Katakamidotcom News Indonesia

Diplomasi Cantik Hillary Mencegah "Pertandingan Tinju" Obama & Netanyahu

Clinton Congratulates Israel on 62 Years

Clinton reiterates US-Israel bonds

Netanyahu on Memorial Day: Peace will be reached if Israel is strong

(KATAKAMI 19/4/2010) Siapa perempuan yang dianggap paling berpengaruh di dunia saat ini ? Jawabannya bisa memunculkan beberapa nama. Dari mulai Hillary Clinton, Angela Merkel, Ratu Elizabeth, Ratu Rania dari Kerajaan Yordania dan masih banyak lagi.

Tergantung dari sudut pandang mana menilai kuatnya pengaruh para perempuan perkasa ini.

Tapi kalau pertanyaan itu dipersempit, perempuan mana yang paling berpengaruh dalam dunia perpolitikan dan diplomasi luar negeri di Amerika ?

Jawabannya pasti hanya ada satu yaitu Hillary Clinton.

Banyak pihak yang menyayangkan kekalahan Hillary dalam pertarungan politiknya dengan Barack Hussein Obama menjelang Pemilihan Umum Presiden atau Presidential Election di AS tahun 2008 lalu.

Foto : PM Bibi Netanyahu & Menteri Luar Negeri Hillary Clinton

Jangan Pojokkan Bibi Netanyahu & Israel, Carilah Solusi Demi Perdamaian

Salah satu yang disayangkan atas kekalahan Hillary itu adalah memburuknya hubungan antara AS dan Israel !

Pemerintahan Obama terbukti tak bisa menjaga relasi yang “manis dan mesra” dengan Israel.

Terlebih lagi karena kabinet Israel saat ini dikuasai oleh Partai Likuid yang dipimpin oleh Benjamin Netanyahu – yang sudah menjabat sebagai Perdana Menteri Israel selama satu tahun terakhir –.  Partai Likuid dikenal sangat radikal dan “keras kepala”.  Tapi sebenarnya, tudingan “radikalisme gaya perpolitikan” Partai Likuid tak sepenuhnya benar.

Foto : Perdana Menteri Netanyahu pada peringatan “Memorial Day” (18/4/2010)

Begitu juga tudingan seputar keras kepalanya Benjamin Netanyahu dan kabinet yang dipimpinnya.

Sebab dalam banyak kesempatan (baik didalam dan luar negeri), Perdana Menteri Bibi Netanyahu membuka dirinya untuk berdialog dalam pembahasan soal peluang perdamaian antara Israel dan Palestina.

Lalu apa hubungannya Hillary Clinton dengan Israel ?

Mantan Ibu Negara AS inilah yang menyampaikan ucapan Selamat Hari Kemerdekaan yang ke 62 untuk Pemerintah dan Rakyat Israel hari Minggu (18/4/2010).

Hillary menegaskan bahwa AS selalu “mendukung” Israel.  Gaya dan bahasa diplomasi Hillary memang sangat CANTIK”.

Padahal semua pihak tahu bahwa Hillary adalah bagian yang tak terpisahkan dari kerasnya AS menentang rencana pembangunan perumahan di Jerusalem Timur oleh Pemerintah Israel — dimana tanah yang menjadi lokasi pembangunan perumahan itu dituding merupakan tanah sengketa dan proses pembangunan dikuatirkan oleh AS dan sejumlah pihak akan memacetkan proses perdamaian Timur Tengah –.

Foto : Bibi Netanyahu & Menhan Ehud Barak di Gedung Putih (Maret 2010)

Photostream : Bibi Netanyahu in Washington

10,000 flowers sent to Netanyahu after White House ‘ambush’

Pasca kepulangan PM Bibi Netanyahu dari kunjungannya yang sangat mengecewakan ke Gedung Putih pertengahan bulan Maret 2010 lalu, hubungan AS dan Israel memang terlihat memanas dan terancam retak berkeping-keping.

Saat memenuhi undangan Presiden Obama untuk datang ke Gedung Putih bulan Maret 2010 lalu, PM Bibi Netantahu memang mendapat perlakuan yang tidak pantas dari Presiden Obama sebab Presiden AS yang ke 44 itu mendadak “mutung” dan tak mau melanjutkan pembicaraan dengan PM Bibi Netanyahu (dengan dalih hendak makan malam bersama dengan sang isteri yaitu Michelle Obama dan kedua putri mereka).

Meradangnya hubungan AS dan Israel sebulan terakhir ini, paling tidak akan menjadi menurun tensinya setelah Menlu Hillary Clinton mengirimkan ucapan selamat yang sangat “bersahabat” kepada Pemerintah Israel hari Minggu (18/4/2010).

Foto : Presiden Barack Hussein Obama

Sebab,  Presiden Obama harus tetap ingat bahwa seperti apapun keras kepalanya Israel menyangkut rencana pembangunan perumahan di Jerusalem Timur, Pemerintah AS tidak boleh membiarkan relasi pemerintahannya menjadi buruk dengan Pemerintah Israel.

AS adalah negara yang paling berperan mendamaikan Israel dan Palestina.

Bisakah dibayangkan bagaiman berantakannya proses perdamaian itu jika AS yang bertindak sebagai mediator malah jadi berseberangan dengan Pemerintah Israel ?

Posisi AS harus tetap netral dan senantiasa menjaga jarak dengan Israel dan Palestina.Sama dekat dan sama jauh.

Bagaimana mungkin Gedung Putih akan bisa “didengar” suara-suara diplomasinya jika hubungan antar G to G (Government to Government) menjadi buruk ?

Foto : Presiden Barack Hussein Obama & PM Netanyahu

Bagaimana mungkin seorang Presiden AS bisa tampil kembali mendamaikan Israel dan Palestina jika Presiden AS sendiri juga berseberangan (nyaris bermusuhan) dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ?

Sebenarnya harus jujur di akui bahwa ada banyak kesamaan antara Presiden Obama dan PM Netanyahu.

Nama mereka sama-sama berawalan B – yang satu bernama awal Barack dan yang satunya lagi bernama awal Benjamin –.

Baik Barack Obama dan Benjamin Netanyahu, sama-sama bertangan kidal.

Kedua pemimpin ini juga sama-sama “garang” kalau sudah mengecam persoalan nuklir Iran.

Tapi sayang beribu sayang, sejumlah kesamaan antar Obama dan Bibi tak banyak menolong bagi masing-masing pemimpin ini untuk bisa saling memahami dan mendukung satu dengan yang lainnya.

Harusnya Obama tampil mendamaikan Israel dan Palestina.Sekarang yang justru harus didamaikan dulu adalah Barack Obama dan Benjamin Netanyahu.

Atau barangkali kedua pemimpin ini sama-sama lupa bahwa diri mereka sangat diharapkan untuk lebih “cair” dan membaur satu dengan yang lainnya agar permasalahan-permasalahan penting menyangkut peluang perdamaian antara Israel dan Palestina tidak menjadi buntu di tengah jalan.

Ilustrasi yang bisa disampaikan disini, apakah perlu sampai harus menyediakan sarung dan ring tinju untuk Obama & Netanyahu agar perseteruan itu menjadi semakin panas dan tampak nyata dimata dunia internasional ?

Ilustrasi gambar ring & pertandingan tinju

Apakah perlu diadakan pertandingan tinju antara Obama dan Bibi Netanyahu ?

Ini hanyalah sebuah ilustrasi yang lahir dari kekecewaan dan kefrustasian banyak pihak atas memburuknya hubungan Amerika dan Israel.

Obama harus menyadari bahwa Israel bukanlah anak kecil yang menangis karena ingin dibelikan balon, permen atau boneka “Teddy Bear”.

Obama harus lebih pintar mempraktekkan kemampuan berpolitik dan kemampuan diplomasinya dalam mengajak Israel untuk masuk ke dalam atmosfir perdamaian yang sesungguhnya.

Jika proses perdamaian itu terganjal pada rencana Israel membangun perumahan bagi rakyatnya di Jerusalem maka yang dilakukan Obama adalah kembali ke meja perundingan.

Lakukan negosisasi !

Bukan justru menekan sekeras-kerasnya hingga melukai harga diri dan martabat Israel sebagai sebuah bangsa.Israel bisa semakin semaunya dan tidak mau tahu lagi tentang apa atau bagaimana perdamaian itu bisa terwujud.

Yang Israel ingin tunjukkan adalah keseriusan mereka membangun perumahan itu demi kepentingan rakyatnya sendiri.

Foto : PM Bibi Netanyahu & Menteri Luar Negeri Hillary Clinton

Kembali pada ucapan selamat yang disampaikan Hillary Clinton untuk Israel, semoga itu bisa menjadi penyejuk terhadap memanasnya hubungan antara Presiden Obama dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Dan semoga ini menjadi “entry poin” atau jalan masuk bagi Amerika untuk membujuk Israel agar mau mencari solusi-solusi terbaik yang menguntungkan kedua belah pihak yaitu Israel dan Palestina.

Semoga Hillary Clinton juga tak melupakan satu hal penting yang dibutuhkan juga untuk kondisi saat ini yaitu peran serta Amerika membujuk Pihak HAMAS membebaskan seorang prajurit Israel yang sudah hampir 4 tahun ditawan yaitu GILAD SCHALIT.

Sehingga peran AS dalam memuluskan jalan menuju perdamaian itu, membuahkan hasil yang sangat berguna bagi kemanusiaan.

Foto : Gilad Schalit yang ditawan HAMAS sejak Juni 2004

Jangan Biarkan Penawanan Atas Prajurit Gilad Schalit Menjadi Keabadian

Paling tidak, AS bisa “berbicara” kepada Palestina (untuk selanjutkan diteruskan kepada HAMAS) agar GILAD SCHALIT — prajurit yang sangat tak berdaya itu — segera dibebaskan demi alasan kemanusiaan.

Ada tahapan-tahapan penting yang harus segera dilakukan di lapangan dalam kepentingan mewujudkan perdamaian di Timur Tengah.

Amerika tetap sangat diharapkan oleh banyak pihak untuk menjadi pihak yang paling berpengaruh mewujudkan peluang perdamaian antara Israel dan Palestina.

Jadi pendamai yang baik dan jangan justru menjadi pihak yang berseteru dengan Israel.

Tampillah sebagai pendamai yang sangat berkeadilan dan komit terhadap pentingnya menjaga kehamornisan diplomasi dengan masing-masing pihak yang saling berseteru yaitu Israel dan Palestina.Agar harapan banyak pihak terhadap Amerika ini tidak menjadi sia-sia !

Bukan Obama dan Netanyahu yang harus didamaikan.

Foto : Presiden Obama berlatar-belakang bendera AS & Israel

Bukan Obama dan Netanyahu yang sebenarnya saling berseteru.

Jadi, janganlah masing-masing “sahabat” melupakan persahabatan itu sendiri dan memberi peluang untuk lahirnya permusuhan baru yang kasat mata memang tak kelihatan (tetapi sangat kental dirasakan nuansa permusuhannya).

Berdamai, berdamailah, demi kebaikan semua pihak !

(MS)

April 19, 2010 - Posted by | news | , , ,

Sorry, the comment form is closed at this time.

%d bloggers like this: