Katakamidotcom News Indonesia

Istana Mau Diledakkan ? Ngarang Aja, TNI Tidak Tidur Boss …

DIMUAT JUGA DI KATAKAMI.COM

Pesan Tulus Nan Sederhana Pada Ustadz Abu Bakar Baasyir

Diduga Noordin M. Top Atau Gories Mere Yang Kebelet Ingin Ngetop ?

Periksa Gories Mere Skandal Madrid Korupsi Alat Sadap Israel

Jakarta 15/5/2010 (KATAKAMI) Barangkali kalau masyarakat awam mendengar rancangan peledakan bom Al Qaeda Cabang NAD yang diumumkan Mabes Polri hari Jumat (14/5/2010) lewat konferensi pers maka pastilah akan terkesima.

Tapi tidak demikian bagi orang-orang yang mengetahui situasi dan kondisi yang sebenarnya.

Sebab dari pengetahuan yang dimiliki itu, akan bisa dilakukan analisa-analisa dan pendalaman-pendalaman yang sangat akurat.

Rancangan peledakan bom di Istana Negara itu patut dapat diduga hanya fantasi yang dibuat sangat hiperbola dan dramatis oleh oknum petinggi Polri dan atau oknum perwira menengah Polri yang selama ini memiliki otoritas menangani kasus-kasus terorisme sejak Bom Bali I.

Dan satu lagi yang terpenting, patut dapat diduga rancangan peledakan bom di Istana Negara itu menunjukkan pengarangnya adalah kelompok oknum polisi sendiri yang tidak mengetahui duduk persoalan serta peta Istana disaat hari-hari khusus yang sangat penting spektakuler semacam perayaan 17 Agustus.

Pemimpin Redaksi KATAKAMI.COM Mega Simarmata memiliki latar belakang sebagai WARTAWAN ISTANA KEPRESIDENAN selama 9 tahun yaitu perideo 1999 – 2008.

Mari, kami berikan gambaran tentang bagaimana persiapan Istana Kepresidenan kalau menjelang perayaan 17 Agustus.

Sekitar sebulan sebelum perayaan 17 Agustus, Istana Merdeka (yang berseberangan dengan Tugu Monumen Nasional (Monas) sudah berbenah diri.

Dan ini terjadi tahun demi tahun sejak era Orde Baru.

 

Foto : Istana Presiden berbenah diri menjelang 17 Agsutus

Buyung Nasution : Main Tembak Mati Teroris, POLRI Tak Sesuai Hukum

Berbenah diri yang dimaksud disini adalah melakukan pengecatan atau hal-hal teknis yang tujuannya adalah mempercantik bangunan Istana Kepresidenan.

Kemudian 2 atau 3 minggu sebelum hari H pelaksanaan perayaan 17 Agustus, akan mulai dibangun tribun-tribun tempat duduk penonton di jalan Medan Merdeka Utara yang berhadap-hadapan dengan beranda Istana Merdeka.

Sejak pembangunan tribun-tribun tempat duduk ini, penjagaan di Istana Kepresidenan sudah sangat diperketat oleh jajaran PASUKAN PENGAMANAN PRESIDEN atau PASPAMPRES dibantu TNI secara keseluruhan.

Beberapa hari menjelang pelaksanaan perayaan 17 Agustus, pemerintah pasti sudah mengumumkan jalan-jalan mana saja yang akan di tutup dalam rangka kegiatan tahunan di Istana Kepresidenan tersebut.

Sudah sejak puluhan tahun yang lalu, seluruh jalan yang mengakses pada Istana Kepresidenan saat melakukan Upacara Peringatan 17 Agustus akan ditutup untuk sementara.

Tidak ada satu angkutan umumpun yang bisa lewat.

Tidak ada satu kendaraan pribadi (baik motor dan mobil) yang bisa dizinkan lewat.

  

Yang boleh memasuki akses jalan yang dibuka menuju Istana Kepresidenan hanyalah pada undangan (undangan kalangan VIP dan VVIP) yang memasang stiker khusus di mobilnya.

Dan jangan tanyakan berapa banyak personil TNI yang menjaga setiap sudut dan setiap titik di area Istana Kepresidenan.

Tidak ada satu jengkalpun yang bisa disusupi “mahluk asing”.

Bahkan WARTAWAN KEPRESIDENAN yang memakai tanda pengenal khususpun, tidak diperkenankan memakai ID PRESS rutin mereka sebab tanda pengenal untuk mengikuti Upacara Peringatan 17 Agustus itu adalah tanda pengenal khusus.

Polisi hanya menjaga di ring kedua.

Masyarakat awam hanya bisa hilir mudik (termasuk kendaraan, mulai dari area Jalan Sudirman sekitar Gedung Sarinah).

Apakah disitu mau diledakkan ?

Bom secanggih apapun, tidak akan bisa membunuh Presiden, Pejabat Tinggi Negara dan semua Tamu Negara di Istana Kepresidenan saat peringatan 17 Agustus jika posisi BOM di eksekusi dari titik Gedung Sarinah.

Bagaimana sih ?

Kalau mau mengarang itu, ya masuk akal dong. Jangan disampaikan kepada publik, sesuatu yang mustahil terjadi.

Apa dikira rakyat Indonesia (terutama kalangan jurnalis Indonesia ini) bodoh semua  ?

  

Foto : Upacara peringatan 17 Agustus di Istana Kepresidenan

 

Ring pertama didominasi oleh PASUKAN PENGAMANAN PRESIDENAN dari 3 Group yaitu Group A untuk mengamankan fisik Presiden dan Keluarganya, Group B untuk mengamankan Wakil Presiden dan Keluarganya, serta Group C untuk mengamankan Tamu-Tamu Negara (jika memang ada Tamu Negara yang hadir).

Singkat kata, teroris mana yang berani meledakkan Istana Kepresidenan dengan tingkat pengamanan yang sangat amat tinggi, berlapis dan luar biasa ketatnya.

Jangan “under estimate” atau mengecilkan kemampuan atau pengetahuan teroris.

Teroris kelas RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten, Kotamadya, Provinsi, Negara atau kelas dunia sekalipun, pasti punya tim analis yang bertugas menganalisa setiap lokasi, situasi, kondisi dan data dari target-target mereka.

Teroris pasti tidak idiot, bodoh dan seenaknya meledakkan (walau paham ideologi mereka adala JIHAD).

Sehingga  agak lucu dan sangat bodoh rencana peledakan bom untuk meledakkan Istana Kepresidenan 17 Agustus itu.

Semua itu seakan menjadi ejekan buat PASPAMPRES dan TNI secara keseluruhan.

Seolah-olah selama ini, PASPAMPRES dan TNI punya kelemahan, kelengahan dan keterbatasan yang bisa disusupi pihak lain.

Ada satu contoh kecil, bagaimana tingginya tingkat kemampuan dan prediksi PASPAMPRES dalam mengamankan fisik Kepala Negara.

Pada peledakan bom malam natal (24 Desember 2001), Presiden KH Abdurrahman Wahid meminta kepada Paspampres untuk diantar ke Kanisius di kawasan Menteng.

  

Foto : Mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid

Gus Dur memang dekat dengan kalangan pastur (biarawan Katolik).

Ketika itu, Gus Dur ingin ngobrol dengan pastur-pastur yang menjadi sahabatnya sejak lama.

Akan tetapi ketika itu, PASPAMPRES melihat ada sebuah mobil yang mendadak berhenti dan memarkirkan diri di depan mobil iring-iringan kepresidenan yang membawa Gus Dur.

Mobil itu sangat mencurigakan.

Sumber KATAKAMI.COM di lingkungan Istana Kepresidenan saat itu mengisahkan, Paspampres langsung menghampiri Gus Dur dan meminta kepada  Kepala Negara untuk kembali ke Istana.

Untunglah pada saat itu, Gus Dur mau mendengar masukan dari Paspampres.

Dan benarlah semua prediksi dan kekuatiran Paspampres.

Hanya beberapa menit setelah iring-iringan mobil kepresidenan tiba di Istana Kepresidenan, mobil yang “mencurigakan” tadi meledak dan memang mobil itulah yang membawa BOM.

Oknum petinggi Polri yaitu Komjen Gories Mere memang dikenal sangat anti TNI dan terbukti beberapa kali mencoba memfitnah TNI.

Komjen Gories Mere adalah figur sentral yang selama ini menjadi sorotan utama KATAKAMI.COM dalam kasus-kasus narkoba.

Sebab patut dapat diduga Ketua Badan Narkotika Nasional(BNN) ini membekingi bandar narkoba Liem Piek Kiong alias Monas.

Dan soal indikasi bahwa seorang Gories Mere sangat ANTI TNI bukanlah isapan jempol.

Juli 2007, Komjen Gories Mere didampingi Brigjen Surya Darma (saat itu menjabat sebagai Kepala Densus 88 Anti Teror Polri) mengadakan presentrasi liar dan ilegal di sebuah tempat.

Disebut liar dan ilegal karena ia tidak meminta izin dari atasannya untuk melakukan presentasi terorisme ini.

Tidak ada izin dari Kapolri, Wakapolri atau Kabareskrim Polri.

  

Foto : Komjen Gories Mere

Dalam presentasi liar dan ilegal itu, Komjen Gories Mere (yang ketika itu masih berpangkat Irjen) menuding TNI berada di balik semua peledakan bom di Indonesia.

Ia bahkan menyebut nama  2 Jenderal TNI terkait Al Jamaah Al Islamyah di Nangroe Aceh Darussalam.

Presentasi liar dan ilegal ini ternyata direkam dan rekaman itu bisa didapat oleh Pemimpin Redaksi KATAKAMI.COM Mega Simarmata.

Kaset rekaman itu kami copy dan kami serahkan kepada Menkopolkam Widodo AS, Kapolri Sutanto, Kabareskrim Bambang Hendarso Danuri, dan “sudah diperdengarkan” kepada Jenderal TNI yang difitnah oleh Gories Mere dalam kaset tersebut.

Atas kelancangan mulut Saudara Gories Mere ini, Jenderal TNI Purnawirawan yang difitnah Gories Mere itu sebenarnya mau menelepon Kapolri Sutanto agar menegur dengan keras Saudara Gories Mere yang tidak tahu diri ini.

Akan tetapi ternyata ketika itu (periode Agustus 2007), yang ditelepon langsung oleh Sang Jenderal TNI adalah Gories Mere sendiri.

Ia ditanya dan “ditegur dengan sangat amat keras” oleh Jenderal TNI tersebut.

Pria Flores ini meminta-minta maaf dan tidak berkutik di hadapan Sang Jenderal.

Gories Mere sempat mengamuk kepada Pemimpin Redaksi KATAKAMI.COM Mega Simarmata karena mengadukan fitnahannya tersebut kepada Jenderal – Jenderal TNI.

Ia mengirimkan sebuah pesan singkat SMS yang berisi caci maki tetapi karena sadar bahwa ia tidak memiliki bukti bahwa kamilah yang mengadukan maka pria flores ini buru-buru MEMINTA MAAF secara resmi kepada Mega Simarmata.

Perwira Tinggi TNI yang satunya lagi (yang namanya ikut di fitnah oleh Gories Mere) juga berkomentar sangat pedas yaitu “Mau apa Gories Mere, mau jadi Jenderal Petruk dia di negara ini ? Mau melawak ?” demikian disampaikan Sang Perwira Tinggi kepada seorang wartawati yang menyampaikan kepada perwira tinggi tersebut bahwa namanya difitnah oleh Gories Mere dalam sebuah presentrasi ilegal.

Dan tak cuma itu, Perwira Tinggi TNI yang menjadi sasaran tembak oknum Gories Mere.

Pria Flores ini pernah dengan percaya dirinya mengirim pesan singkat SMS kepada Pemimpin Redaksi KATAKAMI.COM Mega Simarmata untuk mengejek Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Ryamizard Ryacudu karena Ryamizard dianggap oleh Gories Mere tidak mau percaya bahwa peledakan-peledakan bom di Indonesi adalah hasil perbuatan kelompok Islam Radikal “Al Jamaah Al Islamyah”.

Bayangkan, betapa bermasalahnya dalam hal KEJIWAAN manusia Gories Mere ini karena dalam rekaman presentasi liarnya terkait terorisme ia menuduh TNI yang melakukan semua peledakan bom tetapi di pihak lain ia mengejek Ryamizard Ryacudu yang dianggap tidak mau mempercayai bahwa ada unsur Al Jamaah Al Islamyah di Indonesia.

Sangat kontradiktif.

SMS-SMS dari Gories Mere itu telah kami sampaikan dan perlihatkan kepada Jenderal Ryamizard Ryacudu dan Mantan KSAD yang sangat bersahaja ini tidak “berminat” menanggapi ulah Gories Mere yang sok anti TNI.

Kasihan sekali kalau didalam tubuh Polri, terselip seorang oknum yang tidak tahu diri dan menjadi pemicu perpecahan antar instansi yang harusnya solid bekerjasama menangani terorisme.

  

Foto : Petrus Golose, Gories Mere & Surya Darma

Selama bertahun-tahun yaitu sejak peledakan bom malam Natal tahun 2001, penanganan terorisme hanya didominasi oleh oknum polisi yang itu-itu saja yaitu kelompok Gories Mere.

Kelompok ini adalah kelompok yang sok eksklusif.

Kelompok inilah yang menguasai semua bentuk pelatihan penanganan terorisme yang diberikan Amerika Serikat.

Dalam sebuah kesempatan, Gories Mere menyampaikan kepada Pemimpin Redaksi KATAKAMI.COM Mega Simarmata bahwa dirinyalah yang mendapat pelatihan IT dari Biro Investigasi Federal Amerika atau FBI untuk menjebol email orang lain (tanpa  harus mengetahui dan merusak password asli) untuk mengetahui isi-isinya dalam kaitan penanganan terorisme.

Pria Flores ini lupa.

Hanya beberapa hari sebelum ia menceritakan kehebatannya menjebol email orang lain, yang bersangkutan ini patut dapat diduga sudah menjebol email Pemimpin Redaksi KATAKAMI.COM Mega Simarmata dan mengganti passwordnya.

Sehingga sampai detik ini, email itu tidak bisa lagi dibuka lagi.

Kami sangat mendalami dan memonitor secara dekat gunjang-ganjing penanganan terorisme yang patut dapat diduga telah disalah-gunakan oleh kelompok (oknum) Gories Mere.

Singkat kata, penanganan terorisme di Indonesia sudah banyak yang salah kaprah dan disalah-gunakan oleh oknum petinggi Polri yang merasa paling berhak menangani masalah terorisme.

Kelompok itu adalah kelompok Saudara Gories Mere.

Yang bersangkutan ini adalah oknum Perwira Tinggi Polri yang tak pantas lagi dibiarkan ikut campur dalam penanganan terorisme di negara ini karena patut dapat diduga ia justru terlibat dalam kegiatan terorisme itu sendiri.

Dalam kaset presentasi ilegal yang dikisahkan diatas tadi, simaklah kalimat HEBAT yang keluar dari mulut Brigjen Surya Darma (Mantan Kepala Densus 88 Anti Teror Polri) yang mengatakan :

“Lihat saja, kalau sampai kami mogok, akan kami “doakan” INDONESIA ini penuh dengan peledakan bom karena di INDONESIA ini yang bisa menangani terorisme hanya diri saya dan PakGories Mere. Yang lain tidak bisa !”

Surya Darma yang merupakan tangan kanan Gories Mere ini, juga sempat membuat PERDANA MENTERI AUSTRALIA (ketika itu) John Howard marah besar.

Bayangkan pada saat bulan RAMADHAN di tahun 2007, 2 terpidana kasus Bom Bali I yang menewaskan ratusan warga negara Austalia bisa diundang makan ke rumah Surya Darma yaitu ALI IMRON & MUBAROQ.

Jadi semasa John Howard menjadi Perdana Menteri, AUSTRALIA sudah 2 kali mengamuk alias MARAH BESAR hanya karena ulah dari kelompok liar pimpinan Gories Mere sehingga menyudutkan posisi Indonesia di mata negara sahabat.

Pertama, saat Gories Mere mengajak gembong teroris paling sadis ALI IMRON ngopi di STARBUCKS tanggal 2 September2004.

Kedua, saat tangan kanan Gories Mere yaitu Brigjen Surya Darma mengajak (kembali) ALI IMRON dan MUBAROQ makan malam bersama di rumah Surya Darma (Australia marah dan kecewa sekali karena para terpidana kasus Bom Bali I ternyata tidak dipenjara tetapi bisa hidup berkeliaran bebas).

Menyingkap Eksklusifitas Tim Anti Teror

PM John Howard Gusar Atas Skandal Starbucks

http://katakamidotcom.files.wordpress.com/2010/03/aliimron.jpg 

Kok Indonesia Lindungi Teroris Ali Imron, Contempt of Court ?

Memoar Ali Imron Menohok Polri

Dan POLRI, sudahlah, jangan lagi banyak omong soal TERORISME !

Capek dan muak mendengar semua ocehan kalian soal TERORISME sebab GEMBONG TERORIS yang menjadi dalang utama Bom Bali I yang sangat biadab itu saja dilindungi oleh POLRI yaitu ALI IMRON.

Sejak vonis dijatuhkan oleh MAJELIS HAKIM (tahun 2003) yaitu vonis pidana kurungan seumur hidup, ALI IMRON yang melacurkan dirinya untuk menjadi informan polisi agar terhindar dari hukuman mati ini, pura-pura di pinjam oleh Polri sampai detik ini.

Hei Polri, kembalikan dulu ALI IMRON ke dalam penjara.

Apakah mendadak Polri ini mengidap sakit AMNESIA alias HILANG INGATAN bahwa orang yang paling bertanggung-jawab atas peledakan bom Bali I itu adalah ALI IMRON ?

Pura-pura tidak tahu atau memang tidak tahu bahwa ALI IMRON yang merakit bom sangat mengerikan di Bali tahun 2002 itu ?

Jawab dulu pertanyaan paling mendasar ini hei Polri, mengapa kalian lindungi ALI IMRON sampai detik ini kalau kalian memang sangat HEBAT menangani terorisme ?

Bisakah kalian bayangkan jika OSAMA BIN LADEN dilindungi dan hidup berkemewahan di hotel-hotel berbintang 5 di Amerika sana ?

Mengaku paling hebat soal penanganan TERORISME tapi melindungi GEMBONG TERORIS paling berbahaya di negeri ini !

Foto : Sjamsir Siregar

Dan secara khusus soal ucapan Brigjen Surya Darma (Mantan Kepala Densus 88 Anti Teror) yang kami sampaikan tadi di bagian atas, dicibir oleh Badan Intelijen Negara (BIN).

Dalam kaset presentasi ilegal yang dikisahkan diatas tadi, kalimat yang keluar dari mulut Brigjen Surya Darma (Mantan Kepala Densus 88 Anti Teror Polri) adalah :

“Lihat saja, kalau sampai kami mogok, akan kami “doakan” INDONESIA ini penuh dengan peledakan bom karena di INDONESIA ini yang bisa menangani terorisme hanya diri saya dan PakGories Mere. Yang lain tidak bisa !”.

Kalimat sombong yang sangat kotor ini dikecam dengan keras oleh Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) ketika itu yaitu Sjamsir Siregar.

Sjamsir menyebut kelompok Gories Mere adalah kelompok BESAR KEPALA.

Sjamsir bahkan pernah mencari Gories Mere saat mengunjungi Poso (Sulawesi Tengah) pada periode September-Oktober 2006.

Bayangkan, persis di malam takbiran Gories Mere memerintahkan agar sebuah Pondok Pesantren ditembaki dengan alas an mencari orang yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) kasus terorisme.

Tindakan brutal menembaki Pondok Pesantren di malam takbiran ini diprotes oleh semua pihak, terutama Komnas HAM.

Saat itu, KOMNAS HAM menurunkan Tim Independen dan menyebutkan Polri telah melakukan PELANGGARAN HAM.

Tindakan brutal ANTI ISLAM dari Gories Mere ini menyebabkan Brimob diusir oleh masyarakat Sulawesi Tengah.

Akibat ulah Gories Mere yang diduga ANTI ISLAM ini, Badan Intelijen Negara harus bertindak cepat menenangkan situasi yang sudah sangat hancur lebur di Poso ketika itu.

Sjamsir Siregar harus turun langsung dan tidak bisa berlebaran lagi bersama keluarganya di Jakarta sebab persis di hari lebaran ia harus segera “terbang” ke Poso untuk memadamkan API yang menyulut kemarahan warga Poso.

Kepada Pemimpin Redaksi KATAKAMI.COM Mega Simarmata, sepulangnya dari Poso SJAMSIR SIREGAR (ketika itu) menceritakan bahwa disana ia sempat mencari mana manusia yang namanya GORIES MERE.

“Aku tanya sama orang disana, mana si GORIES MERE itu ?” demikian ungkap Sjamsir.

Gories Mere ketakutan karena mengetahui seorang Kepala BIN yang sangat senior mencari dirinya dan ia tak berani menampakkan dirinya ke hadapan Sjamsir Siregar.

https://i2.wp.com/www.indonesiamedia.com/2007/02/early/berta/images/berta/peta_poso_high.gif 

Atas perintah Gories Mere jugalah, Densus 88 menembaki perumahan warga di  Poso (juga) tanggal 22 Januari 2007 yang menewaskan belasan warga sipil mati terbunuh.

Dari sekian banyak warga sipil yang mati ditembaki Densus 88 itu, tidak ada satupun yang masuk dalam DPO kasus terorisme.

Dan hebatnya lagi, Gories Mere bisa memerintahkan operasi penyerangan atau RAID tersebur dari Washington DC. Ia sedang berada di Amerika Serikat tetapi bisa memerintahkan operasi penembakan yang sangat brutal kepada komunitas Islam di Poso.

Lagi-lagi tindakan Gories Mere ini menyebabkan posisi Polri terpojok.

Ketika itu (Januari 2007), Komnas HAM menurunkan Tim Independen untuk menangani kasus penyerangan Polri di Poso dan mengeluarkan hasil akhir bahwa POLRI telah melakukan PELANGGARAN HAM.

Tak cuma itu, atas perintah dari Gories Mere juga Densus 88 menembak Panglima Sayap Militer Al Jamaah Al Islamyah Abu Dujana (Juni 2007) di hadapan anak-anak kecil dibawah umur.

Tindakan yang tidak manusiawi itu di kecam keras oleh Komnas Anak.

Jadi, kami tidak bermaksud buruk jika terus konsisten mengungkapkan fakta-fakta buruk terkait oknum atau kelompok liar didalam tubuh Polri.

Ini semua demi kebaikan, keadilan dan kebenaran.

Foto : Megawati Soekarnoputri

 

Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri termasuk yang mengecam dengan keras tindakan menembaki Pondok Pesantren di malam takbiran tahun 2006 dulu.

“Sampaikan pada Tanto (Jenderal Sutanto, red), opo iku … sudah tahu disana wilayahnya mayoritas adalah Islam. Mengapa dikirimkan Perwira Tinggi Kristen untuk menangani situasi disana. Mau apa Gories Mere itu disana ?” kata Megawati kepada Pemimpin Redaksi KATAKAMI.COM saat bertemu di Hari Lebaran tahun 2006.

Dan sebagai informasi, pada era pemerintahan Megawati Soekarnoputri inilah, Saudara Gories Mere pernah diturunkan pangkatnya dari Brigjen menjadi (kembali) sebagai KOMBES.

Presiden Megawati menilai Gories Mere TIDAK PANTAS menjadi perwira tinggi karena rekam jejaknya tidak baik.

Pada periode Agustus 2007, patut dapat diduga kelompok Gories Mere menyebar fitnah bahwa TNI yang melakukan peledakan bom (ikan) di Pasuruan.

Atas ulah dari Gories Mere ini, saat itu Kapolri Sutanto sampai harus menyampaikan klarifikasi dan permohonan maaf secara pribadi kepada Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto.

Jadi singkat kata, singkirkan semua pengaruh dan oknum polisi yang menjadi bagian dari lingkaran setan penanganan terorisme yang patut dapat diduga diciptakan Gories Mere selama bertahun-tahun terakhir ini.

Jangan lagi menyampaikan fitnah dan hasil mengarang bebas fantasinya kepada rakyat Indonesia.

Kapolri Jenderal Bambang Hendaro Danuri harus sangat cermat memilah-milah, siapa diantara anggota Polri yang masih pantas dipertahankan dan diberi kepercayaan untuk menangani masalah terorisme.

Dalam konferensi pers hari Jumat (14/5/2010), seorang perwira menengah bernama Kombes Petrus Golose ikut duduk di bagian belakang Kapolri.

Singkirkan perwira menengah yang satu ini karena tidak pantas lagi wajahnya dipertontonkan kepada publik.

Kombes Petrus Golose telah ketahuan melakukan pelanggaran administrasi pada periode tahun 2008.

Bayangkan ada seorang polisi kelas menengah “berani-beraninya” membolos selama berbulan-bulan dari Bareskrim Polri.

Ketika itu, Kabareskrim Polri adalah Komjen Susno Duadji !

Sumber KATAKAMI.COM menyebutkan (sekitar Oktober 2008), Susno di hubungi oleh sesama perwira tinggi Polri untuk menanyakan dimana keberadaan Kombes Petrus Golose.

Setelah dilakukan pengecekan, Susno melaporkan bahwa Kombes Petrus Golose sudah berbulan-bulan membolos tanpa surat tugas dari pimpinan. 

Hebat kan, seorang polisi yang cuma berpangkat KOMBES berani-beraninya keluar negeri dan membolos dari BARESKRIM POLRI selama berbulan-bulan tanpa ada surat tugas atau surat izin dari atasannya.

Patut dapat diduga, yang memerintahkan perwira menengah ini adalah Gories Mere.

Gila sekali, seakan-akan Polri itu adalah milik dan kekuasaan mereka semata.

Kalau Komjen Susno Duadji dipersalahkan karena (salah satunya) dianggap sering membolos kerja, maka lakukanlah pemeriksaan dan sanksi yang sama tegas kepada perwira menengah sekelas Kombes Petrus Golose yang membolos berbulan-bulan lamanya tanpa izin pada periode tahun 2008.

Jangan pilih kasih dan diskriminasi.

Tangkap Kombes Petrus Golose dan perintahkan Tim Provost untuk menangkap dan menahannya.

Masak dibiarkan dan terus mau dipakai seorang polisi pongah yang bisa seenaknya menerapkan kemauan kelompoknya dalam institusi Polri.

Dan kepada Komjen.  Susno Duadji, bicaralah kepada publik tentang kotornya “penyalah-gunaan” anggaran penanganan terorisme selama ini.

Bernyanyilah juga Pak Susno, tentang dugaan tindak pidana korupsi (termasuk seberapa besar rekening) dari petingi Polri yang patut dapat diduga selama bertahun-tahun ini memang pesta pora menikmati dana penanganan terorisme di negara ini.

Tolong ungkapkan kepada rakyat Indonesia, seberapa besar saldo atau isi dari rekening-rekening liar yang dikumpulkan oleh Saudara Goris Mere atas nama penanganan terorisme selama bertahun-tahun.

Sebab dari mulut Saudara Gories Mere ini jugalah keluar sebuah pengakuan kepada Pemimpin Redaksi KATAKAMI.COM Mega Simarmata bahwa ia memilih otoritas untuk mengumpulkan dana penanganan terorisme (dalam rekening-rekening tidak resmi alias LIAR)  sebab anggaran dari Polri untuk menangani masalah terorisme TIDAK CUKUP.

Foto : Paspampres

Tanganilah masalah terorisme secara proporsional.

Jangan merendahkan kemampuan instansi lain yaitu TNI dalam mengamankan ISTANA KEPRESIDENAN dan Presiden SBY sekeluarga selama puluhan tahun.

Apa yang bukan menjadi domain Polri, jangan dicampuri.

Keterlaluan semua KARANGAN yang menyesatkan ini.

Singkirkan kelompok manapun yang sok eksklusif dan sok hebat dalam menangani terorisme didalam internal POLRI.

Ini INDONESIA, Bung.

Jangan sok hebat di negara ini bagi siapapun oknum-oknum POLISI yang tidak tahu diri mengatas-namakan penanganan terorisme untuk menyampaikan kebohongan publik dan merendahkan instansi lain.

Sudah jadi rahasia publik, Kelompok Gories Mere menikmati semua fasilitas mewah atas nama penanganan terorisme di dalam organisasi Polri.

Bayangkan, pria Flores ini pernah memakai untuk kepentingan pribadinya pesawat khusus yang dimiliki Densus 88 yaitu terbang dari wilayah DI Yogyakarta ke Jakarta (PP) untuk sekedar menghadiri sebuah acara pesta pernikahan anak dari sahabatnya.

Anggota Densus 88 Anti Teror hanya memiliki gaji Rp. 3 juta per bulan (take home pay) dengan uang lauk pauk atau ULP sebesar Rp. 35 ribu per hari.

Sementara segelintir oknum petinggi Polri yaitu kelompok Gories Mere bisa hidup mewah untuk sekedar kongkow-kongkow NGOPI dari restoran-restoran mewah.

Tentu kita semua ingat bagaimana gemparnya Indonesia saat TERORIS (kotor) Ali Imron diajak ngopi ke Starbucks (tahun 2004) oleh Saudara Gories Mere ini.

http://z4ki.files.wordpress.com/2009/08/den881.jpg 

Kok tidak malu kepada semua anggota Densus 88 Anti Teror.

KokTidak tahu diri di hadapan semua anggota Densus 88 yang hidupnya penuh dengan penderitaan.

Hentikan semua karangan-karangan yang menyesatkan soal fantasi peledakan-peledakan bom.

Kalau mau mengarang (bebas), yang rasional sajalah.

Hanya orang idiot yang mau meledakkan bom di sebuah lokasi yang tingkat pengamanannya sangat amat tinggi dan berlapis luar biasa.

Tolol sekali.

Cape deh.

Ambillah cermin dan mematut dirilah kalian yang selama ini memperkaya diri sendiri dan menikmati kemewahan yang super hebat dibalik euforia penanganan terorisme di Indonesia ini.

Jangan menjadi penjilat dan menyembah di kaki negara asing yang patut dapat diduga ingin dimintai “bantuan” dibawah tangan atas nama penanganan terorisme.

Jadilah warga negara Indonesia yang punya nasionalisme sangat tinggi dan bermartabat.

Jangan rendahkan diri kalian dibalik penanganan terorisme yang seolah-olah dibuat sangat DRAMATIS.

(MS)

May 23, 2010 - Posted by | news |

Sorry, the comment form is closed at this time.

%d bloggers like this: