Katakamidotcom News Indonesia

Jangan Suudzon Pada Polri, Dulu Susno Memang Dinilai Tak Layak Jadi Kabareskrim

Susno Pantas Jadi Kalakhar BNN Gantikan Gories Mere Yang Dibidik Satgas

Menghitung Hari Melepas BHD Purna Bhakti Enam Bulan Lagi

Jakarta 12/5/2010 (KATAKAMI)  Tak ada samasekali tendensi apapun jika satu fakta kecil ini dikemukakan kepada publik yaitu sesungguhnya Komjen. Susno Duadji sempat dinyatakan tak layak menduduki jabatan Kepala Badan Reserse & Kriminal (Kabareskrim) Polri pada bulan September 2008 lalu.

Publik hanya terbawa euforia mengagumi dan mendadak sontak jadi menyukai figur Susno pasca terbongkarnya kasus pengemplangan pajak Gayus Tambunan akhir-akhir ini.

Artinya, ya … baru sekitar sebulan terakhir nama Susno menjadi sangat fenomenal.

Atau kalau misalnya ukuran satu bulan dinilai masih sangat minim maka boleh juga disebut bahwa Susno menjadi mendadak terkenal sejak ia dicopot sebagai Kabareskrim 5 bulan yang lalu.

Dengan kata lain, baru pada tahun 2010 ini Susno digemari oleh publik yang belum mendapatkan informasi yang begitu lengkap.

Saat Susno menjadi Kapolda Jawa Barat (itupun baru dalam hitungan bulan), ia dijagokan untuk menjadi Kabareskrim.

Susno yang merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) Angkatan 1977 bersaing ketat dengan sebuah nama yang sesungguh jauh lebih pantas menjadi Kabareskrim yaitu Irjen Edi Darnadi (pada era tahun 2008, Edi Darnadi masih menjabat sebagai Wakil Inspektur Jenderal atau Wairwasum Polri).

 

Foto : Irjen Polisi (Purn) Edi Darnadi

Edi Darnadi seangkatan dengan Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri yaitu sama-sama berasal dari Angkatan 1974.

Seperti biasa, jika hendak mengangkat pejabat-pejabat tertentu di lingkungan Mabes Polri maka digelar Rapat Wanjak (semacam rapat Dewan Kepangkatan). Ini terjadi sekitar bulan September 2008).

Dalam rapat Wanjak saat itu, Kapolri Jenderal BHD yang memimpin langsung dan dihadiri oleh pejabat-pejabat utama yang berwenang menentukan atau memberikan “hak veto” suara tentang layak atau tidaknya seseorang diangkat guna menduduki jabatan-jabatan strategis.

Ketika itu, sumber KATAKAMI.COM di lingkungan Mabes Polri menyebutkan bahwa dalam rapat wanjak tersebut tidak ada satupun yang memberikan persetujuan bagi Susno untuk menjadi Kabareskrim.

Masih menurut sumber KATAKAMI.COM, bukan karena faktor LIKE OR DISLIKE (SUKA ATAU TIDAK SUKA), tetapi penolakan yang bulat itu karena rekam jejak Susno dinilai kurang baik.

Kapolri Jenderal BHD yang memang sangat penyabar ini secara otomatis menjadi terdorong pada situasi yang serba dilematis.

Mengapa ?

Rumors menyebutkan ketika itu bahwa sesungguhnya Jenderal BHD sedang mempertimbangkan rekan seangkatannya (sesama Angkatan 1974 yaitu Irjen Edi Darnadi) untuk menjadi Kabareskrim.

Tetapi rumors lainnya menyebutkan, Kapolri BHD terpaksa harus meminggirkan semua pendapat dari arus bawah internalnya sebab Susno merupakan titipan dari mantan Kapolri sebelumnya yaitu Jenderal Sutanto.

Foto : Jenderal Sutanto (Kiri) & Jenderal BHD (Kanan)

Kepada KATAKAMI.COM yang bertemu secara khusus di kediaman dinas Kapolri di Jalan Pattimura Jakarta Selatan (beberapa hari sebelum Sutanto pensiun bulan September 2008), Jenderal Sutanto mengungkapkan bahwa figur Susno pantas untuk dipertimbangkan menjadi Kabareskrim.

Ketika itu atau tepatnya bulan Oktober 2008, akhirnya Susno Duadji diangkat menjadi KABARESKRIM POLRI.

Bahkan Susno juga secara khusus memberikan WAWANCARA EKSKLUSIF kepada KATAKAMI.COM diawal-awal pengangkatannya sebagai KABARESKRIM (waktu itu pangkat masih Irjen, belum naik menjadi Komjen).

Malah, ketika periode bulan Januari 2009 (saat sejumlah oknum pernah melakukan kejahatan IT merusak KATAKAMI.COM terkait pemberitaan, MABES POLRI melalui Kabareskrim Komjen Susno Duadji menghubungi salah Direktur di Polda Metro Jaya untuk menangani kasus pengrusakan ini dengan sebaik-baiknya demi penegakan hukum).

Jadi pantaslah kalau sekarang Susno sangat berhati-hati jika berbicara mengenai sosok Kapolri BHD.

Bisa jadi karena faktor hutang budi.

Barangkali Susno tahu bahwa sesungguhnya dalam rapat Wanjak di bulan September 2008 itu, ia dianggap tidak layak menjadi Kabareskrim karena patut dapat diduga ada satu dan hal terkait rekam jejaknya sepanjang menjadi polisi.

Penolakan terhadap Susno ketika itu, tentu tidak ada kaitannya dengan rasa sakit hati, dendam atau diskriminasi.

Rapat Wanjak dalam internal TNI, Polri atau Kejaksaan, sangat menentukan boleh atau tidaknya seseorang menduduki jabatan-jabatan strategis.

Rapat Wanjak tidak dihadiri oleh satu atau dua orang saja.

Tetapi dihadiri oleh begitu banyak pejabat yang berwenang menyuarakan atau menyampaikan semua data, masukan dan laporan yang berkaitan dengan figur demi figur yang akan ditempatkan pada jabatan-jabatan strategis.

Ini adalah fakta.

Ini adalah realita.

Inilah sesungguhnya yang terjadi.

Foto : Jenderal Sutanto (Kiri) & Jenderal BHD (Kanan) saat sertijab di Mako Brimob (Oktober 2008)

Atas budi baik dan sifat kerendahan hati dari Kapolri BHD sematalah, maka usulan Jenderal Purnawirawan Sutanto untuk mempertimbangkan Susno menjadi Kabareskrim yang menjadi kata kunci dipilihnya Susno menjadi Kabareskrim.

Jika rapat Wanjak itu disamakan atau disetarakan dengan FIT AND PROPER TEST maka bisa dibilang bahwa sebenarnya Susno TIDAK LULUS dan TIDAK MAMPU melewati proses uji kelayakan dan kepatutan.

Ia mendapat tiket menjadi Kabareskrim Polri hanya atas dasar kebaikan dan kemurahan hati Mantan Kapolri Sutanto dan Kapolri BHD.

Sistem yang berlaku secara formal di internal Polri lewat proses WANJAK tadi, sudah dari awal menolak dan menyatakan Susno tak layak menjadi Kabareskrim.

Kalau kini Komjen Susno Duadji ditahan di Rutan LP Cipinang Cabang Markas Komando Brimob Kepala Dua Depok, maka janganlah dibayangkan bahwa Susno akan berada di balik jeruji.

Pemimpin Redaksi KATAKAMI.COM Mega Simarmata pernah berulang kali melakukan liputan investigasi ke Rutan tersebut semasa kasus korupsi (mantan) Jaksa Urip Tri Gunawan disidangkan.

Di Rutan itu, Urip ditahan pada periode tahun 2008.

Patut dihargai, Bareskrim Polri memutuskan untuk tidak menahan Susno di Rutan Bareskrim.

Bayangkan jika seorang Mantan Kabareskrim ditahan di bekas kantornya sendiri.

Dan (lagi-lagi) KATAKAMI.COM, sudah pernah secara langsung masuk sampai ke dalam Rutan Bareskrim.

Suasana tahanan didalam Rutan Bareskrim itu, padat, sesak, penuh dan nyaris tidak sedap dipandang mata.

Sebab Rutan Bareskrim sudah tidak mampu menampung tahanannya alias agak berlebihan jumlah tahanan yang ada disana.

Berbeda halnya dengan Rutan di Mako Brimob Kelapa Dua.

Kalau mau jujur, ini tidak pantas disebut tahanan atau penjara.

Lebih tepat disebut sebagau PAVILIUN karena memang bangunan itu adalah PAVILIUN (dalam arti yang sebenarnya) tetapi di alih-fungsikan menjadi tahanan.

Foto : Komjen Susno Duajdi di Blok B4 Rutan Brimob (Detik.Com)

 

Ada 3 klasifikasi tahanan di Rutan Mako Brimob Kelapa Dua Depok.

Pertama untuk tahanan PERWIRA TINGGI (yaitu kalangan JENDERAL).

Kedua untuk tahanan kelas menengah.

Ketiga untuk tahanan kelas standar (biasa).

Di Blok yang dikhususkan untuk para JENDERAL inilah pernah ditahan Mantan Kapolri Jenderal Polisi Purnawirawan Rusdiharjo (terseret dalam kasus korupsi yang ditangani oleh Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK).

Selain Rusdihardjo, yang pernah di tahan di Blok (kelas elite) ini adalah Mantan Deputi Badan Intelijen Negara atau BIN, Mayjen TNI Purnawirawan Muchdi Pr.

Kemudian, yang juga pernah ditahan di Blok (kelas elite) ini adalah besan dari Presiden SBY yang terseret juga dalam kasus korupsi yang ditangani KPK yaitu AULIA POHAN.

Sekedar untuk informasi, Rutan Brimob Kepala Dua memiliki tingkat pengamanan yang sangat amat tinggi.

Selain karena lokasinya berada di dalam Mako Brimob, para penjaganya sebagian dari Densus 88 Anti Teror Polri.

 Jadi sudah dari dulu, anggota Densus 88 Anti Teror ikut mengamankan rutan yang satu ini sebab semasa POLRI menangani kasus-kasus terorisme, para tahanannya ditahan di rutan ini.

Jangan heran juga jika utusan dari KPK akan banyak berseliweran di Rutan ini sebab para tahanan KPK cukup banyak yang dititipkan di Rutan Mako Brimob Kepala Dua Depok.

Jangankan Blok (kelas elite) untuk kalangan para JENDERAL, Blok yang diperuntukkan untuk kalangan umum kelas menengah saja tidak seperti penjara pada umumnya.

Kondisinya sangat baik sekali.

Ada ruang tamu dan setiap sudut Rutan (termasuk di bagian dalamnya) sangat higenis, asri dan dijaga dengan pengamanan yang tinggi.

Foto : Wakapolri Komjen. Jusuf Manggabarani

Sesungguhnya, Susno pernah mendapat kesempatan untuk berbicara dari hati ke hati dengan Wakapolri Komjen. Jusuf Manggabarani.

Sekitar bulan Februari 2010 lalu, sumber KATAKAMI.COM menyebutkan bahwa Susno diundang bertemu ke ruang kerja Wakapolri.

Sosok Komjen Jusuf Manggabarani (Angkatan 1975) — yang memang disegani Susno — menerima adik Angkatannya ini dengan tangan terbuka dan penuh nuansa persaudaraan.

Kabarnya ketika itu, Komjen. Jusuf Manggabarani dengan sangat arif dan bijaksana memberikan banyak nasihat kepada Susno.

Saat itu, Susno menangis tersedu-sedan di hadapan Wakapolri Jusuf Manggabarani.

Atas dasar rasa iba dan rasa sayang sebagai SENIOR kepada JUNIOR-nya, Komjen Jusuf Manggabarani menawarkan kepada Susno untuk menunaikan ibadah UMROH.

Tawaran dari Komjen. Jusuf Manggabarani diterima Susno Duadji.

Berangkatlah Susno ketika itu ke Tanah Suci atas budi baik dari Mabes Polri melalui Komjen. Jusuf Manggabarani.

Foto : Ketua Presidium IPW Neta S. Pane

Saat itu, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S. Pane menginformasikan kepada KATAKAMI.COM bahwa Susno juga 2 kali bertemu kepada Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Polisi Purnawirawan Sutanto.

Namun, kata Neta, dari 2 pertemuan itu tidak ada tawaran apapun menyangkut jabatan baru untuk Susno Duadji.

Yang ingin disampaikan disini, Mabes Polri sebenarnya tidak punya masalah dan tetap sangat respek pada Susno.

Kemarahan Susno terkait pencopotannya sebagai Kabareskrim dan belum adanya jabatan baru pasca pencopotan itu, sebenarnya tergantung dari Istana Kepresidenan yaitu dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Seandainya saja, Presiden SBY mau berbaik hati menempatkan Susno pada jabatan-jabatan struktural yang layak dan pantas diduduki oleh seorang Perwira Tinggi berbintang 3, maka Susno tak akan ternistakan seperti ini.

Foto : Presiden SBY didampingi Menkopolhukkam Djoko Suyanto, Kapolri BHD & Panglima TNI Djoko Santoso

Ada apa dengan dirimu, Presiden SBY ?

Berikanlah atensi yang layak dan pantas untuk Susno Duadji.

Ya misalnya memberikan jabatan pada posisi atau kedudukan diluar struktur organisasi Polri.

Pasti ada dan memang bisa dicarikan kalau memang Susno sudah tidak bisa lagi ditampung di Mabes Polri.

Jangan biarkan Mabes Polri secara institusi menjadi berhadap-hadapan dengan anggotanya sendiri.

Polri memiliki tanggung-jawab yang teramat besar dan berat menyangkut keamanan dan keterbian masyarakat (kamtibmas) di seluruh wilayah Indonesia.

Janganlah dibiarkan Polri secara institusi terombang-ambing dan terguncang terus menerus tanpa henti.

Kapolri Jenderal BHD akan memasuki masa pensiun per tanggal 1 November 2010 mendatang.

Menunggu Jenderal BHD pensiun, biarlah proses regenerasi di tubuh Polri ini berjalan dengan sangat baik, aman dan lancar.

SBY harus peka terhadap situasi yang berkembang akhir-akhir ini.

Agar Polri secara institusi jangan terkorbankan.

Begitu juga Komjen Susno Duadji.

Bukalah hatimu SBY agar jangan Polri yang dicaci-maki dan dipersalahkan.

Padahal sebenarnya engkau yang diam seribu bahasa dan sungguh tak bergeming ketika seorang anak bangsa bernama Susno Duadji dipaksa oleh keadaan menjadi seolah-olah berseteru dengan institusi yang membesarkannya selama ini.

Padahal Polri (pasti) tak punya niat buruk pada anggotanya sendiri.

(MS)

Advertisements

May 12, 2010 Posted by | news | | Comments Off on Jangan Suudzon Pada Polri, Dulu Susno Memang Dinilai Tak Layak Jadi Kabareskrim