Katakamidotcom News Indonesia

Menunggu Kabar Baik Selanjutnya Dari Benjamin Netanyahu Demi Perdamaian

Jakarta 20/8/2009 (KATAKAMI) Hanya tinggal hitungan puluhan jam ke depan, umat Islam diseluruh dunia akan menyambut datangnya bulan suci RAMADHAN. Bulan yang penuh berkah dan digunakan sebagai sarana untuk menyucikan diri. Bulan yang dengan penuh kepasrahan dan keiklasan berharap pada Sang Khalik untuk mencurahkan segala berkah.

Menjelang datangnya bulan suci RAMADHAN ini, datang juga kabar terbaru dari Israel bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk sementara menghentikan persetujuan proyek perumahan baru di Tepi Barat.

Seperti yang dilaporkan  Radio VOICE OF AMERICA, Menteri Perumahan Ariel Atias mengatakan bahwa sejak Netanhayu memerintah lima bulan lalu, pemerintah tidak pernah menyetujui pembangunan pemukiman baru di wilayah pendudukan Israel.

Kebijakan Netanyahu ini, tentu sebuah kabar baik — walau itu hanyalah sebuah penghentian yang bersifat temporer –.

Kebijakan Netanyahu ini, tentu akan berpengaruh banyak bagi terselenggaranya bulan suci RAMADHAN bagi umat Islam di Jalur Gaza dan Palestina secara keseluruhan.

Artinya, celah dan peluang bagi terciptanya ketegangan-ketegangan baru bisa diredam untuk sementara waktu ini — terutama sepanjang bulan suci RAMADHAN –.

Walaupun suara dari GEDUNG PUTIH memang sangat tegas berkumandang bahwa Presiden Barack Obama ingin agar pembangunan itu dihentikan secara total.

Tapi — tanpa mengurangi rasa hormat yang sangat tinggi kepada Obama — bukankah pembangunan itu adalah otoritas dari kebijakan domestik Israel sebab mereka membangun di areal negara mereka sendiri ?

Obama dan AS tentu punya pertimbangan yang lebih luas dan global, dimana AS secara konsisten ingin berada dan selalu mendorong untuk segera berdirinya Negara Palestina yang merdeka, berdaulat dan hidup berdampingan secara damai dengan Israel.

Namun jika kita ingin jujur, posisi ISRAEL sering terpojokkan oleh banyak hal dari “faktor luar”. Terutama media massa raksasa yang cenderung terjebak dalam euforia menyalahkan dan mencari-cari sisi buruk Israel saja.

Satu contoh, beberapa waktu lalu ALJAZEERA memberitakan bahwa 12 tahun lalu Benjamin Netanyahu memerintahkan kepada Mossad agar salah seorang pemimpin HAMAS dibunuh.

Ada distorsi disini sebab “sesuatu” yang dicoba untuk digelindingkan lewat media massa (di blow up) adalah barang usang yang belum dapat dipastikan kebenarannya.

Darimana Aljazeera mendapatkan informasi atau dokumen yang sefrontal dan setelanjang itu ?

Jika informasi dan dokumen yang menyebutkan Netanyahu memerintahkan agen rahasianya untuk membunuh, maka pihak yang membocorkan itu pasti akan membocorkannya 12 tahun yang lalu juga. Bukan sekarang, setelah waktu berjalan 12 tahun lamanya.

Lalu, ada kepentingan apa membesar-besarkan dan mendramatisir sesuatu yang sangat POTENSIAL menghambat dan merusak proses terciptanya perdamaian di TIMUR TENGAH.

https://i1.wp.com/s3.amazonaws.com/pixmac-preview/israel-and-palestine-flags-isolated.jpg

Seakan ada kesengajaan untuk memancing di air keruh.

Seakan ada kesengajaan untuk memancing emosi dari BIBI — panggilan dari Benjamin Netanyahu –.

Seakan ada kesengajaan untuk mempermalukan ISRAEL dalam konteks kenegaraan.

Setelah menyoroti pemberitaan dari Alzajeera, kita bergeser ke media massa lain — yang tidak perlu disebutkan namanya –. Media massa dari SWEDIA.

Dalam pemberitaannya, dimuat sesuatu yang sangat kejam sekali bahwa tentara ISRAEL sengaja membunuhi rakyat Palestina untuk mengambil dan memperdagangkan organ tubuh.

Ini fitnah yang terlalu menyakitkan hati bagi siapapun yang ingin agar Simon Peres dan Benjamin Netanyahu bersatu padu untuk mematangkan kebijakan mereka mewujudkan perdamaian dengan PALESTINA.

Memang serba salah menjadi Simon Peres dan Benjamin Netanyahu.

Jika wajah mereka tanpa ekspresi, nanti dikira mereka tidak responsif. Jika mereka tersenyum, bisa-bisa senyum mereka dianggap mengejek dan merendahkan pihak lain. Jika mereka marah, justru semakin memperkuat fitnah dan tudingan bahwa kedua pemimpin ini adalah pemimpin yang bengis.

BIBI (Benjamin Netanyahu, red) pasti tidak akan menjilat ludahnya sendiri bahwa ia CONCERN untuk mewujudkan perdamaian itu.

BIBI tentu akan mengingat secara baik bahwa seorang kesatria sejati tidak akan mencabut ucapan yang sudah dikatakan oleh mulutnya sendiri. (Baca BERKATA KEPADA BENJAMIN NETANYAHU, “SUARA DENGARKANLAH AKU !).

https://katakamidotcomindonesianews.files.wordpress.com/2010/03/nomore.jpg?w=229

Biarlah ISRAEL mencari formula yang paling bijaksana dalam kepentingan mewujudkan perdamaian itu.

Janganlah mereka dipojokkan atau difitnah secara berlebihan.

Simon Peres dan Benjamin Netanyahu memang perlu terus “DIKAWAL” untuk mengarahkan pandangan mereka kepada pentingnya memelihara dan menciptakan perdamaian itu secara nyata dan konkrit. Bukan cuma teori atau omong kosong belaka.

Mengawal mereka untuk menciptakan perdamaian itu, bukan dengan cara menghina atau memfitnah mereka.

Simon Peres dan Benjamin Netanyahu perlu dibisikkan secara terus menerus ke dalam relung hati mereka, “Tolong Jangan Ada Lagi PEPERANGAN !”.

Salah seorang saudara lelaki dari Benjamin Netanyahu (adik bungsu), JONATHAN NETANYAHU adalah seorang prajurit militer yang gugur di medan operasi pada tanggal 4 Juli 1976.

YONI, adalah anggota dari ISRAEL DEFENCE FORCES ELITE SAYERET MATKAL.

YONI mendapatkan bintang kehormatan dari pemerintah ISRAEL lewat anugerah “MEDAL DISTINGUISHED SERVICE”.

Prajurit YONI NETANYAHU gugur persis dihari yang akan memulangkan seluruh prajurit itu dari operasi militer mereka puluhan tahun yang lalu. Padahal, operasi militer yang dijalankan itu secara keseluruhan dinilai BERHASIL. Tetapi takdir menentukan lain.

Prajurit sejati YONI NETANYAHU, dipanggil pulang ke MARKAS KEABADIAN ILAHI.

https://i1.wp.com/www.jr.co.il/pictures/israel/people/jrilp095.jpg

BIBI (Benjamin Netanyahu, red) pasti sangat amat mencintai “BROTHER YONI”, walau sudah tak bisa berdampingan lagi di dunia yang fana ini.

Kecintaan BIBI pada anggota keluarganya ini, harus disadarinya juga dengan sepenuh hati bahwa orang lain — termasuk RAKYAT PALESTINA — juga mencintai anggota keluarga mereka. Tentu ada keinginan kuat untuk selalu berkumpul bersama.

Tapi semua itu sulit untuk terlaksana kalau suasana diantara ISRAEL & PALESTINA masih terus dipenuhi dengan atmosfir peperangan yang berkepanjangan dan tak henti menelan korban jiwa.

Redamlah semua emosi dan ambisi untuk saling menyerang antar lawan yang masing-masing bersenjata.

HAMAS juga perlu bersikap dewasa dan bijaksana. Jangan bersembunyi dibalik dukungan INTERNASIONAL kepada Palestina.

Jangan bersembunyi di balik media massa yang kecenderungannya adalah memojokkan ISRAEL.

Warga Palestina juga perlu diberitahu agar jangan melangkah masuk ke wilayah “resmi” Israel agar tak diusir atau dipaksa untuk keluar.

Ketegasan untuk menjaga kedaulatan dan wilayah “resmi” mereka, kadang membuat ISRAEL jadi terlihat represif terhadap warga Palestina.

Padahal kalau mau jujur, pendatang yang ilegal di negara manapun pasti akan dideportasi atau diusir keluar.

MARHABAN YA RAMADHAN !

Artinya adalah SELAMAT DATANG BULAN SUCI RAMADHAN.

Semoga Simon Peres dan Benjamin Netanyahu mau untuk secara kuat memberikan kewenangan memerintahkan “genjatan senjata” sejenak sepanjang bulan suci RAMADHAN.

Jangan ada kekerasan terhadap rakyat PALESTINA, apalagi jika itu mengorbankan atau akan mencelakai kaum perempuan, lansia dan anak-anak yang tidak berdosa.

Prajurit dibawah sana hanyalah pion-pion yang melaksanakan tugas atau perintah dari KOMANDAN.

Perintahkanlah mereka untuk menjaga suasana yang tertib dan damai. Tolong, kasihani warga sipil yang tak bersenjata.

https://i1.wp.com/www.davelippman.com/graphics/37kids.jpg

Hindarilah kontak senjata yang bisa membuat warga sipil tak bersenjata di JALUR GAZA — dan PALESTINA secara keseluruhan — menjadi korban.

Dalam suasana baik ini, semua pihak — siapapun itu didunia ini — tentu ingin terus menerus mendapatkan kabar baik dari BENJAMIN NETANYAHU.

Tidak cuma berhenti pada kabar baik dihentikannya sementara waktu pembangunan di TEPI BARAT.

Semoga BIBI (Benjamin Netanyahu) mau membiarkan hatinya untuk  senantiasa mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.

Semoga BIBI (Benjamin Netanyahu) masih tetap mengingat, kalimat penutup dalam pidatonya bulan Juni 2009  :

With Gods help, we will know no more war. We will know peace.

https://i2.wp.com/www.lightenupexpo.com/animated-stars3_001.gifhttps://i2.wp.com/www.lightenupexpo.com/animated-stars3_001.gifhttps://i2.wp.com/www.lightenupexpo.com/animated-stars3_001.gif

Address by Prime Minister Benjamin Netanyahu at the Begin-Sadat (BESA) Center for Strategic Studies, Bar-Ilan University (June 14, 2009)

https://i2.wp.com/www.lightenupexpo.com/animated-stars3_001.gifhttps://i2.wp.com/www.lightenupexpo.com/animated-stars3_001.gifhttps://i2.wp.com/www.lightenupexpo.com/animated-stars3_001.gif

Honored guests, citizens of Israel.

Peace has always been our peoples most ardent desire. Our prophets gave the world the vision of peace, we greet one another with wishes of peace, and our prayers conclude with the word peace.

We are gathered this evening in an institution named for two pioneers of peace, Menachem Begin and Anwar Sadat, and we share in their vision.

Two and half months ago, I took the oath of office as the Prime Minister of Israel. I pledged to establish a national unity government – and I did. I believed and I still believe that unity was essential for us now more than ever as we face three immense challenges – the Iranian threat, the economic crisis, and the advancement of peace.

The Iranian threat looms large before us, as was further demonstrated yesterday. The greatest danger confronting Israel, the Middle East, the entire world and human race, is the nexus between radical Islam and nuclear weapons. I discussed this issue with President Obama during my recent visit to Washington, and I will raise it again in my meetings next week with European leaders. For years, I have been working tirelessly to forge an international alliance to prevent Iran from acquiring nuclear weapons.

Confronting a global economic crisis, the government acted swiftly to stabilize Israels economy. We passed a two year budget in the government – and the Knesset will soon approve it.

And the third challenge, so exceedingly important, is the advancement of peace. I also spoke about this with President Obama, and I fully support the idea of a regional peace that he is leading.

I share the Presidents desire to bring about a new era of reconciliation in our region. To this end, I met with President Mubarak in Egypt, and King Abdullah in Jordan, to elicit the support of these leaders in expanding the circle of peace in our region. I turn to all Arab leaders tonight and I say: “Let us meet. Let us speak of peace and let us make peace.” I am ready to meet with you at any time. I am willing to go to Damascus, to Riyadh, to Beirut, to any place- including Jerusalem.

I call on the Arab countries to cooperate with the Palestinians and with us to advance an economic peace. An economic peace is not a substitute for a political peace, but an important element to achieving it. Together, we can undertake projects to overcome the scarcities of our region, like water desalination or to maximize its advantages, like developing solar energy, or laying gas and petroleum lines, and transportation links between Asia, Africa and Europe.

The economic success of the Gulf States has impressed us all and it has impressed me. I call on the talented entrepreneurs of the Arab world to come and invest here and to assist the Palestinians – and us – in spurring the economy. Together, we can develop industrial areas that will generate thousands of jobs and create tourist sites that will attract millions of visitors eager to walk in the footsteps of history – in Nazareth and in Bethlehem, around the walls of Jericho and the walls of Jerusalem, on the banks of the Sea of Galilee and the baptismal site of the Jordan. There is an enormous potential for archeological tourism, if we can only learn to cooperate and to develop it.

I turn to you, our Palestinian neighbors, led by the Palestinian Authority, and I say: Lets begin negotiations immediately without preconditions.

Israel is obligated by its international commitments and expects all parties to keep their commitments. We want to live with you in peace, as good neighbors. We want our children and your children to never again experience war: that parents, brothers and sisters will never again know the agony of losing loved ones in battle; that our children will be able to dream of a better future and realize that dream; and that together we will invest our energies in plowshares and pruning hooks, not swords and spears.

I know the face of war. I have experienced battle. I lost close friends, I lost a brother. I have seen the pain of bereaved families. I do not want war. No one in Israel wants war.

If we join hands and work together for peace, there is no limit to the development and prosperity we can achieve for our two peoples – in the economy, agriculture, trade, tourism and education – most importantly, in providing our youth a better world in which to live, a life full of tranquility, creativity, opportunity and hope.

If the advantages of peace are so evident, we must ask ourselves why peace remains so remote, even as our hand remains outstretched to peace? Why has this conflict continued for more than sixty years?

In order to bring an end to the conflict, we must give an honest and forthright answer to the question: What is the root of the conflict?

In his speech to the first Zionist Conference in Basel, the founder of the Zionist movement, Theodore Herzl, said about the Jewish national home “This idea is so big that we must speak of it only in the simplest terms.” Today, I will speak about the immense challenge of peace in the simplest words possible.

Even as we look toward the horizon, we must be firmly connected to reality, to the truth. And the simple truth is that the root of the conflict was, and remains, the refusal to recognize the right of the Jewish people to a state of their own, in their historic homeland.

In 1947, when the United Nations proposed the partition plan of a Jewish state and an Arab state, the entire Arab world rejected the resolution. The Jewish community, by contrast, welcomed it by dancing and rejoicing. The Arabs rejected any Jewish state, in any borders.

Those who think that the continued enmity toward Israel is a product of our presence in Judea, Samaria and Gaza, is confusing cause and consequence. The attacks against us began in the 1920s, escalated into a comprehensive attack in 1948 with the declaration of Israels independence, continued with the fedayeen attacks in the 1950s, and climaxed in 1967, on the eve of the Six-Day War, in an attempt to tighten a noose around the neck of the State of Israel. All this occurred during the fifty years before a single Israeli soldier ever set foot in Judea and Samaria.

Fortunately, Egypt and Jordan left this circle of enmity. The signing of peace treaties have brought about an end to their claims against Israel, an end to the conflict. But to our regret, this is not the case with the Palestinians. The closer we get to an agreement with them, the further they retreat and raise demands that are inconsistent with a true desire to end the conflict.

Many good people have told us that withdrawal from territories is the key to peace with the Palestinians. Well, we withdrew. But the fact is that every withdrawal was met with massive waves of terror, by suicide bombers and thousands of missiles.

We tried to withdraw with an agreement and without an agreement. We tried a partial withdrawal and a full withdrawal. In 2000 and again last year, Israel proposed an almost total withdrawal in exchange for an end to the conflict, and twice our offers were rejected. We evacuated every last inch of the Gaza strip, we uprooted tens of settlements and evicted of Israelis from their homes, and in response, we received a hail of missiles on our cities, towns and children.

The claim that territorial withdrawals will bring peace with the Palestinians, or at least advance peace, has up till now not stood the test of reality. In addition to this, Hamas in the south, like Hizbullah in the north, repeatedly proclaims their commitment to “liberate” the Israeli cities of Ashkelon, Beersheba, Acre and Haifa.

Territorial withdrawals have not lessened the hatred, and to our regret, Palestinian moderates are not yet ready to say the simple words: Israel is the nation-state of the Jewish people, and it will stay that way.

Achieving peace will require courage and candor from both sides, and not only from the Israeli side. The Palestinian leadership must arise and say: “Enough of this conflict. We recognize the right of the Jewish people to a state of their own in this land, and we are prepared to live beside you in true peace.”

I am yearning for that moment, for when Palestinian leaders say those words to our people and to their people, then a path will be opened to resolving all the problems between our peoples, no matter how complex they may be. Therefore, a fundamental prerequisite for ending the conflict is a public, binding and unequivocal Palestinian recognition of Israel as the nation state of the Jewish people. To vest this declaration with practical meaning, there must also be a clear understanding that the Palestinian refugee problem will be resolved outside Israels borders. For it is clear that any demand for resettling Palestinian refugees within Israel undermines Israels continued existence as the state of the Jewish people.

The Palestinian refugee problem must be solved, and it can be solved, as we ourselves proved in a similar situation. Tiny Israel successfully absorbed tens of thousands of Jewish refugees who left their homes and belongings in Arab countries. Therefore, justice and logic demand that the Palestinian refugee problem be solved outside Israels borders. On this point, there is a broad national consensus. I believe that with goodwill and international investment, this humanitarian problem can be permanently resolved.

So far I have spoken about the need for Palestinians to recognize our rights. In am moment, I will speak openly about our need to recognize their rights. But let me first say that the connection between the Jewish people and the Land of Israel has lasted for more than 3500 years. Judea and Samaria, the places where Abraham, Isaac, and Jacob, David and Solomon, and Isaiah and Jeremiah lived, are not alien to us. This is the land of our forefathers.

The right of the Jewish people to a state in the land of Israel does not derive from the catastrophes that have plagued our people. True, for 2000 years the Jewish people suffered expulsions, pogroms, blood libels, and massacres which culminated in a Holocaust – a suffering which has no parallel in human history. There are those who say that if the Holocaust had not occurred, the state of Israel would never have been established. But I say that if the state of Israel would have been established earlier, the Holocaust would not have occured.

This tragic history of powerlessness explains why the Jewish people need a sovereign power of self-defense. But our right to build our sovereign state here, in the land of Israel, arises from one simple fact: this is the homeland of the Jewish people, this is where our identity was forged.

As Israels first Prime Minister David Ben-Gurion proclaimed in Israels Declaration of Independence: “The Jewish people arose in the land of Israel and it was here that its spiritual, religious and political character was shaped. Here they attained their sovereignty, and here they bequeathed to the world their national and cultural treasures, and the most eternal of books.”

But we must also tell the truth in its entirety: within this homeland lives a large Palestinian community. We do not want to rule over them, we do not want to govern their lives, we do not want to impose either our flag or our culture on them.

In my vision of peace, in this small land of ours, two peoples live freely, side-by-side, in amity and mutual respect. Each will have its own flag, its own national anthem, its own government. Neither will threaten the security or survival of the other. These two realities – our connection to the land of Israel, and the Palestinian population living within it – have created deep divisions in Israeli society. But the truth is that we have much more that unites us than divides us.

I have come tonight to give expression to that unity, and to the principles of peace and security on which there is broad agreement within Israeli society. These are the principles that guide our policy. This policy must take into account the international situation that has recently developed. We must recognize this reality and at the same time stand firmly on those principles essential for Israel.

I have already stressed the first principle – recognition. Palestinians must clearly and unambiguously recognize Israel as the state of the Jewish people.

The second principle is: demilitarization. The territory under Palestinian control must be demilitarized with ironclad security provisions for Israel. Without these two conditions, there is a real danger that an armed Palestinian state would emerge that would become another terrorist base against the Jewish state, such as the one in Gaza. We don want Kassam rockets on Petach Tikva, Grad rockets on Tel Aviv, or missiles on Ben-Gurion airport. We want peace.

In order to achieve peace, we must ensure that Palestinians will not be able to import missiles into their territory, to field an army, to close their airspace to us, or to make pacts with the likes of Hizbullah and Iran. On this point as well, there is wide consensus within Israel. It is impossible to expect us to agree in advance to the principle of a Palestinian state without assurances that this state will be demilitarized. On a matter so critical to the existence of Israel, we must first have our security needs addressed.

Therefore, today we ask our friends in the international community, led by the United States, for what is critical to the security of Israel: Clear commitments that in a future peace agreement, the territory controlled by the Palestinians will be demilitarized: namely, without an army, without control of its airspace, and with effective security measures to prevent weapons smuggling into the territory – real monitoring, and not what occurs in Gaza today. And obviously, the Palestinians will not be able to forge military pacts. Without this, sooner or later, these territories will become another Hamastan. And that we cannot accept.

I told President Obama when I was in Washington that if we could agree on the substance, then the terminology would not pose a problem. And here is the substance that I now state clearly:

If we receive this guarantee regarding demilitirization and Israels security needs, and if the Palestinians recognize Israel as the State of the Jewish people, then we will be ready in a future peace agreement to reach a solution where a demilitarized Palestinian state exists alongside the Jewish state.

Regarding the remaining important issues that will be discussed as part of the final settlement, my positions are known: Israel needs defensible borders, and Jerusalem must remain the united capital of Israel with continued religious freedom for all faiths. The territorial question will be discussed as part of the final peace agreement. In the meantime, we have no intention of building new settlements or of expropriating additional land for existing settlements.

But there is a need to enable the residents to live normal lives, to allow mothers and fathers to raise their children like families elsewhere. The settlers are neither the enemies of the people nor the enemies of peace. Rather, they are an integral part of our people, a principled, pioneering and Zionist public.

Unity among us is essential and will help us achieve reconciliation with our neighbors. That reconciliation must already begin by altering existing realities. I believe that a strong Palestinian economy will strengthen peace.

If the Palestinians turn toward peace – in fighting terror, in strengthening governance and the rule of law, in educating their children for peace and in stopping incitement against Israel – we will do our part in making every effort to facilitate freedom of movement and access, and to enable them to develop their economy. All of this will help us advance a peace treaty between us.

Above all else, the Palestinians must decide between the path of peace and the path of Hamas. The Palestinian Authority will have to establish the rule of law in Gaza and overcome Hamas. Israel will not sit at the negotiating table with terrorists who seek their destruction. Hamas will not even allow the Red Cross to visit our kidnapped soldier Gilad Shalit, who has spent three years in captivity, cut off from his parents, his family and his people. We are committed to bringing him home, healthy and safe.

With a Palestinian leadership committed to peace, with the active participation of the Arab world, and the support of the United States and the international community, there is no reason why we cannot achieve a breakthrough to peace.

Our people have already proven that we can do the impossible. Over the past 61 years, while constantly defending our existence, we have performed wonders.

Our microchips are powering the worlds computers. Our medicines are treating diseases once considered incurable. Our drip irrigation is bringing arid lands back to life across the globe. And Israeli scientists are expanding the boundaries of human knowledge. If only our neighbors would respond to our call – peace too will be in our reach.

I call on the leaders of the Arab world and on the Palestinian leadership, let us continue together on the path of Menahem Begin and Anwar Sadat, Yitzhak Rabin and King Hussein. Let us realize the vision of the prophet Isaiah, who in Jerusalem 2700 years ago said: “nations shall not lift up sword against nation, and they shall learn war no more.”

With Gods help, we will know no more war. We will know peace.

https://i0.wp.com/originaldo.com/folio/yoni-netanyahu-portrait.jpg

<< kembali

Advertisements

March 28, 2010 Posted by | Uncategorized | Comments Off on Menunggu Kabar Baik Selanjutnya Dari Benjamin Netanyahu Demi Perdamaian

Berkata Kepada Benjamin Netanyahu, “Suara Dengarkanlah Aku”

Jakarta 15/6/2009 (KATAKAMI) Pekan lalu, saat kami memuat tulisan “Menanti Sang Prajurit Komando Bernama BENJAMIN NETANYAHU Menepati Janjinya Mewujudkan Perdamaian & Keamanan” yang merespon janji Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa dirinya akan berkomitmen tinggi mewujudkan perdamaian dan keamanan, kami mendapatkan begitu banyak respon yang positif dan semua bermuara pada satu hal yaitu agar Benjamin Netanyahu dan Israel sungguh membuka hati dalam merealisasikan “janji atau komitmen” mewujudkan perdamaian dan keamanan itu, dalam konteks dengan Palestina.

Salah respon yang kami terima adalah dari anggota Komisi I DPR-RI Jeffrey Massey dari Fraksi Partai Damai Sejahtera, yang sunggu berkeyakinan bahwa Benjamin Netanyahu akan menepati janji itu. Namun, seraya berharap juga agar HAMAS tidak terus menerus melakukan provokasi yang bisa membuyarkan upaya dan kesungguhan hati semua pihak untuk merealisasikan perdamaian dan keamanan tersebut.

Berhari-hari menunggu seperti apa sebenarnya visi dan misi Benjamin Netanyahu tentang “potret perdamaian dan keamanan” yang akan dengan kesungguhan hati diwujudkannya disaat ia memangku sebuah jabatan yang sangat prestisius di Israel, akhirnya rasa penasaran itu terjawab.

Minggu 14 Juni 2009 (waktu setempat). Benjamin Netanyahu menyampaikan pidatonya di “Begin-Sadat (BESA) Center for Strategic Studies, Bar-Ilan University, Israel”.

Salah satu bagian dari pidato itu berbunyi sebagai berikut, :In my vision of peace, two peoples live freely, side-by-side, in amity and mutual respect. Each will have its own flag, its own national anthem, its own government”.

Kemudian di bagian penutup pidato itu berbunyi, “I call on the leaders of the Arab world and on the Palestinian leadership, let us continue together on the path of Menahem Begin and Anwar Sadat, Yitzhak Rabin and King Hussein. Let us realize the vision of the prophet Isaiah, who in Jerusalem 2700 years ago said: “nations shall not lift up sword against nation, and they shall learn war no more. With God’s help, we will know no more war. We will know peace”.

Bendera Israel & Palestina

Ya betul, dengan pertolongan Tuhan — tanpa membedakan suku, agama, ras dan golongan — seharusnya memang tak perlu lagi ada PEPERANGAN !

Bahkan Tuhan sendiripun, dengan segala keagungan dan kemuliaan-Nya, pastilah sudah sangat lama menunggu agar umat kesayangan-Nya sungguh mau terdorong, tergerak dan bertindak secara nyata untuk mewujudkan PERDAMAIAN & KEAMANAN itu.

Indahnya kata-kata dalam pidato Benjamin Netanyahu di pertengahan bulan Juni ini, semakin menguatkan secercah harapan yang ada di hati rakyat Palestina dan Israel. Dan sulit untuk tidak mempercayai figur Benjamin Netanyahu, sebab pastilah ia bukan tipikal yang asal ngecap, asal bunyi, asal ngember, dan asal “TEBAR PESONA” untuk mempertontonkan retorika-retorika yang mendunia.

Benjamin Netanyahu tentu tahu konsenkuensi dari sebuah JANJI yang disampaikan dari mulut seorang pemimpin yaitu janji itu haruslah ditepati secepatnya secara baik dan benar. Mengikis semua permusuhan dan peperangan yang gendang kebenciannya sudah menelan begitu banyak korban nyawa, harta, benda dan nilai-nilai kemanusiaan yang paling mendasar.

Sekali lagi, kami mengulangi bahwa korban terbesar dari peperangan yang penuh “keabadian” ini adalah anak-anak dan perempuan.

Sekali lagi, kami mengulangi bahwa kepedihan dari peperangan yang penuh “keabadian” ini adalah berterbangannya nyawa secara sia-sia tanpa ada yang bisa menyatakan dirinya sebagai pemenang yang berhak meraih dan mengangkat piala arogansi yang berkilauan.

Sebab, piala dari peperangan itu tak akan pernah mengeluarkan kilauan yang indah dan memukau semua mata yang memandang. Sebab, piala dalam medan pertempuan adalah piala yang berlumuran darah dan airmata.

Setiap pemimpin dunia di muka bumi ini, terutama yang terkait dalam upaya mendamaikan Israel dan Palestina — termasuk yang secara gigih mendorong berdirinya negara PALESTINA yang merdeka — pasti dengan mudah menyuarakan pidato-pidato yang indah, yaitu pidato yang penuh dengan kata-kata yang berbumbu, bersayap dan berasesori sangat padat.

Sehingga kadang-kadang, orang yang mendengarkan saja sudah kebingungan. Apakah harus mengagumi dan mempercayai pidato itu, atau malah mengutuk dan tidak mempercayai semua rangkaian kata yang seakan-akan sungguh tak bermakna karena terkesn OMDO alias OMONG DOANG.

Tapi semoga, apa yang dipidatokan oleh Benjamin Netanyahu, bukanlah bagian dari pidato yang penuh retorika dan omong kosong berkepanjangan.

Atmosfir kekerasan yang menyelimuti langit di atas Israel dan Palestina, sudah tak bisa menunggu terlalu lama. Sudah tak mungkin dipaksa untuk diam tak bergeming untuk mendengarkan lebih banyak lagi pidato demi pidato dari seluruh pemimpin dunia yang hobi atau kemampuannya cuma berpidato saja dari kejauhan untuk mendorong Israel dan Palestina berdamai.

Apa arti dari seruan-seruan jarak jauh, jika ternyata pada prakteknya di lapangan dentuman bom dan rentetan tembakan masih merajalela di garis terdepan peperangan itu sendiri ?

Itulah sebabnya, meminjam sebuah judul lagu yang sedang “naik daun” di Indonesia ini, ingin rasanya menyampaikan sebuah harapan yang lebih kuat kepada Benjamin Netanyahu & Israel :

“SUARA, DENGARKANLAH AKU … !”

Dengarkanlah aku, dan semua warga dunia yang ingin agar peperangan itu benar-benar dihentikan. Kasihani kami dan semua rakyat disana (di Israel dan Palestina) yang mendambakan agar mubazirnya nyawa yang berterbangan selama ini dalam nafas peperangan yang brutal, segera dihentikan !

Dengarkanlah aku dan semua warga dunia yang ingin agar kehidupan di Israel dan Palestina sungguh berjalan dengan sangat apa adanya yaitu kehidupan yang aman, nyaman, tenteram dan tidak dengan mudah membunuhi siapa saja yang dianggap sebagai lawan atau musuh bebuyutan !

Dengarkanlah aku dan semua warga dunia yang sangat tersayat hatinya bila mendengar atau melihat tayangan-tayangan gambar pada pemberitaan media massa, begitu banyak anak-anak, perempuan, kaum lansia dan rakyat kecil yang tak berdaya menjadi korban keganasan amunisi-amunisi arogansi antar pihak yang bertikai dalam semua lini peperangan di muka bumi ini — khususnya di Israel dan Palestina –.

“Suara, DENGARKANLAH AKU !”

Memang hanya bagian judul yang kami pinjam untuk mewakili kuatnya harapan tentang mendesaknya perdamaian dan keamanan di kawasan Israel dan Palestina.

Tapi bila peperangan itu sungguh diakhiri, tak mustahil lagu yang sangat indah berjudul “SUARA, DENGARKANLAH AKU !” ini bisa dinyanyikan dengan hati yang sangat hidup dan penuh damai oleh siapapun yang ingin saling mencintai dan menjalin tali kasih antar 2 anak manusia yang ada di Israel dan Palestina bila nanti peperangan itu benar-benar diakhiri.

Saling mencintai dalam alam perdamaian yang sesungguhnya dan kesejatian.

Benjamin Netanyahu, DENGARKANLAH AKU, tepati janjimu hai kesatria sejati ! Dan lakukan segala sesuatu yang baik (demi kemanusiaan), untuk KEMULIAAN ALLAH.

Ad Majorem Dei Gloriam.

(ms)

L A M P I R A N :

Menanti Sang Prajurit Komando Bernama BENJAMIN NETANYAHU Menepati Janjinya Mewujudkan Perdamaian & Keamanan

DIMUAT JUGA DI www.KATAKAMINEWS.WORDPRESS.COM & www.THEBLOGOFKATAKAMI.WORDPRESS.COM

Oleh : Mega Simarmata, Pemimpin Redaksi

Jakarta 8/6/2009 (KATAKAMI) Pekan ini, rencananya Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu akan menyampaikan pidato kebijakannya yang akan mencakup masalah perdamaian dan keamanan. Hal itu disampaikannya dalam rapat kabinet di negaranya hari Minggu (7/6/2009) kemarin. Netanyahu menegaskan misi penting kabinetnya untuk meraih perdamaian dengan Palestina dan Negara-Negara Arab.

Atau, tepatnya yang diucapkan oleh Perdana Menteri Netanyahu adalah :

“We want to achieve peace with the Palestinians and with the countries of the Arab world, while attempting to reach maximum understanding with the US and our friends around the world. My aspiration is to achieve a stable peace that rests on a solid foundation of security for the State of Israel and its citizens. Next week, I will make a major diplomatic speech in which I will present the citizens of Israel with our principles for achieving peace and security. Ahead of the speech, I intend to listen to the opinions of the coalition partners and other elements among the Israeli public.”

Sinyalemen dari bapak 3 anak ini, cukup positif dan tentu dinantikan oleh semua pihak.
Tentu saja ini dinantikan karena kebijakan yang akan dijabarkan oleh kabinet baru yang dipimpim Netanyahu ini akan sangat menentukan bagaimana masa depan rekonsiliasi antara Israel dan Palestina.

Kabinet yang dilantik pada 31 Maret 2009 ini, diharapkan oleh semua pihak untuk bisa menjadi motor penggerak yang akan membawa Israel dan Palestina bisa secara nyata bertetangga dengan baik. Walaupun sebenarnya, praktek di lapangan akan sangat sulit.

Berbicara mengenai mengenai Palestina, maka semua pihak harus mengakui bahwa ada “unsur” HAMAS yang sangat radikal didalamnya.

Dan sepanjang tingkat radikalisme HAMAS tak bisa dikendalikan atau mengendalikan diri maka kebijakan-kebijakan yang dibuat sangat positif oleh Israel dan Palestina, akan menjadi sia-sia. Jangan ada lagi provokasi yang disengaja untuk memancing kemarahan atau memicu peperangan. Jangan ada lagi provokasi tak bersahabat lewat dentuman ratusan mortir HAMAS yang menari-nari dalam menggempur ISRAEL di malam Natal, malam sakral yang sangat dihormati oleh Umat Kristiani diseluruh dunia. Akibatnya, pecahlah peperangan sengit yang sangat memedihkan hati semua bangsa didunia ini periode akhir tahun 2008 sampai memasuki minggu-minggu pertama di awal tahun 2009 lalu.

Dan kini, pernyataan dan pengakuan dari Netanyahu bahwa pihaknya siap untuk mewujudkan perdamaian dengan Palestina dan Negara-Negara Arab, adalah poin penting yang harus digaris-bawahi oleh semua pihak. Artinya, dengan menggaris-bawahi itikat baik dari Israel menjalin dan mewujudkan perdamaian tadi, perlu didukung.

Dukungan internasional terhadap “ROAD MAP” atau “PETA JALAN” menuju perdamaian tadi, jangan diimplementasikan lewat tutur kata, perbuatan atau kebijakan yang terkesan menggurui dan memaksa Israel agar sepenuhnya berada dibawah kendali pihak lain diluar kedua belah pihak yang “head to head” berhadap-hadapan di lapangan yaitu Israel dan Palestina.

Bayangkan jika sebuah negara, terlukai martabatnya hanya karena terkesan digurui atau dikendalikan.

Percayakanlah saja bahwa sepenuhnya pernyataan dan pengakuan Kabinet Netanyahu memang akan diwujudkan sebagaimana mestinya.

Netanyahu, berlatar-belakang militer.

Jika membaca rekam jejak perjalanan kariernya, tahun 1967-1972 Netanyahu bergabung menjadi PASUKAN KOMANDO KHUSUS / PASUKAN ELITE ISRAEL (semacam Pasukan Kopassus kalau di Indonesia). Bahkan ia ikut dalam operasi khusus yang membanggakan seperti operasi penyelamatan terhadap pembajakan pesawat Sabena tahun 1972.

Jiwa “Komando” yaitu prajurit sejati yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah misi khusus yang sangat penting, akan tetap terpatri sampai kapanpun dalam diri Netanyahu.

Jiwa “Komando” yaitu prajurit yang dilatih dengan kemampuan khusus yang sangat tinggi dan hebat, tetap diharuskan menghormati dan mengedepankan keselamatan perempuan dan anak-anak.

Disini, Netanyahu tentu menyadari di kedalaman hatinya bahwa jika pertempuran dan perseteruan yang berkepanjangan, berlarut-larut dan tak pernah berkesudahan sepanjang masa, sudah dapat dipastikan hanya akan memperbanyak jumlah korban di pihak sipil yang didalamnya terdapat begitu banyak anak-anak dan perempuan dari kedua belah pihak (Israel dan Palestina).

Tolong, jangan lagi ada peperangan yang sangat berkepanjangan. Dengarkan jerit tangis anak-anak dan perempuan yang menjadi sangat tersiksa dan tercekam dalam api peperangan yang sangat mengerikan. Jangankan untuk mendapatkan mimpi indah dalam tidur di siang atau malam hari, bahkan untuk tidur pun sudah tak ada yang berani jika api peperangan itu berkobar tanpa henti.

Dalam kehidupan di muka bumi ini, semua orang pasti sudah pernah mendengar kalimat indah yang mengatakan bahwa “Surga Berada Di Telapak Kaki Ibu”.

Itu menandakan bahwa kaum perempuan, adalah sentral dari misi perdamaian yang perlu dicapai oleh negara manapun yang berlomba memuntahkan amunisi-amunisi peperangan yang mematikan.

Tetapi, didalam injil juga disebutkan hal lain yang berkaitan dengan surga yaitu anak-anak kecil adalah pihak yang paling diutamakan oleh Surga.

Ini bukan dimaksudkan bahwa setiap pertempuran atau peperangan di belahan manapun didunia ini, sangat sah dan dapat ditolerir jika menembaki pihak musuhnya tetapi ribuan anumisi atau ledakan-ledakan mortir mematikan itu justru menewaskan anak-anak kecil (bahkan bayi).

Pemahamannya justru harus dibalik bahwa dalam kehidupan secara universal, keselamatan anak-anak harus diutamakan dan dikedepankan.

Tanpa bermaksud untuk menyalahkan pihak manapun juga di Israel dan Palestina, cobalah hitung berapa perempuan dan anak-anak yang sudah bertumbangan dan berterbangan nyawanya karena gempuran sengit kalangan bersenjata.

Pidato kebijakan yang akan disampaikan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjadi secercah harapan baru tentang akan terwujudnya perdamaian dan keamanan di Timur Tengah, terutama antara Israel dan Palestina.

Kesatria sejati tidak akan pernah menarik ucapannya, jika ucapan itu telah dikumandangkan secara resmi dan terbuka.

Kesatria sejati tidak akan pernah mengingkari janjinya, jika nafas utama dari janji itu adalah untuk ikut berpartisipasi dalam mewujudkan perdamaian dan keamanan dunia.

Kesatria sejati tidak akan pernah “lagi” menutup mata hati dan mata imannya terhadap perlunya melindungi dan tetap membiarkan anak-anak dan perempuan pada umumnya di kawasan Israel dan Palestina dapat hidup dengan tenteram dan damai (bukan justru hidup dalam belenggu peperangan yang jika salah melangkah sedikit saja, bisa berakibat fatal yaitu tewas tertembus peluru dari dua kubu yang tak henti berperang).

Dan kami sungguh mempercayai bahwa seorang Benjamin Netanyahu adalah kesatria sejati dan prajurit “Komando” yang akan bersungguh-sungguh melaksanakan ucapannya.

Semua pihak tentu menunggu dengan penuh harapan bahwa perdamaian dan keamanan yang sejati itu, bukan sekedar isapan jempol atau angan-angan yang mustahil menjadi kenyataan.

Sepanjang Israel memang satu suara dan satu antara perkataan serta perbuatannya, maka dalam mewujudkan perdamaian dan keamanan itu tak diperlukan banyak campur tangan dari pihak manapun.

Didalam injilpun disebutkan, apa sebenarnya dan bagaimana sesungguhnya yang Tuhan inginkan dari setiap negara atau setiap bangsa di muka bumi ini,

“Sungguh, Alangkah Baiknya & Indahnya, Apabila Saudara-Saudara Diam (Hidup) Bersama Dengan Rukun (Damai)” (Mazmur 133).

Sehingga, dengan segala daya nalar dan logika dari akal sehat yang tetap dimiliki oleh semua anak manusia di muka bumi ini, “janji” untuk mewujudkan perdamaian dan keamanan yang sejati itu dinantikan dari Benjamin Netanyahu.

Just do it and please go for it, Sir !

Prajurit dari PASUKAN ELITE yang sejati, tak akan pernah mengingkari nilai paling hakiki yang ditanamkan dalam jiwa dan raganya bahwa apa yang terbaik baik “rakyat” secara keseluruhan, maka itulah yang terbaik untuk dilakukan.

KOMANDO !!!

(MS)

March 28, 2010 Posted by | Uncategorized | Comments Off on Berkata Kepada Benjamin Netanyahu, “Suara Dengarkanlah Aku”

Itikat Baik Israel Ditampik Hamas, Hei Bebaskanlah Gilad Shalit !

Jakarta 22/5/2010 (KATAKAMI) Dua hari setelah Pemerintah Israel melepaskan dari tahanan salah seorang anggota (bisa juga dibilang salah seorang yang penting di ) HAMAS yaitu Mohammed Abu Tir, ternyata keputusan itu tak mendapat respon yang positif dari pihak Hamas sendiri.

Respon yang seperti apa ?

Ya misalnya karena Israel memang sudah melepaskan anggota Hamas, apa salahnya melepaskan prajurit Israel yaitu GILAD SHALIT yang sudah 4 tahun disekap dan ditawan Hamas.

https://i2.wp.com/cache.daylife.com/imageserve/0fmE4p58YCgt4/610x.jpg

Foto : PM Israel Benjamin Netanyahu bertemu George Mitchell 20 Mei 2010

Mohammed Abu Tir dibebaskan dari tahanan hari Kamis (20/5/2010), bertepatan dengan kunjungan Utusan Khusus AS George Mitchell datang menemui Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Sehingga secara politis, keputusan membebaskan Mohammed Abu Tir itu adalah bagian dari kesungguhan Israel merintis realisasi perdamaian dengan pihak Palestina.

Tentu keputusan untuk membebaskan itu bukanlah keputusan yang mudah bagi Israel.

Sebab konflik antara Israel dan Hamas memang sangat tajam sekali.

Keputusan membebaskan Mohammed Abu Tir juga menjadi sebuah kejutan yang sangat mencengangkan bagi dunia internasional karena beberapa hari sebelum pembebasan itu Hamas kembali berulah dengan mempublikasikan rekaman “wawancara” dengan prajurit Gilad Shalit.

Dipublikasikannya rekaman “wawancara” ini seakan menjadi ejekan (atau sebutlah sindiran) bagi Presiden Rusia Dmitry Medvedev karena baru-baru ini Medvedev menyerukan agar Hamas segera melepaskan prajurit Israel, Gilad Shalit.

Provokasi dari Hamas, sebenarnya juga baru-baru ini terjadi yaitu di penghujung bulan April lalu atau tepatnya tanggal 25 April 2010, Hamas juga telah merilis video animasi yang mengejek Ayahanda dari Gilad Shalit (Noam Shalit) dengan cara membuat animasi bahwa prajurit ini akan MATI.

Israel allows Hamas leader’s daughter to leave Gaza

Hamas Terror Group Mocks Israel With Cartoon of Kidnapped Soldier Shalit (Video)

Di hari yang sama yaitu 25 April 2010 (saat Hamas merilis video animasi yang penuh provokasi untuk Keluarga Noam Shalit), Israel justru membuat keputusan yang sangat mengejutkan yaitu mengizinkan bocah kecil berusia 3 tahun yang merupakan putri dari pejabat Hamas untuk keluar dari Jalur Gaza guna menjalani operasi medis di Yordania. Hal-hal yang sangat kontradiktif seperti ini, sesungguhnya bisa merusak proses perdamaian yang sedang dirintis.

Dengan atau tanpa campur tangan Amerika Serikat, sebenarnya perdamaian itu bisa diwujudkan asal kedua belah memiliki itikat baik dan yang terpenting tidak ada provokasi dari Hamas.

Utusan Khusus AS George Mitchell bolak-balik datang ke Palestina dan Israel dalam beberapa bulan terakhir ini. Aktif sekali kunjungannya.

Dan sekarang jadi mendatangkan tanda tanya besar, untuk apa berkunjung ke Palestina dan Israel seperti layaknya setrikaan ?

https://i0.wp.com/cache.daylife.com/imageserve/0evUf0B0Wk2vZ/610x.jpg

Foto : George Mitchell bertemu Mahmoud Abbas (19 Mei 2010)

Photostream : U.S. Middle East Envoy George Mitchell meets Israel’s Prime Minister Benjamin Netanyahu

Photostream : U.S. Middle East Envoy George Mitchell meets Palestinian President Mahmoud Abbas

Mengapa disebut seperti setrikaan ?

Ya karena kunjungannya bolak balik seperti orang sedang menyetrika pakaian.

Barangkali karena mereka memang sedang disorot dan ditekan oleh banyak pihak untuk mau segera berdamai dan mewujudkan perdamaian itu dengan pihak Palestina, maka pemerintah Israel terus secara sungguh-sungguh menerima kunjungan Utusan Khusus Amerika itu dengan tangan terbuka dan penuh kehangatan.

Sementara orang yang menyaksikan dari kejauhan saja, sudah jenuh.

Datang lagi, datang lagi.

Apakah faktor Amerika, menjadi satu-satunya faktor penentu bisa atau tidaknya perdamaian di Timur Tengah itu terwujud ?

Jika Amerika menjadi satu-satunya faktor penentu, mengapa hubungan antara Amerika dan Israel belakangan ini menjadi terkesan bersitegang dan tak harmonis ?

Jika Amerika menjadi satu-satunya faktor penentu, mengapa pada bulan Maret 2010 lalu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu diperlakukan sangat “hina” oleh Presiden Barack Obama ?

Photostream : Bibi Netanyahu in Washington

Bibi’s Secret Letter to Obama

Saat Netanyahu datang ke Gedung Putih, ia disuruh menunggu di ruangan lain karena mendadak Obama “walkout” dari pembahasan mereka dengan alasan hendak makan malam dengan Ibu Negara AS ?

Jika Amerika menjadi satu-satunya faktor penentu (bisa atau tidaknya perdamaian di Timur Tengah terwujud), mengapa tak pernah samasekali Obama menyerukan kepada Hamas untuk melepaskan prajurit Israel yang ditawan selama 4 tahun terakhir.

https://i0.wp.com/cache.daylife.com/imageserve/01pB9T25u6gi0/x610.jpg

Foto : Presiden Rusia Dmitry Medvedev

Medvedev to Mashaal: Free Gilad Schalit

Padahal Presiden Rusia saja punya atensi yang cukup besar atas seruan kemanusiaan semacam ini.

Tak cuma Rusia, negara lain juga banyak yang sudah menyerukan agar Hamas segera membebaskan Gilad Shalit.

Amerika — khususnya Obama — hanya diam aja.

Entah apa arti sikap tak mau tahu itu.

Entah apa arti sikap “diam” itu.

Silahkan saja Obama tak bergeming dan tak sudi bersuara untuk menekan Hamas membebaskan Gilad Shalit sebab masih cukup banyak yang sangat bersimpati atas masalah ini.

Bayangkan, sudah 4 tahun seorang anak muda ditawan oleh gerombolan Hamas.

Pembebasan Gilad Shalit menjadi salah satu yang sangat dituntut oleh Israel selama ini.

Berbagai kebijakan yang sangat “mengejutkan” dari Pemerintah Israel telah dilakukan selama ini untuk membuka peluang dibebaskannya prajurit mereka itu.

Seperti yang sudah disampaikan tadi, dari mulai mengizinkan putri pejabat Hamas keluar dari Jalur Gaza agar segera dapat menjalani operasi di Yordania, membebaskan 1000 tahanan Hamas di penghujung April lalu, sampai ke pembebasan Mohammaed Abu Tir tanggal 20 Mei lalu.

Lihatlah foto-foto pembebasan dari Mohammed Abu Tir.

https://i2.wp.com/cache.daylife.com/imageserve/08QZbvl0VJe8T/610x.jpg

Foto : Mohammed Abu Tir bertemu keluarganya (20 Mei 2010)

Israel releases jailed Hamas man

Abu Tir ‘Disapproves’ of Shalit’s Imprisonment

Pihak keluarganya begitu histeris dan sangat bahagia.

Bisakah di bayangkan, bagaimana sedihnya perasaan dari Keluarga Gilad Shalit jika melihat foto-foto itu ?

Mereka tentu membayangkan, seandainya saja putra mereka yang dibebaskan maka pasti kebahagiaan itu akan mereka rasakan juga secara nyata. Hanya tinggal beberapa hari lagi, bulan akan segera berganti. Kita akan segera memasuki bulan Juni.

Dan jika nanti kita memasuki bulan Juni, berarti tepat 4 tahun Gilad Shalit di tawan oleh Hamas.

Betapa kuatnya mental dari anak muda yang sangat malang ini. Dia ditawan oleh pihak musuh yang sangat asing bagi dirinya selama bertahun-tahun.

Terpuruk sendiri dalam lokasi penawanannya.

Membayangkan ayah, ibu dan keluarganya di tengah kesendirian yang paling sepi.

Barangkali saat ini, Gilad sudah tak bisa lagi menangis karena airmatanya sudah habis terkuras menunggu pembebasan yang tak kunjung datang.

Foto : Noam Shalit (ayah dari Gilad Shalit) memegang foto sang anak

Gilad yang malang, tentu menunggu keajaiban dari Tuhan.

Keajaiban yang akan mengantarkannya pulang ke tengah keluarga.

Keajaiban yang akan mengantarkannya pulang ke alam bebas penuh kemerdekaan. Semoga upaya-upaya yang bermuara pada pembebasan Gilad Shalit ini terus dilakukan oleh semua pihak — terutama oleh Pemerintah Israel sendiri –.

Semoga tak cuma Presiden Rusia yang secara nyata memberikan dukungan kuat bagi pembebasan seorang anak muda yang malang bernama Gilad Shalit.

Semoga para pemimpin dunia lainnya, mau ikut bersuara menyampaikan seruan pembebasan bagi Gilad.

Bantulah anak muda ini agar dibebaskan dari tempat penawanannya yang sangat tidak berperikemanusiaan.

Izinkan ia pulang.

Bertemu dan memeluk hangat ayah dan ibunya tercinta.

Izinkan ia pulang.

Agar Gilad menjadi manusia merdeka yang tak lagi dirantai oleh belenggu penyiksaan.

Ya, izinkan Gilad Shalit pulang.

Anak muda ini sudah terlalu lama “merantau” dan dipaksa menjadi mahluk terasing di tempat persembunyian bagi lokasi penawanannya selama 4 tahun ini.

Bisa jadi di Palestina, Gilad ditawan.

Tapi bisa juga di sebuah tempat (di luar Palestina), namun Hamas menyembunyikannya disana.

Dimanapun ia ditawan, bukankah waktu yang cukup panjang selama 4 tahun itu adalah sebuah penyiksaan yang sangat memprihatinkan ?

Izinkan, izinkanlah Gilad Shalit pulang.

Sebab pembebasan Gilad mudah-mudahan bisa menjadi salah satu bagian yang bisa mempercepat dan memudahkan realisasi perdamaian antara Israel dan Palestina bisa segera terwujud.

Jangan lagi, penawanan itu menjadi batu sandungan yang bisa menjungkir-balikkan proses damai itu sendiri.

Sebab, rakyat Palestina sendiri pasti sudah sangat mendambakan berdirinya sebuah Negara Palestina yang merdeka dan berdaulat.

Dan berdirinya Negara Palestina yang merdeka dan berdaulat itu hanya bisa diwujudkan jika seluruh proses yang berjalan tidak tersendat-sendat dan diobrak-abrik oleh provokasi pihak manapun.

(MS)

March 25, 2010 Posted by | Uncategorized | Comments Off on Itikat Baik Israel Ditampik Hamas, Hei Bebaskanlah Gilad Shalit !

Obama Elegan Wujudkan Impian Ras Hitam Terbelakang

https://i1.wp.com/webpub.allegheny.edu/employee/e/epallant/Books/images/dreamsfrommyfather.jpg
Jakarta 1/10/2009 (KATAKAMI) Membedah buku yang dituliskan oleh seseorang yang memiliki jabatan sangat bergengsi dan prestisius yaitu Presiden Negara Adidaya, sebenarnya tidak terlalu sulit.

Dreams From My Father. Demikian judul buku yang dipilih Barack Hussein Obama Jr untuk buku karyanya.

Terdiri dari 19 Bab, buku karya Presiden ke-44 AS ini mengisahkan pergulatan hidupnya sebagai seorang keturunan dari ras “hitam” yang selama berabad-abad terpinggirkan dari gegap-gempitanya kehidupan “Barat”.

Karya yang lumayan menarik. Agak berat dan penjabarannya sangat detail terhadap segala sesuatu.

Untunglah kini Barack Hussein Obama Jr menjadi orang nomor satu di AS sehingga buku Dreams From My Father ini dapat menjadi referensi kuat dan luas mengenai siapa dan bagaimana Obama Jr dalam rekam jejak hidupnya didunia yang fana ini.

https://i0.wp.com/vivirlatino.com/i/2008/10/barack-obama-bw.png

Yang membuat terkejut saat awal membaca buku ini adalah bertambahnya pengetahuan tentang latar belakang Obama Jr. Oh, ternyata Presiden AS yang merupakan keturunan Afrika pertama yang menjadi Presiden ini dahulu kala pernah menjadi penulis, pengajar, aktivis dan pengacara.

Ke-empat jenis pekerjaan yang membutuhkan kecerdasan sangat teruji tadi menjadi bagian tak terpisahkan dari masa lalu Obama. Pantas dalam buku karyanya, Obama dapat mengisahkan dengan alur yang cukup rinci.

Tersirat kuat bahwa sejak masa kecilnya, Obama sudah dibentuk menjadi pemikir yang cermat dalam mengamat dan menganalisa situasi, kondisi dan semua permsalahan disekelilingnya.

Dari buku Dreams From My Father ini dapat diketahui bahwa setidaknya ada tiga figur yang sangat kental pengaruhnya dalam memori dan segala rasa pada diri Obama adalah ayah kandungnya (Barack Hussein Obama Sr yang berkewarga-negaraan Kenya – Afrika, dari suku Luo), Stanley Ann Dunham (ibunya) dan Lolo Soetoro (Ayah Tirinya yang berkewarga-negaraan Indonesia).

http://knightleyemma.files.wordpress.com/2008/11/obama_mom.jpg

Tapi diatas semua itu, satu nama yang sangat menonjol pengaruh kuatnya dalam jiwa Obama adalah sang ibu.

“Pada diri kedua puteri saya, setiap hari saya melihat keceriaan Ibu, kemampuannya mengagumi hal-hal. Saya tidak akan menggambarkan lebih jauh betapa dalamnya dukacita saya sepeninggal Ibu. Saya tahu bahwa dia adalah jiwa yang teramat baik dan murah hati yang pernah saya kenal, dan bahwa saya berutang padanya atas hal-hal terbaik yang ada dalam diri saya” (termuat dalam Kata Pengantar).

Obama kecil memang harus mengalami kepahitan dan kegetiran dari perpisahan ayah dan ibunya yang berlatar-belakang budaya berbeda.

Obama kecil harus berpisah dari ayah kandungnya sejak ia berumur 2 tahun (Obama lahir tanggal 4Agustus 1961).

Entah disadari atau tidak oleh Obama bahwa ada sebuah nilai luhur yang ditunjukkan secara jelas, nyata dan kuat oleh sang ibu kepada Obama selaku anak semata wayang dari pernikahannya dengan pria Kenya bernama Barack Hussein Obama.

Ann Dunham begitu rajin, sabar dan terus secara berkesinambungan meneceritakan kepada anak lelaki semata wayangnya tentang siapa dan bagaimana sang ayah.

https://i2.wp.com/images.huffingtonpost.com/gen/11227/thumbs/s-OBAMASMOM-large.jpg

Ann Dunham menanamkan dari kecil kepada anak lelaki kesayangannya bahwa sang ayah adalah ayah yang tetap harus dihormat, disayangi dan dibanggakan.

Dari buku Dreams From My Father ini, Obama mengisahkan bagaimana bentuk-bentuk cerita yang didengarnya dari sang ibu mengenai ayah kandungnya yaitu Obam Sr.

Walau kadang menceritakan sesuatu yang “negatif” tetapi sisi kenegatifan itu adalah sisi humanis yang justru menjadi sangat manis untuk didengar.

Terbukti disini bahwa Ann adalah perempuan yang berhati mulia.

Ia tidak mengajarkan anaknya untuk membenci sang ayah yang telah meninggalkan isteri dan anak semata wayang mereka, hanya demi membela spirit kuat membangun tanah kelahirannya di Afrika. Sebab dalam banyak kejadian, isteri yang kecewa atas keretakan atau kehancuran rumah tangga tak jarang melakukan “brain-wash” atau “cuci otak” kepada anak-anaknya agar menjauhi, membenci dan melupakan sang ayah.

http://nativenotes.files.wordpress.com/2008/06/image007.jpg

“Ayahmu adalah pengemudi yang mobil yang buruk,” ibuku menjelaskan kepadaku. “Dia sering mengemudi di jalur sebelah kiri, sebagaimana orang Inggris mengemudikan mobilnya, dan kalau kau memberi komentar, dia hanya akan menggerutu tentang aturan orang Amerika yang tolol !” (termuat pada halaman 26).

Hehehe. Cara Ann menggambarkan bagaimana sifat dasar dari sang ayah kepada Obama Junior sungguh apa adanya. Tak berisi bahasa hiperbola tetapi mengalir sangat natural. Bahkan, ada kesan yang menggambarkan betapa Ann sangat sulit melepaskan kharisma, pesona dan kebersahajaan mantan suami pertamanya.

Perempuan berkulit putih ini tahu dan hapal luar kepala, apa saja yang menjadi keterbatasan dan kekurangan dari mantan suami pertamanya namun semua itu justru membuat Ann semakin menyimpan rapat nostalgia cinta yang sangat mengesankan itu jauh didasar hatinya.

“Ayahmu bisa agak dominan,” ibuku mengakui dengan senyuman. “Namun pada dasarnya dia hanyalah seseorang yang jujur. Terkadang itu yang membuat kurang kompromis” Ibuku lebih menyukai gambaran yang lebih lembut tentang ayahku (termuat pada halaman 28).

Nafas dari semua bentuk akhlak yang diajarkan Ann Dunham kepada anaknya adalah sifat menghormati orang, kebanggaan yang tak boleh lepas atas latar belakang ras dan budaya, penghormatan terhadap sesama dan nilai-nilai kemanusiaan, serta kuatnya tanggung-jawab untuk membangun atau mempertahankan kehangatan dalam ikatan keluarga inti.

Tuhan sungguh baik karena tidak membiarkan Obama kecil tumbuh menjadi anak yang liar ala produk keluarga “broken home”.

Tuhan sungguh baik karena tak ada mata rantai kehidupan yang lepas atau hilang dari perjalanan panjang Obama dalam kehidupannya.

Jika ada satu bagian dari mata rantai itu yang terlepas maka Ann Dunham sebagai seorang ibu ternyata sangat mampu untuk memastikan mata rantai demi mata rantai dari kehidupan anaknya tetap sambung-menyambung secara baik.

Dan salah satu mata rantai dari kehidupan Obama yang diuraikannya dalam buku Dream From My Father adalah sosok ayah tirinya yaitu Lolo Soetoro dan kisah masa kecilnya saat hidupselama beberapa tahun di Indonesia.

Dalam buku ini akan sangat jelas tergambarkan bagaimana dasar-dasar yang kuat dalam kepribadian Obama yang memiliki kecerdasan luar biasa sehingga ia dimampukan untuk merekam secara baik penggalan demi penggalan dari masa lalunya.

http://patriotsforamerica.files.wordpress.com/2009/07/bo.jpg

“Kami tinggal di Indonesia selama tiga tahun waktu itu, sebagai hasil dari pernikahan ibuku dengan seseorang berkebangsaan Indonesia bernama Lolo, mahasiswa lain yang ditemui ibuku di Universitas Hawaii. Nama lelaki itu berarti “gila” dalam bahasa Hawaii, yang membuat Kakek selalu tertawa geli. Namun, arti nama tersebut tidak sesuai untuk lelak itu karena Lolo memiliki tingkah laku yang baik dan lemah lembut terhadap orang lain. (termuat dalam halaman 53).

Salah satu yang cukup menarik dalam buku ini – sekaligus yang cukup menggelikan – adalah saat Obama mengisahkan bagaimana kakek dan neneknya sangat sibuk membantu persiapan Ann Dunham dan Obama Junior pindah ke Indonesia.

“Toot (yang artinya Tutu atau dalam bahasa Kenya diartikan sebagai panggilan kepada Nenek) masih saja bersikeras agar kami membawa koper yang penuh dengan perbekalan tang, susu bubuk, berkaleng-kaleng sarden. “kau tak pernah tahu mereka itu makan apa,” ujarnya tegas. Ibuku menghela napas, namun Toot memasukkan beberapa kotak permen agar aku lebih membelanya daripada Ibu (termuat dalam halaman 54).

Dan di bagian berikutnya dalam buku ini yang sangat menarik adalah saat Obama menceritakan juga bahwa semasa ia tinggal di Indonesia ini, ia pernah dibuat sampai benjol dilempar oleh teman mainnya yang bercurang curang. Akibat kejadian yang sangat tidak adil pada anak tirinya itu, Lolo Soetoro mengajarkan kepada Obama kecil cara melindungi diri dengan belajar atau latihan TINJU.

http://iwandahnial.files.wordpress.com/2008/11/obama-17.jpg

Dan Obama sangat pintar untuk menjabarkan tentang bagaimana Indonesia berdasarkan refenresi yang diterima oleh Ibunda tercintanya (Ann Dunham).

Dia menduga, semua akan sulit, kehidupan barunya itu. Sebelum meninggalkan Hawaii, dia telah mencoba belajar semua yang dapat diketahuinya tentang INDONESIA : populasinya, kelima terbesar di dunia, dengan ratusan suku dan dialek, sejarah kolonialisme, pertama oleh Belanda selama lebih dari 3 abad kemudian oleh Jepang selama masa PD II yang berusaha mengendalikan banyaknya kandungan minyak, logam dan kayu : perjuangan menuju kemerdekaan setelah perang dan muncul tokoh pejuang pembebasan bernama Soekarno sebagai presiden pertama negara itu (termuat dalam halaman 65).

(INDONESIA) Sebuah negara miskin, belum berkembang, sama sekali asing – hanya itu yang diketahuinya (Ann Dunham, red). Dia bersiap dengan sakit disentri dan demam, mandi air dingin dan berjongkok di lubang di tanah untuk buang air kecil, listrik MATI setiap beberapa pekan, panas dan nyamuk-nyamuk yang tak pernah habis. Sungguh, tak ada yang lain kecuali KETIDAK-NYAMANAN, dan dia tampak lebih tangguh daripada yang tampak, lebih tangguh daripada yang dia sendiri ketahui. Dan betapapun itu adalah bagian yang telah membuatnya tertarik kepada Lolo setelah Barack (Obama Sr) pergi, janji akan sesuatu yang baru dan penting, membantu suaminya membangun kembali negarany di suatu tempat yang ditugaskan dan menantang, jauh dari orangtuanya (termuat dalam halaman 65).

https://i0.wp.com/blogs.abcnews.com/photos/uncategorized/obama_book_nr.jpg

Membaca buku Obama ini menjadi sangat menyentuh hati karena ia menuliskan dengan pikiran, tutur kata dan perasaannya sendiri sebagai seorang anak manusia, tentang bagaimana relasi dirinya dengan orangtua yang sangat dicintai serta dihormatinya.

Kalau boleh menarik kesimpulan dari buku ini adalah Obama ingin berterus terang bahwa ia sungguh telah dapat mewujudkan impian sang ayah yaitu sebagai seorang anak manusia yang datang dari ras terbelakang dan terpinggirkan, Obama mampu menapaki hidup rasa percaya diri dengan jejak langkah yang terbangun dari kepribadian utuh dari sisi moralitas atas hasil didikan sang ibu yang berhati mulia.

Dreams From My Father adalah sebuah kejujuran dalam bertutur dari anak manusia yang mendapatkan nama yang sama persis dengan nama sang ayah.

Dreams From My Father adalah sebuah keterus-terangan dari seorang anak Afrika yang sejak nenek moyangnya terdahulu selalu hidup dalam kepahitan dan kegetiran seputar diskriminasi penuh hinaan dan kemiskinan panjang, ternyata mampu melangkah tegap menunjukkan “dimana sebenarnya ia harus berdiri dan berada”.

Dreams From My Father adalah sebuah keluguan dan kepolosan seorang anak yang tetap dibentuk dan ditumbuhkan sejak dini rasa cinta dan hormat yang abadi kepada orangtua walau didalam dikeluarga terjadi ketidak-harmonisan dan perpisahan yang menyakitkan.

Entah itu Barack Hussein Obama Sr, Stanley Ann Dunham dan kedua orangtua, serta Lolo Soetoro, semuanya pasti merasa sangat bangga dan larut dalam haru yang menyentuh hati terdalam karena “Little Barry” yang dulu memelihara buaya semasa hidup di Indonesia, ternyata kini menjadi seorang yang sangat berarti.

“Little Barry” kini sudah menjadi seorang Presiden dari bangsa yang besar bernama Amerika, tanah leluhur dari garis sang ibu. Dan Amerika jugalah yang menjadi tanah impian bagi kedua ayahnya (ayah kandung dan ayah tirinya) untuk menimba ilmu.

Dan yang barangkali perlu disampaikan kepada Obama terkait buku karyanya ini adalah masih tetap bertahan dan berkutatnya berbagai realita hidup yang kurang nyaman mengenai INDONESIA sampai saat ini.

Disentri. Malaria dan Demam Berdarah. Kemiskinan. Kelaparan di berbagai tempat. Dan, pemadaman listrik yang seenaknya seperti masa kelam di zaman Gerakan 30 September. Jadi, saat Obama kini telah mewujudkan impiannya menjadi kenyataan. Sekarang giliran INDONESIA mewujudkan hal-hal yang terabaikan selama puluhan tahuin.

Agar jangan ada memoar buku dari penulis-penulis berikutnya di tahun-tahun mendatang bahwa semua “hal tak enak” yang bercokol di Indonesia sejak puluhan tahun ini, ternyata masih tetap awet dan langgeng merongrong penderitaan hidup rakyat Indonesia.

(MS)

March 23, 2010 Posted by | Uncategorized | Comments Off on Obama Elegan Wujudkan Impian Ras Hitam Terbelakang

Berantaslah Terorisme, Tapi Jangan Jadi Algojo Dan Minus Tes DNA

https://i0.wp.com/lh4.ggpht.com/_c_n3b2-VfwM/SXykfN_LOYI/AAAAAAAAADo/zvseXsAMJww/DEN+88.jpg

Dulmatin Diumumkan Mati Kok Tanpa Tes DNA, Perlukah Obama Datang ?

Jakarta 11/3/2010 (KATAKAMI) Tentu kita semua pernah mendengar kata, “ALGOJO”. Mendengar istilah Algojo ini saja, bulu kuduk kita rasanya bisa berdiri. Merinding. Ya itu tadi … karena ada rasa takut terhadap kekejaman dan kesadisan sosok Algojo. Lalu apa hubungannya dengan isu terorisme – khususnya kematian gembong teroris Dulmatin — yang kembali diangkat dalam tulisan ini ?Tindakan POLRI (dalam hal ini Detasemen Khusus atau Densus 88 Anti Teror Polri) yang main tembak mati terhadap Dulmatin, dikecam keras oleh Neta S. Pane selaku Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW).

Photo : Neta S. Pane


Lewat wawancaea khusus dengan KATAKAMI.COM Kamis (11/3/2010), Neta S. Pane menilai tindakan Polri main tembak mati dalam penanganan terorisme bisa diibaratkan seperti membawa institusi Polri menjadi algojo atau pengeksekusi.

“Kalau kita lihat kecenderungan POLRI dibawah kepemimpinan Kapolri Bambang Hendarso Danuri, upaya pemberantasan terorisme itu membuat wajah Polri seakan menjadi algojo. Dalam arti, mereka sudah bukan lagi aparat penegak hukum tetapi algojo alis pengeksekusi” kata Neta S. Pane.

Menurutnya, tindakan POLRI ini adalah sebuah pelanggaran Hak Azasi Manusia (HAM).

“POLRI harus ingat bahwa mereka bisa dituduh melakukan pelanggaran HAM berat. Sebab didalam bertugas – walaupun itu dalam menangani terorisme – POLRI harus melaksanakan asas keseimbangan. Bayangkan kalau acara operasi penyerangan itu, satu orang Dulmatin ditembaki oleh belasan orang anggota Densus 88 Anti Teror Polri secara brutal. Itu kan namanya membantai. Tidak sepantasnya POLRI berlaku seperti itu. POLRI kan aparat penegak hukum yang wajib menghormati asas praduga tidak bersalah” lanjut Neta S. Pane.

Neta S. Pane juga mengkritik keras tindakan POLRI yang tidak melakukan Tes DNA terhadap jenazah Dulmatin.

“Mana Tes DNA-nya ? Tidak ada. Tes DNA itu kan tidak bisa dilakukan hanya dalam hitungan detik atau menit. Itu membutuhkan waktu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu.  Kalau mau melaksanakan tugas memberantas teroris, jangan main tembak mati. Tangkap hidup-hidup. Lakukan proses penegakan hukum dan biarkan hakim yang menentukan apakah orang yang ditangkap itu bersalah atau tidak dalam kasus tindak pidana terorisme” ungkap Neta S. Pane.

Neta S. Pane mempertanyakan juga keengganan POLRI menerima uang hadiah yang sempat ditawarkan Pemerintah Amerika Serikat sebesar 10 juta USD untuk pihak manapun yang berhasil menemukan Dulmatin.

“Dulmatin ini kan buronan banyak negara, termasuk Amerika Serikat. Kenapa POLRI sudah buru-buru mengatkaan bahwa mereka tidak mau menerima uang hadiah apapun dari negara lain ? Kalau menurut saya sih, POLRI takut ketahuan kalau misalnya yang dimatikan itu bukan Dulmatin. Kalau Amerika memang akan memberikan uang hadiah jutaan dolar, mereka kan tidak akan tinggal diam. Pasti akan mengecek juga, apakah benar yang ditembak mati itu mayatnya Dulmatin”  tegas Neta S. Pane.

Neta S. Pane menyayangkan sikap tertutup POLRI terkait penembakan misterius terhadap gembong teroris Dulmatin.“Ini kan namanya misterius. Hanya POLRI yang berhak tahu, apakah benar itu mayatnya Dulmatin. Ada negara lain menjanjikan hadiah sangat besar, tidak mau diambil. Katanya POLRI kekurangan anggaran, kok tidak mau menerima uang hadiah ? Ya sebab POLRI takut ketahuan. Kalau didalam operasi ini terdapat banyak kekurangan dan kekeliruan, maka akan membuat kedok POLRI terbuka” pungkas Neta S. Pane.

Photo : Effendi Gazali


Sementara itu dalam kesempatan terpisah lewat wawancara khusus dengan KATAKAMI.COM pada Kamis (11/3/2010) sore di Jakarta, Effendi Gazali selaku Pakar Komunikasi juga mengkritik sikap buru-buru dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan kematian Dulmatin di hadapan parlemen Australia.

“Tindakan Presiden itu kan sama saja dengan menganak-tirikan rakyat Indonesia secara keseluruhan. Lihat saya, diumumkan di luar negeri. Saya malah belum tahu kalau ternyata belum ada Tes DNA terhadap jenazah Dulmatin, ketika Presiden SBY mengumumkan. Sebenarnya jauh lebih baik kalau Presiden sampaikan dulu bahwa beliau sudah menelepon Kapolri. Dan kalimat yang paling tepat digunakan adalah hampir dapat dipastikan teroris Dulmatin yang ditembak mati” kata Effendi Gazali.

Menurutnya, kalimat hampir dapat dipastikan itu adalah kalimat terbaik yang harus digunakan sebab POLRI belum melakukan Tes DNA terhadap Dulmatin.

“Kalau cuma salah seorang anggota keluarga yang ditanyai bahwa ada kemiripan tahi lalat di tubuh jenazah, itu namanya bukan Tes DNA tetapi tes tahi lalat. Tes DNA ya Tes DNA. Lakukan dong Tes DNA untuk memastikan identitas si teroris” lanjut Effendi Gazali.

https://i0.wp.com/matanews.com/wp-content/uploads/ketut-untung-yoga.jpg

Photo : Ketut Yoga dari Humas Polri


Guna mengkonfirmasikan pendapat dan penjelasan dari Pihak POLRI, KATAKAMI.COM menghubungi Humas POLRI.Ketut Yoga dari Humas POLRI mengatakan bahwa tidak benar POLRI bertindak brutal.

“Salah kalau ada yang bilang polisi brutal seperti algojo. Begini, begini, kadang-kadang apa yang dikatakan masyarakat diluar itu … tidak sama dengan situasi di lapangan. Itu kan kontak senjata. Polisi saja baru tahu bahwa itu Dulmatin setelah operasi itu selesai. Sebelumnya kan tidak tahu. Jadi jangan dibilang polisi brutal. Dalam operasi penyergapan itu, posisi polisi sudah terdesak. Pilihannya hanya 2 yaitu ditembak atau menembak” kata Ketut Yoga.

Sementara mengenai kabar tentang adanya hadiah uang jutaan dolar dari pihak Amerika Serikat yang diberlakukan selama ini jika berhasil menemukan Dulmatin, POLRI menganggap hadiah itu tidak tepat jika disampaikan kepada institusi POLRI.

“Hadiah itu kan ditujukan kepada barangsiapa. Polri ini kan bukan barangsiapa, artinya Polri ini institusi. Bukan perorangan. Dan bukan karena Polri takut jika misalnya pihak Amerika ikut memastikan apakah itu mayat Dulmatin atau bukan. Kami hanya mengerjakan tugas dan ini menjadi prestasi institusi” tegas Ketut Yoga.

Gunjang-ganjing penyergapan terorisme dan tudingan kuat tentang adanya brutalisme Polri menangani  kasus-kasus terorisme ini memang harus segera diluruskan.Betul pendapat dari Indonesia Police Watch (IPW).

Polri adalah aparat penegak hukum yang harus menjadi pilar utama penegakan hukum di Indonesia.Tangkap hidup-hidup dan bawa pelaku-pelaku terorisme itu ke muka hukum. Jadi jangan diberlakukan tren pembantaian yang begitu gampang menghilangkan nyawa orang lain.Ingat, Polri harus mengingat ini baik-baik, bahwa siapapun yang ditangkap atas nama terorisme itu, tidak bisa dikatakan sebagai TERORIS (sebelum ada vonis dari Majelis Hakim).

Hormatilah asas praduga tidak bersalah.

Tugas polisi adalah menegakkan hukum.

Dan bukan membantai serta menghilangkan nyawa orang lain seenaknya saja.

Sialnya lagi, sudah nyawa orang dihilangkan, Tes DNA yang wajib dilakukan malah tidak dilakukan.

Memalukan penanganan terorisme yang seperti ini.

Photo : Kapolri BHD bersalaman dengan Presiden SBY


Itulah sebabnya, Neta S. Pane dari Indonesia Police Watch (IPW) mendesak Presiden SBY untuk mengevaluasi kinerja Kapolri BHD.

“Kalau tren yang diberlakukan adalah tren tembak mati, ini sama saja Kapolri BHD menggembar-gemborkan keberhasilan semu. Semua serba euforia. Bikin malu saja. Ingat, polisi itu aparat penegak hukum yang harus menghormati asas praduga bersalah. Jangan main tembak mati ! Dulu zaman Kapolri Jenderal Dai Bahtiar dan Jenderal Sutanto, tidak separah ini penanganan terorisme. Jadi sebaiknya Jenderal Dai Bahtiar dan Jenderal Sutanto mau meluangkan waktu untuk menasehati Kapolri BHD selaku junior mereka ini. Dinasehatilah dulu supaya jangan kebablasan terus. Presiden SBY juga sudah saatnya mengganti Kapolri agar dalam penanganan terorisme itu tidak penuh dengan gunjang-ganjing lagi.” tegas Neta S. Pane.

Terorisme adalah kejahatan kemanusiaan yang menjadi musuh bersama bagi negara-negara manapun didunia.

Sampai akhir zaman, terorisme itu memang harus diperangi dan dibasmi sampai ke akar-akarnya.

Dibasmi bukan berarti dibantai secara brutal dengan peluru-peluru tajam.

Seakan-akan polisi paling berhak menghilangkan nyawa orang lain.

https://i2.wp.com/blog.spinvox.com/wp-content/uploads/2009/11/gavel-judge.jpg

Indonesia ini negara hukum, Bung !

Bukan hutan rimba, jadi jangan seenaknya melakukan brutalisme atas nama terorisme.

Dan satu hal lain, menyiarkan operasi keamanan – dalam hal ini operasi penyergapan terkait terorisme – sangat tidak pantaslah kalau disiarkan secara langsung dengan kategori EKSKLUSIF di sebuah media televisi.

Memalukan sekali ketidak-adilan POLRI memberikan eksklusivitas (kembali) kepada satu media televisi saja.

Hei Polri, anda pikir, Indonesia ini punya nenek moyang anda sehingga anda semua yang berhak menentukan apapun juga yang paling menguntungkan untuk pihak anda ?

Jangan berlakukan diskriminasi terhadap media massa !

https://i0.wp.com/www.nujcec.org/brussels/wp-includes/images/standup1.jpg

Hidup Terus Berputar Gories ….

Diduga Noordin M. Top Atau Gories Mere Yang Kebelet Ingin Ngetop ?

Wartawan Protes Rahasia Negara Dibocorkan Kepada Satu Media Televisi, Kapolri Sutanto Marah & Menegur Keras Densus 88 (Mei 2008)

Periksa Gories Mere Skandal Madrid Korupsi Alat Sadap Israel

Tidak punya etika, jika seluruh media massa diabaikan dan dianak-tirikan – padahal semua media massa punya hak yang sama untuk memperoleh informasi –.

Lagipula, menyiarkan secara langsung sebuah operasi keamanan di media televisi, itu sama juga dengan membocorkan rahasia negara.

Tindakan Polri yang memberikan eksklusivitas pemberitaan di media televisi dalam operasi-operasi penyergapan terorisme adalah LAGU LAMA warisan dari oknum perwira tinggi Polri berinisial GM yang sangat tidak tahu malu selama menangani kasus-kasus terorisme.

Tindakan diskriminasi oknum berinisial GM ini sudah diberi sanksi tegas oleh Kapolri-Kapolri sebelumnya.

Lho, kok sekarang diulangi lagi.

Jadi, singkat kata, lakukanlah introspeksi diri wahai Polri.

Apakah lupa, saat Polri (Tim Anti Teror Polri menembaki secara brutal Pondok Pesantren di Gebang Rejo Poso – Sulawesi Tengah, persis di malam takbiran sehingga membuat situasi keamanan di Poso pada tahun 2006 menjadi panas bergejolak akibat perintah dari Komjen Gories Mere membantai Pondok Pesantren itu atas nama penanganan terorisme ?

https://i0.wp.com/www.indonesiamedia.com/2007/02/early/berta/images/berta/peta_poso_high.gif

Ketika itu, KOMNAS HAM mengirimkan tim khusus untuk mengecek tragedi yang memilukan dan memalukan ini. Bayangkan, menembaki Pondok Pesantren di malam takbiran dan disiarkan langsung di sebuah media televisi.

Masyarakat Sulawesi Tengah secara aklamasi meminta BRIMOB diusir dan dikeluarkan dari wilayah mereka akibat tindakan gegabah itu.

Apakah Polri lupa menembaki secara brutal masyarakat sipil saat melakukan operasi penyerangan di Poso pada pertengahan bulan Januari 2007 yang menewaskan belasan orang masyarakat sipil (tidak ada yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang atau DPO.

Ketika itu, Polri kembali dituding melakukan pelanggaran HAM berat — operasi brutal ini juga atas perintah dari Komjen Gories Mere dari luar negeri. Bayangkan, pejabat yang bertugas dalam Tim Anti Teror bisa memerintahkan sebuah operasi penyerangan dari luar negeri — dimana ia tidak berada di lokasi –.

Ketika itu, KOMNAS HAM turun ke lapangan dan memastikan bahwa memang telah terjadi pelanggaran HAM oleh POLRI.

Apakah lupa, Tim Anti Teror Polri (yang lagi-lagi dipimpin Komjen Gories Mere) menembak paha Abu Dujana di hadapan anaknya yang masih dibawah umur pada bulan Juni 2007 sehingga ketika itu Polri dituding melakukan pelanggaran HAM ?

Apakah sudah lupa juga, saat Tim Anti Teror Polri melaporkan terlebih dahulu keberhasilan menangkap Abu Dujana & Zarkasih (kedua pemimpin organisasi Al Jamaah Al Islamyah) pada bulan Juni 2007 kepada Pemerintah Australia — dan mengabaikan pemerintah Indonesia, sehingga pada saat itu Presiden SBY sangat amat tersinggung ?

Tolong, lakukan evaluasi dan introspeksi diri dalam internal Polri. Jangan lagi gunakan oknum-oknum yang di masa lalu sangat amat bermasalah dalam penanganan terorisme. Sebab oknum-oknum yang bermasalah ini, sangat liar dan terbukti memiliki rekam jejak yang sangat negatif.

Jangan kura-kura perahu. Jangan pura-pura tidak tahu (siapa sebenarnya yang dimaksud).

Polri, kalian adalah aparat penegak hukum yang sangat dibanggakan oleh rakyat Indonesia.

Kalian bukan algojo.

Catat baik-baik dan camkan itu !

Masa lalu yang kelam dalam penanganan terorisme — terutama yang serba penuh brutalisme dan sarat dengan arogansi mengangkangi nilai-nilai HAM – tolong jangan diuilangi lagi. Masak kembali ke masa lalu yang suram.

Tataplah ke depan dan laksanakan tugas secara PROFESIONAL & PROPORSIONAL.

(MS)

March 23, 2010 Posted by | Uncategorized | Comments Off on Berantaslah Terorisme, Tapi Jangan Jadi Algojo Dan Minus Tes DNA

Its Too Late Panggung Heroisme Anti Teror Indonesia, Datangkah Obama ?

DIMUAT JUGA DI KATAKAMI.COM

Berantaslah Terorisme, Tapi Jangan Jadi Algojo Dan Minus Tes DNA

Dulmatin Diumumkan Mati Kok Tanpa Tes DNA, Perlukah Obama Datang ?


Jakarta 13/3/2010 (KATAKAMI) Sungguh mengejutkan dan penuh tanda tanya besar, kabar tentang penundaan kunjungan kenegaraan Presiden Amerika Serikat Barack Obama.

Hal ihwal penundaan itu disampaikan oleh Jurubicara Gedung Putih Robert Gibbs bahwa untuk bisa berkonsentrasi sepenuhnya terhadap urusan domestik Pemerintah Amerika memperjuangkan program reformasi kesehatan (Health Care Reform) maka Presiden Obama memutuskan untuk menunda 3 hari (saja) rencana kunjungannya ke Indonesia, Guam dan Australia.

https://i0.wp.com/nimg.sulekha.com/Others/original700/robert-gibbs-2009-1-27-17-4-23.jpg

Photo : Robert Gibbs

Wawancara Eksklusif Dengan KAPOLRI Jenderal BHD : Wajib Hukumnya Polri Mengamankan Kunjungan Obama

Wahyono : Kami Siap Amankan Jakarta Untuk Kunjungan Obama

Pengumuman Gibss tak cuma berhenti sampai disitu. Gedung Putih juga mengumumkan bahwa Ibu Negara Michelle Obama, serta kedua puteri pasangan Obama & Michelle yaitu Malia Obama dan Sasha Obama dipastikan tidak akan ikut dalam kunjungan ini.

Pengumuman penundaan ini memang erat kaitannya dengan urusan domestik AS seputar Health Care Reform (HCR) tadi.

Tetapi menarik juga untuk mengupas latar belakang sesungguhnya yang bisa jadi ada dalam pertimbangan Presiden Obama. Penundaan ini diumumkan hanya 3 hari setelah Polri dengan gegap gempita mengumumkan penyergapan dan penembakan (sampai mati) terhadap gembong teroris Dulmatin.

Setelah heboh sendiri dengan atraksi dar der dor membunuh dan membantai teroris tadi, kini Polri heboh sendiri dengan LATIHAN ANTI TEROR yang lagi-lagi disiarkan di semua media massa.


https://i0.wp.com/cache.daylife.com/imageserve/095tg2NghpaUQ/610x.jpg

Photo : Latihan Anti Teror Densus 88 POLRI tanggal 13 Maret 2010 di Jakarta

Diduga Noordin M. Top Atau Gories Mere Yang Kebelet Ingin Ngetop ?

Pesan Tulus Nan Sederhana Pada Ustadz Abu Bakar Baasyir

Wah, dari gambar-gambarnya sih kelihatan hebat sekali. Gagah perkasa alias mengundang decak “kagum”.

Pertanyaannya adalah apakah Obama ikut kagum atas kegagah-perkasaan aparat keamanan Indonesia yang seolah mau direpresentasikan lewat gunjang-ganjing penyergapan dan penembakan (sampai mati) terhadap teroris plus LATIHAN ANTI TEROR yang berbunga-bunga gaungnya di media massa ?

Bisakah Presiden Obama percaya setulus-tulusnya atas kegagah-perkasaan aparat keamanan Indonesia tadi, sementara dimana-mana (di sejumlah daerah) aksi unjuk rasa menentang kedatangan Presiden Obama juga sama “gagah perkasanya” menolak yang di ekspresikan dengan menginjak, membakar dan mencabik-cabik foto wajah Presiden Obama.

Tak cuma itu, Presiden Obama juga dituliskan sebagai musuh umat Islam dan layak diusir dari Indonesia.

Betul, Pemerintah Amerika pasti mengetahui bahwa di Indonesia kebebasan menyatakan pendapat di muka umum diatur dalam UU alias diperbolehkan yaitu UU tahun 1998.


Photo : Serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat


Tetapi sebagai sebuah negara adidaya – yang juga sama-sama punya pengalaman sangat buruk terhadap serangan terorisme dari kalangan militan yang sangat radikal – apakah penghinaan, injakan dan ejekan sangat menusuk hati terhadap Kepala Negara mereka itu pantas didiamkan dan disyukuri oleh seluruh perangkat keamanan Amerika ?

Bayangkan kalau Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mau berkunjung ke daerah saja.

Tetapi misalnya disana foto wajah SBY dibakar, diinjak dan dicabik-cabik, apa kira-kira yang akan dilakukan aparat kepolisian ?

Pasti aparat kepolisian mencarikan jalan alternatif (kalau perlu jalan tikus) untuk menjadi jalur lalulintas iring-iringan Kepala Negara.

Lalu polisi di lapangan akan buru-buru mengamankan agar foto SBY tidak diperlakukan seburuk dan sehina itu.

Yang mau disampaikan disini adalah jangan menganggap seorang Obama itu anak lugu dari pelosok desa yang mudah disihir dengan gegap gempitanya aksi-aksi panggung yang disiarkan di media massa tentang kegagah-perkasaan aparat keamanan Indonesia menangani terorisme.

Jangan menganggap bahwa seorang Obama itu adalah anak polos yang bisa dikelabui dengan jualan kecap nomor satu tentang kehebatan memberantas terorisme.

Obama tentu punya kalkukasi tersendiri.

Selain mendapatkan masukan dari semua perangkat keamanan yang dimiliki pemerintahannya, Obama tentu bisa dengan mudah mencari tahu sendiri bagaimana sebenarnya situasi di Indonesia.

Ia fasih berbahasa Indonesia.

Ia tahu cara mengakses sumber-sumber berita di dunia maya (internet) untuk mengetahui apa dan bagaimana perkembangan masalah serta situasi di Indonesia.

Sehingga ia tidak bisa disuguhi laporan-laporan resmi (berbahasa Inggris) yang sedetail-detailnya tentang situasi di Indonesia.

Sebab bisa jadi Obama sendiri mengakses dan membaca sendiri berbagai media massa di Indonesia – yang rata-rata memiliki situs online di dunia maya.

Kita seakan menerapkan standar ganda.

Mengaku hebat memberantas terorisme.

Tetapi melupakan esensi yang paling penting dari perang melawan teror itu sendiri.

Keberhasilan penanganan terorisme itu, bukanlah sebuah keberhasilan kalau hanya dalam hitungan Hari H Jam J (istilah aparat keamanan Indonesia yang maksudnya hari dan jam kedatangan sang tamu), baru semua kelihatan sibuk dar der dor dar der dor membantai sampai mampus siapapun yang dituduh sebagai teroris.


Lho, polisi tidak berhak “menghakimi” siapapun sebagai teroris — dimana karena “penghakiman sepihak” itu maka dianggap POLRI berhak pula menghilangkan nyawa orang-orang yang dituduh tadi secara brutal sehingga ASAS PRADUGA TIDAK BERSALAH yang menjadi jembatan emas menuju penegakan hukum yang setegak-tegaknya menjadi TERABAIKAN !!!

Bersalah atau tidaknya seseorang dalam tindak pidana terorisme, bukan ditentukan oleh POLISI dan JAKSA.

Tetapi wewenang untuk memutuskan itu ada di tangan Majelis Hakim.

Bahkan kalau dengan sombongnya Indonesia gembar-gembor bahwa yang dibantai dan ditembak mati itu adalah gembong teroris Dulmatin, maka pertanyaannya adalah apakah benar yang mati itu adalah Dulmatin ?

Kalau memang benar Dulmatin, mengapa saat kematiannya diumumkan tidak digunakan hasil resmi dari Tes DNA ?

Pakai dong Tes DNA !

Dan di seluruh dunia, hasil dari Tes DNA itu tidak ada yang bisa keluar hasilnya hanya dalam hitungan detik atau jam.

Proses lazim atau standar di seluruh dunia, Tes DNA memakan waktu 3 minggu, atau bila menggunakan metode terbaru saat ini hasilnya baru bisa diperoleh 3 X 24 jam.

Kalau benar itu Dulmatin, kekuatan hukum apa dan kekuatan hukum dari pihak mana yang menegaskan bahwa “Dulmatin” yang di dor sampai mati di Pamulang ini adalah TERORIS ? Sebab belum ada proses hukum yang pernah dijalankan ? Jangankan proses hukum di muka pengadilan. Proses penyidikan oleh aparat kepolisian saja, belum pernah dilakukan.

Tidak ada yang bisa menjamin bahwa itu adalah Dulmatin yang sesungguhnya.


Dan tidak ada yang bisa menjamin bahwa orang yang sudah kadung dibantai sampai mati itu adalah TERORIS, sebab Majelis Hakim di Indonesia ini belum mengetukkan palu keadilannya.

Mari, kita baca rekam jejak seorang Barack Hussein Obama !

Anak tunggal dari pasangan Barack Hussein Obama (Senior) dan Stanley Ann Dunham ini adalah seorang ahli hukum.

Ia bukan politisi kacang goreng. Ia seorang ahli hukum. Ia pernah bekerja sebagai Lawyer (Pengacara).

Artinya, Obama datang dari latar belakang hukum sehingga darah dagingnya adalah darah daging penegak hukum. Obama adalah seorang anak manusia dari kalangan hitam atau BLACK” yang sempat terpinggirkan karena diskriminasi faktor RAS.

Tetapi Tuhan menganugerahkan kepadanya kecerdasan yang sangat sempurna diatas rata-rata.

Dan kecerdasan yang sempurna diatas rata-rata itu jugalah yang mengantarkan “BARRY” Obama ke Gedung Putih lewat pertarungan politik yang tidak mudah.

Ia tentu sepakat bahwa aparat penegak hukum (di seluruh dunia ini) adalah aparat yang harus menghormati asas praduga tidak bersalah.

Tidak ada dalil hukum di muka bumi ini yang berbunyi tentang kewenangan aparat POLISI di negara manapun untuk menghilangnya nyawa manusia berdasarkan hitung-hitungan kasat mata.

Tak suka sama si A, tembak sampai MATI berdarah-darah.

Tak suka sama si B, tembak sampai MATI (juga) sampai mati lebih berdarah-darah.

Si C teroris, tembak. Si D teroris, tembak.

https://i1.wp.com/cache.daylife.com/imageserve/01J59uU0U8aQf/610x.jpg

Photo : Latihan Anti Teror TNI – Polri yang diadakan di Bandara Soekarno Hatta (13/3/2010)

Mudah sekali peluru dimuntahkan atas nama penanganan terorisme.

Sehingga, semangat universal untuk sama-sama memerangi terorisme menjadi terusik. Apakah kegagah-perkasaan memerangi terorisme menjelang kunjungan kenegaraan Presiden Barack Obama ini adalah murni sebagai bagian dari konsistensi pemberantasan teroris atau sekedar “action atau acting” untuk seolah-olah hebat di depan mata Presiden Obama ?

Ya maaf saja kalau ada sinisme seperti ini.

Sangat mustahil mengubah situasi menjadi aman 100 persen karena beberapa hari yang lalu POLRI baru saja “mengklaim” berhasil menangkap dan membasmi sampai mati GEMBONG TERORIS.

Artinya yang mau disampaikan disini, 30 hari pasca pembantaian terhadap “Dulmatin” Indonesia harus siaga satu atas aksi balas dendam.

Serangan balik dari kalangan radikal terorisme, tidak mungkin alias mana mungkin mereka lakukan di lokasi yang penuh dengan kerumuman aparat Densus 88 Anti Teror yang sedang sibuk shooting tayangan televisi dibawah label LATIHAN ANTI TEROR — pasca pembantaian terhadap Dulmatin –.

Dari pemberitaan media massa, mudah sekali diketahui kemana dan dimana jadwal kunjungan Presiden Obama.

Kalau serangan mau dilakukan, tidak perlu harus di Jakarta misalnya.

Bisa dimana saja.

Sebab Presiden Obama tidak cuma mengunjungi ibukota Jakarta.

https://i2.wp.com/cache.daylife.com/imageserve/0bmD7ytfjL8tk/610x.jpg

Photo : Demo anti OBAMA di depan Kedubes AS di Jakarta tanggal 12 Maret 2010

Kalau sekarang mau dikatakan bahwa ancaman teror itu BUKAN DITUJUKAN untuk Presiden Obama, lho semua aksi-aksi unjuk rasa yang ramai-ramai menentang, menghina dan menginjak gambar-gambar wajah Presiden Obama itu adalah bagian dari ancaman.

Bagaimana sih ?

Dikatakan bahwa Obama bukan target ancaman teror.

Tetapi dari dokumentasi gambar, jelas terlihat bahwa Obama ditolak.

Coba tunjukkan, pejabat intelijen dan pejabat militer mana di AMERIKA SERIKAT yang akan sangat gembira luar biasa dan benar-benar percaya diri memberangkatkan KEPALA NEGARA mereka secepat kilat bila pemandangan situasi keamanan di Indonesia tumpang tindih seperti ini.

Saat terjadi serangan teroris di Amerika Serikat tanggal 11 September 2001, apakah 3 hari setelah itu Amerika Serikat bisa dinyatakan AMAN 100 % ?

Saat ini di Indonesia memang tidak ada serangan terorisme, tetapi aparat keamanan Indonesia yaitu DENSUS 88 Anti Teror sudah “memampuskan” alias membantai gembong teroris yang diklaim oleh POLRI atas nama target mereka selama ini yaitu DULMATIN.

Memangnya kelompok garis keras rekan sejawat atau pengikuti gembong teroris yang ditembak mati itu tidak akan dendam — kalau benar yang mati itu gembong teroris ?

Pengamanan bagi seorang Presiden di Amerika, pastilah sangat amat ketat, berlapis dan begitu rumit.

Tidak mungkin mereka sangat lapang dada membiarkan Kepala Negaranya memasuki sebuah wilayah yang dari laporan-laporan resmi di lapangan menunjukkan ada penolakan kuat terhadap Kepala Negara mereka.

https://i1.wp.com/cache.daylife.com/imageserve/0bvs9tSc7v2R5/610x.jpg

Photo : Demo anti OBAMA di depan Kedubes AS tanggal 12 Maret 2010

Singkat kata, semua kehebohan aksi panggung berbau penanganan TERORISME yang sudah sangat hiperbola ini, justru berpotensi kuat membuat Obama tidak percaya.

Walau Obama menyadari bahwa Indonesia adalah penggalan masa lalunya yang sangat istimewa, tetapi pertimbangan yang harus diambil tentang jadi atau tidaknya berkunjung ke Indonesia ini sangat luas sekali. Pertimbangan itu tidak bisa hanya mengandalkan tayangan-tayangan teleivisi dan gambar-gambar tentang HEROISME aparat Densus 88 Anti Teror Polri yang sibuk latihan dengan sangat mengagumkan di layar televisi.

Pertimbangan tentang jadi atau tidaknya Presiden Obama berkunjung ke Indonesia, pastilah mempertimbangkan semua hal yang saling kait terkait antara satu dengan yang lainnya.

Sudah sangat terlambat jika LATIHAN ANTI TEROR yang gegap gempita ini dipamerkan ke hadapan Presiden Obama — bahwa seolah-olah Indonesia AMAN –. Untuk meyakinkan Obama bahwa Indonesia aman, bukan dengan cara seperti ini.

Sudah sangat terlambat jika PESTA PELURU atas nama pemberantasan terorisme dilakukan menjelang Hari H Jam J kedatangan Presiden Obama.

Yes, its too late !

Sudah sangat terlambat semua gunjang ganjing HEROISME ini.

https://i1.wp.com/cache.daylife.com/imageserve/0cV8cnW9nl3oj/610x.jpg

Photo : Demo anti Obama di depan Kedubes AS tanggal 12 Maret 2010

Seluruh perangkat keamanan Presiden Obama pasti sedang bekerja keras menganalisa dan mengevaluasi perkembangan detik demi detik dari semua referensi.

Termasuk dari sumber resmi atau tak resmi.

Yang tertulis atau tidak tertulis.

Kalau boleh berspekulasi, pengumuman penundaan kunjungan yang hanya berselang 3 hari dari jadwal semula — plus pengumuman bahwa Ibu Negara dan kedua anak Obama tidak akan dibawa serta — adalah sinyalemen bahwa Obama menjadi sedikit tidak nyaman dengan situasi keamanan di Indonesia.

Tapi ini hanyalah sebuah spekulasi.

Dan seandainya saja, ada ruang dan waktu untuk menyampaikan ini ke “telinga dan ke dalam hati” Presiden Obama maka yang terbaik disarankan adalah penjadwalan ulang kunjungan kenegaraan ini di waktu-waktu mendatang.

Jangan cuma menunda 3 hari.

Bahkan jika Obama ingin menundanya 3 bulan ke depan, tidak jadi masalah.

Asal, Presiden AS ke-44 ini bisa kembali merasa yakin dan percaya sepenuhnya bahwa itulah saat terbaik datang ke Indonesia.

Tentu, dengan membawa serta Ibu Negara Michelle Obama. Dan kedua buah hati mereka, Malia Obama dan Sasha Obama.


MAWAR SURGA ITU BERNAMA STANLEY ANN DUNHAM

Mengenang Stanley Ann Dunham Obama, Sang Pencinta Seni


Datanglah bersama mereka, Barry.

Jangan cuma sendirian.

Ingatlah juga bahwa di Indonesia ada perwakilan Amerika dan warga negara Amerika yang bekerja dan bermukim disini.

Di Indonesia.

Mereka tentu sangat ingin melihat secara langsung FIRST FAMILY.

Mereka tentu ingin mendengar sapaan suara dan rangkulan dari pasangan Gedung Putih.

Tak cuma dari Sang Presiden.

Tetapi juga dari Ibu Negaranya.

Bawalah mereka.

Tundalah kunjungan ini, tak cuma sekedar 3 hari.

Pikirkanlah kembali, berapa lama penundaan itu.

Asal, kepercayaan tentang situasi keamanan di Indonesia ini bisa benar-benar tertanam di sanubari Presiden Obama — sehingga ia tak perlu mengkuatirkan keselamatan sang isteri dan kedua anak yang sangat amat dicintainya –.

Disaat seluruh agenda resmi dilakukan, toh protokol Indonesia dan Amerika bisa mengatur jadwal-jadwal kunjungan atau kegiatan informal untuk Ibu Negara Michelle Obama bersama kedua puterinya sehingga kesan bahwa ini adalah acara liburan keluarga semata, dapat ditepis dengan sangat elegan.

Jika Obama tidak membawa serta keluarga, kapan lagi mereka bisa datang dan berkunjung ke Indonesia — di tengah ketatnya pengamanan terhadap Keluarga Presiden Amerika ini.

Perkenalkan dan tunjukkanlah kepada mereka, dimana dan bagaimana Indonesia.

http://patriotsforamerica.files.wordpress.com/2009/07/bo.jpg

Photo : Lolo Soetoro, Stanley Ann Dunham, “Barry” Obama & Maya

Tempat dulu, “BARRY” Obama pernah tinggal, bersekolah dan melewati masa kecil yang indah bersama Sang Bunda Tercinta yaitu Stanley Ann Dunham dan adik manis bernama Maya Soetoro.

Indonesia, sesungguhnya menanti dan mengharapkan mereka datang dengan penuh hormat dan nuansa yang sangat penuh dengan atmosfir persahabatan.

(MS)

March 23, 2010 Posted by | Uncategorized | Comments Off on Its Too Late Panggung Heroisme Anti Teror Indonesia, Datangkah Obama ?

Hendarman Supandji: Tunggu Tanggal Mainnya, Jaksa Banding Atau Tidak

http://kabarnet.files.wordpress.com/2009/09/jaksa-kpk.jpg

WAWANCARA EKSKLUSIF

DIMUAT JUGA DI KATAKAMI.COM

Hendarman Supandji : Saya Tidak Perintahkan Antasari Dituntut Mati

Balada Mantan Eselon Dua Yang Salah Tuding Ke Muka Jaksa Agung

https://i2.wp.com/www.myenchantedbrush.com/animated_star.gif

Jakarta 12/2/2010 (KATAKAMI) Pasca dijatuhkannya putusan Majelis Hakim yang menjatuhkan hukuman 18 tahun penjara untuk Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar, Undang Undang memberikan waktu 7 hari kepada masing-masing pihak yaitu pihak Terdakwa dan pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk menentukan sikap apakah akan menempuh upaya hukum selanjutnya di tingkat banding Pengadilan Tinggi.

Untuk mengetahui hal tersebut, Pemimpin Redaksi KATAKAMI.COM Mega Simarmata mendapatkan WAWANCARA EKSKLUSIF dari Jaksa Agung Hendarman Supandji seusai menunaikan sholat Jumat di kantornya, di Kejaksaan Agung, Jumat (12/2/2010).

Dan inilah hasil WAWANCARA EKSKLUSIF kami dengan Jaksa Agung Hendarman Supandji :

Photo : Jaksa Agung Hendarman Supandji, Ketua KPK Tumpak Hatorangan & Kapolri Jenderal BHD

KATAKAMI (K) Terimakasih Pak JA (Jaksa Agung, red) untuk WAWANCARA EKSKLUSIF ini kepada KATAKAMI.COM. Pertanyaan pertama, apakah Pak JA menyaksikan siaran langsung persidangan Pak Antasari hari Kamis (11/2/2010) kemarin dari siaran televisi ?

Hendarman Supandji (HS) : Oh tndak, saya ndak lihat langsung siaran itu sebab saya sedang mengikuti sidang kabinet di Istana Presiden. Jadi saya ndak bisa lihat.

(K) : Jadi, hasil dari persidangan Pak Antasari bahwa beliau divonis 18 tahun penjara oleh Majelis Hakim, Pak JA ketahui dari siapa atau darimana ?

(HS) : Setelah persidangan itu selesai malah. Saya lihat dari televisi, ada komentar dari pengamat-pengamat bahwa Antasari sudah divonis 18 tahun.

(K) Oke, biarpun cuma tahu dari televisi. Apakah sudah ada laporan resmi dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) bahwa hasil persidangan Antasari itu adalah vonis 18 tahun penjara ?

(HS) Belum, laporan secara tertulis belum. Saya baru menerima laporan lisan saja, tadi pagi (Jumat 12/2/2010) yang menemui saya Tim JPU untuk melaporkan secara lisan. Baru itu saja yang dilakukan yaitu melaporkan secara lisan pada saya. Saya terima sebanyak 20 jaksa. Bagaimana mengenai tanggapan dan keputusan hakim. Jaksa menyatakan masih pikir-pikir. Itu sudah protap (prosedur tetap, red). Untuk kasus ini jaksa menyatakan sikap akan berpikir dahulu selama 7 hari. Saya menghormati sikap jaksa tersebut. Karena pada prinsipnya adalah bottom up. Jadi saya sebagai pimpinan, akan menunggu hasil pikir-pikir mereka. Mau banding atau tidak ?

(K) Jadi laporan secara OFFICIAL, laporan resmi secara tertulis belum diterima ya, Pak JA ?

(HS) : Kalau laporan resmi secara tertulis, itu ada tahapannya. Kepala Kejaksaan Negeri dulu membuat laporan kepada Kepala Kejaksaan Tinggi. Baru setelah itu, Kepala Kejaksaan Tinggi membuat laporan tertulis kepada Jaksa Agung. Itu tahapannya. Saya yakin, laporan ini sedang mereka siapkan. Saya tunggu juga laporan resmi mereka mengenai hal ini.

(K) Kami ini kan awam dalam masalah hukum, masyarakat tentu ingin tahu … kalau putusan hakim sudah dijatuhkan seperti saat ini. Tahapan selanjutnya apa ya Pak ?

(HS) Ya sesuai dengan UU saja, masing-masing diberi waktu 7 hari untuk pikir-pikir toh. Nah, si Jaksa ini semua sedang berpikirlah. Mereka sedang pelajari, apa isi putusan hakim. Nanti setelah 7 hari, baru Jaksa menentukan apakah mereka akan mengajukan banding atau kontra memori banding. Saya sendiri belum tahu apa sikap Jaksa. Saya akan terima mereka hari Rabu tanggal 17 Februari nanti untuk mengetahui sikap mereka.

(K) :  Oh begitu Pak ya. Nanti bila memang akan banding apakah sama dengan Tingkat Pertama di Pengadilan Negeri yaitu JPU akan berkesempatan mengajukan TUNTUTAN kepada terdakwa … mengajukan tuntutan MATI juga di tingkat banding seperti di Tingkat Pertama Pengadilan Negeri ?

(HS) Oh ndak begitu kalau di tingkat banding. Nanti kalau banding, Jaksa tidak akan mengajukan tuntutan lagi. Pada tingkat banding, Jaksa hanya akan mempertahankan dalil-dalil dalam penuntutan itu … mengapa Jaksa sampai mengajukan tuntutan MATI ?

(K) Yang terakhir Pak JA,apa harapan Kejaksaan Agung dalam hal penegakan hukum untuk kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen ini ? Pihak keluarga Nasrudin Zulkarnaen menganggap, hakim ini setengah hati memberikan putusan. Kalau memang Antasari tidak bersalah, ya harus divonis bebas dong. Tapi kalau bersalah, hukum seberat-beratnya. Lah, vonis 18 tahun penjara itu, kan vonis setengah hati namanya. Vonis yang tanggung. Bagaimana tanggapan Pak JA ?

(HS) Tunggu tanggal mainnya saja, nanti Jaksa akan menentukan sikap apakah akan banding atau tidak. Pada waktunya nanti, Jaksa akan menentukan sikap … mau banding atau tidak. Disitu kami akan bersikap. Dan yang masyarakat harus tahu, Kejaksaan tidak dendam pada Antasari. Saya sudah sampaikan kepada anda juga toh, dalam wawancara sebelumnya. Kami tidak dendam. Tuntutan MATI itupun bukan dari saya. Tetapi dari Jaksa yang menangani kasus ini. Rentut (rencana tuntutan, red), dari awal diajukan sudah menyebutkan bahwa tuntutan yang paling tepat adalah tuntutan MATI. Bukan yang lain-lain. Dan semua pengajukan tuntutan dari bawah, saya minta untuk dibuat tertulis. Jadi ada buktinya. Bukti bahwa tuntutan ini disampaikan kepada saya resmi dan tertulis. Begitu !

(K) Baiklah Pak JA, terimakasih untuk wawancara eksklusif ini.

(HS) : Ya, terimakasih sama-sama. Eksklusif lagi toh wawancaramu ? (Jaksa Agung tersenyum)

(MS)

March 22, 2010 Posted by | Uncategorized | Comments Off on Hendarman Supandji: Tunggu Tanggal Mainnya, Jaksa Banding Atau Tidak

Sisi Lain Wakapolri Jusuf Manggabarani Berwajah Tanpa Ekspresi

Oleh : MEGA SIMARMATA, Pemimpin Redaksi

DIMUAT JUGA DI KATAKAMI.COM


WAWANCARA EKSKLUSIF Komjen Jusuf Mangga : Tugas Kami Tingkatkan Kesejahteraan

The Rising Star Itu Bernama Jusuf Manggabarani & Pantas Jadi Kapolri

Jakarta 31/1/2010 (KATAKAMI) Ada satu figur yangbisa dibilang cukup menarik “perhatian” di jajaran POLRI.

Figur itu adalah Komjen. Jusuf Manggabarani yang saat ini menjabat sebagai Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Wakapolri).

Sebelumnya, Komjen Jusuf Manggabarani menjabat sebagai Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum).

Mengapa dibilang menarik ?

Bukan karena perawakannya yang tinggi besar. Perwira Tinggi berbintang Aquarius ini memang dikenal bersih, lurus dan berintegritas tinggi.

Komjen Jusuf Manggabarani adalah Angkatan 1975, satu Angkatan dibawah Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri yang berasal dari Angkatan 1974.

Sejak dilantik sebagai Wakapolri tanggal 6 Januari 2010 lalu, baru pada hari Jumat (29/1/2010) siang Pemimpin Redaksi KATAKAMI.COM Mega Simarmata berkesempatan untuk masuk ke ruang kerja Komjen Jusuf Manggabarani yang diangkat menjadi Wakapolri menggantikan Komjen Makbul Padmanegara.

Kesempatan bertemu seusai Komjen Jusuf Manggabarani menjalankan sholat Jumat (29/1/2010) itulah, digunakan untuk WAWANCARA EKSKLUSIF (sudah dimuat di KATAKAMI.COM).

WAWANCARA EKSKLUSIF Komjen Jusuf Mangga : POLRI Tidak Represif Menangani Demo

Tapi ada hal-hal menarik yang sangat disayangkan kalau tidak diceritakan.


Komjen Jusuf Manggabarani adalah ayah dari 4 anak — dimana salah seorang diantaranya ternyata mengikuti jejak SANG AYAH menjadi seorang polisi yaitu anggota Detasemen Khusus 88 Anti Teror Polri –.

“Anak saya yang nomor 3, Edi Sabara Manggabarani namanya, dia anggota Densus 88. Dia lebih suka tinggal di asramanya daripada tinggal bersama saya. Umurnya masih 23 tahun. Tingginya 187 cm. Saya sebagai ayah, tidak tahu kemana atau dimana kegiatan anak saya ini setiap harinya. Eh, tiba-tiba beberapa malam lalu dia muncul di rumah. Dia ketuk kamar tidur saya … dia bilang, Pak … Edi pulang. Saya dan isteri saya terkejut. Saya bilang … Sini masuk nak, darimana saja kau ?. Dia naik ke atas tempat tidur saya. Kami bicara bertiga, saya, isteri saya dan anak saya itu. Dia tinggi sekali. Jauh lebih tinggi dari saya” demikian disampaikan Komjen Jusuf Manggabarani kepada KATAKAMI.COM.

Walau tak tahu dan tak bisa memantau detik demi detik keberadaan anak ketiganya yang menjadi Anggota Densus 88 Anti Teror ini, Komjen Jusuf Manggabarani mengaku justru dengan anak ketiganya inilah ia paling dekat.

“Edi itu tidak bisa ditebak kapan pulang ke rumah. Tapi kalau dia pulang dan bisa menginap sehari atau 2 hari dirumah saya … kami pergi berdua saja. Pakai topi, ransel, lalu naik Angkutan Umum. Ya … ke tempat-tempat alam bebas. Jalan kaki sekian jam. Kalau ada kesempatan seperti itulah, saya bisa punya banyak kesempatan menasehati dia. Kami bicara tentang kehidupan. Sebagai Bapak, saya sampaikan banyak hal yang harus dia ingat sebagai bekal dalam menjalani kehidupannya. Kalau sudah berpergian begitu, pulangnya kami naik Angkutan Umum, tidak ada yang mengenali” kata Komjen Jusuf Manggabarani

“Oh … Bapak masih kuat jalan jauh dan jalan kaki ke alam bebas ?” tanya KATAKAMI.COM.

“Ah kau ini, kau pikir saya tidak kuat ? Saya sering begitu dengan anak saya” jawab Komjen Jusuf Manggabarani.

Wakapolri Jusuf Manggabarani mengisahkan juga bahwa anak ketiganya pernah mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa.

“Ya, itu dia dapatkan bukan karena saya tapi karena dia berprestasi dalam penanganan terorisme bersama Tim Densus 88. Lalu dia bilang … apa Bapak pernah dapat kenaikan pangkat luar biasa ? Saya jawab belum. Saya tahu maksudnya … anak ingin membandingkan dirinya dengan saya. Lalu saya tanya balik, saya bilang … Bapak tidak pernah mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa. Tapi sekarang Bapak tanya … siapa gurumu di dalam hidup ini sehingga kau bisa seperti sekarang ? Dia jawab …. guru saya yang paling berjasa ya BAPAK !” demikian dikatakan Komjen Jusuf Manggabarani.


Figur Komjen Jusuf Manggabarani yang berwajah tanpa ekspresi ini memang sudah dikenal sebagai sosok yang “dingin”.

Beberapa kali dalam tulisan-tulisan di KATAKAMI, memang dicantumkan bahwa Komjen Jusuf Manggabarani berwajah tanpa ekspresi.

“Gara-gara kau tulis wajah saya ini tanpa ekspresi, cucu saya yang umur 6 tahun pernah ikut baca tulisan itu di komputer. Lalu dia bilang … Kakek, Kakek, coba ke sini … aku mau lihat wajahnya Kakek. Iya benar Kek … wajah Kakek memang gak ada ekspresinya. Tapi aku gak takut sama Kakek … Kakek kayak badut. Cucu saya itu ledek saya, dia bikin mulutnya maju untuk meledek saya. Hahaha.” kata Komjen Jusuf Manggabarani tentang sang cucu — si bocah kecil yang sudah diajari kedua orangtua mempelajari 3 bahasa asing –.

Komjen Jusuf Manggabarani mengatakan juga betapa pentingnya peran seorang isteri dalam karier suami.

“Isteri itulah yang akan mendoakan kemanapun suaminya pergi dalam bertugas. Isteri saya dulu Polwan. Dia yang siapkan makanan saya untuk dibawa ke kantor sampai sekarang. Saya orang bugis dan makanan orang Bugis itu kebanyakan ikan” lanjut Komjen Jusuf Manggabarani.

Wakapolri Jusuf Manggabarani menyampaikan juga kekagumannya kepada Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri.


“Pak Kapolri ini hatinya baik. Santun. Saya pernah bilang, Bapak ini kelewat santun. Ada anak buah yang ngomong sembarangan merugikan institusi justru dimaafkan” kata Komjen Jusuf Manggabarani.

Barangkali memang benar sinyalemen Komjen Jusuf Manggabarani tentang ketulusan Kapolri BHD mengayomi anak buahnya dalam institusi POLRI. Sehingga ketika Sang Wakapolri meminta izin untuk bisa menunaikan ibadah UMROH dalam waktu dekat ini, Kapolri BHD mengizinkan.

“Saya lapor kepada Pak Kapolri, mohon diizinkan saya bisa berulang tahun di depan Kabah. Beliau mengizinkan. Jadi nanti pada saat saya berulang tahun tanggal 11 Februari, saya akan berada di Tanah Suci. Dan yang saya bawa dalam rombongan saya adalah anak buah yang selama ini sudah melayani saya dengan setia. Ajudan, supir, tukang kebun. Mereka-mereka ini harus saya hargai” ungkap Komjen Jusuf Manggabarani.

Dan kepada Wakapolri Jusuf Manggabarani ini, jangan tanyakan berapa nomor telepon selular pribadinya. Sebab, ia memang praktis tidak menggunakan nomor khusus. Semua komunikasi dilakukan melalui Ajudan yang sangat dipercayainya yang bernama Tatag.

“Jadi jangan tanya berapa nomor handphone saya. Ada sih ada tapi dipegang Ajudan juga. Nomor itu baru akan saya aktifkan kalau saya memang memerlukannya. Tapi nomor “telepon” saya yang sudah pasti itu adalah 42443” kata Jusuf Mangga.

“Wah, nomor apa itu Pak ?” tanya KATAKAMI.COM

“Kau tidak tahu ya. Itu nomor saya yang menunjukkan berapa rakaat saya sholat 5 waktu dalam sehari. Jadi itulah nomor terpenting saya dalam hidup. Sholat 5 waktu” lanjut Jusuf Mangga.

Banyak hal yang menarik dari sosok Jusuf Manggabarani.

Ia memang dikenal berwajah tanpa ekspresi.

Bahkan ketika melontarkan lelucon atau cerita-cerita yang lucu, wajah Jusuf Mangga tidak berubah samasekali alias tetap “tanpa ekspresi”.

Tetapi bersyukurlah Indonesia memilik seorang aparat penegak hukum yang sebersih dan selurus Jusuf Manggabarani.

Sehingga, tak salah lagi kalau figur Jusuf Manggabarani adalah sosok yang paling pantas dipertimbangkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggantikan Jenderal Bambang Hendarso Danuri – jika memang Presiden menganggap bahwa sudah waktunya dilakukan pergantian pimpinan POLRI –.

Komjen Jusuf Manggabarani, pribadi yang jujur dan tegas.

Komjen Jusuf Manggabarani, pribadi yang relijius dan lurus.

Pribadi yang seperti inilah yang dibutuhkan Indonesia untuk melanjutkan reformasi dan regenerasi di tubuh POLRI.

Walau berwajah “tanpa ekspresi”, Komjen Jusuf Manggabarani adalah salah seorang Bayangkara Negara yang mampu mencuri hati rakyat Indonesia.

Bukan karena dia berwajah tanpa ekspresi.

Tapi karena Komjen Jusuf Manggabarani adalah Bayangkara Sejati.

Dan ia sangat pantas untuk kelak menjadi KAPOLRI.

(MS)

March 22, 2010 Posted by | Uncategorized | Comments Off on Sisi Lain Wakapolri Jusuf Manggabarani Berwajah Tanpa Ekspresi

Mengenang Stanley Ann Dunham Obama, Sang Pencinta Seni

https://i1.wp.com/www.rashid.nl/animation_bday_heaven.gif

MAWAR SURGA ITU BERNAMA STANLEY ANN DUNHAM

PHOTOSTREAM : OBAMA, MALIA & SASHA “Because Your Daddy Loves You”

PHOTOSTREAM : Barack Obama, a life in pictures


Jakarta 19/11/2009 (KATAKAMI) Setelah mengembara keliling Amerika, akhirnya koleksi kain batik milik Almarhumah Stanley Ann Dunham – ibunda Presiden AS Barack Obama – dipamerkan di Indonesia.

Sayang sekali, ternyata pameran ini gagal menyelaraskan agendanya dengan kedatangan dan kehadiran Presiden Obama ke Indonesia. Presiden AS yang ke-44 itu tadinya sempat dijadwalkan datang ke Indonesia pada bulan November ini.

http://triadinugroho.files.wordpress.com/2008/11/barack_obama0.jpg

Namun akhirnya rencana kunjungan Presiden “BARRY” Obama ke Indonesia mengalami penundaan sampai tahun 2010 mendatang.Alasan resminya adalah agar kedua puteri tercintanya yaitu Malia dan Sasha bisa ikut serta ke Indonesia di masa liburan sekolah.

Padahal bisa jadi, Obama yang cerdas ini sedang mengamati dan mencermati secara seksama situasi di Indonesia yang carut marut tidak jelas.

Sebentar mengaku sukses mengatasi terorisme tetapi sebentar kemudian malah terjadi peledakan bom.

Siapa yang sudi datang ke Indonesia jika patut dapat diduga aparat keamanan di Indonesia ini terlibat dalam aksi peledakan bom misalnya ?

Siapa yang sudi datang ke Indonesia jika patut dapat diduga Noordin M Top belum mati tetapi diklaim sudah mati ?

https://i1.wp.com/id.askindonesia.com/wp-content/uploads/2009/06/batik-300x256.jpg

Yang ingin disoroti disini adalah indikasi mengambil hati dan menjilat kepada Presiden Obama dengan cara memamerkan koleksi batik ibundanya yang pernah lama tinggal di Indonesia.

Tak cuma itu, Ann Dunham juga pernah menikah dengan pria Indonesia – Lolo Soetoro – setelah pernikahan pertamanya dengan pria Kenya (Barack Hussein Obama Sr) berakhir.

Bagi Ann Dunham, Indonesia adalah setengah dari jiwanya. Ia tak cuma menjadi sosok manusia Amerika saja. Tetapi didalam diri dan kehidupannya secara total, menyatu 3 budaya dan 3 cinta yang berbaur menjadi satu yaitu budaya dan cinta atas Amerika, Kenya dan Indonesia !

https://i1.wp.com/blog.netkarachi.com/wp-content/uploads/2008/11/obama-family.jpg

Ann Dunham adalah seorang pekerja keras yang berani dan murah hati. Ia mencintai seni dan budaya Indonesia dan negara-negara yang kerap dikunjungi di muka bumi ini.

Ia tak Cuma membantu etnis Kenya atau Jawa semata – walaupun 2 pria yang pernah mengisi hati dan hidupnya berasal dari Kenya dan Jawa. Ia mencintai seni dan budaya secara total yang ada didunia. Ann Dunham adalah seorang perempuan yang berhati mulia sebab ia tak segan membantu kalangan miskin, papa, lemah dan tak berdaya.

Ia ajarkan kepada kedua permata hatinya untuk selalu mengedepank
an dan mengutamakan hal-hal kemanusiaan yang berlandaskan kebenaran dan keadilan.


Ann Dunham tidak menyadari bahwa buah dari semua kebaikan dan kemurahan itu menjadikan dirinya sebagai bagian yang sangat tak terpisahkan dari keindahan dan kesenian hidup yang nyata.

https://i0.wp.com/judicial-inc.biz/86obam18.jpg
Ann Dunham adalah keindahan dan kesenian yang sebenarnya.

Sehingga kami tak yakin, Ann Dunham bahagia bila melihat di dunia ini koleksi batiknya dipamerkan kesana kemari – entah untuk kepentingan apa –.

Sebab bila melihat dari sejarah kehidupannya dulu, Ann Dunham bukanlah tipikal yang suka menjilat kepada kekuasaan atau kekuatan dunia yang orientasinya adalah jabatan serta kepentingan sesaat.

Marilah kita menghormati semua bentuk perjuangan dan kebaikan seseorang secara apa adanya. Jangan karena untuk menjilat atau mengambil hati Presiden Obama, maka koleksi batik almarhumah ibundanya dipamer-pamerkan.

https://i1.wp.com/access.nscpcdn.com/gallery/i/w/wnew_maya_soetoro_ng/maya1.jpg
Obama sendiripun – dan adiknya yaitu Maya Soetoro – tak berhak mengatas-namakan ibu mereka untuk mengizinkan koleksi pribadi di zaman dulu menjadi bahan eksploitasi kepada umum.

Lakukan dan lanjutkanlah semua hal baik yang pernah dilakukan Ann Dunham kepada kalangan miskin, papa, lemah dan tak berdaya jika memang kita ingin menghargai dan memberikan penghormatan yang tulus kepada ibunda Obama ini.

https://i1.wp.com/www.batik.go.id/images/batik_koleksi_ibu_obama.jpg

Jadi bukan dengan cata memamerkan koleksi batik.

Iya kalau koleksinya cuma kain batik. Bagaimana kalau ternyata koleksi Ann Dunham bukan cuma sebatas batik tetapi kain-kain tradisional buatan Indonesia. Misalnya kain songket dan kain-kain tradisional lainnya.

Terjadi diskriminasi dari lembaran sejarah dari kehidupan seseorang yang sudah meninggal dunia. Padahal Ann Dunham adalah sosok yang menentang diskriminasi secara dangkal. Ia ingin tetap adil secara humanis. Ia ingin tetap berdiri diatas semua suka, agama, ras dan golongan. Ia bukan cuma milik satu suku atau satu negara saja.

https://i0.wp.com/graphics8.nytimes.com/images/2008/03/14/us/14obama2.190.jpg

Ann Dunham kini sudah bahagia di surga.

Bisa jadi Ann Dunham sangat tidak ingin nama atau kehidupan dimasa lalunya di eksploitasi hanya untuk sekedar menjadi bagian atau trik mengambil hati serta mencuri perhatian anak-anaknya.

Sekali lagi, jika ingin menghargai dan menghormatinya maka hal yang terbaik yang harus dilakukan adalah meneruskan dan melanjutkan perjuangan serta kegigihannya melakukan hal-hal sosial, budaya dan nilai-nilai kemanusiaan yang berguna bagi sesama.

Animation14.gif roses image by valaria1



Bulan November ini adalah bulan yang sangat spesial untuk Ann Dunham sebab di bulan inilah ia berulang tahun (29 November 1942 – 7 November 1995).

Ann Dunham pantas dikenang secara baik dan manis.

Izinkan segala yang baik dan manis semasa hidup Ann Dunham dulu, tetap melekat di hati siapa saja yang pernah mengenal, dekat dan merasakan langsung segala kebaikannya.

Terutama warga Indonesia yang dulu sempat menerima segala bentuk bantuan dan cinta anda yang tulus.

Selamat ulang tahun Ibu Ann. Happy birthday in heaven.

Terimakasih untuk cinta dan kebaikan anda kepada Indonesia. Percayalah Ibu Ann, anda selalu ada di hati dan kenangan Indonesia.

Selamanya.



MS

March 11, 2010 Posted by | Uncategorized | Comments Off on Mengenang Stanley Ann Dunham Obama, Sang Pencinta Seni

Dulmatin Diumumkan Mati Kok Tanpa Tes DNA, Perlukah Obama Datang ?

https://i1.wp.com/cache.daylife.com/imageserve/0f9L3Fr59Ablm/610x.jpg

Diduga Noordin M. Top Atau Gories Mere Yang Kebelet Ingin Ngetop ?

https://i2.wp.com/www.praedium.com/images/animated%20flashing%20red%20star.gif

Jakarta 09/3/2010 (KATAKAMI) Dar. Der. Dor. Suara tembakan yang belakangan ini terasa gampang sekali diarahkan ke kelompok teroris, membuat kita menjadi bertanya-tanya. Selasa (9/3/2010) gembong teroris DULMATIN alias Joko Pitono (41 tahun) mati dalam operasi penyerangan Polri di Ruko Multiplus Tangerang.

Dan ngomong-ngomong soal teroris, terkesan jadi sangat absurd alias tidak jelas.

Siapa sebenarnya yang dijadikan target ?

Siapa sebenarnya yang jadi teroris ?

Siapa sebenarnya yang dikorbankan ?

Siapa juga yang patut dapat diduga bermain dengan isu terorisme ?

Hanya dalam hitungan hari ke depan, Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama akan datang ke Indonesia.

Dan sebebelum Presiden Obama sekeluarga tiba di Indonesia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat ini melakukan kunjungan kenegaraan ke Australia. Dan dari negeri kangguru itu, Presiden SBY mengumumkan dan mengkonfirmasikan bahwa TERORIS yang mati itu memang benar Dulmatin.

Tahun 2009 lalu, saat berkunjung ke Amerika Serikat Presiden SBY juga mengumumkan kematian TERORIS yaitu Noordin M. Top.

https://i0.wp.com/med.mui.ac.ir/slide/genetic/dna_molecule.gif

Ilustrasi gambar TES DNA

Barangkali Presiden SBY lupa bahwa dirinya bukanlah jurubicara MABES POLRI terkait penanganan kasus-kasus terorisme.

Pengumuman Presiden SBY tentang kematian Dulmatin ini sangat menyalahi ketentuan karena jenazah yang diklaim sebagai Dulmatin belum menjalan proses tes DNA.

Tidak boleh dan tidak bisa main klaim seperti itu kalau belum ada konfirmasi tes DNA. Bikin malu jika seorang Kepala Negara tidak memahami ketentuan-ketentuan dan aturan yang digunakan. Apalagi mengumumkannya di luar negeri. Walaupun misalnya berhasrat untuk membanggakan diri, ikutilah aturan main dan ketentuan yang berlaku.

Jangan asal ngoceh saja. Australia dan seluruh negara didunia juga pasti akan sungkan alias tidak tega mengkomentari kekeliruan Presiden SBY soal pengumuman kematian Dulmatin ini. Tiap negara kan memiliki instansi KEPOLISIAN sebagai mitra kerja MABES POLRI.

Dan pasca gunjang ganjing kematian Dulmatin yang lagi-lagi bagaikan aksi panggung film action (karena full siaran live di televisi) mengundang rasa penasaran di benak kita masing-masing.

Lho, kok menjelang kedatangan Presiden “Barry” Obama, tampaknya situasi keamanan mendadak jadi full teroris ?

Ini ada apa sebenarnya ?

Disana ada teroris.

Disini ada teroris.

Lucu sekali.

Dan untuk yang ketiga kalinya, POLRI mengulangi lagi kebiasaannya mengklaim kematian teroris seperti yang juga pernah terjadi di masa lampau yaitu menyatakan seorang teroris MATI TERTEMBAK pasca operasi penyerangan (raid, red), tanpa pernah sedikitpun membiarkan proses hukum berjalan terhadap gembong-gembong teroris ini.

Pertama Dr Azahari yang diklaim mati tertembak pada bulan November 2005, kemudian Noordin M. Top yang diklaim mati tertembak pada bulan Agustus 2009 dan kini Dulmatin juga diklaim mati tertembak pada hari Selasa (9/3/2010) ini.

Sama halnya, dengan penembakan terhadap gembong mafia narkoba internasional Hans Philip pada tahun 2005.

Secara misterius, Hans Philip mati tertembak secara mengerikan di dalam mobilnya di daerah Bogor (Jawa Barat).

Indonesia memang sangat senang dan dengan tangan terbuka akan menyambut kedatangan Presiden AS Barack Hussein Obama, yang akan membawa serta isteri tercintanya Michelle Obama. Dan kedua putri kesayangan mereka, Malia Obama dan Sasha Obama.

Satu hal yang perlu dipelahari dari latar belakang dan cara-cara Presiden Obama dalam menerapkan prinsip penegakan hukum terkait penegakan terorisme.

https://i0.wp.com/politics.mync.com/wp-content/uploads/2009/01/090121_ap_guantanamo_obama.jpg

Photo : Presiden Barack Obama

Obama sangat tegas dan komit pada penegakan hukum.

Dia menjunjung tinggi asas presumption of innocence atau asas praduga tidak bersalah .

Itulah sebabnya, siapapun juga yang menjadi tahanan Amerika dalam kasus terorisme harus diperlakukan, ditahan dan diadili sesuai ketentuan hukum yang berlaku di Amerika.

Obama tidak menyukai dan secara tegas menolak semua tindak kekerasan yang hendak digunakan sebagai alat pembenaran penanganan kasus-kasus terorisme.

Dia melarang keras kekerasan dalam penyidikan yaitu teknik interogasi WATER BOARDING yang selama ini digunakan untuk memaksa “seseorang” yang diduga teroris untuk mengakui perbuatannya. Dengan cara WATER BOARDING itu, orang akan dibenamkan kepalanya atau disiram dengan air secara bertubi-tubi agar yang bersangkutan menjadi megap-megap serasa mau dekat pada jurang kematian.

Obama secara terang-terangan menyatakan penanganan terorisme harus terus dilanjutkan tetapi tidak (atau jangan) dilakukan secara sangat berlebihan alias membabi buta.

The rule of law.

Ya, penegakan hukum adalah sesuatu yang ditempatkan Obama diatas segala-galanya jika memang ada perbuatan melawan hukum tindak pidana terorisme.

Sehingga, dari latar belakang dan kerasnya cara Obama berprinsip serta mengelola gaya pemerintahannya di bidang penegakan hukum, maka janganlah Indonesia menyuguhkan tingkah polah penanganan terorisme yang penuh gunjang ganjing.

Terlambat kalau hanya dalam 2 minggu sebelum Obama datang, situasi seolah-olah mau dibuat mendadak tidak aman dan ujud-ujud (tiba-tiba, red) berhasil disulap menjadi aman seaman-amannya dari semua bentuk ancaman terorisme.

Untuk pemimpin dunia sekelas Obama, penilaian dan latar belakang yang menyebabkan ia mau datang berkunjung ke Indonesia, tentu sudah sejak  jauh-jauh hari sebelumnya menilai situasi dan keamanan di Indonesia.

Photo : Presiden Obama didampingi Wapres Joe Biden memimpin rapat

Ia punya perangkat keamanan yang sangat kuat, lengkap dan hebat.

Tak mungkin, pemimpin dunia sekelas Obama, buta pengetahuan dan nol besar informasinya terkait perkembangan situasi keamanan ke negara yang akan dikunjunginya.

Sehingga, yang terpenting ingin disampaikan disini, buatlah dan biarkanlah INDONESIA ini memang aman sebagaimana mestinya.

Tak usah dibuat sangat heboh dan penuh dinamika yang tajam dalam kebisingan terorisme.

Sebab, ini beresiko sangat tinggi !

Mengapa dikatakan beresiko sangat tinggi ?

Ya, karena Amerika pasti akan menilai dan segera membahas secara detail perkembangan situasi.

Jika ada gembong teroris dinyatakan MATI TERTEMBAK, maka mungkinkah dalam waktu 14 hari ke depan situasi akan dapat dikendalikan secara 100 persen ?

Apakah tidak diperhitungkan dan tidak diprediksi bahwa kelompok radikal terorisme itu, bisa melakukan aksi balasan dan serangan brutal ke arah objek-objek vital dan kepentingan-kepentingan Amerika disaat Obama datang ?

Ini semua harus diperhitungkan !

http://createdintheattic.files.wordpress.com/2009/08/the-obama-family-dog-bo-t-006.jpg

Photo : Michelle Obama, Malia Obama, Sasha Obama & Barack Obama

Tidak mungkin, Amerika akan membiarkan Kepala Negaranya datang ke sebuah wilayah yang situasi keamanannya sangat riskan dan berbahaya.

Paling tidak, 30 hari menjelang penyergapan dan ditembak matinya gembong teroris maka semua perangkat keamanan harus bersiaga mengamankan semua situasi di tanah air untuk mencegah aksi balasan.

Bagaimana mau mengamankan dan mengantisipasi aksi balasan, sementara Presiden Obama sekeluarga akan datang hanya dalam hitungan hari ke depan ?

Kan lucu itu namanya ….

Marilah semua pihak, menjaga situasi keamanan ini dengan seaman-amannya.

Dan sudah aman, jangan dibuat seolah-olah tidak aman. Itu beresiko sangat tinggi untuk Indonesia dan seluruh rakyatnya.

Itupun beresiko untuk Presiden Obama dan rombongannya yang akan datang ke Indonesia.

https://i1.wp.com/pkonweb.com/wp-content/uploads/2009/05/leon_panettabs.jpg

Photo : Direktur CIA Leon Panetta

Apakah Direktur Dinas Rahasia CIA Leon Panetta dan semua armada intelijennya di Dinas Rahasia CIA, bisa dengan sangat berani dan percaya diri mengatakan secara lantang akan mengatakan kepada Presiden Obama selaku Panglima Tertinggi Militer di Amerika :

SIR, silahkan berkunjung ke Indonedia sebab sekarang situasinya aman 100 persen !

Bagaimana mungkin Dinas Rahasia sekelas CIA bisa mengatakan begitu kalau 14 hari sebelum Presiden Obama datang, ada gembong teroris “yang seolah-olah” dibangkitkan dari tempat persembunyiannya.

Lalu dinyatakan TEWAS TERTEMBAK !

Lho, memangnya sindikat teroris itu Cuma Dulmatin ?

Siapa yang bsia menjamin bahwa Dulmatin adalah pemain tunggal ?

Siapa tahu dia punya 500 cikal bakal teroris yang sudah dilatih sangat hebat untuk melakukan peledakan-peledakan ?

Jadi sekali lagi, tunjukkan dan buktikan bahwa INDONESIA ini memang aman. Aman seaman-amannya. Jangan ada rekayasa. Dan gunjang ganjing yang justru menjadi anti klimaks dari kemampuan aparat keamanan untuk menjaga situasi kamtibmas di tanah air tercinta.

Jadikah Obama datang ?

Perlukah Obama datang ?

Amankah Obama datang ?

Jawaban yang paling tepat saat ini, barangkali adalah … “GAK JANJI DEH !”. Dan khusus untuk pertanyaan, jadikah Obama datang.

Hanya Obama yang bisa menjawab pertanyaan ini. Berminat atau tidak, untuk tetap datang ke Indonesia dengan diplomasi rendah hati untuk menyampaikan ucapan selamat atas KEHEBATAN Indonesia memberantas terorisme.

Padahal … ?

Dan seandainya angin berhembus dari tanah air ini bisa menyampaikan pesan sederhana kepada Presiden Barack Obama maka pesan itu adalah, janganlah dulu datang Barry.

Biarkanlah saja sejenak, Indonesia menikmati gegap gempita menikmati hiruk pikuk kepongahan dalam pemberantasan terorisme yang lagi lagi mengundang tanda tanya besar.

Masih ada masih esok, dimana “Barry” Obama bisa menjadwalkan ulang datang ke Indonesia bila situasi keamanan memang aman dalam arti yang sesungguhnya.

(MS)

March 10, 2010 Posted by | Uncategorized | Comments Off on Dulmatin Diumumkan Mati Kok Tanpa Tes DNA, Perlukah Obama Datang ?