Katakamidotcom News Indonesia

Obama Tunggu Kejutan Baru Pentagon & CIA Dari Perang Afghan

https://i0.wp.com/media.kfbb.com/images/obama%20afganistan.jpeg
https://i2.wp.com/www.mariebengal.com/user/cimage/animated-gold-star.gif

DIMUAT JUGA DI KATAKAMI.COM

Obama, War Cabinet Meet After Taliban Capture

Photostream : New View of 9/11 Attacks Photos


https://i2.wp.com/www.mariebengal.com/user/cimage/animated-gold-star.gif

Jakarta 21/2/2010 (KATAKAMI) Dinas Rahasia CIA (Central Intelligence Agency, red) milik pemerintah Amerika, bisa dibilang sebagai salah satu Dinas Rahasia yang terkuat di dunia.

Walaupun sebenarnya kalau mau jujur, dibalik kekuatan itu CIA sering mendapat sindiran dan tudingan yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan serta kepentingan mereka.

Serangan 11 September 2001, tetap menjadi sebuah ironi yang dipertanyakan semua pihak.

Apakah benar tragedi kelam yang sangat memilukan hati itu memang murni prakarsa dan ulah dari Al Qaeda pimpinan Osama Bin Laden ?

Atau cuma karangan atau rekayasa Dinas Rahasia CIA ?

https://i0.wp.com/en.timeturk.com/images/video/44.jpg

Photo: Serangan 11 September 2001

Menanti Obama Berkeputusan Soal Perang Afghan

Ke Oslo Obama Akan Datang Berdilema Perang Afghan & Irak

Ada juga kecaman yang lebih sadis yaitu CIA dianggap sengaja mendiamkan indikasi serangan terror sehingga akhirnya Tragedi 11 September itu terjadi dan terlaksana tanpa bisa dihindarkan lagi.

Di tengah berkepanjangannya kontroversi yang meragukan Al Qaeda sebagai satu-satunya biang kerok di balik tragedi 11 September ( 9/11), CIA seakan berada di garis terdepan untuk memerangi taliban-taliban di Afghanistan.

Delapan tahun perang Afghan, rasanya menjadi perang yang sangat berkepanjangan di muka bumi ini.

Dan memakan korban yang tak sedikit di pihak AS, Pasukan NATO atau The North Atlantic Treaty Organization dan Negara-Negara yang tergabung dalam pasukan multinasional, di kalangan Taliban dan di kalangan sipil secara keseluruhan.

Kabinet Belanda luluh lantak alias bubar jalan pekan ini pasca kebuntuan dukungan terkait perang Afghan. Perdana Menteri Belanda Jan Peter Balkenende sendiri mengatakan kepada media akhir pekan ini bahwa 2000 tentara Belanda yang bertugas di Afghanistan dijadwalkan akan ditarik penugasannya pada bulan Agustus 2010.

Negara-negara pendukung Perang Afghan seakan menemui situasi yang serba dilematis.

Jika kita mau jujur melihat konsistensi pasukan AS dan multinasional mempertahankan personil-personil militer mereka di Afghanistan, maka konsistensi itu membuat kita jadi bertanya-tanya.

Apa benar serangan 11 September 2001 itu rekayasa intelijen (CIA) semata ?

Apa benar intelijen ( CIA) secara sengaja melakukan pembiaran-pembiaran ?

Jika tragedi 11 September itu memang sebatas rekayasa atau kesengajaan melakukan pembiaran, mustahil Amerika tetap bersikeras melanjutkan perang Afghan untuk menuntaskan misi perang melawan teror ( War on Terror ).

Konsistensi Amerika melanjutkan dan menuntaskan perang melawan terror ( War on terror ), bisa dilihat juga dari persetujuan Presiden Barack Obama menambah 30 ribu pasukan lagi untuk perang Afghan pada periode 2010 ini.

https://i1.wp.com/i.telegraph.co.uk/telegraph/multimedia/archive/01579/Mullah-Mohammed-Om_1579090c.jpg

Photo : Mullah Abdul Ghani Baradar, Petinggi Nomor 2 Taliban

Photostream : Troops in Afghan

Photostream : Snow in Afghanistan

Dan sekarang Presiden Obama boleh berbangga hati karena persis dalam pemerintahan yang dipimpinnya, Dinas Rahasia CIA memberikan hasil nyata baru-baru ini yaitu berhasil menangkap orang nomor dua dari barisan Taliban yaitu Mullah Abdul Ghani Baradar.

Mullah Abdul Ghani Baradar ditangkap di Karachi, Pakistan pada akhir pekan lalu.

Gedung Putih memuji keberhasilan penangkapan Mullah Abdul Ghani Baradar ini dengan istilah “BIG SUCCESS”.

Kolaborasi antara perangkat keamanan Amerika dan Pakistan mendulang sukses penangkapan ini, hanya beberapa bulan setelah Sang Presiden memutuskan adanya penambahan pasukan sebanyak 30 ribu orang tadi.

CIA yang bolak-balik “diomelin” oleh Presiden Obama ini, tampaknya mulai bangkit dari masa transisi yang kelam.

Dibalik senyumnya manis itu, Presiden Obama muncul sebagai sosok Panglima Tertinggi Militer (AS) yang sangat cerewet, tegas, keras kepala dan keras kemauannya untuk mengendalikan kekuatan Amerika dalam 2 perang yang sangat kontroversial yaitu Perang Afghan dan Perang Irak.

Obama sadar bahwa ia mendapat warisan yang tak sedap yaitu harus menuntaskan 2 perang yang sangat melelahkan.

Tidak cuma melelahkan negaranya dari segi anggaran, tetapi melelahkan dalam segala hal.

Tapi perang tetaplah sebuah perang, yang dampak dan tanggung-jawabnya bisa melebar kemana-mana.

https://i1.wp.com/www.sfbayview.com/wp-content/uploads/2009/11/Obama-McCrystal-on-Air-Force-One-100209-by-beagleone-Free-Republic1.jpg

Photo : Presiden Barack Obama & Jenderal Stanley Mc.Chrystal


PHOTOSTREAM : TROOPS AND THE CHILDREN OF AFGHANISTAN

NYT : Stanley McChrystal’s Long War


CIA yang di zaman pemerintah Presiden Bush, dibenarkan untuk menghalalkan segala cara untuk melaksanakan misi WAR ON TERROR, setahun terakhir ini sudah tak bisa berbuat banyak semau mereka.

Ruang gerak CIA seakan sengaja dikunci rapat oleh Presiden Obama.

Rasanya, dari sekian banyak instansi di Amerika Serikat, yang paling sering mendapat omelan secara terbuka di hadapan publik adalah Dinas Rahasia CIA.

Dari mulai proses penyidikan Water Boarding yang sarat bermuatan kekerasan dalam upaya penananganan terorisme, memo-memo Gedung Putih di era Bush yang melegalkan tindak kekerasan dalam penanganan kasus terorisme sampai ke masalah kekurang-sigapan CIA mengantisipasi ancaman terror menjelang akhir tahun 2009 lalu.

Tapi tampaknya, CIA ingin menunjukkan jati diri mereka sebagai Dinas Rahasia yang memang handal.

Namun yang Presiden Obama perlu sadari adalah tidak semua kesalahan itu harus ditumpahkan dan dilemparkan bertubi-tubi semata-mata kepada Presiden Bush pribadi.

Dendam memang bukan sebuah bentuk penyelesaian yang terbaik.

Photo : Presiden Barack Obama & Presiden George W. Bush

Tetapi barangkali yang perlu dipahami Presiden Barack Obama tentang latar belakang apa yang mendorong Presiden Bush untuk sangat amat keras melakukan semua perlawanan terhadap kalangan teroris dan sel-selnya di muka bumi ini yaitu karena faktor harga diri dan martabat sebuah bangsa yang diinjak lewat Tragedi 11 September 2001.

Jika Presiden Obama yang memerintah di saat Serangan 11 September 2001 itu terjadi, apakah Obama bisa sangat “normal dan apa adanya” dalam menindak-lanjuti serangan brutal kalangan radikal Islam kepada NEGARA AMERIKA dengan korban tewas yang tak sedikit jumlahnya ?

Sekali lagi, yang mati akibat serangan 11 September itu bukan cuma 1 atau 2 orang.

Tetapi ribuan orang !

Setiap Kepala Negara dan setiap Negara, yang pernah secara langsung melihat brutalisme aksi terorisme lewat peledakan-peledakan bom dan serangan radikal yang sangat sistematis seperti Serangan 11 September 2001, pasti akan terlukai harga diri dan martabatnya.

Rakyatnya mati sia-sia karena kekejaman terorisme.

Kehancuran terjadi disana-sini juga akibat kekejaman terorisme.

Amerika seakan sangat dipermalukan secara mengerikan dari Serangan 11 September 2001 itu.

Secara psikologis, Kepala Negara manapun yang disaat aktif menjalankan jabatan konstitusionalnya pernah menghadapi serangan terorisme secara nyata pasti akan sangat marah.

Marah semarah-marahnya.

Cuma sekarang, kemarahan itu sudah tidak bisa lagi diumbar secara berlebihan karena penegakan hukum harus dikedepankan oleh Negara manapun di muka bumi ini.

Dan jika berbicara soal Perang Afghan, maka yang harus terus diingatkan adalah perang panjang selama 8 tahun non stop di Afghanistan memang harus bisa menunjukkan hasil yang nyata.

https://i0.wp.com/www.sarkozynicolas.com/wp-content/uploads/2008/12/robertgates-obama.jpg

Photo : Menteri Pertahanan Robert Gates (Kiri), Presiden Obama & Menlu Clinton

Bisa jadi, keputusan Presiden Obama untuk tidak mengganti alias tetap mempertahankan posisi Menteri Pertahanan ketika mulai melaksanakan jabatan sebagai Presiden AS ke 44, membuahkan hasil yang signifikan.

Robert Michael Gates yang menjadi Menteri Pertahanan pada era Pemerintahan Presiden Bush, tetap dipertahankan pada era Pemerintahan Presiden Barack Obama.

Gates yang pernah menjadi Direktur CIA (dari mulai bulan November 1991 s/d bulan Januari 1993, red) ini, seakan menjadi jembatan yang baik antara Pentagon – terutama kekuatan intelijen dan militer Amerika Serikat – dengan Pemimpin Baru mereka yaitu Presiden Barack Obama.

Kalau mau jujur, tentu kalangan militer AS pusing tujuh keliling.

Photo : Presiden Obama, Wapres Joe Biden (tampak belakang) & Petinggi Militer AS

Mereka membutuhkan penambahan pasukan dengan jumlah yang sangat besar dalam perang Afghan, tetapi yang disetujui hanya sedikit – walaupun kategori sedikit itu, oleh masyarakat awam internasional tetaplah dinilai sangat besar jumlahnya –.

Militer AS membutuhkan penambahan pasukan diatas 60 ribu orang dalam perang Afghan untuk kelanjutan perang di tahun 2010 ini.

Tetapi hanya 30 ribu yang disetujui Presiden Obama.

Tertangkapnya orang nomor dua Taliban MULLAH ABDUL GHANI BARADAR oleh Dinas Rahasia CIA yang mengkomandoi perangkat militer AS di Afghanistan baru-baru ini, menjadi sinyal yang baik bagi Presiden Obama.

Panglima Tertinggi Militer AS ini diberi kejutan yang melegakan hati.

Pertanyaannya sekarang, mampukah CIA dan perangkat militer AS menangkap yang lebih bertanggung-jawab untuk Tragedi 11 September itu sendiri ?

https://i1.wp.com/www.bollyn.com/public/osama-bin-laden-video.jpg

Photo : Osama Bin Laden

Mampukah AS menangkap Osama Bin Laden ?

Substansi dari totalitas perang melawan teror adalah terfokus pada sosok Osama Bin Laden.

Tanggung jawab utama Tragedi 11 September itu bukan pada orang nomor 2, nomor 3 atau nomor berapapun dalam organisasi Al Qaeda dan Taliban secara keseluruhan.

Tanggung jawab itu ada pada orang nomor 1 !

CIA dan perangkat militer AS jangan cuma setengah hati mempertaruhkan seluruh daya dan kemampuan mereka untuk menuntaskan perang panjang di Afghan.

Berikanlah lagi kejutan-kejutan yang lebih melegakan hati Presiden Obama dan dunia secara keseluruhan.

Semakin cepat, semakin baik, perang Afghan itu dituntaskan.

Semakin cepat, semakin baik, perang Afghan itu dimenangkan.

Militer AS dan pasukan multinasional yang ada di Afghanistan, pasti bisa menuntaskan dan memenangkan perang di sana dengan hasil yang diharapkan bersama.

Janganlah menyia-nyiakan pengorbanan semua prajurit dan kalangan sipil yang sudah menjadi terkorbankan nyawanya dalam kurun waktu 8 tahun ini.

https://i1.wp.com/img.timeinc.net/time/daily/2009/0902/leon_panetta_0225.jpg

Direktur CIA Leon Panetta

Menteri Pertahanan Robert Gates dan Direktur CIA Leon Panetta, semoga membuka lebar-lebar “telinga” mereka terhadap tuntutan banyak pihak bahwa kalangan sipil harus lebih terlindungi dalam perang Afghan ke depan ini.

Tuntutan ini memang agak sulit dilaksanakan di lapangan karena dalam perang gerilya, gerak Taliban bisa jadi sangat militan di bawah tanah dengan menyusup di kalangan sipil setempat.

Jenderal Stanley McChrystal sebagai penanggung-jawab militer AS di Afghanistan, pasti lebih tahu bagaimana caranya agar tuntutan internasional tentang lebih terlindunginya kalangan sipil ini bisa dilaksanakan di tengah kondisi perang yang serba terbatas.

Terbatas dalam arti, kekuatan personil militer AS tak sesuai seperti yang mereka harapkan penambahannya.

Dan sepanjang perang Afghan ini masih berlangsung, pastikanlah bahwa adu senjata dan adu fisik tidak memakan korban dari kalangan sipil, kaum perempuan dan anak-anak.

Photo : Presiden Barack Obama

Keputusan dari Presiden Obama sebagai Panglima Tertinggi Militer memang sudah menjadi harga mati bagi militer AS dalam perang Afghan.

Dengan jumlah tambahan pasukan sebanyak 30 ribu orang untuk memperkuat militer AS dan pasukan multinasional, perang Afghan memang sudah saatnya diakhiri dengan hasil yang lebih baik dan lebih nyata.

Apa yang dimaksud dengan hasil yang lebih baik dan lebih nyata ?

Rasanya, terlalu sia-sia untuk menggurui militer yang setangguh militer AS.

https://i2.wp.com/assets.nydailynews.com/img/2009/09/22/alg_mccrystal.jpg

Photo : Jenderal Stanley Mc.Chrystal

Rasanya, terlalu sia-sia juga untuk mengkuliahi “Top Military” sekelas Jenderal Stanley McChrystal.

Mereka pasti tahu, sudah sangat tahu, bahwa perang Afghan itu kaca kunci kemenangannya adalah jika mereka berhasil menangkap seseorang yang dikejar dan diincar selama 8 tahun terakhir.

Seseorang yang berinisial O.

Untuk kelak dilaporkan bahwa perang Afghan ini memang bisa berhasil dimenangkan kepada Panglima Tertinggi Militer Amerika yang inisialnya juga sama-sama O.

Jadi, menangkanlah perang Afghan dengan menangkap target utama berinisial O untuk dilaporkan kepada Sang Panglima Tertinggi yang kebetulan juga berinisial O.

(MS)

February 26, 2010 - Posted by | Uncategorized

Sorry, the comment form is closed at this time.

%d bloggers like this: