM – untuk menjadi target sasaran aksi anarkisme dalam demo-demo buatan yang didanai pihak donatur liar.

Rela buang-buang duit seolah untuk UJI NYALI pemerintah, bisa tetap bertahan atau tidak jika digebuk lewat demo besar.

Indonesia, tanah air kita ini, sekarang sudah cukup jauh melangkah dari era keterpurukan di masa lalu.

Indonesia, tanah air kita ini, sekarang sudah cukup kondusif bila dibandingkan masa kelam penuh kondisi yang sangat babak belur di masa lalu.

Biarlah Indonesia menjadi semakin baik dan kuat sebagai sebuah Negara. Jika memang ada rakyat yang ingin menyampaikan aspirasi dan pendapatnya lewat aksi unjuk rasa, berikan jalan dan kesempatan.

Sebab UU memang memungkinkan itu terjadi secara sah dan legal.

https://i1.wp.com/foto.detik.com/images/content/2009/06/30/157/bhd06.jpg

Photo : Jenderal Sutanto & Jenderal BHD

BIN dan POLRI, sejauh ini sudah menjalankan tugasnya secara baik dan benar.

Walaupun memang ada sebuah kelakar di kalangan FACEBOOKER bahwa dibandingkan para pengunjuk rasa, jumlah APARAT KEAMANAN justru jauh lebih banyak dari para pengunjuk rasa.

Sehingga patut dipertanyakan, sebenarnya yang terjadi itu Istana Presiden dikepung pengunjuk rasa atau Pengunjuk rasa yang “dikepung” aparat keamanan ?

Tapi apapun yang terjadi, semua pihak harus menghargai kerja keras dari aparat keamanan dalam menjadi situasi dan keamanan ini agar tetap kondusif.

Tetapi, besar dan kuatnya suatu Negara, akan sangat mustahil diwujudkan jika rakyatnya tetap dibohongi, disakiti atau dianggap angin lalu.

https://i1.wp.com/www2.inilah.com/data/berita/foto/125285.jpg

Hendaklah yang punya mata melihat dan yang punya telinga mendengar — dari kalangan PEMERINTAH ini –.

Jangan takut pada setiap TERIAKAN rakyat yang sebenarnya sudah sangat tidak tahan melihat situasi yang blunder di negeri ini.

Anggaplah teriakan-teriakan rakyat ini sepenuhnya karena merindukan republik ini bisa menjadi aman dan sejahtera :

SBY, DENGARKANLAH SUARA RAKYAT.

Seperti dalam sebuah kalimat terkenal, VOX POPULI VOX DEI.

Suara Rakyat adalah Suara Tuhan !

(MS)

January 29, 2010 - Posted by | Uncategorized

Sorry, the comment form is closed at this time.

%d bloggers like this: