Katakamidotcom News Indonesia

Kok Indonesia Lindungi Teroris Ali Imron, Contempt of Court ?



PM Australia Gusar Atas Skandal Starbucks


Jakarta 17/3/2010 (KATAKAMI) Mari, kami ajak anda sekalian untuk melayangkan ingatan kita masing-masing pada tragedi yang sangat memilukan yaitu peledakan Bom Bali I yang terjadi pada bulan Oktober 2002.

Hampir 300 orang tewas secara mengerikan dan ratusan orang juga menjadi korban luka-luka. Tak sedikit diantara korban luka itu, harus menderita cacat permanen pada fisik mereka masing-masing.


Photo : Buku Biografi Ali Imron Berjudul “Ali Imron Sang Pengebom”

DPR Sesalkan Kongkow-nya Ali Imron dan Gories Mere

Memoar Ali Imron Menohok Polri

Menyingkap Eksklusifitas Tim Anti Teror

Apakah ada diantara kita yang tidak tahu dan tidak ingat pada tragedi memilukan Bom Bali I itu ?

Apakah ada diantara rakyat Australia, bahkan siapapun pemimpin di Negara Kangguru ini, tidak tidak tahu dan tidak ingat musibah nasional pada bangsa dan negara mereka – dimana ratusan korban tewas dalam tragedi peledakan Bom Bali I itu adalah warga negara Australia — ?

Bom Bali I adalah sebuah kasus radikal terorisme yang meluluh-lantakkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara secara total.

Kehancuran pada jasmani, rohani, harta-benda dan totalitas situasi keamanan nasional di Indonesia sungguh mengerikan. Pertanyaan akan kembali diulang, adakah diantara kita yang tidak tahu atau tidak ingat pada tragedi Bom Bali I itu ?

Adakah diantara kita yang berpendapat bahwa bom yang meledak di Bali tahun 2002 itu adalah bom ecek-ecek alias bom abal-abal ?


Photo : Monumen Daftar Korban Tewas Bom Bali I


Adakah diantara kita yang berpendapat bahwa bom yang di Bali tahun 2002 itu adalah bom rakitan dengan kekuatan serta kemampuan yang kelasnya amatiran ?

Kami yakin, tidak ada satu orangpun yang berpendapat demikian.

Lalu kalau sekarang, pertanyaannya dikembangkan, siapakah yang paling pantas untuk dihukum dari kebrutalan dan daya ledak sangat tinggi (high explosive, red) dari bom yang meledak di Bali tahun 2002 itu ?

Oke, HUKUM di Indonesia sudah mengantarkan ketiga terpidana kasus Bom Bali I yaitu Amrozi cs ke gerbang kematian – setelah menjalani pidana kurungan secara berpindah-pindah yaitu dari penjara LP Grobokan Bali ke LP Nusa Kambangan, Amrozi cs di eksekusi di LP Nusa Kambangan pada bulan Oktober 2008 — ?

Kalau ditanya, siapa lagi yang paling pantas dihukum dan menjalani hukuman yang seberat-beratnya atas kasus peledakan Bom Bali I itu, maka jawabannya adalah ALI IMRON.

Mengapa ?



Photo : Gembong Teroris (Terpidana Seumur Hidup) Ali Imron


Sebab, ALI IMRON inilah yang membuat bom untuk diledakkan di Bali tahun 2002 itu. ALI IMRON inilah yang menjadi biang kerok dan biang keladi dari peledakan maha sadis itu.

Dari tangannyalah, tercipta bom dengan kekuatan maha dasyat dengan kekuatan serta daya ledak “sangat amat tinggi” alias “very high explosive”.

Tapi apa yang terjadi ?

Hanya karena ALI IMRON memutuskan untuk berbalik badan menjadi informan POLRI – dalam hal ini Tim Anti Teror POLRI yang dipimpin Saudara Gories Mere (ketika itu masih berpangkat Brigadir Jenderal, red), maka ALI IMRON menjadi satu-satunya pelaku Bom Bali I yang tidak dituntut dan tidak mendapatkan VONIS MATI dari Majelis Hakim.

ALI IMRON “cuma” diganjari pidana kurungan atau penjara seumur hidup.

Keberuntungan ALI IMRON tak hanya sampai disitu saja.

Sehari setelah VONIS dijatuhkan Majelis Hakim pada tahun 2003, Tim Anti Teror POLRI secara resmi meminjam ALI IMRON dari dalam penjara.

Sebelumnya juga yaitu saat proses penyidikan dilakukan yaitu tepatnya tahun 2004 Brigjen Polisi Gories Mere juga membuat sensasi yang sangat rendah dengan cara melakukan proses penyidikan di kafe STARBUCKS.

Skandal “Starbucks” ini membuat pria Flores ini LANGSUNG DICOPOT dari jabatannya sebagai Kepala Satgas Anti Teror Polri.

Ketika itu Kapolri Jenderal Dai Bahtiar mengatakan, Gories telah Mere diberikan koreksi atas tindakannya setelah kasusnya dengan Ali Imron di Kafe Starbucks tersebut.

“Saya beri penilaian, mestinya seorang perwira harus bisa menghindari tempat terbuka dan umum supaya tidak timbul kesan-kesan lain. Contohnya, orang yang dihukum berat (Ali Imron) kok bebas seperti itu,” ujar Dai kepada wartawan di sela-sela acara Rapat Koordinasi Berkala Anggota Badan Narkotika Nasioal dan Provinsi di Hotel Hilton, Senin (6/9/2004).

Peringatan itu, kata Dai, juga berlaku bagi semua perwira kepolisian yang bertujuan supaya tidak menimbulkan kesan yang berubah dari pengembangan penyelidikan.

Singkat kata, ALI IMRON tidak pernah seharipun juga menjalani masa hukumannya di dalam penjara.

Ketika sang waktu berjalan, media massa berhasil membongkar rahasia yang sangat kelam yaitu ALI IMRON (ternyata) dibiayai hidup secara mewah dan berpindah-pindah dari satu apartemen ke apartemen yang lain.

Dan dari satu hotel ke hotel yang lain.

ALI IMRON juga dibuatkan BUKU BIOGRAFI yang sangat luks berjudul ALI IMRON, SANG PENGEBOM.

Dan sebagai informasi pelengkap dalam tulisan ini, setelah DICOPOT dari jabatannya sebagai Kepala Satgas Anti Teror Polri tahun 2004 (akibat DUGEM dengan Ali Imron), pada awal tahun 2008 Gories Mere DICOPOT LAGI UNTUK YANG KEDUA KALINYA.

Pencopotan kedua kalinya itu adalah pencopotan dari jabatan GORIES MERE sebagai Wakil Kepala Badan Reserse Dan Kriminal (WAKABARESKRIM) Polri.

Ia hanya diberi jabatan sebagai Kepala Badan Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Narkotika Nasional, menggantikan Komjen Mangku Pastika yang mengundurkan diri karena ketika itu ingin berkonsentrasi mengikuti Pilkada di Bali.

Kabarnya, pencopotan yang dilakukan Kapolri (ketika itu) Jenderal Polisi Sutanto erat kaitannya dengan tindakan-tindakan menyimpang dari GORIES MERE yang selalu melakukan DISKRIMINASI terhadap media massa terkait pemberitaan penanganan terorisme dan pembocoran rahasia-rahasia negara terkait isu-isu terorisme.

BACA : HIDUP TERUS BERPUTAR, GORIES …..

BACA : WARTAWAN PROTES RAHASIA NEGARA DIBOCORKAN KEPADA SATU MEDIA TELEVISI (DENSUS DITEGUR KERAS OLEH KAPOLRI SUTANTO).



Photo : Bendera Australia


Kalau saja, rakyat Australia – terutama keluarga korban Bom Bali I – mengetahui dan ditanya tentang satu hal ini, bagaimana pendapat mereka ketika Pemerintah Australia menganugerahkan bintang kehormatan kepada Saudara Gories Mere karena dianggap berhasil mengungkap Bom Bali I – tetapi Saudara Gories Mere ini jugalah yang memotori dan menjadi pihak yang paling bertanggung-jawab atas “KEBEBASAN ABSOLUT” atas diri ALI IMRON sampai saat ini ?

Mengapa disebut KEBEBASAN ABSOLUT ?

Ya, karena VONIS (Keputusan) dari Majelis Hakim tidak dijalankan. Fakta bahwa ALI IMRON memutuskan untuk berbelot dan melacurkan dirinya menjadi informan bagi Tim Anti Teror Polri, tidak berarti akan menghapuskan semua rekam jejak perbuatan melawan hukum yang dilakukannya pada tragedi Bom Bali I.

Keberadaan ALI IMRON sebagai informan sesaat ketika Tim Anti Teror POLRI mengungkap kasus Bom Bali I, tidak lantas membuat VONIS (Keputusan) Majelis Hakim yang menjatuhkan hukuman pidana kurungan atau penjara seumur hidup kepada ALI IMRON menjadi batal demi hukum.

Tidak !

Tidak seperti itu pengertian dan kelazimannya.



The Law is the law.

Hukum adalah hukum.

Hukum tidak bisa ditempatkan di wilayah abu-abu.

Hukum harus secara tegas membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Hukum harus secara tegas dilaksanakan yaitu menjalankan VONIS (Keputusan) dari Majelis Hakim.

Tidak ada Undang Undang, Perpu atau Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang atau aturan hukum apapun di level bawah berikutnya – yang secara tegas mengatakan bahwa jika seorang terdakwa memutuskan untuk menjadi informan bagi Penyidik Kepolisian maka semua perbuatan melawan hukumnya dan keputusan majelis hakim yang dijatuhkan kepadanya menjadi BATAL demi hukum.

Tidak ada satupun pasal dalam UU yang mengatur hal demikian.

Mari, kami ajak anda mengingat kembali, bagaimana marahnya masyarakat – terutama rakyat Australia – saat mengetahui ALI IMRON dengan enaknya bisa menikmati kelezatan kopi di STARBUCKS bersama Saudara Gories Mere tahun 2004 alias setahun setelah ALI IMRON resmi dinyatakan sebagai TERPIDANA (seperti yang sudah diungkapkan di bagian atas tulisan ini).



Photo : Mentan Perdana Menteri Australia John Howard


Dan mari, kami beritahukan juga kepada anda sekalian, bagaimana mengamuk dan marahnya Perdana Menteri Australia John Howard pada bulan Oktober 2007 lalu saat mengetahui bahwa ALI IMRON dengan enaknya bisa berbuka puasa di rumah Brigjen Surya Darma yang saat itu menjabat sebagai Kepala Densus 88 Anti Teror Polri.

Ketika itu, Ali Imron dan MUBAROQ (Terpidana Kasus Bom Bali I juga tetapi dengan hukuman pidana penjara 20 tahun), ketahuan berada di rumah Kepala Densus 99 Anti Teror Polri untuk makan bersama atau berbuka puasa.

Australia begitu terpukul bahwa terpidana kasus Bom Bali I, bisa sangat enak-enakan hidup di luar penjara seperti itu.

Ketika itu, PM Howard menyebut kalimat, “ABSOLUTELY DISGUSTING” atau benar-benar sangat mengecewakan.

Kabareskrim BHD juga baru tahu kalau PM Australia John Howard marah besar setelah membaca RUNNING TEXT di Metro TV. Sebab RUNNING TEXT itu ditayangkan terus menerus sejak malam takbiran sampai pada hari lebaran (di tahun 2007).

Yang hebatnya lagi, Kabareskrim Polri (ketika itu) Komjen Bambang Hendarso Danuri tidak tahu samasekali bahwa ALI IMRON tidak pernah mendekam di dalam penjara.

Bahkan ketika BHD mencoba menghubungi Saudara Gories Mere dan Surya Darma,  tidak ada satupun petinggi Tim Anti Teror Polri ini yang mau menerima dan menjawab telepon Kabareskrim Polri.

Ketika itu, yang bersedia menerima telepon dari Kabareskrim BHD (sekaligus yang mau memberikan informasi terkait ALI IMRON ini hanyalah perwira menengah dengan pangkat KOMBES dalam Tim Anti Teror POLRI).

Mengapa KATAKAMI.COM bisa mengetahui hal ini karena persis di saat Kabareskrim BHD berbicara dengan perwira menengah berpangkat KOMBES itulah, Pemimpin Redaksi KATAKAMI.COM Mega Simarmata sedang berlebaran di rumah kediaman BHD.

Jadi sayang sekali, kalau misalnya John Howard, PM Kevin Rudd dan semua rakyat Australia — terutama Keluarga Korban Bom Bali I —  tidak mengetahui bahwa GEMBONG TERORIS ALI IMRON sudah sejak dulu berada diluar penjara alis BEBAS MERDEKA.

Tetapi sudah bertahun-tahun lamanya.

ALI IMRON hidup bebas, mewah dan sangat berkelimpahan atas biaya dari POLISI INDONESIA.

http://z4ki.files.wordpress.com/2009/08/den881.jpg

Fakta bahwa GEMBONG TERORIS ALI IMRON ini sudah sepantasnya untuk segera dimasukkan ke dalam penjara, menjadi salah satu concern kami sebagai PERS NASIONAL yang peduli pada prinsip-prinsip penegakan hukum dan pemberantasan terorisme.

Isu terorisme menjadi salah satu isu terkuat dan terbesar porsinya yang dikritik sangat keras oleh KATAKAMI.COM — selain tentunya, isu pemberantasan narkoba –.

Bahkan pernah, karena gencarnya KATAKAMI.COM mendesak agar GEMBONG TERORIS Ali Imron ini dimasukkan ke dalam penjara (sesuai dengan vonis Majelis Hakim), Ali Imron pernah mengirimkan pesan SMS kepada Pemimpin Redaksi KATAKAMI.COM Mega Simarmata.

SMS itu berbau SARA, yaitu mengutip ayat injil yaitu mengutip kalimat Tuhan Yesus saat berada di kayu salib, “Ya Bapa, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan”.

Jadi barangkali menurut GEMBONG TERORIS Ali Imron, desakan dan kritikan agar ia dikembalikan ke dalam penjara (sesuai dengan vonis Majelis Hakim) adalah sebuah kekeliruan yang sangat fatal dari kaidah hukum dan agama.

SMS dari ALI IMRON ini dikirim melalui Saudara Gories Mere.

Kemudian Saudara Gories Mere mem-forward SMS berbau SARA itu ke handphone Mega Simarmata.

Insiden ini langsung dilaporkan oleh Mega Simarmata kepada Kapolri (ketika itu) Jenderal Polisi SUTANTO dan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sjamsir Siregar.

Anehnya, Saudara Gories Mere (yang saat ini menjabat sebagai Kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional atau Kalakhar BNN), seakan menerapkan standar ganda.

Di satu sisi, patut dapat diduga ia sangat brutal melakukan teror akibat kerasnya kritikan KATAKAMI.COM.

Tetapi di sisi lain, sangat sibuk mengemis perhatian dan bantuan agar Pemimpin Redaksi KATAKAMI.COM mau membantu dan mendukungnya — terutama terkesan kuat ingin memanfaatkan relasi (perkenalan) Pemimpin Redaksi KATAKAMI.COM Mega Simarmata di kalangan pejabat tinggi negara di bidang politik, hukum dan keamanan.

BACA : INILAH SMS KIRIMAN KOMJEN GORIES MERE YANG MENGEMIS PERHATIAN



Photo : Perdana Menteri Australia Kevin Rudd


Kalau John Howard, PM Kevin Rudd dan semua rakyat Australia bisa “bertoleransi” atas keberuntungan dan kemewahan ALI IMRON saat ini, maka pantaslah dipertanyakan kepada mereka … apakah mereka sudah melupakan bagaimana sakit, buruk dan memilukannya Bom Bali I bagi rakyat Australia yang menjadi korban ?

Apakah mereka lupa ?

Apakah kita lupa ?

Yang ingin disampaikan disini adalah penanganan terorisme secara baik dan benar adalah menjalankan proses HUKUM sebagaimana mestinya.

Mengapa VONIS (Keputusan) Hakim tidak dijalankan ?

Mengapa VONIS (Keputusan) Hakim, dibatalkan sepihak oleh petinggi-petinggi POLRI atas diri ALI IMRON ?

Apakah ada hak dari POLRI – dalam hal ini oknum Petinggi POLRI yang berkecimpung dalam Tim Anti Teror POLRI, khususnya Saudara Gories Mere — untuk membatalkan VONIS (Keputusan) Majelis Hakim legal dan sah di muka hukum ?

Jawabannya adalah TIDAK ADA hak apapun yang dimiliki oleh POLRI untuk membatalkan VONIS (Keputusan) Majelis Hakim.



Photo : Ilustrasi suasana persidangan di Pengadilan


Kecuali kalau dalam amar putusannya, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Denpasar menegaskan bahwa terdakwa ALI IMRON dibebaskan dari semua konsekuensi perbuatan melawan hukumnya pada kejahatan tindak pidana terorisme karena sangat berjasa luar biasa menolong Tim Anti Teror Polri.

Ingat, tidak ada dalam amar putusan Majelis Hakim yang membatalkan semua kejahatan dan pelanggaran hukum ALI IMRON yang telah terbukti bersalah dalam kasus terorisme. Jasa ALI IMRON sebagai informan itu hanya pada jenis hukumannya saja.

Kalau Amrozi cs diganjar HUKUMAN MATI.

Maka ALI IMRON diganjar pidana kurungan (penjara) seumur hidup.

Nyawa ALI IMRON tertolong hanya karena ia melacurkan diri menjadi informan.


Photo : Gembong Teroris (Terpidana Seumur Hidup) Ali Imron


Dia tidak perlu menjadi terpidana mati kasus Bom Bali I.

Pengadilan memerintahkan TERORIS keji bernama ALI IMRON ini untuk mendekam di dalam penjara seumur hidupnya.

Tetapi, perintah Pengadilan itu diabaikan dan dianggap tak ada oleh POLRI.

Sampai detik ini, ALI IMRON hidup bebas merdeka secara mewah dan berkelimpahan.

Inilah untuk yang pertama kali dalam sejarah penegakan hukum di Indonesia dan didunia , ada seorang TERORIS yang sangat keji bisa dibebaskan dari jerat hukum.

Tangan ALI IMRON berdarah-darah.

Bandingkan dengan kakak kandung ALI IMRON yang sudah ditembak mati oleh regu tembak polisi di Nusa Kambangan bulan Oktober 2008 lalu.

AMROZI bertugas “hanya sebatas” pada kesalahan membawa karbit yang digunakan sebagai bahan baku pembuat bom.

ALI GUFRON, malah lebih sederhana lagi “bobot kesalahannya” yaitu hanya karena ia dituakan dan dianggap sebagai “guru spiritual yang lebih menguasai kaidah-kaidah agama Islam” dibanding kedua adiknya.

ALI IMRON, adalah GEMBONG TERORIS yang merakit bom itu secara langsung.

ALI IMRON adalah GEMBONG TERORIS yang sangat ahli dan pakar membuat bom dengan kekuatan very very high explosive.

Dan dia dibebaskan dari segala hukumannya secara sepihak oleh petinggi POLRI ?


Ini adalah penghinaan terhadap Pengadilan atau CONTEMPT OF COURT.

Mengapa disebut penghinaan terhadap Pengadilan atau COMTEMPT OF COURT ?

Ya, karena keputusan Majelis Hakim tidak dijalankan dan tidak dilaksanakan dari mulai pertama kali palu Hakim diketuk sampai dengan saat ini.

Yang bisa dituduh melakukan PENGHINAAN TERHADAP PENGADILAN atau CONTEMPT OF COURT ini adalah Kejaksaan Agung dan Mabes POLRI — dalam hal ini Tim Anti Teror Polri atau Densus 88 Anti Teror Polri –.

Sebagai Jaksa Penuntut Umum (JPU), Pihak Kejaksaan yang diwajibkan oleh UU untuk melaksanakan perintah Pengadilan lewat amar putusan Majelis Hakim.

Dan lihatlah, apa yang terjadi pasca DIPINJAMNYA teroris Ali Imron ?

Tidak ada gunanya samasekali sebab, sejak tahun 2002 atau pasca BOM BALI I … makin banyak sekali peledakan bom di Indonesia ini.

Coba POLRI hitung jumlah peledakan bom di Indonesia periode 2002 – 2010 ini !

Bom JW Marriot I yang terjadi bulan Agustus 2003, Bom Kuningan yang meledak di depan Kedubes Australia bulan September 2004, Bom Bali II yang meledak bulan Oktober 2005 dan Bom JW Marriot II yang meledak bulan Juli 2009.

Photo : Lokasi peledakan Bom didepan Hotel JW Marriot ( Jakarta )


Seperti itu, kok bangga menjadi pihak yang paling ahli menangani terorisme.

Ahli penanganan terorisme darimana ?

Indonesia kok jadi langganan peledakan bom.

Memalukan sekali !

Untuk apa POLRI sesumbar mengejar, membantai dan menembaki sampai mati teroris A, B dan C.

Wahai POLRI, mengapa kalian melindungi GEMBONG TERORIS paling berbahaya di muka bumi ini yaitu terpidana kasus Bom Bali I bernama ALI IMRON ?

Wahai POLRI, mengapa kalian mengabaikan dan tidak melaksanakan VONIS (Keputusan) Majelis Hakim yang sah keberadaannya di muka hukum yaitu pidana kurungan (penjara) seumur hidup atas diri terpidana ALI IMRON ?

Wahai POLRI, tidakkah kalian sadar bahwa patut dapat diduga kalian melakukan penghinaan terhadap Pengadilan atau CONTEMPT OF COURT karena tindakan membebaskan ALI IMRON dengan cara berpura-pura meminjamnya dari dalam penjara dari mulai tahun 2003 sampai dengan saat ini ?

Wahai POLRI, berlakulah adil dan taat hukum.

Jangan besar mulut dalam penanganan terorisme.

Kembalikan GEMBONG TERORIS paling sadis dan paling berbahaya di muka bumi ini yaitu ALI IMRON ke dalam penjara.

Taati putusan Majelis Hakim.



Sekali lagi, kembalikan ALI IMRON ke dalam penjara.

Laksanakan perintah Pengadilan yang sudah dijatuhkan atas diri ALI IMRON pada tahun 2003 lalu.

Jangan lakukan diskriminasi hukum di negara ini sebab Indonesia adalah negara hukum.

Biarkan HUKUM yang menjadi PANGLIMA di negaranya masing-masing.

Hukum tak bisa diseret atau dipaksa untuk membenarkan yang salah atau menyalahkan yang benar.

Untuk apa melakukan Latihan Gabungan Anti Teror TNI – POLRI menjelang kunjungan kenegaraan Presiden Amerika Serikat Barack Obama – sementara diluar sini ada GEMBONG TERORIS paling berbahaya sedunia yaitu ALI IMRON hidup bebas merdeka secara mewah berkelimpahan ?

Jika saja, bisa berkesempatan berkenalan, bertemu dan bertanya dengan sepenuh hati kepada Yang Mulia Presiden Barack Obama (yang berlatar-belakang HUKUM dalam pendidikan formalnya), Menteri Luar Negeri Hillary Rodham Clinton, Menteri Pertahanan Robert Gates dan Direktur Dinas Rahasia CIA Leon Panetta, maka yang sangat ingin disampaikan kepada mereka adalah :


Photo : Presiden Obama, Wapres Joe Biden, Menlu Hillary & Pejabat-Pejabat Keamanan AS

“Adilkah jika ada GEMBONG TERORIS yang tingkat dan bobot kesalahannya jauh lebih parah dan lebih besar dari HAMBALI (yang sejak bulan Agustus 2003 dipenjarakan Amerika di Penjara Guantanamo), ternyata dilindungi, dibiayai hidup mewah dan tidak pernah seharipun juga menjalani masa hukuman yang sudah dijatuhkan Majelis Hakim terhadap GEMBONG TERORIS paling berbahaya ini ?”

“Adilkah jika ada GEMBONG TERORIS yang sangat sadis dan dari tangannyalah tercipta BOM dengan daya ledak VERY VERY HIGH EXPLOSIVE justru dibebaskan dari semua jerat hukum pada BOM hasil ciptaannya itulah yang sudah menewaskan secara sadis ratusan nyawa yang tidak bersalah ?”

Jadi untuk POLRI, nasihat yang terbaik cuma satu saja saat ini !

Perintahkan segera anggota Densus 88 Anti Teror Polri yang sangat heroik penampilannya lewat Latihan Gabungan Anti Teror itu menyeret dan mencampakkan GEMBONG TERORIS ALI IMRON ke dalam penjara – sesuai dengan keputusan Majelis Hakim –.

Semangat universal untuk memerangi terorisme telah dicederai dan dinodai oleh tindakan petinggi POLRI yang membebaskan, membiayai dan membiarkan seorang GEMBONG TERORIS paling berbahaya untuk hidup berkeliaran di alam bebas sini.

Laksanakan perintah Pengadilan !


Itu esensi yang paling pokok dalam perang dalam teror.

Jangan banyak ulah dan jangan pongah dalam hal ihwal penanganan terorisme kalau seorang GEMBONG TERORIS paling berbahaya, justru dibebaskan dari semua kewajibannya di muka hukum.

Yang benar dong kalau mau memberantas terorisme !

Jangan cuma basa-basi.

Jangan cuma pura-pura.

Jika memang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berkeinginan kuat membenarkan tindakan POLRI melakukan diskriminasi terhadap GEMBONG TERORIS paling berbahaya bernama ALI IMRON ini, jangan dan tidak boleh seperti ini caranya.

Gunakanlah juga cara lain yang sesuai dengan ketentuan hukum yaitu silahkan berikan pengampunan atau GRASI kepada GEMBONG TERORIS ALI IMRON secara resmi.

Presiden SBY harus menanda-tangani GRASI atau PENGAMPUNAN yang tercatat secara resmi di lembaran dokumentasi negara agar setiap upaya penegakan hukum di negara ini tidak menjadi sia-sia.

Berani atau tidak, mau atau tidak, serta bisa atau tidak, Presiden SBY berkompromi pada GEMBONG TERORIS yang sangat berbahaya bernama ALI IMRON ini sesuai ketentuan hukum yang berlaku ?

Umumkan kepada rakyat Indonesia dan dunia internasional, jika memang itu kebijakan negara — cq institusi POLRI.

Tetapi kalau tidak mau dan tidak berani, maka pertanyaannya adalah “Mana ALI IMRON itu, kembalikan GEMBONG TERORIS ini ke dalam penjara !”

Titik !


(MS)

Advertisements

May 10, 2010 - Posted by | news | , , , ,

Sorry, the comment form is closed at this time.

%d bloggers like this: