Katakamidotcom News Indonesia

Polri Jagalah Soliditas, Waspadai Gerakan Devide Et Ampera

Tantangan Satgas Mafia Hukum, BONGKAR Indikasi Kemafiaan Komjen GM

Welcome Program Zero Beking Narkoba, Copotlah Gories Mere

Jakarta 23/3/2010 (KATAKAMI) Barangkali berita yang paling heboh di permukaan Indonesia beberapa hari belakangan ini didominasi oleh MABES POLRI. Setelah heboh dengan peperangan melawan terorisme.

Sekarang jadi berbalik 180 derajat. POLRI saling berperang dengan perwira tingginya sendiri yaitu mantan Kepala Badan Reserse & Kriminal (Kabareskrim) Komjen Susno Duadji.

Ada apa di dalam tubuh POLRI ?

Ada apa dengan antara sesama Bayangkara Negara ini ?

Siapa sebenarnya yang bersalah ?  Siapa yang bisa dibenarkan dan siapa pula yang paling pantas dihukum ?

Semua jadi bingung atas kekisruhan didalam internal POLRI.

Photo : Komjen Susno Duadji & Komjen Ito Sumardi

Wawancara Eksklusif Kapolri BHD : Wajib Hukumnya Polri Mengamankan Kunjungan Obama

Wawancara Eksklusif Wakapolri Jusuf Mangga : Tugas Kami Tingkatkan Kesejahteraan


Tapi baiklah, yang ingin dibahas ini memang agak berbeda dari pembahasan lainnya.

Yang pertama ingin dibahas disini adalah soal tudingan bahwa di sebelah ruang kerja Kapolri dan Wakapolri adalah ruang tempat kongkow-kongkow MARKUS atas Makelar Kasus.

Itu adalah tudingan yang sangat memfitnah dan penuh dengan kebohongan.

Suudzon !

Sekilas gambaran mengenai MABES POLRI ini adalah ketat dan berlapisnya sistem pengamanan.

Ruang kerja Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri dan Wakapolri Komjen Jusuf Manggabarani, sama-sama berada di Lantai 2 Gedung Utama Mabes Polri.

Untuk bisa menjangkau dan mengakses Gedung Utama ini dan hampir semua Gedung di Mabes POLRI, sistem pengamanannya menggunakan sistem kartu digital.

Dimana kartu tanda pengenal yang dimiliki oleh masing-masing anggota polisi, berfungsi ganda sebagai akses pembuka di Gedung tempat mereka bekerja.

Photo : Kapolri BHD pada pelantikan Wakapolri Jusuf Manggabarani


Terlambat satu detik saja, maka pintu akan secara otomatis terkunci.

Gedung Utama, sudah barang tentu sistem pengamanannya jauh lebih ketat.

Di Lantai 1, anggota Provost tersebar lumayan banyak disana.Sulit bagi orang luar untuk bisa masuk seenaknya ke Gedung Utama ini.

Suasananya cukup hening dan resmi sekali.Mustahil Gedung Utama itu bisa dipakai untuk cekakak cekikik, merumpi, bergossip ria, arisan ala aparat keamanan atau apalah yang nuansanya sangat “tidak resmi”.

Dimana-mana ada CCTV.

Dan kalau sudah berbicara mengenai CCTV berarti semua rekaman gambar itu menjadi terdokumentasikan secara “official” artinya menjadi dokumentasi institusi Polri.

Sehingga, janganlah kiranya dinistakan simbol-simbol Kepolisian ini bahwa seolah-olah POLRI secara institusi adalah kubangan sampah dan kotoran-kotoran moral yang bersembunyi di balik seragam coklat mereka.

Yang repotnya disini, masyarakat awam yang tidak tahu bagaimana seluk beluk MABES POLRI, pasti akan cepat termakan oleh beragam isu yang terlontar ke tengah masyarakat secara sepihak.

Mari semuanya, kita berpikiran positif dan menghilangkan sejauh mungkin segala sesuatu yang berbau SUUDZON.

Jangan tuding muka POLRI secara membabi-buta tentang seribu satu macam fitnah tentang korupsi, kolusi atau apapun juga yang muaranya pada demoralisasi.

Si A memalak A, si B mengkorupsi kasus B, si C begini dan si D begitu.

Waduh, kesannya MABES POLRI jadi sarangnya koruptor.

Padahal mereka adalah aparat penegak hukum.

Sehingga, berbahagialah koruptor-koruptor sejati dan penjahat-penjahat ekonomi yang sangat liar di negara ini karena MABES POLRI sedang dikuyo-kuyo.

Kita mengharapkan POLRI dapat bertugas secara profesional dan proporsional (dengan terus menjalankan konsisten reformasi birokrasi di dalam organisasi POLRI).

Harapan bersama dari seluruh rakyat Indonesia ini, akan sulit terealisasi kalau kita semua seolah-olah dipaksa untuk mengikuti euforia menggebuk POLRI secara keroyokan dan membabi buta.

Jika memang ada persoalan di dalam tubuh POLRI, biarkan mereka menertibkan segala persoalan itu sesuai dengan aturan dan ketentuan yang berlaku dalam organisasi POLRI.

Jika memang ada pelanggaran terhadap etika profesi atau norma-norma hukum, POLRI yang harus menyelesaikannya.

Bukan kita !

Bukan pengamat atau aktivis (apalagi yang memang ada “udang di balik batunya”).

Misalnya, wah … belum ada juga nih, jabatan prestisius yang diberikan — padahal sudah gertak sana gertak sini –.

Atau, patut dapat diduga ada juga perwira tinggi POLRI sendiri yang diam-diam sangat amat bermimpi bisa menjatuhkan Kapolri, Wakapolri, Irwasum, Kabareskrim, dan pejabat-pejabat teras POLRI agar pertarungan merebut kursi Tri Brata 1 atau Tri Brata 2 menjadi lebih leluasa dan aman sentosa.

Tak puas menohok kalangan pejabat teras yang terdiri dari para perwira tinggi, para perwira menengah juga di sodok.

Kasihan mereka, di guncang-guncang dan dipaksa untuk tersita konsentrasinya pada persoalan-persoalan dadakan semacam ini.

Ya bisa saja, ada yang terindikasi ingin menjatuhkan sebanyak-banyaknya pejabat Polri dan perwira menengah — padahal belum tentu mereka bersalah –.

Yang naga-naganya dilakukan adalah menggelindingkan dulu isu ini ke media massa agar tiap hari adalah pemberitaan yang negatif mengenai Polri tentang markus, korupsi dan sejenisnya.

Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri (BHD) dalam hitungan beberapa bulan ke depan memang akan memasuki masa purna bhakti atau pensiun.

BHD akan resmi memasuki masa pensiun per tanggal 1 November 2010.

Bisa jadi, ada yang tak sabar ingin menurunkan Kapolri BHD.

Tetapi, ambisi untuk jadi Kapolri — jika BHD dilengserkan — terbentur pada sosok Komjen Jusuf Manggabarani yang saat ini menjabat sebagai Wakapolri.

Praktis dalam organisasi POLRI saat ini, sosok Jusuf Mangga merupakan figur yang sangat pantas dijagokan menjadi Kapolri menggantikan Jenderal BHD jika pensiun nanti.

Ribut-ribut menohok POLRI ini, bisa ditebak dan dispekulasikan siapa kira-kira yang menjadi biang keladinya (dari pihak internal POLRI sendiri).

Patut dapat diduga dia adalah yang saat ini kembang kempis hidungnya hendak mengadu-domba dan mengacaukan semua situasi agar internal POLRI terguncang kesana kemari.

Sudahlah, si biang keladi yang sangat tak sabaran ingin mencaplok jabatan dan mencuri kesempatan dengan cara mengadu-domba dan mendorong-dorong dengan cara-cara siluman agar antar perwira tinggi POLRI ribut sendiri ini, sebaiknya menyadari agar dirinya mematut diri alias NGACA.

Sudah bersih dan pantaskah ia menjadi Kapolri atau Wakapolri ?

Apakah memang tidak pernah ada perbuatan melawan hukum dalam kariernya selama ini — termasuk pelanggaran etika profesi — ?

Hei, jangan obok-obok institusi POLRI !

Biarkan Jenderal BHD menyelesaikan masa tugasnya sampai memasuki gerbang purna bhakti.

Dan itu hanya tinggal hitungan beberapa bulan ke depan.

Setengah tahun ke depan, biarkan Jenderal BHD bertugas sebaik mungkin sebagai orang nomor satu di dalam tubuh POLRI.

Sudahlah, jangan ada yang berakal busuk ingin mengguncang-guncang institusi sendiri. Supaya ramai dan terkesan heboh, isu digulirkan lewat media massa.

Oknum-oknum yang suka mengipas dan menikam dari arah belakang, tepuk tangan dan seakan tak sabar menanti kehancuran yang diidam-idamkan pada institusinya sendiri.

Kampungan cara-cara yang mengadopsi ilmu dan keahlian penjajah zaman dahulu kala yaitu politik adu domba alias DEVIDE  ET AMPERA.

Dan kepada Presiden Susilo BambangYudhoyono, ada apa dengan diri anda Bapak Presiden ?

Mengapa anda terkesan diam saja, ketika institusi POLRI diserang ramai-ramai seperti ini ?

Anda jangan diam saja dong !

Dulu ketika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan MABES POLRI saling berseteru, anda juga terkesan mendiamkan dan lepas tangan !

Sekarang anda ulangi lagi sikap masa bodoh dan sok tidak mau tahu terhadap pentingnya menjaga SOLIDITAS institusi aparat penegak hukum semacam POLRI.

Kalau anda tidak mengerti, apa yang harus anda lakukan Bapak Presiden, maka isyarat yang terbaik untuk disampaikan kepada anda adalah keluarkan perintah anda secepatnya kepada Jajaran Polhukkam untuk membahas dimana atau jabatan apa yang kira-kira pantas diberikan kepada Mantan Kabareskrim Komjen Susno Duadji !

Semua ini memerlukan instruksi dan perintah anda, Bapak Presiden SBY !

Bisa jadi, Komjen Susno Duadji koar-koar kesana-kemari, adalah karena kekecewaan yang sangat mendalam atas pencopotan dirinya dari struktur organisasi POLRI.

Jadi jangan pura-pura tidak tahu dan tidak mau tahu lagi, Bapak Presiden SBY !

Anda terlalu tega sebagai seorang Kepala Negara, jika membiarkan POLRI ini di guncang-guncang dari sana – sini hanya karena persoalan sangat sepele – yaitu ada seorang perwira tingginya yang kecewa atau pencopotan dirinya –.

POLRI, mawas dirilah kalian dari segala ancaman perpecahan dan kehancuran.

Jaga soliditas.

Jaga harkat dan martabat.

Jaga nama baik.

Rakyat Indonesia akan tetap dan terus selamanya membutuhkan POLRI secara institusi.

Jangan hancurkan POLRI, hanya karena persoalan kecil yang sebenarnya bisa ditanggulangi jika pada petinggi atau penguasa di negeri ini memiliki kepedulian yang besar terhadap INSTISU POLRI.

Sekali lagi, POLRI, jagalah soliditas.

Jangan berkecil hati.

Jangan biarkan institusi kalian di hancurkan secara perlahan-lahan.

(MS)

April 15, 2010 - Posted by | Uncategorized

Sorry, the comment form is closed at this time.

%d bloggers like this: