Katakamidotcom News Indonesia

Oegroseno : Ada Pelanggaran Berat Kasus Aan, Polisi Tidak Boleh Melukai

WAWANCARA EKSKLUSIF

DIMUAT JUGA DI KATAKAMI.COM

Jakarta 19/2/2010 (KATAKAMI) Tepat setahun, Irjen Oegroseno menjabat sebagai Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri yaitu dari Februari 2009 sampai Februari 2010. Mantan Kapolda Sulawesi Tengah ini, mendapat tugas baru dari Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri yaitu menempati jabatan strategis berikutnya sebagai Kapolda Sumatera Utama.

Awal pekan depan, Irjen Oegroseno akan melakukan serah terima jabatan kepada pejabat Kadiv. Propam Polri yang baru yaitu Irjen Budi Gunawan.

Pergantian ini mencuri perhatian publik sebab dikaitkan dengan kasus yang sedang ditangani Propam Polri yaitu kasus pemukulan yang terjadi terhadap seorang korban di Gedung Artha Graha Jakarta.

Photo : Irjen Oegroseno

Propam Polri: Jangan Ada Lagi Penjebakan Dalam Kasus Narkoba

Propam Temukan Rekayasa, Aan Minta Kasus Narkoba Distop

Satgas: Perekayasa Kasus Aan Harus Bertanggungjawab


Kasus Aan ini bermula dari penganiayaan yang terjadi pada 14 Desember 2009. Sukandi Sukatma alias Aan (30 tahun) mengaku dianiaya oleh Viktor Laiskodat di depan 3 oknum Polda Maluku di Gedung Artha Graha.

Aan sempat disekap dan ditelanjangi di gedung Artha Graha lantai 8 dari pukul 14.00 WIB hingga pukul 02.00 WIB pagi.

Inilah skandal hukum menyangkut REKAYASA KEPEMILIKAN NARKOBA !

Aan diminta mau menjadi saksi untuk kasus kepemilikan senjata api milik mantan Bos PT Maritim Jaya, DT.

Namun karena menolak, kini Aan ditetapkan menjadi tersangka kasus kepemilikan narkoba.

3 oknum penyidik Polda Maluku yang dilaporkan ke Propam yakni Direskrim Polda Maluku Kombes Pol Jhon Siahaan, Ipda Jhoni dan Brigadir Obed.

Pemukulan dan penelanjangan terhadap korban yang bernama Aan itu dilakukan dihadapan 3 oknum polisi dari Polda Maluku. Patut dapat diduga, kasus itu dibekingi oleh oknum perwira tinggi Polri.

Untuk menjawab semua teka teki ini, Pemimpin Redaksi KATAKAMI.COM Mega Simarmata diterima di ruang kerja Kadiv. Propam Irjen Oegroseno di Mabes Polri Jalan Trunojoyo Jakarta Selatan pada hari Jumat (19/2/2010) petang untuk melakukan WAWANCARA EKSKLUSIF.

Dan inilah WAWANCARA EKSKLUSIF kami dengan Kadiv. Propam Polri Irjen Oegroseno yang akan segera menjabat sebagai Kapolda Sumut :

http://projectfinancing.files.wordpress.com/2009/07/gedung-artha-graha.jpg

Ilustrasi gambar : Gedung Artha Graha


KATAKAMI (K) : Tepat setahun ya Pak Oegro … anda menjabat sebagai Kadiv. Propam. Masyarakat awam, belum banyak yang tahu tentang tugas pokok Propam Polri. Apa bedanya dengan tugas dari pejabat Irwasum (Inspektur Pengawasan Umum, red). Bisa dijelaskan Pak ?


Oegroseno (O) : Didalam Polri, semua ada aturan mainnya. Yang namanya organisasi kan, pasti ada sumber daya manusianya. Kalau anggota kepolisian ini tidak mengikuti aturan dan tidak disiplin terhadap aturan-aturan yang ditetapkan, organisasi Polri ini mau berjalan seperti apa jadinya ? Nah, Propam bertugas untuk mengawasi itu. Fungsi pengawasan dilakukan Irwasum dari segi manajemen dan anggaran. Lalu dari segi perilakunya, Propam yang mengawasi. Jadi Propam fokus mengawasi penyimpangan perilaku anggota kepolisian.

(K) : Jadi untuk oknum-oknum polisi yang bermasalah, nakal & brengsek, pasti mereka sangat takut berhadapan dengan Kadiv. Propam ya ?


(O) : Untuk mereka yang bermasalah, ya pasti takut. Polisi yang melanggar aturan, pasti takutlah sama Propam.

(K) : Pak Oegro bilang, sepanjang menjabat sebagai Kadiv. Propram Polri selama setahun ini, Propam tidak mau melakukan tawar-menawar. Salah ya salah.  Setegas apa Pak oegro menerapkan prinsip yang keras dalam melaksanakan tugas ?


(O) : Jadi begini, semua itu harus ada kepastiannya yaitu kepastian waktu dan kepastian hukum. Anggota yang salahpun menunggu ketika mereka diproses. Sebab mereka tidak boleh digantung kasusnya. Kalau dia salah, ya saya katakan salah. Contohnya PDTH (Pemberhentian Dengan Tidak Hormat, red). PTDH itu tidak mudah prosesnya. Untuk mengambil keputusan tentang PTDH itu harus ada keputusan dari satu Komisi. Anggota ini masih layak atau tidak menjadi seorang polisi ? Atau sudah tidak layak lagi dipertahankan jadi polisi sehingga dijatuhkan hukuman PTDH tadi.

(K) : Bagaimana sih Pak, teknis penerimaan laporan atau pengaduan dari masyarakat mengenai pelanggaran yang dilakukan polisi ?


(O) : Begitu kami menerima laporan, kami akan melihat pengaduannya. Pengaduan itu bisa disampaikan melalui surat, email, fax atau datang langsung ke sini. Kalau unsur pengaduannya kurang kuat, kami turunkan dulu Paminal (Pengamanan Internal, red). Paminal akan melakukan pengecekan. Mereka akan lapor … pak ini kayaknya tidak jelas datanya. Misalnya, ada LSM melapor tetapi alamat si LSM itu tidak LSM. Pengaduan yang tidak jelas semacam itu, akan kami abaikan. Ya, daripada menghabiskan energi. Kalau mau melaporkan sesuatu ke Propam ini, harus jelas identitasnya. Nah, kalau laporannya jelas … kami akan cek dulu. Apakah di Polda ada laporan mengenai hal itu ? Setelah di cek, ternyata di Polda sudah ada laporannya tetapi tidak ditindak-lanjuti. Kalau memang tidak jalan, limpahkan ke Propam. Kami yang maju.

(K) Artinya, kasus apapun yang dilaporkan maka semua itu akan ditindak-lanjuti oleh Polri ya ?


(O) Oh ya pasti ! Jelas akan ditindak-lanjuti untuk dibuktikan dengan bukti-bukti permulaan yang cukup.

(K) : Pak Oegro, masuk ke pertanyaan yang dikhususkan pada kasus rekayasa hukum yang menima Aan. Ia dituduh memiliki narkoba oleh Polda Maluku. Kemudian ia dipukuli di Gedung Artha Graha. Bahkan sampai ditelanjangi di hadapan 3 penyidik Polda Maluku. Hebat sekali ya, ada oknum polisi dari Maluku bisa terbang ke Jakarta untuk menghadiri acara pemukulan dan penelanjangan yang sadis seperti itu di sebuah Gedung mewah ?


(O) : Begini, Propram melihat kasus ini dari segi prosedur dulu. Prosedurnya sudah betul atau belum ? Prosedural dan proporsional atau tidak si polisi itu dalam menjalankan tugasnya dalam kasus Aan ini ? Saya ingin menjelaskan dulu kepada masyarakat.  Kalau ada polisi dari Ambon datang ke Jakarta ini, mereka harus menyerahkan surat ke Polda Metro Jaya. Isinya, penyidik dari Polda Maluku mau datang ke Jakarta memeriksa saksi, mohon bantuan pemanggilan untuk saksi ini agar dihadirkan di Polda Metro Jaya pada hari dan jam tertentu. Saksi itupun harus diperiksa di salah satu ruangan yang ada di Polda Metro Jaya. Nanti penyidik dari Polda Maluku tadi, harus datang ke Polda Metro Jaya. Walaupun nanti, petugas dari Polda Metro Jaya cuma jadi saksi saja. Tapi memang begitu aturan mainnya. Tidak bisa seenaknya mereka memeriksa di tempat yang mereka tentukan sendiri. Bisa rusak aturan di Polri, kalau ada anggota yang seenaknya sendiri menentukan tempat pemeriksaan saksi. Aturan dibuat untuk dipakai. Iya kalau saksi tadi tidak diapa-apakan. Bagaimana kalau saksi itu dibunuh ? Itu yang dihindari.

(K) : Jadi dalam kasus Aan, indikasi pelanggaran pertama dari 3 penyidik Polda Maluku tadi adalah soal surat tugas ya ? Mereka tidak mempunyai surat tugas untuk datang ke Jakarta ini saat menghadiri pemukulan dan penelanjangan terhadap Aan di Gedung Artha Graha ?


(O) :  Ya, itu pelanggaran pertama mereka dari proses awalnya. Nanti yang akan memanggil orang itu adalah Polda Metro Jaya. Kan tidak mungkin … misalnya, polisi dari Polda Metro Jaya mau memeriksa kelompok separatis Kelly Kwalik. Siapa yang mau mereka tanya ? Apakah mereka berani datang sendiri ke Papua sana … tanpa ada koordinsi dengan Polda Papua ? Pengertiannya kan begitu.

(K) : Pak Oegroseno, apakah Bapak mendengar bahwa ketegasan Bapak dalam memeriksa kasus Aan ini dispekulasikan sebagai penyebab digesernya Bapak sebagai Kadiv. Propam ? Tahukah Bapak tentang rumors bahwa ada oknum perwira tinggi Polri yang membekingi dan sengaja menghalang-halangi agar ketiga penyidik dari Polda Maluku itu tidak diperiksa oleh Propam Polri karena menyangkut bisnis seorang pengusaha berinisial TW ?


(O) : Saya harus tegas. Ini menyangkut hak paling mendasar dari warga negara yaitu hak hidup.  Iya kan. Saya ingat pernyataan dari Presiden SBY yaitu polisi harus memelihara ketertiban umum, melakukan penegakan hukum dan melindungi masyarakat. Artinya, masyarakat yang sudah berada di tangan polisi, dia tidak boleh terluka dan sebagainya. Kalau sudah di tangan polisi, saksi menjadi terluka. Yang salah berarti polisinya !  Polisi dikasih senjata, beladiri dan sebagainya.

(K) : Kasus Aan ini belum selesai. Sementara anda sudah terlanjur diganti sebagai Kadiv. Propam ? Mumpung saat ini, Pak Oegro masih sebagai Kadiv. Propam, apa rekomendasi dari Propam Polri terkait kasus Aan ini ?


(O) : Saya minta Provos melengkapi semua berkasnya agar bisa ditindak-lanjuti.

(K) : Titik kesalahan dalam kasus Aan ini, berarti ada pada ketiga penyidik dari Polda Maluku itu ?


(O) : Ya sudah jelas mereka bertiga yang melakukan pelanggaran berat.

(K) : Sampai saat ini, apakah Propam sudah menemukan indikasi bahwa ketiga penyidik dari Polda Maluku dalam kasus Aan ini dibekingi oleh oknum Komisaris Jenderal tertentu ?


(O) : Yang secara langsung melakukan di lapangan adalah ketiga penyidik dari Polda Maluku ini.  Kita belum tahu bagaimana kelanjutannya. Masyarakat bersabar saja, kita tunggu perkembangan berikutnya. Sebab pemeriksaan akan tetap dilanjutkan. Mereka bertiga pasti cerita kan … kenapa mereka berangkat ke Jakarta tanpa surat tugas dan tidak memberitahu samasekali. Mengapa tidak melakukan pemeriksaan di kantor polisi ? Kenapa harus di sebuah gedung ? Kan ketahuan, mereka tidak professional.

(K) Untuk menutup wawancara ini, apa yang Bapak harapkan terhadap tugas-tugas dari Divisi Propam ini ?


(O) : Ke depan, Propam harus benar-benar pro aktif dalam menjalankan tugas. Kalau tidak pro aktif, nanti suara yang muncul di tengah masyarakat malah kebalikannya. Dalam menjalankan tugas-tugasnya, Polri membutuhkan pengawasan eksternal. Lho, justru internal Polri ini yang harus diperkuat agar rakyat Indonesia percaya kepada Polri. Oh, Polri memang professional. Propramnya bagus, Provosnya bagus, kedengarannya kan enak. Kalau Polri sudah tidak bisa dipercaya rakyat, ya sudah. Rakyat pasti akan menempuh cara-cara illegal. Bahkan bisa-bisa, kalau ada keluhan atau pengaduan … rakyat melapornya bukan ke Polri. Tetapi justru melapor ke PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa, red). Atau, melapor ke Satgas Pemberantasan Mafia Hukum. Munculnya Satgas kan karena aparat penegak hukum mengecewakan. Jadi bukan karena Presiden intervensi dalam masalah hukum.  Tetapi karena aparat penegak hukum kita terkesan mengecewakan.

(K) : Pak Oegro dilantik sebagai Kapolda Sumut, awal pekan depan. Ada harapan khusus terhadap tugas baru nanti sebagai Kapolda Sumut ?


(O) : Saya akan tetap memegang komitmen dalam tugas-tugas polisi yang memiliki kredibilitas yang tinggi. Saya akan memperkuat Polsek-Polsek di Sumut. Kalau perlu, kekuatan di Polda Sumut diturunkan ke Polsel-Polsek dengan tidak membentur kelebihan personil. Kuantitas dan Kualitas personil harus ditingkatkan. Saya akan turun ke lapangan untuk berdialog dengan anggota kepolisian. Lalu berdialog juga dengan masyarakat disana. Saya dengar, di tahun 2010 ini akan ada 23 Pilkada di seluruh wilayah Sumut. Itu sebabnya saya ingin turun ke desa-desa untuk memberitahu mereka. Tentu Polda harus berkoordinasi dengan TNI untuk ikut bersama-sama berdialog dengan masyarakat. Saya akan turun ke bawah. Itu janji saya sebagai Kapolda Sumut yang baru.

(K) : Baik Pak Oegro, selamat untuk tugas barunya. Selamat bertugas.


(O) : Terimakasih kembali, mohon doa dan dukungannya ya Mega ….

(MS)

May 5, 2010 Posted by | news, Wawancara Eksklusif | , , , , | Comments Off on Oegroseno : Ada Pelanggaran Berat Kasus Aan, Polisi Tidak Boleh Melukai

Tantangan Satgas Mafia Hukum, BONGKAR Indikasi Kemafiaan Komjen GM


DIMUAT JUGA DI KATAKAMI.COM


Denny Indrayana tuding Komjen GM tak dukung kasus Aan diselesaikan

Satgas: Perekayasa Kasus Aan Harus Bertanggungjawab

Propam Polri: Jangan Ada Lagi Penjebakan Dalam Kasus Narkoba


Jakarta 27/2/2010 (KATAKAMI) Pernahkah anda mendengar lagu “BONGKAR” yang sangat legendaries dari penyanyi kawakan bersuara emas “IWAN FALS” ? Lagu ini begitu sarat dengan kritik sosial yang menyentuh hati. O o yao yao ya bongkar. O o yao yao ya bongkar.

Ya, Iwan Fals betul. Setiap hal yang memang sarat dengan indikasi ketidak-adilan memang harus dibongkar.

Salah satu yang ingin kami sorot disini adalah kasus rekayasa narkoba yang menimpa Susandi Sukatma alias AAN.

Kasus Aan ini bermula dari penganiayaan yang terjadi pada 14 Desember 2009. Aan mengaku dianiaya oleh Viktor Laiskodat di depan 3 oknum Polda Maluku di Gedung Artha Graha.

Aan sempat disekap dan ditelanjangi di gedung Artha Graha lantai 8 dari pukul 14.00 WIB hingga pukul 02.00 WIB pagi. Aan diminta mau menjadi saksi untuk kasus kepemilikan senjata api milik mantan Bos PT Maritim Jaya, DT.

Namun karena menolak, kini Aan ditetapkan menjadi tersangka kasus kepemilikan narkoba.

3 oknum penyidik Polda Maluku yang dilaporkan ke Propam yakni Direskrim Polda Maluku Kombes Pol Jhon Siahaan, Ipda Jhoni dan Brigadir Obed.

Photo : Susansi Sukatma ( Aan)

Misteri Propam Polri, Salut Oegroseno Selamat Bertugas Budi Gunawan

Aan, sudah mulai menjalani persidangan perdananya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Persidangan Aan terasa sangat memilukan sebab disaat persidangan itu mulai digelar, Mabes POLRI justru sudah menemukan indikasi pelanggaran berat oknum-oknum polisi yang sengaja menjerumuskan Aan agar tersandung kasus (rekayasa) narkoba ini.

Aan yang dipukuli dan ditelanjangi berjam-jam di Gedung Artha Graha adalah seorang korban.

Ia dianiaya.

Ia dipermalukan.

Nama baiknya tak cuma dicemarkan, tetapi totalitas dirinya sebagai martabat dan keselamatan dirinya sebagai seorang anak manusia sudah dihancurkan sampai ke titik nadir.

Betapa malangnya nasib seorang Aan !

Seolah-olah di negeri ini, wong cilik alias orang kecil yang tak berdaya pantas untuk dihina, disiksa dan dibantai sebagai seorang pesakitan yang tak berhak memiliki hak-hak hukum.

Satgas Pemberantasan Mafia Hukum sebenarnya sedang terus memonitor kasus Aan ini.

Bahkan salah seorang anggota Satgas ini yaitu Denny Indrayana (yang kebetulan juga menjadi Staf Khusus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono), sudah mensinyalir bahwa ada seorang Komisaris Jenderal Polisi berinisial GM, mencoba untuk menghalangi penyelesaian kasus Aan.


http://katakamidotcom.files.wordpress.com/2009/04/59335_kepala_pelaksana_harian__kalakhar__bnn_komjen_gories_mere_300_225.jpg?w=600&h=450


Oegroseno : Ada Pelanggaran Berat Kasus Aan, Polisi Tidak Boleh Melukai


Komisaris Jenderal Polisi berinisial GM ?

Tentu SatgasPemberantasan Mafia Hukum tidak main-main dengan sepak terjang dan gerak mereka menelusuri kasus demi kasus yang berbau KEMAFIAAN !

Tentu Presiden SBY juga tidak sedang bermain-main ketika beliau memutuskan untuk membentuk Satgas Pemberantasan Mafia Hukum.

Banyak pihak yakin, Presiden SBY memang sangat serius untuk membabat habis keberadaan MAFIA-MAFIA KOTOR yang sangat buas dan kelaparan (mengais untung).

Pertanyaannya sekarang adalah seriuskah Satgas Pemberantasan Mafia Hukum menuntaskan kasus mafia hukum yang menyeret Aan sebagai korban yang sangat pantas untuk dibela dan dikasihani.

Pertanyaan berikutnya untuk Satgas Pemberantasan Mafia Hukum adalah beranikah dan mampukah mereka membabat habis keberadaan MAFIA HUKUM dibalik kasus rekayasa narkoba yang menimpa Aan ?

Photo : Kapolri Sutanto saat sidak ke Apartemen Taman Anggrek (Nov 2007)

Gong Xi Fat Choi Bandar Narkoba MONAS, Copot Gories Mere

Welcome Program Zero Beking Narkoba, Copotlah Gories Mere

Ibunda Aan : Apa Memang Orang Kecil Harus Ditindas?

Telusurilah benang merah yang menyangkut perwira tinggi berinisial GM tadi di dalam dunia hitam kenarkobaan.

Cari tahulah tentang pembunuhan mafia narkoba internasional bernama Hans Philip yang ditembak mati di bagian kepala saat berada didalam mobilnya di daerah Bogor (Jawa Barat) pada tahun 2005 lalu.

Cari tahulah tentang kasus pencurian barang bukti narkoba 13 kg sabu tahun 2006 lalu yaitu barang bukti dari kasus narkoba apa yang dicuri dan siapa yang ada dibalik kasus narkoba Teluk Naga tersebut ?

Cari tahu jugalah tentang pembekingan yang sangat mengerikan di balik skandal hukum Bandar Narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS yaitu siapakah perwira tinggi yang dengan petantang petenteng bisa meloloskan Bandar Narkoba MONAS sebanyak 3 kali berturut-turut dari jerat hukum ?

Cari tahu dan berkoordinasilah dengan Jajaran Pidana Umum (Pidum) Kejaksaan Agung terkait kasus Bandar Narkoba Monas (yang ditangkap di Apartemen Taman Anggrek Jakarta Barat bulan November 2007) dan pertanyakan kepada mereka mengapa dari 9 orang yang ditangkap … hanya 3 orang saja yang diajukan ke Pengadilan ?

Satgas Pemberantasan Mafia Hukum jangan terkejut dan jangan terpukul.

Sebab akan ada pemandangan yang sangat mengerikan di balik semua skandal-skandal hukum berbau narkoba di negeri ini.

Mengapa disebut mengerikan ?

Ya, sebab patut dapat diduga skandal-skandal hukum narkoba kelas kakap di negeri ini mengerucut dan mengarah pada pembekingan dari oknum perwira tinggi Polri yang itu-itu juga dengan kode L 4.

Lu Lagi Lu Lagi !

Tapi hukum tak mampu berbuat apa-apa terhadap Raja Mafia Hukum dibalik serangkaian kasus narkoba yang sangat memalukan di negeri ini.

Kembali pada lagu BONGKAR dari Iwan Fals, setiap anak bangsa yang peduli pada perang terhadap narkoba ini akan sangat tersentuh pada lirik lagu ini.

Wahai Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, kami nyanyikan sepenggang lirik lagu ini kepada kalian dengan disertai harapan yang besar.

O o yao yao ya BONGKAR !

O o yao yao ya BONGKAR !

(Tak Cuma di BONGKAR, seret oknum perwira tinggi Polri yang patut dapat diduga menjadi MAFIA YANG PALING MAFIA dalam skandal-skandal hukum kasus narkoba di negeri ini).

Jangan takut !

Tangkap dan penjarakan oknum perwira tinggi Polri yang patut dapat diduga memang sudah ketagihan mencari makan lewat cara-cara yang ilegal.


Mari sekarang, kita nikmati alunan nada dan meresapi betul-betul lirik lagu BONGKAR dari Album SWAMI tahun 1989 dengan vokalis IWAN FALS :

Kalau cinta sudah di buang


Jangan harap keadilan akan datang

Kesedihan hanya tontonan

Bagi mereka yang di perbudak jabatan

O, o, ya o … Ya o … Ya bongkar

O, o, ya o … Ya o … Ya bongkar

Sabar, sabar, sabar dan tunggu

Itu jawaban yang kami terima

Ternyata kita harus ke jalan

Robohkan setan yang berdiri mengangkang

Kembali ke : (*)

Reff :

Penindasan serta kesewenang-wenangan

Banyak lagi teramat banyak untuk disebutkan

Hoi hentikan

Hentikan jangan di teruskan

Kami muak dengan ketidakpastian dan keserakahan

O, o, ya o … Ya o … Ya bongkar

O, o, ya o … Ya o … Ya bongkar

Reff II :


Di jalan kami sandarkan cita-cita

Sebab dirumah tak ada lagi yang bisa dipercaya

Orang tua pandanglah kami sebagai manusia

Kami bertanya tolong kau jawab dengan cinta


(MS)

May 5, 2010 Posted by | Uncategorized | Comments Off on Tantangan Satgas Mafia Hukum, BONGKAR Indikasi Kemafiaan Komjen GM