Katakamidotcom News Indonesia

Bersiaplah Indonesia Bila Ternyata Obama Tetap Enggan Datang

Jakarta 21/8/2010 (KATAKAMI)  Sudah lebih dari 1,5 tahun, Barak Hussein Obama menjadi Presiden Amerika Serikat yang ke 44. Dan selama Obama menjadi Presiden, tercatat sudah 3 kali ia menunda rencana kunjungannya ke Indonesia yaitu November 2009, Maret 2010 dan Juni 2010.

Penundaan yang ketiga (Juni 2010) dikaitkan dengan “panasnya” situasi perpolitikan di Amerika sendiri yaitu saat Obama dan Partai Demokrat sedang berjuang menggolkan UU Layanan Kesehatan (Health Care Reform).

Kini yang menjadi pertanyaan, apakah Obama akan datang ke Indonesia sesuai dengan jadwal yang direncanakan bulan November mendatang ?

Peluang untuk terlaksananya kunjungan Obama ke Indonesia memang cukup besar sebab di bulan yang sama Obama juga akan berkunjung ke India.

Tetapi Indonesia belum bisa memastikan apakah tamu penting yang pernah melewati masa kanak-kanaknya di Indonesia memang akan datang.

Tidak ada jaminan tentang jadi atau tidaknya Obama datang.

 

Foto : (dari Kiri ke Kanan) Malia Obama, Presiden Obama & Sasha Obama 

 

Semua tergantung Obama dan jajaran (perangkat) keamanannya dalam menilai situasi di Indonesia.

Cukup kondusikah situasi keamanan di Indonesia untuk dikunjungi oleh Obama bulan November mendatang ?

Pihak Kepolisian Indonesia boleh saja optimis bahwa mereka dapat memberikan jaminan keamanan bagi kunjungan Obama.

Setidaknya ini tercermin dari pernyataan Irjen Wahyono selaku Kepala Badan Intelijen & Keamanan (Kabaintelkam) Polri yang disampaikannya kepada KATAKAMI.COM hari Kamis 19/8/2010 bahwa saat ini situasi keamanan cukup terkendali.

“Masak kalau anak Menteng mau datang, tidak boleh ? Boleh kan. Tidak ada masalah. Waktu Hillary Clinton datang saja, situasi di Jakarta aman saja kan” kata Wahyono.

Namun yang perlu diperhitungkan oleh Amerika menjelang kedatangan Obama adalah situasi keamanan di Indonesia pasca penangkapan Pemimpin Pondok Pesantren Ngruki Solo yaitu Ustadz Abu Bakar Baasyir.

Apa yang perlu diperhitungkan atau dikuatirkan pasca penangkapan Ustadz Abu Bakar Baasyir ?

Satu ilustrasi kecil yang bisa disampaikan disini adalah “obrolan” dua orang wartawan senior yang sama-sama meliput di bidang politik, hukum dan keamanan.

 

Foto : (Dari Kiri ke Kanan) Malia, Sasha, Michelle & Presiden Obama 

 

Keduanya juga sama-sama mencermati dengan seksama figur Barack Obama sejak masih mengikuti kampanye kepresidenan di negaranya.

“Dari 3 kali penundaan kunjungan Obama, posisi Ustadz Abu Bakar Baasyir adalah di Solo. Dari mulai penundaan pertama pada bulan November 2009, penundaan kedua bulan Maret 2010 dan penundaan ketiga pada bulan Juni 2010. Bayangkan saat ini, posisi Ustadz Baasyir adalah di Jakarta (tepatnya di Mabes Polri).  Lalu, secara rutin setiap 2 kali dalam seminggu yaitu setiap hari Selasa dan Jumat akan ada jam besuk bagi keluarga, kerabat dan para pengikutnya. Kelompok yang oleh Amerika menjadi sebuah “momok” yang perlu diwaspadai, saat ini ada di ibukota Jakarta” kata seorang wartawan kepada rekannya.

“Iya betul. Walaupun masa penahanan Ustadz Baasyir sudah diperpanjang oleh Polri sampai bulan Desember dan Obama dijadwalkan datang pada bulan November, tidak bisa menjadi jaminan bahwa Indonesia ini aman ya ?” sahut wartawan yang satunya lagi.

Yang ingin disampaikan disini adalah penangkapan dan penahanan Ustadz Abu Bakar Baasyir, tidak bisa dan memang bukan satu-satunya jaminan bagi Amerika untuk memastikan bahwa Indonesia AMAN 100 persen.

Justru ini perlu menjadi masukan “penting” bagi Gedung Putih.

Bisakah Polri mengendalikan kekecewaan dan kemarahan para pengikuti Ustadz Abu Bakar Baasyir atas cara-cara penangkapan yang tidak manusiawi ?

Foto : (Dari Kiri ke Kanan) Michelle, Malia, Presiden Obama & Sasha

Bisakah Polri memastikan bahwa perpanjangan masa penahanan terhadap Ustadz Abu Bakar Baasyir sampai bulan Desember mendatang, memang sepenuhnya akan mampu membuat Indonesia AMAN sehingga Presiden Barack Obama sekeluarga bisa datang berkunjung ke Indonesia ?

Polri boleh saja menghubung-hubungkan Ustadz Baasyir dengan 1001 macam tuduhan tentang pendanaan pelatihan militer.

Tapi itu semua hanya berdasarkan “ocehan” orang yang berlandaskan asumsi yaitu “katanya katanya”.

Kata si anu, ada pemberian uang tunai sekian ratus juta dan sekian ribu dolar.

Tetapi sekali lagi, itu masih asumsi dan belum bisa dibuktikan kebenarannya di muka hukum.

Kalau Ustadz Baasyir dituduh sebagai TERORIS maka tuduhan itu harus fokus dan jelas, pada kasus peledakan bom apa Ustadz Baasyir diduga terlibat ?

Kasus Bom Bali I tahun 2002, Bom di Hotel JW Marriot tahun 2003, kasus Bom di depan Kedubes Australia tahun 2004, kasus Bom Bali II tahun 2005 atau kasum Bom di Hotel Ritz Carlton tahun 2009 ?

Tidak sebutkan pada kasus peledakan Bom yang mana, Ustadz Baasyir diduga terlibat ?

Kalau cuma berdasarkan asumsi dan ocehan terduga teroris lainnya, harus dicari tahu tahu apakah proses penyidikan yang dilakukan kepada terduga teroris  — yang menyatakan Ustadz Baasyir mendanai pelatihan militer itu — berjalan sesuai aturan hukum ?

Apakah penyidikan itu disertai tindak kekerasan & penyiksaan agar terduga teroris mengatakan Ustadz Baasyir terlibat ?

Sebab ini bukan fitnah.

Penyidik kepolisian memang kerap melakukan tindak kekerasan terhadap para tersangka ( termasuk terhadap tersangka kasus terorisme ).

Sehingga, pasca penangkapan Ustadz Abu Bakar Baasyir maka Polri perlu “bekerja ekstra keras” untuk menemukan bukti-bukti yuridis hukum tentang keterlibatan ulama Islam yang ini dalam kasus terorisme.

Polri harus mengingat bahwa dalam kasus-kasus sebelumnya, Polri gagal membuktikan keterlibatan Ustadz Baasyir dalam sindikat terorisme.

Polri tidak bisa hanya mengandalkan keterangan-keterangan yang disampaikan sejumlah saksi yang belum tentu bisa dibuktikan di muka persidangan.

Pertarungan tentang (DUGAAN) terkait benar atau tidaknya Ustadz Baasyir adalah “IKON TERORISME” di Indonesia, harus dibuktikan terlebih dahulu oleh penyidik Polri pada saat persidangan nanti.

Foto : Presiden Obama, Wapres Joe Biden & Menlu Clinton memimpin rapat dengan perangkat keamanan

Disinilah, Gedung Putih harus mencermati duduk persoalannya.

Sampai persidangan Ustadz Baasyir digelar di pengadilan, belum saatnya Presiden Obama datang ke Indonesia.

Apa boleh buat, Presiden Obama tidak boleh dipaksakan untuk datang ke Indonesia dalam situasi yang serba WAS WAS.

Menangkap dan memenjarakan Ustadz Abu Bakar Baasyir, bukan SOLUSI yang terbaik untuk menjadi jaminan keamanan bagi kunjungan pemimpin dunia yang sangat amat penting sekelas Barack Obama.

Jaminan keamanan itu baru bisa disebut JAMINAN jika seseorang yang paling dikuatirkan sebagai dedengkot teroris, dibawa ke muka pengadilan.

Biarkan dulu persidangan digelar atas diri Ustadz Abu Bakar Baasyir.

Ustadz Baasyir ditahan di IBUKOTA JAKARTA.

Dan Obama juga akan datang ke IBUKOTA JAKARTA (pada saat yang bersamaan) ?

Amerika perlu mengkaji situasi ini, apakah ini bukan merupakan sebuah situasi yang patut mendapat “perhatian khusus” dari perangkat keamanan Amerika ?

Walaupun Ustadz Baasyir dikerangkeng di Mabes Polri, pertanyaannya adalah apakah Polri bisa memantau dan mengendalikan siapa saja dan kemana saja pergerakan para pengikut Ustadz Baasyir ?

Yang disebut PENGIKUT disini tentu saja para santri dari Ustadz Baasyir.

Santri-santri yang mengagumi dan menghormati pemimpinnya ini, disana-sini sudah menggelar aksi-aksi unjuk rasa yang menuntut agar pimpinan mereka dibebaskan.

Di Jakarta dan di daerah, aksi unjuk rasa yang menuntut pembebasan Ustadz Baasyir terus digelar.

Polri sudah kadung menangkap dan memenjarakan Ustadz Baasyir.

Sehingga, proses ini tak bisa lagi dibendung yaitu menuntaskannya sampai ke muka hukum.

Foto : Presiden Barack Obama

Jadi, demi alasan keamanan bagi Presiden Barack Obama sekeluarga maka disarankan agar rencana kunjungan pada bulan November mendatang sebaiknya dikaji ulang.

Tidak ada maksud untuk menolak kedatangan Obama ke Indonesia.

Siapa sih orang atau negara didunia ini yang mau menolak pemimpin dunia yang memiliki kharisma seperti Presiden Obama ?

Semua tentu ingin berkenalan dengan Obama.

Semua juga ingin melihat secara langsung First Lady Michelle Obama dan kedua putri mereka yaitu Malia dan Sasha.

Tetapi, apa boleh buat, tampaknya  situasi di Indonesia memang kurang begitu “manis” untuk menyambut kedatangan Obama.

Dan ini terserah kepada Obama dan perangkat keamanannya.

Mereka harus sangat “cermat” mengawasi perkembangan situasi di Indonesia.

Tunggulah sampai situasi di Indonesia memang benar-benar aman terkendali dalam arti yang sesungguhnya.

Situasi yang aman terkendali itu, tidak tergantung pada seberapa banyak orang yang ditembak mati atau ditangkapi atas nama penanganan terorisme.

Situasi yang aman terkendali itu, tidak tergantung pada kecanggihan Polri menangkap dan memenjarakan ulama Islam sekelas Ustadz Abu Bakar Baasyir.

Situasi yang aman terkendali adalah sebuah situasi yang natural tingkat keamanannya ( bahwa yang aman itu memang benar-benar aman ).

Bukan yang penuh rekayasa.

Dan dar der dor disana-sini atas nama “war on terror”.

Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah proses pergantian kepemimpinan yang akan terjadi di tubuh TNI dan POLRI.

Foto : (Kiri ke Kanan) Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso & Kapolri Jenderal BHD

Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso akan pensiun per tanggal 1 Oktober 2010.

Kemudian, Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri akan pensiun per tanggal 1 November 2010.

Padahal kedua INSTANSI inilah yang sangat berperan dalam pengamanan kunjungan Presiden Barack Obama.

Belum jelas, siapa yang akan dipilih oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menjadi Panglima TNI dan Kapolri yang baru.

Dan kalaupun sudah ditunjuk Panglima TNI dan Kapolri yang baru, masing-masing orang nomor satu ini memerlukan waktu untuk melakukan KONSOLIDASI dalam internal mereka.

KONSOLIDASI itu penting untuk menghindari resistensi di dalam internal mereka masing-masing.

Lalu bagaimana bisa diharapkan ada kinerja yang maksimal untuk pengamanan terhadap TAMU NEGARA sepenting Barack Obama, jika INSTANSI yang bertugas mengamankan saja masih harus berkutat dengan KONSOLIDASI terkait pergantian kepemimpinan mereka ?

Semua ini harus diperhitungkan karena memang menjadi acuan tentang KEAMANAN NASIONAL di Indonesia.

Jadi, bersiaplah Indonesia bila ternyata Presiden Obama memutuskan untuk menunda rencana kunjungannya untuk yang ke-empat kalinya.

Jangan kecewa bila ternyata kunjungan itu (nantinya) akan ditunda atau dibatalkan.

Sebab, yang sangat penting dilakukan oleh perangkat keamanan Amerika adalah menjaga KESELAMATAN Presiden mereka saat berkunjung ke negara lain.

Indonesia tak perlu kecewa bila kunjungan itu dibatalkan.

Bersiap-siap sajalah (jika dibatalkan).

Sebab sepertinya, Obama memang perlu mempertimbangkan untuk menunda kembali rencana kunjungannya.

(MS)

August 21, 2010 - Posted by | news | , , ,

Sorry, the comment form is closed at this time.

%d bloggers like this: