Katakamidotcom News Indonesia

Menyingkap Eksklusifitas Tim Anti Teror

Politik – Hukum
15/10/2007 – 21:57

InnChannels, Jakarta – Ketika muncul di media massa, protes dari Perdana Menteri Australia, John Howard, Jumat(12/10), tentang adanya seorang Jenderal bintang satu Polri berinisial SD, yang mengadakan buka puasa bersama dengan dua orang terpidana (hukuman) penjara kasus bom Bali I, INN Channels mendapat informasi dari sumber di Mabes Polri, bahwa tiga orang pejabat teras Mabes Polri langsung “berkomunikasi” intens dan segera mencari informasi lebih lanjut.

Ketiganya adalah Wakapolri Komjen Makbul Padmanegara, Kabareskrim Komjen Bambang Hendarso Danuri dan Irwasum Komjen Yusuf Manggabarani. Selama dua hari, yaitu Jumat (12/10) dan Sabtu (13/10), salah seorang dari ketiga pejabat teras Polri itu, terus berusaha menghubungi Wakabareskrim Irjen Pol Gories Mere dan Dir 1 Kamtrannas Brigjen Pol Surya Dharma melalui telepon selular masing-masing, tetapi tidak ada satu dari antara mereka berdua yang menjawab.

Baru pada Jumat (13/10) malam, pejabat teras bintang 3 tersebut bisa mendapatkan informasi terkait acara buka puasa bersama dua terpidana tsb, dari dua orang perwira menengah Polri yaitu Kombes Haji Rycko dan Kombes Tito Karnavian. Kedua perwira menengah ini, dikabarkan ikut mendampingi Brigjen Surya Dharma menggelar acara buka puasa pada 27 September lalu di kediaman pribadinya di kawasan Lebak Bulus Jakarta.

Pada lebaran hari pertama, Sabtu (13/10), sebenarnya masalah ini sempat ditanyakan tiga orang wartawati yang bersilahturahmi ke kediaman dinas Kapolri Jenderal Pol Sutanto di jalan Pattimura Jakarta Selatan.

Salah seorang wartawati dari media cetak nasional bertanya, “Kenapa bisa begitu Pak, buka puasa kok sama terpidana-terpidana, di luar penjara pula, dirumah pribadi anak buah Bapak?”

Wartawati lainnya dari media cetak nasional menyambung dengan pertanyaan lainnya, “Kalau seperti itu tindakannya Brigjen SD, kan bikin malu Indonesia Pak, seakan-akan Indonesia ini tidak bisa menegakkan hukum, para terpidana kok bisa seenaknya keluar dari tahanan, nanti tahanan yang lain minta keluar juga sebelum masa tahanannya berakhir?”

Kapolri Jenderal Pol Sutanto terdiam agak lama, lalu berkata, “Sudahlah, ini suasana lebaran, kita tidak usah tanya jawab. Bicara untuk latar belakang saja ya. Off the record lo ya …”

Sorotan tajam kepada Brigjen SD ini, mau tak mau mengkaitkan nama Irjen Pol Gories Mere, sebab konon kabarnya Brigjen SD adalah tangan kanan Irjen Pol Gories Mere. Terutama dalam penanganan masalah terorisme.

Tetapi, seorang wartawati yang berkawan baik dengan Irjen Pol Gories Mere mengatakan kepada INN Channels, Senin (15/10), “GM tidak melihat figur orangnya, tetapi kemampuan dari masing-masing bawahan, siapa yang memang berkemampuan sangat tinggi untuk hunting dan menangkap teroris-teroris itu. Kesuksesan Polri menangkapi jaringan teroris di Indonesia (sejak kasus bom Bali I), memang tidak bisa dilepaskan dari peran dan jasa GM.

Tidak heran, jika GM yang mendampingi Kapolri Jenderal Pol Sutanto, sewaktu melakukan kunjungan kerja ke Amerika Serikat, Januari 2007. Ketika itu, pertemuan dilakukan antara lain dengan Biro Investigasi Federal atau FBI dan Dinas Intelijen Amerika atau CIA. Ketika itu, salah satu yang diupayakan Kapolri Jenderal Pol Sutanto adalah akses dari Amerika Serikat, agar penyidik Polri bisa melakukan wawancara langsung dengan Hambali, salah seorang tersangka kasus terorisme di Indonesia. Hambali, sejak 2003, ditahan di penjara rahasia Guantanamo, Kuba.

Mengingat kedekatan figur GM dan SD, muncul pertanyaan, mengapa GM membiarkan SD melakukan buka puasa bersama terpidana-terpidana kasus bom Bali I itu di kediaman pribadi SD? Kalau memang untuk kepentingan penyidikan, mengapa pula sekaliber GM membiarkan SD mengundang dua wartawati asing, untuk “ikut” dalam acara buka puasa tersebut? Sebab, GM memang sudah dikenal “anti” pemberitaan jika sedang “hunting”, dan kalau berhasil yang akan diberikan “bocoran” hanyalah sebuah stasiun televisi, yang pimpinannya memang berkawan sangat karib dengan GM Sejak puluhan tahun.

Irjen Gories Mere, adalah pribadi yang sangat dingin, benar-benar tertutup dan terkesan “tidak ingin bersosialisasi dengan pihak luar”, jika sudah berkaitan dengan penanganan masalah terorisme. Akan sulit bagi siapapun menebak, mengendus, melacak dan mencari tahu, dimana, sedang apa, menggunakan metoda atau taktik apa dan menggunakan peralatan-peralatan apa saja bagi seorang Gories Mere untuk menangani masalah terorisme. Tapi, justru disitulah kelebihan GM, sehingga “kerja kerasnya” membuahkan hasil.

Tapi, tak selamanya, prestasi besar GM, dihargai secara nyata. Sukses besar menangkap Amir Jamaah Islamyah (Pimpinan tertinggi), Zarkasih, dan Panglima Sayap Militer JI, Abu Dujana, pada 9 Juni 2007 tidak mendapatkan ucapan selamat “resmi” dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ketika itu, hanya Wakil Presiden Jusuf Kalla yang memberikan pernyataan resmi lewat media massa bahwa pemerintah menghargai kerja keras dan prestasi Polri.

Namun, situasi ini tidak membuat Gories Mere kecil hati. Lewat sebuah pesan singkatnya akhir Juni lalu kepada seorang wartawati yang menjadi sahabat baiknya, GM menuliskan, “Sudah diakhiri saja pertanyaan soal “Palace”, Non, RI 1 sudah menyampaikan ucapan selamat lewat Pak Kapolri untuk disampaikan kepada Tim Satgas Bom”.

Kerja keras dan prestasi menangkap para pimpinan organisasi radikal semacam jamaah Islamyah, juga sempat memuat Gories Mere gusar karena hujatan dan kecaman datang bertubi-tubi, mempersoalkan cara penangkapan terhadap Abu Dujana (dalam kondisi luka tembak di paha dan dilakukan didepan anak Abu Dujana).

Kepada seorang wartawati yang menjadi sahabatnya, Gories Mere menyampaikan kegundahannya lewat sebuah pesan singkat, “ABD itu berbahaya, Non, dia bersenjata dan menyebut Polri itu sebagai Toghut, setan besar. Kondisinya waktu itu, anggota kami berhadap-hadapan dengan ABD. Kalau tidak ditembak, maka dia akan menembak. Kalau ABD menyayangi anaknya, maka sejak awal anak itu dilepaskan, tapi justru ditarik mendekat dan dijadikan tameng”.

Kembali pada persoalan buka puasa Brigjen SD dengan Ali Imron dan Mubarok. Hal yang serupa tapi sama, pernah dilakukan Gories Mere tahun 2003 lalu. Ketika itu, Gories Mere kepergok oleh sejumlah wartawan, sedang “ngopi” dengan Ali Imron di Starbucks Cafe Plaza EX Jalan Thamrin Jakarta. Walaupun “ia” dibela para atasan, bahwa itu untuk kepentingan penyidikan, tetapi publik Indonesia mengecam keras kejadian tersebut, mengingat Ali Imron terbukti bersalah secara hukum melakukan aksi terorisme di Indonesia.

Protes keras dari Perdana Menteri Howard, memang perlu dijadikan bahan permenungan dan otokritik bagi GM dan Tim Satgas Bom Polri. Setidaknya, dikemudian hari, tidak perlu lagi melakukan “sesuatu” yang justru menabrak rambu-rambu hukum itu sendiri.

Jeffrie Massie, anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Damai Sejahtera mengatakan kepada INN Channels, Senin (15/10), “Kejadian ini menjadi salah satu bukti keanehan dari aparat kepolisian kita, dalam mengatasi masalah terorisme”.

Menurut Jeffrie Massie, “Polri jadi terkesan tidak serius dan justru jadi bersimpati kepada pelaku aksi-aksi terorisme itu sendiri”.

Saya rasa wajar, lanjut Jeffire Massie, jika PM Australia, John Howard merasa kecewa atas kejadian ini sebab jangankan Howard, kita saja sebagai warga negara Indonesia, tidak mengerti apa motif dari Brigjen Surya Dharma melakukan itu”.

Jeffrie Massie meminta agar Presiden SBY meminta Kapolri Jenderal Pol Sutanto agar menindak tegas Brigjen Surya Dharma, agar reputasi Indonesia bisa tetap harum.

Sementara itu, jurubicara DPP Partai Demokrat, Ruhut Sitompul SH mengatakan kepada INN Channels, Senin (15/10), DPP Partai Demokrat sangat menyesalkan tindakan Brigjen Surya Dharma melakukan buka puasa dengan dua orang terpidana kasus bom Bali pertama.

Kata Ruhut Sitompul, walaupun kedua terpidana itu dipinjam oleh Satgas Bom Polri untuk kepentingan operasi intelijen Polri dalam menangani terorisme, tindakan Brigjen Surya Dharma ini sudah jelas menyinggung perasaan keluarga korban bom Bali I dan beberapa negara lain (diluar Australia) yang warga negaranya juga menjadi korban bom Bali.

Masih menurut Ruhut Sitompul SH, Kapolri Jenderal Pol Sutanto harus segera memberikan sanksi tegas kepada Brigjen Surya Dharma, agar masalah ini jangan terulang kembali di masa yang akan datang. Kalau misalnya upaya merangkul dan mencari informasi dari kedua terpidana ini memang sengaja dilakukan, lanjut Ruhut Sitompul, harusnya kan itu menjadi tugas yang sangat rahasia sifatnya, tapi ini bukan rahasia lagi namanya karena saya dengar ada dua orang wartawan media asing yang diundang Brigjen SD untuk ikut hadir.

Kritikan demi kritikan terus berdatangan. Irjen Gories Mere, tampaknya perlu segera membenahi segala sesuatu yang memang masih “kurang” di dalam Tim Satgas Bom Polri. Sebagai pimpinan, yang mengkader Brigjen SD untuk bisa menjadi polisi tangguh yang “very smart” dalam menangani masalah terorisme, Irjen GM perlu mengingatkan bawahannya, bahwa Indonesia adalah negara hukum dan hukum harus menjadi panglima di negaranya.

Dan, irjen GM, harusnya menyadari sejak awal, tindakan Brigjen SD, dapat melukai perasaan keluarga korban.

Copyright � 2007-2010 Inilah.com. All rights reserved Inilah.com
%d bloggers like this: