Katakamidotcom News Indonesia

Hendarman Supandji: Tunggu Tanggal Mainnya, Jaksa Banding Atau Tidak

http://kabarnet.files.wordpress.com/2009/09/jaksa-kpk.jpg

WAWANCARA EKSKLUSIF

DIMUAT JUGA DI KATAKAMI.COM

Hendarman Supandji : Saya Tidak Perintahkan Antasari Dituntut Mati

Balada Mantan Eselon Dua Yang Salah Tuding Ke Muka Jaksa Agung

https://i2.wp.com/www.myenchantedbrush.com/animated_star.gif

Jakarta 12/2/2010 (KATAKAMI) Pasca dijatuhkannya putusan Majelis Hakim yang menjatuhkan hukuman 18 tahun penjara untuk Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar, Undang Undang memberikan waktu 7 hari kepada masing-masing pihak yaitu pihak Terdakwa dan pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk menentukan sikap apakah akan menempuh upaya hukum selanjutnya di tingkat banding Pengadilan Tinggi.

Untuk mengetahui hal tersebut, Pemimpin Redaksi KATAKAMI.COM Mega Simarmata mendapatkan WAWANCARA EKSKLUSIF dari Jaksa Agung Hendarman Supandji seusai menunaikan sholat Jumat di kantornya, di Kejaksaan Agung, Jumat (12/2/2010).

Dan inilah hasil WAWANCARA EKSKLUSIF kami dengan Jaksa Agung Hendarman Supandji :

Photo : Jaksa Agung Hendarman Supandji, Ketua KPK Tumpak Hatorangan & Kapolri Jenderal BHD

KATAKAMI (K) Terimakasih Pak JA (Jaksa Agung, red) untuk WAWANCARA EKSKLUSIF ini kepada KATAKAMI.COM. Pertanyaan pertama, apakah Pak JA menyaksikan siaran langsung persidangan Pak Antasari hari Kamis (11/2/2010) kemarin dari siaran televisi ?

Hendarman Supandji (HS) : Oh tndak, saya ndak lihat langsung siaran itu sebab saya sedang mengikuti sidang kabinet di Istana Presiden. Jadi saya ndak bisa lihat.

(K) : Jadi, hasil dari persidangan Pak Antasari bahwa beliau divonis 18 tahun penjara oleh Majelis Hakim, Pak JA ketahui dari siapa atau darimana ?

(HS) : Setelah persidangan itu selesai malah. Saya lihat dari televisi, ada komentar dari pengamat-pengamat bahwa Antasari sudah divonis 18 tahun.

(K) Oke, biarpun cuma tahu dari televisi. Apakah sudah ada laporan resmi dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) bahwa hasil persidangan Antasari itu adalah vonis 18 tahun penjara ?

(HS) Belum, laporan secara tertulis belum. Saya baru menerima laporan lisan saja, tadi pagi (Jumat 12/2/2010) yang menemui saya Tim JPU untuk melaporkan secara lisan. Baru itu saja yang dilakukan yaitu melaporkan secara lisan pada saya. Saya terima sebanyak 20 jaksa. Bagaimana mengenai tanggapan dan keputusan hakim. Jaksa menyatakan masih pikir-pikir. Itu sudah protap (prosedur tetap, red). Untuk kasus ini jaksa menyatakan sikap akan berpikir dahulu selama 7 hari. Saya menghormati sikap jaksa tersebut. Karena pada prinsipnya adalah bottom up. Jadi saya sebagai pimpinan, akan menunggu hasil pikir-pikir mereka. Mau banding atau tidak ?

(K) Jadi laporan secara OFFICIAL, laporan resmi secara tertulis belum diterima ya, Pak JA ?

(HS) : Kalau laporan resmi secara tertulis, itu ada tahapannya. Kepala Kejaksaan Negeri dulu membuat laporan kepada Kepala Kejaksaan Tinggi. Baru setelah itu, Kepala Kejaksaan Tinggi membuat laporan tertulis kepada Jaksa Agung. Itu tahapannya. Saya yakin, laporan ini sedang mereka siapkan. Saya tunggu juga laporan resmi mereka mengenai hal ini.

(K) Kami ini kan awam dalam masalah hukum, masyarakat tentu ingin tahu … kalau putusan hakim sudah dijatuhkan seperti saat ini. Tahapan selanjutnya apa ya Pak ?

(HS) Ya sesuai dengan UU saja, masing-masing diberi waktu 7 hari untuk pikir-pikir toh. Nah, si Jaksa ini semua sedang berpikirlah. Mereka sedang pelajari, apa isi putusan hakim. Nanti setelah 7 hari, baru Jaksa menentukan apakah mereka akan mengajukan banding atau kontra memori banding. Saya sendiri belum tahu apa sikap Jaksa. Saya akan terima mereka hari Rabu tanggal 17 Februari nanti untuk mengetahui sikap mereka.

(K) :  Oh begitu Pak ya. Nanti bila memang akan banding apakah sama dengan Tingkat Pertama di Pengadilan Negeri yaitu JPU akan berkesempatan mengajukan TUNTUTAN kepada terdakwa … mengajukan tuntutan MATI juga di tingkat banding seperti di Tingkat Pertama Pengadilan Negeri ?

(HS) Oh ndak begitu kalau di tingkat banding. Nanti kalau banding, Jaksa tidak akan mengajukan tuntutan lagi. Pada tingkat banding, Jaksa hanya akan mempertahankan dalil-dalil dalam penuntutan itu … mengapa Jaksa sampai mengajukan tuntutan MATI ?

(K) Yang terakhir Pak JA,apa harapan Kejaksaan Agung dalam hal penegakan hukum untuk kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen ini ? Pihak keluarga Nasrudin Zulkarnaen menganggap, hakim ini setengah hati memberikan putusan. Kalau memang Antasari tidak bersalah, ya harus divonis bebas dong. Tapi kalau bersalah, hukum seberat-beratnya. Lah, vonis 18 tahun penjara itu, kan vonis setengah hati namanya. Vonis yang tanggung. Bagaimana tanggapan Pak JA ?

(HS) Tunggu tanggal mainnya saja, nanti Jaksa akan menentukan sikap apakah akan banding atau tidak. Pada waktunya nanti, Jaksa akan menentukan sikap … mau banding atau tidak. Disitu kami akan bersikap. Dan yang masyarakat harus tahu, Kejaksaan tidak dendam pada Antasari. Saya sudah sampaikan kepada anda juga toh, dalam wawancara sebelumnya. Kami tidak dendam. Tuntutan MATI itupun bukan dari saya. Tetapi dari Jaksa yang menangani kasus ini. Rentut (rencana tuntutan, red), dari awal diajukan sudah menyebutkan bahwa tuntutan yang paling tepat adalah tuntutan MATI. Bukan yang lain-lain. Dan semua pengajukan tuntutan dari bawah, saya minta untuk dibuat tertulis. Jadi ada buktinya. Bukti bahwa tuntutan ini disampaikan kepada saya resmi dan tertulis. Begitu !

(K) Baiklah Pak JA, terimakasih untuk wawancara eksklusif ini.

(HS) : Ya, terimakasih sama-sama. Eksklusif lagi toh wawancaramu ? (Jaksa Agung tersenyum)

(MS)

Advertisements

March 22, 2010 Posted by | Uncategorized | Comments Off on Hendarman Supandji: Tunggu Tanggal Mainnya, Jaksa Banding Atau Tidak

Sisi Lain Wakapolri Jusuf Manggabarani Berwajah Tanpa Ekspresi

Oleh : MEGA SIMARMATA, Pemimpin Redaksi

DIMUAT JUGA DI KATAKAMI.COM


WAWANCARA EKSKLUSIF Komjen Jusuf Mangga : Tugas Kami Tingkatkan Kesejahteraan

The Rising Star Itu Bernama Jusuf Manggabarani & Pantas Jadi Kapolri

Jakarta 31/1/2010 (KATAKAMI) Ada satu figur yangbisa dibilang cukup menarik “perhatian” di jajaran POLRI.

Figur itu adalah Komjen. Jusuf Manggabarani yang saat ini menjabat sebagai Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Wakapolri).

Sebelumnya, Komjen Jusuf Manggabarani menjabat sebagai Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum).

Mengapa dibilang menarik ?

Bukan karena perawakannya yang tinggi besar. Perwira Tinggi berbintang Aquarius ini memang dikenal bersih, lurus dan berintegritas tinggi.

Komjen Jusuf Manggabarani adalah Angkatan 1975, satu Angkatan dibawah Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri yang berasal dari Angkatan 1974.

Sejak dilantik sebagai Wakapolri tanggal 6 Januari 2010 lalu, baru pada hari Jumat (29/1/2010) siang Pemimpin Redaksi KATAKAMI.COM Mega Simarmata berkesempatan untuk masuk ke ruang kerja Komjen Jusuf Manggabarani yang diangkat menjadi Wakapolri menggantikan Komjen Makbul Padmanegara.

Kesempatan bertemu seusai Komjen Jusuf Manggabarani menjalankan sholat Jumat (29/1/2010) itulah, digunakan untuk WAWANCARA EKSKLUSIF (sudah dimuat di KATAKAMI.COM).

WAWANCARA EKSKLUSIF Komjen Jusuf Mangga : POLRI Tidak Represif Menangani Demo

Tapi ada hal-hal menarik yang sangat disayangkan kalau tidak diceritakan.


Komjen Jusuf Manggabarani adalah ayah dari 4 anak — dimana salah seorang diantaranya ternyata mengikuti jejak SANG AYAH menjadi seorang polisi yaitu anggota Detasemen Khusus 88 Anti Teror Polri –.

“Anak saya yang nomor 3, Edi Sabara Manggabarani namanya, dia anggota Densus 88. Dia lebih suka tinggal di asramanya daripada tinggal bersama saya. Umurnya masih 23 tahun. Tingginya 187 cm. Saya sebagai ayah, tidak tahu kemana atau dimana kegiatan anak saya ini setiap harinya. Eh, tiba-tiba beberapa malam lalu dia muncul di rumah. Dia ketuk kamar tidur saya … dia bilang, Pak … Edi pulang. Saya dan isteri saya terkejut. Saya bilang … Sini masuk nak, darimana saja kau ?. Dia naik ke atas tempat tidur saya. Kami bicara bertiga, saya, isteri saya dan anak saya itu. Dia tinggi sekali. Jauh lebih tinggi dari saya” demikian disampaikan Komjen Jusuf Manggabarani kepada KATAKAMI.COM.

Walau tak tahu dan tak bisa memantau detik demi detik keberadaan anak ketiganya yang menjadi Anggota Densus 88 Anti Teror ini, Komjen Jusuf Manggabarani mengaku justru dengan anak ketiganya inilah ia paling dekat.

“Edi itu tidak bisa ditebak kapan pulang ke rumah. Tapi kalau dia pulang dan bisa menginap sehari atau 2 hari dirumah saya … kami pergi berdua saja. Pakai topi, ransel, lalu naik Angkutan Umum. Ya … ke tempat-tempat alam bebas. Jalan kaki sekian jam. Kalau ada kesempatan seperti itulah, saya bisa punya banyak kesempatan menasehati dia. Kami bicara tentang kehidupan. Sebagai Bapak, saya sampaikan banyak hal yang harus dia ingat sebagai bekal dalam menjalani kehidupannya. Kalau sudah berpergian begitu, pulangnya kami naik Angkutan Umum, tidak ada yang mengenali” kata Komjen Jusuf Manggabarani

“Oh … Bapak masih kuat jalan jauh dan jalan kaki ke alam bebas ?” tanya KATAKAMI.COM.

“Ah kau ini, kau pikir saya tidak kuat ? Saya sering begitu dengan anak saya” jawab Komjen Jusuf Manggabarani.

Wakapolri Jusuf Manggabarani mengisahkan juga bahwa anak ketiganya pernah mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa.

“Ya, itu dia dapatkan bukan karena saya tapi karena dia berprestasi dalam penanganan terorisme bersama Tim Densus 88. Lalu dia bilang … apa Bapak pernah dapat kenaikan pangkat luar biasa ? Saya jawab belum. Saya tahu maksudnya … anak ingin membandingkan dirinya dengan saya. Lalu saya tanya balik, saya bilang … Bapak tidak pernah mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa. Tapi sekarang Bapak tanya … siapa gurumu di dalam hidup ini sehingga kau bisa seperti sekarang ? Dia jawab …. guru saya yang paling berjasa ya BAPAK !” demikian dikatakan Komjen Jusuf Manggabarani.


Figur Komjen Jusuf Manggabarani yang berwajah tanpa ekspresi ini memang sudah dikenal sebagai sosok yang “dingin”.

Beberapa kali dalam tulisan-tulisan di KATAKAMI, memang dicantumkan bahwa Komjen Jusuf Manggabarani berwajah tanpa ekspresi.

“Gara-gara kau tulis wajah saya ini tanpa ekspresi, cucu saya yang umur 6 tahun pernah ikut baca tulisan itu di komputer. Lalu dia bilang … Kakek, Kakek, coba ke sini … aku mau lihat wajahnya Kakek. Iya benar Kek … wajah Kakek memang gak ada ekspresinya. Tapi aku gak takut sama Kakek … Kakek kayak badut. Cucu saya itu ledek saya, dia bikin mulutnya maju untuk meledek saya. Hahaha.” kata Komjen Jusuf Manggabarani tentang sang cucu — si bocah kecil yang sudah diajari kedua orangtua mempelajari 3 bahasa asing –.

Komjen Jusuf Manggabarani mengatakan juga betapa pentingnya peran seorang isteri dalam karier suami.

“Isteri itulah yang akan mendoakan kemanapun suaminya pergi dalam bertugas. Isteri saya dulu Polwan. Dia yang siapkan makanan saya untuk dibawa ke kantor sampai sekarang. Saya orang bugis dan makanan orang Bugis itu kebanyakan ikan” lanjut Komjen Jusuf Manggabarani.

Wakapolri Jusuf Manggabarani menyampaikan juga kekagumannya kepada Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri.


“Pak Kapolri ini hatinya baik. Santun. Saya pernah bilang, Bapak ini kelewat santun. Ada anak buah yang ngomong sembarangan merugikan institusi justru dimaafkan” kata Komjen Jusuf Manggabarani.

Barangkali memang benar sinyalemen Komjen Jusuf Manggabarani tentang ketulusan Kapolri BHD mengayomi anak buahnya dalam institusi POLRI. Sehingga ketika Sang Wakapolri meminta izin untuk bisa menunaikan ibadah UMROH dalam waktu dekat ini, Kapolri BHD mengizinkan.

“Saya lapor kepada Pak Kapolri, mohon diizinkan saya bisa berulang tahun di depan Kabah. Beliau mengizinkan. Jadi nanti pada saat saya berulang tahun tanggal 11 Februari, saya akan berada di Tanah Suci. Dan yang saya bawa dalam rombongan saya adalah anak buah yang selama ini sudah melayani saya dengan setia. Ajudan, supir, tukang kebun. Mereka-mereka ini harus saya hargai” ungkap Komjen Jusuf Manggabarani.

Dan kepada Wakapolri Jusuf Manggabarani ini, jangan tanyakan berapa nomor telepon selular pribadinya. Sebab, ia memang praktis tidak menggunakan nomor khusus. Semua komunikasi dilakukan melalui Ajudan yang sangat dipercayainya yang bernama Tatag.

“Jadi jangan tanya berapa nomor handphone saya. Ada sih ada tapi dipegang Ajudan juga. Nomor itu baru akan saya aktifkan kalau saya memang memerlukannya. Tapi nomor “telepon” saya yang sudah pasti itu adalah 42443” kata Jusuf Mangga.

“Wah, nomor apa itu Pak ?” tanya KATAKAMI.COM

“Kau tidak tahu ya. Itu nomor saya yang menunjukkan berapa rakaat saya sholat 5 waktu dalam sehari. Jadi itulah nomor terpenting saya dalam hidup. Sholat 5 waktu” lanjut Jusuf Mangga.

Banyak hal yang menarik dari sosok Jusuf Manggabarani.

Ia memang dikenal berwajah tanpa ekspresi.

Bahkan ketika melontarkan lelucon atau cerita-cerita yang lucu, wajah Jusuf Mangga tidak berubah samasekali alias tetap “tanpa ekspresi”.

Tetapi bersyukurlah Indonesia memilik seorang aparat penegak hukum yang sebersih dan selurus Jusuf Manggabarani.

Sehingga, tak salah lagi kalau figur Jusuf Manggabarani adalah sosok yang paling pantas dipertimbangkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggantikan Jenderal Bambang Hendarso Danuri – jika memang Presiden menganggap bahwa sudah waktunya dilakukan pergantian pimpinan POLRI –.

Komjen Jusuf Manggabarani, pribadi yang jujur dan tegas.

Komjen Jusuf Manggabarani, pribadi yang relijius dan lurus.

Pribadi yang seperti inilah yang dibutuhkan Indonesia untuk melanjutkan reformasi dan regenerasi di tubuh POLRI.

Walau berwajah “tanpa ekspresi”, Komjen Jusuf Manggabarani adalah salah seorang Bayangkara Negara yang mampu mencuri hati rakyat Indonesia.

Bukan karena dia berwajah tanpa ekspresi.

Tapi karena Komjen Jusuf Manggabarani adalah Bayangkara Sejati.

Dan ia sangat pantas untuk kelak menjadi KAPOLRI.

(MS)

March 22, 2010 Posted by | Uncategorized | Comments Off on Sisi Lain Wakapolri Jusuf Manggabarani Berwajah Tanpa Ekspresi