Katakamidotcom News Indonesia

Sisi Lain Wakapolri Jusuf Manggabarani Berwajah Tanpa Ekspresi

Oleh : MEGA SIMARMATA, Pemimpin Redaksi

DIMUAT JUGA DI KATAKAMI.COM


WAWANCARA EKSKLUSIF Komjen Jusuf Mangga : Tugas Kami Tingkatkan Kesejahteraan

The Rising Star Itu Bernama Jusuf Manggabarani & Pantas Jadi Kapolri

Jakarta 31/1/2010 (KATAKAMI) Ada satu figur yangbisa dibilang cukup menarik “perhatian” di jajaran POLRI.

Figur itu adalah Komjen. Jusuf Manggabarani yang saat ini menjabat sebagai Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Wakapolri).

Sebelumnya, Komjen Jusuf Manggabarani menjabat sebagai Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum).

Mengapa dibilang menarik ?

Bukan karena perawakannya yang tinggi besar. Perwira Tinggi berbintang Aquarius ini memang dikenal bersih, lurus dan berintegritas tinggi.

Komjen Jusuf Manggabarani adalah Angkatan 1975, satu Angkatan dibawah Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri yang berasal dari Angkatan 1974.

Sejak dilantik sebagai Wakapolri tanggal 6 Januari 2010 lalu, baru pada hari Jumat (29/1/2010) siang Pemimpin Redaksi KATAKAMI.COM Mega Simarmata berkesempatan untuk masuk ke ruang kerja Komjen Jusuf Manggabarani yang diangkat menjadi Wakapolri menggantikan Komjen Makbul Padmanegara.

Kesempatan bertemu seusai Komjen Jusuf Manggabarani menjalankan sholat Jumat (29/1/2010) itulah, digunakan untuk WAWANCARA EKSKLUSIF (sudah dimuat di KATAKAMI.COM).

WAWANCARA EKSKLUSIF Komjen Jusuf Mangga : POLRI Tidak Represif Menangani Demo

Tapi ada hal-hal menarik yang sangat disayangkan kalau tidak diceritakan.


Komjen Jusuf Manggabarani adalah ayah dari 4 anak — dimana salah seorang diantaranya ternyata mengikuti jejak SANG AYAH menjadi seorang polisi yaitu anggota Detasemen Khusus 88 Anti Teror Polri –.

“Anak saya yang nomor 3, Edi Sabara Manggabarani namanya, dia anggota Densus 88. Dia lebih suka tinggal di asramanya daripada tinggal bersama saya. Umurnya masih 23 tahun. Tingginya 187 cm. Saya sebagai ayah, tidak tahu kemana atau dimana kegiatan anak saya ini setiap harinya. Eh, tiba-tiba beberapa malam lalu dia muncul di rumah. Dia ketuk kamar tidur saya … dia bilang, Pak … Edi pulang. Saya dan isteri saya terkejut. Saya bilang … Sini masuk nak, darimana saja kau ?. Dia naik ke atas tempat tidur saya. Kami bicara bertiga, saya, isteri saya dan anak saya itu. Dia tinggi sekali. Jauh lebih tinggi dari saya” demikian disampaikan Komjen Jusuf Manggabarani kepada KATAKAMI.COM.

Walau tak tahu dan tak bisa memantau detik demi detik keberadaan anak ketiganya yang menjadi Anggota Densus 88 Anti Teror ini, Komjen Jusuf Manggabarani mengaku justru dengan anak ketiganya inilah ia paling dekat.

“Edi itu tidak bisa ditebak kapan pulang ke rumah. Tapi kalau dia pulang dan bisa menginap sehari atau 2 hari dirumah saya … kami pergi berdua saja. Pakai topi, ransel, lalu naik Angkutan Umum. Ya … ke tempat-tempat alam bebas. Jalan kaki sekian jam. Kalau ada kesempatan seperti itulah, saya bisa punya banyak kesempatan menasehati dia. Kami bicara tentang kehidupan. Sebagai Bapak, saya sampaikan banyak hal yang harus dia ingat sebagai bekal dalam menjalani kehidupannya. Kalau sudah berpergian begitu, pulangnya kami naik Angkutan Umum, tidak ada yang mengenali” kata Komjen Jusuf Manggabarani

“Oh … Bapak masih kuat jalan jauh dan jalan kaki ke alam bebas ?” tanya KATAKAMI.COM.

“Ah kau ini, kau pikir saya tidak kuat ? Saya sering begitu dengan anak saya” jawab Komjen Jusuf Manggabarani.

Wakapolri Jusuf Manggabarani mengisahkan juga bahwa anak ketiganya pernah mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa.

“Ya, itu dia dapatkan bukan karena saya tapi karena dia berprestasi dalam penanganan terorisme bersama Tim Densus 88. Lalu dia bilang … apa Bapak pernah dapat kenaikan pangkat luar biasa ? Saya jawab belum. Saya tahu maksudnya … anak ingin membandingkan dirinya dengan saya. Lalu saya tanya balik, saya bilang … Bapak tidak pernah mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa. Tapi sekarang Bapak tanya … siapa gurumu di dalam hidup ini sehingga kau bisa seperti sekarang ? Dia jawab …. guru saya yang paling berjasa ya BAPAK !” demikian dikatakan Komjen Jusuf Manggabarani.


Figur Komjen Jusuf Manggabarani yang berwajah tanpa ekspresi ini memang sudah dikenal sebagai sosok yang “dingin”.

Beberapa kali dalam tulisan-tulisan di KATAKAMI, memang dicantumkan bahwa Komjen Jusuf Manggabarani berwajah tanpa ekspresi.

“Gara-gara kau tulis wajah saya ini tanpa ekspresi, cucu saya yang umur 6 tahun pernah ikut baca tulisan itu di komputer. Lalu dia bilang … Kakek, Kakek, coba ke sini … aku mau lihat wajahnya Kakek. Iya benar Kek … wajah Kakek memang gak ada ekspresinya. Tapi aku gak takut sama Kakek … Kakek kayak badut. Cucu saya itu ledek saya, dia bikin mulutnya maju untuk meledek saya. Hahaha.” kata Komjen Jusuf Manggabarani tentang sang cucu — si bocah kecil yang sudah diajari kedua orangtua mempelajari 3 bahasa asing –.

Komjen Jusuf Manggabarani mengatakan juga betapa pentingnya peran seorang isteri dalam karier suami.

“Isteri itulah yang akan mendoakan kemanapun suaminya pergi dalam bertugas. Isteri saya dulu Polwan. Dia yang siapkan makanan saya untuk dibawa ke kantor sampai sekarang. Saya orang bugis dan makanan orang Bugis itu kebanyakan ikan” lanjut Komjen Jusuf Manggabarani.

Wakapolri Jusuf Manggabarani menyampaikan juga kekagumannya kepada Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri.


“Pak Kapolri ini hatinya baik. Santun. Saya pernah bilang, Bapak ini kelewat santun. Ada anak buah yang ngomong sembarangan merugikan institusi justru dimaafkan” kata Komjen Jusuf Manggabarani.

Barangkali memang benar sinyalemen Komjen Jusuf Manggabarani tentang ketulusan Kapolri BHD mengayomi anak buahnya dalam institusi POLRI. Sehingga ketika Sang Wakapolri meminta izin untuk bisa menunaikan ibadah UMROH dalam waktu dekat ini, Kapolri BHD mengizinkan.

“Saya lapor kepada Pak Kapolri, mohon diizinkan saya bisa berulang tahun di depan Kabah. Beliau mengizinkan. Jadi nanti pada saat saya berulang tahun tanggal 11 Februari, saya akan berada di Tanah Suci. Dan yang saya bawa dalam rombongan saya adalah anak buah yang selama ini sudah melayani saya dengan setia. Ajudan, supir, tukang kebun. Mereka-mereka ini harus saya hargai” ungkap Komjen Jusuf Manggabarani.

Dan kepada Wakapolri Jusuf Manggabarani ini, jangan tanyakan berapa nomor telepon selular pribadinya. Sebab, ia memang praktis tidak menggunakan nomor khusus. Semua komunikasi dilakukan melalui Ajudan yang sangat dipercayainya yang bernama Tatag.

“Jadi jangan tanya berapa nomor handphone saya. Ada sih ada tapi dipegang Ajudan juga. Nomor itu baru akan saya aktifkan kalau saya memang memerlukannya. Tapi nomor “telepon” saya yang sudah pasti itu adalah 42443” kata Jusuf Mangga.

“Wah, nomor apa itu Pak ?” tanya KATAKAMI.COM

“Kau tidak tahu ya. Itu nomor saya yang menunjukkan berapa rakaat saya sholat 5 waktu dalam sehari. Jadi itulah nomor terpenting saya dalam hidup. Sholat 5 waktu” lanjut Jusuf Mangga.

Banyak hal yang menarik dari sosok Jusuf Manggabarani.

Ia memang dikenal berwajah tanpa ekspresi.

Bahkan ketika melontarkan lelucon atau cerita-cerita yang lucu, wajah Jusuf Mangga tidak berubah samasekali alias tetap “tanpa ekspresi”.

Tetapi bersyukurlah Indonesia memilik seorang aparat penegak hukum yang sebersih dan selurus Jusuf Manggabarani.

Sehingga, tak salah lagi kalau figur Jusuf Manggabarani adalah sosok yang paling pantas dipertimbangkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggantikan Jenderal Bambang Hendarso Danuri – jika memang Presiden menganggap bahwa sudah waktunya dilakukan pergantian pimpinan POLRI –.

Komjen Jusuf Manggabarani, pribadi yang jujur dan tegas.

Komjen Jusuf Manggabarani, pribadi yang relijius dan lurus.

Pribadi yang seperti inilah yang dibutuhkan Indonesia untuk melanjutkan reformasi dan regenerasi di tubuh POLRI.

Walau berwajah “tanpa ekspresi”, Komjen Jusuf Manggabarani adalah salah seorang Bayangkara Negara yang mampu mencuri hati rakyat Indonesia.

Bukan karena dia berwajah tanpa ekspresi.

Tapi karena Komjen Jusuf Manggabarani adalah Bayangkara Sejati.

Dan ia sangat pantas untuk kelak menjadi KAPOLRI.

(MS)

March 22, 2010 - Posted by | Uncategorized

Sorry, the comment form is closed at this time.

%d bloggers like this: