Katakamidotcom News Indonesia

SBY Berantaslah Mafia Narkoba, GORIES MERE Buka Topengmu !

Oegroseno : Ada Pelanggaran Berat Kasus Aan, Polisi Tidak Boleh Melukai

Denny Indrayana tuding Komjen GM tak dukung kasus Aan diselesaikan

Heboh Penjara Ayin & Cece, Reformasi BNN, Copot Gories Mere

Jakarta 10/5/2010 (KATAKAMI) Alkisah dengan penangkapan dan penahanan Mantan Kabareskrim Komjen Susno Duadji oleh Mabes Polri, saat ini ramai diperbincangkan, Susno seakan menjadi pahlawan baru yang dielu-elukan. Padahal ia bukanlah pahlawan. Ia bukan HERO yang mendadak sontak muncul bagaikan staria piningit untuk menyelamatkan Indonesia.

 Sebab pertanyaannya kalau misalnya setelah dicopot sebagai Kabareskrim, Susno diberi jabatan tinggi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, apakah ia akan mau membuka rahasia ini dan itu ?

Susno hanya berani menentang dan melawan Mabes Polri.

Ia lupa bahwa titik fokus dari semua penderitaannya pasca pencopotan ini terfokus pada figur SBY.

 

https://i0.wp.com/news.okezone.com/images-data/content/2009/06/26/61/233095/3Y9dW4ysIo.jpg

Foto : Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

 

Skandal Hukum Bandar Narkoba Liem Piek Kiong Alias MONAS Yang Melibatkan GORIES MERE?

Hendarman Beraninya Sama Sheila Marcia, Tangkap Bandar Narkoba Monas & Periksa GORIES MERE

Sepanjang SBY tidak memberikan dan mengeluarkan perintah, maka Mabes Polri tentu tidak bisa berbuat apa-apa yaitu memberikan jabatan baru kepada Susno.

SBY seringkali sangat membingungkan sikap dan kebijakannya terkait institusi Polri.

Tapi baiklah, mari kita tinggalkan pembahasan soal Susno.

Sekarang kita beralih ke masalah lain yang sama pentingnya yaitu pembenahan dan pergantian tugas bagi Ketua (sebelumnya dikenal dengan istilah Kepala Pelaksana Harian atau Kalakhar) Badan Narkotika Nasional.

Pasca mundurnya Komjen I. Made Mangku Pastika (bulan April 2008) ketika memutuskan mengikuti Pilkada di Bali, Gories Mere digeser ke BNN untuk menggantikan Pastika.

Pastika saat ini menjabat sebagai Gubernur Bali.

Keputusan menggeser Gories Mere ke BNN bulan April 2008 memang sempat mengejutkan karena patut dapat diduga nama Gories Mere banyak dikaitkan dengan kasus-kasus pelanggaran hukum terkait narkoba.

Ibarat manusia-manusia bertopeng, patut dapat diduga ada topeng berbayang kasus-kasus narkoba yang mengiringi langkah Gories Mere.

 

Kita tentu kenal dengan baik, lagu yang dinyanyikan grup musik PETERPAN yang berjudul : TOPENG”  (YOUTUBE : PETERPAN)

Reff :
Tapi buka dulu topengmu
Buka dulu topengmu
Biar ku lihat warnamu
Kan kulihat warnamu

Bagaimana mungkin Indonesia bisa konsisten memberantas narkoba atau dalam jargon yang sering dikumandangkan Bapak Presiden bahwa NEGARA TIDAK BOLEH KALAH MELAWAN NARKOBA kalau oknum-oknum aparat KEPOLISIAN yang patut dapat diduga menjadi beking sindikat-sindikat, mafia-mafia serta kartel-kartel narkoba (apalagi yang bertarafkan internasional) tidak cepat dibersihkan dari sistem yang bekerja di negara ini memerangi barang haram narkoba.

Ibarat orang memakai topeng, memang sulit dibedakan mana POLISI yang benar dan mana oknum yang CARI MAKAN (seenaknya) dengan memanfaatkan lahan narkoba.

Sungguh rumit menembus jaringan kemafiaan narkoba jika didalamnya sudah kental dengan benteng-benteng kuat yang dibangun oleh oknum petinggi Polri yang merajalela dan pesta pora menikmati keuntungan dari narkoba.

Dan soal nama Gories Mere.

Gories Mere dikait-kaitkan alias patut dapat diduga terlibat dalam kasus pembunuhan bandar narkoba Hans Philip pada bulan Mei 2005.

Bayangkan, ada seorang gembong mafia narkoba internasional tiba-tiba ditemukan MATI secara mengerikan di wilayah Bogor.

Ia ditembak secara miserius di bagian kepala oleh Satgas BNN (tanpa alasan yang jelas).

Hans ditemukan terkapar berlumur darah di dalam mobilnya.

Jika memang ia seorang gembong mafia narkoba, mengapa ia ditembak mati ?

Indonesia negara hukum.

Harusnya Hans diseret ke Pengadilan agar diadili sesuai kejahatannya.

Ini kok ditembak mati ?

Apakah yang ditakutkan dan siapakah yang membungkam Hans dengan cara menembak mati seorang Hans Philip dengan cara-cara yang sadis mengerikan ?

DETIK.COM : Mengapa Hans Ditembak Mati?

Gories Mere juga di kait-kaitkan alias patut dapat diduga berada dibalik kasus pencurian barang bukti narkoba sabu seberat 13,5 kg pada tahun 2006.

Menurut informasi, 13,5 kg narkoba jenis sabu ini kalau di jual pasaran akan mendapatkan laba keuntungan senilai Rp. 13,5 MILIAR  !

Itu baru yang ketahuan, bagaimana kalau hal ihwal curi mencuri atau kleptomania khusus barbuk alias barang bukti narkoba ini diam-diam dilakukan selama ini tanpa bisa dicegah dan diketahui oleh POLRI ?

Bagaimana kalau sudah puluhan atau bahkan ratusan KG barang bukti narkoba yang hilang ?

Bisa saja keuntungan finansial itu tidak dimasukkan ke dalam rekening agar tidak dilacak oleh PPATK. Jadi semua serba uang tunai atau cash.

Rekening dari oknum petinggi POLRI yang namanya erat terkait dengan jaringan narkoba internasional inipun harus diperiksa. Dilacak sampai ke ujung dunia sekalipun.

Jangan cuma rekening yang terkait kasus pajak saja.

Enak betul yang cari makan lewat lahan-lahan narkoba.

Kasus pencurian barang bukti sabu 13,5 KG  itu sempat menggemparkan dan ramai diberitakan di hampir semua media massa di era tahun 2006.

Ketika kasus itu terjadi, Polri masih dipimpin oleh Jenderal Polisi Sutanto.

Kasus pencurian ini sempat menggemparkan dan ramai diberitakan di hampir semua media massa.

 

Foto : Jenderal Polisi Sutanto

Atas perintah Jenderal Sutanto, barang bukti yang dicuri dari gudang penyimpanan Polri itu harus segera dikembalikan.

Beberapa bulan kemudian atau tepatnya 8 bulan kemudian, bak sulap dari kalangan badut-badut lucu yang disukai anak-anak kecil, barang bukti narkoba yang dicuri oleh “tangan-tangan setan” itu mendadak bisa kembali ke tempat asalnya yaitu ke gudang penyimpanan.

Kasus 13,5 Kg Sabu, Propam Menduga ada Keganjilan
 

Namun rumors yang beredar ketika itu adalah patut dipertanyakan mengapa bisa dikbalikan barang bukti 13,5 kg ini ?

Apakah pengembalian ini hanya sebuah akal-akalan karena patut dapat diduga waktu itu didaerah ada yang mendadak hilang barang bukti narkoba di gudang penyimpanannya.

Jadi barangkali, untuk mengembalikan barang bukti yangh dicuri dari gudang penyimpanan di Jakarta maka dicuri barang bukti dari gudang penyimpanan daerah.

Atau istilah lazimnya, gali lubang tutup lubang.

Nama Gories Mere juga dikaitkan pada kasus narkoba lainnya.

Patut dapat diduga, pria NTT yang memakai nomor handphone (08**999999) atas nama Tommy Winata ini, merupakan beking dari bandar narkoba Liem Piek Kiong alias Monas.

Liem Piek Kiong alias Monas adalah bandar narkoba dari sindikat internasional yang ditangkap oleh jajaran Bareskrim Polri (ketika itu Kabareskrim-nya adalah Komjen Bambang Hendarso Danuri) di Apartemen Taman Anggrek pada bulan November 2007.

Sembilang orang dari sindikat Taman Anggrek ini diringkus oleh Mabes Polri dengan BARANG BUKTI 1 JUTA PIL EKSTASI.

Kami ulangi, barang bukti dari kasus Taman Anggrek ini adalah 1 JUTA PIL EKSTASI.

Bayangkan, betapa banyaknya BARANG BUKTI yang disita (dan apakah itu diam-diam dicuri juga atau ada oknum yang mengganti keaslian PIL SETAN ini) ?

 

Foto : Kapolri Sutanto saat sidak ke Apartemen Taman Anggrek (November 2007)

Bahkan ketika itu, Kapolri Jenderal Sutanto sampai datang melakukan sidak ke lokasi penangkapan di Apartemen Taman Anggrek.

Dan inilah permainan sulap berikutnya dari jajaran pembeking Liem Piek Kiong yaitu dari 9 orang yang ditangkap, hanya 3 orang saja yang diserahkan berkas pemeriksaannya (BAP) ke pihak Kejaksaan.

Itulah sebabnya, kasus ini dikenal dengan sebutan kasus rekayasa BAP bandar narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS.

Saat kasus ini ramai diperbincangkan di berbagai media massa yaitu periode Desember 2008 sampai Maret 2009, Kabareskrim Polri sudah dijabat oleh Komjen Susno Duadji.

Tapi apa yang maksimal bisa dilakukan Susno ketika menangani kasus Liem Piek Kiong alias Monas ?

Oh, Susno tidak berani membongkar kasus ini.

Siapa bilang, Susno adalah reformis dan merupakan sosok pemberani ?

Omong kosong karena saat menangani kasus bandar narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS, Komjen Susno Duadji hanya menindak dan mencopot 5 penyidik kelas teri saja.

Mabes Polri mengakui secara jujur (bahkan menyampaikannya secara khusus dalam keterangan pers), bahwa memang benar ada perbuatan melawan hukum dari segelintir oknum penyidik Bareskrim Polri saat menangani kasus bandar narkoba Liem Piek Kiong alias Monas.

 

Foto : Barang bukti sindikat narkoba Taman Anggrek

Para penyidik secara sistematis sengaja menyelamatkan Liem Piek Kiong dan 5 orang bandar yang ditangkap  di Apartemen Taman Anggrek.

Bayangkan, dari 9 orang yang ditangkap, hanya 3 orang saja yang diajukan ke Pengadilan (salah seorang diantaranya justru isteri dari bandar narkoba Liem Piek Kiong alias Monas).

Liem Piek Kong alias Monas sudah 3 kali berturut-turut diloloskan dari jerat hukum yaitu setiap kali dia ditangkap, maka dia akan diselamatkan oleh para pembekingnya di jajaran Polri.

Cece alias Jet Li (isteri dari bandar narkoba Monas) dan 2 rekannya yang ditangkap di Apartemen Taman Anggrek itu, sudah mendapatkan VONIS MATI dari Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat.

Bahkan di  tingkat banding, VONIS MATI ini diperkuat oleh Majelis Hakim. Hebatnya lagi, walaupun sudah di VONIS MATI tetapi Cece alias Jet Li masih bisa mengendalikan perdagangan gelap narkoba dari dalam penjara.

Dan ini ketahuan oleh PERS untuk diberitakan secara luas tahun 2009 lalu.

Singkat kata, Presiden SBY sudah tidak bisa lagi kura-kura dalam perahu alias pura-pura tidak tahu bahwa didalam INSTITUSI POLRI ada oknum liar yang patut dapat diduga merupakan beking mafia-mafia narkoba.

https://i2.wp.com/www.primaironline.com/images_content/2010224AAN%20Satgas.JPG 

Tantangan Satgas Mafia Hukum, BONGKAR Indikasi Kemafiaan Komjen GM
Satgas: Perekayasa Kasus Aan Harus Bertanggungjawab
Propam Polri: Jangan Ada Lagi Penjebakan Dalam Kasus Narkoba
Satgas: Perekayasa Kasus Aan Harus Bertanggungjawab   

 

Oknum itu adalah Komjen Gories Mere.

Patut dapat diduga kiprah Gories Mere sebagai beking mafia narkoba tergelincir juga yaitu saat  bulan Januari 2010 lalu, Satgas Pemberantasan Mafia Hukum mengincar namanya saat Gories Mere terang-terangan menghalangi penanganan kasus rekayasa narkoba yang menimpa diri Aan.

Denny Indrayana menyatakan secara terbuka kepada pers bahwa Komjen Gories Mere menghalangi penyelesaian kasus rekayasa narkoba yang menimpa AAN.

Tapi ternyata ini belum cukup ampuh untuk menyeret Gories Mere ke muka hukum.

Ia tetap “aman terkendali” bercokol dalam jabatannya di BNN.

Saatnya kini, mengingatkan dan mendorong Pesiden SBY agar mau membersihkan sebersih-bersihnya Indonesia ini dari tangan-tangan kotor narkoba.

Struktur Organisasi BNN saat ini sudah berada langsung dibawah Presiden.

Tidak lagi berada dalam struktur organisasi Polri alias sudah terpisah.

 

Demi alasan regenerasi, maka Ketua (Kalakhar BNN) saat ini yaitu Komjen Gories Mere sudah saatnya dicopot, digeser dan diganti dengan Perwira Tinggi Polri dari Angkatan yang lebih muda.

Sudah cukup lama Gories Mere menjabat di BNN (tanpa ada prestasi yang membanggakan), kecuali menyisakan dugaan-dugaan pelanggaran hukumnya yang seakan di peti-eskan.

Beri kesempatan kepada Angkatan yang lebih muda.

Beri kesempatan kepada Polisi yang jauh lebih bersih, lebih kredibel dan tidak terlibat dalam mata rantai kemafiaan kartel-kartel narkoba dari sindikat internasional.

Kalau Mabes Polri bisa menangkap dan menahan Komjen Susno Duadji, maka Mabes Polri juga harus bisa bersikap sama tegasnya kepada Komjen Gories Mere.

Buka semua dugaan pelanggaran hukumnya.

Tidak usah lagi didiamkan, dibiarkan dan dilindungi.

Cukup !

Sudah saatnya Polri dibersihkan dari antek-antek narkoba.

Dan kalau mau jujur, BNN tidak ada fungsinya di Indonesia ini.

Penanganan narkoba harus satu atap saja yaitu sepenuhnya berada di bawah otoritas POLRI sebagai institusi penegak hukum.

Kalau Indonesia mau meniru negara lain yang memiliki lembaga anti narkoba maka carilah pejabat yang bersih (dan sangat kredibel) untuk memimpin.

Buka semua dugaan pelanggaran hukum Komjen Gories Mere.

Tolonglah punya malu kepada aparat kepolisian di Indonesia kalau misalnya ada oknum pejabat yang sangat amat kotor bersembunyi dibalik topeng-topeng yang canggih.

https://i0.wp.com/i29.photobucket.com/albums/c276/summertyme79/Randon%20Shit/say-no-to-drugs.jpg

Tamparan Keras Dari AMNESTY INTERNASIONAL Bagi POLRI

Seperti kata lagu grup musik PETERPAN, “Buka Dulu Topengmu !”.

Ya, buka dulu topengmu Gories Mere.

Jangan bersembunyi di balik seragam kepolisian jika patut dapat diduga anda adalah beking dari mafia-mafia narkoba.

Bikin malu dan seakan kalap pada jabatan alias kekuasaan.

Tapi ternyata waktu begitu cepat berlalu.

Kalau sudah menjabat selama 2,5 tahun, saatnya kini diadakan pergantian.

Tidak ada kekuasaan yang bisa bersifat absolut di muka bumi ini.

Kita harusnya malu pada Amnesty Internasional sebab dari tahun 2009 lalu, mereka sudah “berteriak” tentang salah satu indikasi keburukan seputar pembekingan narkoba ini. Polri harus bersih dari segala pembekingan narkoba.  

Minggir, bagi siapapun yang sesungguhnya adalah serigala-serigala (buas) mencari makan lewat lahan kotor narkoba.

Jadi, sambil menunggu Presiden SBY merenungkan kembali apakah pantas mendiamkan, membiarkan dan (diduga) melindungi oknum JENDERAL POLRI yang membekingi jaringan narkoba, mari kita nikmati suara merdu ARIEL PETERPAN yang mengumandangkan lagu TOPENG :

Reff :
Tapi buka dulu topengmu
Buka dulu topengmu
Biar ku lihat warnamu
Kan kulihat warnamu

(MS)

June 12, 2010 - Posted by | news | ,

Sorry, the comment form is closed at this time.

%d bloggers like this: