Katakamidotcom News Indonesia

SBY Cukup Ajukan 1 Nama Calon Kapolri, Jusuf Mangga, Oegroseno Atau Timur Pradopo ?

 

 

DIMUAT JUGA DI KATAKAMI.COM

 

SBY Yang Tahu Misteri Kapolri Baru, Jusuf Mangga Atau Oegroseno ?

Anti Klimaks HANI, Datuk Gories Mere Siapkah Ditolak Ulama Islam Lagi ?

 

 

Jakarta 4/7/2010 (KATAKAMI)  Bisakah kita bayangkan, bagaimana respon dan penilaian dari aparat kepolisian di seluruh dunia sebulan terakhir ini ?

Maksud kami, respon dan penilaian mereka terhadap kinerja POLRI yang termonitor di berbagai media massa ?

Topiknya cuma itu-itu saja.

Menembak mati seenaknya terhadap orang yang dituduh teroris sehingga penegakan hukum dianggap tak perlu.

Atau, perseteruan dengan perwira tingginya sendiri.

Atau, pemberiaan gelar kehormatan dan penghargaan dari negara sahabat kepada perwira tinggi Polri dalam hal pemberantasan narkoba (padahal patut dapat diduga perwira tinggi ini justru terlibat dalam pembekingan kasus-kasus narkoba kelas kakap. Misalnya dugaan pembekingan terhadap bandar narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS).

Atau, ribut-ribut soal video porno dan penahanan artis yang terkenal (supaya laris manis pemberitaannya di media massa).

Atau, ribut-ribut soal rekening gendut.

Tidak ada satupun berita yang enak didengar, manis dilihat dan terhormat untuk dipandang sebagai sebuah prestasi yang membanggakan.

Ya, terserah saja kalau misalnya Polri merasa tidak malu atas semua pemandangan yang memalukan itu.

Tapi masyarakat Indonesia merasa lelah dan muak dipaksa untuk melahap pemberitaan-pemberitaan yang sangat berlebihan mengenai topik-topik yang itu-itu saja.

Polri tidak mau tahu, hajar terus kasus video.

Seakan-akan tugas utama Polri adalah mengurusi urusan syahwat masyarakat. Kasihan rakyat Indonesia, dipaksa oleh Polri untuk dibungkam dengan pemberitaan seputar video porno semata.

Sebulan terakhir ini, seakan terjadi perang media antara topik video porno dengan topik rekening gendut.

Balap-balapan, topik mana yang lebih menggigit dan sensasional.

Tapi baiklah, mari kita tinggalkan topik video porno dan rekening gendut.

Foto : Wakapolri Komjen Jusuf Manggabarani

Sisi Lain Wakapolri Jusuf Manggabarani Berwajah Tanpa Ekspresi

The Rising Star Itu Bernama Jusuf Manggabarani & Pantas Jadi Kapolri

Ada hal yang jauh lebih penting untuk dibahas demi kebaikan Polri sendiri yaitu proses regenerasi di pucuk pimpinan institusi ini.

Wacana terbaru yang mencuat ke permukaan dalam beberapa hari ini adalah perlunya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajukan lebih dari 1 nama calon Kapolri ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Alasannya, supaya sama dengan konsep Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) dan DPR bisa lebih leluasa memilih kandidat Tri Brata 1 (Kapolri).

Namanya negara demokrasi, setiap orang bebas berpendapat.

Silahkan saja mengusulkan pandangan yang demikian karena pasti tujuannya adalah untuk kebaikan institusi Polri sendiri.

Polri saat ini berada dalam titik terendah dalam mendapatkan kepercayaan dari rakyat Indonesia.

Kepercayaan dn respek dari rakyat Indonesia sudah amburadul dan hancur berantakan terhadap institusi Polri.

Sayang Polri belum menyadari hal ini karena tampaknya sedang konsentrasi untuk mati-matian mengurus dan menuntaskan urusan “syahwat artis”.

Dan situasi inilah yang membuat KRISIS KEPERCAYAAN terhadap Polri menjadi lebih parah.

Dan kalau bicara soal pengajuan nama calon Kapolri ke DPR, satu hal yang harus kita sadari adalah Presiden SBY punya hak prerogatif untuk memutuskan berapa atau siapa yang akan diajukannya menjadi kandidat pengganti Jenderal Bambang Hendarso Danuri.

Indonesia memang negara demokrasi dan siapapun bebas menyampaikan pendapatnya.

Tetapi, aturan dan ketentuan yang ada juga tidak bisa ditabrak begitu saja.

UU memberikan otoritas dan legitimasi kepada Presiden SBY untuk memutuskan sendiri mengenai pemilihan atau pengangkatan para pembantunya, termasuk Panglima TNI atau Kapolri.

Jika merujuk pada tradisi Kabinet Indonesia Bersatu dari jilid satu terdahulu, Presiden SBY selalu mengajukan 1 nama calon Kapolri ke DPR.

Bulan Juni 2005, Presiden SBY mengajukan nama KOMJEN SUTANTO untuk menjadi calon Kapolri menggantikan Jenderal Dai Bahtiar.

Bulan Juli 2005, Presiden SBY melantik Sutanto menjadi Kapolri baru dengan kenaikan pangkat menjadi Jenderal bintang 4 penuh.

Foto : Sertijab Kapolri dari Sutanto ke BHD (Oktober 2008)

Bulan September 2008, Presiden SBY mengajukan nama KOMJEN BAMBANG HENDARSO DANURI menjadi calon Kapolri menggantikan Sutanto.

Bulan September 2008, Presiden SBY melantik Bambang Hendarso Danuri menjadi Kapolri baru dengan kenaikan pangkat menjadi Jenderal bintang 4 penuh.

Dengan fakta-fakta seperti ini, tentu kita semua dapat melihat sebuah garis lurus yang ditarik oleh Presiden SBY dalam hal pengajuan nama calon Kapolri yaitu cukup 1 nama tetapi dipilih yang terbaik dari yang memang baik di jajaran Polri.

Presiden SBY tentu mendapat masukan mengenai nama-nama calon Kapolri dari Mabes Polri, yaitu surat pengajuan resmi dari Kapolri yang akan digantikan.

Kemudian, Presiden SBY bisa meminta masukan dan pandangan dari Menteri Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukkam) Marsekal Djoko Suyanto yang kebetulan menjadi Ketua Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas).

Lalu, Presiden SBY juga pasti akan meminta masukan dan pandangan dari Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) yang kebetulan adalah Mantan Kapolri Jenderal Polisi (Purn) Sutant0.

Tetapi seluruh masukan dan kritikan dari masyarakat, pasti ditampung dan didengar Presiden SBY melalui media massa atau laporan-laporan dari lingkaran kekuasaannya.

Dan kalau sekarang hangat diperbincangkan, siapa kira-kira pengganti Jenderal BHD untuk menjadi Kapolri (baru) maka lagi-lagi semua itu menjadi hak prerogatif Presidn SBY.

Foto : (Kiri ke Kanan) Menkopolhukkam Djoko Suyanto dan Kepala BIN Sutanto

Disini, peran dari Menkopolhukkam Djoko Suyanto dan Kepala BIN Sutanto sangat strategis dalam hal proses regenerasi di tubuh Polri.

Keduanya harus sangat mencermati aspirasi masyarakat yang menginginkan agar Polri dipimpin oleh seseorang yang memiliki tingkat profesionalisme yang sangat tinggi, teruji dalam hal kepemimpinan, tidak bercacat cela dalam rekam jejaknya, tidak terlibat atau patut dapat diduga “tersenggol” namanya dalam kasus-kasus hukum (termasuk kasus narkoba, pembunuhan atau korupsi).

Kalau ditanya, siapa yang ingin jadi Kapolri ?

Pasti tidak ada yang mau tunjuk tangan tetapi patut dapat diduga ada yang sudah sibuk kasak-kusuk bergerilya mencari peluang atau menggelindingkan berita-berita tertentu ke media massa agar namanya dibaca Presiden.

Dapat gelar kehormatan dari negara sahabat dalam hal prestasi pemberantasan narkoba misalnya (padahal patut dapat diduga perwira tinggi Polri yang semacam ini justru terlibat dalam pembekingan mafia-mafia narkoba).

Atau mencari cara-cara lain untuk melakukan pembunuhan karakter kepada sesama rekan sejawat agar peluangnya naik menjadi Kapolri menjadi kandas.

Bisa juga menjual prestasi lewat pemberitaan media massa agar kesannya sangat cakap dalam menjalankan tugas-tugas penegakan hukum.

Pokoknya, siapa cepat maka dialah yang menjadi “bintang pemberitaan”.

Semua kemungkinan bisa terjadi.

Sebab, pertarungan merebut kursi nomor satu di tubuh Polri memang menjadi ajang bergengsi yang sangat mendebarkan.

Foto : Sekretaris Satgas Mafia Pemberantasan Hukum Denny Indrayana & AAN

Di “Negeri Para Bedebah” Aan Menang Melawan Mafia Narkoba, Mantap !

Presiden SBY masih punya waktu untuk mempertimbangkan siapa yang akan dipilihnya untuk menjadi calon pengganti Jenderal BHD.

Kapolri Bambang Hendarso Danuri sendiri akan memasuki masa pensiun per tanggal 1 November 2010.

Tetapi paling tidak, antara bulan Agustus – September, nama calon Kapolri yang baru sudah baru dikantongi oleh Presiden SBY untuk diajukan ke DPR.

Apalagi bertepatan dengan itu, Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso juga akan memasuki masa pensiun per tanggal 1 Oktober 2010.

Maka, Presiden memiliki 2 tugas penting yaitu memilih nama-nama kandidat Panglima TNI dan Kapolri yang baru.

Kalau bicara soal nama-nama yang dianggap pantas untuk menjadi Kapolri baru, calonnya tidak jauh dari perwira tinggi Polri yang saat ini menduduki posisi-posisi strategis yaitu (misalnya) Wakapolri Komjen Jusuf Manggabarani (Lulusan Akpol Angkatan 1975), Kapolda Sumatera Utara Irjen Oegroseno (Angkatan 1978) dan Kapolda Metro Jaya Irjen Timur Pradopo (Angkatan 1978).

Tahun Angkatan kelulusan Komjen Jusuf Manggabarani (1975), bukan jadi alasan untuk mematikan kesempatan bagi perwira tinggi yang satu ini untuk masuk dalam bursa pemilihan Kapolri baru.

Sebab, sepanjang pemerintahan Presiden SBY, perpanjangan masa tugas pernah dilakukan yaitu kepada Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto.

Perpanjangan masa tugas selama 1,5 tahun itu akhirnya diakhiri setelah Presiden SBY memilih nama Djoko Suyanto untuk menjadi Panglima TNI bulan Februari 2006.

Bintang 2 yang disandang Oegroseno dan Timur Pradopo, tidak menjadi hambatan untuk pencalonan mereka.

Sebab, kalau memang Presiden SBY berkenan untuk memilih salah satu diantara 2 nama ini (Oegroseno atau Timur Pradopo) maka Mabes Polri harus cepat tanggap mencarikan posisi dan jabatan bintang 3 kepada Oegroseno dan Timur Pradopo.

Foto : (Dari Kiri) Menkopolhukkam Djoko Suyanto, Presiden SBY, Kapolri BHD & Panglima TNI Djoko Santoso

 

Jadi sekarang, tidak perlu terburu-buru mendesak Presiden untuk melakukan ini dan itu sesuai keinginan pihak tertentu di dalam internal Polri yang patut dapat diduga mengakalinya tercetus lewat media massa.

Mau satu atau dua calon Kapolri, itu terserah Presiden.

Mau Angkatan 1975 atau 1978, itu terserah Presiden.

Ada koridor-koridor yang tidak bisa di intervensi dari “hak veto” kepala negara dalam menentukan siapa yang dianggapnya layak dan pantas untuk memimpin Polri.

Yang justru sangat penting untuk diingatkan kepada Presiden SBY adalah jangan sampai salah pilih dalam menentukan Kapolri baru.

Jangan pilih yang bermasalah.

Jangan pilih yang bercacat cela dalam rekam jejaknya sebagai anggota kepolisian.

Periksa semua rekam jejak dari calon-calon Kapolri ini.

Proses seleksi yang sangat penting ini, membutuhkan kecermatan dan ketajaman Presiden SBY dalam melihat figur-figur yang paling tepat memimpin.

Presiden SBY juga diharapkan peka dan sensitif terhadap masukan-masukan masyarakat terkait penyimpangan, kekurangan dan kesalahan dari perwira tinggi manapun yang rekam jejaknya bermasalah (terutama dari sisi hukum dan HAM).

Jangankan untuk menjadi Kapolri, tahun 2006 yang lalu saja para Ulama Islam di Jabotabek ini pernah mengajukan PETISI PENOLAKAN kepada Kapolri Jenderal Sutanto sewaktu seorang perwira tinggi yang diduga sangat bermasalah hendak melaju sebagai Kapolda Metro Jaya.

Perwira Tinggi yang ditolak mentah-mentah ini memang diduga bermasalah dalam penanganan terorisme yang merugikan umat Islam.

Brutalisme penanganan terorisme itu menjadi catatan tersendiri bagi Kalangan Ulama Islam saat itu sehingga ambisi menjadi orang nomor satu di Polda Metro Jaya dari perwira tinggi itupun kandas sekandas-kandasnya.

Itulah sebabnya, Presiden SBY jangan sampai melakukan kekeliruan dalam memilih calon Kapolri yang baru.

Siap Pak Presiden, pilihlah yang terbaik.

Buka mata, buka telinga.

Dengarkan semua masukan dan kritikan terhadap nama-nama calon Kapolri baru.

Waspadai gerakan liar dari perwira tinggi Polri yang sibuk mencari akal agar namanya ikut “nyangkut” dalam bursa calon Kapolri.

Waspadai gerakan “mengharumkan nama, meninggikan prestasi dan mengharumkan citra” dari perwira tinggi tertentu agar dianggap kapabel menjadi calon Kapolri.

Iya kalau perwira tinggi model seperti ini pantas dicalonkan !

Bagaimana kalau rekam jejaknya yang sebenar-benarnya sangat bermasalah ?

Liriklah Komjen Jusuf Manggabarani.

Foto : Irjen Oegroseno (saat ini menjabat sebagai Kapolda Sumatera Utara)

Atau Irjen Oegroseno.

Atau (bisa juga) Irjen Timur Pradopo.

Tiga orang “THE RISING STAR” ini, sangat menonjol  dan menunggu jari telunjuk Presiden SBY untuk berhenti pada nama mereka saat sedang menimbang-nimbang baik buruk dari masing-masing kandidat.

Silahkan memilih Bapak Presiden, kepada siapa “hatimu” terpaut ?

Silahkan memilih Bapak Presiden, kepada siapa telunjukmu hendak tertuju diatas nama mereka ?

Jangan gunakan faktor like or dislike !

Jangan gunakan faktor kedekatan (pribadi) !

Sekali lagi, pilihlah yang profesional, berintegritas tinggi dan sangat cakap dalam penugasannya selama ini.

(MS)

July 4, 2010 - Posted by | Uncategorized | , , , ,

Sorry, the comment form is closed at this time.

%d bloggers like this: