Katakamidotcom News Indonesia

Robert Gates Datang Lagi, Ingatlah Obama Kopassus Tak Pernah Mati, Komando !

Dimuat juga di KATAKAMINEWSINDONESIA.WORDPRESS.COM 

Oleh-oleh Tank Bekas dari AS

PHOTOSTREAM : Indonesian Elite Forces, We Love You Full Soldier !

Baret Merah Tak Pernah Mati, KOMANDO !!!

Jakarta 22/7/2010 (KATAKAMI) Hari ini Menteri Pertahanan Amerika Serikat Robert Gates melakukan kunjungan kerja untuk yang kedua kalinya. Kunjungan pertama Gates dilakukan tanggal 25 Februari 2008 dengan kondisi tangan yang patah.

Ketika itu, Menteri Pertahanan Indonesia masih dijabat oleh Prof. Juwono Sudarsono.

Pada kunjungannya yang kedua ini, satu hal yang menjadi perbedaan adalah orang nomor satu yang memerintah di Amerika Serikat sudah berganti. Tak lagi dijabat George W. Bush tetapi sudah beralih kepada Presiden Barack Hussein Obama.

Kunjungan Gates kali ini harus dimaknai secara luas dan mendalam.

Departemen Pertahanan Indonesia tak perlu sungkan untuk membiarkan semua pihak mengkritisi masalah lama yang terus menerus dipakai Amerika Serikat untuk “menyerang” militer Indonesia.

Foto : Satuan Penanggulangan Teror (Sat Gultor) KOPASSUS

Apalagi kalau bukan masalah KOPASSUS.

Tak cuma segelintir orang Anggota Kongres Amerika saja yang masih latah menuding Kopassus sebagai pelanggar Hak Azasi Manusia terkait kasus penculikan aktivis yang terjadi pada era Orde Baru.

Beberapa bulan lalu, pemerintahan Obama juga secara jelas dan tegas (sok) mendesak agar Pemerintah Indonesia mengusut pelanggaran HAM yang dilakukan Kopassus.

Aneh !

Mengapa disebut aneh ?

Ya, Obama memang aneh kalau pemerintahan yang dipimpinnya di siang bolong meminta Pemerintah Indonesia mengusut pelanggaran HAM yang dituduhkan pada Kopassus.

Bayangkan, Presiden Indonesia saja sudah 5 kali berganti sejak peristiwa penculikan aktivis itu terjadi pada era tahun 1998.

Dari Presiden Soeharto ke Presiden BJ Habibie, dari Presiden BJ Habibie ke Presiden KH Abdurrahman Wahid, dari Presiden KH Abdurrahman Wahid ke Presien Megawati Soekarnoputri, dan akhirnya dari Presiden Megawati Soekarnoputri ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sudah 5 kali terjadi pergantian kepemimpinan di Indonesia, suara Amerika tetap sumbang alias tak merdu di telinga.

Sudah 5 kali terjadi pergantian kepemimpinan di Indonesia, suara Amerika tetap minor tak layak untuk didengar oleh rakyat Indonesia.

Foto : Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memakai seragam dan baret merah KOPASSUS

Lucu rasanya kalau ada negara asing yang merasa paling banyak tahu dan merasa paling berhak menyetir arah pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai sebuah bangsa yang berdaulat.

Kasus-kasus penculikan aktivis tahun 1998 sudah ditangani oleh Pemerintah Indonesia.

Yang lebih mengejutkan lagi, sejumlah aktivitis yang dulu diculik justru sudah bergabung dengan partai politik yang dipimpin oleh (purnawirawan) perwira tinggi TNI yang kini membaktikan dirinya dalam kancah politik praktis di Indonesia.

Jadi, seruan seruan dan kecaman-kecaman Amerika terkait pelanggaran HAM Kopassus menjadi sebuah tanda tanya besar yaitu apakah Obama tahu situasi dan kondisi yang sebenarnya ?

Kalau tidak tahu, maka sebaiknya Obama (lewat bawahan-bawahannya) jangan banyak omonglah soal tuduhan pelanggaran HAM terhadap Kopassus.

Sebaiknya Amerika bercermin tentang bagaimana “wajah” militer mereka secara keseluruhan, terkait tugas-tugas operasi di kancah internasional.

Sebutlah misalnya, perang di Afghanistan dan di Irak.

Apakah di kedua negara ini, performa militer Amerika seratus persen bersih, mulus, bermoral dan nihil angkanya terkait pelanggaran HAM ?

Obama harus menjawab dulu pertanyaan ini, apakah militer Amerika mendapat nilai sempurna alias CUM LAUDE dalam hal penghormatan terhadap nilai-nilai hak asasi manusia ?

Ilustrasi gambar anak-anak di Afghanistan

Rasanya sih tidak !

Dan rasanya tidak etis untuk mempermalukan militer Amerika dalam tulisan ini.

Yang terbaik adalah Presiden Obama saja yang mengevaluasi tentang performa militernya di medan-medan operasi tingkat internasional.

Dan apakah kepemimpinan Obama di mata militernya sudah cukup baik ?

Dunia internasional belum lupa ketika seorang Jenderal bintang 4 yang sangat berpengaruh dan berperan sangat besar dalam melaksanakan misi perang di Afghanistan terpaksa harus mundur dari jabatannya.

Ya, Jenderal Stanley McChrystal !

McChrystal secara sinis dan tajam mengkritik Pemerintahan Obama yang dimuat di Majalah Rolling Stone beberapa bulan lalu.

Akibat wawancara itu, McChrystal “mengundurkan diri” dan akhirnya Gedung Putih (White House) mengumumkan bahwa Obama mengabulkan “permohonan mundur” Jenderal berkharisma itu.

Kemudian, Obama memutuskan Jenderal David Petraeus sebagai Panglima Perang Amerika untuk Afghanistan.

Ini memang tak lazim dalam hirarki di militer.

Sebab, seorang seorang Presiden adalah Panglima Tertinggi dalam hirarki komando kemiliteran.

Tetapi, kritikan yang sinis dan tajam dari Jenderal sekelas McChrystal pada Obama tentu menyimpan sejuta makna yang sangat khusus yang hanya diketahui oleh kalangan militer Amerika yang bisa jadi sangat kecewa pada Obama.

Foto : Gen. Stanley McChrystal

Tak mungkin Obama akan dikritik oleh seorang Jenderal yang begitu berkharisma sekelas McChrystal.

Obama harus bercermin karena usia pemerintahannya baru 1,5 tahun tetapi ia sudah dikritik secara sangat sinis dan tajam sekali oleh seorang Jenderal yang rekam jejak pengabdiannya sebagai seorang militer sangat baik.

Lalu, pantas atau wajarkah jika ada seorang Presiden di negara sebesar Amerika Serikat mencampuri dan mendesak urusan domestik Indonesia terkait militer yang sesungguhnya sudah mereformasi diri mereka secara sangat baik pasca kasus penculikan tahun 1998 ?

Pantas dan wajarkah jika Obama merecoki Indonesia dengan tuduhan soal pelanggaran HAM ?

Urus saja secara baik pemerintahannya sendiri di Amerika agar jangan ada lagi Jenderal Jenderal berpengaruh disana yang kembali terpaksa mengkritik Panglima Tertinggi mereka karena merasa sangat kecewa atas ketidak-mampuan Obama memahami situasi perang di daerah-daerah operasi yang menempatkan prajurit-prajurit Amerika !

Untuk apa merecoki urusan usang yang sangat lama tahun 1998 !

Sebab di tahun 2010 ini saja, tamparan keras datang untuk Obama dan Gedung Putih dari Jenderal mereka yang sangat berpengaruh di daerah operasi Afghanistan !

Foto : Menteri Pertahanan Amerika Robert Gates

Itulah sebabnya kunjungan Robert Gates ke Indonesia di tahun 2010 ini, jangan sampai cuma menjadi kunjungan tak bermakna.

Bukalah kembali hubungan baru dan kerjasama yang berlandaskan rasa saling menghormati.

Jangan merasa ada superioritas dalam diri Obama atau Amerika sebagai sebuah negara yang seolah-olah mereka yang paling manis, paling bermoral dan paling sempurna dalam penghormatan terhadap nilai-nilai Hak Asasi Manusia terkait tugas-tugas kemiliteran.

Baret merah kami tak akan pernah mati, Yang Mulia Presiden Obama !

Kami mencintai militer kami sebab merekalah garda terdepan untuk menjaga keutuhan dan kedaulatan Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara.

Jangan lagi bersuara sumbang tentang militer kami, khususnya KOPASSUS.

Amerika jangan sombong di hadapan Indonesia terkait kerjasama militer.

Sebab negara-negara lain juga sangat amat banyak yang sudah menjalin kerjasama di bidang pertahanan dengan Indonesia secara profesional.

Foto : Satuan Penanggulangan Teror (Sat Gultor) KOPASSUS

Hasyim Muzadi: Jangan Tangani Terorisme dengan Teror

Buyung Nasution : Main Tembak Mati Teroris, POLRI Tak Sesuai Hukum

Densus Bukan Likuidasi Tapi Ganti Nama, Akal-Akalan Merengek Ke Amerika?

Metode Operasi Antiterorisme Polri Undang Keprihatinan

Indonesia, khususnya Departemen Pertahanan Indonesia (yang membawahi Tentara Nasional Indonesia) menjadi mitra strategis bagi banyak negara, diluar Amerika.

Apa yang mau terus diharapkan atau dimainkan Amerika di Indonesia lewat keberadaan Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri yang pembentukannya memang diarsiteki oleh Amerika ?

Oh Obama, bukalah mata dan telingamu tentang banyaknya pelanggaran HAM yang dilakukan Densus 88 Anti Teror atas nama penanganan terorisme.

Dan tuduhan pelanggaran HAM Ini bukan datang dari rasa sentimen yang berlebihan.

Komisi Nasional (KOMNAS) HAM sudah berulang-ulang kali mengatakan POLRI (dalam hal ini Densus 88 Anti Teror) melakukan pelanggaran HAM dalam kasus-kasus tertentu.

Jadi, janganlah terus menerus TNI yang di kuyo-kuyo oleh pihak asing.

Sebab Indonesia membutuhkan TNI.

Begitu juga Polri.

TNI dan POLRI sama-sama dibutuhkan oleh bangsa, negara dan rakyat Indonesia.

Tak perlu Indonesia menghamba dan mengemis-ngemis gelontoran  dolar bantuan dari pihak manapun (tetapi dengan konsekuensi harus merendahkan atau melacurkan diri) demi kepuasan hati atau menuruti kemauan pihak asing.

Sengaja tidak dicantumkan dan memang tidak ada nama negara asing manapun yang dituliskan dalam tulisan ini terkait himbauan agar jangan merendahkan dan melacurkan diri bagi aparat keamanan Indonesia.

Ini berlaku untuk skup yang sangat luas.

 

Foto : Robert Gates & Menteri Pertahanan Indonesia (Kamis 22 Juli 2010) di Jakarta (Getty)

Selamat datang kembali di Jakarta, Mr Robert Gates.

Senang sekali, seorang top militer Amerika bisa dan mau datang berkunjung kembali Indonesia saat ia masih menduduki jabatan yang sama.

Obama memang harus bersyukur sebab ternyata sangat tepat keputusannya mempertahankan Robert Gates sebagai Menteri Pertahanan.

Gates mampu membawa Pentagon menjadi loyal di bawah pemerintahan Obama.

Gates terlihat sangat sungguh-sungguh menyelaraskan suara Pentagon dengan kebijakan-kebijakan Obama yang terkadang sangat aneh bin ajaib.

Misalnya saja, kebijakan Obama mencabut diskriminasi terhadap kaum HOMOSEKSUAL di kalangan militer Amerika.

Gates juga dengan cepat memberikan dukungan penuh dari Pentagon untuk Obama (dan White House) saat terjadi kritikan dan kecaman sangat sinis dari Jenderal Stanley McChrystal terhadap Obama dan pejabat penting lainnya di ring satu Obama di Gedung Putih.

Di tangan Gates, militer Amerika juga menjadi sangat berjasa bagi Indonesia dan sejumlah negara yang mengalami bencana-bencana alam dengan skala sangat besar.

Sebutlah misalnya ketika Indonesia terkena bencana alam Tsunami di Nangroe Aceh Darussalam dan Nias pada bulan Desember 2004.

Atau gempa bumi di Sumatera Barat tahun 2009 lalu.

Untuk kesigapan militer Amerika dalam memberikan bantuan kemanusiaan setiap kali Indonesia mengalami bencana alam, penghargaan dan rasa terimakasih yang sangat amat besar harus disampaikan kepada mereka setulus hati.

Hanya satu yang sangat mengecewakan dari Robert Gates sepanjang ia menjadi Menteri Pertahanan Amerika.

Ternyata Gates tak mampu membuat Panglima Tertingginya yaitu Presiden Obama untuk bisa menghormati urusan domestik Indonesia terkait masalah Kopassus.

Jangan asal tuduhlah soal pelanggaran HAM !

Dan jangan merasa lebih bermoral dalam urusan pelanggaran HAM terkait tugas-tugas kemiliteran.

Kopassus adalah anak-anak bangsa Indonesia yang sangat membanggakan.

Jangan nistakan dan jangan hina mereka.

Jangan tuding mereka mereka sebab siapapun yang merasa paling berhak menuding itu (terkait pelanggaran HAM) belum tentu lebih baik atau lebih bermoral dari Kopassus sendiri.

Dari hasil pertemuannya dengan Presiden SBY (Kamis, 22 Juli 2010) ini di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Robert Gates mengumumkan keputusan Washington untuk mencabut pencekalan terhadap Kopassus dan akan membuka kembali kerjasama dengan Kopassus.

Ya, silahkan saja Amerika menjanjikan hal semacam itu.

Sebab bisa saja, yang disampaikan oleh Robert Gates itu hanya sebatas janji-janji (surga).

Namanya juga sedang berkunjung ke negara orang sehingga dibutuhkan kata-kata semanis madu sebagai refleksi dari bahasa diplomasi yang dapat mengamankan Amerika dari keputusannya selama ini menekan dan terus mengecam Indonesia terkait kasus penculikan aktivis.

Semoga Robert Gates (khususnya Presiden Obama) sungguh mau memikirkan semua hal ini dengan hati yang penuh kebijaksanaan.

Dan ke telinga Robert Gates (khususnya ke telinga Obama) akan diserukan dengan lantang salam kehormatan KOPASSUS yang sangat melegenda :

K O M A N DO !

Baret merah tak akan pernah mati !

Sekali lagi, K O M A N D O  !

(MS)

July 22, 2010 - Posted by | news | , , ,

Sorry, the comment form is closed at this time.

%d bloggers like this: