Katakamidotcom News Indonesia

Dulmatin Diumumkan Mati Kok Tanpa Tes DNA, Perlukah Obama Datang ?

https://i1.wp.com/cache.daylife.com/imageserve/0f9L3Fr59Ablm/610x.jpg

Diduga Noordin M. Top Atau Gories Mere Yang Kebelet Ingin Ngetop ?

https://i1.wp.com/www.praedium.com/images/animated%20flashing%20red%20star.gif

Jakarta 09/3/2010 (KATAKAMI) Dar. Der. Dor. Suara tembakan yang belakangan ini terasa gampang sekali diarahkan ke kelompok teroris, membuat kita menjadi bertanya-tanya. Selasa (9/3/2010) gembong teroris DULMATIN alias Joko Pitono (41 tahun) mati dalam operasi penyerangan Polri di Ruko Multiplus Tangerang.

Dan ngomong-ngomong soal teroris, terkesan jadi sangat absurd alias tidak jelas.

Siapa sebenarnya yang dijadikan target ?

Siapa sebenarnya yang jadi teroris ?

Siapa sebenarnya yang dikorbankan ?

Siapa juga yang patut dapat diduga bermain dengan isu terorisme ?

Hanya dalam hitungan hari ke depan, Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama akan datang ke Indonesia.

Dan sebebelum Presiden Obama sekeluarga tiba di Indonesia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat ini melakukan kunjungan kenegaraan ke Australia. Dan dari negeri kangguru itu, Presiden SBY mengumumkan dan mengkonfirmasikan bahwa TERORIS yang mati itu memang benar Dulmatin.

Tahun 2009 lalu, saat berkunjung ke Amerika Serikat Presiden SBY juga mengumumkan kematian TERORIS yaitu Noordin M. Top.

https://i1.wp.com/med.mui.ac.ir/slide/genetic/dna_molecule.gif

Ilustrasi gambar TES DNA

Barangkali Presiden SBY lupa bahwa dirinya bukanlah jurubicara MABES POLRI terkait penanganan kasus-kasus terorisme.

Pengumuman Presiden SBY tentang kematian Dulmatin ini sangat menyalahi ketentuan karena jenazah yang diklaim sebagai Dulmatin belum menjalan proses tes DNA.

Tidak boleh dan tidak bisa main klaim seperti itu kalau belum ada konfirmasi tes DNA. Bikin malu jika seorang Kepala Negara tidak memahami ketentuan-ketentuan dan aturan yang digunakan. Apalagi mengumumkannya di luar negeri. Walaupun misalnya berhasrat untuk membanggakan diri, ikutilah aturan main dan ketentuan yang berlaku.

Jangan asal ngoceh saja. Australia dan seluruh negara didunia juga pasti akan sungkan alias tidak tega mengkomentari kekeliruan Presiden SBY soal pengumuman kematian Dulmatin ini. Tiap negara kan memiliki instansi KEPOLISIAN sebagai mitra kerja MABES POLRI.

Dan pasca gunjang ganjing kematian Dulmatin yang lagi-lagi bagaikan aksi panggung film action (karena full siaran live di televisi) mengundang rasa penasaran di benak kita masing-masing.

Lho, kok menjelang kedatangan Presiden “Barry” Obama, tampaknya situasi keamanan mendadak jadi full teroris ?

Ini ada apa sebenarnya ?

Disana ada teroris.

Disini ada teroris.

Lucu sekali.

Dan untuk yang ketiga kalinya, POLRI mengulangi lagi kebiasaannya mengklaim kematian teroris seperti yang juga pernah terjadi di masa lampau yaitu menyatakan seorang teroris MATI TERTEMBAK pasca operasi penyerangan (raid, red), tanpa pernah sedikitpun membiarkan proses hukum berjalan terhadap gembong-gembong teroris ini.

Pertama Dr Azahari yang diklaim mati tertembak pada bulan November 2005, kemudian Noordin M. Top yang diklaim mati tertembak pada bulan Agustus 2009 dan kini Dulmatin juga diklaim mati tertembak pada hari Selasa (9/3/2010) ini.

Sama halnya, dengan penembakan terhadap gembong mafia narkoba internasional Hans Philip pada tahun 2005.

Secara misterius, Hans Philip mati tertembak secara mengerikan di dalam mobilnya di daerah Bogor (Jawa Barat).

Indonesia memang sangat senang dan dengan tangan terbuka akan menyambut kedatangan Presiden AS Barack Hussein Obama, yang akan membawa serta isteri tercintanya Michelle Obama. Dan kedua putri kesayangan mereka, Malia Obama dan Sasha Obama.

Satu hal yang perlu dipelahari dari latar belakang dan cara-cara Presiden Obama dalam menerapkan prinsip penegakan hukum terkait penegakan terorisme.

https://i1.wp.com/politics.mync.com/wp-content/uploads/2009/01/090121_ap_guantanamo_obama.jpg

Photo : Presiden Barack Obama

Obama sangat tegas dan komit pada penegakan hukum.

Dia menjunjung tinggi asas presumption of innocence atau asas praduga tidak bersalah .

Itulah sebabnya, siapapun juga yang menjadi tahanan Amerika dalam kasus terorisme harus diperlakukan, ditahan dan diadili sesuai ketentuan hukum yang berlaku di Amerika.

Obama tidak menyukai dan secara tegas menolak semua tindak kekerasan yang hendak digunakan sebagai alat pembenaran penanganan kasus-kasus terorisme.

Dia melarang keras kekerasan dalam penyidikan yaitu teknik interogasi WATER BOARDING yang selama ini digunakan untuk memaksa “seseorang” yang diduga teroris untuk mengakui perbuatannya. Dengan cara WATER BOARDING itu, orang akan dibenamkan kepalanya atau disiram dengan air secara bertubi-tubi agar yang bersangkutan menjadi megap-megap serasa mau dekat pada jurang kematian.

Obama secara terang-terangan menyatakan penanganan terorisme harus terus dilanjutkan tetapi tidak (atau jangan) dilakukan secara sangat berlebihan alias membabi buta.

The rule of law.

Ya, penegakan hukum adalah sesuatu yang ditempatkan Obama diatas segala-galanya jika memang ada perbuatan melawan hukum tindak pidana terorisme.

Sehingga, dari latar belakang dan kerasnya cara Obama berprinsip serta mengelola gaya pemerintahannya di bidang penegakan hukum, maka janganlah Indonesia menyuguhkan tingkah polah penanganan terorisme yang penuh gunjang ganjing.

Terlambat kalau hanya dalam 2 minggu sebelum Obama datang, situasi seolah-olah mau dibuat mendadak tidak aman dan ujud-ujud (tiba-tiba, red) berhasil disulap menjadi aman seaman-amannya dari semua bentuk ancaman terorisme.

Untuk pemimpin dunia sekelas Obama, penilaian dan latar belakang yang menyebabkan ia mau datang berkunjung ke Indonesia, tentu sudah sejak  jauh-jauh hari sebelumnya menilai situasi dan keamanan di Indonesia.

Photo : Presiden Obama didampingi Wapres Joe Biden memimpin rapat

Ia punya perangkat keamanan yang sangat kuat, lengkap dan hebat.

Tak mungkin, pemimpin dunia sekelas Obama, buta pengetahuan dan nol besar informasinya terkait perkembangan situasi keamanan ke negara yang akan dikunjunginya.

Sehingga, yang terpenting ingin disampaikan disini, buatlah dan biarkanlah INDONESIA ini memang aman sebagaimana mestinya.

Tak usah dibuat sangat heboh dan penuh dinamika yang tajam dalam kebisingan terorisme.

Sebab, ini beresiko sangat tinggi !

Mengapa dikatakan beresiko sangat tinggi ?

Ya, karena Amerika pasti akan menilai dan segera membahas secara detail perkembangan situasi.

Jika ada gembong teroris dinyatakan MATI TERTEMBAK, maka mungkinkah dalam waktu 14 hari ke depan situasi akan dapat dikendalikan secara 100 persen ?

Apakah tidak diperhitungkan dan tidak diprediksi bahwa kelompok radikal terorisme itu, bisa melakukan aksi balasan dan serangan brutal ke arah objek-objek vital dan kepentingan-kepentingan Amerika disaat Obama datang ?

Ini semua harus diperhitungkan !

http://createdintheattic.files.wordpress.com/2009/08/the-obama-family-dog-bo-t-006.jpg

Photo : Michelle Obama, Malia Obama, Sasha Obama & Barack Obama

Tidak mungkin, Amerika akan membiarkan Kepala Negaranya datang ke sebuah wilayah yang situasi keamanannya sangat riskan dan berbahaya.

Paling tidak, 30 hari menjelang penyergapan dan ditembak matinya gembong teroris maka semua perangkat keamanan harus bersiaga mengamankan semua situasi di tanah air untuk mencegah aksi balasan.

Bagaimana mau mengamankan dan mengantisipasi aksi balasan, sementara Presiden Obama sekeluarga akan datang hanya dalam hitungan hari ke depan ?

Kan lucu itu namanya ….

Marilah semua pihak, menjaga situasi keamanan ini dengan seaman-amannya.

Dan sudah aman, jangan dibuat seolah-olah tidak aman. Itu beresiko sangat tinggi untuk Indonesia dan seluruh rakyatnya.

Itupun beresiko untuk Presiden Obama dan rombongannya yang akan datang ke Indonesia.

https://i1.wp.com/pkonweb.com/wp-content/uploads/2009/05/leon_panettabs.jpg

Photo : Direktur CIA Leon Panetta

Apakah Direktur Dinas Rahasia CIA Leon Panetta dan semua armada intelijennya di Dinas Rahasia CIA, bisa dengan sangat berani dan percaya diri mengatakan secara lantang akan mengatakan kepada Presiden Obama selaku Panglima Tertinggi Militer di Amerika :

SIR, silahkan berkunjung ke Indonedia sebab sekarang situasinya aman 100 persen !

Bagaimana mungkin Dinas Rahasia sekelas CIA bisa mengatakan begitu kalau 14 hari sebelum Presiden Obama datang, ada gembong teroris “yang seolah-olah” dibangkitkan dari tempat persembunyiannya.

Lalu dinyatakan TEWAS TERTEMBAK !

Lho, memangnya sindikat teroris itu Cuma Dulmatin ?

Siapa yang bsia menjamin bahwa Dulmatin adalah pemain tunggal ?

Siapa tahu dia punya 500 cikal bakal teroris yang sudah dilatih sangat hebat untuk melakukan peledakan-peledakan ?

Jadi sekali lagi, tunjukkan dan buktikan bahwa INDONESIA ini memang aman. Aman seaman-amannya. Jangan ada rekayasa. Dan gunjang ganjing yang justru menjadi anti klimaks dari kemampuan aparat keamanan untuk menjaga situasi kamtibmas di tanah air tercinta.

Jadikah Obama datang ?

Perlukah Obama datang ?

Amankah Obama datang ?

Jawaban yang paling tepat saat ini, barangkali adalah … “GAK JANJI DEH !”. Dan khusus untuk pertanyaan, jadikah Obama datang.

Hanya Obama yang bisa menjawab pertanyaan ini. Berminat atau tidak, untuk tetap datang ke Indonesia dengan diplomasi rendah hati untuk menyampaikan ucapan selamat atas KEHEBATAN Indonesia memberantas terorisme.

Padahal … ?

Dan seandainya angin berhembus dari tanah air ini bisa menyampaikan pesan sederhana kepada Presiden Barack Obama maka pesan itu adalah, janganlah dulu datang Barry.

Biarkanlah saja sejenak, Indonesia menikmati gegap gempita menikmati hiruk pikuk kepongahan dalam pemberantasan terorisme yang lagi lagi mengundang tanda tanya besar.

Masih ada masih esok, dimana “Barry” Obama bisa menjadwalkan ulang datang ke Indonesia bila situasi keamanan memang aman dalam arti yang sesungguhnya.

(MS)

March 10, 2010 - Posted by | Uncategorized

Sorry, the comment form is closed at this time.

%d bloggers like this: