Katakamidotcom News Indonesia

Berantaslah Terorisme, Tapi Jangan Jadi Algojo Dan Minus Tes DNA

https://i2.wp.com/lh4.ggpht.com/_c_n3b2-VfwM/SXykfN_LOYI/AAAAAAAAADo/zvseXsAMJww/DEN+88.jpg

Dulmatin Diumumkan Mati Kok Tanpa Tes DNA, Perlukah Obama Datang ?

Jakarta 11/3/2010 (KATAKAMI) Tentu kita semua pernah mendengar kata, “ALGOJO”. Mendengar istilah Algojo ini saja, bulu kuduk kita rasanya bisa berdiri. Merinding. Ya itu tadi … karena ada rasa takut terhadap kekejaman dan kesadisan sosok Algojo. Lalu apa hubungannya dengan isu terorisme – khususnya kematian gembong teroris Dulmatin — yang kembali diangkat dalam tulisan ini ?Tindakan POLRI (dalam hal ini Detasemen Khusus atau Densus 88 Anti Teror Polri) yang main tembak mati terhadap Dulmatin, dikecam keras oleh Neta S. Pane selaku Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW).

Photo : Neta S. Pane


Lewat wawancaea khusus dengan KATAKAMI.COM Kamis (11/3/2010), Neta S. Pane menilai tindakan Polri main tembak mati dalam penanganan terorisme bisa diibaratkan seperti membawa institusi Polri menjadi algojo atau pengeksekusi.

“Kalau kita lihat kecenderungan POLRI dibawah kepemimpinan Kapolri Bambang Hendarso Danuri, upaya pemberantasan terorisme itu membuat wajah Polri seakan menjadi algojo. Dalam arti, mereka sudah bukan lagi aparat penegak hukum tetapi algojo alis pengeksekusi” kata Neta S. Pane.

Menurutnya, tindakan POLRI ini adalah sebuah pelanggaran Hak Azasi Manusia (HAM).

“POLRI harus ingat bahwa mereka bisa dituduh melakukan pelanggaran HAM berat. Sebab didalam bertugas – walaupun itu dalam menangani terorisme – POLRI harus melaksanakan asas keseimbangan. Bayangkan kalau acara operasi penyerangan itu, satu orang Dulmatin ditembaki oleh belasan orang anggota Densus 88 Anti Teror Polri secara brutal. Itu kan namanya membantai. Tidak sepantasnya POLRI berlaku seperti itu. POLRI kan aparat penegak hukum yang wajib menghormati asas praduga tidak bersalah” lanjut Neta S. Pane.

Neta S. Pane juga mengkritik keras tindakan POLRI yang tidak melakukan Tes DNA terhadap jenazah Dulmatin.

“Mana Tes DNA-nya ? Tidak ada. Tes DNA itu kan tidak bisa dilakukan hanya dalam hitungan detik atau menit. Itu membutuhkan waktu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu.  Kalau mau melaksanakan tugas memberantas teroris, jangan main tembak mati. Tangkap hidup-hidup. Lakukan proses penegakan hukum dan biarkan hakim yang menentukan apakah orang yang ditangkap itu bersalah atau tidak dalam kasus tindak pidana terorisme” ungkap Neta S. Pane.

Neta S. Pane mempertanyakan juga keengganan POLRI menerima uang hadiah yang sempat ditawarkan Pemerintah Amerika Serikat sebesar 10 juta USD untuk pihak manapun yang berhasil menemukan Dulmatin.

“Dulmatin ini kan buronan banyak negara, termasuk Amerika Serikat. Kenapa POLRI sudah buru-buru mengatkaan bahwa mereka tidak mau menerima uang hadiah apapun dari negara lain ? Kalau menurut saya sih, POLRI takut ketahuan kalau misalnya yang dimatikan itu bukan Dulmatin. Kalau Amerika memang akan memberikan uang hadiah jutaan dolar, mereka kan tidak akan tinggal diam. Pasti akan mengecek juga, apakah benar yang ditembak mati itu mayatnya Dulmatin”  tegas Neta S. Pane.

Neta S. Pane menyayangkan sikap tertutup POLRI terkait penembakan misterius terhadap gembong teroris Dulmatin.“Ini kan namanya misterius. Hanya POLRI yang berhak tahu, apakah benar itu mayatnya Dulmatin. Ada negara lain menjanjikan hadiah sangat besar, tidak mau diambil. Katanya POLRI kekurangan anggaran, kok tidak mau menerima uang hadiah ? Ya sebab POLRI takut ketahuan. Kalau didalam operasi ini terdapat banyak kekurangan dan kekeliruan, maka akan membuat kedok POLRI terbuka” pungkas Neta S. Pane.

Photo : Effendi Gazali


Sementara itu dalam kesempatan terpisah lewat wawancara khusus dengan KATAKAMI.COM pada Kamis (11/3/2010) sore di Jakarta, Effendi Gazali selaku Pakar Komunikasi juga mengkritik sikap buru-buru dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan kematian Dulmatin di hadapan parlemen Australia.

“Tindakan Presiden itu kan sama saja dengan menganak-tirikan rakyat Indonesia secara keseluruhan. Lihat saya, diumumkan di luar negeri. Saya malah belum tahu kalau ternyata belum ada Tes DNA terhadap jenazah Dulmatin, ketika Presiden SBY mengumumkan. Sebenarnya jauh lebih baik kalau Presiden sampaikan dulu bahwa beliau sudah menelepon Kapolri. Dan kalimat yang paling tepat digunakan adalah hampir dapat dipastikan teroris Dulmatin yang ditembak mati” kata Effendi Gazali.

Menurutnya, kalimat hampir dapat dipastikan itu adalah kalimat terbaik yang harus digunakan sebab POLRI belum melakukan Tes DNA terhadap Dulmatin.

“Kalau cuma salah seorang anggota keluarga yang ditanyai bahwa ada kemiripan tahi lalat di tubuh jenazah, itu namanya bukan Tes DNA tetapi tes tahi lalat. Tes DNA ya Tes DNA. Lakukan dong Tes DNA untuk memastikan identitas si teroris” lanjut Effendi Gazali.

https://i1.wp.com/matanews.com/wp-content/uploads/ketut-untung-yoga.jpg

Photo : Ketut Yoga dari Humas Polri


Guna mengkonfirmasikan pendapat dan penjelasan dari Pihak POLRI, KATAKAMI.COM menghubungi Humas POLRI.Ketut Yoga dari Humas POLRI mengatakan bahwa tidak benar POLRI bertindak brutal.

“Salah kalau ada yang bilang polisi brutal seperti algojo. Begini, begini, kadang-kadang apa yang dikatakan masyarakat diluar itu … tidak sama dengan situasi di lapangan. Itu kan kontak senjata. Polisi saja baru tahu bahwa itu Dulmatin setelah operasi itu selesai. Sebelumnya kan tidak tahu. Jadi jangan dibilang polisi brutal. Dalam operasi penyergapan itu, posisi polisi sudah terdesak. Pilihannya hanya 2 yaitu ditembak atau menembak” kata Ketut Yoga.

Sementara mengenai kabar tentang adanya hadiah uang jutaan dolar dari pihak Amerika Serikat yang diberlakukan selama ini jika berhasil menemukan Dulmatin, POLRI menganggap hadiah itu tidak tepat jika disampaikan kepada institusi POLRI.

“Hadiah itu kan ditujukan kepada barangsiapa. Polri ini kan bukan barangsiapa, artinya Polri ini institusi. Bukan perorangan. Dan bukan karena Polri takut jika misalnya pihak Amerika ikut memastikan apakah itu mayat Dulmatin atau bukan. Kami hanya mengerjakan tugas dan ini menjadi prestasi institusi” tegas Ketut Yoga.

Gunjang-ganjing penyergapan terorisme dan tudingan kuat tentang adanya brutalisme Polri menangani  kasus-kasus terorisme ini memang harus segera diluruskan.Betul pendapat dari Indonesia Police Watch (IPW).

Polri adalah aparat penegak hukum yang harus menjadi pilar utama penegakan hukum di Indonesia.Tangkap hidup-hidup dan bawa pelaku-pelaku terorisme itu ke muka hukum. Jadi jangan diberlakukan tren pembantaian yang begitu gampang menghilangkan nyawa orang lain.Ingat, Polri harus mengingat ini baik-baik, bahwa siapapun yang ditangkap atas nama terorisme itu, tidak bisa dikatakan sebagai TERORIS (sebelum ada vonis dari Majelis Hakim).

Hormatilah asas praduga tidak bersalah.

Tugas polisi adalah menegakkan hukum.

Dan bukan membantai serta menghilangkan nyawa orang lain seenaknya saja.

Sialnya lagi, sudah nyawa orang dihilangkan, Tes DNA yang wajib dilakukan malah tidak dilakukan.

Memalukan penanganan terorisme yang seperti ini.

Photo : Kapolri BHD bersalaman dengan Presiden SBY


Itulah sebabnya, Neta S. Pane dari Indonesia Police Watch (IPW) mendesak Presiden SBY untuk mengevaluasi kinerja Kapolri BHD.

“Kalau tren yang diberlakukan adalah tren tembak mati, ini sama saja Kapolri BHD menggembar-gemborkan keberhasilan semu. Semua serba euforia. Bikin malu saja. Ingat, polisi itu aparat penegak hukum yang harus menghormati asas praduga bersalah. Jangan main tembak mati ! Dulu zaman Kapolri Jenderal Dai Bahtiar dan Jenderal Sutanto, tidak separah ini penanganan terorisme. Jadi sebaiknya Jenderal Dai Bahtiar dan Jenderal Sutanto mau meluangkan waktu untuk menasehati Kapolri BHD selaku junior mereka ini. Dinasehatilah dulu supaya jangan kebablasan terus. Presiden SBY juga sudah saatnya mengganti Kapolri agar dalam penanganan terorisme itu tidak penuh dengan gunjang-ganjing lagi.” tegas Neta S. Pane.

Terorisme adalah kejahatan kemanusiaan yang menjadi musuh bersama bagi negara-negara manapun didunia.

Sampai akhir zaman, terorisme itu memang harus diperangi dan dibasmi sampai ke akar-akarnya.

Dibasmi bukan berarti dibantai secara brutal dengan peluru-peluru tajam.

Seakan-akan polisi paling berhak menghilangkan nyawa orang lain.

https://i1.wp.com/blog.spinvox.com/wp-content/uploads/2009/11/gavel-judge.jpg

Indonesia ini negara hukum, Bung !

Bukan hutan rimba, jadi jangan seenaknya melakukan brutalisme atas nama terorisme.

Dan satu hal lain, menyiarkan operasi keamanan – dalam hal ini operasi penyergapan terkait terorisme – sangat tidak pantaslah kalau disiarkan secara langsung dengan kategori EKSKLUSIF di sebuah media televisi.

Memalukan sekali ketidak-adilan POLRI memberikan eksklusivitas (kembali) kepada satu media televisi saja.

Hei Polri, anda pikir, Indonesia ini punya nenek moyang anda sehingga anda semua yang berhak menentukan apapun juga yang paling menguntungkan untuk pihak anda ?

Jangan berlakukan diskriminasi terhadap media massa !

https://i2.wp.com/www.nujcec.org/brussels/wp-includes/images/standup1.jpg

Hidup Terus Berputar Gories ….

Diduga Noordin M. Top Atau Gories Mere Yang Kebelet Ingin Ngetop ?

Wartawan Protes Rahasia Negara Dibocorkan Kepada Satu Media Televisi, Kapolri Sutanto Marah & Menegur Keras Densus 88 (Mei 2008)

Periksa Gories Mere Skandal Madrid Korupsi Alat Sadap Israel

Tidak punya etika, jika seluruh media massa diabaikan dan dianak-tirikan – padahal semua media massa punya hak yang sama untuk memperoleh informasi –.

Lagipula, menyiarkan secara langsung sebuah operasi keamanan di media televisi, itu sama juga dengan membocorkan rahasia negara.

Tindakan Polri yang memberikan eksklusivitas pemberitaan di media televisi dalam operasi-operasi penyergapan terorisme adalah LAGU LAMA warisan dari oknum perwira tinggi Polri berinisial GM yang sangat tidak tahu malu selama menangani kasus-kasus terorisme.

Tindakan diskriminasi oknum berinisial GM ini sudah diberi sanksi tegas oleh Kapolri-Kapolri sebelumnya.

Lho, kok sekarang diulangi lagi.

Jadi, singkat kata, lakukanlah introspeksi diri wahai Polri.

Apakah lupa, saat Polri (Tim Anti Teror Polri menembaki secara brutal Pondok Pesantren di Gebang Rejo Poso – Sulawesi Tengah, persis di malam takbiran sehingga membuat situasi keamanan di Poso pada tahun 2006 menjadi panas bergejolak akibat perintah dari Komjen Gories Mere membantai Pondok Pesantren itu atas nama penanganan terorisme ?

https://i2.wp.com/www.indonesiamedia.com/2007/02/early/berta/images/berta/peta_poso_high.gif

Ketika itu, KOMNAS HAM mengirimkan tim khusus untuk mengecek tragedi yang memilukan dan memalukan ini. Bayangkan, menembaki Pondok Pesantren di malam takbiran dan disiarkan langsung di sebuah media televisi.

Masyarakat Sulawesi Tengah secara aklamasi meminta BRIMOB diusir dan dikeluarkan dari wilayah mereka akibat tindakan gegabah itu.

Apakah Polri lupa menembaki secara brutal masyarakat sipil saat melakukan operasi penyerangan di Poso pada pertengahan bulan Januari 2007 yang menewaskan belasan orang masyarakat sipil (tidak ada yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang atau DPO.

Ketika itu, Polri kembali dituding melakukan pelanggaran HAM berat — operasi brutal ini juga atas perintah dari Komjen Gories Mere dari luar negeri. Bayangkan, pejabat yang bertugas dalam Tim Anti Teror bisa memerintahkan sebuah operasi penyerangan dari luar negeri — dimana ia tidak berada di lokasi –.

Ketika itu, KOMNAS HAM turun ke lapangan dan memastikan bahwa memang telah terjadi pelanggaran HAM oleh POLRI.

Apakah lupa, Tim Anti Teror Polri (yang lagi-lagi dipimpin Komjen Gories Mere) menembak paha Abu Dujana di hadapan anaknya yang masih dibawah umur pada bulan Juni 2007 sehingga ketika itu Polri dituding melakukan pelanggaran HAM ?

Apakah sudah lupa juga, saat Tim Anti Teror Polri melaporkan terlebih dahulu keberhasilan menangkap Abu Dujana & Zarkasih (kedua pemimpin organisasi Al Jamaah Al Islamyah) pada bulan Juni 2007 kepada Pemerintah Australia — dan mengabaikan pemerintah Indonesia, sehingga pada saat itu Presiden SBY sangat amat tersinggung ?

Tolong, lakukan evaluasi dan introspeksi diri dalam internal Polri. Jangan lagi gunakan oknum-oknum yang di masa lalu sangat amat bermasalah dalam penanganan terorisme. Sebab oknum-oknum yang bermasalah ini, sangat liar dan terbukti memiliki rekam jejak yang sangat negatif.

Jangan kura-kura perahu. Jangan pura-pura tidak tahu (siapa sebenarnya yang dimaksud).

Polri, kalian adalah aparat penegak hukum yang sangat dibanggakan oleh rakyat Indonesia.

Kalian bukan algojo.

Catat baik-baik dan camkan itu !

Masa lalu yang kelam dalam penanganan terorisme — terutama yang serba penuh brutalisme dan sarat dengan arogansi mengangkangi nilai-nilai HAM – tolong jangan diuilangi lagi. Masak kembali ke masa lalu yang suram.

Tataplah ke depan dan laksanakan tugas secara PROFESIONAL & PROPORSIONAL.

(MS)

March 23, 2010 - Posted by | Uncategorized

Sorry, the comment form is closed at this time.

%d bloggers like this: