Katakamidotcom News Indonesia

Komjen Jusuf Mangga : POLRI Tidak Represif Menangani Demo

https://i0.wp.com/www.mediaindonesia.com/spaw/uploads/images/article/image/20091228_082240_JUSUFMANGGAb28-MI.jpg

WAWANCARA EKSKLUSIF

Jakarta 29/1/2010 (KATAKAMI) Seperti yang sudah kita ketahui bersama, aksi unjuk rasa yang digelar di berbagai daerah dalam rangka 100 hari pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) – Boediono tanggal 28 Januari 2010 telah berlangsung tertib dan aman.

Walaupun demikian, kritikan bermunculan disana-sini bahwa MABES POLRI terkesan sangat berlebihan mengerahkan kekuatan pasukannya dalam mengamankan situasi dan keamanan.

Berkaitan dengan itu, Pemimpin Redaksi KATAKAMI.COM Mega Simarmata mendapatkan kesempatan WAWANCARA EKSKLUSIF dengan Wakapolri Komjen Polisi Jusuf Manggabarani. Dan inilah hasil WAWANCARA EKSKLUSIF kami dengan Komjen Jusuf Manggabarani di ruang kerjanya di MABES POLRI Jalan Trunojoyo Jakarta Selatan, Jumat (29/1/2010) petang :


http://kabarnet.files.wordpress.com/2009/12/polri-yusuf.jpg

KATAKAMI (K) : Pertama-tama terimakasih untuk kesempatan WAWANCARA EKSKLUSIF ini Pak Wakapolri. Jujur saja, kerja keras POLRI harus dihargai dalam mengamankan rangkaian aksi unjuk rasa di seluruh wilayah Indonesia tanggal 28 Januari kemarin. Orang mengkritik POLRI berlebihan dalam menurunkan kekuatan personilnya. Bagaimana evaluasi dari POLRI sendiri ?

JUSUF MANGGABARANI (JM) : Tidak begitu ! Begini ya … dengan kekuatan yang besar yang kami turunkan, kepercayaan diri anak-anak (Polisi, red) bisa tetap tinggi. Sehingga menjauhkan dia dari tindakan kekerasan. Sebab kalau peserta unjuk rasa lebih banyak, maka kalau terdesak sedikit saja dia bisa mengambil jalan nekat yang mengakibatkan kerusuhan. Bisa-bisa bukan mengeliminir kerusuhan tetapi justru menjadi pemicu kerusuhan.

(K) : Dengan kekuatan polisi yang begitu besar dalam mengamankan aksi unjuk rasa damai dari rakyat, bisa berdampak bahwa POLRI ini seakan menjadi alat kekuasaan sebab misi dari rakyat adalah mengkritisi pemerintah. Bagaimana tanggapan dari POLRI ?

(JM) : Tidak ada itu … ! Kan UU Nomor 9 tahun 1998 sudah menyatakan bahwa apabila seseorang melakukan unjuk rasa maka POLRI wajib mengamankan. Apakah POLRI pernah mengatakan … dalam unjuk rasa tidak boleh omong begini … tidak boleh omong begitu … ? Kan tidak pernah POLRI melarang. Tidak ada ! Silahkan bicara sebab POLRI hanya bertugas mengamakan. POLRI hanya mengamankan agar jangan ada tindakan anarkis, tidak ad apengrusakan terhadap gedung, tidak ada gangguan terhadap orang yang lewat. Diluar dari yang berunjuk rasa … kan masih banyak masyarakat lainnya. Apakah seluruh masyarakat yang unjuk rasa ? Kan tidak.

(K) : Dengan mengerahkan kekuatan pasukan dalam jumlah yang jauh lebih besar dari peserta unjuk rasa itu sendiri, bukankah itu sebenarnya berlebihan sekali Pak Wakapolri ?

(JM) : Memang seharusnya begitu … penanganan unjuk rasa itu, POLRI harusnya jauh lebih banyak untuk menghindarkan dari perbuatan yang anarkis. Jangan sampai POLRI bersikap anarkis terhadap peserta unjuk rasa.

https://i2.wp.com/www.primaironline.com/images_content/20091118Kapolri2.jpeg

Photo : Kapolri Jenderal BHD & Wakapolri Komjen Jusuf Manggabarani

(K) Dari evaluasi yang ada, bagaimana hasil evaluasi POLRI tentang unjuk rasa di seluruh wilayah Indonesia berjalan aman atau ada yang satu dua mengalami gangguan ?

(JM) : Alhamdulilah aman. Apalagi dibandingkan dengan kasus-kasus di lokasi tertentu. Secara keseluruhan, Pak Kapolri menyatakan bahwa seluruh wilayah Indonesia kondusif.

(K) : Kondusif saat pelaksanaan aksi unjuk rasa serentak tanggal 28 Januari kemarin maksudnya Pak ?

(JM) Ya betul.

(K) : Tapi apakah sepenuhnya kondusif ?

(JM) Di beberapa daerah memang ada beberapa gesekan karena anak-anak muda yang kami hadapi. Tapi POLRI tetap harus tenang. Ada anggota Polisi yang jatuh tapi itupun sudah dimaafkan oleh POLRI. Kami memaafkan dengan mempertanggung-jawabkan berdasarkan aturan hukum yang berlaku.

(K) : Kalau kekuatan personil POLRI terus menerus diterjunkan sangat banyak dalam penanganan unjuk rasa di Indonesia ini, lama kelamaan masyarakat jadi takut atau malas berunjuk rasa. Apakah POLRI menyadari hal itu ?

(JM) : Itu pikir yang negatif. Kalau pikiran yang positif justru harus menyadari kalau ada POLISI maka berarti … ada yang melindungi saya, ada yang mengayomi saya dalam menyampaikan aspirasi, terhindar dari provokasi orang luar. Ini kalau berpikiran positif. Tapi kalau berpikiran negatif … ya terserah saja.

https://i0.wp.com/i.peperonity.com/c/A50E1E/948620/ssc3/home/054/chavroel/mabes_polri_15227.jpg_320_320_0_9223372036854775000_0_1_0.jpg

(K) : Kalau acuan kita UU Nomor 9 tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyatakan Pendapat Di Muka Umum, maka ini berarti siapa saja warga negara kita ini boleh toh melakukan aksi unjuk rasa ?

(JM) : Silahkan … silahkan saja. Polisi tidak pernah ikut campur tentang siapa yang mau berunjuk rasa. Asal peserta unjuk rasa memberitahu maka ada 5 kewajiban POLISI.

(K) Apa saja kewajiban POLISI itu Pak ?

(JM) : Pertama menghubungi objek bahwa akan ada unjuk rasa … anda siap-siap menghadapi unjuk rasa. Artinya bisa memberikan penjelasan kepada peserta unjuk rasa kalau dia minta. Kedua menjemput dari tempat start dan mengawal peserta unjuk rasa. Kemudian mengamankan di lokasi unjuk rasa. Setelah itu mencegah terjadinya benturan dengan pihak lain yang tidak sependapat. Lalu mengantar kembali para peserta unjuk rasa itu setelah aksi mereka selesai. Jadi begitu kewajiban POLISI berdasarkan UU. Setelah peserta unjuk rasa lapor mau melakukan aksi unjuk rasa, maka ada 5 kewajiban POLISI. Kami tidak pernah menakut-nakuti masyarakat. Tidak ada itu ! POLRI wajib melayani, melindungi dan mengayomi masyarakat.

(K) : Oh begitu Pak ya ?

(JM) : Kalau masyarakat berpikiran positif, pasti bisa memahami ini. Tapi kalau berpikiran negatif … ya susah. Nanti polisi tersenyum, dikira polisi mengejek. Padahal maksudnya bukan mengejek.

(K) : POLRI tidak akan bersikap represif terhadap peserta aksi unjuk rasa di Indonesia ini setiap kali ada aksi unjuk rasa …. baik yang dilakukan kalangan aktivis atau mahasiswa sekalipun ?

(JM) : Saya tanya dulu kau … apakah tanggal 28 kemarin, ada POLISI represif ?

(K) : Tidak ada pak …

(JM) : Tidak ada kan ! Nah … sudah jelas jawabannya. Survei membuktikan ….

(K) Kan bisa saja represif. Mentang-mentang karena mau mengamankan kepentingan pemerintah, maka POLISI bersikap represif dalam mengamankan aksi unjuk rasa yang dilakukan masyarakat …

(JM) Andalah nanti yang jadi polisinya kalau memang seperti itu … iya kan(tertawa). UU nomor 9 tahun 1998 kan sudah menyatakan bahwa POLISI mengamankan, melindungi dan melayani peserta unjuk rasa. Terutama melindungi dari intimidasi dari pihak lain. Seharusnya kalau berpikiran positif, pasti para peserta unjuk rasa senang. Oh ada polisi … ayo kita jalan. Begitu kan ! Mereka diantar. Dan begitu tiba … dijaga pula. Polisi akan bilang, tidak mau merusak ya.

(K) : Baiklah Pak Wakapolri, terimakasih untuk WAWANCARA EKSKLUSIF ini.

(JM) Terimakasih sama-sama.

(K) : Jangan lupa, dibaca terus KATAKAMI.COM pak …

(JM) Oh iya, pasti. Kau harus ingat, kalau media sudah punya nama dan memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi dari masyarakat maka itu harus dijaga dengan baik. Kau harus jaga nama baik mediamu. Jangan kau obral seribu tiga. Mediamu ini termasuk yang dipercaya. Kalau tidak dipercaya, mana mungkin bisa masuk ke ruangan kerja Wakapolri. (Tertawa)

(K) : Terimakasih sekali lagi Pak Wakapolri.

April 1, 2010 - Posted by | news, Wawancara Eksklusif | , ,

Sorry, the comment form is closed at this time.

%d bloggers like this: