Katakamidotcom News Indonesia

Tempo Di Bom, Sapa Takut, Maukah Obama Tetap Datang ?

Indonesian magazine firebombed after graft report 

Indonesia’s leading news magazine Tempo attacked with Molotov cocktails

Jakarta 7/7/2010 (KATAKAMI)  Hari Selasa (6/7/2010) kemarin, Redaksi Tempo dilempari dengan 3 bom molotov.

Luar biasa.

Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri menegaskan pelemparan bom molotov kepada Tempo itu tak ada hubungannya dengan polisi sebab bisa jadi ada yang memanfaatkan situasi saat ini.

Hal tersebut disampaikan Kapolri seusai menggelar ramah tamah dalam rangkat HUT Polri yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Ya, terserah sajalah Polri mau ngomong apapun juga.

Tapi faktanya, Redaksi Tempo dilempari dengan 3 bom molotov.

Bayangkan kalau bom molotov itu dilempar ke halaman Kedutaan Besar Amerika Serikat di jalan Medan Merdeka Selatan Jakarta.

Atau ke halaman rumah dinas Duta Besar Amerika di Jalan Taman Suropati Menteng Jakarta.

https://i1.wp.com/www.motifake.com/image/demotivational-poster/0811/the-white-house-white-house-obama-demotivational-poster-1226026550.jpg

Densus Bukan Likuidasi Tapi Ganti Nama, Akal-Akalan Merengek Ke Amerika?

Bersuara Tentang Ustadz Abu Bakar Baasyir, Mari Lawan Semua “Terorisme”

Apa jadinya dan apa reaksi dari Amerika, jika 1 saja (jangan sampai 3, cukup 1 saja bom molotiv) dilemparkan, kemudian meledak sangat keras di “pekarangan” perwakilan Amerika di Indonesia ini.

Wah, dampaknya pasti sangat berat dan akan menjalar kemana-mana.

Gedung Putih (White House) mustahil akan sangat senang atau diam saja jika aset-aset dan kepentingan mereka “diledakkan” di negara manapun dan untuk alasan apapun.

Tak ada bom meledak saja, Presiden Obama sudah menunda rencana kunjungannya ke Indonesia sebanyak 3 kali yaitu November 2009, Maret 2010 dan Juni 2010. 

Bayangkan kalau bom (entah molotov atau bom buatan teroris didikan Al Qaeda) dilemparkan dan diledakkan di Kantor Perwakilan Perserikatan Bangsa Bangsa atau UN yang ada di ibukota Jakarta !

Bayangkan juga kalau bom molotov dilemparkan dan meledak secara mengerikan di halaman Kedutaan Besar Australia yang kini memiliki Perdana Menteri yang baru yaitu Julia Gillard !

Bayangkan kalau bom molotov dilemparkan dan meledak sangat mengerikan di halaman Kedutaan Besar Inggris di kawasan Bunderan HI, halaman Kedutaan Besar Jerman, Kedutaan Besar Jepang, Kedutaan Besar Perancis atau Kedutaan Besar lainnya di ibukota Jakarta ini !

Ini bukan basa-basi, bayangkan saja, kalau semua potensi itu terjadi di kantor-kantor perwakilan asing yang ada di ibukota negara kita.

https://i0.wp.com/cache.daylife.com/imageserve/0dJm4Hgeidc0c/610x.jpg

Foto : Redaksi Tempo (Selasa 6/7/2010) – Getty

  

Kita semua tahu, bagaimana gencarnya Densus 88 Anti Teror Polri menghajar semaunya pihak-pihak dan orang-orang yang mereka “hakimi” sebagai teroris.

Dari periode Januari 2010 – Maret 2010, 13 orang sudah ditembak mati.

Dari periode April 2010 – Juni 2010, sudah beranak satu lagi korban pembunuhan atas nama penanganan terorisme di Indonesia yaitu mati 1 orang lagi sehingga total keseluruhan yang sudah dibunuh sejak Januari 2010 adalah 14 orang.

Seiring dengan itu, Mabes Polri mengumumkan rencana pembubaran Densus 88 Anti Teror di semua Polda yang ada di Indonesia.

Sebagai gantinya, akan dibentuk Crisis Respond Team (CRT) yang seperti biasa … mengemis dan meminta-minta belas kasihan dari Amerika Serikat.

Pertanyaannya sekarang, mengapa bisa ada bom meledak di pekarangan kantor PERS nasional ?

Di saat Tempo bersuara sangat lantang mengangkat masalah rekening “obesitas” yang patut dapat diduga dimiliki para purnawirawan dan petinggi-petinggi Polri, mengapa bisa 3 bom molotov dilemparkan dan diledakkan di pekarangan Tempo ?

Apakah dikira, Tempo berkantor di hutan belantara yang tidak ada manusianya ?

Apakah dikira, Tempo berkantor di rawa-rawa, di dusun atau di ujung Jakarta yang penuh semak belukar ?

Hei, tidak, kantor redaksi Tempo terletak di jantung ibukota yaitu di JAKARTA PUSAT.

Tempo berkantor tidak jauh dari momumen penting yaitu TUGU PROKLAMATOR di Jalan Proklamasi Jakarta Pusat.

Di Jakarta Pusat saja, POLRI bisa kecolongan, apalagi di wilayah lain yang ada di Jakarta dan di Indonesia !

https://i0.wp.com/www.ifj.org/assets/photos/b/153/185/8334499-85359b9-b.jpg

  

Taruhlah misalnya, ada bom molotov dilemparkan dan diledakkan bertubi-tubi ke halaman kantor Kedutaan Besar Asing yang ada di Indonesia, apakah tindakan itu akan di tolerir oleh mereka ?

Oleh Obama, yang menjadwalkan kunjungannya pada bulan November 2010 mendatang ?

Atau karena korbannya kali ini adalah PERS NASIONAL (INDONESIA) maka pelemparan dan peledakan bom itu dianggap sepele, hal kecil dan tak perlu dipermasalahkan ?

Jawab dulu, ini bukan masalah kecil !

Ini serangan dan ancaman yang paling fundamental terhadap kebebasan dan kemerdekaan PERS, hak  dari kalangan PERS NASIONAL untuk memperoleh perlindungan dan keamanan di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Silahkan siapa saja membantah bahwa pelemparan dan peledakan bom molotov itu bukan perbuatan mereka.

Tetapi, PERS NASIONAL (INDONESIA) berhak mencurigai pihak manapun yang dianggap menjadi otak pelaku dari serangan radikal yang pantas disamakan dengan kelakuan teroris Al Qaeda.

Wartawan bertugas dilindungi oleh Undang Undang.

Wartawan itu bukan warga negara kelas dua di negara ini.

Wartawan itu adalah profesi yang sangat mulia, terhormat dan sangat membanggakan.

Jangan ancam keselamatan diri wartawan, dimanapun dia hidup, dimanapun dia berada, kemanapun dia bertugas dan apapun yang dia tuliskan atau laporkan.

Jangan ancam dan jangan aniaya diri kami, para JURNALIS yang bekerja sepenuh hati demi pengabdian kepada bangsa, negara dan rakyat Indonesia.

Darah kami darah WARTAWAN.

Hidup kami secara total dipersembahkan demi tugas-tugas kewartawanan yang bertujuan baik bagi kepentingan umum yaitu kepentingan masyarakat dengan menegakkan hukum, HAM dan demokrasi.

Menyuarakan kebenaran, kebaikan dan keadilan.

 

https://i0.wp.com/nimg.sulekha.com/others/original700/barack-obama-malia-obama-sasha-obama-michelle-obama-2009-7-10-13-42-4.jpg

Foto : Presiden Obama, Malia, Sasha & Michelle Obama

Jangan karena WARTAWAN bukan pihak yang sangat berkuasa penuh di muka bumi seperti Presiden Barack Obama atau AMERIKA SERIKAT sebagai negara adidaya yang sangat terkenal, maka Polri bisa berlaku seenaknya terhadap elemen manapun yang ada di Indonesia ini.

Perlakukan wartawan secara baik !

Catat itu !

Dan Amerika juga perlu mencatat ini baik-baik bahwa menjelang kedatangan Presiden Barack Obama sekeluarga ke Indonesia, sebuah redaksi MEDIA MASSA dilempari dan diledakkan dengan bom bertubi-tubi.

Tak cuma Amerika, hal ini juga harus menjadi perhatian dari semua negara.

Seperti inilah sebenarnya, wajah Indonesia.

Banyak omong, mengklaim paling jago membunuhi teroris.

Banyak omong, mengklaim sebagai pihak yang paling menguasai alur dan gerak teroris.

Lama-lama orang akan berpikir, siapa sebenarnya yang mengendalikan dan menjadi teroris yang sebenarnya ?

Empat bulan menjelang kedatangan Obama ke Indonesia, pastilah semua perkembangan keamanan di Indonesia menjadi bahan masukan dan pertimbangan bagi Amerika.

Tak akan mungkin mereka happy-happy saja dan ENJOY LIFE mendengar kabar tentang adanya peledakan bom bertubi-tubi di sebuah redaksi MEDIA MASSA INDONESIA.

https://i2.wp.com/www.kjtools.com/usersubmissions/DaBomb.gif

Walaupun dibilang dan nanti diumumkan, peledakan bom itu perbuatan PREMAN (bukan TERORIS), tapi tetap saja nama benda yang dilemparkan dan diledakkan bertubi-tubi itu adalah B O M !

Bukan petasan.

Bukan fantasi.

Bukan halusinasi.

Sekali lagi, yang dilemparkan dan diledakkan itu namanya B O M.

Apakah kita tidak malu kepada dunia internasional bahwa di era yang serba terbuka seperti ini — 12 tahun pasca reformasi — teror dan intimidasi terhadap wartawan masih saja terjadi sampai detik ini ?

Tahun 2006 lalu, seorang WARTAWAN dari harian terkemuka (yang biasa meliput di MABES POLRI) menuliskan laporannya tentang kasus pencurian barang bukti narkoba 13 kg sabu (yang disita dari kasus narkoba TELUK NAGA).

Setelah ia menuliskan kasus pencurian barang bukti narkoba ini, motornya dirusak saat ia meliput ke MABES POLRI.

Kasus pencurian narkoba itu patut dapat diduga melibatkan seorang perwira tinggi POLRI berinisial GM.

Pernah juga terjadi beberapa tahun lalu, seorang WARTAWATI dari harian terkemuka menuliskan laporannya mengenai kasus NARKOBA.

WARTAWATI ini juga biasa meliput di MABES POLRI.

Setelah tulisan itu dia tuliskan, WARTAWATI ini disuruh masuk ke dalam mobil salah seorang perwira tinggi Polri yaitu KOMJEN GORIES MERE (saat itu pangkatnya belum sampai Komjen).

Kemudian WARTAWATI ini  diajak berputar-putar selama sekian jam keliling Jakarta.

Lalu, ia diturunkan di sebuah tempat dan disana sudah duduk (menunggu) KOMJEN GORIES MERE.

Walau duduk berhadap-hadapan, WARTAWATI ini dianggap tidak ada alias didiamkan juga selama sekian lama.

Tidak diajak bicara sebagai salah bentuk teror.

Pemimpin Redaksi KATAKAMI.COM Mega Simarmata, termasuk yang sangat amat sering mendapat teror dan intimidasi dari KOMJEN GORIES MERE.

https://i2.wp.com/www.metrobalikpapan.co.id/uploads/berita/dir08032009/img0803200998321.jpg

Foto : Irjen Bekto Suprapto ( saat ini menjabat sebagai KAPOLDA PAPUA)

 

SBY Berantaslah Mafia Narkoba, GORIES MERE Buka Topengmu !

Anti Klimaks HANI, Datuk Gories Mere Siapkah Ditolak Ulama Islam Lagi ?

Di “Negeri Para Bedebah” Aan Menang Melawan Mafia Narkoba, Mantap !

  

Pernah satu kali yaitu Juni 2007, Kepala Densus 88 Anti Teror Polri Brigjen Bekto Suprapto mengadakan makan malam bersama di sebuah restoran Perancis yang sangat sederhana di kawasan Jakarta Selatan.

Mega Simarmata yang mengkoordinir acara makan malam ini, dicegat oleh seseorang yang mengenakan jaket hitam dan menggunakan helm.

“Naik kamu ke motor saya, saya tahu kamu mau kemana. Cepat !” kata pengendara motor itu (tanpa mau melepaskan helm yang dikenakannya supaya tidak ketahuan wajahnya).

“Anda mau apa ? Anda pikir anda siapa ? Anda sok jago ? Mau apa anda ? Pergi sana, saya tampar nanti anda !” jawab Mega Simarmata dengan nada yang sangat berani di suatu malam bulan Juni 2007.

Kejadian ini dilaporkan oleh Mega Simarmata kepada para petinggi Polri karena patut dapat diduga insiden itu adalah inisiatif dari KOMJEN GORIES MERE.

Ketika itu, memang terjadi perpecahan antara Tim Satgas Bom yang dipimpin Brigjen Surya Darma (tangan kanan Gories Mere) dan Densus 88 Anti Teror yang dipimpin oleh Bekto Suprapto.

Bisa jadi, gerombolan Gories Mere merasa sangat “panas hati” karena ternyata Kepala Densus 88 Anti Teror Polri (saat itu) begitu diterima dan bisa memiliki hubungan yang baik dengan kalangan pers.

Foto : Ali Imron (TERORIS Bom Bali I) yang divonis penjara seumur hidup

  

Kok Indonesia Lindungi Teroris Ali Imron, Contempt of Court ?

PM Australia Gusar Atas Skandal Starbucks

DPR Sesalkan Kongkow-nya Ali Imron dan Gories Mere
Memoar Ali Imron Menohok Polri
Menyingkap Eksklusifitas Tim Anti Teror
 
 

 

Kejadian lainnya yang pernah dialami oleh Mega Simarmata adalah penghinaan yang berbau SARA oleh TERORIS pelaku bom Bali I yaitu ALI IMRON.

TERORIS yang sudah divonis pidana penjara seumur hidup ini, sejak mendapatkan vonis itu dari Majelis Hakim Pengadilan Negeri Denpasar tahun 2003, tidak pernah seharipun juga melewatkan masa hukumannya di dalam penjara.

Mega Simarmata terus menerus membuka kasus ini dan mendesak agar penegakan hukum dihormati oleh MABES POLRI.

Sebab, Bareskrim Polri yang berpura-pura meminjam ALI IMRON dari dalam penjara sehingga TERORIS ini tidak perlu menjalani masa hukumannya.

Akibat kritikan yang sangat pedas dan keras dari Mega Simarmata, tahun 2007 lalu sebuah SMS pernah dikirimkan dari nomor HANDPHONE Gories Mere.

Ternyata SMS itu adalah SMS dari ALI IMRON yang mengutip ayat injil yaitu ucapan Yesus Kristus sebelum wafatnya yaitu, “Ya Bapa, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan”.

ALI IMRON mengejek Mega Simarmata dengan cara mengirim SMS ke nomor HP Gories Mere untuk diteruskan atau di forward kepada Mega Simarmata.

Ejekan TERORIS BIADAB ini adalah untuk mengecam konsistensi Mega Simarmata sebagau JURNALIS yang begitu gigih mendorong agar kasus-kasus terorisme diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Ejekan melalui SMS dari ALI IMRON itu, dilaporkan oleh Mega Simarmata kepada Kapolri (saat itu) Jenderal Polisi Sutanto dan Kepala Badan Intelijen Negara (saat itu) Sjamsir Siregar.

Dan jika VONIS sudah dijatuhkan maka MABES POLRI harus menghormati keputusan hakim.

Jangan pura-pura meminjam TERORIS BIADAB dan tak pernah mengembalikannya lagi ke dalam penjara.

Jangan mengejek JURNALIS dengan ejekan berbau SARA sebab itu sangat menyinggung perasaan Umat Kristiani di seluruh dunia.

Dan mau mengejek sampai sejuta kalipun, WARTAWAN tidak akan takut, tidak akan gentar dan tidak akan mundur walau hanya selangkah.

Kasarnya, SAPA ELU, SAPA TAKUT ?

Setidaknya untuk KATAKAMI.COM sejak berdiri Oktober 2008 lalu, gangguan yang seperti apapun (jika itu sudah sangat merugikan) maka kami laporkan selama ini kepada Dewan Pers, Komnas HAM, Propam Polri, Polda Metro Jaya, bahkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

https://i2.wp.com/cache.daylife.com/imageserve/0aw1ebYc1y7Of/610x.jpg

Foto : Presiden SBY didampingi Wapres Boediono & Kapolri BHD dalam acara Silahturahmi Polri (6/7/2010)

 

 

Hal yang menyejukkan hati dari insiden pelemparan dan peledakan BOM di Redaksi Tempo adalah nasihat bijak dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada MABES POLRI.

Saat menghadiri acara SILAHTURAHMI HUT POLRI pada hari Selasa (6/7/2010), Presiden SBY mengatakan agar POLRI jangan emosional dalam menghadapi kritik dari masyarakat (termasuk dari pers).

Dan Presiden SBY mengingatkan juga bahwa siapapun POLISI yang bersalah atau melanggar hukum, jangan berlindung di balik KORPS.

Terimakasih Pak Presiden !

Tapi mohon diperintahkan agar jangan ada lagi teror, intimidasi dan ancaman fisik kepada seluruh WARTAWAN yang bertugas di Indonesia.

Itulah sebabnya, POLRI jangan sibuk mengurusi “syahwat artis” lewat kasus video porno selebriti.

Akhirnya, Polri kena batunya.

Hebat kan, artis Luna Maya dan Cut Tari menjalani pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh Tim Dokter dari Densus 88 Anti Teror Polri.

Tim Dokter yang biasa mengurusi teroris-teroris, dikerahkan untuk menangani artis perempuan yang cantik jelita.

Waduh, hebat betul ya.

Hebat karena Densus 88 Anti Teror tidak tahu malu !

Sudah mau tamat riwayatnya (sebab Densus memang mau dibubarkan), tetapi masih cari sensasi yaitu melibatkan diri dalam penanganan kasus “syahwat artis”.

Bapak Presiden, mohon semua ini menjadi masukan.

Siapa saja, PERWIRA TINGGI POLRI dan anggota-anggota Kepolisian yang pernah secara langsung dan tidak langsung melakukan teror, intimidasi dan gangguan fisik kepada PERS dan anggota masyarakat, jangan diberi jabatan lagi.

Jangan diberi kenaikan pangkat.

Jangan didiamkan dan jangan dibiarkan.

Copot dan ganti dengan yang jauh lebih kredibel.

Apalagi kalau ada perwira tinggi Polri (semacam Komjen Gories Mere) yang bermimpi jadi Kapolri, wah wah wah, tolong di ingat kembali semua kasus-kasus kekerasan dan pelanggaran hukum yang berderet sangat panjang dalam rekam jejaknya.

Hormatilah dan jalinlah kerjasama yang baik dengan kalangan PERS.

Jangan pamer aksi kepada negara adidaya bahwa seolah-olah Densus 88 Anti Teror Polri dan MABES POLRI secara keseluruhan, paling hebat, paling top, paling mampu, paling cekatan dan paling SUPERIOR deh dalam hal penanganan terorisme dibanding negara manapun di muka bumi ini.

Kecian deh lo.

Merujuklah selalu kepada ILMU PADI yaitu, “Semakin Berisi Hendaklah Semakin Merunduk”.

Bukan justru membusungkan dada, mengangkat dagu dan menyombongkan diri secara gelap mata.

Tempo, kalian tidak sendirian menghadapi teror dan ancaman ini.

You are not alone.

We are not alone.

Rakyat Indonesia dan dunia internasional pasti akan dengan senang hati memberikan dukungan terhadap kebebasan pers di Indonesia.

Darah kami darah wartawan.

Hidup mati kami adalah hidup mati sebagai seorang wartawan.

Mengabdi kepada bangsa, negara dan rakyat Indonesia.

Bekerja secara total menyuarakan kebenaran, kebaikan dan keadilan bagi seluruh bangsa dan seluruh anggota masyarakat dunia.

Tempo di bom ?

Sapa takut !

Hoi, ini negara hukum Boss.

Jangan seenaknya di negara yang mengedepankan penegakan hukum terhadap kejahatan dan pelanggaran apapun.

Mau dipenjara ?

Pasti (otak pelaku dan para pelaku lapangannya) takut.

Biasa begitu, berani berbuat tapi tak berani tak bertanggung jawab.

Cemen …

(MS)

July 7, 2010 - Posted by | news | , ,

Sorry, the comment form is closed at this time.

%d bloggers like this: