Katakamidotcom News Indonesia

Jusuf Manggakah Kapolri Baru, Polri Percayalah Badai Pasti Berlalu

 

DIMUAT JUGA DI KATAKAMI.COM

 

WAWANCARA EKSKLUSIF KOMJEN JUSUF MANGGA : TUGAS KAMI TINGKATKAN KESEJAHTERAAN

The Rising Star Itu Bernama Jusuf Manggabarani & Pantas Jadi Kapolri

Anti Klimaks HANI, Datuk Gories Mere Siapkah Ditolak Ulama Islam Lagi ?

Jakarta 13/6/2010 (JAKARTA)  Salah satu jabatan penting yang akan segera di serah-terimakan dalam waktu dekat ini dalam struktur organisasi Polri adalah Metro 1.

Istilah Metro 1 (Satu) adalah istilah yang lazim untuk jabatan Kapolda Metro Jaya.

Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri mengeluarkan keputusan untuk mengangkat Irjen Timur Pradopo sebagai Kapolda Metro Jaya. 

Irjen Wahyono yang selama ini menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya, akan segera berpindah ke kantornya yang baru di Mabes Polri sebagai Kepala Badan Intelijen & Keamanan (Kabaintelkam).

Promosi bagi Wahyono ke Badan (Divisi) Intelijen & Keamanan sudah bisa ditebak oleh banyak pihak.

Sebab Wahyono memang berlatar belakang intelijen.

Foto kiri ke kanan : Irwasum Komjen Nanan Sukarna, Kabaintelkam Irjen Saleh Saaf & Kapolri BHD

 

Wahyono menggantikan pejabat lama yaitu Irjen. Saleh Saaf yang bersiap memasuki masa pensiun.

Tetapi sesungguhnya, jaringan yang selama ini sudah dibangun dengan sangat baik oleh Irjen Saleh Saaf selama memimpin Badan Intelijen & Keamanan Polri jangan disia-siakan begitu saja.

Saleh Saaf bisa diberdayakan oleh Badan Intelijen Negara (BIN) karena Kepala BIN Jenderal Polisi (Purn) Sutanto pasti akan sangat terbantukan oleh keberadaan dari “intel” sekelas Saleh Saaf.

BIN memang memungkinkan bagi perwira tinggi yang sudah purna bhakti untuk melanjutkan pengabdiannya kepada bangsa dan negara di instansi intelijen ini.

Intelijen Indonesia harus diperkuat oleh orang-orang memang menguasai bidang ini secara baik dan benar.

Sekarang kembali ke soal Irjen Wahyono.

Setelah sukses menjalankan tugasnya sebagai Kapolda Metro Jaya, Wahyono yang berkumis lebat ini akan mendapat tugas yang jauh lebih berat yaitu sebagai pimpinan bagi armada “intelijen” Kepolisian Indonesia.

Ini bukan tugas yang ecek-ecek.

Ini tugas yang sangat strategis.

 

Foto : Irjen Wahyono yang akan menjadi Kabaintelkam baru di Mabes Polri

Termasuk menjadi penentu, jadi atau akan tertunda lagikah kunjungan kenegaraan Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama pada bulan November 2010 mendatang.

Kalau selama ini, Obama sudah menunda sebanyak 3 kali rencana kedatangannya ke Indonesia maka pertanyaannya akan ditunda lagikah rencana kunjungan itu pada bulan November mendatang.

Penundaan kunjungan itu sudah dilakukan Obama pada bulan November 2009, Maret 2010 dan Juni 2010. 

Faktor keamanan adalah faktor kunci bagi terwujudnya rencana kunjungan Presiden Obama.

Obama adalah seorang kepala negara dari sebuah negara adidaya.

Sekecil apapun ancaman di negara yang akan dikunjunginya, perangkat keamanan dan dinas intelijen Amerika pastilah akan sangat memperhitungkan dan mempertimbangkan sedalam-dalamnya.

Foto : Presiden Barack Obama sekeluarga

Sehingga, Wahyono mendapat tugas yang tak ringan begitu menjabat sebagai Kepala Badan Intelijen & Keamanan (Kabaintelkam) di Mabes Polri.

Bukan Obama yang tak mau atau tak sudi datang.

Tetapi, negara sebesar AMERIKA pasti akan sangat mengedepankan faktor keamanan bagi keselamatan dan kelancaran kunjungan Kepala Negaranya ke manca negara.

Keselamatan dan kelancaran kunjungan Presiden Obama ke Indonesia, tidak tergantung dari seberapa banyak (orang yang diduga sebagai) teroris di udak-udak atau ditembak mati.

Bukan, pasti bukan tergantung pada faktor itu !

Justru kalau dibuat sangat heboh dan “berisik” sekali dengan gunjang ganjing terorisme, bisa-bisa rencana kunjungan kenegaraan ke Indonesia ini hanya tinggal angan-angan SBY saja.

Ini harus dicermati oleh BIN, TNI dan Mabes Polri.

Hingar bingar masalah terorisme, jangan lagi terlalu “merdu” bernyanyi di permukaan “pemberitaan” media massa dalam kehidupan kita sebangsa dan senegara.

Dibuat landai-landai sajalah.

Jadi khusus untuk penunjukan dan pengangkatan Irjen Timur Pradopo sebagai Kapolda Metro Jaya yang baru, mari kita berikan ucapan “selamat datang” kepada Metro Satu yang baru ini.

Timur Pradopo lulusan Akpol Angkatan 1978 ini  di spekulasikan menjadi cikal bakal Kapolri. Bahkan ada pendapat semacam ini, “Semakin jelas siapa Kapolri baru, dengan ditunjuk dan diangkatnya Irjen Timur Pradopo sebagai Kapolda Metro Jaya”.

Wah ?

Ya bolehlah pendapat seperti itu dikemukakan.

Foto : Irjen Timur Pradopo 

Sah sah saja. 

Sebab siapapun juga berpeluang menjadi Kapolri yang baru menggantikan Jenderal BHD yang bersiap memasuki masa purna bhakti dalam waktu beberapa bulan ke depan. 

Tetapi untuk menduduki jabatan Kapolri, haruslah yang sudah matang dalam perjalanan kariernya.

Jangan hanya karena memiliki kedekatan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) karena kabarnya pernah bersama-sama menjalankan tugas negara sebagai Pasukan Perdamaian Indonesia di kancah internasional di masa silam, maka faktor ini seakan “diaminkan” untuk menjadi jalan mulus Timur Pradopo sebagai Kapolri baru.

Sebab kalau hanya mengandalkan faktor “tak resmi” semacam itu, sistem kerja di Polri bisa acak-acakan.

Lagipula, penugasan terbaru bagi  Timur Pradoro didepan mata ini adalah sebagai Kapolda Metro Jaya.

Ini jabatan yang sangat amat penting sekali.

Ini jabatan yang begitu strategis dan benar-benar menantang.

Tunjukkan dan buktikan dulu bahwa Timur Pradopo bisa menjalankan tugas mulia ini dengan sebaik-baiknya.

Sebab orang akan berkata dengan sini, “Ya, jadi Kapolda Metro Jaya saja belum ada prestasinya, sudah mau jadi Kapolri ?

Foto : Irjen Timur Pradopo & Irjen Susno Duadji saat sertijab Kapolda Jawa Barat (2008)

Irjen. Timur Pradopo sudah membuktikan keberhasilannya menjadi Kapolda Jawa Barat.

Ia menjabat sebagai Kapolda Jawa Barat menggantikan seniornya dari Angkatan 1977 yaitu Komjen Susno Duadji yang kini mendekam di dalam penjara Mako Brimob.

Saat Susno menjabat sebagai Kapolda Jawa Barat, ia ditarik ke Mabes Polri dan di promosikan sebagai Kepala Badan Reserse & Kriminal (Kabareskrim) Mabes Polri.

Kini, tantangan baru yang lebih besar diberikan kepada Timur Pradopo untuk memimpin wilayah.

DKI Jakarta, tidak seperti Jawa Barat atau wilayah lainnya.

Dinamika dan tantangan tugas di wilayah ibukota ini dari sisi keamanan, jauh lebih kompleks dibanding wilayah-wilayah lain.

Saatnya Timur Pradopo membuktikan, ia mampu menjadi Metro Satu yang handal, profesional dan proporsional.

Jangan biarkan spekulasi berkembang bahwa kedekatan dan faktor kebetulan yang ia miliki yaitu pernah sama-sama bertugas dengan SBY di masa lalu dalam misi mulia Pasukan Perdamaian di sebuah negara asing, bukan menjadi faktor tunggal karier gemilangnya di masa kini dan masa depan.

Selamat datang Metro Satu yang baru.

Selamat datang Jenderal ! 

Selamat bertugas !

Foto : Pelantikan Komjen Jusuf Manggabarani sebagai Wakapolri yang baru (Januari 2010)

Dan kalau kita berbicara soal siapa figur tepat menjadi Kapolri baru untuk segera dipertimbangkan Presiden SBY menggantikan Jenderal BHD maka jawaban yang paling tepat adalah Komjen. Jusuf Manggabarani.

Jusuf Mangga lulusan Akpol Angkatan 1975 saat ini menjabat sebagai Wakil Kepala Kepolisian RI (Wakapolri).

Sebelum menjadi Wakapolri, Jusuf Mangga adalah Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum).

Ia dikenal sangat bersih, lurus, kaku, susah tersenyum, jujur dan memiliki integritas yang sangat tinggi.

Siapapun yang menjabat sebagai Kapolri, nama Jusuf Mangga selalu menjadi bawahan yang sangat diandalkan oleh masing-masing Kapolri untuk menjalankan tugas yang diberikan kepada Jusuf Mangga.

Jusuf Mangga memang sangat kaku dan susah tersenyum.

Padahal ia memiliki rasa humor yang cukup tinggi.

Kita bisa membayangkan raut wajah Jenderal BHD yang cencerung tampan, ramah dan “cukup manis” untuk di lihat.

Tetapi sesungguhnya kalau sedang berduaan, Wakapolri Jusuf Manggalah yang banyak melemparkan guyon sehingga membuat Kapolri BHD bisa tertawa setengah mati.

Foto : Komjen. Jusuf Manggabarani

Selain karena guyonan Jusuf Mangga memang lucu, Wakapolri ini bisa bergurau dengan wajah yang “tanpa ekspresi” yaitu tetap serius dan tanpa senyum.

Jusuf Manggalah yang saat ini paling senior di kalangan Perwira Tinggi Polri dari nama-nama yang bisa diperhitungkan sebagai kandidat Kapolri baru.

Rekam jejaknya yang terbukti sangat baik selama ini, pantas untuk dijadikan bahan pertimbangan bagi Presiden SBY untuk memilih dan memutuskan nama Jusuf Manggabarani sebagai satu- satunya calon Kapolri yang akan diajukan ke Dewal Perwakilan Rakyat (DPR).

Sesuai dengan UU Kepolisian, pemberhentian Kapolri lama dan pengangkatan Kapolri baru harus mendapatkan PERSETUJUAN dari DPR.

Sehingga, rasa penasaran tentang siapa calon terbaik yang bisa menjadi Kapolri baru sepertinya memang tertuju pada nama Jusuf Manggabarani.

Timur Pradopo boleh saja disiapkan sebagai Kapolri baru tetapi sebaiknya penunjukan atas diri Timur Pradopo ditentukan setelah melihat kinerja perwira tinggi yang satu ini dalam memimpin wilayah di ibukota Jakarta.

Mampu atau tidak menjadi Kapolda Metro Jaya.

Kalau mengamankan Jakarta tidak bisa, bagaimana mau mengamankan Indonesia ?

Lagipula tak cuma Timur Pradopo yang pernah menjadi rekan seperjalanan SBY dalam tugas menjalankan misi Pasukan Perdamaian puluhan tahun silam, ada nama lain yang juga bisa di timang-timang dan dipertimbangkan yaitu Kabareskrim Komjen Ito Sumardi.

Neta S. Pane selaku Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW) mengatakan, “Timur Pradopo dan Ito Sumardi kan dianggap kenal sama SBY karena mereka pernah menjadi rekan seperjalanan SBY waktu sama-sama jadi anggota Pasukan Perdamaian, jadi makanya nama-nama ini yang dianggap beruntung dalam masa pemerintahan SBY” kata Neta S. Pane kepada KATAKAMI.COM dalam sebuah percakapan beberapa waktu lalu. 

HUT Polri yang ke 64 tanggal 1 Juli 2010 ini adalah HUT Polri yang terakhir bagi Jenderal BHD sebagai KAPOLRI.

Inilah saat terakhir bagi BHD mengikuti HUT Polri atau Peringatan Hari Bayangkara dalam kapasitasnya sebagai Tri Brata 1 (Kapolri)

Tahun depan, BHD sudah tak lagi berdiri di mimbar kehormatan itu sebab juniornya yang akan mengambil alih tongkat kepimpinan sebagai Tri Brata 1.

Selamat menyambut Hari Bayangkara.

Dan selamat menyambut datangnya realisasi kebijakan RENUMERASI (kenaikan gaji berdasarkan prestasi kerja).

Kado yang terbaik bagi Polri bukan RENUMERASI ini tetapi kesungguhan untuk melakukan otokritik demi kemajuan Polri di masa yang akan datang.

Jadilah Bayangkara sejati yang profesional, proporsional, modern, bermoral dan bertanggung-jawab,.

Jadilah Bayangkara sejati yang mengedepankan kepentingan bangsa, negara dan rakyat Indonesia diatas kepentingan pribadi, kelompok dan golongan tertentu.

Indonesia dan seluruh rakyatnya pasti senantiasa mencintai Polri, sepanjang Polri bertugas demi kepentingan bangsa, negara dan rakyat Indonesia.

Polri yang berjanji untuk selalu menjadi pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat, harus benar-benar konsisten dalam upaya penegakan hukum dan memelihara kamtibmas dengan sebaik-baiknya.

Masa setahun belakangan ini adalah masa terberat bagi Polri.

Masa yang begitu kelam dalam sejarah perjalanan bangsa bagi Kepolisian secara institusi.

Dari mulai gunjang ganjing anekdot “CICAK BUAYA” sampai ke perseteruan institusi dengan perwira tingginya sendiri yaitu Komjen Susno Duadji.

Polri seakan “babak belur” di tengah minimnya gaji bagi para anggotanya yang seakan hidup dalam keterbatasan berkepanjangan.

Badai demi badai datang silih berganti menghantam Polri.

 

Foto : Kapolri BHD

Hidupkanlah kembali moral seluruh anggota Polri yang terombang-ambing dan ambruk karena hantaman-hantaman badai tadi.  

Presiden SBY perlu mempertimbangkan, apakah setuju atau tidak setuju dengan draft restrukturisasi Polri yang baru.

Setujuilah yang memang baik untuk Polri dan tidak membebani negara.

Tetapi bagian tertentu dalam setrukturisasi itu yang tidak perlu disetujui, jangan disetuju.

SBY harus mengingat bahwa sebagai kepala negara ia jangan pernah memberikan persetujuan untuk hal-hal yang belum saatnya disetujui atau yang tidak perlu disetujui (misalnya menjadikan jabatan Kepala Detasemen Khusus atau Densus 88 Anti Teror Polri dijabat oleh perwira tinggi berbintang 2).

Densus 88 Anti Teror ada sub unit yang terintegrasi dalam Bareskrim Polri.

Sudah, biarkan saja Densus 88 “duduk manis” disitu (didalam bagan organisasi Bareskrim Polri) dengan dipimpin oleh perwira tinggi berbintang 1.

Sudah bagus bisa jadi Jenderal dengan menjadi Kepala Densus 88 Anti Teror.

Di TNI, Komandan Satuan Penanggulangan Teror (Sat Gultor) bukan dari kalangan Perwira Tinggi.

Begitu juga Detasemen-Detasemen lain di militer.

Foto : Kapolri BHD bersalaman dengan Presiden SBY 

 

Jadi untuk Presiden SBY, jangan setujui sesuatu yang dapat menimbulkan masalah baru di kemudian hari.

Presiden SBY tampaknya juga tak perlu repot-repot mencari siapa pengganti Jenderal Polisi (Purn) Dai Bahtiar sebagai Duta Besar RI untuk Kerajaan Malaysia.

Jika nanti Jenderal BHD pensiun, perwira tinggi yang berpembawaan kalem ini bisa dipertimbangkan menjadi Duta Besar RI untuk Kerajaan Malaysia.

Jabatan Dubes RI di Kerajaan Malaysia ini, memang secara berturut-turut dipegang oleh para Mantan Kapolri yaitu Jenderal Polisi (Purn) Rusdihardjo dari tahun 2004-2006 dan Jenderal Polisi (Purn) Dai Bahtiar dari tahun 2006 sampai saat ini.

BHD yang baru-baru ini mendapat Gelar Kehormatan TAN SRI dari Kerajaan Malaysia, tentu akan sangat disambut dengan sangat baik dan hangat oleh pemerintah Malaysia jika ditunjuk sebagai Dubes disana.

BHD pasti akan sangat terharu menyambut dan mengikuti peringatan HUT Polri tahun ini.

Apalagi dari masa kepemimpinannya sebagai Kapolri sejak bulan Oktober 2008, masa setahun terakhir inilah masa terberat bagi Polri secara institusi.

Masa yang panen terhadap badai demi badai.

Segala jenis badai dihadapi dengan ragam tekanan yang sangat menekan dan begitu mengguncang bagi Polri secara institusi.

Tetapi percayalah, Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang tidak dapat ditanggung oleh umat ciptaan-Nya.

  

Dan percayalah juga bahwa setiap “BADAI PASTI AKAN BERLALU”.

Apa yang buruk dan memang menyalahi aturan, jangan diulangi.

Apa yang baik dan menjadi prestasi gemilang Polri selama ini, tingkatkanlah lebih giat lagi.

Selamat Hari Bayangkara, Polri.

Dirgahayu dan berjayalah selalu.

Selamat bertugas sambil menikmati alunan merdu lagu berjudul BADAI PASTI BERLALU ciptaan Erros Djarot  ini.

Percayalah bahwa setiap badai dalam kehidupan kita sebagai manusia, pasti akan berlalu !

(YOUTUBE) Berlian Hutauruk – Badai Pasti Berlalu

Awan hitam di hati yang sedang gelisah
Daun-daun berguguran
Satu satu jatuh ke pangkuan
Kutenggelam sudah ke dalam dekapan
Semusim yang lalu sebelum ku mencapai
Langkahku yang jauh

Kini semua bukan milikku
Musim itu telah berlalu
Matahari segera berganti

Gelisah kumenanti tetes embun pagi
Tak kuasa ku memandang dikau matahari

Kini semua bukan milikku
Musim itu telah berlalu
Matahari segera berganti

Badai pasti berlalu
Badai pasti berlalu

Badai pasti berlalu
Badai pasti berlalu

(MS)

June 13, 2010 - Posted by | news, Uncategorized | , ,

Sorry, the comment form is closed at this time.

%d bloggers like this: